• Tidak ada hasil yang ditemukan

Melihat Pengaruh Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi secara parsial terhadap

METODOLOGI PENELITIAN

B. Penemuan dan Pembahasan 1.Analisis Deskriptif 1.Analisis Deskriptif

2) Melihat Pengaruh Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi secara parsial terhadap

pembiayaan yang diberikan pada Bank Muamalat Indonesia.

Untuk melihat besarnya variabel antara Modal Inti, Dana Pihak Ketiga (DPK), Suku bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi terhadap pembiayaan yang diberikan pada Bank Muamalat Indonesia secara

sendiri-sendiri, digunakan uji t, uji t digunakan untuk menguji apakah

variabel independen terhadap variabel dependen berpengaruh signifikan

secara parsial, yang didapat dari tabel koefisien regresi statistik. Jika nilai signifikansi atau probabilitas lebih besar atau sama dengan 0,05 maka tidak terjadi pengaruh secara signifikan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Sebaliknya, jika nilai signifikansi lebih kecil atau sama

dengan 0,05 maka terdapat pengaruh secara signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen.(Riduwan dan Engkos 2008:118). Sedangkan untuk melihat besarnya pengaruh, digunakan angka Beta atau Standardized Coeffecient di bawah ini.

Tabel 4.9 Uji t Regresi

(Sumber: output SPSS)

Untuk melihat apakah terdapat pengaruh variabel Modal Inti terhadap pembiayaan yang diberikan Bank Muamalat Indonesia adalah sebagai berikut :

Besarnya pengaruh Modal Inti terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia sebesar 0,056 atau 5,6% dianggap tidak signifikan. Hal ini tercermin dalam angka signifikansi sebesar 0,083 yang lebih besar dari 0,05.

Modal inti memiliki pengaruh yang positif dan tidak signifikan terhadap pembiayaan. Artinya, apabila terjadi kenaikan Modal inti, maka

Model Standardized Coefficients t Sig. Beta lnmi 0,056 1,762 0,083 lndpk 0,916 27,843 0,000 sbi 0,004 0,180 0,857 lnkurs 0,040 2,943 0,004 inflasi 0,049 2,155 0,035

jumlah Pembiayaan juga akan mengalami kenaikan, begitu juga sebaliknya. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Pratin &

Akhyar Adnan (Edisi Khusus On finance,2005) yang menggunakan

metode analisis uji t, yang mengemukakan bahwa Modal inti menunjukkan pengaruh yang positif dan tidak signifikan terhadap pembiayaan pada Bank Muamalat Indonesia. Hal ini berbeda karena Ekuitas sebagai modal inti digunakan hanya sebatas untuk perhitungan CAR (Capital Adequate Ratio) sebagai indikator kemampuan penyerapan kerugian dan sebagai batas maksimum pemberian pembiayaan. Untuk memperoleh tingkat CAR yang baik (memenuhi peraturan BI) bank tidak hanya mengandalkan modal inti saja bank juga bisa mencari sumber dana lain seperti modal pinjaman dan pinjaman subordinasi sebagai modal pelengkap. Modal Inti hanya sebagai sandaran (perlindungan) kecil terhadap depositor/kreditor atas penurunan nilai aset bank, bank

bergantung terutama pada kompetensi dan kehati-hatian (competency and

prudence) manajemen dan stabilitas sistem keuangan bank. Selama modal inti masih bisa memenuhi kewajiban minimum penyediaan modal maka suatu lembaga bank akan mengoptimalkan peran simpanan (DPK) untuk meningkatkan pembiayaan yang disalurkan.

Untuk melihat pengaruh variabel Dana Pihak Ketiga (DPK) terhadap pembiayaan yang diberikan Bank Muamalat Indonesia, adalah sebagai berikut:

Hasil Penghitungan diperoleh angka t penelitian sebesar 27,843 dengan ketentuan, taraf signifikansi 0,05 dan derajat kebebasan (dk) dengan ketentuan : dk = n – 2 atau 73 – 2 = 71. dari ketentuan tersebut, diperoleh angka t tabel sebesar 1.66660.

Karena nilai t penelitian > t tabel maka dapat disimpulkan bahwa Ho

ditolak dan Ha diterima, artinya DPK (Dana Pihak Ketiga) berpengaruh

signifikan terhadap Pembiayaan yang diberikan pada Bank Muamalat Indonesia. Besarnya pengaruh DPK terhadap pembiayaan yang diberikan Bank Muamalat Indonesia sebesar 0.916 atau 91,6% dianggap signifikan. Hal ini tercermin dalam angka signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05.

Dana Pihak Ketiga memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Pembiayaan. Artinya, apabila terjadi kenaikan Dana Pihak Ketiga, maka jumlah Pembiayaan juga akan mengalami kenaikan, begitu juga sebaliknya. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurhayati siregar (2005), Pratin Dan Akyar Adnan (2005), Luh Gede Meydianawati (2005), Fransisca (2008) yang menyatakan bahwa DPK secara parsial memiliki pengaruh terhadap jumlah pembiayaan yang disalurkan.

Baik giro, deposito maupun tabungan turut memberikan andil di dalam kehidupan Perbankan, pengumpulan atas dana-dana tersebut digunakan Perbankan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan juga untuk

menjalankan fungsinya sebagai lembaga keuangan yaitu memberikan pembiayaan kepada masyarakat. (Amiranti Marsya, 2009:18).

Bank adalah sebagai organisasi (Lembaga Keuangan) yang berfungsi untuk menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali pada masyarakat. Jumlah dana yang dihimpun bank syariah dari masyarakat sudah tentu berupa simpanan tabungan, deposito dan giro. Pada umumnya motivasi utama orang menitipkan dana pada bank adalah keamanan dana mereka dan mereka dapat mengambilnya sewaktu-waktu. Semakin tinggi (besar) dana yang dihimpun bank syariah dari masyarakat maka jumlah dana bank pun akan meningkat. Seiring dengan hal itu sesuai dengan fungsinya bank harus menyalurkan dananya kembali ke masyarakat dalam bentuk pembiayaan.

Untuk melihat apakah ada hubungan linier antara variabel suku bunga SBI dengan Pembiayaan, dapat melakukan langkah-langkah analisis sebagai berikut:

Hasil Penghitungan diperoleh angka t penelitian sebesar 0,180 dengan

ketentuan, taraf signifikansi 0,05 dan derajat kebebasan (dk) dengan

ketentuan : dk = n – 2 atau 73 – 2 = 71. dari ketentuan tersebut, diperoleh angka t tabel sebesar 1,66660.

Karena nilai t penelitian < t tabel maka dapat disimpulkan bahwa Ho

diterima dan Ha ditolak, artinya Suku bunga SBI tidak berpengaruh

Indonesia. Besarnya pengaruh Suku Bunga SBI terhadap Pembiayaan sebesar 0,004 atau 0,4% dianggap tidak signifikan. Hal ini tercermin dalam angka signifikansi sebesar 0,857 yang lebih besar dari 0,05.

Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan Rossar Maries (2008) mengenai dampak fluktuasi variabel ekonomi makro terhadap DPK dan Pembiayaan yang disalurkan perbankan syariah di Indonesia dengan

data-data yang digunakan adalah data-data time series dari tahun 2003-2007 yang

berasal dari statistik perbankan syariah dan statistik ekonomi keuangan Indonesia yang menghasilkan variabel suku bunga SBI tidak signifikan mempengaruhi pembiayaan. Dikarenakan SBI merupakan surat berharga yang dikeluarkan Bank Indonesia sebagai pengakuan atas utang yang memiliki jangka waktu pendek antara 1-3 bulan dengan sistem diskonto/bunga. Suku bunga SBI mengacu kepada BI rate yang pergerakannya fluktuatif. SBI dikeluarkan dengan tujuan untuk menyerap kelebihan likuiditas pada bank konvensional. Sedangkan Bank Indonesia telah menyediakan Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) untuk menyerap kelebihan likuiditas pada bank yang beroperasi dengan prinsip syariah yang tidak mengenal bunga seperti bank konvensional. Sehingga Suku bunga SBI tidak signifikan mempengaruhi penyaluran pembiayaan pada Bank Muamalat Indonesia

Untuk melihat apakah ada hubungan linier antara variabel nilai tukar Rupiah dengan Pembiayaan, dapat melakukan langkah-langkah analisis sebagai berikut:

Hasil Penghitungan diperoleh angka t penelitian sebesar 2,943, dengan

ketentuan, taraf signifikansi 0,05 dan derajat kebebasan (dk) dengan

ketentuan : dk = n – 2 atau 73 – 2 = 71 dari ketentuan tersebut, diperoleh angka t tabel sebesar 1.66660.

Karena nilai t penelitian > t tabel maka dapat disimpulkan bahwa Ho

ditolak dan Ha diterima, artinya Nilai tukar rupiah berpengaruh signifikan

terhadap Pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Besarnya pengaruh Nilai tukar rupiah terhadap pembiayaan yang disalurkan sebesar 0,040 atau 4% dianggap signifikan. Hal ini tercermin dalam angka signifikansi sebesar 0,004 yang lebih kecil dari 0,05.

Nilai tukar Rupiah/$ (kurs) memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pembiayaan. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rossar Maries (2008) dan Ari Cahyono (2009) yang menghasilkan nilai tukar rupiah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembiayaan. Apabila kurs naik, maka suatu mata uang melemah terhadap mata uang negara lain, sehingga produsen yang memproduksi produk dengan bahan baku yang berasal dari impor akan menjadi lebih mahal. Hal tersebut mengakibatkan biaya produksi menjadi meningkat, sehingga produsen menetapkan harga jual produk tersebut menjadi lebih

mahal. Akibatnya permintaan terhadap barang akan mengalami penurunan dan tidak tertutup kemungkinan adanya penggunaan barang substitusi yang pada akhirnya akan semakin menekan permintaan. Permintaan yang menurun akan disikapi oleh produsen dengan menurunkan pasokan sehingga tercapai keseimbangan baru. Agar permintaan meningkat kembali produsen perlu mengadakan inovasi dan promosi terhadap produknya. Maka dari itu produsen membutuhkan modal dan biaya tambahan untuk melakukan kegiatan inovasi dan promosi tersebut. Kemudian apabila Kurs turun maka suatu mata uang akan menguat terhadap mata uang negara lain. Produsen yang menggunakan bahan baku impor akan menyebabkan biaya produksi menurun sehingga harga jual stabil, dan berikut juga permintaan terhadap produk tersebut akan menjadi stabil dan produsen tidak membutuhkan dana untuk menjaga permintaan konsumen terhadap produknya, hal tersebut menyebabkan pembiayaan menjadi menurun.

Untuk melihat apakah ada hubungan linier antara variabel inflasi dengan Pembiayaan, dapat melakukan langkah-langkah analisis sebagai berikut:

Hasil Penghitungan diperoleh angka t penelitian sebesar 2,155 dengan

ketentuan, taraf signifikansi 0,05 dan derajat kebebasan (dk) dengan

ketentuan : dk = n – 2 atau 73 – 2 = 71. dari ketentuan tersebut, diperoleh

Karena nilai t penelitian > t tabel maka dapat disimpulkan bahwa Ho

ditolak dan Ha diterima, artinya inflasi berpengaruh signifikan terhadap

pembiayaan yang disalurkan Bank Muamalat Indonesia. Besarnya pengaruh inflasi terhadap pembiayaan sebesar 0,049 atau 4,9% dianggap signifikan. Hal ini tercermin dalam angka signifikansi sebesar 0,035 < 0,05.

Inflasi memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pembiayaan. Artinya, apabila inflasi mengalami kenaikan, maka jumlah Pembiayaan juga akan mengalami kenaikan, begitu juga sebaliknya. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ari Cahyono (2009) bahwa inflasi memiliki pengaruh positif dan signifikan. Setiap kenaikan pada inflasi akan meningkatkan Pembiayaan. Bila inflasi naik, maka konsep Bank Muamalat adalah Bagi hasil. Dengan konsep ini, sesungguhnya bank dan nasabah melakukan pengikatan dalam suatu ikatan investasi bersama, dimana laba dan rugi akan ditanggung bersama, dimana ketika inflasi naik, maka harga akan naik. Dengan pendapatan konsumen yang tetap maka hal tersebut akan menurunkan pendapatan perusahaan. Sehingga produsen akan memilih bank Muamalat Indonesia karena mendapatkan ketenangan dan keadilan dimana laba dan rugi akan ditanggung bersama.

Sedangkan dalam kondisi inflasi turun, maka Bank Muamalat kurang menjadi pilihan, karena nasabah biasanya lebih memilih bank

konvensional, karena tingkat bunga pinjaman yang rendah dan pendapatan atau laba perusahaan akan cenderung tinggi sementara kewajiban sudah ditetapkan di awal. Namun, sesungguhnya konsep berbagi yang diterapkan bank syariah lebih adil dan menguntungkan kedua belah pihak dalam berbagai kondisi

Tabel 4.10

Pengujian pengaruh secara parsial terhadap Pembiayaan Bank Muamalat Indonesia

(Sumber : data Sekunder diolah)

Variabel Koefisien

Pengaruh Signifikansi Kesimpulan

Modal Inti 0.056 0,083 Tidak Signifikan

DPK 0,916 0,000 Signifikan

SBI 0,004 0,857 Tidak Signifikan

Kurs 0,040 0,004 Signifikan

b. Analisis Korelasi

Korelasi antara Modal inti, DPK, Suku Bunga SBI, Kurs, dan inflasi.

Tabel 4.11 Korelasi

Hubungan Koefisien

Korelasi Kategori Probabilitas Kesimpulan

MI dengan DPK 0,917 sangat kuat 0,000 Signifikan**

MI dengan SBI 0,271 Sangat Lemah 0,021 Tidak Signifikan

MI dengan Kurs 0,473 Cukup kuat 0,000 Signifikan**

MI dengan Inflasi 0,167 Lemah 0,158 tidak signifikan

DPK dengan SBI 0,103 Sangat Lemah 0,385 Tidak signifikan

DPK dengan Kurs 0,577 Cukup kuat 0,000 Signifikan**

DPK dengan

Inflasi 0,051 Sangat Lemah 0,666 Tidak signifikan

SBI dengan Kurs 0,102 Sangat Lemah 0,392 tidak signifikan

SBI dengan Inflasi 0.870 Sangat kuat 0,000 Signifikan**

Kurs dengan

Inflasi 0,121 Sangat Lemah 0,306 Tidak signifikan

(Sumber : out put SPSS 17)

1). Korelasi Antara Modal Inti dan DPK.

Berdasarkan perhitungan diperoleh angka korelasi antara variabel SBI dan Inflasi sebesar 0,917. untuk menafsirkan angka tersebut digunakan kriteria sebagai berikut:

• 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada)

• >0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat

• >0,5 – 0,75: Korelasi kuat

• >0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat

Korelasi sebesar 0,917 mempunyai maksud hubungan antara variabel Modal Inti dan DPK yang sangat kuat. Artinya jika nilai DPK mengalami

kenaikan maka nilai Modal Inti akan mengalami kenaikan. Korelasi dua variabel tersebut mempunyai bersifat signifikan karena angka signifikansi sebesar 0,000< 0,01.

2.) Korelasi Antara Modal Inti dan SBI

• 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada)

• >0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat

• >0,5 – 0,75 : Korelasi kuat

• >0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat

Korelasi sebesar 0,271 mempunyai maksud hubungan antara variabel Modal Inti dan DPK yang cukup kuat. Korelasi dua variabel tersebut bersifat signifikan karena angka signifikansi sebesar 0,021> 0,05.

3.) Korelasi Antara Modal Inti dan Kurs

• 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada)

• >0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat

• >0,5 – 0,75 : Korelasi kuat

• >0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat

Korelasi sebesar 0,473 mempunyai maksud hubungan antara variabel Modal Inti dan Kurs cukup kuat. Artinya jika nilai kurs mengalami kenaikan maka nilai modal inti akan mengalami kenaikan. Korelasi dua variabel tersebut mempunyai bersifat signifikan karena angka signifikansi sebesar 0,000< 0,01.

4.) Korelasi Antara Modal Inti dan Inflasi

• 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada)

• >0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat

• >0,5 – 0,75 : Korelasi kuat

• >0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat

Korelasi sebesar 0,167mempunyai maksud hubungan antara variabel Modal Inti dan Inflasi sangat lemah dan searah. Korelasi dua variabel tersebut tidak bersifat signifikan karena angka signifikansi sebesar 0,158> 0,05.

5.) Korelasi Antara DPK dan SBI

• 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada)

• >0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat

• >0,5 – 0,75 : Korelasi kuat

• >0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat

Korelasi sebesar 0,103 mempunyai maksud hubungan antara variabel DPK dan SBI sangat lemah. Korelasi dua variabel tersebut tidak bersifat signifikan karena angka signifikansi sebesar 0,385> 0,05.

6.) Korelasi Antara DPK dan Kurs

• 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada)

• >0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat

• >0,5 – 0,75 : Korelasi kuat

Korelasi sebesar 0,577 mempunyai maksud hubungan antara variabel DPK dan Kurs kuat. Artinya jika nilai kurs mengalami kenaikan maka nilai DPK akan mengalami kenaikan. Korelasi dua variabel tersebut mempunyai bersifat signifikan karena angka signifikansi sebesar 0,000< 0,01.

7.) Korelasi Antara DPK dan Inflasi

• 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada)

• >0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat

• >0,5 – 0,75 : Korelasi kuat

• >0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat

Korelasi sebesar 0,051 mempunyai maksud hubungan antara variabel DPK dan Inflasi sangat lemah. Korelasi dua variabel tersebut tidak bersifat signifikan karena angka signifikansi sebesar 0,666> 0,05.

8.) Korelasi Antara SBI dan Kurs

• 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada)

• >0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat

• >0,5 – 0,75 : Korelasi kuat

• >0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat

Korelasi sebesar 0,102 mempunyai maksud hubungan antara variabel SBI dan Kurs sangat lemah. Korelasi dua variabel tersebut tidak bersifat signifikan karena angka signifikansi sebesar 0,392> 0,05.

9.) Korelasi Antara SBI dan Inflasi

• 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada)

• >0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat

• >0,5 – 0,75 : Korelasi kuat

• >0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat

Korelasi sebesar 0,870 mempunyai maksud hubungan antara variabel SBI dan Inflasi sangat kuat. Artinya jika nilai SBI mengalami kenaikan maka nilai Inflasi akan mengalami kenaikan. Korelasi dua variabel tersebut mempunyai bersifat signifikan karena angka signifikansi sebesar 0,000< 0,01.

10.) Korelasi Antara Kurs dan Inflasi

• 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah ( dianggap tidak ada)

• >0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat

• >0,5 – 0,75 : Korelasi kuat

• >0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat

Korelasi sebesar 0,121 mempunyai maksud hubungan antara variabel Kurs dan Inflasi sangat lemah. Korelasi dua variabel tersebut tidak bersifat signifikan karena angka signifikansi sebesar 0,306 > 0,05.

-00,271 0,167 0,473 0,577 0,051 0,870

PYD

MI DPK SBI Kurs Inflasi 0,008 (1.00-0,992) 0,121 0,102 0,103 0,917

3. Gambar Diagram Jalur

Diagram jalur dari persamaan struktur diatas adalah ditunjukkan pada

gambar 4.1 sebagai berikut :

Gambar 4.7 Diagram Jalur

Dokumen terkait