• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Anak Perempuan, Antara Tuntutan dan Hak

sekilas ummi memandangmu bahwa dikau memiliki jiwa yang ummi inginkan”.

“Duhai putriku sayang, ummi ingin dikau untuk memperjuangkan hak-hak kaummu sesuai dengan fitrah yang diberikan Allah. Dunia telah menyalahkan hak kita putriku, baik oleh laki-laki liberal, para ulama dan bahkan dari kaummu sendiri. Gadis kecilku, mereka tidak tahu apa yang menjadi hak mereka. Bagi mereka melanggar adat itu adalah suatu aib. Walaupun itu lebih menafikan hak mereka. Bahkan mereka sangat benci pada perempuan yang tidak mau melakukan tugas rumah tangganya. Putriku, bagi mereka perempuan identik dengan segala tetekbengek rumah tangga. Bagi mereka rumah tangga adalah bagian dari urusan perempuan. Mereka sangat marah bila ada para suami yang membantu tugas istrinya yang sudah sangat kelelahan. Padahal yang dilakukan oleh perempuan itu adalah sedekah mereka bagi suaminya. Karena sebenarnya tugas itu adalah kewajiban para suami. Putriku sayang, ummimu tak ingin mengajarkan dikau untuk menjadi pembangkang pada suami kelak saat dikau telah menikah. Karena saat itu surgamu ada bersama kehidupanmu berdua dengan suamimu”.

“Ummi hanya ingin mengajarkan dikau untuk mengkaji kembali hak-hak kita yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Agar dikau mengerti dan memahaminya dan dikau sampaikan berita ini pada perempuan lainnya, karena itu sajalah yang benar. Setelah dikau mengerti, sampaikablah semua ini kepada kaummu yang lain. Putriku sayang, ummi ingin agar dikau mengajarkan mereka. Islam tidak pernah mengajarkan bahwa posisi perempuan sebagai sub-ordinat kaum laki-laki. Dalam ekonomi, dalam politik atau dalam masalah apapun bahkan dalam masalah rumah tangga, wanita dan laki-laki adalah sederajat. Putriku, laki-laki itu adalah

sahabat kita di dunia untuk saling berbuat kebajikan dan taqwa, bukan teman untuk melakukan dosa. Putriku, kelak di akhirat Allah tidak akan membedakan hisabmu dan hisab mereka. Kita adalah sama-sama manusia. Tugas sebagai khalifah di muka bumi tidak hanya diemban oleh laki-laki. Gadis kecilku, laki-laki bukan untuk dimusuhi, seperti yang disuarakan oleh kaum feminisme. Mereka hanya kecewa karena ketertindasan. Putriku, jangan engkau berfikir dengan perasaan emosi, tetapi berpikirlah dengan akal yang jernih dan hati yang sehat. Sekali lagi ummi tekankan, laki-laki itu adalah sahabatmu dalam menyebarkan risalah Allah di muka bumi. Bersama mereka kita menjadi khalifah, bersama mereka kita membangun rumah tangga”.

Demikian kurang lebih isi catatan buku harian seorang ibu muda tersebut. Banyak sisi menarik dari isi catatan itu yang patut diangkat ke permukaan di tengah kekaburan pemahaman dan tradisi masyarakat kita yang masih menganut sistem patrilinial. Pertama, dilihat dari sisi pesannya sepertinya si ibu secara intern mengalami perlakuan timpang selaku anak perempuan oleh anggota keluarganya. Kedua, ia tidak ingin pengalaman pahit tersebut kembali berlangsung pada anak-anaknya kelak. Karena itu ia sangat mengingatkan anaknya sejak dari sekarang. Ketiga, ketimpangan perlakuan orang tua terhadap anak perempuan minimal akan mengaburkan hak si anak. Keempat, ibu muda tersebut berharap agar antara anak –laki-laki dan perempuan dipandang dan diperlakukan secara adil dan setara. Tidak ada istilah ini anak emasku dan itu anak pembangkang. Kelima, ia berharap bahwa anak mampu menjadi penerus cita-citanya untuk membela marwah diri sebagai anak yang sama derajat dan hak dari kedua orang tua. Di sinilah peran ibu sebagai penyadar pertama anak dituntut untuk

memulai membenahi relasi sosial yang jelas sesuai dengan ketentuan agama yang benar-benar murni, bukan hasil sebuah penafsiran subjekti, apalagi sarat kepentingan.

Mengomentari catatan harian ini, saya jadi teringat pada pola pendidikan anak perempuan dalam keluarga yang dianut oleh masyarakat kita. Dimana orang tua— terutama ibu--cendrung mendidik anak perempuan dalam konteks keluarga agar terampil mengurusi pekerjaan rumah tangga. Dengan dalih suatu saat kelak anak perempuan akan berurusan dengan masalah pelayanan dalam keluarga. Seolah-olah anak perempuan tidak bisa lari dari rutinitas yang telah terlanjur diklaim sebagai wilayah pengabdian anak perempuan yang paling terhormat di mata leluhur. Dalam hal ini, kadang-kadang ibu terobsesi dengan peran tradisionalnya yang selama ini digeluti, warisan orang tua sebelumnya. Pengalaman ini ingin dipaksakan pada generasi sesudahnya. Orang tua model konservatif ini jarang yang mampu membedakan antara hak dan kewajiban anak perempuan dalam rumah tangga. Sejatinya rutinitas rumah tangga itu merupakan tanggungjawab bersama antara anak (laki-laki dan perempuan) dan orang tua jika memungkinkan. Tugas-tugas dibagi dengan adil dan proporsional tanpa melihat natur masing-masing anak, lalu menyesuaikan dengan ragam jenis pekerjaan. Pendidikan rumah tangga semacam ini perlu diupayakan penyadaran kepada para ibu agar tidak salah dalam mendidik anak perempuan.

Padahal agama yang selalu dibela-bela orang tua tidaklah demikian adanya. Rasulullah SAW menganjurkan orang tua bahwa hak anak yang pertama sekali dari orang tuanya adalah menerima kasih sayang dan perhatian optimal dari kedua orang tuanya, terutama dari ibu. Kasih sayang dan rasa cinta kepada anak merupakan fitrah umat manusia. Kasih sayang inilah yang menjadi pondasi awal

bagi terbentuknya suasana kejiwaan yang stabil dalam menjaga dan mendidik anak-anak. Apabila curahan cinta dan kasih sayang ini tidak tumbuh dan tidak memenuhi qadar yang diingankan. Maka anak akan tumbuh dalam suasana tidak stabil, sehingga agak sulit berkomunikasi danbekerjasama dengan masyarakat.

Hak anak selanjutnya selain kasih sayang adalah para orang tua diharapkan berusaha memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya, agar kelak mereka menjadi makhluk yang mandiri. Rasulullah SAW pernah bersabda;”Didiklah anak-anakmu, sebab mereka dilahirkan untuk hidup dalam suatu zaman yang berbeda dengan zamanmu” (HR. Bukhari-Muslim). Anak perempuan yang kelak akan menjadi seorang ibu dalam keluarga harus mendapat perlakuan khusus oleh orang tua. Terutama dalam menjaga, memperhatikan mereka dengan adil, tidak terlalu mengekang pada hal-hal tertentu dan tegas dan keras pada sisi yang lain. Mengapa perlakuan terhadap anak perempuan harus khusus, bukannya anak laki-laki?. Tentu, karena antara anak laki-laki dan perempuan memiliki karateristik dan kebutuhan yang berbeda dalam segi-segi tertentu. Khusus dalam konteks ini bukan berarti lebih diperioritaskan, melainkan memiliki tekanan atau perhatian tertentu yang dibutuhkan anak perempuan sementara anak laki-laki kurang atau malah tidah memerlukan. Dunia dan tantangannya yang kelak dihadapi anak perempuan tidak mungkin sama dengan apa yang bakal dihadapi anak laki-laki dalam dunianya. Karena itu apa yang disebut dalam dunia pendidikan dengan individual defferences sejatinya mendapat perhatian orang tua bagi anak-anak mereka.

Hak pendidikan anak perempuan harus dipandang sama dengan hak pendidikan anak laki-laki. Kesetaraan dalam memberikan hak pendidikan anak tidak saja

menyangkut jenjang pendidikan yang harus dilalui, melainkan juga kualitas lembaga pendidikanpun sayugianya merata. Sisi yang berbeda barangkali adalah penelusuran bakat dan minat anak sesuai dengan yang diinginkannya. Dalam hal ini orang tua tidak berhak memveto anak-anak mereka untuk meneruskan keberhasilan atau kegagalan cita-cita mereka sebelumnya. Biarlah mereka yang menentukan jalan hidup sendiri sesuai dengan kecendrungan zamannya. Orang tua hanya berdiri pada posisi pengayom, pembimbing dan pendamping atau mitra (sahabat) sejati anak baik ketika anak mengalami masalah maupun disaat adem ayempun. Kedekatan dan keakraban antara orang tua dan anak memberi stimulus tersendiri bagi anak dalam menghadapi segala masalah hidup ini.

Mitos “buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya” sepertinya sudah kurang relevan dengan kebebasan dan kemerdekaan anak dari patron semu kesejatian orang tua. Maskulinitas pada anak laki-laki dan feminitas pada anak perempuan dikondisikan sedemikian rupa sehingga tidak mesti ada suatu keharusan bahwa anak laki-laki selalu dalam citra kelaki-lakiannya atau anak perempuan dengan image kewanitaannya. Tidak ada semacam pelanggengan pada anak tertentu sesuai dengan jenis kelaminnya (biologis), berikan kebebasan kepada mereka untuk mengaktualkan diri sesuai dengan kecendrungan si anak. Orang tua tidak perlu khawatir bilamana anak perempuan menggemari rutinitas wilayah anak laki-laki seperti main mobil-mobilan dan sebagainya. Karena kecendrungan kelaki-lakian dalam permainan seorang anak perempuan misalnya bukanlah kodrat yang tidak bisa diubah. Pembawaan semacam itu hanyalah kontruksi lingkungannya yang sifatnya sementara, tidak ada yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Tidak

ada keharusan bahwa seorang anak perempuan harus bermain masak-masakan semata. Peran orang tua dalam memahami perkembangan awal anak-anak mereka cukup memberi pengaruh pada pola pandang anak di kemudian hari terutama tentang relasi peran masing-masing mereka sejak dalam keluarga.

Hanya yang perlu dijaga jangan sampai berkembang steriotape bahwa anak perempuan adalah makhluk inferior sementara anak laki-laki superior. Sebab keduanya adalah sama, sederajat dan berhak atas segala sesuatu yang menjadi kewajiban orang tua mereka secara adil dan proporsional. Sekarang bukan zamannya lagi mempraktekkan kebijakan politik “belah bambu” ala kolonial terhadap anak terutama perempuan dalam ‘negara kecil’ keluarga. Sejak dari ranah keluarga inilah sejatinya nilai-nilai dasar kemanusiaan seperti cinta, kebebasan, keadilan, persamaan, kesetaraan, kesederajatan mulai tersemai dan bersemi dengan suburnya dalam segala bentuk interaksi antar sesama anggota keluarga. Enyah jauh-jauh perilaku orang tua di zaman jahiliyah yang mendiskriminasikan anak perempuan mereka karena dengan kehadirannya membawa kehinaan dan berbagai stigma lainnya bagi seisi keluarga, sementara anak laki-lakilah penyebab segala keberuntungan. Semoga saja tidak ada sesuatu yang sulit dalam belajar memimpin pada etape awal dan skop yang masih mikro ini.

107

Salut, pada seorang ibu muda yang tak lancar membaca tetapi mampu menulis buku (Serambi Indonesia 27/01/10). Jika ditanya, kenapa ya ia bisa berbuat yang menurut asumsi umum mustahil dikerjakan? Petinju legendaris Muhammad Ali dengan kalimat ajaibnya mengatakan; ”Imposible is nothing”. Maksudnya kurang lebih adalah tidak ada yang tidak mungkin, atau semua menjadi mungkin. Menyoal kegiatan menulis buku si ibu di atas, mungkin diantara kita bertanya, kenapa ia bisa melakukan? Padahal ia hanya tamat sekolah dasar, jarang membaca buku, mendengar radio dan menonton televisi, bahkan membacapun kurang lancar. Singkatnya, segala apa yang biasanya dibutuhkan untuk menulis tidak dipunyai sang ibu. Tetapi di balik keterbatasan dirinya, ternyata ia memiliki sesuatu yang lain. Apa itu? Sederhana

Zahra, Bukan Perempuan Biasa