• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUDAYA MATERIALIS DALAM NOVEL MR. MAYBE (Studi Analisis Wacana Kritis Tentang Budaya Materialis Dalam Novel Mr. Maybe).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BUDAYA MATERIALIS DALAM NOVEL MR. MAYBE (Studi Analisis Wacana Kritis Tentang Budaya Materialis Dalam Novel Mr. Maybe)."

Copied!
146
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Oleh :

ESTY WIDYANTI PUTRI

NPM. 0743010041

Kepada

YAYASAN KESEJAHTERAAN PENDIDIKAN DAN PERUMAHAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

SURABAYA

(2)

Assalamualaikum Wr. Wb

Puji syukur Alhamdulillah ke hadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan Hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Sejujurnya, kebanggaan penulis bukan pada selesainya skripsi ini, tetapi pada apa yang penulis dapatkan melalui skripsi ini. Penulis lebih dapat memahami fenomena-fenomena yang telah terjadi di masyarakat, bahkan di seluruh dunia, tentang adanya ‘kekuatan-kekuatan’ dan ‘kepentingan-kepentingan’ yang tanpa kita sadari telah mengendalikan diri kita, dimana fenomena tersebut telah memberikan dampak yang baik dan buruk bagi kehidupan dan lingkungan di sekitarnya. Penulis mendapatkan pengalaman dan pemahaman tentang apa makna hidup, bagaimana memaknai hidup, hidup yang tidak hanya dipandang dari segi material tetapi juga spiritual, yang kesemuanya itu tidak luput dari rasa syukur yang ‘wajib’ untuk kita ucap dalam setiap detik perjalanan hidup kita.

Oleh karena itu penulis kembali bersyukur atas pihak-pihak yang telah hadir dan memberikan bimbingan serta bantuan dalam menyelesaikan skripsi ini. Dan atas segala kerendahan hati, penulis ‘wajib’ mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam meyelesaikan skripsi ini, diantaranya :

1. Allah SWT, yang telah memberikan kemudahan dalam setiap langkah penulis.

(3)

inspirasi yang selalu memiliki empati terhadap kondisi penulis, dan senantiasa bersedia meluangkan waktu di tengah kesibukan beliau yang teramat sangat padat. Terimakasih ‘Abi...’

4. Ibu Suparwati, Ir. M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UPN “Veteran” Jawa Timur.

6. Someone specialku, Agusdin Faried, yang selalu memotivasi dan memberikan dorongan, menemani dalam suka dan duka dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Untuk teman-teman seperjuanganku: Dhika, Thea, Ipank, Kiki, dan Widya terimakasih banyak atas support yang telah kalian berikan selama ini, semangat buat kalian semua. Dan untuk semua pihak yang tidak dapat penulis cantumkan, terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.

Sungguh penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan penuh keterbatasan. Untuk itu diharapkan kritik dan saran yang dapat membangun semangat penulis untuk memperbaiki kekurangan yang ada.

Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi rekan-rekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Surabaya, Maret 2011

(4)

HALAMAN PERSETUJUAN PROPOSAL ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 12

1.3 Tujuan Penelitian ... 12

1.4 Manfaat Penelitian ... 12

1.4.1. Mafaat Teoritis ... 12

1.4.2. Manfaat Praktis ... 12

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 13

2.1 Novel Sebagai Media Komunikasi Massa ... 13

2.2 Ideologi Dalam Karya Sastra ... 15

2.3 Kapitalisme Dalam Karya Sastra ... 17

2.4 Perubahan Sosial dan Budaya Materialis ... 20

2.5 Gaya Hidup Masyarakat Modern ... 25

2.6 Materialis dan Perempuan... 27

(5)

2.9 Metode Teun Van Dijk ... 35

2.10 Teori Marxisme Dalam Mazhab Frankfurt ... 38

2.11 Kerangka Analisis ... 41

BAB III METODE PENELITIAN ... 50

3.1 Metode Penelitian ... 50

3.1.1 Critical Discourse Analysis ... 51

3.1.2 Analisis Teks Media ... 53

3.1.3 Konteks Sosial ... 55

3.2 Subjek dan Objek Penelitian ... 58

3.3 Unit Analisis ... 58

3.4 Populasi dan Korpus ... 58

3.5 Teknik Pengumpulan Data... 59

3.6 Teknik Analisis dan Penafsiran Data ... 59

3.7 Biografi Peneliti ... 61

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 63

4.1 Deskripsi Novel Mr. Maybe ... 63

4.2 Wilayah Wacana (Field of Discourse) ... 68

4.3 Pelibat Wacana (Tenor of Discourse) ... 69

(6)

4.6 Analsis Budaya Materialis dan Gaya Hidup Modern ... 87

4.7 Analisis Peran Media Dalam Membentuk Hipereaitas ... 100

4.8 Analisis Budaya Materialis dan Dampaknya ... 103

4.9 Analisis Penerapan Marxisme Dalam Analisis Teks Novel Mr. Maybe ... 123

4.10 Analisis Penerapan Teun Van Dijk Dalam Analisis Teks Novel Mr. Maybe ... 129

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 133

5.1 Kesimpulan ... 133

5.2 Saran ... 134

DAFTAR PUSTAKA ... 136

(7)

Lampiran 1. Haverstock Hill ... 138

Lampiran 2. Hanover Terrace ... 139

Lampiran 3. Ladbroke Grove ... 140

Lampiran 4. Whistles Boutique ... 141

Lampiran 5. Kookai Boutique ... 142

Lampiran 6. Agnes B. Boutique ... 143

Lampiran 7. Waterstone Bookstore ... 144

Lampiran 8. David Wainwright Furniture Shop ... 145

Lampiran 9. Nicole Farhi Boutique ... 146

Lampiran 10. Clifton Pub ... 147

Lampiran 11. Lansdowne Pub ... 148

Lampiran 12. Queens Pub & Resto ... 149

Lampiran 13. Mezzo Lounge & Bar ... 150

Lampiran 14. Quo Vadis ... 151

Lampiran 15. River Café ... 152

Lampiran 16. Marco Pierre White Resto ... 153

Lampiran. 17 Daphne’s Resto ... 154

Lampiran 18. Harvey Nichols Boutique ... 155

Lampiran 19. Joseph ... 156

Lampiran 20. Emporio Armani ... 157

(8)

Lampiran 24. Anabel’s ... 161

Lampiran 25, Quiet Storm ... 162

Lampiran 26, Mortons ... 163

Lampiran 27, Atlantic Bar ... 164

Lampiran 28, Tatler Magazine ... 165

(9)

Maybe).

Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran tentang Budaya Materialis yang terdapat di dalam masyarakat kelas menengah keatas pada novel Mr. Maybe.

Teori-teori yang digunakan antara lain adalah Novel sebagai media komunikasi massa, Kapitalisme dalam karya sastra, Budaya Materialis, Masyarakat dalam Materialis, Teori Discourse, Analisis wacana kritis, Metode Teun van Dijk, dan Marxisme dalam mazhab Frankfurt.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan pendekatan Critical Discourse Analysis. Dengan subjek penelitian adalah teks yang mempresentasikan ‘Materialis’ dalam novel. Korpusnya adalah semua teks yang mempresentasikan Budaya Materialis.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah keberadaan konteks sosial dan historis dari teks-teks dalam novel Mr. Maybe menunjukkan bahwa Materialisme sebagai anak Budaya Gaya Hidup. Selain itu novel ini sejelasnya mengungkap sindiran terhadap penyakit materialis yang hadir di kehidupan masyarakat kelas dominan.

Kata Kunci: Analisis Wacana Kritis, Critical Discourse Analysis, Budaya

(10)

1.1. Latar Belakang Masalah

Media massa adalah media yang digunakan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Dalam era globalisasi ini, media informasi telah dapat dihadirkan dalam berbagai macam dan bentuk. Namun untuk dapat mencapai sasaran khalayaknya dengan baik, produsen harus mempertimbangkan dengan sangat cermat dan tepat di dalam pemilihan media apa yang akan digunakan untuk menyampaikan informasi tersebut. Dalam suatu informasi, bahasa merupakan unsur yang terpenting, bahasa tidak hanya mencerminkan ‘realitas’ tetapi juga bisa menciptakan suatu ‘realitas’. Tentu saja hal ini tidak lepas dari peran besar media massa di dalam mengikutsertakan perspektif dan cara pandang mereka dalam menafsirkan realitas sosial. Hal tersebut memperlihatkan bahwa media ‘tidak netral’ pada saat mengkonstruksi realitas sosial yang ada.

(11)

juga memuat tentang nilai-nilai lembaga media yang membuatnya (Tuchman, 1978:x).

Berita yang dimuat di media bermacam-macam jenis dan bentuknya, tergantung dari kebutuhan dan informasi apa yang akan disampaikan kepada khalayak media. Dan iklan merupakan salah satu strategi penyebaran dan penyajian informasi yang banyak digunakan oleh produsen saat ini. Iklan tidak hanya memberikan informasi, tetapi iklan juga memiliki potensi yang luar biasa untuk mempengaruhi, sekaligus membentuk opini dan persepsi masyarakat. Menurut Robert Lavidge & Gary Steiner (Sudiana, 1986), iklan merupakan suatu model alur peringkat pengaruh kesadaran (hirarchy of effect models) yang terbentuk dengan beberapa tahapan yaitu kesadaran, pengetahuan, menyukai, kegandrungan, dan pembelian. Oleh sebab itu, iklan dapat mengubah dan membentuk perilaku masyarakat untuk lebih memilih produk atau jasa yang ditawarkan dibandingkan produk atau jasa kompetitornya.

Menurut Vincent Moscow dalam bukunya The Political Economy of Communication (1998), pendekatan teori ekonomi-politik media pada intinya

(12)

media adalah komoditas yang dijual di pasar, dan informasi yang disebarluaskan dikendalikan oleh apa yang pasar akan tanggung. Sistem ini membawa mplikasi mekanisme pasar yang tidak ambil resiko, suatu bentuk mekanisme pasar yang kejam karena membuat media tertentu mendominasi wacana publik dan lainnya terpinggirkan. Beberapa realitas kontemporer di dalam media menjadikan kajian ekonomi-politik menjadi penting (McQuail, 2002:83).

Proses tersebut di atas terbangun oleh fungsi persuasi iklan yang merupakan proses seleksi dari daya tarik khalayak terhadap kepentingan barang. Siklus ini sangat dipengaruhi oleh strategi dengan konsep kreatifitas yang dilegitimasi pada penciptaan hal-hal baru secara dramatisasi. Implikasinya, beberapa iklan justru malah lebih dikenal publik daripada produk yang diiklankannya, karena komunikasinya yang spesifik. Contohnya sebuah frase ‘o tidak bisa’ yang dipopulerkan oleh salah satu komedian ternama dalam iklan provider Kartu As mendadak menjadi idiom terkenal, dan diucapkan oleh banyak orang.

(13)

hand&body lotion yang selalu menampilkan model dengan kulit putih mulus, sehingga citra yang terbentuk di mata masyarakat adalah kulit yang indah hanyalah kulit yang putih mulus. ‘Hipereality’ yang diciptakan media tersebut membawa dampak ‘ketidakpuasan’ dalam diri masyarakat, membuat apa yang seharusnya disyukuri, menjadi apa yang harus disesali. Membuat masyarakat rela melakukan apa saja untuk mendapatkan ‘realitas’ ciptaan tersebut.

(14)

kredit yang semakin menumbuhkan kebiasaan untuk berhutang. Begitu besar dampak dari ‘Hipereality’ sehingga tanpa disadari telah membawa masyarakat untuk masuk ke dalam suatu budaya baru, yaitu budaya ‘materialis’.

Kata materialis terdiri dari kata materi dan isme. Dalam kamus besar bahasa indonesia materi adalah bahan, benda, segala sesuatu yang tampak.Masih dari kamus yang sama disebutkan bahwa materialis adalah pengikut paham (ajaran) materialis atau juga orang yang mementingkan kebendaan (harta,uang,dsb). Pada abad pertama masehi faham Materialis tidak mendapat tanggapan yang serius, bahkan pada abad pertengahan, orang menganggap asing terhadap faham Materialis ini. Baru pada jaman Aufklarung (pencerahan), Materialis mendapat tanggapan dan penganut yang penting di Eropa Barat (www.google.com).

Materialis sangat erat kaitannya dengan kapitalisme, karena analisis Marxis tentang kapitalisme (yang biasanya disebut “ekonomi Marxis” walau sebenarnya merupakan “kritik terhadap ekonomi politik”) dimaksudkan untuk menyediakan dasar ilmiah yang kuat untuk gerakan buruh dengan menjelaskan hukum pergerakan mode produksi kapitalis. Analisis Marx tersebut tentu saja merupakan penerapan materialis historis pada mode produksi kapitalis. Kapitalisme juga mempunyai dasar bahwa tenaga kerja menjadi barang dagangan.

(15)

Perkembangan kapitalisme merupakan bagian dari gerakan individualisme. Sistem kapitalisme mulai berkembang di Inggris pada abad 18 Masehi, kemudian menyebar luas ke daerah eropa Barat Laut dan Amerika Utara (Ebenstein, 1990). Berakhirnya perang dingin menyusul ambruknya komunisme-sosialisme Uni Soviet beserta negara-negara satelitnya yang sering diintepretasikan sebagai kemenangan kapitalisme. Hampir dalam setiap sektor kehidupan, logika dan budaya kapitalisme menghadirkan sebuah aktivitas. Kritik-kritik yang ditujukan terhadap kapitalisme justru berakhir pada terkooptasinya kritik-kritik tersebut untuk memperkuat kapitalisme.

Tiga asumsi dasar kapitalisme adalah: (a) Kebebasan individu, (b) Kepentingan diri, (c) pasar bebas (Rasid, 1970). Karenanya, kapitalisme memberikan kebebasan penuh kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan perekonomian seperti memproduksi barang, menjual barang, menyalurkan barang, dan sebagainya. Sehingga semua orang bebas bersaing dalam bisnis untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Semua orang bebas melakukan kompetisi untuk memenangkan persaingan bebas dengan berbagai cara.

(16)

Dalam bukunya yang berjudul ‘mahzab pendidikan kritis’, Agus Nuryatno (1970:50) mengkritisi kapitalisme dengan menulis bahwa dalam kapitalisme, manusia tidak lagi dapat membedakan antara where is real, and where is not. Didukung dengan adanya iklan melalui media yang menciptakan suatu ‘hiperealitas’, dimana realitas ciptaan media telah berhasil meruntuhkan realitas yang sebenarnya. Sehingga masyarakat rela untuk menjadi seorang ‘materialis’ untuk dapat menjadi bagian dari realitas semu tersebut, yang akhirnya berujung pada lahirnya ‘korban-korban kecanduan’ yang baru seperti Materialis, Hedonisme, dan Sexualitas.

Kata materialis terdiri dari kata materi dan isme. Dalam kamus besar bahasa indonesia materi adalah bahan, benda, segala sesuatu yang tampak. Masih dari kamus yang sama disebutkan bahwa materialis adalah pengikut paham (ajaran) materialis atau juga orang yang mementingkan kebendaan (harta,uang,dsb). Materialis adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra. Ini sesuai dengan kaidah dalam bahasa indonesia. Jika ada kata benda berhubungan dengan kata isme maka artinya adalah paham atau aliran (www.google.com).

(17)

mobil, rumah, jabatan) mengakibatkan seseorang merasa kekurangan juga merupakan penyebab munculnya materialis. Adanya iklan yang menggambarkan pola hidup konsumtif merupakan sarana untuk melepaskan diri dari stres, serta adanya pikiran-pikiran obsesi yang tidak rasional.

Gejala munculnya pengaruh budaya asing pada media elektronik, media massa, dan tempat umum menunjukkan perubahan perilaku masyarakat dalam kehidupan masa kini. Kesemuanya menghasilkan karya novel. Gejala krisis moral yang berkaitan dengan kecenderungan negatif yang dialami masyarakat kita saat ini sebagai akibat globaisasi itu berkaitan dengan adanya karya-karya sastra berbentuk novel yang dijadikan sebagai area bisnis, terutama untuk meningkatkan penghasilan sampingan yang sangat menguntungkan. Dengan demikian, novel berpengaruh dengan pembentukan karakter masyarakat kita saat ini. Novel berfungsi sebagai dulce et utile, yaitu sebagai penghibur sekaligus berguna. Dari pengertian dipahami bahwa peranan novel bukan sekedar menghibur tetapi juga mengajarkan sesuatu. Montgomery Belgion dalam buku Renne Wellek mengatakan; “Irresponsible propagandist” [Propaganda yang tidak bertanggung jawab].

(18)

Novel, adalah salah satu karangan yang berbentuk buku. Budaya membaca yang akhir-akhir ini disosialisasikan baik oleh pemerintah maupun beberapa kalangan dengan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa,telah memicu semangat beberapa penulis buku, novel, untuk lebih giat dalam menulis sehingga perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat kognisi dari si penulis maupun beberapa ilmu pengetahuan yang ada dalam buku tersebut dapat ditransformasikan kepada pembaca. Novel merupakan sebuah karya fiksi sastra yang menawarkan sebuah dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif, yang dibangun melalui berbagai unsur intriksinya (Nurgiantoro, 2000:4). Melalui novel, penulis menuangkan gagasan, ide, pengaruh, dan mempertukarkan makna, sedangkan makna adalah persepsi, pikiran, atau perasaan, yang dialami seseorang yang pada gilirannya akan dikomunikasikan kepada orang lain (Liliweri, 2005:5).

(19)

dengan perempuan, dimana perempuan memiliki potensi lebih besar untuk memiliki sifat materialis dibanding laki-laki.

Itulah cerita yang ingin dikomunikasikan sebuah novel berjudul ‘Mr. Maybe’ kepada pembacanya. Dengan mengusung gaya bahasa yang jujur, santai, lugas, serta penuh humor, Jane Green telah dapat menggambarkan kehidupan Libby Mason dengan sangat baik. Bagi Libby Mason, Mr. Right haruslah pria berkantung tebal dan berkedudukan. Oleh sebab itu, Nick yang seksi, ganteng, tapi kantongnya kering, jelas sekadar Mr. Maybe yang akan segera terlupakan. Kemudian muncullah Ed McMann, bankir investasi kaya yang dijamin dapat memenuhi harapan Libby akan hidup yang mapan, walaupun Ed berkumis (sumpah, Libby benci pria berkumis) dan memiliki kebiasaan mengucapkan bahasa Prancis dengan logat mengerikan. Melawan saran sahabatnya dan kata hatinya sendiri, Libby menerima lamaran Ed, tapi tak habis mengerti ketika semburan perasaan bahagia itu tak kunjung tiba. Benarkah Ed adalah Mr. Right yangg selama ini diidam-idamkannya? Ataukah dipertimbangkan kembali?

Dalam novel ini penulis menemukan beberapa fenomena komunikasi yang dinilai cukup menarik jika dibahas dengan menggunakan perspektif ilmu komunikasi, karena komunikasi pada dasarnya merupakan interaksi antar pribadi yang menggunakan sistem simbol linguistik, misalnya meliputi verbal, kata-kata, paraverbal, dan non verbal. Sistem itu dapat disosialisasikan secara langsung atau tatap muka atau melalui media lain, tulisan, lisan, dan virtual.

(20)

menggunakan Critical Discouse Analysis, karena teks berkaitan erat dengan konteks yang lebih luas dimana bahasa dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu, termasuk didalamnya praktik kekuasaan yaitu kapitalisme. Dengan menggunakan metode ini, memungkinkan peneliti untuk mengetahui dan melihat lebih jelas bagaimana sebuah pesan diorganisasikan, digunakan, dan dipahami. Penggunaan metode analisis wacana kritis ini bertujuan untuk dapat mengetahui makna, citra, kepentingan, dan tujuan dibalik wacana dengan melalui simbol baik dalam bentuk text, talk, act, dan artifact, dari segi konteks serta historisnya.

Penelitian Critical discourse Analysis ini akan dilakukan berdasarkan teori Marxisme dalam Mazhab Frankfurt (the Frankfurt School). Pokok pemikiran ini dalam studi media adalah media sebagai sarana pembangunan budaya, dalam cara pikir ini, media membimbing kepada dominasi dari elite industri budaya (culture industries). Dan hasilnya dilaksanakan oleh manipulasi image media dan

(21)

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Bagaimanakah kritik terhadap budaya materialis pada gaya hidup masyarakat modern dalam novel Mr. Maybe karya Jane Green?

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah Budaya ‘Materialis’ pada masyarakat modern dalam novel Mr. Maybe karya Jane Green.

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Manfaat Teoritis

Dapat memperkaya khasanah penelitian di bidang komunikasi, khususnya penelitian mengenai analisis wacana kritis pada karya novel.

1.4.2. Manfaat Praktis

(22)

2.1. Novel Sebagai Media Komunikasi Massa

Komuikasi massa adalah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan dengan menggunakan media cetak dan elektronik antara lain: televisi, radio, koran, majalah, buku, film, dan bertujuan untuk mengirim sejumlah pesan kepada khalayak yang tersebar dan heterogen. Menurut Cecep Syamsul Hari (www.kompas.com kompas cetak), istilah novel berasal dari Italia, novella, yaitu prosa naratif fiksional yang panjang dan kompleks, yang secara imajinatif berjalin-kelindan dengan pengalaman manusia melalu suatu rangkaian peristiwa yang saling berhubungan satau sama lain dengan melibatkan sekelompok atau sejumlah orang (tokoh, karakter) di dalam latar (setting) yang spesifik. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua, novel diartikan sebagai karangan prosa yang panjang, mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat pelaku.

(23)

yang mempunyai fungsi utama untuk menghibur. Selain itu novel juga memberi informasi dan mempersuasi pembacanya.

Dalam arti umum novel diartikan sebagai bentuk karya sastra, novel merupakan struktur yang bermakna. Novel tidak sekadar serangkaian tulisan yang menggairahkan ketika dibaca, tetapi merupakan struktur pikiran yang tersusun.

Isi pesan novel menjadi penting jika berkaitan dengan fungsi novel yang dikemukakan oleh Culler, yaitu novel merupakan wacana yang di dalamnya dan lewatnya masyarakat mengartikulasikan dunia. Di dalam novel kata-kata disusun sedemikian rupa agar melalui aktivitas pembacaan akan muncul suatu model mengenai suatu dunia sosial, model-model personalitas individual, model hubungan dengan masyarakat. Dan yang lebih penting lagi, model signifikasi dari aspek dunia tersebut (Frauk, 2001:47).

Novel sebagai salah satu karya sastra merupakan salah satu bahasa untuk berkomunikasi dengan bidang-bidang lainnya yang berkembang sesuai dengan perubahan masyarakat dimana ia hidup (Sunardi, 2004:14).

Karya sastra sebagai proses komunikasi menyediakan pemahaman yang sangat luas. Menurut Duncan, dalam karya seni terkandung bentuk-bentuk ideal komunikasi, karena karya seni menyajikan pengalaman dalam kualitas antar hubungan (Ratna, 2003:142).

(24)

bermanfaat dalam pengembangan hubungan-hubungan sosial. Karena itulah Duncan menyatakan bahwa kekuatan seni yang sesungguhnya terletak dalam kapasitasnya untuk menerobos tembok pemisah antar manusia (Ratna, 2003:134).

Selanjutnya, DR. Nyoman Kutha Ratna mengatakan bahwa komunikasi sastra merupakan komunikasi tertinggi, karena melibatkan mekanisme unsur-unsur yang paling luas. Schmidt misalnya, menjelaskan bahwa komunikasi sastra melibatkan proses total yang meliputi: a). Produksi teks, yaitu aktifitas pengarang dalam menghasilakn teks tertentu, b). Teks itu sendiri dengan berbagai problematikanya, c). Transmisi teks melalui editor, penerbit, toko-toko buku, dan pembaca nyata, dan d). Penerima teks, melalui aktivitas pembaca, khususnya pembaca implisit (Ratna, 2003:137).

Hubungan karya sastra dengan masyarakat merupan kompleksitas hubungan yang bermakna, antar hubungan yang brtujuan untuk saling menjelaskan fungsi-fungsi perilaku sosial yang trjadi pada saat-saat tertentu (Ratna, 2003:137).

2.2. Ideologi Dalam Karya Sastra

(25)

mengekspresikan, mengabstraksi berbagai ide atau nilai baru. Nilai baru yang mengkritisi penguasa pada zaman tersebut (Satoto, 2000:14).

Sastrawan memang tidak dapat diidentifikasikan sebagai seorang pahlawan dalam arti fisik. Namun tidak dapat diingkari bahwa karya-karya yang mereka lahirkan pada umumnya merupakan suatu bentuk kepedulian yang sangat mendalam terhadap berbagai ‘kepincangan’ yang terjadi pada setiap elemen dan akan terjadi. Melalui karyanya, perjuangan mereka justru tidak terpengaruh oleh terbatasnya ruang dan waktu sehingga tidak pernah selesai (Satoto, 2000:155).

Ideologi merupakan wawasan, harapan maupun suatu kepercayaan secara ideal diyakini dan dipilih sehingga mewarnai sikap dan perilaku individu, kelompok kemasyarakatan, maupun kesukuan dalam menjalani aktivitas kehidupannya (Satoto:47). Penulis-penulis sastra juga beranggapan bahwa ideologi dan politik tidak bisa dipisahkan dengan sastra. Secara ideologis hal tersebut dapat diartikan sebagai keyakinan yang menjadi landsan bagi orang, masyarakat, atau negara untuk melakukan suatu tindakan.

(26)

akan menjadi pengarang lebih kreatif dan arif dalam kondisi yang membelenggunya.

Kekritisan karya sastra dalam menanggapi dan mengekspersikan perkembangan zaman dalam suatu negara, seringkali membuatnya harus berbenturan dengan kekuasaan negara. Adanya tindakan pemasungan dan penekanan terhadap sastrawan memperlihatkan gambaran bahwa negara seringkali memperlakukan karya sastra sebagai alat propaganda dan kepentingan politik. Karya sastra yang tidak sesuai dengan ideologi negara dianggap sebagai suatu hal yang membahayakan negara sehingga terjadilah pelanggaran terbit.

Sastra adalah refleksi kehidupan masyarakat dimana sastra itu dilahirkan. Sastra dalam kenyataannya menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri merupakan kenyataan sosial. Karena itu, dapat disebutkan bahwa karya sastra tidak hanya karya yang bersifat estetik. Sastra dapat digunakan sebagai alat kontrol terhadap berbagai penyimpangan nilai-nilai dari berbagai dimensi kehidupan seperti ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, dan agama (Satoto, 2000).

2.3. Kapitalisme Dalam Karya Sastra

(27)

sekaligus dapat ditumpangi oleh ‘Kapitalisme’ itu sendiri. Seorang pengarang karya sastra memang tidak mungkin melepaskan dimensi pasar dalam pembuatan karya sastra mereka. Dapat dikatakan bahwa selalu ada unsur ‘Kapitalisme’ dalam sebuah karya sastra. Karena karya sastra harus dipasarkan. Itulah sebabnya di setiap massa, selalu ada kecenderungan karya sastra kearah dan model tertentu. Sebagai produk dari sistem ‘Kapitalisme’, karya sastra dituntut untuk dapat memenuhi selera pasar.

Karya sastra Teen-Lit akhir-akhir ini adalah contoh nyata betapa selera pasar menjadi tujuan utama ketika penciptaan karya sastra terjebak dalam arus ‘Kapitalisme’ (Afri Meldam, 2007). Memang benar, sebagian besar novel dan drama yang diterbitkan dewasa ini hanyalah ‘sampah’ saja, pengarang hanya mengulangi apa yang sudah disetujui oleh semua orang dan menyajikan apa yang ingin mereka dengar, sehingga banyak kritik gemar menyalahkan ‘Kapitalisme’ atas apa yang mereka sebut sebagai kebusukan sastra. Tetapi mungkin hal itu perlu untuk mereka renungkan. Bahwa kebusukan sastra tersebut adalah akibat dari ketidakmampuan mereka sendiri dalam menyaring jerami.

(28)

mengamankan uangnya terlebih dahulu. Pemasukan dari penulis tersebut melalui sumber lain dan bukan dari kepenulisannya. Kebanyakan penulis yang miskin bertahan hidup dari kedermawanan para sahabat seni dan sains yang kaya. Para raja dan pengeran juga saling bersaing menjadi penyair dan penulis.

Sejarah memang menunjukkan, menjadi sastrawan memang penuh dengan idealisme, hidup adalah berjuang dalam kesepian. Sementara pada sisi lain, akibat perkembangan teknologi, makin maju. ‘Kapitalisme’ dan ‘Materialis’ menyebar kemana-mana, tawaran-tawaran setiap hari bermunculan dan berdatangan di depan kehidupan manusia, termasuk para sastrawan. Hal ini membuat mereka berjuang dengan sekuat tenaga untuk dapat merebut dan mendapatkan ‘pasar’ tersendiri dengan meluncurkan karya-karya yang berkarakter.

(29)

menciptakan suatu realitas sosial yang melebihi realitas yanng sebenarnya dan dipercaya dapat membawa masyarakat pada suatu kebudayaan baru yaitu Budaya ‘Materialis’.

2.4 Perubahan Sosial dan Budaya Materialis

Berbicara mengenai perubahan sosial, mau tidak mau kita harus membahas mengenai faktor yang menyebabkan perubahan itu terjadi. Untuk mempelajari perubahan pada masyarakat, perlu diketahui sebab-sebab yang melatarbelakangi perubahan tersebut. Jika diteliti lebih mendalam tentang penyebab terjadinya suatu perubahan pada masyarakat, mungkin karena adanya sesuatu yang dianggap sudah tidak lagi memuaskan. Secara garis besar faktor penyebab perubahan sosial dapat dikelompokkan kedalam dua perspektif, yaitu materialistic factors dan idealistic factors.

Kubu perspektif materialis memandang bahwa perubahan sosial terjadi karena adanya faktor material yang menyebabkannya. Faktor material tersebut diantaranya adalah faktor ekonomi dan teknologi yang berhubungan dengan ekonomi produksi. Pada dasarnya, perspektif ini menyatakan bahwa teknologi baru atau moda produksi baru menghasilkan perubahan pada interaksi sosial, organisasi sosial dan pada akhirnya menghasilkan nilai budaya, kepercayaan dan norma.

(30)

perubahan sosial. Marx memberikan penjelasan bahwa pada masa teknologi masih terbatas pada kincir angin memberikan bentuk tatanan masyarakat yang feodal, sedangkan ketika mesin uap telah ditemukan tatanan masyarakat menjadi bercirikan industrial kapitalis. Perspektif ini melihat bahwa bentuk pembagian kelas-kelas ekonomi merupakan dasar anatomi suatu masyarakat.

Peran penemuan teknologi baru di dalam perubahan sosial sangat besar, karena dengan adanya penemuan teknologi baru menyebabkan perubahan moda produksi dalam masyarakat. Masuknya teknologi telah dapat meningkatkan produktivitas dan pada akhirnya menghasilkan kesempatan kerja pada industri-industri baru yang bermunculan di kota besar. Perubahan lain yang sangat mendasar adalah munculnya kelas ekonomi baru yaitu kaum pemilik modal (pengusaha) dan buruh.

Moda produksi merupakan gabungan antara kekuasaan produksi (forces of production) dan hubungan produksi (relation of production). Unsur hubungan produksi disini menunjuk pada hubungan institusional atau hubungan sosial dalam masyarakat yang pada artinya menunjuk pada struktur sosial. Karakteristik hubungan produksi ini sekaligus merupakan faktor penciri yang membedakan satu dan tipe lain dari moda produksi dalam masyarakat.

(31)

lebih yang dihasilkan oleh barang industri tidaklah seimbang dengan ‘pengorbanan’ yang dilakukan oleh buruh. Kapitalisme juga telah membelenggu krativitas buruh. Terlebih dengan adanya introduksi mesin-mesin industri menjadikan buruh semakin tersisih dan persaingan diantara buruh menjadi ketat. Akibat dari semua ini adalah ketidakberdayaan buruh dalam menolak upah rendah, yang ada adalah keterpaksaan bekerja dengan upah rendah daripada harus tidak menerima upah sama sekali.

Marx melihat pada moda produksi kapitalis bersifat labil dan pada akhirnya akan hilang. Hal ini disebabkan pola hubungan antara kaum kapitalis modal dan kaum buruh bercirikan pertentangan akibat eksploitasi besar-besaran oleh kaum kapitalis. Kaum buruh merupakan kaum proletar yang kesemuanya telah menjadi ‘korban’ eksploitasi kaum borjuis. Marx meramalkan akan terjadi suatu keadaan dimana terjadi kesadaran kelas di kalangan kaum proletar. Kesadaran kelas ini membawa dampak pada adanya kemauan untuk melakukan perjuangan kelas untuk melepaskan diri dari eksploitasi, perjuangan ini dilakukan melalui revolusi.

Menurut Marx terdapat 3 tema menarik ketika kita hendak mempelajari perubahan sosial, yaitu :

(32)

2. Perubahan sosial utama adalah kondisi material dan cara produksi dan hubungan sosial serta norma-norma kepemilikan.

3. Manusia menciptakan sejarah materialnya sendiri, selama ini mereka berjuang menghadapi lingkungan materialnya dan terlibat dalam hubungan-hubungan sosial yang terbatas dalam proses pembentukannya. Kemampuan manusia untuk membentuk sejarahnya sendiri dibatasi oleh keadaan lingkungan material dan sosial yang telah ada.

Dalam konsepsi Marx, perubahan sosial ada pada kondisi historis yang melekat pada perilaku manusia secara luas, tepatnya sejarah kehidupan material manusia. Pada hakikatnya perubahan sosial dapat diterangkan dari sejumlah hubungan sosial yang berasal dari pemilikan modal atau material. Dengan demikian, perubahan sosial hanya mungkin terjadi karena konflik kepentingan material atau hal yang bersifat material. Konflik sosial dan perubahan sosial menjadi satu pengertian yang setara karena perubahan sosial berasal dari adanya konflik kepentingan material tersebut.

(33)

Pada dasarnya budaya materialis berasal dari kata budaya dan materialis, dimana definisi budaya itu sendiri adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

(34)

2.5 Gaya Hidup Maasyarakat Modern

Gaya hidup secara luas didefinisikan sebagai cara hidup yang diidentifikasikan oleh bagaimana orang menghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam lingkungannya (ketertarikan) dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga dunia disekitarnya (pendapat), (Sutisna,2001:145).

Gaya hidup merupakan ciri sebuah dunia modern, dengan kata lain siapapun yang hidup dalam masyarakat modern akan menggunakan gagasan tentang gaya hidup yang menggambarkan tindakannya sendiri maupun orang lain yang dapat mempengaruhi kehidupan sosial dan budaya (Chaney,1996:40).

Keragaman kultural yang telah didesak oleh standarisasi kultural yang dilahirkan oleh industrialisme, telah terjadi budaya baru yang disebut Toffler Industriality. Dimana, dalam budaya baru yang memerintahbukanlah raja ataupun

kepala suku, melainkan teknologi yang berasal dari negara barat. Sehingga mempunyai akibat ‘apapun yang dianggap penting oleh barat maka akan dianggap penting dan begitu pula sebaliknya, apapun yang dianggap tidak penting, maka akan diabaikan’ (Ibrahim,2004:201).

(35)

salah satu jenis musik yang sedang naik daun. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya bermunculan fashion dengan medel denim. Sedangkan untuk tempat nongkrong yang masih didominasi dengan hingar bingarnya kehidupan malam yang biasa disebut dengan istilah clubbing, yang kini sudah menjadi gaya hidup remaja maupun separuh baya untuk mencarai kesenangan ataupun untuk menghilangkan penat sesaat (www.jawapos.com akses 21/11/2005 21:15).

Inventory Gaya Hidup

Aktivitas Interest Opini

Bekerja Keluarga Diri mereka sendiri

Hobi Rumah Masalah-masalah sosial

Peristiwa Sosial Pekerjaan Politik

Liburan Komunitas Bisnis

Hiburan Rekreasi Ekonomi

Anggota Klub Pakaian Pendidikan

Komunitas Makanan Produk

Belanja Media Masa depan

Olah Raga Prestasi Budaya

(36)

a. Aktivitas

Merupakan tindakan nyata seperti menonton suatu media, belanja di toko atau menceritakan kepada tetangga tentang pelayanan yang baru. Walau tindakan ini biasanya dapat diamati, alasan untuk tindakan tersebut jarang dapat diukkur secara langsung.

b. Minat

Merupakan tingkat kegairahan yang menyertai perhatian khusus atau terus menerus kepada semacam obyek, peristiwa, atau topik.

c. Opini

Merupakan sebuah jawaban lisan atau tertulis yang diberikan seseorang sebagai respons terhadap situasi stimulus terhadap ‘pernyataan’ yang diajukan. Digunakan untuk mendeskripsikan penafsiran, harapan dan evaluasi seperti kepercayaan tentang maksud orang lain, antisipasi sehubungan dengan peristiwa masa datang dan penimbangan konsekuensi yang memberi ganjaran atau menghukum dari jalannya tindakan alternatif (Engel, 1994:385).

2.6 Materialis dan Perempuan

(37)

Sejak jaman purbakala, lelaki dan perempuan sudah memiliki perannya masing-masing. Lelaki, bertugas untuk mencari uang atau makanan bagi mereka yang hidup di jaman batu dan memenuhi kebutuhan fisik setiap anggota keluarganya. Perempuan, mengelola uang atau makanan yang diperoleh dari pasangan mereka, dan memastikan semua anggota keluarga mendapatkan kebutuhannya.

Masing-masing fungsi tadi, hingga sekarang mewarnai peradaban hubungan lelaki dan perempuan. Inilah yang menjadi alasan logis di balik sifat materialis seorang perempuan. Ya, meski banyak perempuan yang telah memasuki dunia kerja, mereka masih mewarisi sifat materialis dari nenek moyang mereka, terutama saat mencari pasangan hidup. Mereka ingin mendapat jaminan, bahwa kelak calon pendamping mereka ini, tidak sekadar memenuhi kebutuhan batin, tapi juga lahir.

Dengan kata lain, jangan salahkan kalau mahkluk-makhluk indah ini memiliki sifat materialis. Apalagi, berdasarkan penelitian rumah sakit Saint Thomas di London, Inggris, perempuan materialis yang memilih untuk menikah dengan pria kaya, terbukti lebih sehat, panjang umur, dan sedikit terkena penyakit yang berhubungan dengan penuaan.

(38)

saat mengajaknya berjalan-jalan di akhir pekan. Bisa jadi ia kapok untuk berkencan dengan lagi.

Selain itu, meski teman kencan kita mungkin memiliki penghasilan yang jauh lebih besar dan hanya memiliki sedikit sifat materialis bukan berarti kita bisa membiarkan dia membayar semua pengeluaran kalian selama berkencan. Sebagai perempuan, ia merasa tentu dihargai apabila kita mau berkorban untuknya, dengan menyisihkan sedikit uang untuk mentraktirnya berkencan, atau memberikan dia hadiah-hadiah yang berkesan.

Banyak juga perempuan yang luluh apapun kadar materialisnya saat melihat seorang lelaki pekerja keras. Ini karena, gen materialis di dalam tubuhnya akan memberi sinyal, bahwa seorang lelaki pekerja keras tentu akan berusaha keras juga untuk memberi kesejahteraan bagi anggota keluarganya.

2.7 Teori Discourse

(39)

sebuah analisis wacana. Dengan kata lain, analisis wacana menekankan pada kajian bagaimana sebuah realitas sosial dikonstruksikan melalui bahasa dan simbol lainnya menurut cara-cara tertentu yang dipahami sebagai sebuah usaha sistematis untuk menimbulkan efek yang khusus.

Salah satu metode analisis pemikiran manusia adalah yang dikembangkan oleh Michael Faucoult (1926-1984). Ia mengemukakan bahwa manusia pada tiap-tiap zaman menangkap kenyataan dengan cara-cara tertentu. Cara manusia menangkap yaitu dengan cara memandang, dan memahami kenyataan atau disebut ‘episteme’. Karena manusia menangkap kenyataan dengan cara tertentu, maka ia akan membicarakannya dengan cara tertentu. Cara manusia membicarakan kenyataan itu disebut ‘wacana’.

Menurut Foucault, episteme dan wacana itu juga tunduk pada berbagai aturan yang menentukan apa yang dipandang atau dibicarakan dari kenyataan, apa yang dianggap penting dan tidak penting, hubungan apa yang diadakan antara berbagai unsur kenyataan dalam penggolongan dan analisis. Dengan kata lain, setiap zaman memandang, memahami, dan membicarakan suatu kenyataan dengan cara lain.

(40)

Bentuk perjuangan tidak hanya melawan eksploitasi (ekonomi) dan dominasi (sosial, etnis, seksual, agama) saja, namun juga melawan subjection (yakni bentuk penyerahan seseorang sebagai individu, seperti hubungan psikiater dengan pasiennya) (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1996, hal 39).

Selanjutnya Foucault mengatakan bahwa dengan melalui discourse, ‘kekuasaan dan pengetahuan’ (power-knowledge) ini bisa direalisasikan. Ia mengatakan bahwa hubungan antara simbol dan yang disimbolkan itu bukan hanya secara referensial, melainkan juga produktif dan kreatif. Simbol yang dihasilkan Discourse itu, antara lain dapat melalui bahasa, moralitas, hukum, kedokteran, psikologi, kriminologi, dan lain-lain. Tetapi yang paling ‘menakutkan’ adalah kekuatan bahasa. Sebagaimana Inglis menjelaskan pemikiran Foucault tentang simbol yang menghasilakan Discourse dengan mengatakan:

“... all of them (law, criminology, medicine, pshycology, pedagogy, etc) the great intellectual products of the Englightenment’s ditermination to right progess in its road by human reason, as being more instrument of state repressions. Each discipline marks out an are of body and ming for it’s control. Each its brought under the terrible dominaton of languange, the discourse of power”. (Cambridge, Massachusets: Basil Blackwell, 1990, Hal 107). [Keseluruhan produk-produk intelektual masa pencerahan hukum, kriminologi, kedokteran, psikologi, pedagogi, dan sejenisnya, yang arah perkembangannya sangat ditentukan oleh akal manusia, semakin menjadi alat represi negara. Tiap disiplin ilmu membatasi suatu wilayah tertentu dari tubuh dan pikirannya untuk pengontrolnya, yang masing-masing dilingkupi oleh dominasi yang menakutkan dari bahasa, yaitu wacana kekuasaan,

Achmad, 2001].

(41)

yang modern. Jargon ‘rehabilitasi’, ‘disiplin’, dan ‘hukuman’ memperlihatkan kepada kita, bagaimana suatu studi Discourse tersebut. Ditambahkan oleh Julia, itu semua tidak hanya mengacu kepada sesuatu, melainkan turut menghasilkan perilaku, nilai-nilai dan ideologi (Prisma, 1991:70).

2.8 Analisis Wacana Kritis

Suatu pendekatan strukturalis pada studi media memiliki kelebihan karena ia membuka banyak bidang baru bagi analisis dan kritik. Meski demikian pertanyaan tentang asumsi-asumsi strukturalis dan metodenya masih tetap ada, dan kita masih sangat jauh dari mendapatkan jawaban yang memuaskan mengenai hal ini, sebagian jawabannya tetap diluar ruang lingkup penelitian ini.

Tetapi jika ada yang yakin pada pendirian bahwa khalayak media seharusnya diberi peran subyek, yaitu peran “agen-aktif” dalam produksi pesan, suatu agen yang mampu membangun makna dari bahasa media, maka kiranya juga penting terus berpegang pada asumsi bahwa bahasa dan makna ada dalam konstruksi sosial. Meskipun tujuan metodologi dan penelitian yang digunakan dalam kajian bahasa menentang tren ini, namun dewasa ini “masyarakat” dan “kritik” telah menjadi kata-kata kunci dalam berbagai pendekatan baru pada kajian bahasa dan penerapannya pada analisis media sebagai wacana.

(42)

tujuan mengkaji “perilaku bahasa” dalam situasi pembicaraan natural yang memiliki relevansi sosial (Language, Power and Ideology: Studies in Political Discourse, London: Benjamin Publishing Company, 1989). Wodak juga

menekankan adanya kepentingan “beragam konsep teoritis dan metodoloogis” dan menunjukkan bahwa konsep-konsep ini juga dapat dipakai untuk “menganalisis persoalan relevansi sosial”, sambil berusaha mengungkapkan “ketidaksejajaran dan ketidakadilan” yang ada. Wodak mengedepankan dan mendorong pemakaian “multiple methods” dalam penelitian bahasa disamping juga menekankan pentingnya mengenali aspek-aspek “historis dan sosial”.

(43)

Analisis wacana kritis (CDA) telah membuat kajian bahasa dengan alat interdislipiner dan telah dipakai oleh para sarjana dengan berbagai latar belakang, termasuk kritik media. Yang paling penting, analisis wacana krisis tersebut menawarkan kesempatan untuk mengadopsi perspektif sosial dalam teks media secara lintas budaya (cross-cultural study). Seperti dikatakan oleh Gunter Kress, CDA punya “agenda politik yang jelas”, yang berfungsi untuk menyelidiki CDA dari jenis analisis wacana lain dan linguistik teks, serta “pragmatis dan sosiolinguistic”. Meski sebagian besar analisis wacana beupaya memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai aspek-aspek sosio-kultural teks. CDA bertujuan memberikan penjelasan mengenai produksi, struktur internal, dan keseluruhan organisasi teks”. Salah satu perbedaan pentingnya, yaitu CDA “bertujuan menyediakan dimensi kritis dalam penjelasan teks secara teoritis dan deskriptifnya” (Robert Kaplan Ed, Annual Review of Applied Linguistic, Vol II, 1990).

Yang lebih penting, menurut definisi Kress, CDA memperlakukan bahasa sebagai jenis praktek sosial yang dipakai untuk representasi dan signifikasi (termasuk visual image, music, gestures, dan lain-lain). Teks diproduksi “oleh pewicara dan penulis dalam situasi sosial”. Hubungan para partisipan dalam memproduksi teks tidak selalu sejajar: terjadi range dari solidaritas sempurna (complete solidarity) sampai ketidaksejajaran yang sempurna (complete

inequality). Makna hadir melalui interaksi antara pembaca dan penerima, dan

(44)

yang terkait erat dengan social positionings. Sejarah harus dijelaskan sebagai “waktu yang berinfleksi” secara ideologis dan politis. Akhirnya, analisis yang tepat dan “deskripsi materialitas bahasa” merupakan faktor-faktor yang selalu menjadi karakteristik CDA.

Kress menekankan bahwa “bentuk bahasa apapun tidak punya makna yang pasti, ia juga tidak mempunyai signifikasi atau fungsi ideologis,” akibatnya, “pernyataan-pernyataan yang pasti dan terbatas yang merupakan suatu wacana merupakan ekspresi dan ideologi dan diorganisasikan oleh ideologi spesifik itu...” Bahasa, “tidak pernah bisa muncul dengan sendirinya-bahasa selalu muncul sebagai representasi dari sistem istilah-istilah linguistik itu mewujudkan dirinya sebagai sistem diskursif (wacana) dan ideologis...”

Pewicara (atau penulis) mengungkapkan muatan ideologis dalam teksnya dan demikian juga bentuk linguistik suatu teks. Teks-teks diseleksi dan mengorganisasikan bentuk-bentuk sintaks yang content-structure nya mencerminkan organisasi ideologis dari bidang kehidupan sosial tertentu.

2.9Metode Teun Van Dijk

(45)

dalam “konteks sosial-budaya” yang lebih penting. Van Dijk menyatakan bahwa titik-berat pada “struktur teks atau struktur percakapan” memperoleh formworknya dari “konteks kognitif, sosial historis, kultural atau konteks politik”

(Newyork, Routledge, 1991:31).

Ideologi juga memainkan “peran krusial” dalam metode analisis Van Dijk. Bagi Van Dijk “ideologi” dipandang sebagai “kerangka kerja interpretasi” yang “mengorganisasikan sikap” tentang unsur-unsur lain masyarakat modern. Karena itu, ideologi memberikan “fondasi-kognitif” bagi sikap berbagai kelompok di masyarakat, serta memberi dukungan pada tujuan dan kepentingan mereka sendiri.

(46)

Proses pembentukan “kepercayaan dan opini”, menurut Van Dijk, yang menguntungkan disini adalah suatu kelompok tertentu belumlah final. Van Dijk menyatakan bahwa ideologi pada dasarnya bukanlah merupakan bentuk kesadaran yang “keliru”, sebagaimana yang terjadi dalam banyak teori ideologi tradisional. Perbedaan antara ideologi kelompok dan kepentingan kelompok mengisyaratkan bahwa hubungan kekuasaan di masyarakat juga dapat direproduksi dan dilegitimasi pada tataran ideologis, yang berartiuntuk mengontrol orang lain, mungkin akan sangat efektif mengontrol sikap kelompoknya dan ideologi penghasil sikap yang lebih fundamental. Dalam situasi demikian, khalayak akan bersikap sekehendak hatinya sesuai kepentingan orang-orang kuat. Tesis Van Dijk, seperti halnya Wodak dan Kress, mengimplikasikan bahwa pelaksanaan kekuasaan di masyarakat modern dan demokratis tidak lagi bersifat cercive (pemaksaan), tetapi bersifat persuasif, yaitu bersifat ideologis.

Elemen penting lain dari tesis Van Dijk, khususnya seperti yang berlaku pada pendekatan intercultural pada analisis media, adalah “analisis sistematis implicitness”. Wartawan dan pengguna media mempunyai “model mental tentang

(47)

2.10 Teori Marxisme Dalam Mazhab Frankfurt

Salah satu perspektif yang memotret perkembangan masyarakat dan budaya modern secara kritis adalah kajian komunikasi yang bersumber dari Krl Marx (1818-188) yang kemudian disebut Marxisme. Dalam perkembangannya, Marxisme dadopsi oleh beberapa kelompok intelektual untuk menganalisis masyarakat Kapitalisme Modern.

Pokok pemikiran ini dalam studi media adalah mediasebagai sarana pembangunan budaya. Dalam cara pikir ini, media membimbing kepada dominasi elite industri budaya (culture industries). Hasilnya adalah dilaksanakan oleh memanipulasi image media dan simbol-simbol untuk menguntungkan kepentingan kelas yang dominan. Budaya massa lahir dari komunikasi massa yang menurut mereka merupakan bentuk budaya afirmatif yang ditandai dengan kmodifikasi, massifikasi, dan standarisasi. Massifikasi dan standarisasi dalam budaya massa terjadi sebagai akibat dari proses yang massif, sedangkan komodifikasi berarti peralihan nilai guna (use value), komoditas ke dalam nilai tukar (exchange value) atau bahkan nilai tanda (sign value) semata.

(48)

masyarakat dalam proses yang “historis” dan dialektik, 3) Tidak memisahkan teori dan praktis dan tidak melepaskan fakta dari nilai hanya untuk mendapatkan hasil obektif semata (Takwin, 2003:104).

Sikap kritis Marxisme dalam Mazhab Frankfurt tertuju pada satu sasaran: Rasio Instrumental, yaitu rasio yang melihat realitas sebagai potensi untuk dimanipulasi, ditundukkan dan dikuasai secara total. Rasio jenis ini memandang realitas, alam dan manusia sebagai objek klarifikasi, konseptualisasi, dan perlu ditata secara efisien untuk tujuan yang dianggap penting oleh kekuasaan. Rasio tersebut secara luas dan detail digunakan oleh kapitalisme untuk menciptakan “kebutuhan-kebutuhan” palsu diantaranya melalui rekayasa iklan. Dalam masa kapitalisme mutakhi, manusia didistorsi dari kebutuhan sejatinya menjadi individu yang otonom, kreatif, independent, dan menciptakan sejarah sendiri-sendiri menjadi manusia sebaliknya (Takwin, 2003:109).

(49)

kehidupan bermasyarakat. Sedangkan literatur, sebagai produk budaya, adalah suatu bentuk ideologi, yang memperkuat kelas atas.

Walaupun para praktisi Marxis telah menafsirkan teori Marx dalam cara berbeda, sebagai Marxis mereka akhirnya tetap kembali pada beberapa konsep sentral Marx: gagasan tentang keadaan sosial mempengaruhi kesadaran, dan sistem dasar atau bentuk superstruktur. Contohnya, kritikus Inggris, Raymond Williams menggunakan beberapa istilah sebagai budaya peninggalan dan budaya berkembang untuk merubah sistem dasar atau bentuk superstruktur, bukan mempertanyakannya.sepintas, istilah-istilah seperti “hegemoni”, yaitu sejenis penipuan dimana individu melupakan keinginannya sendiri dan menerima nilai-nilai dominan sebagai pikiran mereka, yang bukan merupakan bagian dari teori Marx, digunakan kritikus untuk memenuhi aplikasi konsep Marxis yang lebih besar.

(50)

Kritik sastra Marxis dapat dianggap sebagai reaksi pada teori-teori rigid para New Critics (Kritisi Baru). Tidak seperti mereka, yang memeandang tes sebagai kesatuan yang utuh, Marxis seara umum memusatkan pada ketegangan yag tidak terpecahkan dalam karaya literatur. Walaupun kritik Marxis sama-sama mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kritik strukturalis, dan kritik post-strukturalis, ia sangatlah berbeda di dalam penolakan untuk memisahkan literatur dan bahasadari masyarakat. Kritik Marxis adalah materialis, karena itu ia lebih uum dengan teori yang berpusat pada bagaimana fungsi literatur di dalam sosial, politik dan struktur ekonomi dibandingkan dengan teori yang hanya bertumpu pada teks. Kritik Marxis mempunyai pengaruh besar pada feminisme, historisme baru, dan cultural studies (studi kultural). Sebagai sistem yang mencari sebab di bawah permkaan masyarakt, kritik Marxis mempunyai kesamaan secara umum dengan kritik psikoanalisa. Faktanya adalah, kemungkinan untuk membuat perbandingan tajam antara corak dasar dan superstruktur Marxis dan pemikiran Fredian tentang ketidaksadaran dan kesadaran.

2.11 Kerangka Analisis

(51)

masyarakat, dimana kesadaran memberikan peranan dalam orientasi hidup manusia di dunia (Suyabarata, 1982:158). Kesadaran manusia dewasa ini dibangun secara langsung berdasarkan penindasan atau merupakan hasil tidak sadar dari individu yang bebas dalam bentuk ekonomi borjuis, aktivitas masyarakat adalah buta dan konkrit, aktivitas individu-individu adalah abstrak dan sadar (Sindunata, 1983:76).

Mayarakat mau tidak mau mengkonsumsi media masa dengan hanya menjadi pembaca, pendengar, atau penonton yang pasif. Sedangkan media yang cenderung menyebarkan ideologi dari kelas yang berkuasa akan menekan kelas-kelas tertentu sehinga ideologi yang dibawa oleh media akan merasuki masyarakat, dan masyarakat bertindak sesuai dengan apa yang digambarkan atau dicontohkan oleh media massa.

Dapat ditarik “benang merah” bahwa masalah telah menelan mentah-mentah dan percaya sepenuhnya pada “realitas sosial” citraan media. Fenomena “hiperealitas media” ini dipercaya masyarakat sebagai cerminan dari kehidupan yang sebenar-benarnya, hingga membuat masyarakat rela melakukan apa saja demi mendapatkan “realitas” tersebut. Pada kenyataannya manusia terjebak pada mitos yang lebih irasional lagi: mitos rasionalitas pada efisiensi pasar, sehinga hubungan antar manusia menjadi komoditi (Majalah Basis, 2004:4), hal ini menyebabkan munculnya “Budaya Materialis” dalam masyarakat.

(52)

perempuan ditampilkan dalam teks, baik dalam novel, gambar, foto, ataupun dalam berita. Beberapa teori yang mendasari penulis dalam melakukan analisis, antara lain: a) Novel Sebagai Media Komunikasi Massa, dimana novel dapat merangsang minat baca masyarakat, memberikan informasi, serta menghibur masyarakat. b) Ideologi Dalam Karya Sastra, yaitu wawasan, harapan, maupun sistem kepercayaan secara ideal diyakini dan dipilih sehingga mewarnai sikap dan perilaku individu. c) Kapitalisme Dalam Karya Sastra, unsur yang selalu ada dalam sebuah karrya sastra, sehingga di setiap masa selalu ada kecenderungan karya sastra ke arah dan model tertenu. d) Perubahan Sosial dan Budaya

Materialis, menjelaskan hubungan antara perubahan sosial dengan budaya

materialis. e) Gaya Hidup Masyarakat Modern, hal ini mendefinisikan dan mencoba mencai hubungan tentang gaya hidup masa kini dan materialis. f)

Materialis dan Perempuan, menunjukkan adanya suatu relevansi antara

materialis dan perempuan, menempatkan perempuan sebagai sosok yang identik dengan ‘Materialis’. g) Teori Discourse, teori yang secara luas digunakan dalam analisis sosial untuk merujuk berbagai cara menstrukturkan pengetahuan dan praktek sosial. h) Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis), teori yang meganalisis budaya ‘Materialis’, baik dari segi konteks, maupun historisnya.

i) Metode Teun Van Dijk, menyatakan bahwa titik-berat pada “struktur teks atau struktur percakapan” memperoleh formwork nya dari koneks kognitif, sosial historis, cultural atau konteks politik (Newyork,Rotledge, 1991). j) Teori

Marxisme dalam Mazhab Frankfurt, yang mengulas tentang masyarakat

(53)

Teori-teori tersebut akan dihubungkan dengan struktur-struktur seperti norma, kultur dan nilai-nilai di masyarakat. Sehingga nantinya akan menjadi unsur yang berpengaruh bagi penulis dalam memproduksi sebuah novel. Sehingga novel dapat diterima baik oleh pasar dan juga masyarakat. selanjutnya alur dalam penelitian ini dapat dilihat melalui bagan di bawah ini:

Gambar 1: Alur Analisis Penelitian CDA pada novel “Mr. Maybe” Novel:

MR. Maybe

Analisis Dengan Menggunakan Teori-Teori:  Novel sebagai media komunikasi massa  Ideologi dalam karya sastra

 Kapitalisme dalam karya sastra

 Perubahan sosial dan budaya materialis  Gaya hidup masyarakat modern

 Materialis dan perempuan  Teori Discourse

 Analisa wacana kritis  Metode Teun Van Dijk  Mazhab Frankfurt

(54)

Dalam dunia sastra Indonesia sendiri beberapa tahun belakangan ini, banyak penulis bermunculan dengan mengetengahkan pendobrakan terhadap kultur patriarkis dan melawan stereotype di masyarakat bahwa perempuan merupakan sosok yang lemah lembut, lemah fisik, tergantung pada laki-laki, dan hanya bisa berperan dalam struktur domestik.

Dan salah satu novel yang juga mendobrak budaya patriarkis adalah novel MR. Maybe. Novel ini mencoba utuk mengangkat cerita tentang ‘perempuan’

yang bernama Libby Mason, yag terjerumus dalam salah satu permasalahan yang sering terjadi dan dialami oleh perempuan metropolitan, yaitu Materialis. ampai pada suatu hari tanpa disadari, kebiasaan Libby telah menghadapkannya pada permasalahan hidup yang begitu banyak. Dan dengan mengangkat tema “segar” tersebut, MR. Maybe telah dapat dterima baik oleh masyarakat, serta menarik minat masyarakat untuk membaca novel tersebut.

Dalam penciptaan ebuah karya, tentu tidak akan bisa lepas dari Frame of Reference, dan Field of Experience penciptanya. Apa latar belakang yang

mendasari pengarang tersebut menciptakan sebuah karya yang mendobrak budaya patriarkis dengan menampilkan sosok perempuan metropolitan yang mandiri dan tanguh, namun juga sarat akan masalah.

(55)

oleh Foucoult. Dengan menggunakan CDA, penulis dapat mengetahui adanya konteks dan segi historis dibalik teks di dalam sebuah novel.

Sedangkan metode analisis teks media yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis wacana ‘Marxisme’ dalam Mazhab Frankfurt. Dalam pandangan yang dikemukakan Karl Marx, titik perhatiannya adalah bagaimana masyarakat pada kapitalisme modern, yang mana masyarakat telah diperbudak oleh sistem kapitalisme itu sendiri serta kehidupan sosial individu yang dipengaruhi oleh kekuatan politik dan ekonomi. Marx juga memusatkan perhatian pada media sebagai sarana pembangunan budaya. Media, yang telah banyak mengalami manipulasi image untuk menguntungkan kepentingan kelas yang dominan membimbing masyarakat kepada dominasi dan elite industri budaya.

Penulis juga menggunakan metode Teun Van Dijk, dimana metode ini menawarkan pendekatan berdasarkan tiga struktur tingkatan: struktur makro, supra, dan mikro. Dimana CDA secara teoritis bertugas untuk menutupi “gap” antara pendekatan makro dan mikro tersebut atau untuk mencapai kebutuhan analisa (Alexander, et al, 1987;Knorr-cetina&Cicourel, 1981). Metode ini juga menganalisa bagaimana wacana mengontrol pikiran seseorang, maka dari itu harus dpisahkan antara mental representation dan cognitive operation (lebih jelasnya lihat, Graser & Brower, 1990; Van Dijk & Kintsstch, 1983; Van Oostendorp & Zwaan, 1994; dan Weaver, Mannes & Fletcher, 1995).

(56)

representation, hal ini disebut mental model, yang terdiri dari pengetahuan dan opini yang terakumulasi selama hidupnya (Van Dijk, 1998). Dan kedua, social representation seperti pengetahuan sosio-budaya, sikap atau ideologi, atau ini merupakan pengalaman kolektif atau specific historical event.

Kontrol tersebut akan menjadi sebuah dominasi (power abuse) jika ini merupakan kepentingan dari powerful group dan mengabaikan kepentingan yang lainnya (terjadinya manipulasi). Dalam riset CDA dinyatakan bahwa kontrol tersebut mempengaruhi pengetahuan (factual beliefs) dan socially shared opinion (evaluative beliefs) seperti sikap dan ideologi kelompok. Hal ini juga

dikemukakan dalam Marxisme bahwa adanya masyarakat kelas-kelas tertentu yang dominan yang menekan masyarakat kelas bawah, agar masyarakat kelas bawah mau tidak mau mengikuti ideologi, aturan, atau apapun yang masyarakat kelas atas inginkan. Praktek ini dilakukan secara tidak langsung yaitu melalui media massa, sehingga dapat dikatakan media yang telah ditumpangi oleh adanya suatu ‘kepentingan dan kekuatan’ sebagai “mesin” konstuksi sosial telah memberikan pengaruh kepada masyarakat dalam pembentukan pengetahuan, opini, pengetahuan sosio-budaya, sikap dan ideologi di dalam masyarakat.

(57)

dapat dilihat pada dua level yaitu global dan lokal. Contoh level global seperti tema, headline berita, atau tema novel mempengaruhi pikiran orang dengan lebih powerfull, karena ini dianggap sebagai informasi yang sangat penting. Peristiwa ini disebut preferred mental model (Duin, et al, 1998; Van Dijk, 1991). Dan untuk level lokal, dimana dinyatakan bahwa wacana secara implisit memberikan keyakinan dan kepercayaan atau ini dikategorikan sebagai jenis manipulasi.

Seperti dijelaskan diatas, dominan group, khususnya kaum elit, sangat powerfull dalam mengontrol wacana publik dan strukturnya (melalui abuseof

power), tetapi yang sebenarnya terjadi bahwa tidak selalu setiap orang dapat

terpengaruh oleh teks atau apa yang dibicarakan. Hal ini menunjukkan ternyata struktur wacana tidak dapat sepenuhnya mempengaruhi formasi dan merubah mental model serta social representation. Jadi yang menghubungkan wacana dan masyarakat itu adalah kognisi dan kognisi memiliki tingkat komplektisitas yang tinggi. Karena dalam masyarakaat ada banyak kolusi, konsensus, dan bahkan joint production dalamketidaksempurnaan (inequality).

(58)

Di dalam Marxisme, dimana masyarakat kapitalis nerorientasi pada Human Having dan bukan Human Being, sehingga menjadikan budaya seperti materialis

adalah sangat penting untuk mendapatkan prestise dan status sosial ‘kelas atas’ dalam masyarakat. Yang pada satu sisi, materialis ini memiliki kiblat yaitu budaya barat. Sehingga menjadikan gambaran yang lebih stereotip dan negatif terhadap masyarakat barat yang dipersepsikan sebagai masyarakat yang senang dengan gaya hidup mewah, hidup sejahtera yang mengesahkan segala tindakan untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Hal ini menunjukkan bagaimana wacana menggambarkan dan mereproduksi representasi sosial dalam konteks sosial dan politik.

(59)

3.1Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metde penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi suatu obyek yang alamiah dimana peneliti merupakan instrumen kunci. Selain itu, metode kualitatif juga berusaha untuk memahami tingkah laku manusia yang tidak cukup hanya dengan surface behavior semata, tetapi juga melihat prspektif dalam diri manusia untuk

mempunyai gambaran yang utuh tentang manusia dan dunianya (Mulyana, 2001:32). Realitas dilihat sebagai sesuatu yang kompleks, antara satu sama lain berhubungan sehingga merupakan satu kesatuanyang bulat dan bersifat holistik.

Sedangkan tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe penelitian deskriptif, atau pemaparan dengan menggunakan data kualitatif. Seperti dikatan oleh Jalaludin Rahmat dalam Abror (2006:46), penelitian deskriptif adalah penelitian yang secara sistematis menuliskan fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertenu secara faktual dan cermat.

Penelitian ini menggunakan analisis wacana kritis (Critical Discourse Analysis) dengan pendekatan Madzhab Frankfurt oleh Karl Marx yang sering

(60)

sosial ciptaan media yang dipenuhi oleh konotasi-konotasi dan ditumpangi oleh kekuatan-kekuatan yang ada di sekitarnya. Serta bagaimana suatu budaya dapat mempengauhi manusia dalam menginterpretasikan pesan yang disampaikan melalui media, yang pada akhirnya media tersebut melalui “objek” akan kembali membentuk suatu kebudayaan baru.

3.1.1. Critical Discourse Analysis

Critical Discourse Analysis atau yang biasa disebut dengan analisis

wacana kritis adalah sebuah metode yang dikembangkan oleh Michael Foucoult. Yaitu suatu pendekatan strukturalis pada studi media yang memiliki kelebihan karena ia membuka banyak bidang baru bagi analisis dan kritik. Ruth Wodak yang menulis dalam Language, Power, and Ideology, mendefinisikan bidangnya yang disebut “critical linguistic”, sebagai pendekatan interdislipiner pada kajian bahasa dengan sudut pandang kritis untuk tujuan mengkaji “perilaku bahasa dalam situasi pembicaraan natural yang memiliki relevansi sosial (Language, Power, and Ideology: Studies in Political Discourse, London: Benjamin

(61)

Analisis wacana kritis (CDA) telah membuat kajian bahasa dengan alat interdislipiner dan telah dipakai oleh para sarjana dengan berbagai latar belakang, termasuk kritik media. Yang paling penting, analisis wacana tersebut menawarkan kesempatan untuk mengadopsi perspektif sosial dalam kajian teks media secara lintas budaya (cross-cultural study). Seperti dikatakan oleh Gunter Kress, CDA mempunyai “agenda politik yang jelas”, yang berfungsi untuk menyelidiki CDA dari jenis analisis wacana lain dan linguistik teks, serta “pragmatis dan sosiolinguistik”. Meskipun sebagian besar analisis wacana berupaya memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai aspek-aspek sosio-kultural teks. CDA bertujuan memberikan penjelasan mengenai produksi, struktur internal, dan keseluruhan “organisasi teks”. Salah satu perbedaan pentingnya, yaitu CDA “bertujuan menyediakan dimensi kritis dalam penjelasan teks secara teoritis dan deskriptisnya” (Robert Kaplan Ed, Annual Review of Applied Linguistic, Vol II 1990).

Yang lebih penting, menurut definisi Kress, CDA memperlakukan bahasa sebagai jenis praktek sosial yang dipakai untuk representasi dan signifikasi (termasuk visual image, music, gestures, dan lain-lain). Teks diproduksi “oleh pewicara dan penulis dalam situasi sosial”. Hubungan para partisipan dalam memproduksi teks tidak selalu sejajar: terjadi rage dari solidaritas sempurna (complete solidarity) sampai ketidaksejajaran yang sempurna (complete

inequality). Makna hadir melelui interaksi antara pembaca dan penerima, dan

(62)

berlainan pada bahasa itu sendiri, yang terkait erat dengan social postionings. Sejarah harus dijelaskan sebagai “waktu yang berinfleksi” secara ideologis dan politis. Akhirnya, analisis yang tepat dan “deskripsi materialis bahasa” merupakan faktor-faktor yang selalu menjadi karakteristik CDA.

3.1.2. Analisis Teks Media

Menelaah novel-novel yang telah ditulis oleh Jane Green, penulis menemukan salah satu ciri khas Jane yaitu, selalu menulis novel dengan latar belakang gaya hidup (lifestyle). Karena ia berpendapat bahwa lifestyle merupakan suatu hal yang dapat menjadi masalah kronis. Problem itulah yang kemudian diangkat Jane pada setiap novelnya. Dengan latar belakang pekerjaan sebagai Jurnalis dan Publisis di Inggris, Jane dapat dengan mudah mengungkap secara detail persoalan-persoalan seputar gaya hidup.

Jane juga berpendapat bahwa gaya hidup adalah suatu emotional subject, yang dapat memberikan pengaruh pada setiap kehidupan manusia, meskipun setiap manusia selalu berpikir bahwa hal tersebut “tidak seharusnya” terjadi. Dan Jane menganggap topik gaya hidup tersebut sangatlah menarik untuk dibicarakan dan diulas.

(63)

ideologi yang hanya berorientasi pada kehidupan duniawi, yang kemudian menciptakan sebuah masyarakat konsumer, yang semakin lama semakin berkembang mengikuti zaman.

Sebagai “bacaan hiburan”, novel Jane diakui memuat pesan yang sangat besar, yaitu “tidak selalu tentang uang”. Beberapa ide lainnya juga didapat dari pengalaman pribadi Jane sendiri, salah satu contohnya adalah ketika dirinya berada dalam masalah besar yang menyangkut kelangsungan hidupnya di masa depan, kebingungan ketika memilih seorang pengusaha kaya raya atau seorang seniman untuk menjadi pendamping hidupnya kelak. Dan tentu saja tidak hanya dirinya, hal tersebut juga dapat terjadi pada siapa saja.

Adanya kecocokan antara realita kehidupan sosial masyarakat di New York City dengan novel MR. Maybe rupanya memberikan berkah bagi Jane. Novel tersebut dapat diterima oleh masyarakat New York City dengan sangat baik, hingga terjual jutaan copy lebih. Dengan menggunakan gaya bahasa yang santai dan menghibur, masyarakat dapat dengan mudah memahami isi dalam teks yang disampaikan oleh novel tersebut, secara tidak langsung menerima pembelajaran tentang materialis sebagai anak Budaya Konsumerisme, beserta tanda-tanda, sebab, dampak, sekaligus cara mengatasinya.

3.1.3. Konteks Sosial

(64)

sendiripun pasti berbeda. Jika ada suatu kesamaanpun, tidak akan mungkin memiliki kesamaan yang sama persis. Perlu diketahui bahwa pada dasarnya pemahaman masyarakat terhadap informasi pasti berbeda di setiap masa atau zamannya, dan hal ini kembali lagi dilatar belakangi oleh adanya perkembangan budaya, ekonomi, dan politik pada tiap masa. Hal inilah yang nantinya akan memicu terjadinya “perbedaan” kehidupan sosial masyarakat di setiap masa.

Beberapa pakar berpendapat bahwa konsumerisme sebagai bentuk hegemoni budaya barat terhadap dunia ketiga, sebagaimana telaah terhadap pemikiran Antonio Gramsci oleh Hamzah Fansuri (Siswanta, 2006:33). Yang dimaksud dengan budaya barat disini adalah budaya dari New York itu sendiri. Louis Althusser (1971) pernah berkata bahwa proses yang diinjeksikan (ideological state apparataus) yang sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan

(repressive state apparatus). Aparat ideologis tersebut dalam konstelasi

ekonomi-politik kontemporer ternyata telah memungkinkan negara penganut paham Kapitalisme seperti New York yang hingga saat ini berhasil mempertahankan eksistensinya tanpa melakukan kekerasan secara langsung.

(65)

berkuasa oleh masyarakat luas, yang diekspresikan melalui mekanisme opini publik seperti melalui media massa yaitu koran, internet, televisi, dan sebagainya.

Dengan mengacu pada konsep hegemoni tersebut, realitas sosial dan budaya masyarakat dunia ketiga yang menjadi objek sasaran dalam tulisan ini, secara langsung maupun tidak langsung telah dipengaruhi oleh faktor penggerak dari luar lingkup tersebut, yaitu perkembangan ekonomi dalam tingkatan global. Hegemoni lebih dilihat sebagai bentuk dominasi dan perkembangan ideologi kapitalisme. Didalam arus besarnya, kapitalisme telah merambah setiap sendi kehidupan umat manusia dari persoalan kebutuhan hidup dasar sampai kepada bentuk kebutuhan yang bersifat pelengkap (komplementer). Dalam proses tumbuh dan berkembangnya ideologi kapitalisme inilah paham materialis ikut bertahan, bahkan telah menjadi mainstream dari masyarakat modern di dunia sampai saat ini, termasuk pula masyarakat Indonesia.

Indonesia sendiri di mata dunia diposisikan sebagai negara dunia ketiga, yaitu negara miskin yang baru saja berkembang. Maka doktrin yang berlaku di masyarakat seolah-olah mengharuskan manusia yang lahir di negara tersebut untuk dicetak sebagai kelas pekerja atau class worker. Kelas pekerja ini tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi, maka tidak heran jika kelas pekerja hanya ahli dalam satu hal: membeli atau mengkonsumsi. Sehingga masyarakat negara-negara di dunia ketiga (termasuk Indonesia) ini memang cenderung untuk lebih konsumtif dibanding di negara-negara maju.

(66)

seimbangan dalam banyak aspek. Hegemoni dunia materialis ini juga telah menggeser nilai-nilai budaya yang ada di setiap sendi-sendi kehidupan masyarakat indonesia. Dan saat ini, materialis telah mendunia, dan ideologi kebangsaan suatu negara pun menjadi semakin jelas muaranya, yaitu materialis. Hal ini terjadi karena hasil akumulasi liberalisasi dengan ideologi kapitalis yang kemudian menghegemoni kesadaran dunia di dalam kemajuan suatu negara. Akibatnya, mereka yang hidup di dunia ketiga, termasuk Indonesia, menjadi sapi perahan bagi negara-negara maju, yaitu eksploitasi besar-besaran sumber daya alam, sumber daya manusia, budaya, dan lainnya.

Gambar

Gambar 1: Alur Analisis Penelitian CDA pada novel “Mr. Maybe”

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian 1m bertujuan untuk mengetahui bagaimana media, khususnya film, merepresentasikan atheisme dalam film Novel Tanpa Huruf "R" sekaligus mengetahui wacana

(Studi Analisis Wacana Kritis Sara Mills Representasi Perempuan Dalam Teks Novel Diary Pramugari : “Seks, Cinta &

Peneliti membatasi wacana musik dalam sebuah media sebagai wacana nilai fungsional musik dan wacana nilai komoditas musik. Setiap wacana ini berlangsung dari proses

Dalam penelitian ini disajikan analisis wacana kritis terhadap karya sastra, yaitu teks novel yang berjudul Negeri Para Bedebah.. karya Tere Liye

Analisis wacana kritis merupakan proses penguraian atau suatu upaya dalam mengeksplanasi teks (dimensi sosial) yang dikaji oleh seseorang atau kelompok dominan yang

Skripsi Wacana Identitas Imigran Dalam .... Ida

Dalam aspek produksi teks, pengarang lagu “Imagine” dalam hal ini John Lennon memiliki peran penting sebagai yang menggantungkan diri pada sumber otoritatif tertentu

Hasil penelitian ini adalah secara struktur makro, super struktur, dan struktur mikro, wacana bisa digunakan sebagai sebuah sarana untuk pembentukan opini bahwa perilaku tersangka