BAB IV : KENDALA KENDALA PENERAPAN ASAS DALAM UPAYA
C. Pengadilan
Tabel II
DATA HAKIM ANAK
YANG TERDAFTAR DI KEPEGAWAIAN PN MEDAN YANG MEMILIKI SERTIFIKAT SEBAGAI HAKIM ANAK
Kondisi S/d Juni 2012
Sumber : Data dari Kepala Sub. Bagian Kepegawaian PN Medan
Jika dilihat dari struktur di Pengadilan Negeri Medan, sudah ada hakim anak (bersertifkat khusus dari Makamah Agung ) artinya sudah ada hakim anak, dari data terebut diatas jumlah hakim anak 22,4 % dari jumlah keseluruhan Hakim yang ada di PN Medan, namun demikian hakim anak tersebut tidak khusus hanya menangani perkara anak, sebab hakim anak tersebut juga menagani perkara-perkara orang dewasa.
Didalam putusan sekitar 99 % (sembilan puluh sembilan persen) anak yang dipidana penjara, pelaksanaan diversi dan keadilan restoratif belum dijadikan solusi untuk menjauhkan anak dari penjara, dengan alasan belum ada aturan yang jelas, padahal sudah ada keputusan bersama tentang penanganan anak yang berhadapan dengan hukum untuk melaksanakan keadilan restoratif sebagai upaya penyelesaian secara adil dan mewujudkan kepentingan terbaik bagi masa depan anak.
Alhamdulillah Hirabbil Alamin, Rancangan Undang Undang Sistem Peradilan Pidana Anak sudah disahkan menjadi undang-undang pada tanggal 3 Juli 2012 oleh
Rapat Paripurna ke-33 di ruang Rapat Paripurna DPR-RI, hal ini merupakan kemenangan bagi anak-anak Indonesia untuk lebih mendapatkan perlindungan, sebab upaya perdamaian menjadi hal yang penting untuk dilaksanakan, diversi dan keadilan restorative sudah memiliki payung hukum kuat, yang mana selama ini menjadi alasan bagi penegak hukum untuk tidak dapat menerapkannya, walaupun sudah ada Surat Keputusan Bersama (SKB) yang di tandatangani oleh Ketua Makamah Agung, Jaksa Agung, Kepala Kepolisian Negara, Menteri Hukum dan HAM, Menteri Sosial, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada tanggal 22 Desember 2009 tentang Penanganan Anak yang Berhadapan Hukum.
Jakarta DPR mengesahkan Rancangan Undang-Undang Sistem Peradilan Anak menjadi Undang-Undang. Dalam Undang-Undang tersebut anak yang bisa ditahan 14-18 tahun. Menkum HAM Amir Syamsudin yang mewakili pemerintah mengatakan batasan usia pertanggungjawaban anak adalah 12-18 tahun. Sedangkan batasan usia anak yang bisa dikenakan penahan 14-18 tahun. Pokok-pokok yang bakal diatur dalam Undang-Undang ini yaitu ada kewajiban bagi aparat penegak hukum untuk menegakkan proses pidana ke luar pidana114
Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, Pasal 5 Ayat (1) menegaskan Sistem Peradilan Pidana Anak wajib mengutamakan pendekatan Keadilan Restoratif. Ketentuan Umum dari undang-undang tersebut, Pasal 1 Ayat (6) disebutkan Keadilan Restoratif adalah penyelesai perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga/korban, dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari
114 http://news.detik.com/read/2012/07/03/122938/1956453/10/dpr-sahkan UU Sistem Peradilan Pidana Anak
penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula, dan bukan pembalasan.
Disamping itu pada tingkat penyidikan, penuntutan pidana anak dan persidangan anak yang dilakukan oleh pengadilan wajib pula diupayakan diversi, pada ketentuan umum Pasal 1 Ayat (7) disebutkan diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara Anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana. Pasal 6 disebutkan Diversi bertujuan :
a. mencapai perdamaian antara korban dan anak;
b. menyelesaikan perkara Anak di luar proses peradilan c. menghindarkan Anak dari perampasan kemerdekaan d. mendorong masyarakat untuk berpartisipasi
e. menanamkan rasa tanggungjawab kepada Anak
Dalam pelaksanaan Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak berdasar asas :
a. perlindungan b. keadilan
c. nondiskriminasi
d. kepentingan terbaik baik anak e. penghargaan terhadap pendapat anak
f. kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak g. pembinaan dan pembimbingan Anak
h. proporsional
i. perampasan kemerdekaan dan pemidanaan sebagai upaya terakhir dan j. penghindaran pembalasan.
Pasal 108 menyebutkan, Undang-Undang ini mulai berlaku setelah 2 (dua) tahun teritung sejak tanggal diundangkan. Diundangkan di Jakarta pada tanggal 30 Juli 2012 oleh Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Amir Syamsudin.
Tabel III
Putusan Hakim Terhadap Perkara Pidana Anak Tahun 2011 orang diperoleh dari buku register 26 dengan No Perkara 1577.Pid.B/2011 PN Medan dan buku register 26 dengan No Perkara 1577.Pid.B/2011
dikembalikan ke orang tua (AKOT) 1 orang diperoleh dari buku register 43 dengan No Perkara 3032.Pid.B/2011 PN Medan
Sumber : Bidang Registrasi Pidana PN Medan115
115 Data diatas diperoleh dengan cara memeriksa setiap lembar dari 50 buku Register Perkara Pidana Biasa tahun 2011 di PN Medan, dan juga ditemukan perkara anak tapi belum tertulis amar putusannya, untuk tahun 2010 tidak dapat diperiksa karena sudah tersimpan di lemari arsip, sedangkan tahun 2012 sudah diperiksa 16 buku Register Perkara Pidana Biasa namun amar putusannya belum ada yang tersalin sehingga tidak diteruskan hingga selesai.
Dari data yang ada pada tabel tersebut diatas Pengadilan Negeri Medan didalam putusannya belum berpihak kepada kepentingan terbaik bagi anak. Hasil penelitian untuk memperoleh data di PN Medan, selama tahun 2011 diperoleh data yang sudah tertulis amar putusannya di buku register perkara pidana biasa dari jumlah 116 putusan hanya 1 (satu) putusan saja (0,86%) anak yang mendapat putusan berupa tindakan dikembalikan ke orang tua dan 2 (dua) atau 1,72% putusan berupa pidana percobaan (Pidana bersyarat), sedangkan 113 (seratus tiga belas) anak yang harus mendekam di penjara.
Jika ditinjau dari kultur, kebiasaan-kebiasaan, cara berpikir, dan cara bertindak dalam penanganan ABH, para hakim ingin saja segera untuk memberikan keputusan terhadap anak, bahkan banyak sidang anak yang tampa dihadiri oleh saksi, menjalankan sistem keadilan restoratif dianggap memakan waktu dan dasar hukumnya tidak jelas, Hasil Penelitian kemasyarakatan (LITMAS) yang di buat oleh PK BAPAS, yang sudah diatur dalam Undang-Undang No.3 Tahun 1997 dan menjadi kewajiban bagi hakim untuk menjadikan bahan pertimbangan dalam memberikan keputusan kepada ABH-pun diabaikan. Bahkan sering sekali PK BAPAS tidak diberikan kesempatan untuk membacakan hasil penelitiannya, ego sektoral masih sangat tinggi, masih banyak hakim yang menagani perkara anak merasa super (orang yang serba mengetahui segalanya).
Padatnya volume kerja di Pengadilan Negeri Medan, sehingga penanganan perkara anak terkesan diremehkan, kurang mendapatkan perhatian, apalagi diharapkan ada perlakuan khusus terhadap ABH, Pengadilan Negeri Medan belum
digolongkan pengadilan yang ramah anak. Ada ruangan sidang anak di lantai tiga namun terkadang dipakai terkadang tidak, dalam menyidangkan anak, ruang tahanan anak tidak tersedia, ruang tunggu sidang anak ada, tetapi tidak difungsikan, sehingga anak digabungkan penahanannya dengan orang dewasa. Belum ada keseriusan dan kesungguhan dalam menagani perkara anak.
Tabel IV
Banyaknya Perkara Pidana Yang Disidangkan Tahun 2010, 2011, s/d Juni 2012
Di PN Medan
Sumber : Bidang Registrasi Pidana PN Medan
Berdasarkan data yang diperoleh dari bidang registrasi pidana PN Medan bahwa orang yang beperkara pidana tahun 2010 yang ditangani sebanyak 4394 (empat ribu tiga ratus sembilan puluh empat) orang, sedangkan perkara pidana yang dilakukan oleh anak 236 (dua ratus tiga puluh enam) orang atau sekitar 5,37% dari jumlah keseluruhan. Pada tahun 2011 jumlah orang yang berpekara pidana sebanyak 3983 (tiga ribu sembilan ratus delapan puluh tiga) orang, sedangkan perkara pidana yang dilakukan oleh anak 190 (seratus
sembilan puluh) orang atau sekitar 4,77% dari keseluruhan. Sedangkan pada tahun 2012 hingga bulan Juni perkara pidana 1658 (seribu enam ratus lima puluh delapan) orang, sedang perkara anak 71 (tujuh puluh satu) orang, atau sekitar 4,28%. Jumlah tersebut diatas belum termasuk perkara perdata, tipikor (tindak pidana korupsi) dan lain-lain.
Kendala utama adalah masih digabungnya peradilan anak dibawah peradilan umum, sebaiknya agar pelaksanaan proses persidangan anak/peradilan anak adalah suatu peradilan yang khusus dan berdiri sendiri gedungnyapun sebaiknya terpisah dari gedung pengadilan umum, sehingga diharapkan benar-benar berbeda cara penanganan dengan orang dewasa, pengaruh bergabungnya pengadilan anak dengan pengadilan umum, hal ini membuat para hakim kurang terkonsentrasi dalam menangani perkara anak, sebab dalam satu hari saja sudah beberapa kali menangani perkara orang dewasa, lalu menangani perkara anak, hal ini sangat sulit untuk melakukan perubahan sikap. Sedangkan bagi anak berada di tempat yang begitu padat (PN Medan) juga sangat tidak baik bagi perkembangan jiwa anak.