• Tidak ada hasil yang ditemukan

Materialisme

Dalam dokumen MARXISME DALAM PERSPEKTIF TAN MALAKA (Halaman 49-55)

BAB IV MARXISME DALAM PERSPEKTIF TAN MALAKA

A. Pokok-pokok Ajaran Marxisme Tan Maalaka

1) Materialisme

41

Materialisme sebenarnya berarti pandangan yang menyatakan bahwa yang ada hanyalah materi dan segala apa yang ada mesti berasal dari materi. Kebenaran yang hakiki adalah indra yang melihat materi. Lawan materialisme adalah idealisme, metafisika dan spiritualisme yang mengakui adanya dimensi rohani yang bukan merupakan produk materi3.

Dilihat dari sejarah perkembangannya, filsafat materialisme sudah ada semenjak zaman Yunani kuno, salah satu tokohnya adalah Thales. Materialisme diartikan sebagai pandangan yang menganggap realitas merupakan permulaan dalam bentuk materi (benda nyata). Misalnya Thales menganggap asal mula alam adalah air.

Dalam pembahasan ini, Tan Malaka mengawalinya dengan

pengklasifikasian filsuf ke dalam dua golongan. Pengklasifikasian atas dua madzhab ini sudah sangat lumrah di lakukan semenjak Engels memisahkan ahli filsafat dari zaman Yunani hingga masa hidupnya menjadi dua kelompok, yakni Idealisme dan Materialisme. Menurut pemisahan ini, pada madzhab Idealis akan didapati tokoh seperti Plato (427-347SM), Hume (1711-1776), Berkeley (1658-1753) dan berpuncak pada Hegel (1770-1831). Segaris dengan itu pada Materialis akan kita temui sebaris tokoh seperti Herakleitos (W. 480 SM), Demokritos (460-370 SM), dan Epikuros (341-270 SM), Diderot (1713-1784), Lamartine (1709-1751) dan berpuncak pada Marx (1818-1883) dan Engels (1820-1862). Namun di antara tokoh yang disebutkan di atas juga didapati

3Franz Magnis Suseno, Dalam Bayangan Lenin-Enam Pemikir Marxisme dari

banyak ahli filsafat yang bercampur, yakni setengah Idealis dan setengah Materialis.

Materialisme menghadirkan materi sebagai ada yang dapat dipercaya dengan indra sebagai alat validasinya. Memang benar pada akhirnya materialisme ini akan menuju sebuah pemikiran baru yaitu empirisme. Materi yang dimaksud di sini ialah ada yang dapat diindra, baik itu melalui indra penglihatan yang menampilkan bentuk pada manusia, indera peraba yang menampilkan tekstur dari benda, indra pendengaran yang dapat menampilkan bunyi yang khas dari yang ada, maupun indra lainnya. Hal tersebut berbeda dengan ide yang sifatnya sangat metafisis, dimana ide bukanlah ada yang dapat diindra.

Idealisme sebagai lawan dari materialisme menganggap pikiran yang lebih dahulu, sedangkan materialisme menganggap benda dahulu baru kemudian datang pemikiran. Seperti misalnya Hume, seorang filsuf idealis memandang jeruk tak lebih hanya dari sekumpulan persepsi. Keberadaannya hanya merupakan persepsi. Konsepsi tentang rasanya yang manis, kulitnya yang licin, dan warnanya yang kuning atau hijau bukan berada pada benda itu. Warnanya itu berada di mata Hume, rasanya itu berada di lidah Hume. Jadi bagi Hume, jeruk itu sebagai benda, tak ada bagi saya. Yang ada hanya ide, pikiran, pengertian, “bundles of conceptions”(bermacam-macam gambaran).4

Menurut Tan Malaka, Hume sebenarnya telah membatalkan filsafat idealisme itu sendiri, karena Hume telah memisahkan ide dari benda dan

4 Tan Malaka, Madilog, h. 54

43

menganggap ide sebagai dasar utama. Bukankah sebenarnya dia mengakui bahwa dia sendiri tidak ada?5

Filsuf idealisme lainnya adalah Hegel. Bagi Hegel, Absolute Idea yang menciptakan realita. Absolute idea yang menjadikan sejarah dunia, masyarakat dan negara. Hegel dianggap sebagai ujung filsafat yang negatif, yakni ujung yang buntu.

Bagi materialisme tentu saja semuanya berjalan secara hukum alam. Negara, kata Marx, merupakan hasil dari perjuangan kelas. Perjuangan kelaslah yang menjadi kodrat pergerakan sejarah, kodrat yang mengubah bentuk negara dan bukan Absolute Idea.6

Tan Malaka menolak mentah-mentah segala bentuk keyakinan bahwa roh yang mengatur jalannya kehidupan, apalagi pengharapan kepada roh/non materi. Dia jelas-jelas menolak konsep roh absolut Hegel sebagaimana ia ungkapkan di Madilog

“Hegel memulangkan semua benda yang nyata itu pada absolud ide. Absolud ide itulah yang membuatnya

seperti Maha Dewa Ruh yang menitahkan,

menfirmankan semua benda yang ada. Buat ahli dialektika berdasarkan benda, absolud ide dari Hegel itu tidak lain hanyalah sebuah abstraksi”7

Ketidaksenangan para penganut Marxis terhadap filsafat Hegel karena dilatarbelakangi oleh para pemilik modal yang selalu menjadikan konsep roh absolut Hegel sebagai candu di masyarakat.

5 Tan Malaka, Madilog, h. 54-55 6 Tan Malaka, Madilog, h. 57-58 7Tan, Malaka, Madilog, h. 163

Begitu pula bagi Tan Malaka, masalah terbesar rakyat Indonesia adalah ketergantungannya pada mistik dan tahayyul. Ketergantungan ini menurutnya akan menjadikan rakyat terus tertipu oleh pemilik modal. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada jalan lain kecuali mengkampanyekan materi sebagai satu-satunya alat ukur. Baginya para buruh terlalu takut untuk menerima pengetahuan yang akan memungkinkan kebenaran baru.

Seperti ingin mengubur lebih dalam mistisme yang berkembang dalam masyarakat Indonesia, Tan Malaka menelanjangi ramalan-ramalan Jayabaya yang pada waktu itu diyakini oleh masyarakat sebagai peramal terbaik.

Jayabaya meramalkan lenyapnya Surakarta pada 1738 (th. Jawa) atau 1801 M. Pada tahun ini pusat pemerintahan akan kembali ke Ketangga, walaupun pada ahirnya kota ini kelak akan musnah pula. Kemudian pusat pemerintahan akan pindah ke Kerangbaya pada tahun 1870/1933 M, namun ini terbukti sebagai ramalan yang gagal.

Jayabaya meramalkan pada tahun 1877/1940 M pusat pemerintahan akan kembali ke Kediri. Kemudian akan ada orang asing yang akan menaklukkan Jawa dan akan mendirikan sebuah pemerintahan pada tahu 1882/1945 M, namun ramalan ini pun meleset.

Menurut Tan Malaka, Jayabaya hanya merupakan orang yang mabuk, karena pada waktu itu berdasarkan Babad Jawa, Jayabaya berada di geografis gunung yang terus menerus meletus, hingga memisahkan Sumatera dan Jawa. Dampak erupsi gunung ini membuat pikiran Jayabaya melayang-layang.

45

Kepercayaan masyarakat kepada mistisme seperti ini akibat dari pengaruh Hindu.8

Tidak adanya sejarah mistisme yang dapat dibuktikan, Tan Malaka berpandangan bahwa materialisme merupakan dasar manusia memperoleh pengetahuan. Konsekuensi pemikiran materialisme sangat dapat diterima oleh akal budi dibanding pemikiran idealis/mistis. Materi merupakan ada yang terindra kemudian terjadi proses dialektika yang memunculkan ada yang baru.

Bagi Tan Malaka kebudayaan asli Indonesia jauh lebih praktis, terbukti dan nyata, matter of facts, sebelum kedatangan Hindu Budha. Tradisi wayang umpamanya merupakan pergelaran sejarah dari nenek moyang. Pergelaran wayang dapat menjawab seperti apa kondisi Indonesia sebelum Hindu dan Budha datang.

Budaya asli Indonesia yang tergambar pada masyarakat Dayak, misalnya, jauh lebih praktis dan rasional. Dayak dengan budayanya yang gemar membunuh selain dari sukunya telah menghasilkan pandai-pandai besi. Kepandaiannya tidak kalah dari bangsa Asia dan Eropa lainnya.9

Terlepas dari itu semua, Tan Malaka bukanlah seorang atheis. Karena menurutnya, kehidupan pribadinya dengan kehidupan sosialnya adalah dua hal yang berbeda.

“sewaktu bertemu dengan Tuhan saya adalah muslim, tapi saat saya bermasyarakat, saya adalah warga negara Indonesia”10

8 Tan Malaka, Madilog, h. 191 9 Tan Malaka, Madilog, h. 196 10Tan Malaka, Madilog h. 393

Ungkapan tersebut membuat Tan Malaka berbeda dengan Karl Marx. Karl marx dapat mengomentari dengan sangat kejam akan keberadaan agama. Bagi Marx, agama tak lebih dari sebuah sistem kepercayaan yang ditanam oleh penguasa untuk kepentingan kekuasaannya. Agama tidak lebih dari sebuah ilusi. Marx berkelakar bahwa kepercayaan atas Tuhan adalah lambang kekecewaan atas kekalahan dalam perjuangan kelas. Bagi Marx bukan Tuhan yang menciptakan manusia, melainkan manusia yang menciptakan Tuhan dalam pikirannya.

Tan Malaka dengan identitasnya sebagai muslim, namun menganut Marxis bukanlah hal yang harus dikatakan tabu. Sejarah mencatat banyak sekali romantisme Islam dan Marxis telah terjadi, dan bukan hanya di Indonesia. Misalnya, seperti yang terjadi di Mesir yaitu Nasser yang menjalin hubungan dengan Uni Sovyet yang sangat kental dengan aroma komunismenya. Saddam Husein yang diusung partai sosialnya Baath di Irak. Sudan juga memiliki partai Komunis. Sama seperti halnya Marxisme, Islam memiliki sejarah panjang mengenai pembebasan yang dimulai dari pembebasan Mekah. Materialisme tidak harus dipertentangkan, justru jika diletakkan sebagai dasar terpenting akan mengantarkan masyarakat Indonesia kepada independensi berpikir.

Dalam dokumen MARXISME DALAM PERSPEKTIF TAN MALAKA (Halaman 49-55)

Dokumen terkait