• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kajian pustaka

3. Media Pembelajaran IPA Berbasis Metode Montessori

serta memiliki ciri menarik, bergradasi, correction, dan auto-education, dan konstektual.

4. Ilmu Pengetahuan Alam adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam berupa kenyataan atau kejadian termasuk di bumi sehingga terbentuk suatu konsep dan prinsip.

5. Pertumbuhan biji menjadi tanaman adalah bertambahnya ukuran dari biji hingga menjadi tanaman, ditandai dengan pertumbuhan tinggi dan besar tanaman, bertambahnya jumlah daun dan ranting, dan tumbuhnya buah dan bunga pada tanaman.

6. Siswa kelas III SD berumur 8 - 9 tahun berada pada masa operasional konkret.

12 BAB II

LANDASAN TEORI

Pada Bab II ini berisi kajian pustaka, hasil penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis tindakan.

A. Kajian pustaka

Uraian pada sub bab ini terdiri dari beberapa teori pendukung penelitian. Adapun yang menjadi pembahasan peneliti adalah hasil belajar, media pembelajaran, media pembelajaran IPA berbasis metode Montessori, hakikat IPA, materi pertumbuhan biji menjadi tanaman dan teori perkembangan anak.

1. Hasil Belajar

a. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan capaian autentik kompetensi siswa yang diperoleh dari pembelajaran di kelas baik sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa (Latip, 2018: 24). Menurut Kunandar (2013: 11) hasil belajar merupakan alat untuk mengukur keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru, di mana untuk mengukur keberhasilan siswa dalam penguasaan kompetensi yang telah dilaksanakan. Hal ini dipertegas oleh Gantini dan Suhendar (2017: 2) penilaian hasil belajar diharapkan

dapat memfasilitasi pendidik dan satuan pendidikan dalam membimbing siswa untuk memenuhi kompetensi yang sudah ditetapkan.

Hasil belajar menurut Bloom (dalam Kurniawan, 2014: 10) digolongkan menjadi tiga bagian yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Hasil belajar kognitif yaitu hasil belajar yang berkaitan dengan ingatan, kemampuan berpikir atau intelektual. Hasil belajar kognitif terdiri dari enam aspek yaitu: 1) pengetahuan; 2) pemahaman; 3) aplikasi; 4) analisis; 5) sintesis; dan 6) evaluasi. Hasil belajar kognitif yang terdiri dari enam aspek tersebut, dijelaskan sebagai berikut: 1) hasil belajar pengetahuan meliputi kemampuan ingatan terhadap sesuatu yang telah dipelajari, bisa berupa fakta, peristiwa, pengertian, teori, prinsip, dan metode; 2) hasil belajar pemahaman yaitu kemampuan menangkap makna atau arti dari ilmu pengetahuan yang sudah dipelajari; 3) hasil belajar aplikasi yaitu kemampuan untuk memecahkan masalah, prinsip, metode; 4) hasil belajar analisis yaitu kemampuan memisahkan, membedakan, merinci bagian-bagian, dan hubungan antara; 5) hasil belajar sintesis yaitu kemampuan menyusun seperti karangan, rencana, program kerja; dan 6) hasil belajar evaluasi yaitu kemampuan memberikan pendapat atau menentukan baik tidaknya sesuatu berdasarkan kriteria tertentu (Kurniawan, 2014: 11).

Menurut Gantini dan Suhendar (2017: 25) penilaian pengetahuan bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tahap penguasaan pengetahuan atau tingkat kecakapan berpikir siswa. Hal ini juga dapat dilaksanakan untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan siswa dalam aspek

penguasaan pengetahuan yang telah dipelajari. Hasil penilaian pengetahuan ini nantinya memberikan umpan balik bagi guru dan siswa, terutama dalam hal kelemahan penguasaan pengetahuan yang masih dimiliki siswa sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki mutu pembelajaran.

Berdasarkan pemaparan oleh beberapa ahli mengenai pengertian hasil belajar di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil akhir dalam kegiatan belajar siswa yang dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan penguasaan kompetensi yang telah dilaksanakan siswa dalam aspek kognitif, afektif, dan dan psikomotor. Fokus penelitian ini dibatasi pada peningkatan hasil belajar siswa dalam aspek kognitif saja, mengingat hasil belajar siswa kelas III SD Kanisius Condongcatur yang masih rendah pada mata pelajaran IPA.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Menurut Munadi (2013: 24) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar terdiri dari dua faktor sebagai berikut:

1. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu. a. Faktor Fisiologis

Secara umum fisiologis, seperti kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat jasmani dan kondisi pancaindera yang baik, dapat membantu dalam proses hasil belajar yang maksimal.

b. Faktor Psikologis

Beberapa faktor psikologis yang dapat diuraikan diantaranya meliputi intelegensi, perhatian, minat dan bakat, motivasi, kognitif, dan daya nalar.

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu, meliputi: a. Faktor Lingkungan

Lingkungan dapat berupa fisik atau alam dan lingkungan sosial. Lingkungan alam misalnya keadaan suhu dan kelembapan udara berpengaruh dalam suasana belajar. Selain itu lingkungan sosial dalam belajar juga dapat berpengaruh dalam hasil belajar, oleh karena itu sekolah hendaknya didirikan dalam lingkungan yang kondusif untuk belajar.

b. Faktor Instrumental

Faktor instrumental adalah faktor yang keberadaan dan penggunanya dirancang sesuai dengan keberadaan hasil belajar, dapat berupa kurikulum, sarana dan fasilitas, dan guru.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar digolongkan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam individu, faktor internal ini terdiri dari faktor fisiologis dan faktor psikologis. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar individu, faktor ini terdiri faktor lingkungan dan faktor instrumental.

c. Tujuan Hasil Belajar

Berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 (dalam Latip, 2018: 27) tentang standar penilaian pendidikan, bahwa tujuan hasil belajar yaitu: 1) penilaian hasil belajar oleh pendidik, penilaian ini untuk memantau dan mengevaluasi proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar siswa; 2) penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan, bertujuan untuk menilai pencampaian Standar Kompetensi Lulusan untuk semua mata pelajaran; dan 3) penilaian hasil belajar oleh pemerintah, bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran.

Menurut Sudjana (dalam Majid, 2014: 28) tujuan penilaian hasil belajar yaitu: 1) mendeskripsikan kecakapan belajar siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam mata pelajaran yang dipelajari; 2) mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah; 3) menentukan tindak lanjut hasil penelitian dalam hal perbaikan dan penyempurnaan program pendidikan; 4) memberikan pertanggungjawaban dari pihak sekolah kepada pihak yang berkepentingan.

Menurut Kunandar (2013: 70) tujuan penilaian hasil belajar adalah: 1) melacak kemajuan siswa dalam perkembangan hasil belajar dapat diidentifikasikasi menurun atau meningkat; 2) mengecek ketercapaian kompetensi siswa maka dapat diketahui apakah siswa telah menguasai kompetensi tersebut atau belum; 3) mendeteksi kompetensi yang belum

dikuasai oleh siswa sehingga dapat diketahui kompetensi mana yang sudah dan yang belum dikuasai oleh siswa; dan 4) menjadi umpan balik untuk perbaikan bagi siswa sehingga dapat menjadi bahan acuan untuk memperbaiki hasil belajar siswa yang masih di bawah standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Berdasarkan tujuan hasil belajar yang sudah disampaikan oleh beberapa ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan hasil belajar adalah untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam memahami suatu pembelajaran, di mana perlu dilaksanakan perbaikan jika masih ada hasil belajar siswa yang kurang dari standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Selain itu, tujuan hasil belajar untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan dalam mata pelajaran sehingga dapat dilaksanakan penyempurnaan program pendidikan.

2. Media Pembelajaran

a. Pengertian Media Pembelajaran

Media berdasarkan asal katanya dari bahasa Latin, medium yang berati perantara. Media dapat diartikan sebagai perantara antara pengirim informasi yang berfungsi sebagai sumber dan penerima informasi (Pribadi, 2017: 15). Dalam proses belajar, media berperan dalam proses penyampaian dan pengiriman pesan atau informasi. Dengan adanya media ini, proses penyampaian pesan dan informasi antara pengirim dan penerima akan berlangsung dengan efektif.

Media pembelajaran adalah segala sesuatu seperti alat, lingkungan dan segala bentuk kegiatan yang dikondisikan untuk menambah pengetahuan, mengubah sikap atau menanamkan keterampilan pada setiap orang yang memanfaatkannya (Sanjaya, 2012: 61). Sedangkan menurut pendapat Sanaky (2013: 4) bahwa media pembelajaran adalah sarana atau alat bantu pendidikan yang dapat digunakan sebagai perantara dalam proses pembelajaran untuk mempertinggi efektifitas dan efesiensi dalam interaksi antara pengajar dan siswa dalam proses belajar di kelas.

Menurut Munadi (2013: 7) media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif di mana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif. Hal ini sejalan dengan Sudjana dan Rivai (2011: 2) bahwa media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran dan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapai.

Berdasarkan pengertian media pembelajaran oleh beberapa ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat bantu yang digunakan oleh guru untuk memudahkan proses penyampaian pengetahuan kepada siswa sehingga kegiatan belajar berjalan dengan efektif dan dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar yang dicapai siswa.

b. Fungsi Media Pembelajaran

Fungsi Media Pembelajaran, penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar memiliki pengaruh yang besar terhadap pemahaman isi pelajaran, bahwa dengan penggunaan media lebih menjamin terjadinya pemahaman yang lebih baik pada siswa. Media pembelajaran juga mampu membangkitkan dan membawa siswa dalam suasana senang dan gembira, di mana ada keterlibatan emosional dan mental (Jalinus dan Ambiyar, 2016: 7).

Menurut Sanaky (2013: 7) media pembelajaran berfungsi sebagai berikut: 1) menghadirkan objek sebenarnya atau objek langka; 2) membuat duplikasi dari objek sebenarnya; 3) membuat konsep abstrak ke konsep kongkret; 4) memberi kesamaan persepsi; 5) mengatasi hambatan waktu, tempat, jumlah dan jarak; 5) menyajikan ulang informasi secara konsisten; dan 7) memberi suasana belajar yang menyenangkan.

Sanjaya (2012: 73-75) mengemukakan penggunaan media pembelajaran memiliki beberapa fungsi, yaitu:

1. Fungsi komunikatif

Media pembelajaran digunakan untuk memudahkan penyampaian komunikasi antara guru dan siswa.

2. Fungsi motivasi

Media pembelajaran memudahkan siswa dalam mempelajari materi sehingga meningkatkan gairah siswa dalam belajar.

3. Fungsi kebermaknaan

Dengan penggunaan media pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk menganalisis dan mencipta sebagai aspek kognitif tahap tinggi.

4. Fungsi penyamaan persepsi

Dengan pemanfaatan media pembelajaran, dapat menyamakan persepsi setiap siswa, sehingga setiap siswa memiliki pandangan yang sama terhadap informasi yang disampaikan oleh guru.

5. Fungsi individualitas

Media pembelajaran dapat melayani kebutuhan setiap individu siswa yang memiliki bakat minat dan gaya belajar yang berbeda.

Peneliti menyimpulkan bahwa media pembelajaran berfungsi untuk membangkitkan semangat belajar bagi siswa sehingga mempermudah siswa dalam memahami pembelajaran. Fungsi media pembelajaran dibagi menjadi lima fungsi yaitu, fungsi komunikatif, fungsi motivasi, fungsi kebermaknaan, fungsi penyamaan persepsi, dan fungsi individualitas. Dalam fungsi kebermaknaan inilah penggunaan media pembelajaran berfungsi dapat meningkatkan kemampuan hasil belajar siswa dalam aspek kognitifnya.

c. Manfaat Media Pembelajaran

Pemanfaatan media secara umum menurut Pribadi (2017: 23) terdiri dari, yaitu: 1) sebagai sarana memperoleh informasi dan pengetahuan; 2) mendukung aktivitas pembelajaran, seperti mempresentasikan atau

menyajikan informasi dan pengetahuan; dan 3) sarana motivasi, untuk tujuan memotivasi pemanfaatan media dapat digunakan untuk memengaruhi sikap, nilai, dan emosi penggunannya.

Menurut Sanjaya (2012: 70-72) peranan media pembelajaran sangat diperlukan dalam suatu kegiatan mengajar, sebab pengetahuan yang disampaikan oleh guru lewat bahasa verbal dapat menimbulkan kesalahan persepsi siswa. Selain itu, gairah siswa dalam menangkap pesan semakin kurang karena siswa diajak untuk berpikir dalam menghayati pesan yang disampaikan oleh guru. Maka media pembelajaran memiliki manfaat, antara lain :

1. Menangkap suatu objek atau peristiwa tertentu.

Peristiwa yang penting atau objek yang langka dapat diabadikan dalam foto, film, video dan audio, kemudian digunakan saat waktu pembelajaran yang diperlukan.

2. Memanipulasi keadaan, peristiwa atau objek tertentu.

Guru dapat menyajikan bahan pelajaran yang bersifat abstrak menjadi konkret sehingga mudah dipahami oleh siswa.

3. Menambah gairah dan motivasi belajar siswa.

Penggunaan media dapat menambah motivasi belajar siswa sehingga meningkatkan perhatian siswa terhadap materi pembelajaran.

Ada beberapa alasan, mengapa media pembelajaran dapat mempertinggi hasil belajar siswa. Alasan pertama yang berkenaan dengan manfaaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa antara lain:

1. Pembelajaran lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.

2. Bahan pembelajaran lebih jelas maknanya sehingga dapat dipahami oleh siswa, serta siswa dapat menguasai tujuan pembelajaran dengan baik.

3. Metode mengajar lebih bervariasi, tidak hanya menggunakan komunikasi verbal melalui penjelasan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga.

4. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan, tetapi siswa juga mengamati, melakukan, dan mendemonstrasikan.

Alasan kedua adalah berkenaaan dengan taraf berpikir siswa. Taraf berpikir manusia mengikuti tahap perkembangan mulai dari berpikir konkret menuju berpikir abstrak, dari berpikir sederhana menuju berpikir kompleks. Penggunaan media pembelajaran erat kaitannya dengan tahapan berpikir, sebab melalui media pengajaran hal-hal abstrak dapat dikonkretkan, dan hal-hal yang kompleks dapat disederhanakan (Sudjana dan Rivai, 2011: 3).

Dari penjelasan manfaat media pembelajaran tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa manfaat media pembelajaran adalah sebagai sarana penyampaian materi oleh guru kepada siswa, di mana siswa lebih termotivasi untuk semangat belajar sehingga siswa dapat memahami tujuan pembelajaran dengan baik dan benar. Pemanfaatan media

pembelajaran ini tentunya bisa meningkatkan hasil belajar siswa. Siswa lebih tertarik dan berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran sehingga dapat menumbuhkan motivasinya dalam kegiatan belajar. Siswa juga tidak merasa bosan dengan metode pengajaran verbal yang disampaikan oleh guru. Selain itu, pemanfaatan media pembelajaran ini sesuai dengan tahapan berpikir manusia. Melalui pemanfaatan media pembelajaran ini, hal-hal abstrak dapat dikonkretkan, sehingga mempermudah pemahaman siswa dalam memahami suatu materi pembelajaran.

d. Prinsip-prinsip Penggunaan Media dalam Pembelajaran

Menurut Sanjaya (2016: 75-77) terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam penggunaan media pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut terdiri dari: 1) media digunakan untuk mempermudah siswa belajar dalam memahami materi pelajaran; 2) media yang digunakan guru harus sesuai dan diarahkan untuk tujuan pembelajaran; 3) media yang digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran; 4) media pembelajaran harus sesuai dengan minat, kebutuhan, dan kondisi siswa; 5) media yang digunakan harus memperhatikan efektivitas dan efesiensi; 6) media yang digunakan harus sesuai dengan kemampuann guru dalam mengoperasikannya.

Dari beberapa prinsip-prinsip penggunaan media pembelajaran di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan media dalam pembelajaran harus sesuai dengan kebutuhan materi pembelajaran sehingga membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Media pembelajaran

yang digunakan juga harus sesuai dengan kebutuhan, minat dan kondisi siswa, serta efektivitas dan efesiensinya dalam pembelajaran. Media yang mahal belum tentu dapat efektif untuk menyampaikan tujuan pembelajaran dan media yang murah belum tentu tidak memiliki nilai, jadi penggunaan media yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran harus memperhatikan efektivitas penggunaanya. Selain itu, guru juga harus mampu dalam pengoperasian penggunaan media pembelajaran tersebut demi tercapainya tujuan pembelajaran kepada siswa. Berdasarkan prinsip-prinsip penggunaan media dalam pembelajaran tersebut, media pembelajaran yang digunakan peneliti dalam penelitian ini menggunakan media pembelajaran berbasis metode Montessori yang memiliki efektivitas dan efesiensinya dalam kegiatan pembelajaran siswa.

3. Media Pembelajaran IPA Berbasis Metode Montessori a. Sejarah Mengenai Metode Montessori

Maria Montessori lahir pada 31 Agustus 1870 di Chiaravalle, Ancona, Italia. Meninggal saat usia 81 tahun pada tanggal 6 Mei 1952 di Noordwijk, Belanda. Montessori adalah seorang pendidik, ilmuwan, dokter wanita pertama di Italia. Maria Montessori membuat sebuah kontribusi yang signifikan pada teori dan praktik pendidikan, khususnya pada pendidikan usia dini. Pengamatan pertama dari Montessori adalah pada anak-anak yang mengalami gangguan mental. Montessori berhasil melatih anak-anak untuk mencapai kemandirian, kemudian mengalihkan

pengamatannya pada anak-anak normal. Di mana bahan-bahan yang digunakan dapat digunakan untuk mendidik diri mereka sendiri (Gutek, 2013: 70).

Penekanan Montessori pada pengamatan klinis mengantarnya pada salah satu prinsip pendidikan yang paling penting, yaitu kebebasan anak-anak untuk beraksi mencapai pertumbuhan dan perkembangan mereka sendiri. Montessori menjelaskan kebebasan anak berarti kebebasan untuk beraktivitas dalam sebuah lingkungan yang tertruktur. Kebebasan seorang anak merupakan sebuah cara dan sarana dalam mengkaji anak untuk memberi informasi kepada sang pendidik. Sehingga pendidik dapat menggunakan informasi tersebut untuk merancang sebuah lingkungan pembelajaran yang menyediakan bahan-bahan dan kesempatan-kesempatan bagi anak untuk berinteraksi dengan lingkungan tersebut dengan cara yang edukatif (Gutek, 2013: 71).

Menurut Montessori, tugas utama pendidik adalah mendidik siswa menjadi baik. Kebaikan itu sebagai nilai moral yang berisi rasa penuh tanggung jawab dan rasa disiplin. Disiplin dengan kebebasan sehingga siswa melakukan kegiatan pembelajaran untuk kebaikan. Pendekatan pendidikan yang tepat harus memberi kebebasan pada siswa dan membantu menyingkirkan penghalang dalam kegiatan belajar. Tujuan pokok metode Montessori adalah membuat siswa mandiri dan melakukan segala sesuatunya sendiri. Oleh karena itu, dalam pendekatan Montessori hampir tidak pernah ditemukan hukuman. Hukuman yang diberikan hanya

mengisolasi siswa untuk tidak bergerak dan tidak melakukan apa pun (Mangini, 2013: 53-54).

Prinsip Montessori bahwa siswa mengalami masa kruasial dalam perkembangannya, disebut “periode-periode sensitif”. Dalam periode ini, siswa dalam keadaan siap untuk kegiatan pembelajaran tertentu, misalnya pelatihan indra dan pembelajaran bahasa, dan juga pelatihan keterampilan motorik dan kemampuan adaptasi sosial. Untuk membantu perkembangan siswa selama dalam periode-periode sensitif ini, siswa disediakan bahan-bahan pembelajaran yang bersifat mengoreksi-diri yang dapat mereka pilih sendiri. Penggunaan bahan-bahan pembelajaran yang bersifat mengoreksi-diri, didasarkan bahwa siswa akan mencapai disiplin-diri dan kemandirian jika mereka memiliki kesempatan untuk menyadari kesalahan mereka sendiri dan mengulang semua tugas tertentu hingga mereka menguasai tugas tersebut dengan baik (Gutek, 2013: 26-27).

Montessori (dalam Mangini, 2013: 51) menyimpulkan bahwa: 1) semakin menantang materi pembelajaran melalui media pembelajaran yang disiapkan dengan pengendali kesalahan yang ada dalam media pembelajaran tersebut, maka semakin materi itu menarik bagi siswa; 2) siswa melakukan kegiatan karena tertarik pada keinginan menaklukkan materi pembelajaran tersebut; 3) pendidikan harus mengikuti perilaku alami siswa dan menyiapkan lingkungan yang bisa mendorong kegiatan spontan belajar siswa. Dari penjelasan beberapa ahli diatas, peneliti menyimpulkan bahwa media pembelajaran berbasis metode Montessori

adalah metode pembelajaran yang menekankan kemandirian dan kebebasan belajar siswa sehingga dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar dan menciptakan kedisiplinan serta percaya diri pada siswa. b. Karakteristik Media Pembelajaran IPA Berbasis Metode

Montessori

Montessori (2001: 170-176) menjelaskan bahwa media pembelajaran berbasis metode Montessori ini memiliki ciri khusus. Ciri khusus tersebut adalah menarik, bergradasi, auto-correction (ada pengendali kesalahan), auto-education (membangun kemandirian), dan kontekstual. Ciri yang pertama adalah menarik, media ini dirancang semenarik mungkin baik dari bentuk maupun warnanya agar siswa tertarik untuk memegang, meraba, dan menggunakannya sehingga dapat menambah minat siswa dalam belajar. Ciri yang kedua bergradasi, media memiliki gradasi rangsangan yang berkaitan dengan bentuk, warna, dan sesuai dengan usia perkembangan siswa (Montessori, 2001: 174-175).

Ciri yang ketiga auto-correction, media yang dibuat memiliki pengendali kesalahan. Pengendali kesalahan ini agar siswa dapat mengetahui sendiri apakah aktivitas yang dilaksanakannya sudah benar atau belum, tanpa meminta bantuan orang lain untuk mengoreksi (Montessori, 2002: 171). Hal ini sejalan dengan pendapat Mangini (2013: 54) media pembelajaran yang didesain disebut sebagai media pembelajaran yang di dalamnya memiliki unsur pengendali kesalahan.

Tanpa ada orang lain yang mengoreksi, media pembelajaran tersebut sudah mampu menjawab letak kesalahan siswa.

Ciri keempat adalah auto-education, semua media pembelajaran diciptakkan untuk menumbuhkan kemandirian siswa dalam kegiatan belajar tanpa bantuan orang dewasa (Montessori, 2002: 172-173). Ciri kelima adalah kontekstual, pembelajaran Montessori disesuaikan berdasarkan konteks. Di mana pembelajaran disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan yang ada di lingkungan sekitar siswa. Bahan yang digunakan dalam media pembelajaran adalah bahan yang mudah ditemui dan yang dikenal oleh siswa (Lillard, 2005: 29-33).

Dari ciri-ciri media Montessori tersebut, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran berbasis metode Montessori memiliki ciri-ciri yaitu, menarik, bergradasi, auto-correction, auto-education, dan kontekstual. Hal ini sesuai dengan media pembelajaran IPA berbasis metode Montessori pada materi pertumbuhan biji menjadi tanaman yang digunakan pada penelitian ini sudah memenuhi kelima ciri-ciri tersebut.

c. Media Pertumbuhan Biji Menjadi Tanaman

Peneliti menggunakan media IPA berbasis metode Montessori materi pertumbuhan biji menjadi tanaman merupakan pengembangan dari penelitian terdahulu oleh Utami (2017). Berikut ini adalah gambar media berupa tahapan pertumbuhan biji kacang hijau dan biji jagung :

Gambar 2. 1 Replika media pertumbuhan biji kacang hijau

Gambar 2. 2 Replika media pertumbuhan biji jagung

Media pembelajaran IPA berbasis metode Montessori ini merupakan replika tahapan pertumbuhan biji kacang hijau dan biji jagung. Media pembelajaran tahapan pertumbuhan biji menjadi tanaman ini berukuran 1 : 5. Terdapat kotak media berbentuk persegi panjang yang berukuran 45 x 10 cm, di mana masing-masing kotak media tersebut berisi 5 pot-pot kecil yang memiliki diameter 6,5 cm. Media ini berfungsi untuk membantu

siswa dalam memahami tahapan pertumbuhan tanaman dari biji hingga menjadi tanaman dewasa.

Kartu media pembelajaran IPA berbasis metode Montessori materi pertumbuhan biji menjadi tanaman ini berupa kartu tahapan pertumbuhan tanaman biji kacang hijau dan biji jagung yang memiliki ukuran 5 x 5 cm. Berikut gambar kartu tahapan pertumbuhan biji menjadi tanaman pada biji kacang hijau dan biji jagung :

Gambar 2. 3 Kartu pertumbuhan biji kacang hijau

Kartu tahapan pertumbuhan di atas, digunakan sebagai media untuk

Dokumen terkait