• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.3 Membaca dan Minat Baca

Kegiatan membaca sangat penting bagi perkembangan pengetahuan siswa. Kemampuan membaca dan minat baca saling berhubungan satu sama lain. Siswa dengan minat membaca tinggi akan memberikan perhatian lebih terhadap aktivitas membaca. Tingginya aktivitas membaca membuat kemampuan membacanya lebih baik karena siswa tersebut terbiasa berlatih membaca dibandingkan siswa lain. Berikut dijelaskan beberapa hal terkait membaca dan minat baca:

2.1.3.1 Pengertian Membaca

Nurhadi (1987) dalam Somadayo (2011:5) menjelaskan, membaca merupakan suatu proses yang kompleks. Kompleks berarti dalam proses membaca dipengaruhi berbagai faktor internal dan faktor eksternal pada diri pembaca. Faktor internal berupa faktor intelegensi, minat, sikap, bakat, motivasi, dan tujuan membaca. Faktor eksternal dapat dalam bentuk sarana membaca, teks bacaan, faktor lingkungan atau faktor latar belakang sosial ekonomi, kebiasaan, tradisi membaca.

Gillet dan Temple (1994) dalam Somadayo (2011:5) menjelaskan,

“Membaca adalah kegiatan visual, berupa serangkaian gerakan mata dalam mengikuti baris tulisan, pemusatan penglihatan pada kata dan kelompok kata, melihat ulang kata dan kelompok kata untuk memperoleh pemahaman terhadap

bacaan”. Harjasujana (1983) dalam Somadayo (2011:5) mendefinisikan membaca sebagai suatu kegiatan komunikasi interaktif yang memberikan kesempatan kepada pembaca dan penulis untuk membawa latar belakang masing-masing. Bonomo (1973) dalam Somadayo (2011:5) menjelaskan “Membaca adalah suatu proses memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung dalam bahasa

tulis.” Crawley dan Mountain (1995) dalam Somadayo (2011:6) berpendapat

tentang pengertian membaca sebagai berikut:

Membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibat-kan banyak hal, tidak hanya sekadar melafalmelibat-kan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir, dan metakognitif sebab proses visual membaca merupakan proses menerjemahkan simbol tulisan ke dalam kata-kata lisan.

Berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh para ahli, dapat disimpulkan membaca merupakan kegiatan berbahasa yang bertujuan untuk melafalkan simbol-simbol tulisan. Membaca juga dapat diartikan sebagai kegiatan berbahasa yang dilakukan seseorang untuk memperoleh pemahaman terhadap suatu bacaan. Bacaan tersebut dapat mudah dipahami melalui penentuan strategi membaca yang sesuai dengan teks dan tujuan membaca.

2.1.3.2 Faktor-faktor yang Memengaruhi Kemampuan Membaca

Kemampuan membaca siswa tidak terlepas dari faktor-faktor yang memengaruhinya. Lamb dan Arnold (1976) dalam Rahim (2009:16) mengelompokkan faktor-faktor yang memberikan pengaruh terhadap kemampuan membaca menjadi empat bagian. Faktor-faktor yang dimaksud adalah faktor fisiologis, intelegensi, lingkungan, dan psikologis.

Faktor fisiologis meliputi kesehatan fisik dan pertimbangan neurologis. Siswa yang kesehatannya baik cenderung lebih mudah berkonsentrasi

dibanding-kan siwa lain, terutama dalam kegiatan membaca. Keterbatasan neurologis dan kekurangan secara fisik juga dapat menghambat siswa dalam meningkatkan kemampuan membacanya. Siswa yang indera penglihatannya normal tidak akan mengalami kesulitan untuk membaca tulisan di papan tulis dibandingkan siswa yang membutuhkan penggunaan kacamata.

Faktor fisiologis pada diri siswa memengaruhi perkembangan intelegensi-nya. Istilah intelegensi didefinisikan oleh Heinz (1980) dalam Rahim (2009:17) sebagai suatu kegiatan berpikir yang terdiri dari pemahaman tentang situasi yang diberikan dan meresponnya secara tepat. Wechster (1980) dalam Rahim (2009:17) mengartikan intelegensi sebagai kemampuan global individu untuk bertindak sesuai dengan tujuan, berpikir rasional, dan berbuat secara efektif terhadap lingkungan. Intelegensi dapat membantu memengaruhi kemampuan membaca awal pada diri siswa. Siswa yang memiliki tingkat intelegensi tinggi cenderung lebih mudah menguasai kemampuan membaca dibandingkan siswa dengan intelegensi rendah.

Faktor lingkungan juga memengaruhi kemajuan kemampuan membaca siswa. Faktor lingkungan mencakup latar belakang dan pengalaman siswa di rumah, serta sosial ekonomi keluarga anak. Lingkungan dapat membentuk pribadi, sikap, dan kemampuan berbahasa siswa. Kondisi di rumah memengaruhi pribadi dan penyesuaian diri siswa dalam masyarakat. Orang tua yang gemar membaca, memiliki koleksi buku, dan senang membacakan cerita kepada anak umumnya menghasilkan anak yang gemar membaca.

Faktor sosial ekonomi orangtua dan lingkungan tetangga juga menjadi faktor pembentuk lingkungan siswa. Status sosioekonomi memengaruhi

kemampuan verbal siswa. Semakin tinggi status sosioekonomi keluarga seorang siswa, semakin tinggi pula kemampuan verbalnya. Siswa yang berasal dari lingkungan rumah yang memberikan kesempatan membaca dan menyediakan bahan bacaan yang beragam akan mempunyai kemampuan membaca yang tinggi.

Faktor lain yang juga memengaruhi kemampuan membaca siswa adalah faktor psikologis. Faktor ini mencakup motivasi, minat, kematangan sosial, emosi, dan penyesuaian diri. Faktor psikologis berfungsi sebagai penyeimbang ketiga faktor lainnya.Motivasi adalah faktor kunci dalam belajar membaca. Motivasi dalam diri siswa memengaruhi minat membacanya. Siswa yang mempunyai motivasi tinggi terhadap membaca, akan mempunyai minat yang tinggi pula terhadap kegiatan membaca.

Siswa juga harus mempunyai pengontrolan emosi pada tingkat tertentu. Siswa yang bereaksi secara berlebihan ketika mendapatkan sesuatu atau menarik diri ketika kehilangan sesuatu, akan mendapat kesulitan dalam kegiatan membaca. Sebaliknya, siswa yang lebih mudah mengontrol emosinya, akan lebih mudah memusatkan perhatiannya pada teks yang dibaca. Pemusatan perhatian pada bahan bacaan memungkinkan kemajuan kemampuan siswa dalam membaca dan memahami bacaan.

2.1.3.3 Pengertian Minat

Menurut Sukardi (1988) dalam Susanto (2015:57), minat dapat diartikan sebagai suatu kesukaan, kegemaran atau kesenangan akan sesuatu. Bernard (1996)

dalam Susanto (2015:57) menjelaskan “Minat timbul tidak secara tiba-tiba atau spontan, melainkan timbul akibat partisipasi, pengalaman, kebiasaan pada waktu belajar.” Susanto (2015:58) menyatakan pengertian minat sebagai berikut:

Minat merupakan dorongan dalam diri seseorang atau faktor yang menimbulkan ketertarikan atau perhatian secara efektif, yang menyebabkan dipilihnya suatu objek atau kegiatan yang meng-untungkan, menyenangkan, dan lama-kelamaan akan mendatang-kan kepuasan dalam dirinya.

Berdasarkan pendapat-pendapat yang telah dikemukakan oleh para ahli, dapat disimpulkan minat merupakan ketertarikan seseorang terhadap suatu objek sebagai akibat dari pengalaman dan kebiasaan. Ketertarikan tersebut akan menimbulkan rasa suka dan senang pada diri seseorang terhadap suatu objek. Minat tidak terbatas pada objek yang berbentuk benda melainkan kegiatan-kegiatan yang dianggap menguntungkan bagi masing-masing individu.

2.1.3.4 Jenis dan Ciri-ciri Minat

Menurut Gagne (1975) dalam Susanto (2015:60), sebab timbulnya minat pada diri seseorang dibedakan menjadi dua macam, yaitu minat spontan dan minat terpola. Minat spontan merupakan minat yang timbul secara spontan dari dalam diri sesorang tanpa dipengaruhi oleh pihak luar. Minat terpola adalah minat yang timbul sebagai akibat adanya pengaruh dari kegiatan-kegiatan yang terencana dan terpola, misalnya dalam kegiatan belajar mengajar, baik di lembaga sekolah maupun di luar sekolah.

Kuder (1996) dalam Susanto (2015:61) mengelompokkan jenis-jenis minat menjadi beberapa macam. Perbedaan minat dipengaruhi oleh ketertarikan seseorang terhadap suatu hal. Pengalaman, kebiasaan, dan keadaan lingkungan juga dapat memengaruhi perbedaan minat. Jenis-jenis minat yang dimaksud oleh Kuder (1996) yaitu minat terhadap alam sekitar, mekanis, hitung menghitung, ilmu pengetahuan, minat persuasif, seni, leterer, musik, layanan sosial, dan minat klerikal.

Minat baca yang menjadi salah satu variabel dalam penelitian ini termasuk dalam jenis minat leterer. Minat leterer adalah minat yang berhubungan dengan kegiatan membaca dan menulis berbagai karangan. Seseorang yang berminat pada jenis minat leterer memiliki kemampuan membaca dan menulis yang baik.

Hurlock (1990) dalam Susanto (2015:62) menjelaskan, minat bersifat egosentris. Jika seseorang senang terhadap sesuatu, maka akan muncul ketertarikan pada hal tersebut. Minat tumbuh bersamaan dengan perkembangan fisik dan mental. Minat siswa terhadap sesuatu akan berubah sesuai perkembangan fisik dan mentalnya.

Kesempatan belajar juga memengaruhi timbulnya minat pada seseorang. Kesempatan belajar merupakan faktor yang sangat berharga, sebab tidak semua orang dapat merasakannya. Kesempatan belajar berkaitan dengan pengalaman seseorang dalam mempelajari suatu hal. Ketertarikan terhadap sesuatu akan semakin tinggi apabila individu tersebut tekun dalam mempelajarinya.

2.1.3.5 Konsep Minat Baca

Minat baca adalah keinginan kuat yang disertai usaha-usaha seseorang untuk membaca. Orang yang mempunyai minat membaca yang kuat akan diwujudkannya dalam kesediaannya untuk mendapat bahan bacaan. Bahan bacaan tersebut akan dibaca atas kesadarannya sendiri tanpa ada unsur paksaan.

Perkembangan minat baca seorang siswa berbeda dengan siswa yang lain. Frymeir (1995) dalam Rahim (2009:28) mengidentifikasi beberapa faktor yang memengaruhi perkembangan minat baca siswa. Faktor-faktor tersebut adalah pengalaman belajar, jenis informasi yang diberikan, dan tingkat keterlibatan siswa dalam kegiatan membaca.

Faktor-faktor yang telah dikemukakan oleh Frymeir (1995) dapat dijadikan bahan pertimbangan guru dalam meningkatkan minat baca siswa. Guru dapat menentukan langkah-langkah pembelajaran yang menyenangkan dan menarik perhatian siswa. Guru juga perlu memperhatikan informasi yang akan disampaikan kepada siswa. Siswa akan lebih tertarik pada informasi yang berkaitan dengan kehidupannya sehari-hari dan mudah dipahami. Keaktifan dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran perlu ditingkatkan agar semakin banyak pengalaman yang diperoleh untuk mengembangkan minat membacanya.