TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Literatur 1.Agency Theory
6. Mekanisme Corporate Governance a. Pengertian Corporate Governance
Menurut Cadburry dalam Sutedi (2011), Good Corporate Governance adalah prinsip yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar mencapai keseimbangan antara kekuatan serta
36 kepada para shareholders khususnya, dan stakeholders pada umumnya.
Kelompok negara maju Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam Surya dan Yustiavandana (2008), mendefinisikan Good Corporate Governance adalah:
“Sekumpulan hubungan antara pihak manajemen perusahaan,
board, pemegang saham, dan pihak lain yang mempunyai kepentingan dengan perusahaan. Corporate Governance juga mensyaratkan adanya struktur perangkat untuk mencapai tujuan dan pengawasan atas kinerja. Corporate governance yang baik dapat memberikan rangsangan bagi board dan manajemen untuk mencapai tujuan yang merupakan kepentingan perusahaan dan pemegang saham harus memfasilitasi pengawasan yang efektif sehingga mendorong perusahaan
menggunakan sumber daya dengan lebih efisien”.
Adapun Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor
KEP-177/M-MBU/2002 dalam Surya dan Yustiavandana (2008),
corporate governance adalah:
“Suatu proses dari struktur yang digunakan oleh organ BUMN
untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memerhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan nilai-nilai etika”.
Sedangkan menurut Price Waterhouse Coopers dalam Surya dan
Yustiavandana (2008).
“Corporate governance terkait dengan pengambilan keputusan yang efektif dan dibangun melalui kultur organisasi, nilai-nilai, sistem, berbagai proses, kebijakan-kebijakan dan struktur organisasi, yang bertujuan untuk mencapai bisnis yang menguntungkan, efisien, dan efektif dalam mengelola risiko dan bertanggung jawab dengan memerhatikan kepentingan stakeholders”.
37 Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Good Corporate Governance merupakan:
1) Suatu struktur yang mengatur pola hubungan harmonis tentang peran
dewan komisaris, Direksi, Pemegang Saham dan Para Stakeholder lainnya.
2) Suatu sistem pengecekan dan pertimbangan kewenangan atas
pengendalian perusahaan yang dapat membatasi munculnya dua
peluang: pengelolaan yang salah dan penyalahgunaan aset
perusahaan.
3) Suatu proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahaan,
pencapaian, berikut pengukuran kinerjanya.
b. Prinsip-prinsip Corporate Governance
Di Indonesia, dalam Code of Corporate Governance yang diterbitkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) 2006, terdapat 5 prinsip Corporate Governance (CG) yang harus diterapkan oleh setiap perusahaan yaitu transparency, accountability, responsibility, independency dan fairness.
1) Transparency (Transparansi)
Untuk menjaga objektivitas dalam menjalankan bisnisnya,
perusahaan harus menyediakan informasi yang material dan relevan
dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh para pemangku
kepentingan. Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk
38 peraturan perundang-undangan tetapi juga hal-hal yang penting
dalam pengambilan keputusan bagi pemegang saham, kreditur dan
pemangku kepentingan lainnya.
2) Accountability (Akuntabilitas)
Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara
transparan dan wajar. Untuk itu perusahaan harus dikelola secara
benar, terukur dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan
tetap memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku
kepentingan lainnya. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang
diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.
3) Responsibility (Tanggung Jawab)
Perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta
melaksanakan tanggung jawabnya terhadap masyarakat dan
lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam
jangka yang panjang dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizen.
4) Independency (Kemandirian)
Untuk melancarkan pelaksanaan azas GCG, perusahaan harus
dikelola secara independen sehingga masing-masing organ
perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi
oleh pihak lain.
39 Dalam melaksanakan kegiatannya perusahaan harus selalu senantiasa
memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku
kepentingan lainnya berdasarkan azas kesetaraan dan kewajaran.
Adapun Prinsip-prinsip GCG terdapat lima aspek yang
dijabarkan oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) sebagai pedoman pengembagan kerangka kerja legal, institutional, dan regulatory untuk corporate governance di suatu negara. Lima aspek tersebut antara adalah:
1) Hak-hak pemegang saham dan fungsi kepemilikan: Hak-hak
pemegang saham harus dilindungi dan difasilitasi.
2) Perlakuan setara terhadap seluruh pemegang saham: Seluruh
pemegang saham termasuk pemegang saham minoritas dan
pemegang saham asing harus diperlakukan setara. Seluruh pemegang
saham harus diberikan kesempatan yang sama untuk mendapatkan
perhatian bila hak-haknya dilanggar.
3) Peran stakeholders dalam corporate governance: Hak-hak para pemangku kepentingan (stakeholders) harus diakui sesuai peraturan perundangan yang berlaku, dan kerjasama aktif antara perusahaan
dan para stakeholders harus dikembangkan dalam upaya bersama menciptakan kekayaan, pekerjaan, dan keberlanjutan perusahaan.
4) Disclosure dan transparansi: Disclosure atau pengungkapan yang tepat waktu dan akurat mengenai segala aspek material perusahaan,
40 termasuk situasi keuangan, kinerja, kepemilikan, dan governance perusahaan.
5) Tanggung jawab Pengurus Perusahaan (Corporate Boards): Pengawasan Komisaris terhadap pengelolaan perusahaan oleh
Direksi harus berjalan efektif, disertai adanya tuntutan strategik
terhadap manajemen, serta akuntabilitas dan loyalitas Direksi dan
Komisaris terhadap perusahaan dan pemegang saham.
Good corporate governance terdiri dari dua unsur, yaitu unsur yang berasal dari dalam perusahaan (corporate governance internal perusahaan) dan unsur yang berasal dari luar perusahaan (corporate governance eksternal perusahaan). Corporate governance internal perusahaan adalah unsur yang selalu diperlukan dalam perusahaan dan sangat berperan dalam mengelola perusahaan. Jika kinerja corporate governace internal baik maka kinerja perusahaan pun baik dan sebaliknya. Unsur-unsur Corporate governance internal perusahaan menurut Kresnohadi (2000:9) terdiri dari pemegang saham, direksi, dewan
komisaris, manajer, karyawan, sistem, dan komite audit.
Internal Governance merupakan bagian dari mekanisme Corporate Governance yang telah menjadi pokok bahasan yang penting bagi para pelaku bisnis di seluruh dunia. Krisis ekonomi yang berkepanjangan dan
tuntutan persaingan global menjadi salah satu faktor pendorong
dilakukannya reformasi GCG (Alijoyo dan Zaini, 2004). Saat ini terdapat
41 perusahaan-perusahaan publik diwajibkan mempertanggungjawabkan
pengelolaan perusahaan kepada publik (Syakhroza, 2004).
Istilah internal governance pada penelitian ini mengacu pada penelitian Davidson, et al., (2005) yang menyatakan bahwa pengungkapan laporan keuangan dapat mengurangi masalah keagenan dengan melakukan
monitoring terhadap perilaku agent. Beberapa hal yang terkait dengan monitoring melalui mekanisme internal governance adalah dewan komisaris independen, komite audit, fungsi internal audit, dan pemilihan
auditor eksternal. Tetapi dalam penelitian ini tidak memasukkan variabel
pemilihan auditor eksternal karena pernyataan Subramaniam, et al. (2009) bahwa pemilihan auditor eksternal bukan merupakan mekanisme internal governance melainkan external governance.
c. Komisaris Independen
Keberhasilan penegakan GCG sangat ditentukan oleh kualitas
pimpinannya yaitu komisaris sebagai pengawas dan direksi sebagai
pelaksana. Dalam mekanisme corporate governance, dewan komisaris memiliki peranan dan tugas yang sangat penting. Dalam melaksanakan
fungsi pengawasan, dewan komisaris dapat memberikan kontribusi
terhadap proses penyusunan laporan keuangan yang berkualitas dan
mengandung informasi yang relevan bagi para stakeholders.
Di Indonesia saat ini, keberadaan komisaris independen sudah diatur
dalam Code of Good Corporate Governance yang dikeluarkan oleh KNKG. Komisaris menurut kode tersebut, bertanggung jawab dan
42 mempunyai kewenangan untuk mengawasi kebijakan dan kegiatan yang
dilakukan oleh direksi dan memberi nasihat bila diperlukan (Juwitasari,
2008). Namun terkadang dewan komisaris di suatu perusahaan belum bisa
melaksanakan fungsi kontrol terhadap direksi dengan baik (Kusuma, 2004
dalam Yuliandri, 2010).
Pengertian komisaris independen seperti yang dikemukakan oleh
Alijoyo dan Zaini (2004) dalam Setyarini (2011), yaitu:
“Komisaris Independen adalah anggota komisaris yang berasal dari
luar perusahaan (tidak memiliki hubungan afiliasi dengan perusahaan) yang dipilih secara transparan dan independen, memiliki integritas dan kompetensi yang memadai, bebas dari pengaruh yang berubungan dengan kepentingan pribadi atau pihak lain, serta dapat bertindak secara objektif dan independen dengan berpedoman kepada prinsip-prinsip Good Corporate Governance (transparency, accountability, responsibility, fairness).
PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) melalui Keputusan Direksi PT Bursa
Efek Jakarta No: Kep-305/BEJ/07-2004 di dalam Pencatatan Efek No.1-
A: tentang Ketetentuan Umum Pencatatan Saham dan Efek yang bersifat
Ekuitas di bursa, dalam pasal 1-a menyebutkan tentang rasio komisaris
independen yaitu komisaris independen yang jumlahnya secara
proporsional sebanding dengan jumlah saham yang dimiliki oleh yang
bukan pemegang saham pengendali dengan ketentuan jumlah komisaris
independen sekurang kurangnya 30% (tiga puluh persen) dari seluruh
43 d. Risk Management Committee (RMC)
RMC menjadi populer sebagai mekanisme pengawas risiko yang
penting bagi perusahaan (Subramaniam, et al., 2009). Hal ini makin diperkuat dengan survey oleh KPMG (2005) pada perusahaan-perusahaan
Australia, yang menyatakan bahwa lebih dari setengah responden (54%)
telah memiliki RMC, di mana sebesar 70% tergabung dengan komite
audit. Menurut Subramaniam, et al. (2009), secara umum area tugas dan wewenang RMC adalah :
a. Mempertimbangkan strategi manajemen risiko organisasi
b. Mengevaluasi operasi manajemen risiko organisasi
c. Menaksir pelaporan keuangan organisasi
d. Memastikan bahwa organisasi dalam prakteknya memenuhi hukum
dan peraturan yang berlaku.
Peranan yang tidak boleh dilakukan oleh internal audit dan
disarankan untuk dilakukan oleh RMC sebagai unit yang independen,
antara lain:
a. Menetapkan batasan dan selera risiko (risk appetite)
b. Memastikan berlangsungnya proses manajemen risiko pada
perusahaaan
c. Melakukan validasi atas risiko yang telah teridentifikasi dan terukur
Dalam pembentukannya, RMC dapat tergabung dengan audit atau
dapat pula menjadi komite yang terpisah dan berdiri sendiri. Komite
44 dapat menjadi mekanisme yang efektif dalam mendukung dewan
komisaris untuk memenuhi tanggung jawabnya dalam tugas pengawasan
risiko dan manajemen pengendalian internal (Subramaniam, et al., 2009). RMC yang terpisah dari audit akan lebih dapat mencurahkan lebih banyak
waktu dan usaha untuk menggabungkan berbagai risiko yang dihadapi
perusahaan secara luas dan mengevaluasi pengendalian terkait secara
keseluruhan (Subramaniam, et al., 2009). Selain itu, RMC yang terpisah dari audit juga lebih memungkinkan dewan komisaris dalam memahami
profil risiko perusahaan dengan lebih mendalam (Bates dan Leclerc,
2009).
Pada sektor perbankan, RMC disebut pula dengan Komite Pemantau
Risiko. Berdasarkan PBI No.8/4/PBI/2006 salah satu prasyarat yang harus
dilengkapi oleh Bank Umum yaitu tentang Penerapan GCG bagi Bank
Umum adalah pembentukan Komite Pemantau Risiko. Komite ini
merupakan komite yang berada di bawah dewan komisaris, yang memiliki
fungsi membantu dewan komisaris dalam tugas pengawasan, khususnya di
bidang manajemen risiko.
Dibandingkan dengan sektor non-perbankan, ternyata risiko sektor
perbankan lebih banyak dan jauh lebih kompleks. Tercatat kurang lebih
ada 9 (sembilan) risiko yang dihadapi mulai dari risiko operasional, risiko
pasar, risiko likuiditas, risiko hukum, risiko reputasi, risiko strategik, dan
risiko kepatuhan (Fajri, 2007). Oleh karena itu, Bank Indonesia
45 Pemantau Risiko yang memiliki fungsi untuk melaksanakan evaluasi
tentang kesesuaian antara kebijakan manajemen risiko dengan pelaksanaan
kebijakan tersebut dan melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan
tugas Komite Manajemen Risiko dan Satuan Kerja Manajemen Risiko di
tingkat direksi. Pembentukan Komite Pemantau Risiko menjadi efektif
dengan mempertimbangkan tingkat kegunaannya bagi perusahaan.
e. Reputasi Auditor
Auditor merupakan kunci mekanisme pengawasan eksternal dari
sebuah organisasi, dan dalam beberapa tahun ini menjadi pusat perhatian
bagi manajemen risiko (Subramaniam, et al., 2009). Auditor eksternal juga dapat mempengaruhi sistem pengawasan internal klien dengan membuat
rekomendasi post-audit pada peningkatan desain dari sistem (Subramaniam, et al., 2009).
Auditor dengan reputasi baik seperti Big Four juga cenderung untuk lebih memilih berhubungan dengan klien yang memiliki nilai yang baik
dalam komunitas bisnis, oleh karena itu auditor Big Four akan mempengaruhi klien untuk bertindak sesuai dengan praktek terbaik.
(Carson, 2002 dalam Andarini dan Indira, 2010). Auditor Big Four dapat meningkatkan kualitas mekanisme pengawasan internal yang lebih tinggi
kepada kliennya dibandingkan dengan auditor non-Big Four (Cohen et al., 2004 dalam Subramaniam et al., 2009).
46 f. Struktur Kepemilikan
Pengelolaan perusahaan pada umumnya bertujuan untuk
memakmurkan pemiliknya. Semakin tinggi nilai perusahaan
menggambarkan semakin sejahtera pemiliknya. Nilai perusahaan akan
tercermin dari harga pasar sahamnya (Fama, 1978 dalam Untung dan
Hartini, 2006 dalam Pujiati 2010). Untuk mencapai tujuan tersebut, para
pihak yang berkepentingan seperti pemilik modal (sebagai principal) bisa mempercayakan kepada para profesional (managerial) untuk mengelola perusahaan dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
Berdasarkan teori keagenan (agency theory), adanya pemisahan kepemilikan dan pengelolaan perusahaan dapat menimbulkan masalah
keagenan (agency problems), yaitu ketidaksejajaran antara principal (pemilik atau pemegang saham) dan agent (manajer). Adanya beberapa penyatuan kepentingan pemegang saham, debtholders dan manajemen dengan pihak-pihak yang mempunyai kepentingan terhadap tujuan
perusahaan, seringkali menimbulkan masalah-masalah. Untuk itu,
diperlukan sebuah kontrol dari pihak luar dimana peran monitoring dan
pengawasan yang baik akan mengarahkan tujuan sebagaimana mestinya.
Manajemen merupakan pihak yang dikontrak oleh pemegang
saham untuk bekerja demi kepentingan pemegang saham. Untuk itu
manajemen diberikan sebagian kekuasaan untuk membuat keputusan bagi
kepentingan terbaik pemegang saham. Oleh karena itu, manajemen wajib
47 Struktur kepemilikan dapat dibedakan menurut dua sudut pandang yang
berbeda, yakni:
a. Pendekatan keagenan
Struktur kepemilikan merupakan suatu mekanisme untuk mengurangi
konflik kepentingan antara manajer dengan pemegang saham.
b. Pendekatan informasi asimetri
Struktur kepemilikan sebagai salah satu cara untuk mengurangi
ketidakseimbangan informasi antara insider dan outsider melalui pengungkapan informasi.
Menurut Untung dan Hartini (2006), struktur kepemilikan
dikelompokkan atas proporsi saham yang dimiliki yaitu:
a. Kepemilikan manajerial (Managerial Ownership)
Merupakan proporsi pemegang saham dari pihak manajemen yang
secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan perusahaan (direktur
dan komisaris).
b. Kepemilikan institusional (Institusional Ownership)
Merupakan proporsi pemegang saham yang dimiliki oleh pemilik
institusional seperti perusahaan asuransi, bank, perusahaan investasi
dan kepemilikan lain kecuali anak perusahaan dan institusi lain yang
memiliki hubungan istimewa (perusahaan afiliasi dan perusahaan
asosiasi) atas laporan yang dibuat menurut data di Bursa Efek
Indonesia serta kepemilikan saham oleh pihak blockholders yaitu saham yang dimiliki perseorangan diatas 5% selama tiga tahun
48 berturut-turut tetapi tidak termasuk dalam golongan kepemilikan
insider.
g. Konsentrasi Kepemilikan
Pemegang saham dalam sebuah perusahaan bisa merupakan
individu, keluarga atau kelompok keluarga, perusahaan, bank, investor,
institusi (perusahaan keuangan, perusahaan asuransi, lembaga pensiun,
atau lembaga pendanaan), atau perusahaan non keuangan (Gunarsih,
2002). Menurut Nuryaman (2008) struktur kepemilikan saham
mencerminkan distribusi kekuasaan dan pengaruh di antara pemegang
saham atas kegiatan operasional perusahaan. Salah satu karakteristik
struktur kepemilikan adalah konsentrasi kepemilikan. Kepemilikan
terkonsentrasi merupakan fenomena yang lazim ditemukan di negara
dengan ekonomi sedang bertumbuh seperti Indonesia dan di negara-negara
continenal Europe. Sebaliknya, di negara-negara Anglo Saxon seperti Inggris dan Amerika Serikat, struktur kepemilikan relatif sangat menyebar
(La Porta dan Silanez, 1999).
Kepemilikan saham dikatakan terkonsentrasi jika sebagian besar
saham dimiliki oleh sebagian kecil individu atau kelompok, sehingga
pemegang saham tersebut memiliki jumlah saham yang relatif dominan
dibandingkan dengan lainnya. Kepemilikan saham dikatakan menyebar,
jika kepemilikan saham menyebar secara relatif merata ke publik, tidak
ada yang memiliki saham dalam jumlah sangat besar dibandingkan dengan
49 menyebar, maka pengendalian pemilik akan lemah karena lemahnya
pengawasan (monitoring). Apabila kepemilikan saham terkonsentrasi, maka pemilik saham terbesar dapat melakukan pengawasan total terhadap
manajemen (Rini dan Aida, 2006). Teori yang dikemukakan oleh La Porta et al. (2000) dalam Rini dan Aida (2006) menyatakan bahwa pemegang saham mayoritas biasanya lebih banyak berperan dalam pengambilan
keputusan untuk kepentingan perusahaan pada negara-negara di Asia.
Penelitian yang dilakukan oleh Rini dan Aida (2006) tentang pengaruh
kepemilikan saham minoritas (publik) dan kepemilikan saham mayoritas
terhadap kebijakan deviden menggunakan proksi persentase pemilik
saham terbesar untuk mengukur kepemilikan saham mayoritas. Hal ini
tidak jauh berbeda dengan penelitian Meisaroh dan Lucyanda (2011)
menggunakan proksi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan
saham lebih dari 50% untuk mengukur konsentrasi kepemilikan.
Adapun pengertian kepemilikan saham mayoritas sesuai dengan
Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha No.7 Tahun 2011 tentang
Pedoman Pasal 27 (Pemilikan Saham) UU No.5 Tahun 1999 adalah
bentuk penguasaan terhadap bagian modal perusahaan yang berakibat
bahwa pemegang saham yang bersangkutan memegang kendali terhadap
manajemen, penentuan arah, strategi, dan kebijakan perusahaan termasuk
tapi tidak terbatas pada kebijakan pengambilan tindakan korporasi
50 akses terhadap informasi sensitif (private information), pembagian keuntungan, penggabungan, peleburan, dan atau pengambilalihan.
Untuk mengetahui apakah suatu kepemilikan saham mayoritas oleh
suatu pelaku usaha dilarang oleh UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, maka perlu diperhatikan
beberapa hal sebagai berikut:
1. Pelaku usaha memiliki saham mayoritas pada dua atau lebih
perusahaan/perseroan;
2. Kepemilikan saham mayoritas tersebut, dengan tetap memperhatikan
apa yang diatur dalam anggaran dasar perseroan, memberikan
kewenangan yang lebih besar dengan melakukan pengendalian atas
perseroan;
3. Dua atau lebih perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang
sejenis;
4. Dua atau lebih perusahaan tersebut melakukan kegiatan usaha pada
pasar bersangkutan yang sama; dan
5. Kepemilikan pelaku usaha pada dua atau lebih perusahaan tersebut
mengakibatkan satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha
menguasai pangsa pasar sebesar 50% atas suatu barang/jasa atau
menguasai pangsa pasar sebesar 75% atas suatu barang/jasa.
Kepemilikan saham mayoritas yang dilarang adalah bentuk
penguasaan terhadap modal perusahaan yang berakibat pada pemegang
51 arah, strategi, dan kebijakan perusahaan, termasuk tapi tidak terbatas pada
penentuan direksi/komisaris, penentuan hak veto, akses terhadap informasi
sensitive (private information), pembagian keuntungan dan tindakan korporasi (corporate actions) termasuk tetapi tidak terbatas pada penggabungan, peleburan, pengambilalihan, pemisahan, divestasi,
investasi, pencatatan saham pada bursa, privatisasi.
Kendali yang dimaksud adalah baik kendali dengan memiliki
proporsi jumlah saham secara kumulatif lebih besar yang dimiliki oleh
satu pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha dibandingkan dengan
jumlah saham yang dimiliki oleh pelaku usaha atau kelompok pelaku
usaha lain atas badan usaha yang sama. Misalkan suatu perusahaan
dimiliki oleh tiga pelaku usaha dengan komposisi kepemilikan 40%, 35%,
dan 25%, maka yang disebut sebagai saham mayoritas pada contoh ini
adalah kepemilikan 40%. Pemilikan saham mayoritas yang diatur oleh
undang-undang ini adalah kepemilikan saham mayoritas pada dua atau
lebih perusahaan. Jadi dalam hal pemilikan saham mayoritas pada satu
perusahaan, maka kepemilikan saham tersebut tidak melanggar ketentuan
pasal 27 UU No. 5/1999. Selain itu dikenal juga kendali bentuk lain yaitu
walaupun memiliki saham tidak dalam jumlah terbanyak tetapi cukup
untuk pengambilan keputusan strategis dalam rapat umum pemegang
saham.
Perbedaan pola kepemilikan ini memberi implikasi yang berbeda
52 dengan menggunakan sampel perusahaan di Amerika Serikat dan Inggris
tidak menemukan hubungan yang signifikan antara struktur kepemilikan
dengan kinerja perusahaan. Chen (2001) dengan mengambil sampel
perusahaan di negara berkembang menemukan hubungan positif antar
struktur kepemilikan dengan kinerja perusahaan. Sedangkan Morck dan
Shivdasani (1988) menghasilkan kesimpulan bahwa hubungan konsentrasi
kepemilikan dengan kinerja bersifat nonmonotonic. Konsentrasi kepemilikan dapat menjadi mekanisme internal pendisiplinan manajemen,
sebagai salah satu mekanisme yang dapat digunakan untuk meningkatkan
efektivitas monitoring, karena dengan kepemilikan yang besar menjadikan
pemegang saham memiliki akses informasi yang cukup signifikan untuk
mengimbangi keuntungan informasional yang dimiliki manajemen. Jika
ini dapat diwujudkan maka tindakan moral hazard manajemen berupa manajemen laba dapat dikurangi seperti yang telah dikemukakan oleh
Hubert dan Langhe (2002) dalam Nuryaman (2008).
Di negara-negara dengan derajat perlindungan terhadap investor
rendah (seperti halnya Indonesia), pemegang saham merasa khawatir akan
kemungkinan berbedanya pendapatan yang diperoleh dengan yang
diekspektasikan. Akibatnya, mereka memperbesar persentase kepemilikan
atas perusahaan sebagai salah satu cara untuk melindungi diri. Mereka
dapat mengendalikan perusahaan melalui voting power, atau representasi mereka di manajemen sehingga hak-hak mereka terlindungi (La Porta dan
53 kepemilikan sebagai mekanisme corporate govenrnance, serta dampaknya terhadap kinerja keuangan perusahaan, dengan menggunakan emiten non financial yang berkapitalisasi menengah besar yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (sekarang BEI). Hasilnya menunjukan bahwa kepemilikan
terkonsentrasi terbesar memiliki pengaruh positif terhadap kinerja
keuangan perusahaan. Hasil ini bermakna bahwa kepemilikan saham
terkonsentrasi dapat berperan sebagai mekanisme corporate governance dalam mengurangi persoalan keagenan, sebab konsentrasi kepemilikan
dapat menjadikan pemegang saham pada posisi yang kuat untuk dapat
mengendalikan manajemen secara efektif, sehingga mendorong
manajemen bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham.
Pada struktur kepemilikan yang lebih terkonsentrasi, investor besar
memiliki insentif untuk mengumpulkan informasi dan memantau
manajemen secara langsung (Shleifer dan Vishny, 1997), sehingga mereka
tidak bergantung pada dewan untuk masalah pemantauan. Selain itu,
investor besar mampu memantau kemampuan dewan, karena mereka
memiliki akses informasi dan nilai yang relevan (Heflin dan Shaw, 2000).
Investor besar terlibat dengan manajemen dalam menetapkan kebijakan
perusahaan (Davies, 2002), memiliki beberapa kemampuan untuk
mempengaruhi voting dan mungkin mendapat perhatian khusus dari manajemen (Useem, 1996). Oleh karena itu, pemegang saham pengendali
dapat memantau ketidaksinambungan manajerial yang terjadi dalam
54 Penelitian sebelumnya (La Porta, et al., 1999 dan Faccio, Lang dan Young, 2001), menentukan perusahaan dengan kepemilikan terkonsentrasi
jika individu, kelompok keluarga atau perusahaan memiliki saham
minimal 20% dari total saham perusahaan. Kepemilikan langsung dan
kepemilikan tidak langsung dianggap menentukan struktur kepemilikan
(menggunakan ambang batas tingkat 20% untuk menentukan kontrol
kepemilikan tidak langsung, misalnya, jika seorang investor memiliki 80%
saham dari perusahaan X yang memiliki 20% saham dari perusahaan Y,
maka investor ini menguasai 20% saham dari perusahaan Y melalui