BAB II LANDASAN TEORI
A. NILAI- NILAI PENDIDIKAN
7. Materi Pendidikan Islam
Sebelum dibicarakan lebih lanjut tentang materi pendidikan Islam, terlebih dahulu dibicarakan konsep pendidikan Islam, didalamnya paling tidak ditemukan tiga unsur penting yang menunjukkan bahwa, pendidikan adalah alat untuk pemindahan nilai-nilai budaya, pendidikan mengandung makna proses latihan, dan pendidikan juga mengandung makna indoktrinasi nilai-nilai absolut,
Pertama, pendidikan berarti ditujukan untuk melaksanakan transformasi
nilai-nilai kebudayaan dari suatu generasi kepada generasi berikutnya, kedua, pendidikan ditujukan untuk pengembangan potensi-potensi individu, ketiga, pendidikan berarti harus mampu menanamkan nilai-nilai absolut yang tidak dapat berubah dalam berbagai ruang dan waktu. 54
Materi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sesuatu yang menjadi bahan untuk diujikan, dipikirkan, dibicarakan, dikarangkan, dan lain-lain. Sedangkan pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Istilah materi pendidikan berarti mengorganisir bidang ilmu pengetahuan yang membentuk basis aktivias lembaga pendidikan, bidang-bidang ilmu pengetahuan ini satu dengan lainnya dipisah-pisah namun merupakan satu kesatuan terpadu. Materi pendidikan harus mengacu pada tujuan, bukan sebaliknya tujuan mengarah kepada suatu materi, oleh karenanya materi pendidikan tidak boleh berdiri sendiri terlepas dari kontrol tujuannya.55
Untuk merumuskan materi pendidikan maka kita tidak boleh bertolak belakang dari pada tujuan pendidikan itu sendiri. Istilah materi pendidikan dapat
54Hasan Langgulung, Pendidikan Islam Menghadapi Abad ke-21 (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1996), h. 4-9.
55Abdurrahman Abdullah Saleh, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-qur’an (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), h. 159.
diartikan dalam pengorganisasian bidang ilmu pengetahuan yang berbasis pada aktivitas lembaga pendidikan tersebut. Ilmu pendidikan meski berbeda-beda namun tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Pertama, pengetahuan Agama Islam seperti al-qur’an, Hadis, Tauhid, Aqidah dan lain-lain, Kedua, Ilmu yang termasuk dalam kurikulum pendidikan Islam seperti Sosiologi, Antropologi, Sejarah dan lain-lain, lalu yang Ketiga, Ilmu Pengetahuan Alam seperti Matematika, Fisika, Biologi, Kimia dan lain-lain. Ketiga kategori tersebut dewasa ini lebih dikenal sebagai dua disiplin ilmu antara ilmu umum dan ilmu agama.
Materi-materi yang diuraikan dalam al-qur’an menjadi bahan-bahan pokok pelajaran yang disajikan dalam proses pendidikan Islam, baik formal maupun non-formal. Oleh karena itu materi pendidikan harus dipahami, dihayati, diyakini, dan diamalkan dalam kehidupan umat Islam. Menurut pandangan Muhammad Fadhil al-Djamali, semua jenis ilmu yang terkandung di dalam qur’an harus diajarkan kepada anak didik. Ilmu-ilmu tersebut meliputi: Ilmu Agama, Sejarah, Ilmu Falak, Ilmu Bumi, Ilmu Jiwa, Ilmu Kedokteran, Ilmu Pertanian, Biologi, Ilmu Hitung, Ilmu Hukum, Perundang-undangan, Ilmu Kemasyarakatan (Sosiologi), Ilmu Ekonomi, Balaqah, Ilmu Bahasa Arab. Ilmu Pembelaan Negara, dan segala ilmu yang mengembangkan kehidupan umat manusia dan yang mempertinggi derajatnya.56
Untuk yang terakhir ini di sebut sebagai bagian inti dari ajaran Islam. Berkaitan dengan pengertian yang disebut di atas, aktivitas pendidikan menuntut perencanaan yang matang agar dapat terselenggarakan dengan baik. Melalui perencanaan, pendidikan perlu dikembangkan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan sosial. Aktivitas pendidikan harus mampu mengupayakan berbagai konsep, program dan latihan-latihan yang dapat membawa kehidupan manusia sejalan dengan sifat-sifat kehidupan itu sendiri. Perbuatan dan ketentuan- ketentuan pendidikan dengan segala macam pendekatan ilmu pengetahuan perlu didasarkan atas jiwa dan etika Islam supaya kehidupan menjadi Islami.57
56Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan
Aplikasi dari perencanaan di atas menuntut adanya persiapan pembelajaran aktif dan bermakna yang dalam hal ini membantu peserta didik untuk memahami berpuluh-puluh konsep yang diajarkan oleh sekolah dengan cara menemukan sendiri (discovery). Pengajaran diletakkan pada proses belajar sesuatu konsep atau kejadian dalam lingkungan. Yang dalam hal itu diperlukan seleksi konsep yang paling esensial berdasarkan kriteria tertentu pada mata pelajaran tertentu yang dipetakan secara holistik, logis, dan psikologis. Para siswa harus berlatih dengan melibatkan berbagai macam latihan mental, emosional, mengenai apa yang dibelajarkan, sekaligus menjadi indikasi dari gambaran mental yang dimiliki oleh subjek didik.58
Jika ada topik baru perlu diupayakan pengalaman langsung yang dapat menjembataninya. Melalui pengalaman-pengalaman pendidikan subyek didik dibentuk menjadi insan yang berdisiflin. Mereka tidak hanya dibentuk untuk menjadi manusia intelek, yang dengan kekuatan inteleknya mampu melaksanakan penalaran dengan metode keilmuan. Akan tetapi mereka juga dibentuk untuk menjadi manusia yang menyadari kepentingan spritual dan moral, sehingga mampu mewujudkan kesejahteraan dan kedamaian bagi pihak keluarga, masyarakat dan umat manusia.
Pemikiran tentang materi atau konten pendidikan secara umum dewasa ini lebih cenderung lahir dari persolan kebutuhan yang seharusnya diberikan kepada siswa. Untuk mengidentifikasi kebutuhan ini. Ahli-ahli pendidik menerjemahkan materi atau konten dalam bentuk yang lebih kongkret. Walker misalnya memberi penekanan makna materi pembelajaran yaitu apa yang seharusnya dapat diajarkan, dipelajari dan dibelajarkan kepada para siswa. Dalam hai ini berupa keperluan-keperluan hidup siswa.59
Dari sudut perspektif kebutuhan, pemikir-pemikir Islam dewasa ini juga tidak mau harus dijabarkan dalam kurikulum pendidikan. Masalah adanya dirasakan ketidak seimbangan antara pendidikan di satu pihak dan pengembangan
58Ashraf, New Horizons in Muslim Education (Great Brilian: Cambridge, Hodder and Stoughton The Islamic Academic. 1985), h.25.
59Walker, “What Curriculum Researche” dalam Currikulum And Instruction (Henry A. Giroux, et al. Mc Culchan USA: Publishing Corporation. 1981), h. 283.
budaya dikalangan umat dipihak lain adalah menjadi kesenjangan yang perlu dicarikan solusinya dari pegembangan materi pendidikan.
Pemikir-pemikir Islam berusaha untuk menjembatani kesenjangan tersebut dengan memikirkan kembali profil materi pendidikan sebagai alat strategis untuk pengembangan budaya tersebut melalui dukungan proses kurikulum dalam semua perangkat dan tahapan-tahapannya.60 Materi-materi dan metode-metode pendidikan yang dimuat dalam kurikulum, untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan budaya, perlu ditinjau untuk disesuaikan dengan semangat pengembangan budaya dan ajaran-ajaran yang menyangkut berbagai aspek kebutuhan seperti: ekonomi, teknologi, sosial, dan lain-lain.
Sementara yang tampak dilakukan oleh sekelompok umat adalah mengupayakan untuk menjadi proses pengetahuan, ilmu, keterampilan dan nilai- nilai kebudayaan Barat untuk menjadi bagian utama dari kurikulum pendidikan Islam, tanpa memandang perlu untuk melakukan proses internalisasi yang lebih dalam dari sisi ajaran-ajaran Islam.
Akibat pencaplokan bulat-bulat kebudayaan Barat (westernisasi) tersebut telah dipandang menjadi salah satu faktor dari kegagalan pendidikan Islam untuk menghasilakan sumber daya manusia yang loyal untuk mendukung sistem kehidupan yang islami.
Pada sekelompok orang, materi pendidikan Islam sering diartikan dalam bentuk penjumlahan pengetahuan, keterampilan atau nilai, jika ingin menyesuaikan pendidikan Islam dengan kehidupan modern, maka yang perlu dilakukan adalah upaya untuk menggabungkan ilmu-ilmu Islam dan ilmu-ilmu Barat dalam kurikulum.
Untuk sejumlah lembaga-lembaga pendidikan bentuk penjumlahan ini telah banyak dilakukan, dan cara-cara ini bahkan telah dianggap sebagai salah satu cara yang paling tepat merespon tuntutan kehidupan modern dari sisi pendidikan. Namun, yang amat perlu untuk di garis bawahi adalah bahwa materi pendidikan sebenarnya tidak hanya perlu dimaknai dalam arti penjumlahan ilmu pengetahuan, nilai dan keterampilan sebagaimana telah dikemukakan di atas.
60Langgulung, h. 135.
Pengembangan materi pendidikan agama dan umum seperti yang disinggung atau banyak dilakukan banyak orang. Pemahaman seperti justru dapat membawa muatan kurikulum pendidikan di samping sangat padat, tetapi juga mengakibatkan para siswa merasa susah untuk mengikuti materi tersebut.
Perlu disadari adalah bagaimana menciptakan formulasi rancangan materi pendidikan dan pembelajaran yang secara kualitatif mampu membangun nilai-nilai. Semua bentuk pengetahuan, keterampilan dan nilai yang dipelajari dapat diinternalisasi. Oleh karena itu, tuntutan utama dalam pengembangan materi pendidikan, bukanlah materi padat, lebih dari itu kemampuan yang membawa siswa menguasai keterampilan hidup (life Skill).
Keterampilan-keterampilan tersebut antara lain berhubungan dengan keterampilan berpikir, emosi, keterampilan sosial, politik, ibadah, olah raga, kesehatan, kesenian, hukum, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan sebagainya. Semua keterampilan dikembangkan lewat proses rancangan pengembangan materi dimana bangunannya diletakkan di atas konsep-konsep spritual. Inilah makna pengembangan materi pendidikan yang dimaknai sebagai profil materi pendidikan.
Rancangan materi pendidikan dibangun di atas konsep dan nilai spritual, menuntut pemaknaan kurikulum melalui kemampuan untuk memformulasikan nilai-nilai ke dalam sistem nilai baru yang bersifat memadukan atau mengintegrasikan nilai-nilai tradisi di satu sisi dan nilai-nilai kemoderenan dipihak lain.
Formulasi dua jenis nilai ini menjadi sesuatu yang amat logis disamping juga diharapkan memberi kekuatan baru dalam mengembangkan aktivitas pendidikan yang sesuai dengan tuntutan dan kemajuan zamannya. Karena itu, penting di garis bawahi pandangan-pandangan al-Syaibani yang berbicara tentang prinsip-prinsip umum materi pendidikan yang disajikan landasan bagi pengembangan materi pendidikan sebagaimana disebutkan dalam uraian berikut: 1) Prinsip pertautan yang sempurna dengan ajaran agama.
2) Prinsip tujuan universal dari materi yang dituangkan dalam kurikulum, 3) Prinsip keseimbangan relatif di antara tujuan dan kurikulum,
4) Prinsip Keterkaitan antara isi kurikulum dengan bakat, minat kemampuan dan kebutuhan siswa, baik dalam hubungan dengan alam fisik, psikis dan sosial.
5) Prinsip pemeliharaan perbedaan-perbedaan di antara individu siswa. 6) Prinsip perkembangan dan perubahan.
7) Prinsip pertautan antara mata pelajaran, pengalaman, dan aktivitas- aktivitas yang terkandung dalam kurikulum.61
Berdasarkan prinsip-prinsip umum di atas, maka cabang-cabang pengetahuan perlu dimasukkan ke dalam materi pendidikan klasifikasi pengetahuan yang didasarkan pada gagasan yang ditawarkan oleh pakar-pakar pendidikan. Imu-ilmu tersebut meliputi: ilmu agama, sejarah, ilmu falak, ilmu bumi, ilmu jiwa, ilmu kedokteran, ilmu pertanian, biologi, ilmu hitung, ilmu hukum, perundang-undangan, ilmu kemasyarakatan (sosiologi) ilmu ekonomi,
balaqhah, ilmu bahasa Arab, ilmu pembelaan negara, dan segala ilmu yang dapat
mengembangkan kehidupan umat manusia dan mempertinggi derajatnya.62
Akhirnya seluruh pendidikan yang didapatkan dari mata pelajaran bernilai dari sektor manapun akan dapat membuka pola pikir yang sekuler menjadi intelektual yang berilmu dari lahir iman dan dari iman lahir amal shaleh. Perlu diketahui juga yang bahwa sekularisme dalam pendidikan agama yang kita laksanakan hari ini adalah adanya jurang pemisah antara pendidikan agama dengan pendidikan umum namun pada hakikatnya hal tersebut tidak semestinya terjadi karena untuk menjadi ilmuan yang berakhlak harus mengapresiasikan nilai keagaamaan dalam ilmu yang diperoleh.