BAB II MORGE SIWE : LINGKUNGAN
F. Sistem Kepercayaan
Penduduk kecamatan kota kayuagung dapat di katakan hampir 99,35 persen memeluk agama islam. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya jumlah mesjid, yaitu sekitar 34 buah, langgar 3 buah.
Kemudian sisanya merupakan pemeluk agama kristen
protestan/khatolik dan agama budha. Ciri khas keislaman dapat di telusuri dari banyaknya bangunan mesjid/mushola yang bertaburan di desa/kelurahan.
Walaupun penduduk kecamatan kayuagung mayoritas
memeluk agama islam, namun masih terdapat kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan gaib, makhluk-makhluk halus, kekuatan sakti dan sebagainya. Sehingga untuk menghindari gangguan dari kekuatan sakti tersebut biasanya mereka adakan upacara atau ritual dan mantra-mantra. Diantaranya yaitu setiap sudut rumah diberi gambar-gambar untuk menangkal pontianak, yang di anggap sering mengganggu penghuni rumah, khususnya anak-anak.
Selain itu juga ada kepercayaan akan kekuatan yang bersifat magis. Hal ini tercermin pada saat mendirikan rumah baru. Untuk memulai membangunan rumah di lakukan pemotongan hewan seperti kambing, sapi, atau ayam. Hal ini di lakukan sehubungan dengan adanya kepercayaan demi untuk kekuatan bangunan. Disampinag darah hewan sebagai perlambang agar jangan ada korban baik saat pelaksanaan kegiatan pembangunan, maupun setelah bangunan di tempati. Selain itu juga di atas bubungan rumah diletakkan cerek yang terbuat dari tanah liat dan diisi dengan air dari 7 sumber mata air. Maksudnya agar rumah tersebut dingin dan penhuninya merasa nyaman tinggal di rumahnya.
Usaha-usaha lain yang di lakukan untuk menolak bahaya atau untuk menghindari terjadinya gangguan tersebut, adalah dengan mengadakan ritual atau upacara di sepanjang lingkaran hidup. Yaitu mulai dari masa hamil, melahirkan, masa puber, perkawinan, hingga meninggal dunia.
Pada zaman dahulu, setiap ibu melahirkan di bantu oleh dukun beranak, sehingga hampir setiap dusun memiliki dukun beranak. Selain di anggap pandai membantu ibu melahirkan, juga dukun
38
mampu memberi ramuan-ramuan untuk menangkal makhluk-makhluk halus, yang di anggap dapat mengganggu ibu hamil dan bayinya.
Umumnya suku bangsa kayuagung, setelah melahirkan, ari-ari juga dibersihkan lalu di bungkus pakai kain putih atau tabuni lalu di masukkan dalam mangkuk tanah, lalu disimpan di bawah pohon kayu besar, di simpang tiga atau di simpang empat. Setelah ari-ari di timbun tidak ada lagi hubungan dengan bayi. Menurut kepercayaan suku bangsa kayuagung, ini adalah tujuanya adalah agar bayi nantinya tidak sakit-sakitan. Aktifitas semacam ini masih di lakukan oleh suku bangsa kayuagung hingga saat ini, walaupun dalam melahirkan bayi sudah dibantu oleh tenaga medis.
Dalam masyarakat Kayuagung ada sejenis kepercayaan yang menganggap bahwa apabila sang bayi selalu menangis, anak tersebut kena sawan yang disebabkan oleh pontianak atau ada mahluk halus yang mengganggu. Untuk mengantisipasi gangguan dari mahluk halus, setiap kamar diberi tanda gambar-gambar agar tidak diganggu oleh mahluk halus tersebut.
Ada beberapa pantangan atau hal-hal yang dianggap tidak boleh dilakukan oleh seseorang menurut kepercayaan masyarakat Kayuagung, misalnya tidak boleh membuat rumah di persimpangan empat, karena tempat tersebut merupakan jalur lalulintas iblis atau mahluk halus. Kemudian di larang bersiul di dalam rumah pda malam hari, karena mahluk halus atau hantu akan datang. Tidak boleh berjalan di hari dan bulan kelahiran, ini akan menyebabkan orang yang bersangkutan akan sering tertimpa musibah kecelakaan.
Selain itu masyarakat Kayuagung sebagian masih percaya akan adanya tanda-tanda alam seperti saat burung hantu berbunyi pada malam hari, akan ada orang yang meninggal. Bila ada ular yang menyebarang jalan dari kanan ke kiri, berarti akan ada bahaya. Ada larangan ketika ibu hamil, yaitu di larang makan ikan tomang, sebab anaknya nanti bisa seperti ikan tersebut. Ikan tomang ini beratnya sampai 4 kg.
Disamping kepercayaan secara spiritual, masyarakat
Kayuagung juga memiliki tempat yang secara real memiliki fungsi namun juga memiliki nilai budaya bagi masyarakat tersebut. Tangga Raja, begitulah sebutan pondok di sepanjang Sungai Komering Kecamatan Kota Kayuagung. Di bangunan ini banyak warga
39
menghabiskan sore, sembari menikmati semilir angin. Setiap desa atau kelurahan yang berada di sepanjang jalur Sungai Komering rata-rata memiliki satu buah Tangga Raja permanen milik desa. Ada juga yang dibangun pribadi oleh masyarakat yang rumahnya berada di tepi jalan menghadap ke sungai. Bagi pengguna jalan yang melintas di daerah ini, sering berhenti di pondok untuk beristirahat sejenak. Dulunya, Tangga Raja dibangun sebagai tempat untuk turunan mandi dan tempat berlabuh alat transportasi sungai khusus bagi para pemimpin dusun di Kota Kayuagung yang dikenal dengan Morge Siwe (Marga sembilan kelurahan). Morge siwe ini berada di sepanjang Sungai Komering dalam wilayah Kota Kayuagung. Pada bagian bawah Tangga Raja terdapat MCK terapung tempat para pemimpin tadi mandi. Namun, sejalan dengan perkembangan waktu Tangga Raja semakin banyak dibangun oleh warga. Saat ini, sedikitnya ada 20 Tangga Raja berdiri di sepanjang Sungai Komering. Warga kini banyak memanfaatkan sebagai tempat berkumpul, khusus bagi kaum pria mengobrol sekadar mengisi kekosongan waktu santai, biasanya pada sore atau malam hari. Keberadaan Tangga Raja sekarang menjadi ciri khas di kota yang terkenal sebagai penghasil berbagai jenis tembikar ini. Bahkan, Pemkab OKI memberikan perhatian dengan menata bangunan Tangga Raja agar lebih menarik. Pada tahun anggaran 2006 lalu, Pemkab OKI melakukan pembangunan beberapa buah Tangga Raja dengan bentuk seragam guna mempermanis tepian Sungai Komering. Bangunannya, dibuat berbentuk rumah tanpa dinding dengan pilar-pilar batu dan ornamen kayu ukiran di beberapa sisi. Bangunan ini didirikan di sembilan kelurahan yang berada di sekitar Sungai Komering. Di beberapa lokasi seperti Kelurahan Paku, kita bisa menjumpai pedagang-pedagang makanan kecil sampai pedagang kue tradisional. Jadi, bagi warga yang ingin bersantai di sini dapat
menikmati pemandangan sambil menyantap makanan tradisional.28
Data sensus penduduk tahun 2000 menunjukkan jumlah penduduk Kecamatan Kota Kayu Agung adalah sebesar 30.919 jiwa yang terdiri atas 14.647 jiwa laki-laki dan 16.272 jiwa perempuan. Dari angka tersebut masing-masing penduduk tersebar dalam tiga agama yang terdaftar yaitu penduduk yang beragama Islam sebesar
28“Panorama: Pondok Legenda di Tepian Sungai Komering” Harian Berita Pagi Palembang, Senin 7
40
30.587 jiwa, penduduk yang beragama kristen dan katolik sebesar 126 jiwa, dan penduduk yang beragama budha 206 jiwa. Data tentu saja bukan angka yang mutlak menunjukkan jumlah nominal karena data yang dipakai adalah hasil sensus tahun 2000. Namun angka ini setidaknya dapat menunjukkan persentase dominan agama Islam sebagai agama mayoritas penduduk sehingga dengan demikian dapat diasumsikan bahwa agama Islam menjadi acuan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat termasuk juga dalam aktivitas adat istiadat.
41