KAJIAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
9 Mekanisme peroleh
komoditas
Diperoleh melalui pasar induk atau langsung dari hasil bumi masyarakat sekitar.
Diperoleh dari distributor yang sudah memiliki kualitas barang berstandar. 10 Volume
barang
Volume barang relatif kecil. Volume barang besar 11 Lokasi Tumbuh tanpa perencanaan
dengan lokasi ditempat-tempat yang mudah dijangkau oleh masyarakat sekitar.
Direncanakan dengan baik di lokasi di pusat kota atau pusat perdagangan sebuah kota.
commit to user
16 5. Desain
Desain adalah sebuah rancangan yang berbentuk sebuah gambar, patung, atau gedung. Tanpa desain maka sesuatu tidak akan menarik dan tidak bisa menciptakan sesuatu yang khas. Desain juga akan menimbulkan identitas. Menurut Widagdo, desain adalah adalah salah satu manifestasi kebudayaan yang berwujud dan merupakan produk nilai-nilai untuk suatu kurun waktu tertentu (Widagdo, 1993 dalam Sachari, 2002:7). Desain dibuat untuk menciptakan sebuah karya yang mencerminkan kebudayaan tertentu. Sebagai contoh desain masjid mencerminkan budaya islam.
Gambar 2.9. Bagan Perkembangan Objek Penelitian Desain di Indonesia (Sumber: Sachari, 2002:2)
Menurut Archer desain adalah salah satu bentuk kebutuhan badani dan rohani manusia yang dijabarkan melalui berbagai bidang pengalaman, keahlian, dan pengetahuan yang mencerminkan perhatian pada apresiasi terhadap sekelilingnya,
TINJAUAN DESAIN
KARYA & PROSES DESAIN TEORI DESAIN NILAI-NILAI ESTETIKA GAYA HIDUP KEBENDAAN DAMPAK SOSIAL DESAIN DESAIN DAN PEMBANGUNAN SEJARAH DESAIN
commit to user
17
terutama yang berhubungan dengan bentuk, komposisi, arti, nilai dan berbagai tujuan benda buatan manusia (Archer, 1976 dalam Sachari, 2002:6). Desain merupakan bentuk kebutuhan rohani dimana manusia membutuhkan sebuah keindahan. dalam menciptakan sebuah desain juga diperlukan sebuah pengalaman serta keahlian untuk menciptakan desain yang baik. Selain itu dalam desain juga diperlukan teknologi yang dapat menambah kesempurnaan desain yang dihasilkan.
Proses desain pada umumnya memperhitungkan aspek fungsi, estetik dan berbagai macam aspek lainnya, yang biasanya datanya didapatkan dari riset, pemikiran, brainstorming, maupun dari desain yang sudah ada sebelumnya. Penggunaan istilah desain bermula dari gambar teknik arsitektur (gambar potong untuk bangunan) serta di awal perkembangan, istilah desain awalnya masih berbaur dengan seni dan kriya. Dimana, pada dasarnya seni adalah suatu pola pikir untuk membentuk ekpresi murni yang cenderung fokus pada nilai estetis dan pemaknaan secara privasi. Sedangkan desain memiliki pengertian sebagai suatu pemikiran baru atas fundamental seni dengan tidak hanya menitik-beratkan pada nilai estetik, namun juga aspek fungsi dan latar industri secara massa, yang memang pada realitanya pengertian desain tidak hanya digunakan dalam dunia seni rupa saja, namun juga dalam bidang teknologi, rekayasa, dll. (www.wikipedia.com)
Gambar 2.10. Bagan Hubungan Desain, Seni, Sains, dan Teknologi. (Sumber: Sachari, 2002:19)
6. Fungsional
Pada dasarnya konsep arsitektur fungsional berkembang pada masa modern. Perkembangan konsep fungsional dimulai dari negara-negara di Eropa dan Amerika. Konsep fungsional mulai berkembang di Indonesia pada masa setelah kemerdekaan
TEKNOLOGI
SENI SAINS
commit to user
18
dan sudah mengalami pergeseran makna. Akan tetapi pada saat ini arsitektur fungsional diartikan sebagai konsep arsitektur yang merumuskan bentuk bangunan sesuai dengan fungsi bangunan. Sesuai dengan pendapat Sachari, “Fungsional artinya tepat guna” (Sachari, 1986:47). Estetika tidak mengikat pada arsitektur fungsional. Dalam merumusakan bentuk yang fungsional sesuai dengan fungsinya akan menciptakan sebuah desain yang bercirikhas bentuk fungsional. Bentuknya sangat mempertimbangkan efisiensi yaitu efisiensi biaya pembuatan dan efisiensi perawatan berkala pada bangunan. Bentuk bangunan dirancang untuk dapat digunakan seefektif mungkin sehingga dapat memenuhi kebutuhan pengguna bangunan.
Gambar 2.11. Solo Tekno Park dengan Konsep Bangunan Fungsional (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ciri-ciri Arsitektur Fungsional:
1. Bentuk atap sederhana dan biasa menggunakan jenis atap pelana atau atap panggang pe
2. Sedikit mengunakan talang
3. Menggunakan material yang mudah dalam perawatannya 4. Bentuk bangunan sangat sederhana
5. Menghindari ornamen 7. Kearifan Lokal
Yang dimaksud kearifan lokal adalah bentuk bangunan menyelaraskan dengan budaya dari daerah setempat. Keselarasan dapat dilakukan hanya sebatas area yang sempit atau area yang luas. Perancangan desain berdasarkan atas kelokalan agar
commit to user
19
selaras dengan daerah sekitar dan bisa menambah ciri khas suatu daerah. Dengan demikian maka akan menambah daya tarik daerah tersebut. Menurut Sayuti kearifan lokal pada dasarnya dapat dipandang sebagai landasan dalam pembentukan jati diri bangsa secara nasional.
Gambar 2.12. a. Pasar Gedhe Solo, b. Pasar Gading Solo, c.Pasar Kembang Solo. Renovasi Pasar-pasar Tradisional di Solo yang Menyelaraskan dengan Pasar Gede
Sebagai Pasar Tradisional Tertua di Kota Solo (Sumber: www.google.com)
Misalnya untuk bangunan di daerah tertentu maka bangunan yang baru akan menyelaraskan bangunan yang sudah ada dan sudah menjadi identitas daerah tersebut. Dengan demikian maka tidak akan terlihat kontras antara bangunan yang baru dengan bangunan yang sudah ada. Selain itu identitas sebuah daerah akan lebih kuat dengan adanya ciri khas sebuah bangunan pada daerah itu.
Kearifan lokal merupakan bagian dari tradisi-budaya masyarakat suatu bangsa, yang muncul menjadi bagian-bagian yang ditempatkan pada tatanan fisik bangunan (arsitektur) dan kawasan (perkotaan), dalam geografi kenusantaraan sebuah bangsa. Secara fisik arsitektural dalam lingkungan binaan, permukiman
a
commit to user
20
tradisional dapat diperlihatkan keragaman bentuk kearifan, salah satunya diwujudkan dalam bentuk dan pola tatanan permukimannya. Nilai-nilai adat tradisi-budaya yang dihasilkan mempunyai tingkat kesakralan yang berbeda dari masing-masing daerah di nusantara ini, sesuai dengan keragaman etnis yang menempatkan daerah atau wilayah tersebut. Dalam arsitektur perkotaan, bangunan-bangunan peninggalan kolonial beserta kawasan bersejarahnya dapat memberikan irama sebagai pengikat pola maupun urutan klimaks dan anti klimaks masih dapat ditemukan di beberapa kawasan. Hal ini terjadi, karena perubahan fisik arsitektur dan lingkungan binaan baru tidak memperhatikan harmonisasi kearifan lokal dari bangunan dan kawasan yang telah ada sebelumnya. Sebenarnya pendekatan lain juga dapat digunakan dalam mengungkapkan nilai kearifan lokal, yaitu melalui pendekatan teori di dalam mengkaji arsitektur bangunan maupun kawasan perkotaannya. Dengan demikian kearifan lokal/setempat dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh masyarakat. (Antariksa: 2009 dalam antariksaarticle.blogspot.com)
Kerifan lokal lebih tanggap terhadap alam sekitar. Hal itu karena nenek moyang kita dahulu sudah memperhitungkan secara matang dalam membuat bangunan. Setiap bangunan yang dibuat diselaraskan dengan iklim setempat sehingga dapat ditinggali dengan nyaman. Dengan demikian kearifan lokal lebih baik diterapkan sebagai konsep arsitektur di daerah tropis untuk menciptakan sebuah bangunan yang sesuai dengan alam skitar.
Gambar 2.13. Masjid Agung Kabupaten Karanganyar (Sumber: www.google.com)
commit to user
21 8. Konsep Arsitektur Kontekstual
Konsep kontekstualisme dalam arsitektur mempunyai arti merancang sesuai dengan konteks yaitu merancang bangunan dengan menyediakan visualisasi yang cukup antara bangunan yang sudah ada dengan bangunan baru untuk menciptakan suatu efek yang kohesif (menyatu). Rancangan bangunan baru harus mampu memperkuat dan mengembangkan karakteristik dari penataan lingkungan, atau setidaknya mempertahankan pola yang sudah ada. Suatu bangunan akan baik jika mengikuti langgam dari lingkungannya karena dapat menyesuaikan diri dengan konteksnya dan memiliki kesatuan visual dengan lingkungan tersebut dan memiliki karakteristik yang sama. Desain yang kontekstual merupakan alat pengembangan yang bermanfaat karena memungkinkan bangunan yang dimaksud untuk dapat dipertahankan dalam konteks yang baik.
Arsitektur Kontekstual dapat digolongkan ke dalam dua kelompok besar yaitu: a. Kontekstual Kontras
Kontras sangat berguna dalam menciptakan lingkungan urban yang hidup dan menarik, namun yang perlu diingat bahwa kontras dapat dianalogikan sebagai bumbu yang kuat dalam makanan yang harus dipakai dalam takaran secukupnya dan hati-hati. Kontras menjadi salah satu strategi desain yang paling berpengaruh bagi seorang perancang. Apabila diaplikasikan dengan baik dapat menjadi fokus dan citra aksen pada suatu area kota. Sebaliknya jika diaplikasikan dengan cara yang salah atau sembarangan, maka akan dapat merusak dan menimbulkan kekacauan.
Di Indonesia sudah sangat banyak bermunculan bangunan baru dengan menggunakan konsep kontekstual kontras. Seperti di kota Solo juga ada bangunan baru yang mengusung konsep kontekstual kontras. Bangunan baru Bank Indonesia dirancang dengan konsep kontekstual kontras. Bangunan yang baru memiliki desain yang berbeda dengan bangunan lama dan terlihat sangat kontras. Bangunan baru Bank Indonesia Solo berlanggam modern dan mencerminkan bangunan masa kini. Bangunan lama Bank Indonesia berlanggam kolonial yang memang bangunan peninggalan penjajah Belanda.
commit to user
22
Perancang memiliki alasan tersendiri dalam menentukan desain bangunan yang akan dipakai. Dalam desain Bank Indonesia Solo beralasan bahwa bangunan yang baru adalah bangunan yang besar dan tinggi. Dengan menguunakan konsep selaras dengan bangunan lama dapat menyaingi bangunan lama. Selain itu juga akan sulit menilai mana bangunan yang baru dan bangunan yang lama yang memiliki unsur sejarah. Dengan menghadirkan bangunan dengan bentuk yang sederhana diharapkan akan lebih menonjolkan bangunan lama yang sudah lebih dahulu berdiri.
Gambar 2.14. Desain Bank Indonesia Solo Sumber: (www.google.com)
Hal ini sesuai dengan pendapat Brent C. Brolin, bahwasanya kontras bangunan modern dan kuno bisa merupakan sebuah harmoni, namun ia mengingatkan bila terlalu banyak ”shock effect” yang timbul sebagai akibat kontras, maka efektifitas yang dikehendaki akan menurun sehingga yang muncul adalah chaos.
b. Kontekstual Selaras
Ada kalanya suatu lingkungan menjunjung tinggi keselarasan. Hal tersebut dilakukan dalam rangka menjaga keselarasan dengan lingkungan yang sudah ada. Kontekstual selaras cenderung meniru bentuk yang ada untuk menciptakan bangunan baru yang selaras. Bangunan baru lebih menghargai dan memperhatikan konteks lingkungan dimana bangunan itu berada kemudian bersama-sama dengan bangunan yang sudah ada menjaga dan melestarikan tradisi yang telah berlaku sejak dulu.
commit to user
23
Kehadiran satu atau sekelompok bangunan baru lebih menunjang bangunan lain yang sudah lebih dahulu ada. Bangunan baru tidak menyaingi karakter bangunan yang sudah ada walaupun terlihat dominan (secara kuantitas). Dengan demikian akan tercipta sebuah lingkungan yang selaras. Bangunan baru akan dapat membaur dengan bangunan yang sudah ada lebih dahulu sehingga akan memperkuat ciri khas dari lingkungan tersebut.
Gambar 2.15. a. Rektorat UI, b. Masjid UI, c. Balairung UI, Bangunan Kampus Universitas Indonesia dengan Warna dan Bentuk
yang Dirancang dengan Konsep Selaras Sumber: (www.google.com) c. Prinsip Kontekstualisme dalam Arsitektur
Kontekstualisme dalam arsitektur pada hakekatnya adalah persoalan keserasian dan kesinambungan visual, memori dan makna. Prinsip kontekstualisme dalam arsitektur adalah adanya pengakuan bahwa gaya arsitektur suatu bangunan selalu merupakan bagian fragmental dari sebuah gaya arsitektur yang lebih luas.
a b
commit to user
24
Pada saat ini prinsip-prinsip yang sesuai untuk masa yang akan datang baru mulai muncul dengan jelas. Manifestasi modern sebagai naskah/tulisan yang sering dipakai untuk mengumumkan daftar prinsip modern dengan suara keras lebih sensitif pada situasinya. Pendekatan dan pemikiran arsitektural yang sesuai untuk suatu situasi tertentu mungkin tidak sesuai digunakan untuk situasi yang lain. Arsitektur modern tidak langsung dibuang ke dalam sampah, bahkan masih sangat penting sebagai prinsip yang paling sesuai untuk jalan Jendral Sudirman di Jakarta Pusat lain dari bahasa arsitektural yang sesuai dengan kawasan Keraton Surakarta.
Hal ini merupakan prinsip pokok kontekstualisme yang menjadi salah satu unsur terpenting dalam agenda pasca modern yang sedang timbul, tapi bukan hanya soal gaya yang terpilih. Generasi baru arsitektur barat telah jenuh membicarakan mengenai gaya arsitektur, yang sedang dicari adalah cara untuk membuatkan jati diri kepada masyarakat serta menawarkan sumbangan nilai-nilai hidup.