BAB IV PROSES PENEMUAN JATI DIRI TOKOH ED DALAM NOVEL
4.2 Penemuan Jati Diri Tokoh Ed
4.2.3 Masa Bermasalah
Masa dewasa dikatakan sebagai masa yang sulit dan bermasalah. Hal ini dikarenakan seorang harus mengadakan penyesuaian dengan peran barunya (perkawaninan vs pekerjaan). Jika ia tidak dapat mengatasinya, maka akan menimbulkan masalah.
Terlepas dari itu, orang tuanya tetap mendesak Ine agar aku menyelesaikan kuliahku, mengurangi hobi naik gunungku, dan bekerja secara layak. Secara layak? Apa maksud orang tuanya tentang bekerja secara layak? Kalau pun Ine berasal dari kalangan akademisi, apakah itu berarti aku mesti jadi dosen juga? Kalau benar demikian, rumus hidup macam apa itu?(Febrialdi:15).
Pada kutipan di atas, orang tua Ine yang menginginkan kejelasan atas hubungan anaknya dengan Ed mulai mendesak Ine untuk menyampaikan kepada Ed agar menyelesaikan kuliahnya. Ed sebenarnya adalah seorang mahasiswa S1 yang tidak kunjung lulus. Ed memilih untuk fokus bekerja sebagai seorang pencuci piring dari pada menyelesaikan kuliahnya. Hal itu menimbulkan keraguan orang tua Ine atas Ed.
“Kalau punya uang banyak? Mmm... nikahin kamu!”
“Huuu... itu sih bukan jawaban!”
“Lha, tadi nanya...”
“Jadi kamu baru mau nikahin aku kalo udah dapat uang banyak?
Kalo nggak dapat-dapat? Berarti nggak nikah-nikah, dong?”
(Febrialdi:19)
Kutipan di atas menampilkan pertanyaan Ine yang bertanya apa yang akan Ed lakukan jika memiliki banyak uang. Ed menjawab ingin menikahi Ine. Tapi, jawaban Ed malah menjadi keraguan tersendiri oleh Ine. Ine beranggapan Ed hanya akan menikahinya jika ia punya banyak uang, lantas tidak akan menikahinya jika uang yang dipunya tidak banyak. Masalah yang timbul adalah keraguan Ine terhadap Ed yang belum berniat untuk menikahinya.
Aku masih tak mengerti, hingga minggu ketiga aku dirawat di rumah sakit, Ine masih belum menjengukku. Aku tahu, sejak pertemuan terakhir, kami sudah lama tak berkontak bahkan tak bertemu. Kami memang tak bertengkar. Namun, bukankah apa yang sedang terjadi denganku saat ini bukan kejadian sepele? Aku kena musibah. Kecelakaan. Bahkan dipecat dari tempat kerja (Febrialdi:23)
Pada kutipan di atas, Ed yang sudah sadar dari koma tidak mendapati keberadaan Ine, orang pertama yang seharusnya ada di sisinya. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, Ed yang mengalami musibah kecelakaan kerja, dipecat secara sepihak, mendapat masalah yang bertambah, yaitu Ine yang tidak datang menjenguknya. Pertemuan terakhir mereka yang sudah lama dan meninggalkan sedikit perdebatan membuat Ed yakin Ine tidak peduli dengannya lagi dan telah meninggalkannya begitu saja.
“Tapi apa? Apa? Kamu pengin orang tuaku yang bisa memaklumi?
Kamu ingin aku yang bisa memahami kamu? Iya? Ha?” Nada bicara Ine jelas tampak jengkel. “Kurang apa? Kurang apa aku memahami kamu selama ini? Kurang memaklumi gimana orang tuaku terhadap hubungan kita selama ini? Kurang gimana?
Sementara kamu? Apa kamu mau memaklumi keinginan orang tuaku? Apa kamu mau memahami kesabaranku? Jangan egois, Ed!
Ini bukan melulu soal kamu aja. Ini soal kita. Soal dua pihak yang dipersatukan. Nggak bisa kalo satu pihak aja yang terus-terusan minta dimaklumi dan dipahami.” (Febrialdi:24).
Pada kutipan di atas, Ed teringat perdebatan di pertemuan terakhirnya dengan Ine. Ine yang pada saat itu tersulut emosi karena Ed hanya bisa mempermasalahkan status sosial keluarga Ine yang akademisi. Ed merasa Ine dan orang tuanya tidak memahami dan memaklumi keadaannya. Ine geram dengan sikap Ed yang tidak mau mencari solusi atas masalah hubungan mereka.
“Kamu kok malah menyudutkan aku, sih?”
“Menyudutkan? Menyudutkan katamu? Kamu kalo udah nggak bisa beragumen, bisanya merasa tersudut. Terpojok. Merasa dirongrong. Padahal aku cuma butuh kejelasan dari kamu.
Kepastian. Ini nggak fair, Ed. Nggak fair. Bukan aku aja yang harus memahami kamu. Bukan orang tuaku saja yang terus-terusan memaklumi. Kamu juga harus sadar bahwa selama ini dipahami dan dimaklumi. Masak mau gini terus. Bakal ke mana?”
(Febrialdi:24-25).
Kutipan di atas menunjukkan ketidaksiapan dan ketidakseriusan tokoh Ed dalam menjalin hubungan dengan Ine. Ed memiliki masalah dengan dirinya karena tidak bisa mengambil sikap tegas. Ed tidak kunjung memberi kepastian kepada Ine dan keluarganya. Setiap kali harus berdebat perihal hubungannya, akan berakhir dengan Ed yang merasa terpojokkan oleh desakan Ine.
“Kami sudah mendengar keputusan perusahaan tentang statusmu, Ed,” sambung Kidung lagi. “Kami turut prihatin. Kami sempat protes bahwa apa yang terjadi pada dirimu murni kecelakaan. Tapi, kamu tahu sendiri, berapa pun jumlah kami, sekuat apa pun proes kami, apalah arti kami di depan peraturan perusahaan? Boro-boro minta perusahaan mencabut keputusan. Kami bahkan nggak bisa apa-apa.” (Febrialdi:27).
Kutipan di atas terlihat teman-teman kerja Ed datang untuk menjenguknya yang baru sadar dari koma. Mereka sudah mendengar keputusan perusahaan untuk memutuskan hubungan kerja dengan Ed secara sepihak. Teman-temannya juga
sudah menjelaskan keterlibatan mereka dalam membantu mencari keadilan dalam kasus Ed. Namun, usaha teman-temannya tidak berbuah hasil yang baik.
Perusahaan tidak akan mencabut pemutusan hubungan kerja terhadap Ed. Jadi, sudah dipastikan, sekeluarnya Ed dari rumah sakit, Ed resmi menjadi pengangguran.
“Tapi, sudah berapa lama dia nggak ngontak kamu? Sama aja, kan?
Itu artinya dia pun nggak berusaha memperbaiki apa yang sebetulnya sedang terjadi di antara kalian. Sudah. Pergi.”
(Febrialdi:34).
Dalam kutipan di atas menunjukkan bahwa Dicky meyakinkan Ed untuk tidak ragu dalam mengambil keputusan melakukan perjalanan. Ed masih ragu karena sulit untuk meninggalkan Ine. Dicky mencoba menyadarkan Ed kalau Ine pada kenyataannya sudah tidak peduli dengannya. Hal itu dibuktikan ketika Ine tidak kunjung menjenguk atau sekadar memberi kabar kepada Ed.
“Perempuan itu, Ed, di mana-mana cuma butuh kepastian.”
“Kepastian?” Giliran aku yang kini mengernyitkan dahi.
“Iyalah. Mau kamu sekaya apa pun, mau punya pangkat atau harta kayak gimana juga, kalo kamu nggak bisa ngasih kepastian atas hubunganmu, perempuan bakal tetap bimbang”.
“Ini bukan soal belahan jiwa, meyakini terlihat dan gak terlihat.
Tapi kepastian, Ed”, jawab Rima. “Sekarang aku mau nanya, kamu pernah nggak ngasih kepastian dan meyakinkan sama Ine bahwa kamu yakin bakal nikahi dia?”
Aku terdiam seribu bahasa (Febrialdi:42).
Kutipan di atas menampilkan percakapan antara Ed dan Rima pada malam sebelum keberangkatan Ed. Rima memberi nasihat yang membuka pikiran Ed dalam persoalan percintaan dari sudut pandang perempuan. Rima mengatakan kalau perempuan membutuhkan kepastian. Tidak peduli sekaya atau sehebat apapun laki-laki, jika tidak bisa memberikan kepastian dalam hubungan,
perempuan akan tetap bimbang. Hal itu tentu saja membuat Ed terdiam karena ia menyadari sikapnya terhadap Ine yang selama ini hanya menyalahkan takdir bahwa ia dan Ine berada pada status sosial yang berbeda.
Kulepaskan bibir cangkir itu dari mulutku. “Aku baru aja datang dari Yogya, Put. Tiba-tiba ketemu kamu. Lalu diajak ngeliat rumah ini. Belum juga sempat narik napas, sudah kamu sodorkan tawaran haji. Sekarag malah sudah ditanya apa jawabanku,” kataku tertawa (Febrialdi:96).
Dalam kutipan di atas, menunjukkan masa bermasalah pada fase dewasa awal tokoh Ed. Percakapan antara Ed dan Putri, anak ketua yayasan panti asuhan yang dulu menjadi tempat tinggal Ed semasa kecil hingga remaja. Keberangkatan Ed yang diawali oleh kota Jogja untuk sekadar singgah melihat rumah panti tempat di mana ia dibesarkan, menjadi kebimbangan baru atas dirinya. Tawaran berangkat haji oleh Pak Hendra yang ternyata sudah lama mencari dan menunggu kedatangan Ed membuatnya semakin bingung. Ditambah lagi Ed yang belum tahu gunung mana yang akan didaki dahulu, bisa saja menerima tawaran haji tersebut, tapi Ed merasa belum siap untuk berangkat haji pada saat itu.
“Itu ajaran Bapak. Itu kenapa Putri jadi senang berbisnis. Ada kepuasan tersendiri saat mendapatkan hasil dari usaha yang kita ciptakan. Di luar itu, Putri merasakan betul nikmatnya bekerja di bidang yang Putri senangi. Bekerja karena kita senang, Mas. Bukan karena keadaan yang mengharuskan kita untuk bekerja yang bisa jadi sebetulnya kita nggak suka dengan pekerjaan yang kita kerjakan.”
Tiba-tiba aku tersentak dengan kalimat terakhir Putri. Astaga!
Gadis semuda ini, sudah memiliki pemikiran seperti itu, batinku cemburu. Seperti halnya Dicky, Andre, Andriza, Dava dan Fadil.
Sahabat-sahabatku di Bandung (Febrialdi:107).
Kedua kutipan di atas menujukkan masa bermasalah yang dialami Ed.
Pemikiran Putri tentang bisnis sontak saja menambah kecil hati Ed. Ia merasa
Putri memiliki pemikirannya yang jauh berada di depannya. Hal itu juga mengingatkan Ed pada teman-temannya atas jalan hidup mereka yang sesuai dengan kemampuan dan keinginan, berbeda dengannya yang hanya bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup seorang diri dan belum bisa bekerja sesuai dengan minat dan bakatnya.
Aku memicingkan mata sembari mulai waspada.
Hmm, siapa gerangan mereka? Anak-anak muda tanggung.
Usianya jelas berada jauh di bawahku. Namun, gaya dan sikapnya sungguh kontras, sok jagoan (Febrialdi:112).
Kutipan di atas menunjukkan masa bermasalah yang dihadapi oleh tokoh Ed. Pada malam selepas berjalan-jalan menikmati gudeg bersama Putri, Ed yang menolak tawaran Putri untuk diantar pulang ke rumah panti dengan alasan ingin pulang sendiri sambil menikmati suasana malam di Jogja, tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran empat lelaki muda yang ternyata sudah mengincarnya dari tadi.
Tampak dari tampang mereka seperti anak muda berandalan yang akan memancing keributan.
“Wah, raiso ngono, Mas,” tiba-tiba si parlente yang sejak tadi diam, angkat bicara. “Mas jalan sama Putri, itu jelas berurusan dengan kami!” katanya langsung ke pokok persoalan(Febrialdi:113).
Rupanya si parlente itu punya riwayat dengan Putri. Kekasih Putri-kah? Tanyaku menduga-duga. Rasanya terlalu konyol jika Putri sampai pacaran dengan si parlente yang punya tampang kolokan sekaligus tengik seperti siparlente. Tak sepadan sama sekali (Febrialdi:115).
Kedua kutipan di atas menunjukkan masa bermasalah tokoh Ed ketika berhadapan dengan sekelompok pemuda yang menantangnya di tengah jalan.
Ternyata salah satu dari pemuda-pemuda itu mempermasalahkan Ed yang barusan
berjalan-jalan dengan Putri. Ed tidak mengetahui Putri dan pemuda itu mempunyai hubungan apa. Hal itu menjadi ancaman bagi Ed karena dikepung orang-orang tak di kenal.
“Rupanya yang bikin koboi-koboi unyu macam kalian stres semata soal perempuan?” tanyaku balas mengejek.
“Jadi, kamu apanya Putri?” Seketika aku menoleh ke arah si parlente. “Pacar? Atau baru sekadar suka?”
Kulihat wajah si parlente merah padam.
“Banyak mulut kowe!” Tiba-tiba si topi koboi menerjang ke arahku (Febrialdi:113).
Percakapan di atas adalah kutipan dari salah satu masa bermasalah yang dialami oleh tokoh Ed. Ed yang telah mengetahui akar permasalahan kenapa para pemuda itu meradang dan menyerbu Ed adalah semata karena Putri. Amarah para pemuda itu memuncak ketika Ed tidak kunjung menjawab pertanyaannya perihal hubungannya dengan Putri. Sudah dipastikan adegan selanjutnya adalah baku hantam antara Ed dan keempat pemuda tanggung itu.
Tangan kiri si parlente masih memegangi kerah kemejaku dengan kasar. Sementara tangga kanannya menepuk-nepuk pipiku sambil berkata, “Makanya, ojo sok jago di kota orang,” ujar si parlente dengan nada sombong. “Sekali lagi aku lihat kamu jalan sama Putri, habis kamu!” (Febrialdi:114).
Seperti pada kutipan di atas, Ed sedang mengalami masa bermasalah ketika kedatangannya di Jogja. Sudah jelas Ed kalah dengan keroyokan anak-anak berandalan yang mengaku pacar Putri itu. Para pemuda itu juga mengancam jika Ed masih terlihat mendekati Putri, mereka tidak akan tinggal diam. Hal itu tentu saja membuat Ed jadi serba salah, kemungkinan hal lebih parah akan menimpa Ed kalau ia masih terlihat dekat dengan Putri.
Tapi, kalaupun Putri boleh memberi masukan, lakukanlah semua demi Allah semata. Mendakilah untuk mencinta, mengahayati, dan
mensyukuri segala ciptaan-Nya. Karena tak ada gunung yang lebih tinggi selain ketinggian yang sudah Allah ciptakan di langit dan bumi ini (Febrialdi:150).
Aku betul-betul terkejut. Terhenyak. Sampai berulang kali kubaca kalimat Putri dalam e-mail-nya. Nyaris tak percaya. Selama ini tujuanku mendaki sama sekali bukan dengan alasan-alasan yang Putri sodorkan. Memang aku mencintai alam. Tapi demi kecintaanku pada Sang Pencipta? Baru kali ini kudengar. Terlebih rencana Seven Summits Indonesia-ku. Jadi untuk apa segala rencana dan tujuan selama ini? (Febrialdi:152).
Pada kutipan pertama adalah penggalan isi e-mail yang dikirim Putri untuk Ed selepas memilih untuk pergi karena kejadian pengeroyokan pada malam itu.
Penggalan e-mail tersebut, Putri mengingatkan Ed untuk melakukan pendakian karena Allah. Pada kutipan kedua, terlihat reaksi Ed yang terkejut karena membaca e-mail tersebut. Hal itu menambah masalah bagi Ed karena ia tersadar bahwa perjalanannya kali ini bukan dipersembahkan untuk Allah, melainkan merupakan pembuktiannya kepada Ine. Pada saat itulah Ed merasa semakin bingung atas tujuan Seven Summits Indonesia-nya yang baru saja akan ia mulai.
Aku masih duduk di teras pos Ranu Pane. Masih menimang-nimang apakah aku harus mengajak Nina atau tidak? Tiba-tiba aku jadi teringat pada Ine. Di mana aku menjadikan hatinya sebagai tempat berpulang (Febrialdi:157).
Pada kutipan di atas, ditemukan ciri-ciri masa bermasalah yang dialami oleh tokoh Ed. Perasaan bingung melanda Ed ketika ia dan Cery, sahabatnya berjumpa dua orang gadis di Gunung Semeru. Salah satu gadis yang bernama Nina, mengetahui kalau Ed akan melajutkan pendakian di Gunung Rinjani yang akan menjadi gunung kedua dalam pencapaian Seven Summits Indonesia-nya.Yang menjadi masalah adalah bahwa Nina ingin ikut serta ke gunung Rinjani.
Kebingungan itu tentu saja datang karena Ed memikirkan perasaan Ine kalau saja
Ine sampai tahu ia pergi ke Rinjani berdua dengan seorang gadis cantik. Alih-alih mendaki untuk persembahan kepada Ine, Ed takut rencana perjalanannya akan berubah tujuan kalau ia membawa Nina.
Kalau betul ia sedang menjemput rombongan yang hendak mendaki Semeru, jelas mereka sudah melakukan booking pada semacam agen perjalanan pendakian. Bisa jadi mereka pun sudah melakukan pembayaran uang muka, termasuk transportasi dari Stasiun Malang menuju Tumpang, bahkan Ranu Pane.
Jika seperti pengakuannya sebagai penjemput, berarti ia hanya mencari uang dariku. Huh! Tiba-tiba aku merasa sebal. Padahal semua itu tak lebih hanya analisisku semata. Ah, entahlah (Febrialdi:167).
Kedua kutipan di atas adalah salah satu ciri masa bermasalah yang sedang dialami Ed. Seorang lelaki tua yang mengaku sebagai penjemput rombongan pendaki tiba-tiba mendatanginya ketika Ed baru saja tiba di Stasiun Malang.
Lelaki tua itu terus memaksa Ed untuk ikut rombongannya. Tawaran itu ditolak Ed secara baik-baik karena merasa segan jika ikut menyisip dengan rombongan lain dan Ed juga sudah risih dengan keberadaan lelaki itu karena terlihat niatnya adalah untuk mendapatkan uang dari Ed dengan cara memaksa.
Di dalam kereta aku lebih banyak diam ketimbang mengobrol dengan Nina. Kejadian di depan Stasiun Malang memang kejadian sepele. Tak lantas membesar menjadi persoalan genting. Tetapi sedikit banyak membuatku merenung akan makna perjalanan ini (Febrialdi:172).
Pada kutipan di atas, menunjukkan ciri-ciri masa bermasalah yang dialami tokoh Ed pada fase dewasa awal. Kejadian tidak diduga ketika seorang lelaki tua yang berhasil menguras emosi Ed di Stasiun Malang membuatnya merenung selama perjalanan di kereta api hingga tidak menghiraukan Nina, teman perjalanannya.
Apa yang sedang aku lakukan? Batinku bertanya. Apakah aku sedang mengkhianati Ine? Sementara Putri? Bagaimanakah dengan Putri? Mereka berdua sedang menunggu kabar dariku. Mereka berdua sedang ingin secepatnya bertemu denganku.
Sementara aku, sedang di Lombok dengan seorang perempuan yang baru saja kukenal (Febrialdi:176).
Namun, apakah masih cukup layak jika aku dianggap mengkhianati Ine? Bukankah hubunganku dengannya sedang tak jelas ke mana arah muaranya. Sementara Putri, aku tak pernah punya ikatan atau janji apa-apa dengannya. Meski harus kuakui, aku menyukainya.
Ah, kenapa perjalanan ini malah membuatku dilema?
(Febrialdi:176)
Pada kedua kutipan di atas terdapat ciri-ciri masa bermasalah yang dialami tokoh Ed. Membiarkan Nina, seorang gadis yang baru saja ia kenal, untuk ikut serta dalam pendakian tentu saja menjadi masalah baru yang akan dialami Ed. Ed merasa telah mengkhianati Ine karena tidak sesuai dengan tujuan awal melakukan Seven Summits Indonesia, yaitu untuk mempersembahkannya kepada Ine. Tapi,
Ed juga menafikan kalau ia mengkhianati Ine karena Ed merasa hubungannya dengan Ine sedang tidak jelas. Hal itu menimbulkan dilema dalam hati Ed tentang perjalanannya.
Aku seringkali terbata-bata ketika harus mendefinisikan pengertian cinta. Tak jarang malah jadi bertanya pada diri sendiri, apa yang sebetulnya dicari oleh perempuan yang ingin mengikat cinta pada lelaki yang tengah melakukan perjalanan seperti diriku? Bukankah aku orang yang tidak diam di satu tempat. Terus berjalan dan berpindah-pindah dalam kurun waktu yang tak bisa ditentukan.
Lantas apa artinya ikatan cinta bagi mereka?
Di satu sisi, harus jujur kuakui, bagaimanapun aku membutuhkan cita dan kasih sayang dari seorang perempuan. Namun, di sisi lain, hubungan cinta yang mengikat seperti itu justru membuat perjalananku terhambat (Febrialdi:194).
Kedua kutipan di atas menunjukkan masa bermasalah yang sedang dialami oleh tokoh Ed ketika sudah memulai perjalanan. Nina yang sering kali menyatakan perasaannya kepada Ed secara terus terang selama di perjalanan membuatnya dilema. Ed hampir tidak bisa membedakan jika Nina sedang serius atau sekadar bergurau ketika menyatakan perasaannya. Tak jarang pula Nina mengatakan Ed sebagai lelaki yang tidak peka karena tidak menanggapi perasaannya. Hal itu membuat Ed semakin bingung dalam memahami sifat wanita. Walaupun tidak dipungkiri bahwa Ed juga membutuhkan cinta dan kasih sayang dari seorang perempuan, tapi itu bisa saja menghambat perjalanannya.
Berarti cuma ada satu tenda milikku. Memang muat untuk dua orang. Namun, apakah itu berarti itu satu tenda bersama Nina?
(Febrialdi:195).
Semua perbekalan dan perlengkapan hampir semua sudah siap.
Hanya tenda saja yang saat ini masih jadi biang masalah. Aku juga masih tak habis pikir, bagaimana mungkin Nina hendak mendaki tanpa membawa tenda? (Febrialdi:197).
Pada kedua kutipan di atas menunjukkan masa bermasalah yang dialami tokoh Ed. Nina yang ternyata tidak membawa tenda menimbulkan masalah baru bagi Ed. Ed merasa canggung jika harus satu tenda dengan Nina. Padahal, Ed sering melakukan pendakian dan sering tidak peduli akan satu tenda dengan siapa saja. Tapi kali ini Ed merasa hal itu menjadi masalah ketika harus satu tenda dengan Nina.
“Mas Ed sendiri kenapa kok melakukan Seven Summits Indonesia?” tanya Nina tiba-tiba. “Boleh tahu tujuannya?”
Aku tercekat! Sungguh, alasan di balik itu tidak mudah untuk kujawab. Mau tidak mau pertanyaan itu membuatku terlempar pada omonganku terhadap Ine di email, yang kukirim sebelum meninggalkan Kota Bandung. Dan kini kusadari, aku belum
merespon email dari Ine. Ia pasti tengah menunggu-nunggu balasanku (Febrialdi:202).
Pada kutipan di atas menunjukkan masa bermasalah yang dialami tokoh Ed. Pertanyaan Nina tentang apa tujuannya melakukan Seven Summits Indonesia ternyata mengganggu pikirannya. Karena pada awal Ed melakukan perjalanan adalah untuk persembahannya kepada Ine, tapi tujuan itu perlahan menjadi hilang arah semenjak Ed bertemu dengan Putri dan Nina.
Aku mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Kenapa tiba-tiba Nina kedinginan dan menggigil hebat? Berarti kecurigaanku terbukti. Sejak pos terakhir menuju Pelawangan Senaru, kuperhatikan kondisi Nina sudah tidak optimal lagi. Seringkali terseok-seok, beberapa kali terjatuh dan napasnya sudah tak beraturan (Febrialdi:212).
Pada kutipan di atas menunjukkan ciri-ciri masa bermasalah yang dialami tokoh Ed dalam proses penemuan jati dirinya. Ed merasa curiga dengan tingkah laku Nina yang menunjukkan fisik yang lemah sejak tiba di Pelawangan Senaru.
Nina mulai berjalan dengan sempoyongan, wajah letihnya tidak bisa disembunyikannya lagi, dan saat berbicara selalu patah-patah serta susul-menyusul dengan tarikan napas yang mulai berkejaran. Ed dan Nina memutuskan istirahat dan membangun tenda di pos Pelawangan Senaru.
“Nina! Nina! Bangun, Nina!” Kugoncang-goncang tubuhnya.
Namun Nina tetap tak bereaksi sama sekali.
Astaga! Apa yang terjadi? Apa yang harus kulakukan sekarang?
Saat ini aku seorang diri di Pelawangan Senaru Tak ada pendaki
Saat ini aku seorang diri di Pelawangan Senaru Tak ada pendaki