• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III SEJARAH DAN BUDAYA MASYARAKAT

C. Budaya Masyarakat Morge Siwe

5. Upacara dan Adat Perkawinan

Dalam rangka melangsungkan/merayakan upacara “ADAT PERKAWINAN” menurut adat Morge Siwe atau Kayuagung terdiri dari 4 tingkatgolongan yaitu:

a. Adat Setinong-Tinong

32

91

Upacara adat perkawinan ini, tidak dilaksanakan secara adat, dapat dikatakan kawin tidak beradat. adapun juga adat ini dengan kata lain adalah “perkawinan sama mamaklumi”.

Umumnya oleh masyarakat hokum adat seperti ini dinamakan dengan pribahasa “Kawin Biyas Secubuk Tahloui Osai”. artinya diambil yang penting atau yang dipentingkan asal perkawinan terlaksana. Sedang pelaksanaan adat nikahnya dapat dilakukan oleh walinya. Penuntun Ijab serta saksi-saksi.

Waktu dan tempat pelaksanaan dapat dirumah mempelai laki-laki sendiri pada malam hari sesudah shalat maghrib malam Jum’at dan ada kalanya ada yang melakukannya pada hari-hari sebelum shalat Shohor.

b. Adat Sepinong-Pinong

Upacara adat ini pelaksanaanya sederhana saja umumnya yang menjadi ukuran adalah yang disebut “UTORAN”, yaitu suatu persiapan hidangan atau penyajian makanan yang dihidangkan diatas taplak dari kain (saperah), dibentangkan diatas lantai yang beralas tikar.

Ungkapan kesederhanaan upacara perkawinan ini disebut banyak jumlah”UTORAN” Satu Utoran 10 orang yang melingkarinya. Pelaksanaan tempat dan waktunya sama seperti Upacara Adat Setinong-Tinong dan juga tidak menggunakan secara adat (tidak beradat-adat).

c. Adat Pinang Dibelah

Upacara Adat Pinang Dibelah pelaksanaannya adalah memakai adat yang pokok saja atau yang memenuhi syarat Adat. Dilaksanakan melalui tahap-tahap upacara adat melalui Adat Pinang atau Adat Kawin Lari (setakatan) sebagai berikut:

1. Maju atau Bengiyan Ngulom Tiyuh.

2. Sorah Gawi de Perwatin.

3. Kilu Wali Nikah.

4. Ngumpul.

5. Nyuak dan Ngulom.

92

7. Mulah (hari memasak).

8. Nyungsung Maju (menjemput mempelai perempuan).

9. Nyungsung / Mapak Ungaian.

10. Membagikan Baju Pesalin.

11. Pemberian Juluk atau Gelar.

12. Manjuo Kahwln.

13. Ngantot San-san.

14. Anan Tuwui.

Upacara adat ini disebut oleh masyarakat Kayuagung

“SEDOKAH MULAH KAHWIN” dan ada juga yang menyebutnya

“SEDOKAH SEPAGI”, sebab upacara ini dilangsungkan selesai dalam satu hari saja tentang penyelenggaraanya.

Mengenai penerima/pemakai baju pesalin Adat Pinang Dibelah, terbatas pada keturunan kedua dan ada kalanya sampai pada keturunan ke tiga, tergantung pada permufakatan kedua belah pihak atas dasar kemampuan dari keluarga mempelai perempuan. Karena baju pesalin dipakai oleh pihak ahli family dari kelurga pihak laki-laki adalah pemberian dari keluarga pihak mempelai perempuan.

Turunan kedua atau ketiga yang dimaksud disini adalah diambil dari Bapak dan Ibu atau Nenek dan Kakek serta Saudara-saudaranya, mempelai laki-laki sebelah nyemelah. Justru dari

penerima Baju Pesalin inilah dapat diketahui hubungan

kerabat/family dari mempelai laki-laki satu sama lain. Peranan orang-orang tua sangat diperlukan kepada yang berhak menerima Baju Pesalin, karena mereka lebih mengetahui hubungan ikatan keturunan.

Umpama terdapat salah satu anggota family terlupa/khilaf tidak mendapat Baju Pesalin, maka sering terjadi saling berkecil hati (tidak menerima dengan lapang dada), kebetulan yang bersangkutan berada hadir ditempat upacara ini. Tidak heran yang bersangkutan meninggalkan tempat keramaina ini, karena merasa malu dan hina, dengan anggapan tidak diakui sebagai anggota family, yang kebetulan si penerima dalam keadaan kurang mampu seolah-olah dilupakan dari garis keturunan.

Sebenarnya kejadian ini benar-benar suatu kekhilafan dan tidak ada dalam fikiran dengan sengaja, sehingga bagi yang punya hajat suatu

93

penyesalan. Walupun yang punya hajat sebelumnya sudah sangat hati-hati Penerima Pesalin jangan sampai ada yang ketinggalan dalam daftar, namun pepatah berlaku “Lupa dan Khilaf Pakaian Manusia”.

Adapun perkawinan tingkat tiga yaitu Adat Pinang Dibelah, kalau prosesnya melalui Adat Pinang / Lamaran / Rasan Tuhe, tingkat lamarannya adalah “Nyadikon Rasan Semianak” dan sudah dihadapan Perwatin dengan bawaan barang-barang mentah masak dan adapula melalui proses kawin lari (setakatan) setelah lebih dahulu menyelesaikan tahap-tahap adat kawin lari.

d. Adat Mabang Handak

1. Pengertian

Mabang Handak adalah bahasa Kayuagung dan kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia adalah Burung Putih. Upacara Adat Perkawinan dalam tingkat keempat dinamakan oleh

masyarakat hukum adat ialah “adat mabang handak” adalah upacara

Adat Yang Penuh Beradat. Adat perkawinan ini juga disebut oleh

masyarakat Adat dengan sebutan “begawi” atau “begorok” yaitu suatu

pesta besar dalam Upacara Adat Perkawinan. Adat ini dimulai dari Adat peminangan lebih dahulu sampai kepelaksanaan sedekahnya, melibatkan banyak ahli famili, kaum kerabat dan handai taulan, diperlukan tenaga dan pikiran-pikiran dan bahkan banyak pula memerlukan biaya. Pelaksanaan dan mengumpulkan bahan-bahan untuk keperluan upacara ini.

Salah satu upacara adat perkawinan masyarakat adat Kayuagung (Morge Siwe) yang dapat terlihat sampai keluar daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir adalah upacara adat perkawinan ini. Proses tata urutan tahap-tahapnya banyak perbedaan dari adat Pinang Dibelah, dimana tahap-tahapnya diuraikan seperti di bawah ini:

a. Maju dan bengiyan ngulom bobon morge siwe.

b. Sorah gawi pada Perwatin.

c. Kilu woli nikah.

d. Ningkuk.

e. Mendirikan bangsal atau tarup.

94

g. Nyuak dan ngulom (mengundang).

h. Ngantat oban sow-sow midang.

i. Pati sapi (menyembelih sapi).

j. Ngantat pekurangan.

k. Midang.

l. Mulah (hari memasak).

m.Turgi / nurgi (munggah).

1. Nyungsung maju

2. Menerima baju pesalin

3. Nyungsung ungaian 4. Mapak ungaian 5. Akad nikah 6. juluk / gelar 7. Manjow kahwin 8. Tari cang-cang

9. Oban sow-sow gelahon dan oban rumpunan

10. Cangkorom

11. Ngatot san-san

12. Kecuwak-an mongan

13. Kereta juli

n. Upacara adat Ngarak Pacar.

o. Upacara Adat nan Tuwui.

p. Lang-Ulangan.

q. Nganan Tuwuikon Maju.

r. Nglangkon Pukal.

s. Anan Tuwui Semehongot.

Mengenai penerimaan / Pemakai Baju Pesalin pada adat Mabang Handak, pula melebihi dari jumlah pada adat Pinang Dibelah, dengan sabutan menurut sabutan masyarakat Adat Kayuagung ialah

sunow liyoh” (Tujuh Buwayi), dapat juga disebut Pemerikaan tidak

95

Kalau pada Adat Pinang Dibelah pelaksanaannya cukup slesai

dalam satu hari saja, maka berlainan pada Adat Perkawinan “mabang

handak” memerlukan waktu samapai 3 (tiga) hari dan 3 (tiga)

malam, sedang persiapannya banyak menyita waktu, tenaga dan biaya.

6. UPACARA ADAT KEMATIAN