• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PROSES PENEMUAN JATI DIRI TOKOH ED DALAM NOVEL

4.2 Penemuan Jati Diri Tokoh Ed

4.2.8 Masa Perubahan Nilai

Nilai yang dimiliki seseorang ketika ia berada pada masa dewasa awal berubah karena pengalaman dan hubungan sosialnya semakin meluas. Nilai sudah mulai dipandang dengan kaca mata orang dewasa. Nilai-nilai yang berubah ini dapat meningkatkan kesadaran positif. Alasan kenapa seseorang merubah nilai-nilainya dalam kehidupan karena agar dapat diterima oleh kelompoknya yaitu dengan cara mengikuti aturan-aturan yang telah disepakati. Pada masa ini juga seseorang akan lebih menerima/berpedoman pada nilai konvensional dalam hal keyakinan.

“Orang tua mana pun, Ed, wajar kalo ingin melihat kepastian dari orang yang akan menikah dengan anaknya. Nggak laki, nggak perempuan. Mungkin kamu nggak sekaya mereka. Tapi, apakah kamu yakin itu merupakan syarat dari mereka? Seperti kataku tadi, jangan-jangan itu baru analisis kamu aja.” (Febrialdi:47)

Pada kutipan di atas adalah ciri-ciri masa perubahan nilai yang dialami tokoh Ed seiring berjalannya proses penemuan jati dirinya. Percakapannya dengan Rima, istri Dicky perihal hubungannya dengan Ine, telah membuka pikiran Ed. Ed yang selama ini mengira jika Ine dan keluarganya menganggapnya rendah karena perbedaan status sosial mereka, mengalami perubahan nilai ternyata Ine dan keluarganya mungkin saja menunggu kepastian dari Ed.

“Sepertinya kamu memang harus melakukan perjalanan jauh dan lama.”

“Biar apa?”

“Biar jangan jadi peragu. Siapa tahu, perjalanan akan mengajarkan untuk berani mengambil keputusan. Apa pun itu.”

Aku tersenyum memandangnya. Rima istri sahabatku, juga merupakan sahabatku yang baik. Semua yang sudah keluar dari mulutnya kusimak dan kuingat baik-baik. Barangkali dia benar . Lebih dari itu, terlepas benar atau tidaknya kata-katanya, dalam hal kematangan hidup, Dicky dan Rima memang jauh berada beberapa langkah di depanku. Aku harus mengakui itu (Febrialdi:47-48).

Kutipan di atas ini pun juga menunjukkan bagaimana Ed mengalami masa perubahan nilai ketika Rima memberikannya nasihat dan saran. Rima menyetujui kalau Ed harus melakukan perjalanan panjang dan jauh agar tidak menjadi orang yang peragu. Rima yakin pengalamannya di perjalanan kelak akan membawanya menjadi orang yang berani mengambil keputusan apa pun itu.

“Kalo merunut ke masa-masa awal Islam tumbuh dan mulai tersebar, bepergian atau travelling adalah salah satu anasir yang menyebabkan Islam tersebar luas. Makam Saad bin Abi Waqqas yang terdapat di Cina, adalah salah satu bukti betapa giatnya para sahabat bepergian untuk menyebarkan Islam. Lihatlah bagaimana proses pembuatan kitab “Sahih Bukhari”. Imam Bukhari kerap melakukan perjalanan yang sangat jauh „hanya‟ untuk memverifikasi satu hadis pendek. Padahal kitab tersebut memuat ribuan hadis. Tak terbayangkan berapa orang yang ia jumpai dan berapa jauh perjalanan yang ia lakukan.” (Febrialdi:54).

Kutipan di atas menunjukkan ciri-ciri tokoh Ed mengalami masa perubahan nilai. Hal itu ditunjukkan ketika Dicky menjelaskan tentang bepergian telah diatur oleh Islam dengan begitu indah. Tentu banyak manfaat yang didapat dari perjalanan. Dengan begitu, Ed tidak perlu ragu dan khawatir untuk mengambil langkah melakukan perjalanan.

“Prinsip Putri, Mas, seperti banyak orang bilang, lebih baik jadi kepala kucing daripada jadi buntut macan.”

Aku tersenyum mendengar prinsip klise itu. Namun, ada benarnya juga (Febrialdi:107).

Kupandangi Putri dalam-dalam. Ada rasa kagum dan rasa hormat pada dirinya. Di mataku, tiba-tiba ia menjelma menjadi seorang gadis yang jauh lebih dewasa dari umurnya. Seorang perempuan yang memiliki prinsip, sikap, dan madiri. Aku semakin ingin memiliki lebih dekat akan dirinya (Febrialdi:108).

Kutipan di atas menunjukkan masa perubahan nilai yang dialami oleh tokoh Ed pada Putri. Penuturan Putri tentang prinsip hidup dan tentang bisnis membuat Ed semakin kagum dan hormat dengan gadis itu. Tiba-tiba Ed melihat Putri seperti gadis yang jauh lebih dewasa dari umurnya. Ed telah menilai seorang gadis lewat pencapaian, prinsip dan tutur katanya. Ed pun semakin menyukai Putri.

Mau tidak mau aku harus tersenyum mendengar penuturannya.

Lelaki ini baik, batinku. Ia tahu posisiku dan apa yang telah dilakukan bapak tadi. Tetapi hanya ingin menjaga agar semuanya baik-baik saja. Bagi diriku maupun suasana di stasiun. Terlebih ia mempertaruhkan dirinya untuk kotanya (Febrialdi:171).

"Meski Mas posisinya benar, meski bapak itu yang cari gara-gara, tapi dia temannya banyak. Sayang banget meski kita benar, kalo diprovokasi, bisa-bisa malah kita yang rugi. Yang waras ngalah ketimbang terjadi keributan yang lebih luas. Mas ngerti kan maksud saya?” tanyanya sembari tersenyum (Febrialdi:170).

Kedua kutipan tersebut menunjukkan masa perubahan nilai yang dialami oleh tokoh Ed. Seorang lelaki yang melerai keributan yang terjadi di teras Stasiun Malang antara Ed dan lelaki tua menyebalkan, membuat Ed merubah penilaiannya terhadap orang asing di kota itu. Lelaki baik itu melerai perdebatan agar tidak menjadi lebih besar walaupun dia tahu Ed tidak bersalah. Hal itu membuat Ed belajar untuk bisa menahan emosi yang bisa diredam dengan mengalah. Mengalah bukan berarti mengaku kalah, tetapi mengalah untuk kebaikan bersama.

Kupandangi wajahnya yang cantik. Si bunga liar ini memang menggoda. Namun di balik kecantikan dan keliarannnya, sesungguhnya ia perempuan dengan pemikiran dewasa dan bependidikan. Aku seolah melihat kecantikan yang sesungguhnya di balik kecantikan lahiriahnya (Febrialdi:184).

Aku tersenyum mendengar penuturanya. Si bunga liar ini punya prinsip, batinku mencoba menyimpulkan. Ia berani berpendapat.

Tapi lebih dari itu, ia memiliki argumentasi yang bisa ia petahakan.

Bagiku itu jauh lebih menarik ketimbang orang-orang yang sekadar ikut-ikutan tren belaka (Febrialdi:201).

Kedua kutipan di atas merupakan ciri-ciri masa perubahan nilai pada diri Ed. Nina, yang disebutnya bunga liar karena memiliki kecantikan yang menggoda, ternyata tidak sekadar cantik. Dari penuturannya tentang prinsip, Nina sungguh membuat Ed menilainya dari sisi lain, yaitu tidak hanya cantik, Nina juga seorang gadis yang berprinsip.

Aku jadi terharu mendengar uluran tangan mereka. Kami tak saling kenal. Bahkan soal nama pun kami tak saling mengetahui satu sama lain. Baru bertemu pun di Pelawangan Senaru. Tetapi mereka, yang seharusnya sudah bisa turun ke Senaru sejak berjam-jam sebelumnya, malah ikut menunggu rombongan tim evakuasi datang untuk bersama-sama turun ke Senaru. Mereka dengan ikhlas bahu-membahu. Besar juga rasa empati yang terjadi di antara sesama pendaki. Aku betul-betul terharu (Febrialdi:229).

Kutipan di atas menunjukkan masa perubahan nilai yang dialami oleh Ed.

Ketika jenazah Nina akan dievakuasi, tidak sedikit pendaki-pendaki yang kebetulan melintas di TKP ikut membantu apa pun yang bisa dibantu. Ed tidak menyangka solidaritas para pendaki begitu kuat ketika ada pendaki lain yang sedang terkena musibah. Khususnya kepada dokter Unu dan rombongannya.

Rombongan dokter Unu yang pertama kali membantu situasi Ed yang sedang kebingungan karena kondisi Nina.

Di rumah Fuad, setelah mandi dan wudhu, aku lanjut shalat. Aku menangis dan memohon ampun pada Tuhan atas segala dosa dan kesalahan yang telah kuperbuat selama ini. Air mataku bercucuran.

Aku sesenggukan mengadu kepada Allah.

Manusia memang kerap begitu. Ketika sedang ditimpa musibah dan cobaan, baru mengadu dan memohon pertolongan pada Tuhan.

Saat segala-galanya tampak membahagiakan, manusia kerap melupakan keberadaan Tuhan yang justru telah memberi mereka kebahagiaan. Akulah si manusia itu (Febrialdi:240).

Kedua data di atas menunjukkan masa perubahan nilai yang dialami oleh tokoh Ed. Setelah mendapat banyak cobaan dan masalah, barulah Ed merasa membutuhkan Allah. Ed mengadu, menangis dan memohon ampun atas kesalahan yang telah diperbuatnya. Ed menyadari dirinya yang sudah melupakan Allah selama ini.

Aku hanya bisa menunduk dan tak berani menatap mata Bapak Nina. Namun hatiku kaget bukan main demi mendengar kata-kata beliau. Orang tua yang bisa berkata begitu saat mengetahui kematian anaknya, adalah orang tua yang selalu siap serta ikhlas menghadapi segala hal dalam hidup (Febrialdi:248).

Kutipan di atas menunjukkan masa perubahan nilai yang dialami tokoh Ed pada proses penemuan jati dirinya. Sikap orang tua Nina yang tidak disangka oleh Ed sungguh membuatnya terkejut. Orang tua Nina sungguh ikhlas dan sabar dan tidak menyalahkan Ed atas kematian anaknya. Mengetahui bahwa anaknya memiliki penyakit bawaan menjadikan orang tua Nina bisa lebih ikhlas atas hal buruk yang akan terjadi. Orang tua Nina malah mengatakan kelegaannya ketika mengetahui Nina meninggal pada saat sedang berada bersama Ed. Hal itu membuat hati Ed merasa hancur sekaligus terhibur. Ed bisa belajar ikhlas dari sikap orang tua Nina.

“Manusia boleh saja melakukan perjalanan ke mana pun ia mau.

Mendaki gunung tertinggi sekalipun. Tapi bukan kegiatan bepergian atau mendakinya yang akan dikenang manusia.

Melainkan makna di balik pendakian yang akan abadi selamanya.

Apa artinya melakukan pendakian ke berbagai pucak dunia, namun tidak menjadi pencerahan bagi manusia lainnya?...”

Aku mangut-mangut. Jujur saja, penuturan seperti ini belum pernah kudengar sama sekali sebelumnya. Aku jadi terhenyak dan tersadar.

Rupanya perjalanan pendakianku selama ini belum berarti apa-apa.

Masih berupa kegiatan fisik. Tidak merasuk ke jiwa (Febrialdi:290-291).

Kedua kutipan di atas menunjukkan bahwa kesadaran yang dialami Ed sehingga ia mengalami masa perubahan nilai pada hidupnya. Kedatangannya ke Mekkah untuk menjalani ibadah haji sangat membuka pikirannya atas hikmah yang bisa diambil dari setiap musibah yang dialaminya. Percakapannya dengan Pak Hendra juga menyadarkannya tentang kegiatan pendakian yang selama ini dilakukannya.

Dokumen terkait