BAB II KAJIAN PUSTAKA
D. Materi Pembelajaran Matematika Persamaan Linear Dua Variabel
1. Matematika dan Pembelajaran Matematika
Ebbutt dan Straker (1995 dalam Depdiknas, 2003) mendefinisikan
matematika sekolah sebagai berikut:
a. Matematika sebagai kegiatan penelusuran pola dan hubungan.
Implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran adalah:
1) Memberikan kesempatan siswa untuk melakukan kegiatan
penemuan dan penyelidikan pola-pola untuk menentukan hubungan.
2) Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan percobaan
dengan berbagai cara.
3) Mendorong siswa untuk menemukan adanya urutan, perbedaan,
4) Mendorong siswa menarik kesimpulan umum.
5) Membantu siswa memahami dan menemukan hubungan antara
pengertian satu dengan yang lainnya.
b. Matematika sebagai kreativitas yang memerlukan imajinasi, intuisi,
dan penemuan.
Implikasi dari Pandangan ini terhadap pembelajaran adalah:
1) Mendorong inisiatif dan memberikan kesempatan berfikir berbeda.
2) Mendorong rasa ingin tahu, keinginan bertanya, kompetensi
menyangga dan kompetensi memperkirahkan.
3) Menghargai penemuan yang diluar perkiraan sebagai hal
bermanfaaat dari pada menganggapnya sebagai kesalahan.
4) Mendorong siswa menemukan struktur dan desain matematika.
5) Mendorong siswa menghargai penemuan siswa yang lainnya.
6) Mendorong siswa berfikir reflektif.
7) Tidak menyarankan hanya menggunakan satu metode saja.
c. Matematika sebagai kegiatan pemecahan masalah (problem solving). Implikasi dari pandang ini terhadap pembelajaran adalah:
1) Menyediakan lingkungan belajar matematika yang merangsang
timbulnya persoalan matematika,
2) Membantu siswa memecahkan persoalan matematika
menggunakan caranya sendiri.
3) Membantu siswa mengetahui informasi yang diperlukan untuk
4) Mendorong siswa untuk berfikir logis konsisten, sistimatis dan
mengembangkan sistem dokumentasi catatan,
5) Mengembangkan kompetensi dan keterampilan untuk memecahkan
persoalan.
6) Membantu siswa mengetahui bagaimana dan kapan menggunakan
berbagai alat peraga/ media pendidikan matematika seperti: jangka,
kalkulator dsb.
d. Matematika sebagai alat berkomunikasi
Implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran adalah:
1) Mendorong siswa mengenal sifat matematika.
2) Mendorong siswa membuat contoh sifat matematika.
3) Mendorong siswa menjelaskan sifat matematika,
4) Mendorong siswa memberikan alasan perlunya kegiatan
matematika.
5) Mendorong siswa membicarakan persoalan matematika.
6) Mendorong siswa membaca dan manulis matematika.
7) Menghargai bahasa ibu siswa dalam membicarakan matematika.
Secara umum, matematika adalah ilmu tentang sesuatu yang
berkaitan dengan pola keteraturan dan urutan yang logis yang memerlukan
imajinasi, intuisi, maupun penemuan. Matematika juga dikatakan sebagai
kegiatan pemecahan masalah maupun sebagai alat berkomunikasi.
Dalam Psikologi Pembelajaran Matematika (Amir dan Risnawati,
upaya memenuhi kebutuhannya. Individu akan melakukan kegiatan belajar
apabila ia menghadapi situasi kebutuhan dalam interaksi dengan
lingkungannya. Pada dasarnya tidak semua kebutuhan mengharuskan
individu belajar. Proses pembelajaran akan terjadi bila individu memiliki
kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi dengan insting atau kebiasaan.
Secara keseluruhan, proses pembelajaran merupakan rangkaian
aktivitas berikut: pertama, individu merasakan adanya kebutuhan dan melihat tujuan yang ingin dicapai. Kedua, kesiapan individu untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Ketiga, pemahaman situasi yaitu segala sesuatu yang ada di lingkungan individu dalam memenuhi
kebutuhan dan mencapai tujuannya. Keempat, menafsirkan situasi yaitu bagaimana individu melihat kaitan berbagai aspek yang terdapat dalam
situasi. Kelima, individu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan sesuai dengan yang telah direncanakannya dalam
tahapan ketiga dan keempat. Keenam, individu akan memperoleh umpan balik dari apa yang telah dilakukannya. Ada dua kemungkinan yang bisa
terjadi, yaitu berhasil atau gagal (Amir dan Risnawati, 2016 : 7-8).
Pembelajaran matematika adalah suatu proses belajar mengajar
yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir siswa
yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat
meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai
upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi matematika
Dalam proses pembelajaran matematika, guru maupun siswa
bersama-sama menjadi pelaku terlaksananya tujuan pembelajaran. Tujuan
pembelajaran ini akan mencapai hasil yang maksimal apabila pembelajaran
berjalan dengan secara efektif. Pembelajaran yang efektif adalah
pembelajaran yang mampu melibatkan seluruh siswa secara aktif.
Berdasarkan penjelasan di atas, secara umum pembelajaran
matematika yang efektif adalah suatu proses belajar mengajar yang
dibangun oleh guru yang mampu melibatkan seluruh siswa secara aktif
untuk mengembangkan kreativitas berpikir siswa sehingga dapat
meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi matematika.
2. Persamaan Linear Dua Variabel
a. Standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terkait dalam penelitian ini
adalah:
Kompetensi Inti: Aljabar
KI 3. Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan
prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, terkait fenomena dan
kejadian tampak mata.
KI 4. Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret
(menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan
membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung,
menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di
Kompetensi Dasar:
KD 3.2 Menentukan nilai variabel persamaan linear dua variabel dalam
konteks nyata.
KD 4.1 Membuat dan menyelesaikan model matematika dari masalah
nyata yang berkaitan dengan persamaan linear dua variabel.
Soal matematika yang digunakan dalam penelitian ini disesuaikan
dengan KD tersebut. Meskipun materi yang terdapat pada KD tersebut
adalah persamaan linear dua variabel saja, tetapi karena pada KD tersebut
terdapat pernyataan mengenai masalah nyata dan masalah nyata dalam
kehidupan sehari-hari lebih sering dijumpai dalam topik sistem persamaan
linear dua variabel (SPLDV) maka peneliti melakukan penelitian ini
sampai pada materi SPLDV. Selain itu, materi SPLDV diikut sertakan
karena juga terdapat dalam buku cetak matematika kelas VIII kurikulum
2013 revisi yang digunakan guru dan peneliti. Berdasarkan KD, pokok
bahasan SPLDV merupakan materi pokok yang diajarkan di kelas IX,
tetapi kenyataannya sudah diperkenalkan atau sudah mulai di ajarkan di
kelas VIII. Hal ini menjadi pertimbangan peneliti di dalam menentukan
sejauh mana materi SPLDV dikaitkan dengan penelitian ini.
b. Istilah-Istilah dalam Aljabar
Sebuah bentuk aljabar adalah sebuah gabungan bilangan biasa dan
huruf-huruf yang dipasangkan dengan bilangan-bilangan tersebut. Contoh
bentuk aljabar:
Variabel atau peubah adalah simbol yang dipilih untuk menyatakan
sebarang bilangan dalam suatu himpunan bilangan yang diketahui, dapat
diasumsikan bahwa himpunan bilangan yang dimaksud adalah himpunan
bilangan real. Jika himpunan tersebut hanya terdiri dari satu bilangan,
maka simbol yang direpresetasikannya disebut konstanta. Variabel
(peubah) dapat diganti oleh sebarang bilangan yang ditentukan yang
berada dalam semesta pembicaraannya. Variabel biasanya dilambangkan
dengan huruf (misal: ).
Contoh: pada bentuk aljabar , adalah variabel.
Suku Aljabar, sebuah suku terdiri dari hasil kali atau hasil bagi
bilangan-bilangan biasa dan huruf-huruf yang merupakan pasangan
bilangan-bilangan tersebut. Contoh suku aljabar:
adalah sebuah bentuk aljabar yang terdiri dari dua suku.
Konstanta adalah salah satu lambang aljabar yang dapat diartikan
sebagai bilangan tetap. Contoh:
Pada , 4 dan 7 adalah konstanta.
Pada , 24 adalah konstanta.
Koefisien adalah faktor dari suatu suku yang berupa konstanta.
Contoh: Koefisien dari adalah 3.
Suku-suku sejenis atau suku-suku serupa adalah suku-suku yang
dan adalah suku-suku yang serupa.
dan 5 adalah suku-suku yang serupa.
Suku dam adalah suku-suku yang tidak serupa.
Dua atau suku-suku serupa dalam serupa pernyataan aljabar boleh
digabungkan ke dalam satu suku. Contoh:
c. Kalimat Pernyataan, Kalimat Bukan Pernyataan, dan Kalimat Terbuka
1) Kalimat Pernyataan dan Kalimat Bukan Pernyataan
Kalimat pernyataan yaitu kalimat yang mempunyai nilai benar
atau salah (dan tidak kedua-duanya) (Susilo, 2012: 12). Contoh:
Ir. Soekarno adalah presiden pertama Bangsa Indonesia.
Kalimat di atas benar, karena memang presiden pertama Bangsa
Indonesia adalah Ir. Soekarno.
, kalimat tersebut merupakan kalimat yang jelas benar. Kalimat bukan pernyataan adalah kalimat yang tidak
mempunyai nilai kebenaran (Susilo, 2012: 12). Contoh:
Kalimat pertanyaan, “Siapakah namamu?”
Kalimat perintah, “Belajarlah!”
Kalimat harapan, “Semoga kalian juga sehat!” 2) Kalimat Terbuka
Menurut Marsigit (2002: 100) kalimat matematika yang telah
jelas benar atau telah jelas salah dinamakan pernyataan. Adapun
kalimat terbuka. Untuk memahami perbedaan antara pernyataan dan
kalimat terbuka, perhatikan tiga kalimat berikut:
a) Ada bilangan prima genap
b) c)
Kalimat (a) merupakan kalimat yang jelas benar karena memang ada
bilangan prima yang genap, yaitu 2. Kalimat (b) merupakan kalimat
yang jelas salah karena . Adapun kalimat (c) merupakan kalimat yang belum jelas benar atau salah karena jika diganti dengan
2 maka kalimat tersebut benar, yaitu . Akan tetapi, jika diganti dengan 7 maka kalimat tersebut menjadi salah. Pada contoh
tersebut, kalimat (a) dan (b) merupakan pernyataan sedangkan (c)
adalah kalimat terbuka.
Sedangkan kalimat tertutup merupakan kalimat matematika
yang sudah jelas benar atau salah dan tidak mungkin keduanya
(kalimat pernyataan).
d. Kesamaan dan Persamaan
Kesamaan adalah kalimat tertutup yang dihubungkan oleh tanda
“=” pada kedua ruasnya. Contoh:
Kesamaan adalah kalimat tertutup yang menyatakan hubungan “sama dengan”.
Persamaan adalah kalimat terbuka yang menyatakan hubungan
“sama dengan” (Negoro dan Harahap, 2010:70). Dengan kata lain, persamaan adalah kalimat terbuka yang dihubungkan oleh tanda “=” pada kedua ruasnya (Marsigit, 2009: 100).
Contoh: , disebut persamaan, di mana merupakan anggota himpunan bilangan asli. Kalimat ini menjadi benar apabila diganti
dengan 2. „2‟ adalah penyelesaian dari persamaan . Dapat juga dikatakan: „Himpunan penyelesaian persamaan adalah e. Ekuivalen
Dua pernyataan dikatakan ekuivalen apabila kedua pernyataan
tersebut mempunyai nilai kebenaran yang sama. Dua pernyataan p dan q
yang ekuivalen dinyatakan dengan (Novel Mangelep, 2009: 6). Dua pernyataan dan dikatakan ekuivalen, yaitu “ jika dan hanya jika ”, kita sajikan dengan lambang Dengan kata lain,
bernilai benar hanya bila dan mempunyai nilai kebenaran yang sama (Susilo, 2012: 22).
Dua persamaan dikatakan ekuivalen jika mempunyai penyelesaian
atau akar yang sama. Notasi untuk ekuivalen pada persamaan adalah “ ”. Contoh:
1)
, yang merupakan kalimat benar.
Jadi, penyelesaian persamaan adalah 6. 2)
Jika diganti bilangan 6, maka persamaan tersebut menjadi:
yang merupakan kalimat benar. Jadi, penyelesaian persamaan adalah 6. 3)
Jika diganti bilangan 6, maka persamaan tersebut menjadi:
yang merupakan kalimat benar.
Jadi, penyelesaian persamaan adalah 6.
Berdasarkan uraian di atas tampak bahwa ketiga persamaan
mempunyai penyelesaian yang sama, yaitu 6. Dengan demikian,
persamaan a), b), dan c) dapat dituliskan sebagai:
Suatu persamaan dapat dinyatakan ke dalam persamaan yang
ekuivalen dengan cara menambah atau mengurangi, mengkali atau
membagi kedua ruas persamaan dengan bilangan yang sama.
f. Persamaan Linear Dua Variabel
Persamaan Pangkat Satu (persamaan linear) adalah persamaan yang
memuat satu atau lebih suatu variabel, dengan pangkat tertinggi satu
(Sukino dan Simangunson, 2006:119). Contoh:
, variabelnya adalah
, variabelnya adalah
Wono (1995) mengemukakan bahwa persamaan linear dalam beberapa
variabel adalah persamaan dalam bentuk polinomial yang variabelnya
berderajat satu atau nol dan tidak terjadi perkalian antara variabelnya.
Persamaan Linear Satu Variabel (PLSV) adalah persamaan yang
memuat satu variabel, dengan pangkat tertinggi satu (Sukino dan
Simangunsong, 2006:119). Bentuk umum PLSV adalah sebagai berikut:
,
dengan , adalah bilangan real dan merupakan variabel, dinamakan koefisien dari dan dinamakan konstanta. Contoh:
Persamaan Linear Dua Variabel (PLDV) adalah persamaan yang
memuat dua variabel, dengan pangkat tertinggi satu. Bentuk umum PLDV
adalah ,
dengan , adalah bilangan real dan , dan merupakan variabel, dinamakan koefisien dari dinamakan koefisien dari dan dinamakan konstanta.
g. Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
Sistem persamaan linear adalah sejumlah tertentu persamaan linear
dalam variabel . Sejumlah bilangan yang terurut merupakan penyelesaian dari sistem persamaan tersebut jika
merupakan penyelesaian dari setiap persamaan di dalam sistem tersebut.
Sistem persamaan linear dua variabel merupakan dua atau lebih
persamaan linear dua variabel yang saling terhubung karena memiliki
variabel yang sama misalnya dan . Karena kedua persamaan tersebut memiliki dan yang sama nilainya maka terdapat hubungan pada kedua persamaan tersebut.
Bentuk umum sistem persamaan linear dua variabel dengan dua persamaan
adalah,
dengan dan merupakan bilangan real yang diketahui. Jawab atau penyelesaian dari sistem persamaan linear tersebut adalah pasangan
terurut yang memenuhi kedua persamaan tersebut.
Contoh: Pasangan merupakan jawab sistem persamaan linear
,
karena dan memenuhi kedua persamaan, yaitu
.
Tetapi bukan merupakan jawab sistem persamaan linear tersebut karena dan hanya memenuhi persamaan pertama, dan tidak memenuhi persamaan yang kedua.
Sistem persamaan linear disebut konsisten jika sistem persamaan
tersebut mempunyai sedikitnya satu jawab. Dalam hal sistem tak
mempunyai jawab, sistem persamaan linear disebut tak konsisten. Untuk
memberi tafsiran geometri dari jawab sistem tersebut maka akan
dijelaskan sebagai berikut, persamaan linear dapat digambarkan sebagai garis pada bidang. Jadi sistem dan
dapat digambarkan sebagai garis dan di bidang. Ada tiga kemungkinan kedudukan garis tersebut, yaitu
1) Garis dan berpotongan.
2) Garis dan sejajar.
3) Garis dan berimpit (merupakan satu garis).
Gambar 2.1 Kemungkinan dari kedudukan dua garis di bidang.
Pasangan bilangan merupakan jawab dari sistem persamaan (1) jika dan hanya jika titik terletak pada kedua garis. Dalam hal ini kemungkinan pertama, hanya ada satu titik yang terletak pada kedua garis.
Oleh karena itu, jawab sistem persamaan (1) ini tepat satu. Sedangkan
Dalam hal kedua, tak ada titik yang terletak pada kedua garis. Hal ini
berarti sistem persamaan tersebut tidak memiliki jawab. Yang ketiga, ada
persamaan tersebut mempunyai jawab tak hingga banyaknya. dengan
demikian ada tiga kemungkinan jawab dari sitem persamaan linear, yaitu
mempunyai tepat satu jawab, tidak mempunyai jawab, dan mempunyai
jawab banyak.
Ketiga kemungkinan tersebut juga berlaku untuk sebarang sistem
persamaan linear.
h. Penyelesaian Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV)
Penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel mempunyai
empat cara, yaitu (Dris dan Tasari, 2011: 93):
1) Metode Substitusi
Metode Substitusi menggunakan prinsip-prinsip aljabar dan tidak
memerlukan gambar. Substitusi berarti penggantian yang artinya salah satu variabel diganti dengan variabel yang lain sehingga nilai variabel
lainnya dapat ditentukan.
Contoh: Diberikan SPLDV sebagai berikut:
Langkah penyelesaiannya:
- Lihat persamaan . Jika , maka nyatakan dalam , sehingga diperoleh
- Substitusikan pada persamaan kedua, sehingga persamaan menjadi persamaan linear satu variabel yang berbentuk
- Selanjutnya selesaikan persamaan tersebut untuk mendapatkan
nilai
- Setelah diperoleh maka substitusikan nilai yang telah diperoleh
pada salah satu persamaan atau
. 2) Metode Eliminasi
Eliminasi berarti penghapusan. Dengan demikian, cara
eliminasi dalam SPLDV adalah dengan mengeliminasi atau
menghilangkan salah satu variabel sehingga variabel lainnya dapat
ditentukan nilainya. Langkah-langkah dalam menyelesaikan SPLDV
dengan cara eliminasi, antara lain:
a) Melakukan eliminasi variabel , maka perlu disamakan dahulu
koefisien variabelnya. Misal diberikan SPLDV
Koefisien dari persamaan pertama adalah 2. Sedangkan koefisien
dari persamaan kedua adalah satu, maka:
b) Melakukan eliminasi variabel . Sepertihalnya contoh eliminasi
variabel di atas, cara yang sama juga berlaku untuk eliminasi
Kedua cara diatas juga dapat digunakan untuk menyelesaikan
suatu SPLDV secara bersamaan, metode ini dinamakan metode campuran. Mula-mula carilah nilai salah satu variabel dengan menggunakan metode eliminasi. Kemudian gunakan nilai variabel yang
telah diperoleh tersebut untuk mendapatkan nilai variabel lain dengan
menggunakan metode substitusi. Metode ini dapat mempersingkat
perhitungan.
3) Metode Grafik
Dalam metode ini grafik digunakan untuk menentukan
himpunan penyelesaian dari suatu SPLDV. Berikut ini adalah langkah-
langkah untuk menyelesaikan SPLDV,
a) Menentukan titik potong terhadap sumbu- dan sumbu- untuk masing-masing grafik PLDV. Untuk menentukan titik potong
dengan sumbu- , nilai masing-masing grafik PLDV disamadengankan nol atau , sehingga akan diperoleh nilai untuk . Begitu juga untuk mencari titik otong dengan sumbu- , nilai masing-masing grafik PLDV disamadengankan nol atau
sehingga didapatkan koordinat titik-titik potong dengan sumbu- dan sumbu- .
b) Gambarkan koordinat titik-titik potong dengan sumbu- dan sumbu- yang didapatkan tersebut pada koordinat Cartesius yang sama.
c) Cermati hasil gambar grafik-grafik tersebut, apakah saling
berpotongan? Jika saling berpotongan, cermati di koordinat berapa
terjadi perpotongannya. Koordinat tersebut berupa pasangan terurut
yang merupakan penyelesaian SPLDV yang dicari. Jika grafik-grafik tersebut tidak berpotongan maka himpunan
penyelesaiannya berupa himpunan kosong.
Contoh:
Dengan menggunakan metode grafik, tentukan penyelesaian dari
sistem persamaan: Penyelesaian: Dari diperoleh: Dari diperoleh
Grafik dari sistem persamaan tersebut adalah sebagai berikut:
Koordinat titik potong kedua grafik tersebut adalah (4000,1000).
Jadi penyelesaiannya adalah dan
Langkah awal yang perlu dibuat siswa dalam menyelesaikan soal
cerita persamaan linear satu variabel adalah membuat kalimat matematika
berdasarkan pada informasi yang terdapat pada soal tersebut, yang disebut
dengan model matematika. Model matematika dapat diperoleh dengan cara
memisalkan besaran yang belum diketahui dengan dua buah variabel,
misalnya variabel dan .
Permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan
dengan persamaan linear dua variabel biasanya disajikan dalam bentuk
soal cerita. Soal cerita yang berkaitan dengan persamaan linear satu
variabel disajikan dalam beberapa bidang permasalahan sehari-hari.
Bidang-bidang atau masalah-masalah tersebut yaitu: (1) Masalah
Bilangan, (2) Masalah Umur, (3) Masalah Lembaran Uang, (4) Masalah
Angka, (5) Masalah Bisnis, (6) Masalah Ukuran, (7) Masalah Kadar, (8)
Masalah Perjalanan, dan (9) Masalah Pekerjaan. Adapun masalah-
masalah yang sering dikeluarkan dalam latihan atau kajian pada buku
materi persamaan linear satu variabel adalah permasalahan yang terkait
bidang: bilangan; umur; bisnis; ukuran; dan perjalanan.
Untuk menyelesaikannya, maka langkah-langkah berikut dapat
membantu dalam mempermudah penyelesaian:
2) Mengungkap informasi pada soal tentang hal yang ditanya atau
diketahui dan memilah informasi yang akan digunakan dalam
memecahkan soal.
3) Memodelkan kalimat pada soal ke dalam kalimat matematika.
Memodelkan yang dimaksud adalah menerjemahkan soal matematika
dalam kalimat cerita menjadi kalimat matematika dalam bentuk
persamaan. Persamaan yang dimaksud adalah menetapkan besaran-
besaran masalah yang ada dalam soal sebagai variabel-variabel
(dinyatakan dalam huruf-huruf) juga merumuskan hubungan atau
ekspresi matematika sesuai dengan keterangan atau ketentuan dalam
soal.
4) Menyelesaikan soal dengan konsep matematika.
5) Menjawab pertanyaan soal dengan mengembalikan penyelesaian ke
konteks soal.
Contoh:
Pak Anton mempunyai sebidang tanah berbentuk persegi panjang.
Keliling kebun tersebut adalah 50 meter. Jika ternyata selisih panjang
dan lebar dari Kebun pak Anton adalah 5 meter, maka berapa meter
lebar dari kebun Pak Anton?
Penyelesaian:
Langkah 1 Baca permasalahan lebih dari sekali
Langkah 2 Tanah berbentuk persegi panjang dengan keliling 50 m. Selisih panjang dan lebar adalah 5 m.
Langkah 3 Misalkan panjang tanah maka lebar tanah Model matematika dari soal tersebut adalah dan sehingga :
i. ii.
Langkah 4 Penyelesaian model matematika di atas sebagai berikut: *eliminasi i) ii)
Langkah 5 Jadi, lebar tanah Pak Anton adalah 10 m.
Penyelesaian soal-soal persamaan linear dua variabel dalam
kehidupan sehari-hari yang berbentuk soal cerita, diperlukan langkah-
langkah berikut agar dapat membantu penyelesaian:
1) Jika memerlukan diagram (sketsa), misalnya untuk soal yang berhubungan dengan geometri, buatlah diagram (sketsa) berdasarkan kalimat cerita tersebut.
2) Dua besaran yang belum diketahui dimisalkan dengan dua variabel.
3) Menerjemahkan kalimat cerita menjadi kalimat matematika dalam
4) Menyelesaikan persamaan persamaan tersebut.
Analisis yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penyelidikan
terhadap kemampuan siswa kelas VIII SMP Pangudi Luhur Yogyakarta tahun
ajaran 2016/ 2017 dalam menyelesaikan soal matematika pada pokok
bahasan persamaan linear satu variabel. Soal matematika yang diberikan
kepada siswa merupakan soal yang dibuat berdasarkan taksonomi Bloom.
Selain itu, agar soal matematika tersebut dapat digunakan untuk menganalisis
tingkat pemahaman siswa, soal juga disusun berdasarkan taksonomi SOLO.