BAB II BIOGRAFI TAN MALAKA
C. Perjuangan Tan Malaka
Saat Tan Malaka beraktivitas sebagai pengajar sebagaimana telah diuraikan di atas, tak jarang ia mendapat cemohan oleh para petinggi perkebunan. Bagi para petinggi perkebunan, sekolah bagi anak-anak kuli hanya membuang-buang
6 Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara ,h. 30
7 Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara h. 21
8 Harry. A.Poeze. Tan Malaka: Dari Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia:
19
uang. Tak ayal pendapat ini ditentang oleh Tan dalam sebuah rapat para tuan besar perkebunan, bagi Tan “anak kuli adalah anak manusia juga”. Tan juga memaparkan pentingnya pendidikan bagi anak kuli. Menurut dia, tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan. Ia jugalah yang berada di balik layar ketika terjadi mogok massal para buruh di Sanembah9.
Kondisi ini beserta nasib buruh kaum pribumi membuat ia sangat kecewa. Ia mulai berfikir kritis dan jadilah ia sebagai seorang komunis yang sadar. Ia kemudian menulis risalahnya yang pertama, sebuah uraian tentang komunisme: Soviet atau Parlement? Dan ia sangat aktif bergeriliya di kaum buruh untuk melakukan perlawanan yang kemudian dikecam keras oleh administrator ditempatnya bekerja, hal ini membuat harapan Tan Malaka untuk bertahan di Senembah semakin mengecil.
Saat situasi makin sulit, Tan Malaka memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya, meninggalkan kemewahannya dan pergi ke Pulau Jawa. Di Pulau Jawa, Tan Malaka bertemu Semaun dan tokoh-tokoh komunis lainnya yang telah menginfiltrasi ke tubuh Sarekat Islam (SI). Pada Maret 1921, Tan mengikuti kongres SI yang ada di Yogyakarta dan setelah itu menetap di Semarang sebagai anggota SI Semarang. Di Tahun yang sama Tan Malaka menerbitkan brosur bertajuk SI Semarang dan Onderwijs yang berisi tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan dan mempromosikan sekolah yang dibangun oleh Sarekat Islam.
9 Tim Edisi Khusus Kemerdekaan, “Tan Malaka: Bapak Republik yang Dilupakan”, Seri Buku Tempo: Bapak Bangsa, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia:), h. 43
Tan Malaka kemudian diberi kepercayaan untuk membina sekolah SI. Sekolah yang dibina oleh Tan Malaka ini mengalami perkembangan yang sangat pesat dan mencuri perhatian publik yang cukup besar, apalagi di masa penjajahan pendidikan yang mengarah ke pencerdasan bangsa merupakan hal yang sangat sulit untuk didapatkan.
Pemerintah Belanda merasakan hadirnya sekolah SI ini sebagai sebuah ancaman yang tentunya dapat meracuni fikiran anak-anak maupun penduduk pribumi untuk melakukan perlawanan. Oleh karena itu, sebagai upaya untuk menghambat perkembangan sekolah SI pemerintah Belanda mulai mencari-cari kesalahan dalam semua kegiatan sekolah SI seperti melarang kegiatan pasar amal, mempermasalahkan lagu “Internasionale” yang merupakan himne gerakan buruh dan komunisme yang populer sejak abad ke-19. Lagu ini ditulis oleh Eugene Potier (lahir pada tanggal 4 Oktober di Perancis dan meninggal Pada tanggal November 1887 di kota yang sama). Pada tahun 1871, lagu ini diubah oleh komponis kelas buruh, Pierre Degeyter dan sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa sejak tahun 1888. Lagu ini acap kali dinyanyikan oleh kaum Sosialis, Komunis, Anarkis, dan Demokrat sosial di seluruh dunia sambil mengangkat tangan kiri yang dikepalkan. Menurut hukum pemerintah Belanda di Indonesia pada masa itu, siapapun yang menyanyikan lagu tersebut dapat dihukum. Hal ini disandarkan pada kitab Undang-Undang Pidana pasal 15410.
Saat Semaun meninggalkan Indonesia, Tan Malaka mengambil alih kepemimpinan ketua SI (SI Merah). SI pada saat ini terpecah menjadi dua
21
kubu, SI Merah yang mendukung komunis dan SI putih yang menolak bergabung dengan komunis. SI putih lebih memilih untuk menjadi garis Islam. Terlepas dari ini semua, keberhasilan Tan Malaka menduduki posisi penting dalam organisasi komunis dalam tempo yang cepat merupakan bukti dari kecerdasan pemikiran Tan Malaka.
Tan Malaka juga aktif di dalam partai PKI. Diketahui, beliau pernah menjabat sebagai dewan gemeent (anggota kehormatan) di bulan Oktober 1921. Namun, selama menjadi anggota dewan, ia hanya satu kali hadir dalam rapat dewan. Diskusi-diskusi antar dewanpun tak pernah dihadirinya, menurutnya kegiatan-kegiatan tersebut hanyalah membuang waktu dan manfaatnya dirasakan kurang nyata. Maka dari itulah beliau lebih memilih menggerakkan massa. Tan Malaka dan Samaun menjadi Propadandis-propagandis dalam aksi pemogokan buruh di mana-mana.
Terlepas dari pandangannya tentang parlemen tersebut di atas, diketahui beliau juga sempat diangkat menjadi ketua umum partai PKI dalam kongres yang diadakan pada bulan Desember 1921. Pengangkatan ini dimanfaatkan oleh Tan Malaka untuk merealisasikan agenda untuk menyelesaikan friksi yang terjadi di dalam SI, yakni antara kelompok yang berhaluan Islam (dipimpin oleh Tjokroaminoto, Agus Salim, dan Abdul Muis) dengan kelompok yang berhaluan komunis (dipimpin oleh Semaun, Darsono, dan Tan Malaka ). Untuk itu Tan Malaka memberikan pidatonya tentang sistem kapitalis di berbagai Negara dan di Hindia yang menyebabkan penderitaan bagi rakyat. Menurut Tan
Malaka, hanya dengan cara bersatu, rakyat akan dapat terbebas dari belenggu penderitaan yang disebabkan oleh kapitailis dan imperialis. 11
Penyampaian pidato Tan Malaka menyentuh para hadirin dan berhasil membangkitkan kesadaran para hadirin bahwa persatuan merupakan hal yang paling mendasar dalam merebut kemerdekaan. Segaris dengan hal tersebut, Haji Hadikusumo (pemimin Muhammadiyah) bahkan menyatakan setuju dengan apa yang dikatakan oleh Tan Malaka, beliau menyatakan dengan tegas bahwa seseorang belum-lah menjadi Muslim sejati apabila masih sibuk memecah belah persatuan pergerakan rakyat. Namun sayangnya Abdul Muis ( selaku wakil dari Sentral Serikat Islam) pada saat itu datang terlambat dan tidak sempat mendengarkan pidato yang disampaikan oleh Tan Malaka (1897-1949). Beliaupun kemudian memulai pidatonya dengan membuka permasalahan lama yang megakibatkan suasana kembali mengeruh.12
Tan Malaka tetap mempertahankan argumentasinya tentang pentingnya
kolaborasi dengan gerakan Pan-Islamisme yang menyebabkannya
berseberangan dengan mayoritas elite Komunis. Segaris dengan hal tersebut, seusai kongres berlangsung, banyak orang yang kemudian tertarik terhadap gerakan PKI sehingga beberapa cabang baru PKI-pun didirikan. Segaris dengan itu, tidak sedikit juga cendekiawan yang kemudian mengundang Tan Malaka untuk memberikan kursus tentang komunisme setelah membaca laporan tentang kongres Komunis. Kenyataan ini cukup menunjukkan bahwa Tan Malaka memberikan peran yang besar di kongres itu, walaupun pada akhirnya Tan
11 Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara, h. 70 12 Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara, h. 75
23
Malaka tidak bisa melayani undangan-undangan itu karena seminggu sebelum memenuhi undangan itu Tan Malaka sudah ditangkap13.
Belanda benar-benar tidak menginginkan Tan Malaka berada di Indonesia. Tepat pada tanggal 29 Maret 1922 Tan Malaka dibuang ke Belanda. Selama dalam masa pembuangan, Tan Malaka tidak hanya menetap di Belanda. Beliau juga sempat menyinggahi Berlin, ibu kota Jerman untuk mengurusi segala persiapannya untuk mengikuti pendidikan partai Komunis di Moskow. Pada tanggal 19 Oktober 1922, Tan Malaka tiba di Moskow untuk mengikuti Komitern ke-IV.14 Setelah kongres selesai, beliau bergeser ke Rusia dan bekerja sebagai penulis buku. Saat kongres di Moskow, Tan Malaka memiliki kesempatan untuk berpidato. Beliau menyampaikan tentang strategi pergerakan Komunis nasional yang menurutnya setiap bangsa memiliki metode masing-masing untuk menghadapi songsongan fajar Kapitalisme. Yang tidak kalah penting ialah pidatonya tentang pentingnya persatuan antara Komunis dan Pan Islamisme, walaupun isu tentang persatuan antara Komunis dan Pan-Islamisme yang dihadirkannya tidak begitu mendapat perhatian, namun Tan Malaka telah berhasil menancapkan sedikit pengaruhnya di Komitern. Setidaknya di sana beliau terpilih untuk menjadi wakil Komitern untuk wilayah Asia Timur.
Di penghujung tahun 1923, Tan Malaka meninggalkan Rusia menuju Canton, Cina. Setidaknya, di negeri sutra ini beliau bertemu dengan salah
13 Tan Malaka, dari Penjara ke Penjara, h. 97
14 Kongres Komitern IV berlangsung dari tanggal 5 November sampai dengan tanggal 5 Desember 1922. Komunis Hindia Belanda selalu mengirimkan wakilnya untuk mengikuti Komitern. Di Komitern pertama dan kedua komunis Hindia-Belanda di wakili oleh Sneevliet. Sedangkan di Komitern ketiga komunis Hindia-Belanda diwakilkan oleh Darsono. Pada komitern ke- IV Tan Malaka memiliki kesempatan untuk mewakili komunis Hindia Belanda. Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara, hlm.142.
seorang revolusioner terbesar Asia, Sun Yat Sen15. Kemudian di negeri ini Tan Malaka jatuh sakit yang hampir merenggut nyawanya16.
Sebagai upaya untuk memulihkan kesehatannya, di bulan Juni 1925 Tan Malaka berangkat menuju Filipina untuk beristirahat dengan total. Di awal Agustus, Tan Malaka bergeser ke Manila.
Pemimpin PKI yang diasingkan ke luar negri membuat keadaan PKI di Hindia menjadi rapuh. Pemerintah kolonial Belanda membuat peraturan untuk para buruh dan proletar untuk tidak menjadi anggota Partai, jika mereka berbuat sebaliknya maka tidak ada satupun pekerjaan untuk mereka, imbasnya kaum buruh dan proletar tidak akan bertahan hidup.
Suasana yang buruk membuat petinggi-petinggi PKI geram, puncaknya Keputusan Prambanan yang menyatakan akan dilakukannya pemberontakan pada tahun 1926 terhadap Pemerintah Kolonial Belanda. Sebelum pemberontakan tersusun rapih, Alimin dan Musso datang kepada Tan Malaka yang berada di Manila untuk mendiskusikan aksi dan siasat pemberontakan, tetapi Tan Malaka mencoba menghalangi dengan mengkritik aksi tersebut. Menurutnya, pemberontakan di Hindia masih prematur dan akan mengalami kegagalan. Alimin dan Mosso lalu pergi ke Moskow untuk mendapat dukungan dari Komintern. Sesampainya di Moskow mereka malah mendapat teguran keras. Setelahnya Musso ditahan untuk mempelajari PKI lebih dalam dan Alimin pulang ke Hindia-Belanda.17
15 Beliau adalah pemimpin partai komunis cabang Kanton, Cina. Dikenal sebagai revolusioner besar yang berasal dari Cina
16 Tan Malaka, dari Penjara ke Penjara, h. 131-139
25
Pemberontakan tetap berlangsung di Jawa (Banten dan Bandung) pada November 1926, dan Januari 1927 di Sumatra Barat. Namun jalannya pemberontakan dapat dengan mudah dipatahkan oleh Belanda, sekitar 1300 orang dikirim tanpa batas waktu hukuman ke Boven-Digul. Kemudian PKI dibubarkan dan menjadi partai ilegal.18
Akibat peristiwa itu, akhirnya Tan Malaka keluar dari PKI dan Komintern. Setelah peristiwa itu Tan Malaka mendirikan PARI (Partai Repoeblik Indonesia) di Bangkok pada Juli 1927 bersama rekannya Soebakat dan Djamaloeddin Tamin, PARI masih menerapkan paham dan nilai-nilai komunis.19
Di Manila, Tan Malaka tertangkap oleh polisi pemerintahan penjajah Filipina (Amerika Serikat) dan dibuang ke Amoy, Cina. Dari Amoy, Tan Malaka bertolak ke Shanghai tepatnya pada tahun 1932, namun invasi Jepang yang telah sampai daerah Amoy memaksanya untuk beranjak ke kota Kownlon. Di sini polisi Jepang berhasil menangkapnya, walaupun pada akhirnya, di penghujung tahun beliau dipersilahkan keluar dari Hongkong. Beranjak dari sana, Tan Malaka kemudian pergi ke Shanghai. Di sana beliau mengobati penyakitnya sampai pulih kembali.20
18 Harry A.Poeze, Madiun1948, PKI Bergerak, (T.tp: Penerbit Yayasan Obor Indonesia), h. 2
19 Harry A.Poeze, Madiun1948, PKI Bergerak, h. 2
Di bulan Juni 1942, Tan Malaka berhasil kembali ke di Indonesia21, tepatnya di Belawan, Medan dan meneruskan perjalanannya ke Jawa pada tanggal 1 Oktober 1945, kemudian Tan Malaka berkeliling Jawa hingga ke kota Kediri guna mengobarkan semangat revolusi rakyat untuk melawan sekutu. Tan Malaka menyadari bahwa kemerdekaan penuh hanya dapat dicapai dengan mengangkat senjata, oleh karena itu pada tanggal 19 Desember 1948 beliau memutuskan untuk melakukan perlawanan secara total kepada Belanda. Di sana beliau berpidato dan menyampaikan seruannya kepada rakyat bahwa tidak ada gunanya mengadakan perundingan dengan pihak imperilialisme Barat. Kemerdekaan hanya dapat diraih dengan cara mengangkat senjata dan mengalahkan musuh. Kemudian Tan Malaka mengambil inisiatif untuk membuat wadah (organisasi) guna mengorganisir perjuangan-perjuangan itu dengan tepat. Organisasi ini kemudian dikenal dengan nama Persatuan Perjuangan.
Perjuangan ini membuat pemerintah tidak senang dan menangkap Tan Malaka. Namun karena tidak terbukti bersalah, Tan Malaka kemudian dibebaskan dan mendirikan partai Murba tepatnya pada tanggal 7 November 1948.
Tan Malaka terus saja melakukan seruan-seruan kesetidakpahaman untuk melaksananakan diplomasi dengan penjajah. Lewat radio mengajak rakyat Indonesia untuk angkat senjata. Hal ini menyulut rasa tidak senang dari pihak
21 Pada tahun 1942, Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang yang berarti secara tidak langsung hal tersebut menjadi penanda bebasnya Tan Malaka untuk dapat memasuki negrinya dengan leluasa.
27
militer penjajah maupun pihak pemerintah Indonesia (yang lebih memilih cara bernegosiasi kepada sekutu) kepada Tan Malaka. Ketika Belanda menyerang Kediri, Tan Malaka melakukan geriliya di derah sungai Brantas desa Gringging. Disinilah beliau berhasil ditangkap dan di-eksekusi di desa Selopang, Kecamatan Semen, Kediri. Pada akhirnya,Tan Malaka wafat di tangan Brigade Sikatan atas perintah Letnan Dua Sukotjo pada tanggal 21 Februari 194922.