BAB IV MORGE SIWE DI ERA OTONOMI DAERAH
A. Marga dan Lembaga Adat Morge siwe
Morge siwe merupakan kumpulan sembilan marga yang berada
di wilayah Kecamatan Kota Kayuagung sebelum sistem
pemerintahan desa diterapkan. Wilayah ini diyakini sebagai permukiman awal masyarakat Kayuagung dengan tata aturan yang telah ditetapkan. Struktur lembaga morge bersifat longgar dan kaku namun mengikuti pola yang baku. Dalam struktur idealnya, pemimpin dipilih dari para elit masyarakat dengan dibantu oleh beberapa perangkat yang berasal dari perwakilan daerah masing-masing.
Lembaga ini ada dalam setiap kelurahan pada saat pemerintahan sekarang. Akan tetapi pada saat pemerintahan Kedepatian lembaga ini berada pada satu poros yaitu dalam wilayah marga yang pada masa itu daerah Kayuagung belum dikembangkan. Masa itu jumlah dusun dalam marga Kayuagung ada 9 dusun diantaranya dibagi dalam wilayah yang dipisahkan oleh sungai Komering. Adapun dusun yang ada pada saat itu adalah:
1. Korte ( Jua-Jua )
2. Sidakersa
3. Mangunjaya
4. P a k u
5. Sukadana (Kelima dusun tersebut berada di sebelah barat)
6. Kayaagung asli
7. Perigi
8. Kutaraya
9. Kedaton (Keempat dusun ini berada di sebelah timur)
Lembaga morge siwe dapat diartikan sebagai semacam bentuk
wadah/tempat bersatu padunya para perwatin (pelaku adat) dari
setiap dusun/kelurahan dalam di Kecamatan Kayuagung. Morge siwe
116
masa pemerintahan kedepatian dan pemerintahan Pesirah. Disebut
Morge siwe dikarenakan pada masa itu dalam wilayah Kayuagung
Kota terdapat sembilan dusun. Morge berarti kesukuan atau kelompok suku sedangkan Siwe merupan sebutan untuk suatu
hitungan yang berarti sembilan. Dengan demikian Lembaga Morge
siwe adalah wadah untuk menghimpun sistem/aturan dalam
masyarakat suku bangsa Kayuagung baik aturan bermasyarakat, aturan pergaulan, hokum-hukum yang mengatur sikap dan prilaku masyarakat.
Tugas utama lembaga ini menjalankan fungsi pemerintahan dalam marga sekaligus fungsi pemangku adat. Kepala marga
(pasirah) sebagai pemimpin pemerintahan secara otomatis menjabat
pemangku adat (perwatin). Sebagai pemangku adat perwatin
bertanggung untuk menentukan aturan adat, mengawasi
pelaksanaan adat, dan mengadili atau memberi sanksi terhadap pelanggaran adat.
Jika dilihat ke belakang mengenai sistem pemerintahan marga,
sistem pemerintahan marga dibentuk pada masa Kesultanan
Palembang dan berlaku di daerah ini pada masa kesultanan di abad ke-17 hingga awal masa kemerdekaan Indonesia. Secara lebih khusus
marga merupakan suatu komunitas adat yang bermukim dan hidup
dengan masih mengacu pada pranata adat yang diwarisi. Dengan
demikian, suatu marga dilihat dari keberadaan dan fungsi
hukum-hukum adat berperan dalam mengatur hubungan anggota masyarakatnya seperti pengaturan hukum adat hak waris, adat perkawinan, resolusi konflik, gotong royong, kepemilikan lahan, tata aturan dalam berladang (mata pencaharian), batas-batas wilayah adat, dan hubungan antarsesama dan dengan pendatang. Disinilah
keistimewaan sistem pemerintahan marga bila dibandingkan sistem
pemerintahan desa yang ada saat ini. Pemerintahan marga lebih
mengacu kedalam atau kepentingan anggota marga-nya sehingga
seorang pemimpin marga (pasirah) wajib mengenal, mengayomi, dan
memahami adat istiadat yang berlaku di marganya.
Dalam strukturnya, marga terdiri dari Pasirah (pemimpin
marga), Gindo, Kerio, Penggawa, Penghulu, Khotib, dan juru tulis
marga. Sedangkan secara administratif, wilayah marga dibagi atas
beberapa dusun. Pemerintahan marga dapat dipahami sebagai: 1)
117
pemerintahan terdepan di tingkat lokal; 2) marga berhak mengurus
rumah tangganya sendiri berdasarkan hukum adat; 3) susunan
pemerintahan marga ditentukan oleh hukum adat melalui konstitusi
Simbur Tjahaja33; 4) pemerintahan marga didampingi Dewan Marga
membuat peraturan dalam rangka kewenangan menurut hukum
adat; 5) pemerintahan marga dalam menetapkan sanksi atas
peraturan adat. Dengan pemahaman ini maka tugas dan kewenangan
marga meliputi kewenangan peradilan, kewenangan kepolisian, hak
ulayat, serta sumber pengahasilan marga.34
Sebelum dihapuskannya sistem pemerintahan marga pada
tahun 1983, sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Selatan Nomor 2/DPR.GR.SS/1969 tentang nama-nama marga di
wilayah Provinsi Sumatera Selatan, terdapat192 buah marga dan 20
buah kenegerian35 yang tersebar di seluruh wilayah provinsi
termasuk wilayah Provinsi Bangka Belitung saat ini dengan 2.190 buah dusun.
Sistem pemerintahan marga mengalami berbagai perubahan
sistem politik di Indonesia mulai dari masa pra kolonial, masa kolonial Belanda, masa penjajahan Jepang, masa kemerdekaan, dan masa orde baru. Secara legal formal, sistem pemerintahan marga diakui dengan keluarnya UU No. 18 tahun 1965 yang salah satu isinya menyebutkan bahwa pemerintahan setingkat di bawah Kabupaten adalah wilayah kecamatan yang dipimpin oleh camat, sedangkan pemerintahan yang terendah adalah marga yang dipimpin
oleh pasirah. Perjalanan panjang marga ini berakhir dengan
keluarnya UU No. 5 tahun 1979 tanggal 1 Desember 1979 tentang Pemerintahan Desa yang ditindaklanjuti dengan keluarnya Instruksi
33
Simbur Tjahaja (Simbur cahaya) merupakan hukum adat tertulis yang diperkirakan disusun oleh Sesuhunan Palembang dan para menteri serta alim ulama pada tahun 1630, mengalami perubahan pada tahun 1927 terdiri dari 5 bab, 170 pasal dan 58 pasal tambahan yang berlaku untuk wilayah Ogan Ilir dan sekitarnya. Hukum adat ini cukup sederhana hanya mencakup 5 bagian yaitu Adat bujang gadis dan kawin, aturan marga, aturan dusun dan berladang, aturan kaum, dan adat perhukuman. Sedangkan tambahan yang dipakai di Ogan Ilir dan sekitarnya terdiri dari 6 bab yaitu pelanggaran adat bujang gadis dan kawin, pelanggaran sopan santun, pelanggaran keamanan, pelanggaran aturan marga, pelanggaran aturan dusun, dan pelanggaran aturan berladang dan pemeliharaan hewan.
34 Arie Sujito, “Menyemai Harapan di Bumi Silampari”. http://www. ireyogya.org/adat/bumi_silampari
35
Kenegerian istilah yang dipakai untuk pemerintahan terendah di wilayah Kabupaten Bangka, Kabupaten Belitung, dan Kodya Pangkal Pinang.
118
Menteri Dalam Negeri No. 9 tahun 1980 angka rumawi II butir 4 dan SK Gubernur Sumatera Selatan No. 142/KPTS/III/1983 tanggal 4
April 1983 yang mengganti sistem pemerintahan marga menjadi
desa dengan mengadopsi sistem pemerintahan di Jawa. Bila ditilik balik ke masa lalu sejak pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaa RI
terlihat bahwa marga sering menjadi institusi strategis yang
dimanipulasi oleh rezim penguasa sebagai alat dan media mempengaruhi dinamika kehidupan masyarakat. Hal ini wajar
karena pasirah merupakan kepemimpinan grassroot dimana warga
tunduk pada pasirah. Di sisi lain lembaga marga merupakan lembaga
yang cukup mapan, memiliki tanah sebagai hak ulayat untuk modal ekonomi dalam menghidupi warga masyarakatnya. Dari sisi politik,
peran marga diwujudkan dalam otonomi penuh dalam mengatur
pemerintahan dan kekuasaannya baik internal maupun eksternal. Dengan keluarnya surat keputusan gubernur tersebut, seluruh
pejabat marga dari jabatan tertinggi hingga terendah dihapuskan
dengan tidak ada pengalihan jabatan. Wilayah administratif desa
adalah wilayah dusun ketika sistem marga berlaku. Dengan demikian
bekas wilayah marga dibagi atas beberapa desa sesuai dengan
jumlah dusunnya dan pemimpinnya adalah seorang kepala desa yang menjadi pemimpin formal sesuai hierarki pemerintahan formal di Indonesia sesuai UU No. 5 tahun 1974 dan UU No. 5 tahun 1979. Kondisi ini mengakibatkan tidak berperannya lembaga adat (baca:
marga) secara politis dan ekonomis dalam menangani persoalan
masyarakatnya baik secara intern dan ekstern. Pemerintahan desa menumbuhkan sistem pemerintahan sentralistik dan hilangnya nilai-nilai demokrasi yang hidup secara alami pada komunitas adat. Penerapan hukum positif dalam penanganan berbagai kasus semakin mengaburkan peran lembaga adat dan hukum adat sehingga segala bentuk pelanggaran berdasarkan hukum positif Indonesia dilaporkan dan ditangani oleh institusi peradilan formal Indonesia.
Padahal ketika sistem marga masih eksis, segala bentuk
permasalahan dapat diselesaikan pada tingkat marga dengan
119
Gambar 12. Perwatin Pada Adat Pernikahan (sumber: Yuslizal,M.Pd)
Kembali pada pembahasan lembaga morge siwe. Posisi lembaga
ini pada masa pemerintahan marga berdiri sendiri pada setiap marga. Tidak ada struktur khusus yang formal sebagai sebuah organisasi melainkan sebagai konfederasi dari sembilan marga yang
tergabung dalam morge siwe. Mereka sepakat membentuk lembaga
dalam arti sebagai pranata yang mengatur seluruh warga dalam wilayah mereka. Kesepakatan ini muncul didasarkan pada budaya daerah asal mereka yang sama sehingga membentuk sebuah ikatan yang dilembagakan dalam bentuk sistem sosial.
Dengan adanya lembaga (pranata) tersebut perlu dibentuk perangkat lembaga yang akan membuat, mengawasi, dan memberi sanksi terhadap pelanggaran terhadap pranata tersebut. Jika pada
masa sistem marga, pasirah memiliki wewenang penuh dalam
pemerintahan dan adat, maka setelah marga dihapuskan wewenang ini diserahkan kepada kepala desa atau lurah.