BAB IV : KENDALA KENDALA PENERAPAN ASAS DALAM UPAYA
E. Masyarakat
TERHADAP ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM (STUDI PADA BAPAS MEDAN )
OLEH :
SRI NOVENI SIRAIT NIM : 107005103
Pasca Sarjana
Ilmu Hukum
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2012
ABSTRAK
Dua alasan utama mengapa anak harus dilindungi, pertama anak adalah generasi penerus dan masa depan bangsa, kedua anak adalah kelompok masyarakat yang secara kodrati adalah lemah, negara sebagai pemegang otoritas untuk menjaga dan melindungi setiap warganya tidak terkecuali anak, wajib memberikan perhatian dan perlindungan bagi anak.Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-hak Anak (Convention on the Rights of the Child), desetujui oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 20 Nopember tahun 1989 dan telah diratifikasi oleh Indonesia sebagai anggota PBB melalui keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990. Dengan demikian, Konvensi PBB tersebut telah menjadi hukum Indonesia dan mengikat seluruh warga negara Indonesia. Asas kepentingan terbaik bagi anak ini mengingatkan kepada semua penyelenggara perlindungan anak bahwa pertimbangan-pertimbangan dalam pengambilan keputusan menyangkut masa depan anak, bukan dengan ukuran orang dewasa, apalagi berpusat pada kepentingan orang dewasa.
Metode penelitian dilakukan dengan metode penelitian yuridis-normatif dan dilengkapi dengan pendekatan yuridis-empiris. Jenis data dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder, namun penelitian ini menitikberatkan pada data sekunder. Pengumpulan data terutama ditempuh dengan melakukan penelitian kepustakaan dan studi dokumen. Analisa data tersebut dilakukan secara kualitatif dengan melakukan analisa deskriftif.
Penerapan Asas ini dengan maksud untuk berupaya mejauhkan anak dari pidana penjara dengan solusi pendekatan pada keadilan restoratif melalui diversi (pengalihan) dari formal menjadi non formal, agar anak terhindar dari stigma (label jahat) dan menghindari efek negatif proses peradilan terhadap anak.
Disarankan Perlu adanya peninjauan kembali dalam pengaturan konsep pada setiap ketentuan/peraturan yang ada terkait dengan penanganan ABH dengan berdasarkan asas kepetingan terbaik bagi anak sehingga dalam setiap jenjang sistem (sub sistem) peradilan pidana anak mengedepankan (menjadikan hal yang utama) kepetingan terbaik bagi anak. Didalam penerapan asas kepetingan terbaik bagi anak, perlu dilakukan pembekalan pengetahuan sebelumnya dan atau pelatihan-pelatihan dalam kepada para penegak hukum dan sosialisasi pada masyarakat agar pemahaman menjadi baik. Perlu adanya peradilan khusus anak terpisah dengan peradilan umum dan dihapusnya pidana penjara bagi ABH. Negara (Pemerintah) dalam penempatan aparat penegak hukum (SDM) dalam penanganan ABH harus yang benar-benar sudah dipersiapkan, jiwanya prilakunya, skilnya dan melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
Kata Kunci : Asas Kepentingan terbaik bagi anak, dan menjauhkan anak dari pidana penjara.
ABSTRACT
Two main reasons of why children must be protected are that, first, children are our next generations and the future of our nation; and second, naturally, children belong to the weak community group. Thus, the nation, as the holder of authority to guard and protect its citizens including children, is required to pay attention to and provide protection for the children. Convention of the Rights of the Child approved by the UN General Assembly on November 20, 1989 and has been ratified by Indonesia, as a member of the United Nations, through the Presidential Decree No.36/1990. So, the UN Convention has become the Indonesian law binding all of the citizens of Indonesia. The best principle of interest for these children reminds all of the child protection organizers that considerations taken in making the policy/decision must concern the future of the children, not by the standard of adults or, moreover, based on the interests of adults.
The data for this normative juridical study with empirical juridical approach included primary and secondary data but this study very much focused on the secondary data obtained through literatures or documentation study. The data obtained were qualitatively analyzed through descriptive analysis.
The application of this principle is intended to distance the children from imprisonment by the applying restorative justice approach through the diversion of process from formal into informal one and preventing the negative effect of the judicial process that the children are avoided from the stigma of bad label.
It is suggested that the regulation of concept of each regulation related to the handling of children in conflict needs to be reviewed based on the principle of the best for the children that in every level of sub-system of child criminal justice what is the best for the children is prioritized. In applying the principle of the best for children, the law enforcement officers especially the officials/superiors/leaders need to be provided with knowledge and trainings to make them have a strong willingness to handle the children in conflict correctly and to publicly socialize it that the community members can have a better understanding. Special juvenile justice needs to be separated from public court and imprisonment for children needs to be abolished. In assigning law enforcement officers to handle the children in conflict, the government should have carefully prepared their soul, behavior, and skill and provided the facilities and infrastructures they need.
Keywords: Principle, Best for Children, Distance the Children, Imprisonment
KATA PENGANTAR
Assalaamua’alaikum Warahmatullaahi Wabarokatuh
Segala puji dan syukur penulis aturkan atas kehadirat Allah SWT, semoga rahmat, karunia, dan hidayahnya selalu menyertai kita dalam melangkah di bumi ini.
Tidak lupa pula shalawat seiring salam tercurahkan kepada Nabi Besar junjungan umat manusia Nabi Muhammad SAW, Kecerdasan dan keluasan sari tauladannya mencakup semua aspek hidup dan kehidupan, hingga mampu membawa ummatnya hijrah dari zaman kebodohan hingga ke zaman yang penuh pengetahuan.
Alhamdulillah, akhirnya penulis dengan ridho Allah SWT dapat merampungkan penulisan tesis ini dan tepat pada waktunya, yang berjudul
”Penerapan Asas Kepentingan Terbaik Bagi Anak (The Best Interest Of The Child) Dalam Upaya Menjauhkan Anak Dari Pidana Penjara” . Dalam penulisan tesis ini, penulis menyadari tidak terlepas dari adanya bantuan, motivasi serta bimbingan, maupun do’a dari berbagai pihak. Untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis hendak menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
1. Kedua orang tua kandung (Alm.Ibunda Chairiah dan Ayahanda Sa’ari) yang telah banyak berkorban, membimbing, memberikan kasih sayang dari buaian hingga sekarang ini terus dirasakan dan selalu berharap dan do’a Kepada Allah SWT agar penulis / anaknya menjadi anak yang selalu
berhasil dan bermanfaat bagi orang lain, berkat do’a dan restu mereka jualah penulis dapat mengikuti pendidikan formal sampai kejenjang magister.
2. Kepada Istri tercinta (Mahfuzah, S.Ag) dan Anak-anak yang soleh dan sholehah (Muhammad Hayatul Jauza’, Hayati Halwa Tamara dan Hayati Qanitah) yang selalu memberi semangat dan dorongan agar penulis dapat menyelesaikan pendidikan dan penulisan tesis ini tepat waktu.
3. Kepada Kementerian Hukum dan HAM RI melalui Program dari BPSDM Kementerian Hukum Dan HAM RI dengan kerjasamanya kepada Universitas Sumatera Utara melalui berbagai program untuk peningkatan SDM di jajaran Kementerian Hukum dan HAM, biaya dan berbagai fasilitas yang diberikan sehingga mengantarkan penulis sebagai salah seorang mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara hingga selesai dan memperoleh gelar Magister Hukum.
Secara khusus, penulis menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Bapak Dr.M.Hamdan, SH, M.Hum, selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam memperluas wawasan penulis dengan sangat arif dan bijaksana, Demikian pula kepada Ibu Dr.Marlina, SH, M.Hum, dengan penuh rasa keibuan, keihklasan dan penuh kesabaran, memberikan bimbingan tentang tesis yang baik dan motivasi agar dapat menyelesaikan tepat waktu. Begitu pula dengan Bapak Syafruddin S, Hasibuan, SH, MH, DFM dengan sangat teliti memeriksa kalimat perkalimat, banyak pula masukan dan arahan yang berguna agar
penulisan tesis menjadi baik. Penulis mengucapkan ribuan terimakasih dan berdo’a agar Bapak dan Ibu pembimbing dengan segera memperoleh gelar sebagai guru besar (Profesor) dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
Rasa terima kasih tidak lupa pula kami sampaikan secara tulus kepada Bapak Dr. Madiasa Ablisar, SH MS dan Dr. Mahmud, SH, M.Hum sebagai komisi penguji yang tetap berkenan hadir dan penuh tanggungjawab pada setiap tahapan untuk melakukan pengujian tesis ini, dengan pertanyaan yang sifatnya sangat membangun untuk kesempurnaan tesis, disamping itu juga masukan dan arahan sangat konstruktif serta memperkaya isi materi tesis ini, semoga pengetahuan yang diberikan menjadi amal ibadah. Semoga dengan mudah dan Ridho Allah SWT mendapatkan gelar Profesor (guru besar).
Pada kesempatan ini juga penulis sampaikan kepada para dosen (pengajar) yang telah memberikan materi pelajaran kepada kami kelas khusus Hukum dan HAM yang tidak dapat penulis tuliskan satu persatu namanya, semoga ilmu yang diberikan bermanfaat buat kami dan menjadi amal ibadah yang terus mengalir pahalanya buat para dosen pengajar tersebut, sebagai bekal hidup hingga diakhirat nanti. Juga tidak lupa kami sampaikan ribuan terima kasih kami kepada staf/karyawan di Biro Pasca Sarjana Fakultas Hukum yang sangat rendah hati dan penuh kesabaran memberikan pelayanan dengan rasa kekeluargaan terhadap kami dari awal masuk pendaftaran hingga sampai selesai masa perkuliyahan, semoga selalu dalam perlindungan Allah SWT.
1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K), atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis selama mengikuti Program Magister Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
2. Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr.
Runtung, SH, M.Hum, yang telah memberikan kesempatan dan bantuan kepada penulis untuk mengikuti dan membina ilmu pengetahuan pada Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Ketua dan Sekretaris Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr.Suhaidi, SH, MH, dan Bapak Dr. Mahmul Siregar,SH, M.Hum, yang telah memberikan kesempatan dan bantuan kepada penulis untuk mengikuti dan menimba ilmu pengetahuan pada Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Rasa terima kasih juga penulis sampaikan kepada rekan-rekan mahasiswa kelas khusus Hukum dan HAM di Magister ilmu hukum, khususnya kepada Sdr Khaidir, Sdr. Nanang SP, Sdr. Sayuti, Sdr. Imam, Sdr Boby, Sdr.Sulaiman, Sdr.Erbet, Sdr.Romi, Sdri. Asmawati, Sdri. Juliani, Sdri. Novi, Sdri. Peristiwa, Sdri.Syamsinar dan teman yang lainnya yang senantiasa rasa setia kawan/rasa persaudaraan untuk saling memberi semangat satu dengan lainnya sehingga menjadi kenangan tersendiri semasa proses perkuliahan.
Tidak lupa pula kepada pihak-pihak yang mendukung dalam melakukan penelitian untuk mendapatkan data dan informasi, yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu namanya yaitu Kepala dan pegawai/karyawan, di BAPAS Klas I Medan, Pengadilan Negeri Medan, LAPAS Anak Medan dan LAPAS Wanita Medan.
Akhirul Kalam, sekali lagi penulis mengucapkan ribuan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang penulis sebutkan maupun yang tidak disebutkan namanya dalam tesis ini, namun telah berjasa memberikan kontribusinya, atas terselesaikannya tesis ini. Semoga mendapatkan balasan dan ridha dari Allah SWT. Dan penulis berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya.
Amin ya Rabbal ’Alamin.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Medan, Juli 2012
SAIFUL AZHAR NIM. 107005100
RIWAYAT HIDUP
N a m a : SAIFUL AZHAR
Tempat/Tgl.Lahir : Medan, 23 Maret 1969 Jenis Kelamin : Laki – Laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil
Instansi : Kementerian Hukum dan HAM RI Wilayah Sumatera Utara
Unit : BAPAS Klas I Medan
Jabatan Fungsional : Pembimbing Kemasyarakatan (PK)
Alamat : Jl.Selamat I No.1 Lk.11 Kel.Rengas Pulau Kec.Medan Marelan, Sumut No. Hand Phone : 0813 7051 5574
Social Media : [email protected]
Riwayat Pendidikan : 1. SD Neg.060953, Medan (Tahun 1982)
2. SMP Swasta DR.WAHIDIN S.H, Medan (Tahun 1985) 3. SMA Neg. Labuhan, Medan (Tahun 1988)
4. D3 APP - APIPSU (Manajemen Perusahaan) Medan 1989 - 1992
5. S1 Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Ilmu Hukum, Medan 2000 - 2003
6. S2 Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ),
Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta 2007 - 2009 7. S2 Universitas Sumatera Utara (USU), Hukum Pidana Medan, 2010 - 2012
DAFTAR ISI
BAB II : PENGATURAN KONSEP ASAS KEPENTINGAN TERBAIK BAGI ANAK (THE BEST INTREST OF THE CHILD) DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK ... 32
A. Asas Hukum dan Norma Hukum... 32
B. Sejarah Singkat Hak Anak ... 33
C. Pengaturan Tentang Hak Anak Internasional ... 35
D. Pengaturan Hak Anak Dalam Perundangan Nasional ... 41
BAB III : PENERAPAN ASAS KEPENTINGAN TERBAIK BAGI ANAK DALAM UPAYA MENJAUHKAN ANAK DARI PENJARA DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK ... 61
A. Penerapan Asas Kepentingan Terbaik Bagi Anak ... 61
B. Pemidanaan Sebagai Upaya Terakhir ... 72
C. Sistem Peradilan Pidana Anak ... 73
D. Pembaharuan Sistem Peradilan Pidana Anak ... 86
E. Studi Kasus ... 88
BAB IV : KENDALA KENDALA PENERAPAN ASAS DALAM UPAYA MENJAUHKAN ANAK DARI PENJARA DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK ... 100
A. Kepolisian ... 100
B. Kejaksaan ... 103
C. Pengadilan... 105
D. Lembaga Pemasyarakatan... 111
E. Masyarakat ... ... 118
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN ... 121
A. Kesimpulan ... 121
B. Saran ... 123
DAFTAR PUSTAKA ... 125
DAFTAR TABEL
Halaman TABEL I : Perbandingan Jenis Perkara Tindak Pidana Pencurian
Dengan Selain Jenis Pencurian 2009 s/d Juni 2012 ... 58 TABEL II : Data Hakim Anak Yang Terdaftar di Kepegawaian PN Medan Yang Memiliki Sertifikat Sebagai Hakim Anak ... 105 TABEL III : Putusan Hakim Terhadap Perkara Anak Tahun 2011 ... 108 TABEL IV : Banyaknya Perkara Pidana Yang Disidangkan
Tahun 2010, 2011 S/D Juni 2012 ... 110 TABEL V : Kondisi Penghuni LP Anak Medan Berdasar Usia
Kurang dari 18 Tahun dan Lebih dari 18 Tahun ... 113 TABEL VI : Keadaan Pegawai LAPAS Klas II Anak Medan
Kondisi Bulan Juni Tahun 2010 ... 115 TABEL VII : Kondisi Penghuni LAPAS WANITA Medan
Akhir Bulan Juni 2012 ... 118
DAFTAR BAGAN
Halaman BAGAN I : Alur Fikir... 18 BAGAN II : Sistem Peradilan Pidana Anak Berdasar
Undang Undang No. 3 Tahun 1997 ... 75 BAGAN III : Kesesuaian Ide Diversi Dengan Politik Nasional
Perlindungan Anak Indonesia ... 87
DAFTAR SINGKATAN
1. ABH = Anak Berhadapan dengan Hukum 2. Adikpas = Anak didik pemasyarakatan 3. BAPAS = Balai Pemasyarakatan
4. CRC = Convention on the Right of the Child 5. DHA = Deklarasi Hak Anak
6. HAM = Hak Asasi Manusia
7. KPA = Komnas Perlindungan Anak
8. KPAI = Komisi Perlindungan Anak Indonesia 9. KHA = Konvensi Hak Anak
10. KHN = Komisi Hukum Nasional
11. Kasipidum = Kepala Seksi Pidana Umum 12. Kajari = Kepala Kejaksaan Negeri
13. LITMAS = Penelitian Kemasyarakatan 14. L P = Lembaga Pemasyarakatan 15. LSM = Lembaga Sosial Masyarakat
16. Lembaga PAPA = Lembaga Pemulihan Ahklak dan Pendidikan Anak 17. PBB = Perserikatan Bangsa Bangsa
18. PKBM = Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat 19. PK = Pembimbing Kemasyarakatan
20. Polda = Polisi Daerah 21. Polsek = Polisi Sektor
22. PPA = Pelayanan Perempuan dan Anak 23. RJ = Restorative Justice
24. RUTAN = Rumah Tahanan 25. SDM = Sumber Daya Manusia 26. SKB = Surat Keputusan Bersama 27. USU = Universitas Sumatera Utara
28. UUPA = Undang Undang Perlindungan Anak 29. WBP = Warga Binaan Pemasyarakatan
H. Jadwal Penelitian
Untuk dapat melaksanakan penelitian secara terarah dan sistimatik, maka ditetapkan jadwal pelaksanaan penelitian. Penelitian ini direncanakan selesai dengan alokasi waktu sebagai berikut :
No Keterangan Bulan Maret April Mei Juni Juli
Minggu 1 4 1-4 1-4 2 4
1 Pengajuan Proposal ...
Seminar Proposal...
Pelaksanaan Penelitian...
Pengolahan data...
Seminar Hasil...
Penulisan Tesis ...
V
2 V
3 V V
4
5 V
6 V
BAB I
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, dan amal sholeh yang kekal adalah sebaik baik pahala disisi tuhan mu dan sebaik-baik cita-cita (QS. Al-Kahfi 18:46)0F1
Anak adalah buah hati orang tua, anak merupakan sumber utama kesenangan dan persahabatan. Kehadiran anak membuat hidup seseorang menjadi indah dan setelah Allah, anak adalah satu-satunya orang yang kepadanya dia menggantungkan dan mengharapkan hidupnya. Karunia anak membawa rizki, kasih sayang dan limpahan pahala. Anak-anak yang memperoleh didikan yang baik dan terarah yang akan membuat mereka terhormat, baik dan menjadi sumber kebahagiaan. Anak membawa sifat-sifat baik tersebut, mereka akan benar-benar merasa nikmat dalam kehidupan ini.1F2.
Hadist shahih oleh Muttafaqun Alaih disebutkan ”Kullu mauludin yuladu ’alal fitrah” , Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan suci bersih (fitrah)2F3. Anak
1 Nazri Adlany dkk, ”Al Quran dan Terjemah Indonesia, 1995, Cetakan ke 8, PT.Sari Agung, Jakarta, hal.560.
2 Muhammad Ali al-Hasyimi “Menjadi Muslim Ideal”, 1999, Mitra Pustaka,Yogyakarta, hal.127
3 Abu Sangkan, ”Berguru Kepada Allah” 2006, Yayasan Shalat Khusyu’, Jakarta Selatan, Hal.313
merupakan amanah dan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia yang seutuhnya. Anak dengan segala keterbatasannya tidak berdaya, sehingga orang dewasalah (orang tua) yang menjadi penentu pada cerah atau suramnya nasib dan masa depan anak.
Dua alasan utama mengapa anak harus dilindungi, pertama anak adalah generasi penerus dan masa depan bangsa, kedua anak adalah kelompok masyarakat yang secara kodrati adalah lemah, negara sebagai pemegang otoritas untuk menjaga dan melindungi setiap warganya tidak terkecuali anak, wajib memberikan perhatian dan perlindungan bagi anak, salah satu upaya yang dapat dilakukan negara adalah membuat berbagai macam peraturan perundang undangan yang dapat menjaga hak-hak anak sebagai warga negara dan hak-hak-hak-hak keperdataan lainnya serta melindungi anak dari berbagai tindakan kekerasan dan diskriminasi termasuk anak yang bemasalah dengan hukum.
Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-hak Anak (Convention on the Rights of The Child), desetujui oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 20 Nopember tahun 1989 dan telah diratifikasi oleh Indonesia sebagai anggota PBB melalui keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990. Dengan demikian, Konvensi PBB tersebut telah menjadi hukum Indonesia dan mengikat seluruh warga negara Indonesia.
Convention on the Rights of The Child, Artikel 3 (1) menyatakan, In all actions concerning children, whether undertaken by public or private social
walfare institutions, courts of law, administrative authorities or legislative bodies, the best interests of the child shall be a primary consideration.4
Prinsip ini mengingatkan kepada semua penyelenggara perlindungan anak bahwa pertimbangan-pertimbangan dalam pengambilan keputusan menyangkut masa depan anak, bukan dengan ukuran orang dewasa, apalagi berpusat pada kepentingan orang dewasa. Apa yang menurut orang dewasa baik, belum tentu baik pula menurut ukuran kepentingan anak. Boleh jadi maksud orang dewasa memberikan bantuan dan menolong, tetapi yang sungguhnya terjadi penghancuran masa depan anak.
5
Tema besar konvensi tersebut telah ada dalam konstitusi Negara Republik Indonesia. Pasal 28 B ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 telah memberikan perlindungan terhadap anak dengan menyatakan bahwa Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi” Sehubungan dengan itu beberapa undang-undang yang telah diberlakukan misalnya Undang-Undang No.39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang didalamnya juga mengatur tentang hak asasi anak melalui beberapa pasal. Kemudian dalam Undang-Undang No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UUPA), diterbitkan sebagai undang-undang payung (umbrella’s law) yang secara sui generis mengatur hak-hak anak.
6
Kepentingan terbaik bagi anak patut dihayati, sebagai kepentingan terbaik bagi kelangsungan hidup umat manusia.
7
Usaha pembaharuan hukum di Indonesia yang sudah dimulai sejak lahirnya Undang-Undang Dasar 1945 tidak dapat dilepaskan pula dari landasan dan sekaligus tujuan yang ingin dicapai seperti yang telah dirumuskan juga dalam pembukaan
Begitu juga halnya perbaikan, perubahan dan kemajuan suatu bangsa adalah bagaimana bangsa itu mampu mempersiapkan generasi mudanya untuk kelangsungan hidup dan keutuhan bangsa tersebut.
4 Konvesi Hak-Hak Anak, pasal 3 (1) Dalam semua tindakan yang menyangkut anak dilakukan oleh lembaga-lembaga kesejahteraan sosial pemerintah atau swasta, lembaga peradilan, lembaga pemerintah atau badan legislatif, kepentingan terbaik bagi anak akan merupakan pertimbangan utama.
5 Hadi Supeno ”Kriminalisai Anak”, 2010 , PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Hal.56
6 Muchsin, “Perlindungan Anak Dalam Perspektif Hukum Positif”, 2011, Jakarta, Makamah Agung RI hal.1
7 Setya Wahyudi “Implementasi Ide Diversi Dalam Pembaruan Sistem Pradilan Pidana Anak Di Indonesia”, 2011, Genta Publising, Yogyakarta, hal.1
Undang-Undang Dasar 1945 itu, secara singkat ialah melindungi segenap bangsa Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum berdasarkan Pancasila, inilah garis kebijakan umum yang menjadi landasan dan sekaligus tujuan politik hukum di Indonesia. Ini pula yang menjadi landasan dan tujuan dari setiap usaha pembaharuan hukum, termasuk pembaharuan dibidang hukum pidana dan kebijakan penanggulangan kejahatan di Indonesia.
Dalam perkembangannya, pidana penjara merupakan jenis sanksi pidana yang saat ini sedang mendapat sorotan tajam dari para ahli. Banyak kritik ditujukan terhadap jenis pidana perampasan kemerdekaan ini sebagai sanksi pidana yang kurang disukai8
Sistem pemasyarakatan belum membedakan secara khusus bagaimana penanganan anak dengan orang dewasa, banyak anak yang tadinya masih aktif sekolah tetapi setelah masuk ke penjara akhirnya harus putus sekolah, sistem pembinaan belum menjadi skala prioritas, sistem pemasyarakatan masih menitik beratkan kepada keamanan, hal ini dapat dilihat, jika petugas RUTAN atau LP . Apalagi yang menyangkut dengan anak, yang mana usia anak adalah usia sekolah, keharusan untuk menuntut ilmu (wajib belajar) dan masih perlu mendapatkan perhatian dari orang tua/keluarga, masyarakat dan negara untuk tumbuh kembangnya anak sebagai generasi penerus, penempatan di dalam Rumah Tahanan (RUTAN) atau Lembaga Pemasyarakatan/LP (khusus anak) bukan merupakan solusi yang baik, malah membuat permasalahan yang lebih besar bagi
Sistem pemasyarakatan belum membedakan secara khusus bagaimana penanganan anak dengan orang dewasa, banyak anak yang tadinya masih aktif sekolah tetapi setelah masuk ke penjara akhirnya harus putus sekolah, sistem pembinaan belum menjadi skala prioritas, sistem pemasyarakatan masih menitik beratkan kepada keamanan, hal ini dapat dilihat, jika petugas RUTAN atau LP . Apalagi yang menyangkut dengan anak, yang mana usia anak adalah usia sekolah, keharusan untuk menuntut ilmu (wajib belajar) dan masih perlu mendapatkan perhatian dari orang tua/keluarga, masyarakat dan negara untuk tumbuh kembangnya anak sebagai generasi penerus, penempatan di dalam Rumah Tahanan (RUTAN) atau Lembaga Pemasyarakatan/LP (khusus anak) bukan merupakan solusi yang baik, malah membuat permasalahan yang lebih besar bagi