• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PERLINDUNGAN HUKUM NASABAH BANK DALAM

D. Mekanisme Penyelesaian Klaim

Dengan berkembangnya penggunaan sarana elektronik dalam berbagai transaksi terutama di bidang perbankan, maka dapat memberikan kemudahan pelayanan perbankan kepada nasabah. Selain itu, adanya manfaat yang sangat besar bagi pihak perbankan, khususnya dalam hal penyimpanan dokumen sebagai hasil kegiatan usaha yang dilakukan. Namun, terdapat pula kekurangan dan kelemahannya apabila dihadapkan pada masalah alat bukti di pengadilan. Permasalahan lainnya adalah mengenai keabsahan alat bukti transaksi elektronik apakah yang asli atau bukan.161

Apabila di dalam perjanjian internet banking salah satu pihak

wanprestasi maka timbul permasalahan. Penyelesaian permasalahan selalu

161

berkaitan dengan apa yang menjadi bukti dalam transaksi, sebagai akibat transaksi melalui media elektronik. Ini dikarenakan penggunaan dokumen atau data elektronik sebagai akibat transaksi melalui media elektronik, belum secara khusus diatur dalam hukum acara yang berlaku, baik dalam hukum acara perdata maupun dalam hukum acara pidana. 162

Dalam hukum perdata sebagaimana diatur dalam Pasal 1866 KUH Perdata dan Pasal 164 HIR, alat bukti terdiri atas bukti tertulis, bukti saksi, persangkaan, pengakuan, dan sumpah. Selanjutnya dalam Pasal 1867 KUH Perdata ditentukan bahwa pembuktian dengan tulisan dilakukan dengan tulisan otentik atau tulisan di bawah tangan. Pengertian ‘tulisan’ dalam pasal tersebut dipastikan dalam bentuk tertulis di atas kertas. 163

Menyadari adanya perkembangan teknologi antara lain dengan penggunaan microfilm atau microfiche untuk menyimpan suatu dokumen, maka Mahkamah Agung dengan suratnya tanggal 14 Januari 1998 yang ditujukan kepada Menteri Kehakiman menyatakan bahwa microfilm atau microfiche dapat dipergunakan sebagai alat bukti surat yang tersebut dalam Pasal 184 ayat (1) huruf c KUHAP. Namun dengan catatan bahwa baik microfilm atau microfiche itu sebelumnya dijamin otentiknya. Caranya dengan menelusuri kembali dari

162 Ibid. 163

registrasi maupun berita acara. Dalam surat tersebut dikemukakan pula bahwa terhadap perkara perdata berlaku pendapat yang sama. 164

Selanjutnya, untuk efesiensi pengelolaan dokumen keuangan dengan pertimbangan memanfaatkan perkembangan teknologi, dalam Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang No. 8 Tahun 1997 dengan tegas disebutkan bahwa dokumen perusahaan yang telah dimuat dalam microfilm atau media lainnya dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti yang sah. Dalam penjelasan pasal disebutkan bahwa yang dimaksud dengan media lainnya misalnya CD-ROM (Compact Disc-

Read Only Memory) atau WORM (Write Once Read Many).

Ada dua macam tujuan pokok yang ingin dicapai dari efesiensi pengelolaan dokumen keuangan dengan pertimbangan memanfaatkan perkembangan teknologi, yakni: 165

1. Efesiensi dalam pengelolaan suatu dokumen yang dilakukan dengan cara: a. Memberikan kemungkinan penyimpanan dokumen atau data dalam

media elektronik.

b. Memberikan kemungkinan melakukan transaksi tanpa mengunakan kertas (paperless transaction).

2. Pemberian status hukum bagi dokumen yang tersimpan dalam microfilm atau media lainnya dan/atau hasil cetaknya sebagai alat bukti yang sah.

164

Sri Harianingsih, “Keabsahan Transaksi Elektronik dan Aspek Hukum Pembuktian terhadap Data Elektronik di Indonesia”, (Jakarta : Makalah Seminar tentang Kebutuhan Legal Audit terhadap Penerapan Teknologi Sistem Informasi Perbankan serta Kaitannya dengan Persiapan Internet Banking, 31 Oktober, 2001), hal. 6.

165

Dasar pertimbangan adalah untuk mengatasi permasalahan hukum sebagai akibat suatu transaksi tanpa menggunakan kertas (paperles transaction) dan penyimpanan dokumen elektronik. 166

Dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP, alat bukti yang sah berupa keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa. Pengertian alat bukti yang sah dalam Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang No. 8 Tahun 1997 tentunya mengacu pada Pasal 184 ayat (1) huruf c KUHAP, yakni alat bukti dalam bentuk surat. Jadi dapat ditafsirkan bahwa alat bukti dalam bentuk surat, bukan saja yang tertulis di atas kertas, tetapi juga yang tersimpan dalam

microfilm atau media lainnya (CD-ROM atau WORM). 167

Namun dalam prakteknya ketentuan tersebut masih dipertanyakan efektivitasnya mengingat ketentuan Pasal 184 ayat (1) KUHAP belum dilakukan perubahan. Hal ini kurang beralasan mengingat hukum acara pidana dan dokumen perusahaan sama-sama diatur dengan undang-undang. Sehingga tidak beralasan untuk tidak menerima dokumen perusahaan yang tersimpan dalam

microfilm atau media lainnya dan/ atau hasil cetaknya sebagai alat bukti yang

sah.168

Di samping kekuatan pembuktian dari dokumen asli, maka kekuatan hukum juga harus diberikan terhadap electronic record asalkan memenuhi persyaratan tertentu. Misalnya informasi tersebut dapat terbaca dan adanya 166 Ibid., hal. 8 167 Ibid., hal. 9 168 Ibid., hal. 10

indikasi yang meyakinkan bahwa informasi tersebut merupakan satu kesatuan antara informasi yang pertama sekali di-input dengan informasi final. Karena itu, kewajiban menyimpan dokumen mestinya tetap berlaku secara hukum, sehingga jika electronic record tersebut rusak atau tidak terbaca lagi, alat bukti tersebut patut ditolak oleh pengadilan.169

Selain itu, berdasarkan model law untuk e-commerce UNCITRAL Pasal 5 dan Pasal 6 bahwa transaksi elektronik diakui sederajat dengan tulisan atau akta sehingga tidak bisa ditolak sebagai alat bukti di pengadilan. Kemudian dalam Pasal 15 ayat (2) Undang-Undang No. 8 Tahun 1997 memberikan solusi apabila masih terdapat keraguan terhadap dokumen yang dimuat dalam microfilm, yakni dengan melegalisasi dokumen tersebut yang mengatakan bahwa cetak sesuai aslinya. 170

Dalam perjanjian internet banking telah ditentukan bahwa sebagai alat bukti adalah catatan, tape atau cartridge, print-out komputer, salinan atau bentuk penyimpanan informasi atau data lain. Selain itu, semua komunikasi dan instruksi dari nasabah yang diterima oleh bank akan diperlukan sebagai alat bukti yang sah meskipun tidak dibuat dokumen tertulis ataupun dikeluarkan dokumen yang ditandatangani. 171

169

Munir Fuady, Hukum Perbankan Modern, Cet.1, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2001), hal. 131

137

Sri Harianingsih, Op. Cit., hal. 12 171

Dalam mekanisme penyelesaian klaim ada empat prinsip yang harus dipenuhi, yaitu :172

1. Prinsip fairness (keadilan), yaitu konsumen mempunyai jaminan penyelesaian klaim yang adil dan penegakan yang tegas.

2. Prinsip accessibility, yaitu konsumen mempunyai akses yang terbuka, jelas dan benar.

3. Prinsip affordability, yaitu konsumen diberikan kemudahan dalam penyelesaian klaimnya.

Selama ini, kendala utama konsumen dalam penyelesaian klaim melalui

internet banking adalah: 173

a. Kendala biaya, dimana konsumen memiliki kemampuan yang relatif kurang dalam mendanai penyelesaian klaimnya.

b. Hambatan personal dalam akses informasi dimana sebagian besar dikuasai oleh produsen.

c. Posisi tawar yang tidak seimbang, baik dari segi pendidikan dan keuangan yang meyebabkan konsumen selalu berada pada posisi yang lemah.

4. Prinsip availabity, yaitu sarana dan prasarana dalam penyelesaian klaim itu tersedia.

172

Indah Sukmaningsih, “Kebutuhan Legal Audit Terhadap Penerapan Teknologi Informasi Serta Kaitannya Dengan Persiapan Internet Banking”, (Makalah disampaikan pada Seminar tentang kebutuhan Legal Audit terhadap Penerapan Teknologi Informasi serta kaitannya dengan Penerapan Internet Banking, Jakarta, 31 Oktober, 2001), hal. 2.

173

Sedangkan unsur-unsur yang harus dipenuhi dalam mekanisme penyelesaian klaim, adalah: 174

1. Unsur keadilan

a. Adanya akuntabilitas publik atas informasi.

b. Lembaga penyelesaian klaim itu merupakan lembaga yang independen, terdiri dari berbagai unsur dalam masyarakat.

c. Tujuan penyelesaian klaim adalah keadilan yang murni tanpa rekayasa. 2. Unsur ketersediaan akses

a. Konsumen tidak dibebani biaya dalam penyelesaian klaimya.

b. Konsumen mendapat informasi yang jelas tentang produsen yang dijalani dalam penyelesaian klaim.

c. Konsumen diberi akses yang luas dalam pembuktian. d. Penyelesaian klaim dilakukan secara komprehensif. 3. Unsur efektivitas

a. Ruang lingkup pelanggaran dan kejahatan perbankan melalui internet diatur secara jelas.

b. Penyelesaian klaim dilakukan dengan mekanisme yang cepat dan tidak berlarut-larut.

c. Adanya transparansi dalam penyelesaian klaim. d. Adanya penegakan hukum.

174

Dalam hal perlindungan nasabah berkaitan dengan perlindungan konsumen maka perlu diperhatikan siapa yang bertanggung jawab atas kelalaian atau kesalahan yang telah terjadi dalam pengelolaan atau pengurus bank sehingga terjadi kerugian yang dialami oleh nasabah. Oleh karena itu bank selaku pelaku usaha mempunyai tanggung jawab untuk memberikan ganti rugi atas kerugian nasabah, sesuai dengan Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 dan Pasal 39 UU ITE.175

Apabila yang dipermasalahkan adalah bank yang melakukan kerja sama dengan pihak lain (out-sourching) dalam internet banking, misalnya penyedia layanan internet banking atau disebut sebagai Internet Service Provider (ISP), dapat dikenakan Pasal 24 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 dan pelanggaran Pasal 30-32 UU ITE yang dapat dikenakan sanksi dalam Pasal 46-48 UU ITE. Alasannya karena ISP juga ikut bertanggung jawab atas tuntutan ganti rugi dan/atau gugatan nasabah dalam hal penyediaan perangkat lunak kepada bank. Jika ternyata pihak ISP telah melakukan perubahan terhadap produknya tanpa sepengetahuan bank maka bank akan dibebaskan dari tanggung jawab, tentunya setelah pembuktian. Apabila ternyata setelah banyak ditemukan kerugian- kerugian atas pemakaian jasa internet banking maka bank dan ISP (jika melakukan kerja sama) bertanggung jawab atas tuntutan ganti rugi dan/atau gugatan nasabah karena tidak memenuhi atau gagal memenuhi jaminan dan/atau

175

garansi yang diperjanjikan.176 Ini sesuai dengan Pasal 25 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 yang menyebutkan bahwa :177

(1)Pelaku usaha yang memproduksi barang yang pemanfaatannya berkelanjutan dalam batas waktu sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun wajib menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas purna jual dan wajib memenuhi jaminan atau garansi sesuai dengan yang diperjanjikan;

(2)Pelaku usaha sebagaimana dimaksud pada ayat l bertanggung jawab atas tuntutan ganti rugi dan/atau gugatan konsumen apabila pelaku usaha tersebut:

a. Tidak menyediakan atau lalai menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas perbaikan;

b. Tidak memenuhi atau gagal memenuhi jaminan atau garansi yang diperjanjikan.

Dengan melihat kenyataan maka nasabah diragukan dapat melaporkan dan membuat pengaduan terhadap bank tersebut. Apabila pihak bank benar- benar tidak lagi menangani konsumen kasus tersebut maka sesuai perjanjian, nasabah selaku konsumen dapat melaporkan bank tersebut ke Yayasan Perlindungan Konsumen Indonesia (YLKI) untuk penyelesaian konflik. Pasal 45 ayat (1) Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 menyatakan setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas

176

Ibid., hal. 7 177

Undang-undang No. 8, LN No. 3674 Tahun 1999, tentang Perlindungan Konsumen, Pasal 25 ayat (1) dan (2)

menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui yang berada di lingkungan peradilan hukum. Dalam ayat berikutnya dinyatakan penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa. Selanjutnya, pilihan berperkara di pengadilan atau di luar pengadilan adalah pilihan sukarela para pihak. Penjelasan ayat kedua Pasal 45 Undang-undang Perlindungan Konsumen menyebutkan adanya kemungkinan perdamaian di antara para pihak pengadilan. Jadi, kata sukarela harus diartikan sebagai pilihan para pihak baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk menempuh penyelesaian di pengadilan, dikarenakan upaya perdamaian di antara mereka gagal. 178

Apabila nasabah tidak menerima keadaan yang menimpa dirinya karena kerugian maka mereka berhak untuk mengajukan gugatan. Gugatan ini sebaiknya diadakan perdata secara class action, tetapi dapat juga dilakukan perdata secara perorangan, sesuai dengan Pasal 46 ayat (1) Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Gugatan ini dapat diajukan oleh lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat atau pemerintah dan /atau instansi terkait. Class action adalah jika dilakukan gugatan maka tidak perlu seluruh nasabah mengajukan gugatan ke pengadilan akan tetapi cukup

178

perwakilan. Pada sistem ini, seluruh kasus nasabah yang ada dianggap sebagai suatu kesatuan sesuai dengan proporsi masing-masing bagian nasabah. 179

Berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Pasal 163 HIR dan Pasal 1865 KUH Perdata dapat dikatakan setiap pihak mendalilkan adanya suatu hak, bahwa konsumen harus dapat membuktikan: 180

(1)Konsumen secara aktual telah mengalami kerugian.

(2)Konsumen harus membuktikan bahwa kerugian tersebut terjadi karena akibat dari penggunaan, pemanfaatan, atau pemakaian barang dan/atau jasa tertentu yang tidak layak.

(3)Bahwa ketidaklayakan itu merupakan tanggung jawab pelaku usaha tertentu.

(4)Konsumen tidak berpartisipasi baik secara langsung maupun tidak langsung atas kerugian yang dideritanya.

Dalam Undang-undang No. 8 Tahun 1999, beban pembuktian tersebut dibalikkan menjadi beban dan tanggung jawab pelaku usaha. Pembuktian ini diatur dalam Pasal 22 dan Pasal 28. Dengan demikian, selama pelaku usaha tidak dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan kesalahan yang terletak pada pihaknya, maka demi hukum pelaku usaha bertanggung jawab dan wajib mengganti kerugian yang diderita tersebut. 181

179 Ibid., hal. 10 180 Ibid., hal. 12 181 Ibid., hal. 17

Dengan demikian Undang-Undang Pelindungan Konsumen dirasakan belum memadai untuk melindungi kepentingan nasabah. Nasabah seringkali masih dirugikan oleh bank. Oleh karena itu, pemerintah sebagai pembentuk kebijakan harus membuat suatu peraturan perundang-undangan khusus mengenai operasional internet banking. Peraturan operasional tersebut dapat memuat batasan-batasan perjanjian yang berkaitan dengan isi klausula baku dalam perjanjian internet banking yang dibuat oleh bank, jaminan kerahasiaan nasabah, jaminan perlindungan nasabah, dan masalah pertanggungjawaban bagi bank suatu pihak. Prinsip pengaturan internet banking nantinya dapat menjamin tingkat perlindungan yang sama kepada nasabah. Selain itu, prinsip tersebut sebaiknya tidak menghambat pertumbuhan dan inovasi pelayanan keuangan melalui internet bahkan harus meningkatkan manfaaatnya. 182

E. Jaminan Terhadap Perlindungan Nasabah Berdasarkan UU ITE dan