• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Teori-Teori yang Mendukung

4. Media Audio Visual

Media adalah segala sesuatu yang berguna untuk menyajikan informasi dari pengirim pesan ke penerima pesan.

8

5. Media Pembelajaran

Media Pembelajaran adalah segala sesuatu yang berguna untuk menyalurkan pesan dari pengirim pesan ke penerima pesan sehingga merangsang perhatian dan minat siswa agar tercipta lingkungan belajar yang kondusif.

6. Media Audio Visual

Media audio visual adalah suatu media untuk menyampaikan pesan dari pengirim ke penerima pesan yang dinikmati melalui indera pendengaran (unsur auditif) dan penglihatan (unsur visual).

9

BAB II

LANDASAN TEORI

Dalam bab II ini peneliti akan membahas tentang teori-teori yang mendukung, hasil penelitian yang mendukung, kerangka berpikir, dan hipotesis tindakan.

A. Teori-Teori yang Mendukung

1. Minat

a. Pengertian Minat

Slameto (2010:57), minat merupakan suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Pendapat ini sejalan dengan pemikiran Djamarah (2011:166), mengemukakan minat merupakan kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Seseorang yang berminat terhadap suatu aktivitas akan memperhatikan aktivitas itu secara konsisten dengan rasa senang. Suatu minat dapat dilihat dari partisipasi dalam suatu aktivitas. Siswa yang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut (Slameto, 2010:180).

Menurut Getsel (dalam Mardapi, 2008:106), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong

10

seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian.

Dari berbagai pengertian minat, dapat disimpulkan bahwa minat adalah suatu perasaan suka dan tertarik pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang memaksa. Siswa akan memberikan perhatian lebih pada subjek yang disukai dengan berpartisipasi aktif dalam aktivitas yang dilakukannya. Oleh karena itu, guru perlu membangkitkan minat siswa agar merasa senang dan tertarik pada kegiatan pembelajaran sehingga siswa akan berpartisipasi aktif dalam aktivitas pembelajaran. Penelitian ini berupaya meningkatkan minat siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru I dengan menggunakan media audio visual yang dikhususkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia KD 5.2 mengidentifikasi unsur cerita (tokoh, tema, latar, amanat).

b. Ciri-Ciri Minat

Menurut Slameto (2010:57), siswa yang berminat mempunyai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang. Jadi berbeda dengan perhatian, karena perhatian sifatnya sementara (tidak dalam waktu yang lama) dan belum tentu diikuti dengan perasaan senang, sedangkan minat selalu diikuti dengan perasaan senang dan dari sinilah akan diperoleh suatu kepuasan pada sesuatu yang diminati tersebut. Suatu minat dapat ditunjukkan melalui pernyataan lebih

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

menyukai suatu hal dibanding lainnya, dapat pula ditunjukkan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas.

Dari ciri-ciri belajar yang telah dikemukakan minat memiliki arti bahwa siswa yang berminat dalam belajar akan memiliki perhatian, perasaan suka dan senang melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan apa yang telah dipelajari.

Menurut Winkel (2004:212), minat diartikan sebagai kecenderungan subjek yang menetap untuk merasa tertarik pada bidang studi atau pokok bahasan tertentu dan merasa senang mempelajari materi itu. Minat mempunyai pengaruh yang besar terhadap aktivitas belajar. Siswa yang berminat terhadap suatu mata pelajaran akan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh sebab ada daya tarik bagi siswa. Aktivitas belajar akan berjalan lancar bila disertai minat. Dari ciri-ciri minat yang telah dijelaskan, maka minat belajar dapat dibagi ke dalam empat indikator yaitu perasaan senang, kemauan untuk mengembangkan diri, sikap perhatian, dan berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran.

Pada penelitian ini, peneliti membagi minat belajar ke dalam empat indikator utama. Pertama yaitu perasaan senang dalam mengikuti pembelajaran bahasa Indonesia. Kedua yaitu kemauan untuk mengembangkan diri. Ketiga yaitu sikap perhatian dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Keempat yaitu berpartisipasi dalam

12

kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia. Empat indikator utama minat belajar tersebut digunakan sebagai indikator pembuatan rubrik observasi dan angket minat belajar siswa.

c. Cara Mengukur Minat

Minat belajar siswa dapat diukur menggunakan penilaian non tes. Pada penelitian ini, penulis menggunakan teknik non tes observasi, angket, dan wawancara kepada guru dan siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru I. Margono (2007:158), menyatakan observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang nampak pada objek penelitian. Esterberg (dalam Sugiyono, 2012:317), menyatakan bahwa wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Sugiyono (2012:199), menyatakan angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.

2. Menyimak

a. Pengertian Menyimak

Tarigan (2008:31), menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi, untuk memperoleh informasi, menangkap isi pesan, serta memahami makna komunikasi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

yang telah disampaikan sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. Sejalan dengan pemikiran Anderson (dalam Tarigan, 2008:30), menyimak dibatasi sebagai proses besar mendengarkan, mengenal, serta menginterpretasikan lambang-lambang lisan. Menyimak berhubungan dengan komunikasi secara lisan yang tujuannya untuk menangkap informasi, isi atau pesan, dan memahami makna dari komunikasi tersebut.

Dari uraian pengertian menyimak, dapat disimpulkan menyimak adalah suatu kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian untuk memperoleh informasi, menangkap isi pesan dan memahami makna komunikasi yang disampaikan oleh pembicara.

b. Tujuan Menyimak

Tujuan menyimak setiap orang beraneka ragam. Tarigan (2008:60-61), mengemukakan delapan tujuan menyimak, antara lain.

1) Menyimak dengan tujuan agar memperoleh pengetahuan dari bahan ujaran pembicara dengan kata lain menyimak bertujuan untuk belajar.

2) Menyimak dengan penekanan pada penikmatan terhadap sesuatu dari materi yang diujarkan atau yang diperdengarkan atau dipagelarkan (terutama dalam bidang seni) dengan kata lain menyimak bertujuan untuk menikmati keindahan audial.

14

3) Menyimak dengan maksud agar mampu menilai sesuatu yang disimak (baik-buruk, indah-jelek, tepat-ngawur, logis-tak logis, dan lain-lain) dengan kata lain menyimak bertujuan untuk mengevaluasi.

4) Menyimak agar dapat menikmati serta menghargai sesuatu yang disimak (misalnya pembicaraan cerita, pembacaan puisi, musik dan lagu, dialog, perdebatan) dengan kata lain menyimak bertujuan untuk mengapresiasi materi simakan. 5) Menyimak agar dapat mengkomunikasikan ide-ide,

gagasan-gagasan, atau perasaan-perasaannya kepada orang lain dengan lancar dan tepat.

6) Menyimak dengan tujuan agar dapat membedakan bunyi-bunyi dengan tepat, mana bunyi yang membedakan arti (distingsi), bunyi yang tidak membedakan arti.

7) Menyimak dengan tujuan agar dapat memecahkan masalah secara kreatif dan analisis, sebab dari pembicara mungkin memperoleh banyak masukan berharga.

8) Menyimak dengan tujuan untuk meyakinkan dirinya terhadap suatu masalah atau pendapat yang selama ini diragukan dengan kata lain menyimak secara persuasif.

Dari uraian tujuan menyimak, dapat ditarik kesimpulan bahwa menyimak dapat dipandang dari berbagai segi, misalnya sebagai sarana, sebagai suatu keterampilan berkomunikasi, sebagai seni, sebagai proses, sebagai suatu responsi, dan sebagai pengalaman kreatif (Tarigan, 2008:61). Dari kedelapan tujuan menyimak tersebut, tujuan menyimak yang ditekankan dalam penelitian ini adalah menyimak untuk belajar, menyimak untuk mengevaluasi, dan menyimak untuk mengapresiasi materi simakan. Kegiatan menyimak yang berlangsung disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai siswa. Siswa diharapkan mampu menghargai hal-hal yang disimak, dan memahami materi simakan dengan tujuan untuk menjawab pertanyaan. Penelitian ini diharapkan mampu memaksimalkan keterampilan berbahasa yaitu keterampilan menyimak siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru I. Agar lebih jelas, lihatlah rangkuman yang tertera pada gambar dibawah ini.

16

Gambar 1. Delapan Tujuan Menyimak (Tarigan, 2008:62)

c. Proses Menyimak

Tarigan (2008:63), menyimak adalah suatu kegiatan yang merupakan suatu proses. Dalam proses menyimak, terdapat tahapan-tahapan. Tahapan itu sebagai berikut.

1) Tahap mendengar atau tahap hearing. Tahap ini baru mendengar segala yang dikemukakan oleh pembicara dalam ujaran atas pembicaraannya.

2) Tahap memahami atau tahap understanding. Setelah mendengar maka ada keinginan untuk mengerti atau memahami dengan baik isi pembicaraan yang disampaikan oleh pembicara.

Delapan Tujuan Menyima k Menyimak untuk belajar Menyimak untuk menikmati Menyimak untuk mengevaluasi Menyimak untuk mengapresiasi Menyimak untuk mengomunikasikan ide-ide Menyimak untuk membedakan bunyi-bunyi Menyimak untuk memecahkan masalah Menyimak untuk meyakinkan

3) Tahap menginterpretasi atau tahap interpreting. Menafsirkan atau

menginterpretasikan isi, butir-butir pendapat yang terdapat dan

tersirat dalam ujaran.

4) Tahap mengevaluasi atau tahap evaluating. Penyimak mulai menilai atau mengevaluasi pendapat serta gagasan pembicara mengenai keunggulan dan kelemahan serta kebaikan dan kekurangan pembicara.

5) Tahap menanggapi atau tahap responding. Penyimak menyambut, mencamkan, dan menyerap serta menerima gagasan atau ide yang dikemukakan oleh pembicara dalam ujaran atau pembicaraan.

Berdasarkan uraian lima tahapan menyimak, dapat disimpulkan bahwa setiap tahapan dalam menyimak saling berurutan dan terkait satu sama lain. Penelitian ini diharapkan berjalan sesuai dengan kelima tahapan menyimak di atas serta mampu memaksimalkan keterampilan menyimak siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru I.

3. Cerita Rakyat

a. Pengertian Cerita Rakyat

Cerita rakyat (folklore) merupakan salah satu bentuk dari cerita tradisional. Penyampaian cerita rakyat diceritakan secara lisan dan turun temurun sehingga selalu terdapat variasi penceritaan walau isinya kurang lebih sama. Menurut Bruchac (dalam Nurgiyantoro, 2005:164), mengemukakan cerita rakyat (folklore) merupakan jenis

18

pengetahuan tradisional yang disampaikan dari lisan ke lisan dalam sebuah komunitas menyarakat kecil yang terisolasi. Menurut Suyatno (2008:44), cerita rakyat adalah cerita yang hidup di tengah-tengah masyarakat dan sudah ada sejak zaman dulu. Cerita diwariskan dan disebarkan secara lisan.

Dari pengertian cerita rakyat, dapat disimpulkan bahwa cerita rakyat adalah suatu cerita di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang keberadaannya sudah ada sejak zaman dulu, diwariskan secara lisan dan turun- temurun.

b. Unsur-Unsur Cerita Rakyat

Setiap cerita mempunyai unsur-unsur cerita. Begitu juga dengan cerita rakyat memiliki unsur-unsur cerita. Unsur-unsur cerita yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1) Tema

Tema yaitu pokok pikiran yang mendasari sebuah cerita. Ada juga yang menyebutkan gagasan, ide dasar, atau pikiran utama yang melandasi sebuah cerita (Hardjana, 2006:18).

2) Penokohan

Penokohan meliputi tokoh dan watak. Tokoh adalah pelaku cerita yang memiliki beragam watak (Warsidi, 2008:2). Watak adalah kebiasaan atau perilaku tokoh dalam cerita (Warsidi, 2008:5).

3) Plot/Alur

Plot/alur yaitu unsur struktur yang berwujud dalam jalinan peristiwa, yang memperlihatkan kepaduan (koherensi) yang diwujudkan antara lain oleh sebab akibat atau kausalitas (Hardjana, 2006:21).

4) Latar/Setting

Latar/setting adalah waktu dan tempat terjadinya peristiwa didalam sebuah cerita (Hardjana, 2006:23). Menurut Suyatno (2008:20) dalam buku Indahnya Bahasa dan Sastra Indonesia latar dapat dibagi menjadi tiga, yaitu latar tempat, waktu, dan suasana.

a) Latar tempat

Latar tempat adalah segala sesuatu yang menjelaskan tentang tempat terjadinya peristiwa dalam cerita.

b) Latar waktu

Latar waktu adalah waktu terjadinya peristiwa dalam cerita. c) Latar suasana

Latar suasana adalah penjelasan mengenai suasana pada saat peristiwa terjadi.

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan ketiga latar di atas karena disesuaikan dengan materi bahasa Indonesia khususnya penguasaan materi mengidentifikasi unsur cerita

20

(tokoh, tema, latar, amanat) yang diajarkan di SD Kanisius Kotabaru I.

5) Amanat

Amanat adalah pesan pengarang kepada pembaca baik tersurat maupun tersirat (Hardjana, 2006:53). Pesan dalam suatu cerita harus memberikan ajaran berbuat baik kepada pembacanya. Amanat harus ada dalam cerita hal ini penting karena berguna sebagai bahan pembelajaran bagi pembaca agar selalu berbuat baik.

4. Media Audio Visual

a. Pengertian Media

Kata media berasal dari bahasa Latin, yakni medius yang secara

harfiahnya berarti „tengah‟, ‟pengantar‟ atau „perantara‟ (Munadi,

2010:6). Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai penyalur atau perantara pesan atau informasi dari sumber informasi sehingga siswa benar-benar dapat belajar secara optimal (Sufanti, 2010:64). Menurut Gerlach & Ely (dalam Anitah, 2010:5), media adalah grafik, fotografi, elektronik, atau alat-alat mekanik untuk menyajikan, memproses dan menjelaskan informasi lisan atau visual. Istilah media digunakan juga dalam bidang pengajaran atau pendidikan sehingga istilahnya menjadi media pendidikan atau media pembelajaran (Sanjaya, 2006:163).

Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta kemauan peserta didik sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran secara efektif (Sukiman, 2012:29). Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif dimana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif (Munadi, 2010:7). Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menjadi perantara pesan dalam proses belajar mengajar dari sumber informasi kepada penerima informasi sehingga terjadi proses belajar yang kondusif (Sufanti, 2010:64).

Berdasar berbagai pengertian tentang media, dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang berguna untuk menyajikan informasi dari pengirim pesan ke penerima pesan. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang berguna untuk menyalurkan pesan dari pengirim pesan ke penerima pesan sehingga merangsang perhatian dan minat siswa agar tercipta lingkungan belajar yang kondusif.

b. Macam-Macam Media Pembelajaran

Media pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi beberapa klasifikasi tergantung dari sudut mana melihatnya. Dilihat dari

22

jenisnya, media dibagi ke dalam 3 macam (Djamarah, 2006:124) yaitu sebagai berikut.

a) Media Auditif

Media auditif adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, cassette recorder, piringan hitam. Media ini tidak sesuai untuk orang tuli atau mempunyai kelainan pendengaran. Media ini menampilkan bermacam-macam suara untuk didengarkan, diperhatikan, dan dipahami sesuai dengan kompetensi dasar yang sedang dipelajari.

b) Media Visual

Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indera penglihatan. Indera penglihatan merupakan indera yang paling penting dalam pemanfaatan media ini oleh siswa. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film bingkai), slides (film bingkai) foto, gambar atau lukisan, dan cetakan. Ada pula media visual yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu, dan film kartun.

c) Media Audio visual

Media audio visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Siswa dapat memahami materi pelajaran dengan indera pendengaran dan indera penglihatan sekaligus. Media ini mempunyai kemampuan lebih baik karena meliputi jenis media pertama dan kedua. Munadi (dalam Sufanti, 2010:88),

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

menyebutkan jenis media audio visual adalah film bersuara, televisi, dan video.

Dari ketiga jenis media pembelajaran yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa media audio visual mempunyai kemampuan lebih baik serta kelebihan dibandingkan dengan media auditif dan media visual sebab dalam media audio visual meliputi kedua jenis media lainnya. Oleh karena itu, pada penelitian tindakan ini menggunaan media audio visual untuk meningkatkan minat belajar dan kemampuan menyimak cerita rakyat.

c. Media Audio Visual

Media audio visual adalah media yang menunjukkan unsur auditif (pendengaran) maupun visual (penglihatan), jadi dapat dipandang maupun didengar suaranya (Anitah, 2010:55). Kemampuan media ini dianggap lebih baik dan lebih menarik sebab mengundung unsur jenis media auditif dan visual. Media pembelajaran berbasis audio-visual adalah media penyaluran pesan dengan memanfaatkan indera pendengaran dan penglihatan (Sukiman, 2012:184). Secara umum media audio visual memiliki efektivitas yang lebih baik daripada media visual atau audio. Media audio visual adalah media pembelajaran yang pemanfaatannya untuk dilihat sekaligus didengar (Sufanti, 2010:88). Oleh karena itu, dengan penggunaan media ini guru dapat menyuguhkan pengalaman-pengalaman yang kongkrit

24

kepada siswa yang sangat sulit jika materi tersebut diceritakan. Guru tidak perlu ceramah, tetapi siswa sudah bisa memahami banyak hal dengan media ini.

Dari pengertian media audio visual, dapat disimpulkan media audio visual adalah suatu media untuk menyampaikan pesan dari pengirim ke penerima pesan yang dapat dinikmati melalui indera pendengaran (unsur auditif) dan penglihatan (unsur visual). Media audio visual merupakan perpaduan yang saling mendukung antara gambar dan suara yang mampu menggugah perasaan dan pemikiran penonton. Media audio visual merupakan media yang menarik sebab mampu menyajikan informasi dalam bentuk gambar sekaligus suara yang akan mempermudah siswa dalam menyimak materi yang akan disampaikan. Media ini mampu menyuguhkan pengalaman yang kongkrit kepada siswa yang sangat sulit jika materi tersebut diceritakan. Guru tidak perlu banyak berceramah dalam menyampaikan materi, tetapi siswa sudah bisa memahami banyak hal dengan media ini. Media ini dapat menambah minat siswa dalam belajar karena siswa dapat mendengar sekaligus melihat gambar.

Pada penelitian ini media audio visual yang digunakan adalah video. Video yang digunakan yaitu video cerita rakyat. Pemanfaatan video memudahkan dalam pengulangan. Video bisa diputar berulang-ulang, dihentikan di tengah jalan, diulang dari tengah atau diputar sesuai keinginan. Penelitian dengan memanfaatkan media audio visual

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

diharapkan dapat meningkatkan proses dan hasil pembelajaran sehingga kompetensi dasar benar-benar dapat dikuasai oleh siswa. Selain itu, diharapkan proses pembelajaran lebih bervariasi dan menarik sehingga siswa berminat dalam mengikuti setiap kegiatan pembelajaran.

Dokumen terkait