BAB III HASIL DAN ANALISIS PENILAIAN INISIATIF ANTI KORUPSI 2011
3.2. Indikator PIAK 2011
3.2.5. Mekanisme Pengaduan Masyarakat
guna mencapai pelaksanaan pengadaan yang transparan, akuntabel serta mencegah adanya praktek KKN dalam proses pengadaan. Keunggulan sistem e-procurement Pemerintah Kota Surabaya adalah sebagai berikut:
1. One time registration, penyedia barang/jasa yang berminat mengikuti lelang cukup melakukan satu kali registrasi;
2. Komunikasi online, Aanwijzing dan penawaran bisa dilakukan secara online sehingga dapat meminimalisir pertemuan penyedia jasa dengan panitia pengadaan;
3. Paperless, mengurangi banyaknya kertas kerja yang dibutuhkan selama proses pengadaan; 4. Proses pelaksanaan lelang terkontrol sesuai jadwal;
5. Membantu panitia untuk melaksanakan lelang sesuai dasar hukum yang berlaku; 6. Membuka kesempatan yang sama dan merata kepada penyedia barang/jasa;
7. Keamanan data penawaran dilengkapi dengan sistem IKP (Infrastruktur kunci publik) sehingga keamanan nilai penawaran yang dimasukkan dalam portal dapat dipertanggungjawabkan;
8. Ketersediaan data, dengan sistem berbasis IT ketersediaan data laporan, rekapitulasi, nilai penghematan, dll dapat dengan mudah diperoleh;
9. Penghematan anggaran secara keseluruhan.
10. Untuk mekanisme kontrol dibentuk tim monitoring evaluasi (monev) berbasis web (e-controlling) yang dibentuk dengan SK walikota diluar ULP. Sistem e-controlling merupakan sistem pengendalian kegiatan berbasis web untuk memfasilitasi pengumpulan informasi perkembangan pelaksanaan kegiatan/pekerjaan dan permasalahannya. Aplikasi ini dapat mengkases berita pekerjaan (termasuk sanggahan), sms box dan jajak pendapat.
3.2.5. Mekanisme Pengaduan Masyarakat
Pada PIAK 2011 ini terdapat penambahan satu indikator Penilaian Anti Korupsi yaitu indikator Mekanisme Pengaduan Masyarakat. Indikator ini dianggap dapat secara langsung berdampak pada pencegahan dan pemberantasan korupsi. Setiap lembaga pemerintahan, idealnya harus memiliki mekanisme pengaduan (complaint system) yang efektif. Ketersediaan mekanisme pengaduan ini juga memungkinkan adanya supervisi yang optimum dan feed back dari pihak eksternal atas kinerja unit utama. Penanganan pengaduan sebaiknya dilakukan oleh staf yang kompeten karena pelapor pengaduan cenderung menuntut perhatian segera terhadap masalah yang diadukannya. Sistem pengaduan yang efektif harus memiliki beberapa sumberdaya pengaduan, yaitu:
1. Media pengaduan yang digunakan adalah suatu media yang mudah diakses oleh masyarakat umum;
2. Terdapat petugas atau bagian yang bertugas secara khusus untuk mengelola pengaduan tersebut;
3. Terdapat mekanisme tertulis tentang penanganan laporan pengaduan;
4. Setiap pengaduan yang masuk harus diadministrasikan dengan baik, sehingga mudah diakses ketika sewaktu-waktu diperlukan;
Direktorat Penelitian dan Pengembangan KPK 28
5. Dilakukannya evaluasi terhadap mekanisme pengaduan masyarakat, ini disesuaikan dengan kondisi organisasi dan masyarakat yang cenderung berubah.
Dalam mekanisme penanganan pengaduan dikenal istilah whistleblower yaitu suatu sistem yang dapat dijadikan media bagi saksi pelapor untuk menyampaikan informasi mengenai tindakan penyimpangan yang diindikasi terjadi di dalam suatu organisasi. Sistem ini penting karena merupakan metode yang efektif sebagai deteksi dini terhadap kecurangan. Dengan adanya mekanisme perlindungan terhadap pelaporan sistem ini diharapkan membuat orang tidak takut menjadi martir untuk mengkontrol dan memonitoring perilaku tidak etis, korupsi, kolusi, pelecehan dan diskriminasi yang terjadi. Mekanisme tindak lanjut terhadap laporan dalam hal ini juga penting untuk diatur. Jika dijalankan dengan benar, mekanisme ini dapat membantu meningkatkan integritas pengelolaan organisasi, serta dapat mendorong perubahan kultur organisasi kearah yang lebih baik.
Didalam Penilaian Inisiatif Anti Korupsi, ketersediaan mekanisme pengaduan masyarakat sebagai salah satu indikator utama dinilai berdasarkan dua subindikator yakni: 1) Ketersediaan sumberdaya pengaduan masyarakat; 2) Penegakan kode etik.
Tabel III.16.
Nilai Rata-Rata Indikator Utama Mekanisme Pengaduan Masyarakat Tingkat Nasional, Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah
Peringkat Unit Utama/Pemerintah Daerah
Kode Etik Khusus
Nilai Total Indikator Sub Indikator Ketersediaan Mekanisme Penerapan & Pelembagaan Penegakan
1 Pemerintah Kota Makassar 7,58 6,67 7,33 8,50 2 Pemerintah Kota Palembang 6,93 6,67 3,50 10,00
Secara umum, mekanisme pengaduan masyarakat belum tersedia dengan baik, ini ditunjukkan oleh nilai rata-rata yang diperoleh untuk indikator ini di bawah 6. Namun di instansi pusat terdapat 7 unit utama yang berhasil mendapatkan skor diatas nilai standar minimal. Sementara di Pemerintah Daerah hanya terdapat 3 Pemda yang memperoleh nilai diatas standar minimal.
Untuk subindikator ketersediaan sumberdaya pengaduan masyarakat memiliki nilai rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan subindikator penanganan tindak lanjut pengaduan masyarakat. Ini terjadi karena sebagian besar peserta PIAK dalam hal ketersediaan mekanisme pengaduan telah menyediakan media sederhana untuk pengaduan, namun untuk mekanisme penanganan tindak lanjut pengaduan belum ada.
Berikut merupakan Instansi Pusat dan unit utama yang mendapatkan nilai indikator mekanisme pengaduan masyarakat diatas nilai standar minimal yang telah ditetapkan
2011 Laporan Penilaian Inisiatif Anti Korupsi
29 Direktorat Penelitian dan Pengembangan KPK
Tabel III.17.
Instansi Pusat dan Unit Utama dengan
Nilai Indikator Mekanisme Pengaduan Masyarakat di Atas 6
Peringkat Instansi Pusat dan Unit Utama
Mekanisme Pengaduan Masyarakat Nilai Total
Indikator
Sub Indikator Sumberdaya
Pengaduan Masyarakat
Tindak Lanjut Terhadap Pengaduan Masyarakat Instansi Pusat
1 Kementerian Perdagangan 8,31 9,10 7,67 2 Kementerian Agama 7,82 8,14 7,56 3 Kementerian Perhubungan 6,86 7,10 6,67 4 Kementerian Energi dan Sumberdaya
Mineral
6,78 9,10 4,89 5 Kementerian Pekerjaan Umum 6,21 7,60 5,07 6 Kementerian Pertanian 6,14 8,76 4,00 7 Kepolisian Negara Republik Indonesia 6,08 7,05 5,28
Unit Utama di Instansi Pusat
1 Direktorat Jenderal Pendidikan Islam 8,76 9,29 8,33 2 Divisi Hubungan Masyarakat Polri 8,71 9,57 8,00 3 Sekretariat Jenderal Kementerian
Energi dan Sumberdaya Mineral
8,58 9,29 8,00 4 Sekretariat Jenderal Kementerian
Perdagangan
8,40 9,29 7,67 5 Direktorat Jenderal Perdagangan Luar
Negeri
8,40 9,29 7,67 6 Staf Sumberdaya Manusia Polri 8,27 9,00 7,67 7 Badan Pengawasan Perdagangan
Berjangka Komoditi (BAPPEBTI)
8,14 8,71 7,67 8 Sekretariat Jenderal Kementerian
Perhubungan
7,72 9,00 6,67 9 Badan Penelitian dan Pengembangan
dan Diklat Kementerian Agama
7,43 7,14 7,67 10 Sekretariat Jenderal Kementerian
Agama
7,27 8,00 6,67 11 Divisi Profesi dan Pengamanan Polri 7,18 9,43 5,33 12 Korps Lalu Lintas Polri 7,11 9,29 5,33 13 Direktorat Jenderal Pemasyarakatan 6,99 9,43 5,00 14 Sekretariat Jenderal Kementerian
Pekerjaan Umum
6,99 9,43 5,00 15 Direktorat Jenderal Sumberdaya Air 6,99 9,43 5,00 16 Deputi Bidang Perlindungan 6,62 9,00 4,67 17 Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 6,56 6,43 6,67 18 Sekretariat Kementerian Pertanian 6,47 7,86 5,33 19 Direktorat Jenderal Industri Unggulan
Berbasis Teknologi Tinggi
6,35 8,00 5,00 20 Direktorat Jenderal Perhubungan Laut 6,30 5,86 6,67 21 Direktorat Jenderal Pengelolaan dan
Pemasaran Hasil Pertanian
6,08 9,43 3,33 22 Badan Geologi 6,01 9,29 3,33
Direktorat Penelitian dan Pengembangan KPK 30 Bila dilihat dari penilaian pada masing-masing unit utama di masing-masing instansi pusat, nilai yang diperoleh antar unit utama dalam subindikator sumberdaya pengaduan tidak terlalu berbeda. Hal ini dikarenakan upaya yang telah dilakukan dalam memenuhi indikator mekanisme pengaduan masyarakat hampir sama seperti: 1) Sudah tersedianya media pengaduan masyarakat pada masing-masing unit utama; 2) Sudah tersedia petugas khusus yang menangani pengaduan, yang tugasnya menerima, mencatat, memverifikasi, menelaah isi laporan pengaduan, menindaklanjuti hasil telaahan pengaduan masyarakat dan menyampaikan hasil tindak lanjut kepada pelapor; 3) Telah dilakukan pencatatan atau pengadministrasian terhadap pengaduan masyarakat yang masuk.
Sedangkan upaya yang belum dilakukan terkait indikator mekanisme pengaduan ini adalah: 1) Belum adanya aturan dan mekanisme pengaduan yang dapat menjamin kerahasiaan dari pelapor; 2) Belum adanya petugas atau bagian yang berkompeten dan bertugas menangani secara khusus untuk mengelola pengaduan; 3) Belum melakukan evaluasi secara berkala terhadap mekanisme penanganan pengaduan masyarakat; 4) Belum tersedianya SOP tentang mekanisme penanganan laporan pengaduan masyarakat.
Ditjen Pendidikan Islam dalam memenuhi indikator mekanisme pengaduan masyarakat telah menyediakan media pengaduan sederhana berupa kotak pengaduan, hotline, fax, kotak surat dan ruang pengaduan. Tersedianya Keputusan Ditjen Pendidikan Islam Nomor: DJ.I/205/2010 tentang Tim Pemprosesan Pengaduan Masyarakat Ditjen Pendidikan Islam, serta SOP tentang mekanisme penanganan laporan pengaduan masyarakat.
Tabel III.18.
Pemerintah Daerah dengan Nilai Indikator Mekanisme Pengaduan Masyarakat di Atas 6
Peringkat Pemerintah Daerah
Mekanisme Pengaduan Masyarakat Nilai Total
Indikator
Sub Indikator Sumberdaya Pengaduan
Masyarakat
Tindak Lanjut Terhadap Pengaduan Masyarakat
1 Pemerintah Kota Banjarmasin 6,67 8,71 5,00 2 Pemerintah Kota Semarang 6,62 9,00 4,67 3 Pemerintah Kota Surabaya 6,25 9,00 4,00
Begitu juga yang terjadi dengan nilai yang diperoleh di Pemerintah Daerah. Untuk Pemerintah Daerah nilai subindikator sumberdaya pengaduan masyarakat memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan subindikator tindak lanjut terhadap pengaduan masyarakat.