• Tidak ada hasil yang ditemukan

Transparansi Penyelenggara Negara

BAB III HASIL DAN ANALISIS PENILAIAN INISIATIF ANTI KORUPSI 2011

3.2. Indikator PIAK 2011

3.2.3. Transparansi Penyelenggara Negara

kinerja yang digunakan adalah 1) Target dan realisasi; 2) Ketepatan waktu; 3) Efisiensi anggaran. Penilaian ini dilakukan 3 bulan sekali.

Dari hasil penilaian indikator transparansi dalam manajemen SDM ditingkat pusat dan daerah, ada dua subindikator yang harus diperbaiki oleh keseluruhan peserta yaitu ketersediaan penilaian kinerja yang terukur dan terselenggaranya proses promosi dan penempatan pegawai yang transparan.

3.2.3. Transparansi Penyelenggara Negara

Dalam penilaian indikator peningkatan transparansi penyelenggara negara, PIAK 2011 ini menggunakan subindikator yang sama dengan PIAK 2009 dan 2010, yaitu: 1) Persentase kepatuhan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN); 2) Mekanisme pelaporan gratifikasi. Gratifikasi merupakan suatu hal yang relatif baru dalam penegakan hukum tindak pidana korupsi di Indonesia. Penerimaan gratifikasi oleh penyelenggara negara dari pihak yang memiliki hubungan afiliasi (misalnya: pemberi kerja-penerima kerja, atasan-bawahan dan kedinasan) dapat memberikan pengaruh terhadap penyelenggara negara tersebut, dalam melakukan pengambilan keputusan. Pemberian tersebut berpotensi menimbulkan konflik kepentingan pada pejabat yang bersangkutan. Untuk menghindari terjadinya konflik kepentingan yang timbul karena gratifikasi tersebut, penyelenggara negara harus membuat suatu declaration of interest untuk memutus kepentingan pribadi yang timbul dalam hal penerimaan gratifikasi. Bentuk declaration of interest adalah dengan melaporkan gratifikasi yang diterimanya untuk kemudian ditetapkan status kepemilikan gratifikasi tersebut oleh KPK. Hal ini sesuai dengan pasal 12C Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 juncto undang-undang nomor 20 tahun 2001.

Selain pelaporan gratifikasi, subindikator lain dalam transparansi penyelenggara negara adalah persentase pelaporan LHKPN. Pentingnya LHKPN sebagai subindikator transparansi penyelenggara negara dalam rangka pencegahan korupsi dikarenakan, LHKPN telah berkembang menjadi isu etika dan antikorupsi global, sehingga kewajiban laporan kekayaan diyakini penting oleh banyak negara sebagai media untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pejabat dan lembaga publik. Mekanisme pelaporan harta kekayaan adalah media yang memungkinkan pengawasan kejujuran dan deteksi kemungkinan adanya situasi benturan kepentingan atau tindakan memperkaya diri secara ilegal oleh pejabat publik. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka mendukung tercapainya tujuan pemberantasan korupsi yang efektif.

Kewajiban melaporkan harta kekayaan ini diarahkan kepada para pejabat publik yang ditetapkan secara spesifik dalam suatu peraturan, yaitu sebagai berikut:

1. Penyelenggara negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 adalah sebagai berikut:

1. Pejabat Negara pada Lembaga Tertinggi Negara; 2. Pejabat Negara pada Lembaga Tinggi Negara 3. Menteri

Direktorat Penelitian dan Pengembangan KPK 22

5. Hakim

6. Pejabat negara yang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, dan 7. Pejabat lain yang memiliki fungsi strategis dalam kaitannya dengan penyelenggaraan

negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang meliputi:

a. Direksi, Komisaris dan pejabat struktural lainnya sesuai pada Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah;

b. Pimpinan Bank Indonesia;

c. Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri;

d. Pejabat Eselon I dan pejabat lain yang disamakan di lingkungan sipil, militer dan Kepolisian Negara Republik Indonesia;

e. Jaksa; f. Penyidik;

g. Panitera Pengadilan; dan

h. Pemimpin dan Bendaharawa Proyek.

2. Surat Edaran Nomor: SE/03/M.PAN/01/2005 tentang Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara NegaraTentang Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), yang juga mewajibkan jabatan-jabatan dibawah ini untuk melaporkan LHKPN:

1. Pejabat Eselon II dan pejabat lain yang disamakan di lingkungan instansi pemerintah dan atau lembaga negara;

2. Semua Kepala Kantor di lingkungan Departemen Keuangan; 3. Pemeriksa Bea dan Cukai;

4. Pemeriksa Pajak; 5. Auditor;

6. Pejabat yang mengeluarkan perijinan;

7. Pejabat/Kepala Unit Pelayanan Masyarakat; dan 8. Pejabat pembuat regulasi.

Selain itu untuk mendukung berjalannya pelaporan LHKPN ini maka masing-masing Pimpinan Instansi diminta untuk mengeluarkan Surat Keputusan tentang penetapan jabatan-jabatan yang rawan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) di lingkungan masing-masing instansi, pejabat-pejabat tersebut selanjutnya diwajibkan untuk menyampaikan LHKPN kepada KPK, sesuai dengan Surat Edaran Nomor: SE/05/M.PAN/04/2005.

Penilaian subindikator tersedianya mekanisme pelaporan gratifikasi ini diukur dari tiga subindikator, yaitu kesediaan peraturan tentang gratifikasi; sosialisasi gratifikasi; dan adanya fasilitas pelaporan gratifikasi.

2011 Laporan Penilaian Inisiatif Anti Korupsi

23 Direktorat Penelitian dan Pengembangan KPK

Tabel III.10.

Nilai Rata-Rata Indikator Utama Transparansi Penyelenggara Negara Tingkat Nasional, Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah

No Total Indikator/Sub Indikator PIAK Nasional Pusat Daerah

1.3.

Transparansi Penyelenggara Negara (0,124) 3,64 4,02 3,26

1.3.1.

Mekanisme Pelaporan Gratifikasi (0,506) 2,94 3,39 2,48 1.3.2.

Persentase Kepatuhan LHKPN (0,494) 4,37 4,67 4,06

Berdasarkan data dapat disimpulkan bahwa tingkat transparansi penyelenggara negara terutama terhadap pelaporan LHKPN dan pelaporan gratifikasi masih rendah, terlebih pada Pemerintah Daerah. Rata-rata transparansi kepatuhan LHKPN umumnya lebih baik dibanding transparansi dalam pelaporan gratifikasi.

Berikut merupakan Instansi Pusat dan unit utama yang mendapatkan nilai indikator transparansi penyelenggara negara diatas nilai standar minimal yang telah ditetapkan

Tabel III.11.

Instansi Pusat dan Unit Utama dengan

Nilai Indikator Transparansi Penyelenggara Negara di Atas 6

Peringkat Instansi Pusat dan Unit Utama

Transparansi Penyelenggara Negara Nilai Total Indikator Sub Indikator Mekanisme Pelaporan Gratifikasi % Kepatuhan LHKPN Instansi Pusat:

1 Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral

9,27 9,00 9,55 2 Kementerian Perhubungan 8,13 7,11 9,16 3 Kementerian Perdagangan 7,73 5,67 9,83

Unit Utama di Instansi Pusat:

1 Sekretariat Jenderal Kementerian Perhubungan

9,41 9,00 9,83 2 Sekretariat Jenderal Kementerian Energi

dan Sumberdaya Mineral

9,41 9,00 9,83 3 Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi 9,41 9,00 9,83 4 Badan Geologi 9,00 9,00 9,00 5 Sekretariat Jenderal Kementerian

Perdagangan

7,73 5,67 9,83 6 Badan Pengawasan Perdagangan

Berjangka Komoditi (BAPPEBTI)

7,73 5,67 9,83 7 Direktorat Jenderal Perdagangan Luar

Negeri

7,73 5,67 9,83 8 Direktorat Jenderal Perhubungan Laut 7,49 6,67 8,33 9 Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 7,48 5,67 9,33 10 Sekretariat Jenderal Kementerian

Pertanian

Direktorat Penelitian dan Pengembangan KPK 24 Perolehan nilai tertinggi dari indikator transparansi penyelenggara negara didapatkan oleh Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral. Hal ini terjadi berkat tingginya tingkat pelaporan LHKPN di unit utamanya dan terdapat Peraturan Menteri ESDM No. 016 Tahun 2007 tentang Laporan Harta Kekayaan Negara di Lingkungan Kementerian ESDM. Peraturan tersebut mengatur ketetapan wajib lapor, persyaratan bahwa LHKPN adalah merupakan salah satu kelengkapan dalam sistem promosi/ mutasi, serta adanya aturan tentang sanksi internal bagi Wajib Lapor yang tidak melaporkan LHKPN. Selain itu nilai tinggi tersebut juga didapat karena terdapat SK Ditjen Minyak dan Gas Bumi Nomor: 1920.K/06/DJM.S/2011 tentang Pedoman Pelaporan Gratifikasi serta Dibentuknya Tim Koordinasi Pelaporan Gratifikasi.

Berbeda dengan Instansi Pusat, kondisi memperihatinkan terjadi ditingkat Pemerintah Daerah, dimana tidak ada satu pun Pemerintah Daerah yang mendapatkan skor di atas 6,00 dalam hal transparansi penyelenggara negara. Kondisi ini perlu dicari akar permasalahannya. Apakah sosialisasi yang kurang atau kekurang pedulian pejabat daerah sehingga seluruh Pemerintah Daerah mendapatkan skor yang rendah untuk indikator ini.

Tabel III.12.

Pemerintah Daerah dengan Nilai Indikator Transparansi Penyelenggara Negara di Atas 6

Peringkat Unit Utama/Pemerintah Daerah

Transparansi Penyelenggara Negara Nilai Total

Indikator

Sub Indikator

% Kepatuhan LHKPN Mekanisme Pelaporan

Gratifikasi

Untuk Pemerintah Daerah pada indikator transparansi penyelenggara negara tidak ada yang memiliki nilai di atas 6