• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.6 Materialis dan Perempuan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Stanford University mengatakan bahwa 90% pelaku budaya Materialis adalah perempuan, namun laki-laki juga dapat mengalami Materialis. Dengan demikian perempuan dan laki-laki-laki-laki sama-sama memiliki potensi untuk menjadi seorang Materialis.

Sejak jaman purbakala, lelaki dan perempuan sudah memiliki perannya masing-masing. Lelaki, bertugas untuk mencari uang atau makanan bagi mereka yang hidup di jaman batu dan memenuhi kebutuhan fisik setiap anggota keluarganya. Perempuan, mengelola uang atau makanan yang diperoleh dari pasangan mereka, dan memastikan semua anggota keluarga mendapatkan kebutuhannya.

Masing-masing fungsi tadi, hingga sekarang mewarnai peradaban hubungan lelaki dan perempuan. Inilah yang menjadi alasan logis di balik sifat materialis seorang perempuan. Ya, meski banyak perempuan yang telah memasuki dunia kerja, mereka masih mewarisi sifat materialis dari nenek moyang mereka, terutama saat mencari pasangan hidup. Mereka ingin mendapat jaminan, bahwa kelak calon pendamping mereka ini, tidak sekadar memenuhi kebutuhan batin, tapi juga lahir.

Dengan kata lain, jangan salahkan kalau mahkluk-makhluk indah ini memiliki sifat materialis. Apalagi, berdasarkan penelitian rumah sakit Saint Thomas di London, Inggris, perempuan materialis yang memilih untuk menikah dengan pria kaya, terbukti lebih sehat, panjang umur, dan sedikit terkena penyakit yang berhubungan dengan penuaan.

Kabar baiknya, kadar sifat materialis mereka berbeda-beda. Artinya, kita masih memiliki harapan untuk memiliki pasangan hidup yang tidak ‘terlalu’ materialis. Sebab, ada juga beberapa perempuan yang cukup puas berkencan dengan membonceng sepeda motor saja. Tapi, jangan coba-coba bersikap pelit

saat mengajaknya berjalan-jalan di akhir pekan. Bisa jadi ia kapok untuk berkencan dengan lagi.

Selain itu, meski teman kencan kita mungkin memiliki penghasilan yang jauh lebih besar dan hanya memiliki sedikit sifat materialis bukan berarti kita bisa membiarkan dia membayar semua pengeluaran kalian selama berkencan. Sebagai perempuan, ia merasa tentu dihargai apabila kita mau berkorban untuknya, dengan menyisihkan sedikit uang untuk mentraktirnya berkencan, atau memberikan dia hadiah-hadiah yang berkesan.

Banyak juga perempuan yang luluh apapun kadar materialisnya saat melihat seorang lelaki pekerja keras. Ini karena, gen materialis di dalam tubuhnya akan memberi sinyal, bahwa seorang lelaki pekerja keras tentu akan berusaha keras juga untuk memberi kesejahteraan bagi anggota keluarganya.

2.7 Teori Discourse

Istilah wacana yang diterjemahkan dari kata discourse itu secara luas digunakan dalam teori dan analisis sosial untuk merujuk berbagai cara menstrukturkan pengetahuan (knowledge) dan praktek sosial (sosial practice). Seperti yang dikemukakan oleh Fairclough, wacana termanifestasikan melalui bentuk khusus penggunaan bahasa dan simbol lainnya. Wacana, karena itu tidak dapat dilihat sebagai sebuah cerminan atau perwakilan dari identitas kunci secara berbeda pula. Wacana yang berbeda selalu memposisikan orang dalam cara yang berbeda sebagai subjek sosial. Ikhwal inilah yang menjadi pusat perhatian dari

sebuah analisis wacana. Dengan kata lain, analisis wacana menekankan pada kajian bagaimana sebuah realitas sosial dikonstruksikan melalui bahasa dan simbol lainnya menurut cara-cara tertentu yang dipahami sebagai sebuah usaha sistematis untuk menimbulkan efek yang khusus.

Salah satu metode analisis pemikiran manusia adalah yang dikembangkan oleh Michael Faucoult (1926-1984). Ia mengemukakan bahwa manusia pada tiap-tiap zaman menangkap kenyataan dengan cara-cara tertentu. Cara manusia menangkap yaitu dengan cara memandang, dan memahami kenyataan atau disebut ‘episteme’. Karena manusia menangkap kenyataan dengan cara tertentu, maka ia akan membicarakannya dengan cara tertentu. Cara manusia membicarakan kenyataan itu disebut ‘wacana’.

Menurut Foucault, episteme dan wacana itu juga tunduk pada berbagai aturan yang menentukan apa yang dipandang atau dibicarakan dari kenyataan, apa yang dianggap penting dan tidak penting, hubungan apa yang diadakan antara berbagai unsur kenyataan dalam penggolongan dan analisis. Dengan kata lain, setiap zaman memandang, memahami, dan membicarakan suatu kenyataan dengan cara lain.

Perkembangan teori Discourse dapat diketahui dengan mengikuti kajian Foucault ketika dia menjelaskan wacana (discourse), terutama bagaimana wacana dan pengetahuan telah mampu menjadi alat untuk berkuasa. Bagi Foucault, kekuasaan dan pengetahuan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, yaitu bagaimana kekuasaan beroperasi melalui konstruksi berbagai pengetahuan.

Bentuk perjuangan tidak hanya melawan eksploitasi (ekonomi) dan dominasi (sosial, etnis, seksual, agama) saja, namun juga melawan subjection (yakni bentuk penyerahan seseorang sebagai individu, seperti hubungan psikiater dengan pasiennya) (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1996, hal 39).

Selanjutnya Foucault mengatakan bahwa dengan melalui discourse, ‘kekuasaan dan pengetahuan’ (power-knowledge) ini bisa direalisasikan. Ia mengatakan bahwa hubungan antara simbol dan yang disimbolkan itu bukan hanya secara referensial, melainkan juga produktif dan kreatif. Simbol yang dihasilkan Discourse itu, antara lain dapat melalui bahasa, moralitas, hukum, kedokteran, psikologi, kriminologi, dan lain-lain. Tetapi yang paling ‘menakutkan’ adalah kekuatan bahasa. Sebagaimana Inglis menjelaskan pemikiran Foucault tentang simbol yang menghasilakan Discourse dengan mengatakan:

“... all of them (law, criminology, medicine, pshycology, pedagogy, etc) the great intellectual products of the Englightenment’s ditermination to right progess in its road by human reason, as being more instrument of state repressions. Each discipline marks out an are of body and ming for it’s control. Each its brought under the terrible dominaton of languange, the discourse of power”. (Cambridge, Massachusets: Basil Blackwell, 1990, Hal 107). [Keseluruhan produk-produk intelektual masa pencerahan hukum, kriminologi, kedokteran, psikologi, pedagogi, dan sejenisnya, yang arah perkembangannya sangat ditentukan oleh akal manusia, semakin menjadi alat represi negara. Tiap disiplin ilmu membatasi suatu wilayah tertentu dari tubuh dan pikirannya untuk pengontrolnya, yang masing-masing dilingkupi oleh dominasi yang menakutkan dari bahasa, yaitu wacana kekuasaan,

Achmad, 2001].

Foucault mengatakan bahwa semua argument sejujurnya adalah diarahkan bagi kepentingan kekuasaan. Dia melihat ini sebagai tipe kontrol pemerintahan

yang modern. Jargon ‘rehabilitasi’, ‘disiplin’, dan ‘hukuman’ memperlihatkan kepada kita, bagaimana suatu studi Discourse tersebut. Ditambahkan oleh Julia, itu semua tidak hanya mengacu kepada sesuatu, melainkan turut menghasilkan perilaku, nilai-nilai dan ideologi (Prisma, 1991:70).

2.8 Analisis Wacana Kritis

Suatu pendekatan strukturalis pada studi media memiliki kelebihan karena ia membuka banyak bidang baru bagi analisis dan kritik. Meski demikian pertanyaan tentang asumsi-asumsi strukturalis dan metodenya masih tetap ada, dan kita masih sangat jauh dari mendapatkan jawaban yang memuaskan mengenai hal ini, sebagian jawabannya tetap diluar ruang lingkup penelitian ini.

Tetapi jika ada yang yakin pada pendirian bahwa khalayak media seharusnya diberi peran subyek, yaitu peran “agen-aktif” dalam produksi pesan, suatu agen yang mampu membangun makna dari bahasa media, maka kiranya juga penting terus berpegang pada asumsi bahwa bahasa dan makna ada dalam konstruksi sosial. Meskipun tujuan metodologi dan penelitian yang digunakan dalam kajian bahasa menentang tren ini, namun dewasa ini “masyarakat” dan “kritik” telah menjadi kata-kata kunci dalam berbagai pendekatan baru pada kajian bahasa dan penerapannya pada analisis media sebagai wacana.

Ruth Wodak yang menulis dalam Language, Power and Ideology, mendefinisikan bidangnya, yang disebut sebagai “Critical Linguistic”, sebagai pendekatan interdislipiner pada kajian bahasa dengan sudut pandang kritis untuk

tujuan mengkaji “perilaku bahasa” dalam situasi pembicaraan natural yang memiliki relevansi sosial (Language, Power and Ideology: Studies in Political Discourse, London: Benjamin Publishing Company, 1989). Wodak juga menekankan adanya kepentingan “beragam konsep teoritis dan metodoloogis” dan menunjukkan bahwa konsep-konsep ini juga dapat dipakai untuk “menganalisis persoalan relevansi sosial”, sambil berusaha mengungkapkan “ketidaksejajaran dan ketidakadilan” yang ada. Wodak mengedepankan dan mendorong pemakaian “multiple methods” dalam penelitian bahasa disamping juga menekankan pentingnya mengenali aspek-aspek “historis dan sosial”.

Pengedepanan baik pada struktur maupun konteks sosial teks media bisa memberikan solusi yang memberikan kritikus media mampu “mendenaturalisasi” atau mengungkap “taken-for-grantedness” (hal yang diterima selalu benar) pesan ideologis sebagaimana yang tampak pada wicara yang diisolasi, dan ketika digabungkan dengan kajian etnografi yang lebih baru dan metode analisis wacana yang lebih baru, akan menciptakan dasar umum yang lebih luas antara kaum strukturalis dan mereka yang memandang media sebagai manipulator. Pemakaian analisis wacana kritis (Critical Discourse Analysis atau CDA) dalam linguistic terapan melahirkan perkembangan sebuah pendekatan yang berbeda untuk memahami pesan-pesan media. Robert Kaplan mengungkapkan sebagian konsep baru ini ketika menulis “suatu teks, apakah trtulis atau lisan, merupakan struktur yang multidimensi,” dan “teks apa saja yang tersusun berlapis-lapis, layaknya selebar kayu lapis tebak yang terdiri dari banyak lembaran tipis di setiap sudutnya.” (Robert Kaplan Ed, Annual Review of Applied Linguistic, Vol II, 1990)

Analisis wacana kritis (CDA) telah membuat kajian bahasa dengan alat interdislipiner dan telah dipakai oleh para sarjana dengan berbagai latar belakang, termasuk kritik media. Yang paling penting, analisis wacana krisis tersebut menawarkan kesempatan untuk mengadopsi perspektif sosial dalam teks media secara lintas budaya (cross-cultural study). Seperti dikatakan oleh Gunter Kress, CDA punya “agenda politik yang jelas”, yang berfungsi untuk menyelidiki CDA dari jenis analisis wacana lain dan linguistik teks, serta “pragmatis dan sosiolinguistic”. Meski sebagian besar analisis wacana beupaya memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai aspek-aspek sosio-kultural teks. CDA bertujuan memberikan penjelasan mengenai produksi, struktur internal, dan keseluruhan organisasi teks”. Salah satu perbedaan pentingnya, yaitu CDA “bertujuan menyediakan dimensi kritis dalam penjelasan teks secara teoritis dan deskriptifnya” (Robert Kaplan Ed, Annual Review of Applied Linguistic, Vol II, 1990).

Yang lebih penting, menurut definisi Kress, CDA memperlakukan bahasa sebagai jenis praktek sosial yang dipakai untuk representasi dan signifikasi (termasuk visual image, music, gestures, dan lain-lain). Teks diproduksi “oleh pewicara dan penulis dalam situasi sosial”. Hubungan para partisipan dalam memproduksi teks tidak selalu sejajar: terjadi range dari solidaritas sempurna (complete solidarity) sampai ketidaksejajaran yang sempurna (complete inequality). Makna hadir melalui interaksi antara pembaca dan penerima, dan linguistik timbul sebagai akibat dari proses-proses sosial. Di sebagian besar interaksi, pengguna bahasa melahirkan watak yang berlainan pada bahasa itu,

yang terkait erat dengan social positionings. Sejarah harus dijelaskan sebagai “waktu yang berinfleksi” secara ideologis dan politis. Akhirnya, analisis yang tepat dan “deskripsi materialitas bahasa” merupakan faktor-faktor yang selalu menjadi karakteristik CDA.

Kress menekankan bahwa “bentuk bahasa apapun tidak punya makna yang pasti, ia juga tidak mempunyai signifikasi atau fungsi ideologis,” akibatnya, “pernyataan-pernyataan yang pasti dan terbatas yang merupakan suatu wacana merupakan ekspresi dan ideologi dan diorganisasikan oleh ideologi spesifik itu...” Bahasa, “tidak pernah bisa muncul dengan sendirinya-bahasa selalu muncul sebagai representasi dari sistem istilah-istilah linguistik itu mewujudkan dirinya sebagai sistem diskursif (wacana) dan ideologis...”

Pewicara (atau penulis) mengungkapkan muatan ideologis dalam teksnya dan demikian juga bentuk linguistik suatu teks. Teks-teks diseleksi dan mengorganisasikan bentuk-bentuk sintaks yang content-structure nya mencerminkan organisasi ideologis dari bidang kehidupan sosial tertentu.

Dokumen terkait