• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PROSES PENEMUAN JATI DIRI TOKOH ED DALAM NOVEL

4.2 Penemuan Jati Diri Tokoh Ed

4.2.5 Masa Keterasingan Sosial

Masa dewasa awal adalah masa di mana seseorang mengalami “krisis isolasi”, ia terisolasi atau terasingkan dari kelompok sosial. Kegiatan sosial dibatasi karena berbagai tekanan dari pekerjaan dan keluarga. Hubungan dengan teman-teman sebaya juga menjadi renggang. Keterasingan diintensifkan dengan adanya semangat bersaing dan hasrat untuk maju dalam berkarir.

Pak Agus sudah menemuiku. Final sudah keputusan perusahaan bahwa aku diberhentikan secara sepihak dari perusahaan, dengan alasan kondisi fisikku yang tidak lagi memungkinkan untuk melanjutkan kerja. Walaupun sekarang tidak ada luka serius yang tertinggal di tubuhku.

Kini pekerjaanku hanya berbaring, berbaring, dan cuma berbaring.

Tak ada lagi yang biasa kulakukan selain menatap langit-langit kamar. Dokter memintaku beristirahat total jika ingin kondisku pulih. Kini aku merasa menjadi manusia tak berguna (Febrialdi:18).

Kutipan di atas menunjukkan ciri-ciri masa keterasingan sosial yang dialami oleh tokoh Ed. Setelah musibah kecelakaan kerja yang menimpa Ed, keterasingan sosial terlihat pada nasib Ed yang di-PHK secara sepihak oleh perusahaan. Keputusan perusahaan tidak bisa diganggu gugat lagi untuk memecat Ed dari perusahaan walau Ed-lah sesungguhnya yang menjadi korban atas kejadian tersebut. Ed merasa tidak tahu mau melakukan apa setelah itu dengan uang pesangon yang terbilang cukup banyak.

Bagi kami, sesama orang dapur, bekerja adalah bekerja. Usai jam kerja, kami kembali ke kehidupan masing-masing. Tak pernah ada kumpul-kumpul atau ikatan pertemanan di luar jam kerja. Interaksi akrab hanya terjadi di dapur. Apa boleh buat, sudah bertahun-tahun seperti itu. Dan kami sama sekali tak pernah mempersoalkan hal-hal semacam tu. Karena kami menyadari, bekerja ya bekerja. Di luar itu, kami punya kehidupan sendiri-sendiri (Febrialdi:23).

Pada data di atas, terdapat kutipan yang menunjukkan ciri-ciri masa keterasingan sosial yang dialami Ed pada fase dewasa awal. Memiliki teman di tempat kerja tidak menjamin keakraban di kehidupan setelah jam kerja. Pada fase ini, Ed membatasi hubungan sosialnya. Ed tidak ingin kehidupan pribadinya dicampuri dengan orang-orang yang ada di tempat kerjanya, apa lagi antara pekerjaan dan hobinya sangat berbanding terbalik. Hal itu mungkin saja menjadi alasan Ed membatasi hubungan sosialnya karena merasa antara hobi dan pekerjaan adalah dua hal yang berbeda.

“Waktu kamu masih koma, kami sempat datang beramai-ramai, Ed.

Satu dapur ikut besuk.”

“Hah? Serius” Aku terbelalak.

“Ya. Kami sedih, kamu sampai koma segala. Lama lagi,” sambung Adis.

“Kamu memang yang paling parah. Beberapa teman cuma lecet atau luka luar,” susul Kidung.

“Ya, Tuhan. Aku pikir nggak ada yang ingat sama aku.”

“Hah? Kamu kok ngomong gitu?” Kidung mengernyitkan dahi.

Tiba-tiba aku merasa malu. Mereka, teman-teman di tempat kerja, ternyata tak seperti yang kuduga. Menurut cerita mereka, mereka justru merupakan orang pertama yang menjengukku di rumah sakit.

Namun, karena aku mengalami koma, aku jelas tak tahu apa-apa.

Bahkan suster-suster di sini pun tak pernah menceritakan siapa saja yang sudah datang membesukku (Febrialdi:26).

Pada kutipan di atas, keterasingan sosial yang terjadi di dunia kerja ternyata tidak seburuk yang Ed bayangkan. Ed mengira tidak ada satu pun orang yang menjenguknya, tapi Ed hanya tidak tahu selama ia dalam masa koma, seluruh teman dapurnya menjenguk dan ikut berduka atas apa yang menimpa Ed.

Hal itu membuat Ed merasa malu karena sudah berpikir temannya tidak peduli dengannya sama sekali.

Aku jadi berpikir, apakah iya Ine betul-betul tak tahu keberadaanku? Tak tahu apa yang sedang menimpa diriku? Jadi dia betul-betul tak mengontakku lagi? Lebih-lebih tak mencariku?

Kini, apa yang bisa kuharapkan (Febrialdi:28).

Penggalan kutipan di atas menunjukkan masa keterasingan sosial yang dirasakan tokoh Ed, yaitu Ed merasa sudah dilupakan oleh Ine, kekasihnya.

Pertemuan terakhir mereka memang meninggalkan sedikit percekcokan, ditambah sejak Ed terbaring koma di rumah sakit, Ine tidak memberi kabar maupun menjenguk Ed sekalipun. Hal itu semakin membuat Ed merasa diasingkan dari orang-orang sekitarnya ketika ia sedang terpuruk.

“Tapi, Ma, dalam kasusku sama Ine, bukan soal aku berani berubah atau nggak, tapi orang tua Ine itu keluarga akademisi, pendidikan mereka tinggi, terpandang, terhormat, rumah mereka mentereng, ke mana-mana naik mobil, sering berpergian ke luar negeri. Mungkin mereka malu punya calon menantu gelar kuliahnya D3 dan S1-nya aja nggak beres, kerjanya cuci piring dan bantu koki, doyannya naik gunung pula. Apa yang bisa dibanggakan coba?”

(Febrialdi:45).

Masa keterasingan sosial yang dialami oleh tokoh Ed juga terlihat pada kutipan di atas. Percakapannya dengan Rima, istri sahabatnya itu terlihat bahwa Ed merasa tidak percaya diri jika dibandingkan dengan status sosial keluarga Ine yang akademisi. Hal itulah yang dijadikan alasan oleh Ed mengapa sampai saat itu ia tidak kunjung berniat untuk memberi kejelasan di hubungannya dengan Ine.

Ine, aku tahu, mungkin sudah bukan tempatnya aku pamit pada dirimu atas perjalanan ini. Toh siapalah kini aku di depan matamu.

Nobody? Bisa jadi

Tapi, izinkan aku sekadar memberi tahu padamu tentang rencana perjalananku. Selebihnya, aku sudah tak tahu lagi. Dibalas tidak dibalas email ini, pun sudah tak membuat perbedaan bagi dirimu, kan? (Febrialdi:65)

Pada kutipan di atas, menunjukkan masa keterasingan sosial yang sedang dialami oleh Ed. Setelah sadar sepenuhnya dari koma, Dicky yang tidak tega melihat sahabatnya terpuruk dalam masalah yang datang silih berganti,

menyarankan Ed untuk melakukan perjalanan sebagai pemulihan jiwanya. Dengan pertimbangan yang singkat, Ed mencoba mengikuti saran sahabatnya itu. Malam sebelum Ed melakukan perjalanan, Ine tidak juga datang untuk Ed. Jadi, Ed mengirimkan e-mail berisi pesan pamit kepada Ine untuk melakukan perjalanan.

Meski Ed tahu bahwa Ine tidak lagi peduli dengannya

Setelah mengatakan itu, dengan cepat mereka kabur. Menaiki mobil lantas melesat pergi entah ke mana. Tinggal aku sendirian tersungkur di trotoar sembari memegangi ulu hatiku yang terasa sakit buka kepalang (Febrialdi:114).

Kutipan di atas menunjukkan masa keterasingan sosial yang dihadapi oleh tokoh Ed. Kedatangannya di rumah panti asuhan yang berada di Yogyakarta, tempat di mana ia dibesarkan, sangat disambut dengan hangat oleh Putri. Putri adalah anak Pak hendra, ketua yayasan rumah panti yang baru setelah Ibu Ros meninggal dunia. Tapi kedekatannya dengan Putri ternyata menimbulkan masalah baru. Sekelompok pemuda tanggung yang tidak terima atas kedekatan Ed dan Putri langsung mencelakainya. Mereka mengeroyok Ed di tengah jalan ketika Ed berjalan sendiri sehabis berjalan-jalan dengan Putri. Perkelahian tidak seimbang itu tentu saja dimenangkan oleh sekelompok pemuda tengik. Keterasingan sosial terjadi ketika Ed ditinggal seorang diri di tengah jalan malam Yogyakarta dengan luka lebam di sekujur tubuh.

Kini aku mengutuki diriku yang kecil, rendah, kerdil, dan gagal.

Aku menghela napas panjang.

Kutebarkan pandang. Orang-orang masih terus lalu-lalang. Ada yang hendak pergi, ada yang baru pulang. Semua bergegas. Dan aku, aku seorang diri di bandara ini. Seseorang yang tak tahu hendak kemana. Akan pergi ke mana, akan pulang ke mana, sama tak tahunya (Febrialdi:267).

Pada data di atas mengandung kutipan pada masa keterasingan sosial yang dialami oleh tokoh Ed. Perjalanan pendakian dilanjutkan ke gunung Rinjani setelah menaklukkan Gunung Semeru. Ada seorang gadis bernama Nina yang ditemuinya di Semeru memaksa meminta ikut dengan Ed ke Rinjani. Namun, tiba-tiba musibah besar yang mengguncang hati Ed terjadi. Nina meninggal dunia secara tiba-tiba di Rinjani. Pada kutipan di atas, Ed sedang berada di Bandara Achmad Yani, Semarang sesudah mengantarkan dan memakamkan jenazah Nina.

Pada akhirnya, setelah apa yang ia lewati, Ed merenung sendiri mengutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga Nina. Ed mengalami masa keterasingan sosial karena tidak ada yang bisa ia lakukan setelah itu.

Aku bersimpuh, menangis dan mengadu kepada Allah atas cobaan dan rintangan yang kualami selama ini. Aku memohon agar diberi kekuatan seta kesabaran dalam menghadapi hidup yang keras ini (Febrialdi:289).

Kutipan di atas menunjukkan berakhirnya masa keterasingan sosial oleh tokoh Ed dalam fase dewasa awalnya. Setelah mengalami keraguan dan cobaan yang bertubi dalam kehidupannya, Ed akhirnya kembali ke rumah panti dan menerima ajakan Pak Hendra untuk ibadah haji. Sesampainya di Mekkah, Ed memohon ampun tidak henti-henti berdoa kepada Allah. Pada akhirnya, Ed tidak merasakan keterasingan sosial lagi, karena jawaban atas segala keraguannya sudah terjawab. Ed menyadari sejauh manapun ia mendaki tidak akan berarti ketika pendakian itu tidak karena Allah.

Dokumen terkait