perangkat pelaksananya. Wajah bopeng pendidikan itu sampai kini masih saja melekat kuat pada mindset para pemerhati pendidikan. Tak urung, tuding-menuding dan kritik-mengkritik kini menghiasi halaman media cetak lokal. Salah satu yang paling anyer adalah sentilan pedas terhadap Majlis Pendidikan Daerah (MPD) Aceh yang dinilai bak macan ompong (Serambi, 27/10/10).
Memang harus diakui bahwa pendidikan kita di Aceh masih jauh tertinggal dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Ketertinggalan ini membuat masyarakat menjadi tidak sabar dan tidak puas ketika melihat kemajuan pendidikan di Aceh dengan kondisinya yang sekarang. Pada satu sisi, tentu saja hal ini menandakan bahwa masyarakat begitu perduli dengan perkembangan pendidikan. Partisipasi dan perhatian dari stakeholder pendidikan semacam ini sangat positif dan diperlukan. Tetapi pada sisi lain, ketidaksabaran itu justru menambah masalah baru dan bukan malah membantu mempercepat kemajuan pendidikan itu sendiri. Sangat wajar manakala masyarakat menginginkan agar pencapaian dan percepatan pembangunan pendidikan sejatinya lebih dipacu lagi oleh pemerintah. Konon lagi dana yang dikuncurkan pemerintah untuk bidang pendidikan tidak tanggung-tanggung dan bahkan dalam jumlah besar. Ketika masyarakat menggunakan logika sederhana dengan membandingkan antara ketersediaan anggaran yang memadai dengan hasil yang diperoleh tidak sejalan, maka di sinilah punca ketidakpuasan itu mengemuka ke atas.
Jadi, dari pelbagai kritikan masyarakat pada tataran permukaan terbaca bahwa seolah-olah yang dipersoalkan mereka tidak lebih dari persoalan pertanggungjawaban anggaran yang digunakan pemerintah dalam memajukan sektor pendidikan. Mereka justru tidak menuntut satu
target pencapaian tertentu seperti pada tahun 2025 nanti pendidikan di Aceh telah setara denga kemajuan pendidikan di Malaysia tahun 2010. Justru masalah penggunaan anggaran yang belum tepat sasaranlah yang menjadi landasan lontaran kritikan mereka pada umumnya. Nah, kalau itu masalahnya, maka prinsip akuntabilitas dan transparansi penggunaan anggaran harus diterapkan agar masyarakat memiliki akses untuk mengetahuinya. Ditambah lagi keharusan untuk mempublikasikan semua rencana program, pelaksanaannya dan laporan tingkat kesuksesan atau kegagalannya. Sehingga masyarakat merasa terlibat dan bertanggungjawab secara bersama-sama dengan pemerintah dalam memajukan pendidikan di daerah ini.
Sikap ego sektoral dari lembaga tertentu yang berada di bawah komando pemerintah di samping mengundang kritikan masyarakat juga melemahkan lembaga itu sendiri. Sebab, dukungan yang sejatinya sangat diperlukan dari masyarakat berubah menjadi perlawanan. Karena, ketidakpuasan masyarakat bisa saja berawal dari pengasingan mereka dalam berbagai program pemerintah. Ketidaksenangan itu boleh jadi melembaga menjadi kritik berupa lontara kata-kata pedas sampai pada aksi turun ke jalan (demontarsi) yang bisa berujung pada tindakan anarkhis. Dan itu sangat berbahaya untuk dipelihara. Bisa-bisa berubah menjadi bom waktu yang lama kelamaan akan muncul sebagai benih konflik vertikal antara pemerintah dan stakeholder pendidikan lainnya yang sulit diakhiri.
Biasanya, luapan ketidakpuasan itu belum sampai pada substansi permasalahan yang sebenarnya. Mereka belum mempermasalahkan ketertatihan dunia pendidikan dalam berbagai aspek, lingkup dan satuannya. Kekhawatiran mereka baru pada tataran tehnis penggunaan anggaran
yang menurut mereka belum wajar dan logis. Mereka tidak menemukan akses untuk membaca kemana semua itu digunakan. Apakah anggaran yang lumayan banyak itu diteruskan pada sasaran inti (peningkatan mutu pendidikan) atau banyak terbuang secara percuma pada alokasi yang bukan pada tempatnya. Kecemasan itu sepertinya pantas diangkat ke permukaan. Apalagi melihat sistem penggunaan anggaran yang agak kurang berimbang antara sasaran utama dengan sasaran perantara. Diamana anggaran yang dihabiskan untuk penunjang kegiatan inti lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan pos anggaran untuk kegiatan inti itu sendiri. Mempublikasi setiap kegiatan kepada khalayak ramai merupakan salah satu cara untuk memperkecil kecurigaan berlebihan mereka. Di samping mencoba menerapkan sistem pembangunan berbasis partisipasi masyarakat sejak dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pemanfaatan.
Menyoal kritik terhadap MPD, hal demikian amat wajar dan sah-sah saja. Namun sebagai sebuah lembaga yang merepresentasikan keistimewaan Aceh dalam bidang pendidikan harus diakui masih banyak harapan masyarakat Aceh yang belum terembani. Sebaliknya, sayogianya masyarakat juga bisa memahami atas sisi dhaif majlis ini. Justru karena namanya ”majlis” yang artinya kurang lebih tempat berkumpul orang ramai. Dengan demikian, MPD merupakan wadah terbuka bagi siapa saja, semua masyarakat Aceh, untuk mengawal dan membangun pendidikan di Aceh menjadi lebih baik. Pak Warul, pak Anas, pak Nazamuddin dan lain yang ada di MPD saat ini hanyalah representasi masyarakat Aceh yang kebetulan diamanahkan untuk berada di garda terdepan majlis. Kritik sebagai ajang memberi saran dan mengingatkan mereka untuk tidak lengah dalam memimpin MPD dipandang perlu sejauh tidak
untuk melemahkan semangat. Sedangkan tawaran untuk membubarkan MPD justru dipandang sebagai solusi yang relatif lemah—untuk tidak mengatakan kontra produktif—dengan keistimewaan Aceh. Malah dengan kehadiran MPD, kuantitas lembaga yang memikirkan tentang pendidikan di Aceh bertambah banyak. Kendati aspek kualitas tetap harus mendapatkan perhatian serius untuk memenuhi target pencapaian mutu pendidikan di Aceh.
Terlepas dari berbagai kelemahan, terutama bargaining politiknya yang relatif kurang mampu menggigit bila dibandingkan dengan lembaga sejenis yang sama-sama menangani pendidikan seperti dinas pendidikan, majlis ini sejatinya masih sangat perlu dipertahankan keberadaannya. Terlebih dilihat dari sisi upaya mengisi keistimewaan Aceh dalam aspek pendidikan. Bila Majlis Permusyawaran Ulama (MPU) sebagai simbol pengakuan terhadap eksistensi ulama sebagai mitra dan pengarah Pemerintah Aceh, Majlis Adat Aceh (MAA) sebagai simbolisasi pengakuan terhadap adanya khasanah adat-istiadat Aceh yang unik dan islami, kemudian belakangan terbentuknya Dinas Syari`at Islam dalam jajaran pemerintahan Aceh sebagai simbolisasi pengakuan keistimewaan di bidang agama, maka mengapa simbol keistimewaan di bidang pendidikan dinafikan. Apalagi dalam hal ini MPD tidak sendirian, masih ada satu lembaga lagi yang mengurus pendidikan di dayah (pesantren), yaitu Badan Pendidikan dan Pembinaan Dayah (BPPD). Mengapa kita tidak memberdayakan semua lembaga keistimewaan Aceh itu, membuatnya tidak ompong lagi, sebagaimana yang dituding tersebut. Bukan malah membubarkan hanya disebabkan lembaga itu belum mampu memenuhi harapan ideal sebagian masyarakat Aceh.
Saya kira, MPD khususnya masih bisa didikdayakan, konon lagi dengan suntikan dana operasional yang lumayan besar tiap tahunnya. Asalkan prinsip akuntabilitas dan transparansi dalam penggunaan dan pertanggungjawab dana publik itu dapat dipenuhi oleh pengurusnya. Kemudian, kalau memungkinkan, wewenangnya sedikit diperluas. Tidak sebatas lembaga penasehat, pengarah atau tugas basa-basi politis lainnya terhadap Pemerintah Aceh dalam aspek pendidikan. Melainkan benar-benar sebagai lembaga yang memiliki kekuatan dan daya gugat yang memadai serta pandangan MPD terhadap jalannya pendidikan di Aceh mau dihormati dan didengarkan oleh Pemerintah Aceh dan lembaga teknis di bawahnya. Untuk mencapai maksud ini, MPD harus diisi oleh orang-orang yang memiliki integritas kepribadian yang kuat dalam segala pengertiannya. Mereka tidak mudah dipengaruhi dan kelembagaan MPD hanya dijadikan sebatas simbol keistimewaan belaka tanpa mampu berbuat banyak untuk peningkatan kualitas pendidikan di Aceh. Mereka yang duduk di majlis ini adalah orang-orang yang berjiwa dan berpikir maksimal dan ikhlas hanya untuk membangun dunia pendidikan Aceh yang semakin terpuruk ini. Bukan mereka yang menjadikan lembaga ini sebagai tempat pelarian atau kompensasi dan alternatif jabatan sesaat manakala kalah bersaing di institusi lain. Sekali lagi, kita semua masyarakat Aceh masih menaruh harapan besar pada majlis ini untuk sedikit banyaknya mewarnai wajah pendidikan di Aceh agar tidak sungkan kita menatapnya. Untuk itu marilah kita limpahkan kepercayaan ini kepada semua rekan yang dipercayai di MPD saat ini. Dengan dukungan moral yang tulus dari seluruh masyarakat Aceh, maka akan dapat melaksanakan amanah masyarakat Aceh dengan semestinya. Semoga!
175
Menjelang awal tahun ajaran baru, sebagian besar orang tua mulai sibuk menyiapkan putra-putri mereka untuk dapat diterima di sekolah favorit. Hal ini bukan hanya dialami oleh anak-anak yang akan tamat SD, SMP atau SMA saja, fenomena sibuk ini juga telah merambah ke dunia anak-anak TK. Untuk tercapainya tujuan tersebut, tidak ada pilihan lain kecuali orang tua harus memburu tempat-tempat bimbingan belajar dan memaksa anak untuk mengikuti kemauan mereka. Untuk mengajar sendiri di rumah, jelas mereka tidak punya waktu atau mungkin juga tidak menguasai materi pelajaran sekolah. Dari kenyataan ini, alternatif yang mungkin ditempuh hanyalah menitipkan anak pada bimbingan belajar. Kalau perlu mereka akan memilih tempat bimbingan belajar yang super intensif, perihal biaya tak menjadi