• Tidak ada hasil yang ditemukan

Melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi.

UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPS

A. Delik Kerugian Keuangan Negara Dalam Undang Nomor 31 Tahun 1999 JO Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang

3. Melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi.

Namun, penjelasan ini telah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Perkara Nomor: 003/PUU-IV/2006, dalam poin mengadili, bahwa perbuatan melawan hukum materiil dalam Pasal 2 dan 3 undang-undang tersebut adalah ”bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945” dan dinyatakan “tidak memiliki kekuatan hukum mengikat”. Dengan demikian, maka perbuatan melawan hukum yang dirumuskan dalam Pasal 2 adalah perbuatan melawan hukum formil saja.

Beberapa pengertian dari unsur ketiga ini diantaranya:

a. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, memperkaya artinya menjadikan lebih kaya97

b. Martiman Prodjohamidjojo, bahwa yang dimaksud dengan “memperkaya” diri sendiri atau orang lain, atau korporasi, menurut ketentuan ini, ialah selalu dan terus menerus tanpa henti menambah harta kekayaan dengan jalan melawan hukum, hingga kekayaan yang diperoleh sebagai tambahan itu tidak seimbang dengan sumber atau penghasilan kekayaan yang ia miliki. Tetapi pengertian memperkaya diri sendiri itu sifatnya adalah relatif, artinya perbuatan atau kegiatan yang menjadikan suatu kondisi objektif, tingkat kemampuan materiil tertentu dijadikan lebih meningkatkan lagi dalam pengertian yang tetap relatif, walaupun

;

96 Ibid, hal. 153-154. 97 KBBI, op.cit.

secara subjektif orang yang bersangkutan mungkin merasa belum kaya. Pengadilan Negeri Purwokerto yang dikutip Martiman Prodjohamidjojo, dalam memberikan tafsiran kata “memperkaya diri sendiri, harus ditafsirkan membuat kaya orang kaya tanpa melihat sudah kaya/tidak/belum kaya, dengan jalan melawan hukum”98

c. Berbeda dengan pendapat Sudarto yang dikutip oleh Marwan Effendy, bahwa perbuatan memperkaya artinya berbuat apa saja, misalnya mengambil, memindahbukukan, menandatangani kontrak dan sebagainya sehingga si pembuat bertambah kaya

;

99

d. Marwan Effendy dalam pendapatnya, bahwa ada tidaknya hal memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu badan itu, dilihat dari penghasilannya. Apakah penghasilannya memungkinkan adanya penambahan kekayaan yang bersangkutan. Dibandingkan antara kekayaan yang ada dengan penghasilannya. Bila kekayaan menunjukkan lebih besar dari penghasilan, perlu diteliti jauh dan terdakwa harus menjelaskan dari mana asal usul kekayaannya itu. Jika penjelasannya tidak masuk akal, maka ada petunjuk bahwa ia telah melakukan tindak pidana korupsi. Mengingat bahwa yang diperkaya itu, disamping terdakwa mungkin juga orang lain dari terdakwa atau suatu korporasi, maka harus juga diperiksa kekayaan dari orang lain atau suatu korporasi itu yang diduga memperoleh hasil dari korupsi. Disamping itu, menurut putusan Mahkamah Agung Nomor: 951K/Pid/1982 tanggal 10 Agustus 1982 dan Nomor:

;

98 Martiman Prodjohamidjojo, op.cit. hal. 65. 99 Marwan Effendy, (4),op.cit. hal. 103.

275K/Pid/1983 tanggal 15 Desember 1983, kata ‘memperkaya’, dapat juga diartikan memperoleh hasil korupsi, walau hanya sebagian100

e. Topo Santoso, Rosalita Chandra, dan kawan-kawan dalam sebuah e-book yang berjudul “ Panduan Investigasi dan Penuntutan dengan Pendekatan Hukum Terpadu”, menurut Sukardi bahwa pengertian dari memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi adalah upaya untuk mengumpulkan kekayaan yang tidak setara dengan penghasilannya atau penambahan kekayaan dari sumber yang tidak sah;

;

101

f. Topo Santoso, dan kawan-kawan juga mengutip dari Wiyono tentang pengertian lain dari memperkaya adalah perbuatan yang dilakukan untuk menjadi lebih kaya, sedangkan berdasarkan putusan pengadilan negeri Tangerang tanggal 13 Mei 1992 No. 18/Pid/B-1992/PN/ TNG memperkaya adalah menjadikan orang yang belum kaya menjadi kaya atau yang sudah kaya bertambah kaya102

g. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971, dalam penjelasan Pasal 1 bahwa: ;

“Perkataan "memperkaya diri sendiri" 103

100

Ibid, hal. 104.

atau "orang lain" atau "suatu badan" dalam ayat ini dapat dihubungkan dengan Pasal 18 ayat (2), yang

101 Topo Santoso, Rosalita Chandra, dan kawan-kawan, e-book Panduan Investigasi dan

Penuntutan dengan Pendekatan Hukum Terpadu (diakses dari

102

Ibid.

103

Tim IT dari Pengadilan Negeri Kayagung, Sumatera Selatan, “Pemahaman Unsur

Memperkaya, Dan Atau Menguntungkan Pada Tindak Pidana Korupsi”, mengutip pendapat

Oemar Seno Adji yang telah menulis penafsiran sendiri mengenai pengertian tentang perbuatan “Memperkaya diri “, yang sering terlihat dalam beberapa perkara dengan melepaskan hubungannya dengan Pasal 18 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 pada hakikatnya adalah diluar konteks perundang-undangan dan penjelasan resminya. Dari pendapat Oemar Seno Adji, tidak mempermasalahkan kemungkinan timbulnya kasus korupsi yang pada saat disidik harta kekayaan yang ratusan juta rupiah telah habis dipakai berjudi atau berfoya-foya oleh tersangka, kalau terjadi hal seperti itu dengan berpegang pada pendapat Oemar Seno Adji, apakah unsur “Memperkaya diri. “ masih dapat dibuktikan ? Dalam kaitan antara unsur “memperkaya ”, diri sendiri atau orang lain atau suatu badan dengan Pasal 18 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971, penjelasan dan undang-undang itu sendiri, menggunakan kata “ dapat dihubungkan “ berarti tidak mesti selalu harus dihubungkan, jadi bila terdapat cukup bukti bahwa tersangka/terdakwa atau

memberi kewajiban kepada terdakwa untuk memberikan keterangan tentang sumber kekayaannya sedemikian rupa, sehingga kekayaan yang tak seimbang dengan penghasilannya atau penambahan kekayaan tersebut, dapat digunakan untuk memperkuat keterangan saksi lain bahwa terdakwa telah melakukan tindak pidana korupsi.”

h. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, pengertian “memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi” dapat dikaitkan dengan Pasal 37A104

i. Putusan Mahkamah Kosntitusi Nomor 44/PUU-XI/2013, mengenai unsur memperkaya:

ayat (1) dan ayat (2) Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001;

“Adapun perbuatan yang dilakukan menurut unsur “memperkaya” diri sendiri atau orang lain atau korporasi adalah:

1) Memperkaya diri sendiri, artinya bahwa dengan perbuatan melawan hukum itu pelaku menikmati bertambahnya kekayaan atau harta benda miliknya sendiri;

2) Memperkaya orang lain, artinya akibat perbuatan melawan hukum dari pelaku, ada orang lain yang menikmati bertambahnya kekayaannya atau bertambahnya harta bendanya. Jadi disini yang diuntungkan bukan pelaku langsung;

3) Memperkaya korporasi, atau mungkin juga yang mendapat keuntungan dari perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh pelaku adalah suatu korporasi, yaitu kumpulan orang atau kumpulan kekayaan yang terorganisasi baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum.”

orang lain atau suatu Badan “telah memperoleh” harta (uang/ barang) dan hasil perbuatan tersangka/terdakwa yang melawan hukum, maka pembuktian unsur ini sudah cukup; Kata-kata telah memperoleh diberi tanda kutip, sebab hasil korupsi tersebut oleh Pasal 1 ayat (1) tidak hanya dari hasil “ Mengambil/Menggelapkan” tetapi juga dari sumber lain misalnya “menerima hasil dari suatu pertanggungjawaban fiktif (diakses dari WIB).

104 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Sebagaimana Telah Diubah Dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, bahwa dalam Pasal 37 A ayat(1) Terdakwa wajib memberikan keterangan tentang seluruh harta bendanya dan harta benda istri atau suami, anak, dan harta benda setiap orang atau korporasi yang diduga mempunyai hubungan dengan perkara yang didakwakan; ayat (2) Dalam hal terdakwa tidak dapat membuktikan tentang kekayaan yang tidak seimbang dengan penghasilannya atau sumber penambahan kekayaannya, maka keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digunakan untuk memperkuat alat bukti yang sudah ada bahwa terdakwa telah melakukan tindak pidana korupsi.

j. Sebuah artikel yang berjudul “Pemahaman Unsur Memperkaya, Dan Atau Menguntungkan Pada Tindak Pidana Korupsi”, oleh Tim IT dari Pengadilan Negeri Kayugung, Sumatera Selatan dalam pertimbangan hukum putusan pidana kasus korupsi Pengadilan Negeri Sukabumi No.31/Pid.B/2008/PN.Smi atas nama terpidana DRS. Endin Samsudin, MM., tertanggal 03 Juli 2008, halaman 385, yang dikuatkan oleh Putusan Pengadilan Tinggi Bandung No.334/Pid/2008/PT.Bdg, tertanggal 01 September 2008 Majelis Hakim dalam kesempatan tersebut telah memberikan batasan kerugian negara senilai Rp.100.000.000.-(seratus juta rupiah), untuk dapat memudahkan kategori/ukuran nilai ”memperkaya” sebagai suatu kriteria dalam menentukan batas dan tolok ukur yang membedakan antara kriteria unsur ”memperkaya” dengan kriteria unsur ”menguntungkan”. Dengan perkataan lain memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi tidak harus berarti terdakwa menjadi kaya atau bertambah kekayaannya atas perolehan keuangan negara tersebut. Selanjutnya, dalam pengertian kaya yang harus diperhatikan bukan saja si pelaku menjadi bertambah kekayaannya di luar apa yang semestinya ia dapatkan secara sah/resmi, akan tetapi juga menyangkut nilai / substansi dari jumlah uang yang ia terima sehingga dapat dikatakan si pelaku tersebut karenanya menjadi kaya.105