BAB I PENDAHULUAN
1. Media Pembelajaran dengan Dukungan Website
1) Arti Media Pembelajaran
Menurut Angkowo dan Kosasih (2007:10) media pembelajaran adalah
alat-alat grafis, fotografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan
menyusun kembali informasi visual atau verbal atau media pembelajaran adalah
segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan, merangsang
pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat terdorong terlibat
dalam proses pembelajaran.
Media adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan
pesan dan dapat merangsang pikiran, dapat membangkitkan semangat, perhatian,
dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses pembelajaran
pada diri siswa. Selain itu, secara mendasar, media berpotensi memberikan
peluang bagi siswa untuk mengembangkan kepribadian (Angkowo dan Kosasih
2007:11).
Menurut Briggs (1970 dalam Sadiman dkk, 1986:6), media adalah segala
alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar.
Berdasarkan berbagai batasan yang sama seperti di atas maka media dapat
dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan,
perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses
belajar terjadi (Sadiman dkk, 1986:7).
2) Manfaat Media Pembelajaran
Menurut Encyclopedia of Educational Research (dalam Hamalik,1982:27)
manfaat media pembelajaran adalah sebagai berikut:
a) Meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir dan oleh karena itu
mengurangi “verbalisme”.
b) Memperbesar perhatian siswa.
c) Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar dan oleh
karena itu membuat pelajaran lebih menetap.
d) Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan
berusaha sendiri di kalangan siswa.
e) Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu, hal ini terutama terdapat
dalam gambar hidup.
f) Membantu tumbuhnya pengertian dan dengan demikian membantu
perkembangan kemampuan berbahasa.
g) Memberikan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan
cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi yang lebih mendalam serta
keragaman yang lebih banyak dalam belajar.
3) Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran
Menurut Wilkinson dalam Angkowo dan Kosasih (2007:14), ada beberapa
a) Tujuan
Media yang dipilih hendaknya menunjang tujuan pembelajaran yang
dirumuskan.
b) Ketepatgunaan
Bila materi yang akan dipelajari adalah bagian-bagian yang penting dari benda
maka gambar seperti bagan dan slide dapat digunakan. Apabila yang dipelajari
adalah aspek-aspek yang menyangkut gerak maka media film atau video akan
lebih tepat. Wilkinson menyatakan bahwa penggunaan bahan-bahan yang
bervariasi menghasilkan dan meningkatkan pencapaian akademik.
c) Keadaan Siswa
Media akan efektif digunakan apabila tidak bergantung dari benda
interindividual antara siswa. Misalnya kalau siswa tergolong tipe auditif/visual
maka siswa yang tergolong auditif dapat belajar dengan media visual dan
siswa yang tergolong visual dapat juga belajar dengan menggunakan media
auditif.
d) Ketersediaan
Walaupun suatu media dinilai sangat tepat untuk mencapai tujuan
pembelajaran, media tersebut tidak dapat digunakan jika tidak tersedia.
Menurut Wilkinson, media merupakan alat mengajar dan belajar, peralatan
tersebut harus tersedia ketika dibutuhkan untuk memenuhi keperluan siswa
dan guru.
e) Biaya
hendaknya benar-benar seimbang dengan hasil-hasil yang akan dicapai.
Menurut Canei, R. Springfield, dan Clark., C. (1988:62) dalam Angkowo
dan Kosasih (2007:15), dasar pemilihan alat bantu visual adalah memilih alat
bantu yang sesuai dengan kematangan, minat dan kemampuan kelompok, memilih
alat bantu secara tepat untuk kegiatan pembelajaran, mempertahankan
keseimbangan dalam jenis alat bantu yang dipilih, menghindari alat bantu yang
berlebihan, serta mempertanyakan apakah alat bantu tersebut diperlukan dan dapat
mempercepat pembelajaran atau tidak.
Di atas telah disebutkan mengenai arti, manfaat media pembelajaran, dan
kriteria pemilihan media pembelajaran secara garis besar. Menurut Angkowo dan
Kosasih (2007:14) penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar
mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan
motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, bahkan membawa pengaruh-pengaruh
psikologis terhadap siswa. Selain itu, pembelajaran bermedia dapat membantu
siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan
terpercaya, memudahkan penafsiran, serta memadatkan informasi.
Media pembelajaran memiliki arti yang penting dalam proses
pembelajaran yaitu membantu siswa dalam belajar dalam artian merangsang siswa
untuk mau berfikir, membangkitkan semangat, perhatian, minat, motivasi dan
kemauan siswa sehingga dapat membantu siswa dalam meningkatkan
pemahamannya. Hakekat dari pembelajaran itu sendiri akan dibahas pada
b Hakekat Pembelajaran
Pembelajaran atau pengajaran menurut Degeng (Uno, 2006:2) adalah
upaya untuk membelajarkan siswa. Hal ini berarti bahwa dalam pembelajaran
terdapat kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode untuk
mencapai hasil pengajaran yang diinginkan. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan atas
dasar kondisi pengajaran yang ada.
Istilah pembelajaran memiliki hakekat perencanaan atau perancangan
(desain) sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Dalam belajar, siswa tidak
hanya berinteraksi dengan guru saja tetapi juga dengan semua sumber maupun
media pembelajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
diinginkan. Pembelajaran memusatkan perhatian pada “bagaimana membelajarkan
siswa” dan bukan “apa yang dipelajari siswa” (Degeng, 1993:2 dalam Uno,
2006:3). Pembelajaran lebih menekankan bagaimana cara agar isi pembelajaran
yang harus dipelajari dapat mencapai tujuannya. Dalam kaitan ini, hal-hal yang
tidak bisa dilupakan untuk mencapai tujuan pembelajaran adalah bagaimana cara
mengorganisasikan pembelajaran, bagaimana menyampaikan isi pembelajaran,
dan bagaimana menata interaksi antara sumber-sumber belajar yang ada agar
berfungsi secara optimal (Uno, 2006:3).
Menurut Peter Kline dalam Gordon Dryden & Dr. Jeanette Vos, 2000:22,
pembelajaran akan efektif, jika dilakukan dalam suasana menyenangkan
(Angkowo dan Kosasih, dkk, 2007:49). Oleh karena itu, perlu diciptakan suasana
yang menyenangkan bagi siswa untuk belajar, salah satu faktor yang dapat
Oleh sebab itu mengajar, yang diartikan sebagai suatu usaha menciptakan sistem
lingkungan, harus memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang
menyenangkan. Sistem lingkungan dipengaruhi oleh berbagai komponen yang
saling berinteraksi, antara lain: tujuan pembelajaran, bahan kajian yang
disampaikan, guru, siswa, jenis kegiatan yang dikembangkan, metode, serta media
pembelajaran yang dipilih (Angkowo dan Kosasih, dkk, 2007:49). Bila sistem
lingkungan tercipta dengan baik maka tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Menurut Sardiman (1986:46), pembelajaran atau pengajaran adalah suatu
usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan
memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar. Kondisi tersebut diciptakan
sedemikian rupa sehingga membantu perkembangan anak secara optimal baik
jasmani maupun rohani, baik fisik maupun mental. Pembelajaran memiliki fungsi
pokok yaitu menyediakan kondisi yang kondusif, sedang yang berperan aktif dan
banyak melakukan kegiatan adalah siswanya, dalam upaya menemukan masalah
dan memecahkannya.
Mengajar menurut Sardiman (1986:49) juga diartikan sebagai kegiatan
mengorganisasi proses belajar. Karena pembelajaran merupakan kegiatan
mengorganisasi proses belajar secara baik, guru harus berperan sebagai
organisator yang baik pula. Maka guru dituntut untuk mampu mengorganisasikan
komponen-komponen yang terlibat di dalam proses belajar mengajar sehingga
diharapkan terjadi proses pembelajaran yang optimal.
Bagan 1: Komponen-komponen yang terlibat dalam proses belajar mengajar
Keterangan:
1. Masukan mentah: siswa/subyek belajar.
2. Masukan alat/instrumental input, terdiri: tenaga, fasilitas, kurikulum, sistem
administrasi dan lain-lain.
3. Lingkungan, termasuk antara lain keluarga, masyarakat, sekolah.
4. Proses pengajaran, merupakan proses interaksi antara unsur masukan input,
instrumental input dan juga pengaruh lingkungan.
5. Hasil langsung, merupakan tingkah laku siswa setelah belajar melalui proses
belajar-mengajar, sesuai dengan materi/bahan yang dipelajari.
6. Hasil akhir merupakan sikap dan tingkah laku siswa setelah ada dalam
masyarakat.
Menurut pandangan kaum konstruktivis, pembelajaran atau pengajaran
bukanlah memindahkan pengetahuan dari guru ke murid tetapi merupakan suatu
kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya (Paul 2 6 5 3 4 1 Raw input/masukan mentah Instrumental input/masukan alat Proses Pengajaran/Pem belajaran Hasil langsung Hasil Akhir Lingkungan
Suparno, 1996:139). Bagi kontruktivitis, mengajar berarti partisipasi dengan
pelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mempertanyakan
kejelasan, bersikap kritis, mengadakan justifikasi. Jadi, mengajar adalah suatu
bentuk belajar sendiri (Bettencourt, 1989 dalam Paul Suparno, 1996:139). Guru
hanya sebagai mediator dan fasillitator agar pembelajaran dapat berjalan dengan
baik dan tujuannya dapat tercapai.
Menurut Sadiman dkk, pembelajaran pada hakekatnya adalah proses
komunikasi yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui
saluran/media tertentu ke penerima pesan. Pesan berupa isi ajaran, sumber pesan
adalah guru dan penerima pesan adalah murid. Dalam pembelajaran terjadi
interaksi antara guru dengan murid.
Menurut Winkel (1996:18 dalam Angkowo dan Kosasih, 2007:38)
keberhasilan pembelajaran dipengaruhi oleh ciri-ciri khas yang dimiliki siswa,
baik sebagai individu maupun kelompok misalnya taraf intelegensi, daya
kreativitas, kadar motivasi belajar, tahap perkembangan, kemampuan berbahasa,
sikap terhadap tugas belajar, kebiasaan dalam cara belajar, kecepatan belajar, dan
kondisi fisik.
Dari uraian-uraian di atas, dapat dirangkum bahwa pembelajaran
merupakan usaha menciptakan kondisi atau situasi yang mendukung siswa dalam
belajar. Keberhasilan pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang
berasal dari dalam diri siswa maupun yang berasal dari luar diri siswa atau
lingkungannya. Tugas guru adalah menciptakan kondisi-kondisi agar faktor-faktor
tersebut tidak diperhatikan, faktor-faktor tersebut dapat menjadi penghalang atau
penghambat bagi proses pembelajaran.
Penggunaan media pembelajaran dapat merupakan suatu usaha untuk
menciptakan kondisi atau situasi yang mendukung siswa dalam belajar. Dan telah
disebutkan bahwa media pembelajaran memiliki arti penting dalam pembelajaran
sehingga media pembelajaran yang menarik dan cocok bagi siswa akan membantu
meningkatkan motivasi belajar dan pemahaman siswa.
Banyak media pembelajaran menarik yang ditawarkan seiring dengan
kemajuan teknologi. Salah satunya adalah media pembelajaran website yang akan
dibahas dalam bahasan berikut ini.
c Website
Media pembelajaran website dalam dunia pendidikan semakin menunjang
keberhasilan pembelajaran karena penggunaannya melibatkan siswa sebagai
subyek pembelajaran. Apakah yang dimaksud dengan website? Apa kelebihan
maupun kelemahan yang dimiliki oleh media pembelajaran ini? Hal-hal apa saja
yang perlu diperhatikan dalam pembuatan website pembelajaran? Dan
model-model pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran website apa saja
yang ada?
1). Arti Website
Menurut Timothy J. Newby dkk (hal.198) WWW (World Wide Web) yang
biasanya disebut sebagai website adalah bagian dari internet. Dokumen-dokumen
dalam komputer di segala penjuru dunia di dalam bentuk dokumen yang disebut
Web Pages. WEB sites adalah koleksi dari WEB Pages yang dibiayai oleh sekolah,
universitas, agen pemerintahan, perusahaan atau perseorangan. WEB server adalah
komputer yang dihubungkan ke internet yang menjadikan WEB Pages dan WEB
sites tersedia bagi komputer-komputer yang lain. Setiap WEB Pages memiliki
alamat yang unik yang disebut URL (Uniform Resource Locator). WEB Pages
adalah dokumen hypertext. Dokumen Hypertext berisi teks yang ditandai yang
menghubungkan ke pages yang lain di dalam WEB, seringkali menghubungkan ke
banyak alamat lain yang bermacam-macam. Hypertext membuat anda dapat
pindah dari WEB Pages satu ke WEB Pages yang lain dengan cepat.
Menurut Timothy J. Newby dkk (hal.58) WEB berisi jutaan tempat-tempat
informasi yang ditampilkan dalam bentuk hypermedia; WEB mendukung/sesuai
untuk menyediakan teks yang sudah dibentuk, gambar, animasi, dan bahkan audio
dan video. Program software yang digunakan untuk mengakses WEB disebut
browser. Dua program browser yang paling terkenal saat ini adalah Netscape
“Navigator” dan Microsoft “Internet Explorer”.
2). Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran dengan Dukungan Media Pembelajaran Website
Media pembelajaran ini menghasilkan kombinasi media tulisan (text),
suara (audio), gambar (video), dan animasi. Kelebihan dan kelemahan
pembelajaran dengan dukungan media pembelajaran website (Angkowo dan
Kosasih 2007:22) adalah:
1) Mengkombinasikan kelebihan video, kecepatan komputer, dan akses
internet.
2) Mekanisme kerja program ini mampu menyesuaikan dengan semua gaya
belajar.
3) Memungkinkan bagi siswa untuk aktif berpartisipasi.
4) Memungkinkan akses ke materi/subyek yang diinginkan bagi banyak
sekali pembelajar di tempat yang berbeda.
5) Pembelajar dapat berhubungan dengan guru, demikian sebaliknya di mana
pun mereka berada.
b. Kelemahan website adalah perlunya biaya yang cukup mahal untuk
melengkapi peralatan.
Selain kelebihan-kelebihan pembelajaran dengan dukungan media
pembelajaran website seperti yang telah disebutkan di atas, masih ada kelebihan
lain yang ditawarkan yaitu media pembelajaran ini dapat membangkitkan motivasi
belajar siswa.
Timothy J. Newby dkk (2000: 200) menyebutkan bahwa:
Many schools now have their own home pages, and an increasing number are using the WEB as a vehicle for students to make their work public. As a result, a student’s hypermedia project that once may have been seen only by her teacher and classmates may now be available for viewing by anyone in the world. Realistically, of course, the world will probably not beat an electronic path to every school Web pages in cyberspace. However, the mere idea that the world can see their work is highly motivating to students, and posting student’s hypermedia projects to the WEB for all to see does give parents, grandparents, and members of the community an opportunity to keep tabs on what is happening in the school.
[Banyak sekolah saat ini memiliki home page sendiri dan jumlah sekolah yang menggunakan web sebagai sarana untuk siswa untuk membuat pekerjaan mereka dipublikasikan meningkat atau bertambah banyak.
Hasilnya proyek atau pekerjaan siswa yang semula hanya bisa dilihat oleh gurunya dan teman sekelasnya sekarang dapat dilihat oleh semua orang di dunia. Tentu saja dunia mungkin tidak akan mempunyai jalur ke semua
web pages sekolah. Meskipun demikian ide bahwa dunia dapat melihat pekerjaan mereka sangatlah memotivasi para siswa dan mengirimkan pekerjaan siswa ke web agar semua orang dapat melihat, memberikan orang tua, kakek, nenek dan anggota-anggota komunitas kesempatan untuk terus mengawasi apa yang terjadi di sekolah.]
3). Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Membuat Media Pembelajaran Website.
Menurut Newby, Timothy J. dkk (hal 126-129 dan hal 201) menyebutkan
hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat website pembelajaran antara lain:
3.1) Mulailah dengan pengguna.
Ketahuilah siapa yang akan menjadi pengguna website anda dan
mereka tertarik dalam hal apa dalam pembelajaran.
3.2) Identifikasi tujuan anda.
Deskripsikan atau gambarkan dalam tulisan apa yang anda inginkan
untuk diperoleh oleh pengguna dari website supaya anda tetap dalam
tujuan waktu mendesainnya.
3.3) Prinsip “Buatlah Simpel”.
Jangan mengasumsikan bahwa pengguna akan mempunyai teknologi
terbaru dan tercepat untuk mengakses website anda.
3.4) Batasi informasi dalam setiap halaman.
Sebagai patokan sekitar 250 kata dan beberapa gambar setiap
halaman.
3.5) Gaya menulis.
- Sedapat mungkin gunakan kalimat aktif.
3.6) Tata letak halaman.
- Jelas dan konsisten dalam tata letak halaman (gunakan jenis teks yang
sama dalam jenis huruf, ukuran dan tata letak yang sama dari satu
halaman ke halaman selanjutnya).
- Jangan gunakan rata kiri dan kanan agar tidak menciptakan spasi
tambahan dan membuat teks akan lebih sulit untuk dibaca kecuali
untuk memberikan tekanan.
3.7) Gaya mengetik atau mekanisme.
- Pilihlah jenis huruf dengan desain sederhana.
- Gunakan huruf besar dan kecil supaya cepat dan mudah untuk dibaca.
Gunakan huruf besar hanya untuk memberi tekanan dan menarik
perhatian.
- Gunakan huruf ukuran 9 sampai 12 untuk teks secara umum.
3.8) Mengikuti pedoman untuk mendesain visual.
Visual meliputi foto, diagram, poster, bagan-bagan, dan gambar.
- Buatlah visual yang sederhana (hindari detail yang berlebihan).
- Tempatkan visual sedekat mungkin dengan teks terkait.
- Kurangi background/latar belakang yang menganggu.
- Gunakan huruf dan visual yang kontras dengan warna latar
belakang/background.
- Gunakan warna background yang konsisten dalam serangkaian visual.
3.9) Hindari animasi yang tidak berguna dan menganggu.
3.10)Perpaduan antara teks, gambar, animasi, dan video yang proporsional dan sesuai dengan topik yang dibahas.
4). Model-model Pembelajaran dengan Dukungan Media Pembelajaran Website.
Des Casey
(http://walkabout.netcomp.monash.edu.au/staff/dcasey/papers/1998/1998SIGCSE
/SIGSCE1998.doc; diakses pada tanggal 19 November 2008) menyatakan bahwa
terdapat bermacam-macam model pembelajaran website seperti yang disebutkan
di bawah ini yaitu:
4.1) Website sebagai Sumber Informasi.
Mungkin penggunaan yang paling sederhana dari website adalah sebagai
tempat yang sesuai untuk menyimpan informasi-informasi pendukung
pembelajaran tradisional. Sebagai contoh pembelajaran di suatu universitas
menyediakan bermacam-macam sumber pembelajaran bagi siswa seperti catatan
kuliah yang dicetak, tugas-tugas, latihan ujian, yang sebelumnya telah dibagikan
dalam bentuk cetak. Siswa menggunakan website untuk mengakses situs-situs
untuk mencari informasi untuk pembuatan tugas atau proyek. Memang, website
adalah sumber informasi yang baik. Hal ini sebagai tambahan yang baik bagi
guru sebagai sumber informasi. Model ini menggunakan website hanya sebagai
bagian dari proses pembelajaran. Siswa masih berjumpa dengan guru dalam
kelas formal.
Sejumlah lembaga telah berpindah untuk menggunakan website untuk
menampilkan informasi dengan cara yang lebih terstruktur. Dalam hal ini,
penyajian yang terstruktur dari informasi menjadi proses pengajaran. Siswa
mengikuti instruksi di layar untuk membaca materi, mengaktifkan demonstrasi
multimedia, mengambil kuis yang dikoreksi sendiri, atau kegiatan yang lainnya.
Materi pembelajaran seringkali secara garis besar berisi informasi konkret yang
harus dipelajari dari halaman website dan media yang menyertai. Tidak ada
interaksi antara guru dan siswa melalui website.
4.3) Website sebagai Guru.
Beberapa pembelajaran dengan dukungan media pembelajaran website
telah beralih dari model sebelumnya dan kemudian memasukkan beberapa
bentuk komunikasi personal antara siswa dengan guru dan antara siswa dengan
siswa yang lainnya. Biasanya, pembelajaran seperti ini menggunakan e-mail dan
mungkin ruang chat untuk menerapkan kontak personal ini. Tetapi harus diingat
bahwa meskipun website mampu menyampaikan banyak sekali informasi
kepada siswa, website adalah media yang tidak terlalu baik untuk komunikasi
dan hubungan antar personal bila dibandingkan dengan interaksi langsung atau
tatap muka.
4.4) Website sebagai Media Komunikasi antara Guru dan Siswa.
Model yang lebih memuaskan melihat website sebagai media komunikasi
antara guru dan siswa. Pada dasarnya, siswa belajar dari guru tetapi “melalui”
website dan tidak “dari” website. Dengan model seperti ini, website dapat tetap
komunikasi bagi interaksi manusiawi yang dibutuhkan, dimana interaksi inilah
yang menjadi fokus utama dari proses belajar mengajar, bukan informasi yang
terstruktur yang terdapat dalam website.
Pembelajaran yang menggunakan media pembelajaran website lebih baik
menggunakan model yang keempat mengingat pentingnya tatap muka dalam
proses belajar mengajar, jadi pembelajaran dengan dukungan media pembelajaran
website akan menjadi lebih baik karena selain didukung informasi-informasi
maupun fasilitas-fasilitas dalam internet juga didukung dengan sosialisasi
mengingat interaksi inilah yang menjadi fokus utama dari proses belajar mengajar.
Penggunaan media pembelajaran website memberikan siswa kesempatan
untuk semakin terlibat dalam pembelajaran karena media pembelajaran ini
menuntut keaktifan siswa dalam pembelajaran. Siswa harus membuka bahkan
menjalankan sendiri animasi maupun video yang ada dalam website. Media
pembelajaran ini, seperti telah disebutkan akan membangkitkan motivasi belajar
siswa yang kemudian dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap suatu
materi pembelajaran. Di bawah ini dibahas mengenai arti dan pentingnya motivasi
dalam proses pembelajaran.
2. Motivasi Belajar Siswa