melihat kondisi Ar-Raniry hari ini, beranggapan bahwa tidak mudah menuju perguruan tinggi yang mutu pendidikannya terjamin tersebut. Pada langkah awal Ar-Raniry harus berhadapan dengan persoalan manajemen yang belum mengarah pada acuan profesionalitas. Sementara ini saja Ar-Raniry masih berjibaku dengan persoalan klasik yang akut dan berlarut-larut. Sebut saja kultur, karakter, mind set dan iklim akademis di Ar-Raniry serta good will politik Pemerintah Aceh yang kelihatannya belum memungkinkan Ar-Raniry melaju. Mereka melihat kenyataan selama ini dalam penyelenggaraan dan pengelolaan perguruan tinggi masih jauh dari kualifikasi yang hendak dituju (universitas riset berkelas internasional). Sementara bagi pihak yang merasa optimis melihat segalanya menjadi mungkin. Terutama melihat potensi dan kualifikasi titel akademis persoal yang memimpin dan mengelola IAIN Ar-Raniry sekarang yang sedikit lebih lumayan dibandingkan dengan waktu sebelumnya. Terutama kuantitas dosen yang telah berhasil meraih gelar doktor dan profesor yang semakin bertambah jumlahnya. Tetapi apakah potensi dan kemampuan yang sebangun dengan gelar akademik ini berbanding sejajar dengan kompetensi profesional dan managerial? Ini yang belum mampu dijawab oleh pihak yang merasa optimis di atas.
Dalam konteks perubahan zaman, tantangan perubahan yang dihadapi Ar-Raniry di era tahun 1960-an sudah bar1960-ang tentu amat s1960-angat berbeda deng1960-an era global village sekarang ini. Sebagai IAIN ketiga tertua di Indonesia sudah seharusnya Ar-Raniry mengikuti jejak saudara tuanya itu, baik dalam hal memperluas mandat kelimuan juga peningkatan kualitas menuju taraf internasional. Memang bila dilihat dari segi usia, Ar-Raniry sudah setua UIN Jakarta dan Yogyakarta.
Tetapi dari segi perkembangan pengkajian keilmuan, Ar-Raniry jauh tertinggal. Dalam tataran ini, Ar-Ar-Raniry juga agak terlambat dalam melakukan start di landasan pacu perubahan status. Konon lagi dalam mempersiapkan diri menuju kualitas kelembagaan yang bertaraf dunia. Apakah sebagai universitas riset yang berkelas internasional atau pencapaian lainnya. Mungkin setting sosial dan perkembangan politik di Aceh sepanjang berdirinya di era 60-an hingga era pasca konflik sekarang ini turut memberi andil terhadap ketertinggalan kemajuan Ar-Raniry dibandingkan dengan lembaga pendidikan tinggi agama lainnya di Indonesia. Diharapkan dalam kurun waktu sekarang ini, kendala politis bukan menjadi penghalang lagi bagi perluasan mandat dan pengembangan kualitas keilmuan di Ar-Raniry. Sudah saatnya sekarang seluruh civitas akademika Ar-Raniry menyatukan semangant dan kekuatan baru untuk merebut peluang emas yang hadir di depan mata. Kajian keislaman yang bernuansa lebih universal dan integral sudah saatnya dikonsentrasikan di Ar-Raniry.
Bandingkan dengan tulisan T. Safir Iskandar Wijaya yang pernah dipublish di FORDIA dengan judul “Institut Ar-Raniry Menuju Universitas Ar-Raniry; Sebuah Imajinasi Konsepsi Paradigma”. Tulisan ini merupakan makalah sandingan dengan Amien Abdullah, pada Kuliah Umum di Pascasarjana IAIN Ar-Raniry dan di Fakultas Ushuluddin Dalam Kerangka 50 Tahun Fakultas Ushuluddin Ar-Raniry. Menurut Safir, berdirinya IAIN lima Fakultas yang ada di dalamnya tidak pernah lepas dari kondisi sejarah yang melingkupinya. Dalam perjalanannya sebagai Perguruan Tinggi, faktor-faktor politik, ekonomi, sosial dan budaya selalu kait-mengait antara satu sama lain. Saat ini Institut Ar-Raniry merupakan sebuah Perguruan Tinggi di tengah-tengah masyarakat yang sedang dalam proses perubahan
demi perubahan bahkan melangkah keterbukaan dan demokratisasi. Setelah masa reformasi yang sekarang sedang berjalan, keadaan masyarakat diperkirakan akan semakin bebas dalam persaingan prestasi. Tuntutan perubahsn paradigma bagi Ar-Raniry sudah tidak mungkin dielakkan. Perubahan menuntut berbagai dimensi, peningkatan mutu juga bukan merupakan suatu perbuatan yang bersandarkan easy going. “Pasar bebas” menjadi ciri utama masyarakat majemuk, terbuka dan maju.
Di tengah-tengah keadaan masyarakat seperti itu nanti, tidak mustahil Ar-Raniry akan dituntut lebih dari sekadar menjalankan peran yang selama ini sudah dialamatkan kepadanya. Dalam waktu yang bersamaan, persaingan bebas akan menuntut Ar-Raniry untuk dapat memberikan andil bagi pemenuhan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Paling tidak, di kemudian hari akan muncul dua tuntutan besar: Pertama, tuntutan kualitas disiplin ilmu yang selama ini diajarkan; dan kedua, tuntutan untuk bersaing bebas dengan Perguruan Tinggi lain untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi kehidupan yang majemuk (plural). Adapun yang dimaksud tuntutan kualitas adalah keinginan untuk meningkatkan kualitas disiplin ilmu yang diajarkan di Ar-Raniry, yang titik sandarnya meliputi tiga hal, yaitu (a) sasaran pembinaan karakter (b) pembinaan akademik, dan (c) pembinaan profesional.
Untuk pembinaan karakter yang dalam UU tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan iman, takwa dan etika. Untuk itu, Ar-Raniry mempunyai perangkat yang paling siap dibandingkan Perguruan Tinggi lain. Sebab dengan menawarkan ilmu agama yang salah satu initinya adalah untuk memperbaiki kehidupan moral, Ar-Raniry bisa berada di barisan depan. Meskipun
disiplin yang diajarkan sarat dengan pesan moral, sering dalam praktiknya hanya muncul sebagai ilmu dan hanya mengajarkan Islam secara keilmuan.
Ke depan Ar-Raniry dan mampu menjangkau pengembangan keilmuan yang berbasis multi analisis dengan pendekatan interkoneksi keilmuan, sehingga secara konseptual keilmuan Islam sebagai basis pengetahuan di Ar-Raniry mampu memberikan solusi terhadap perkembangan yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat (sebuah hantaran renungan). Bagaimana membangun hubungan dan jaringan intelektual antara tradisi keilmuan Ulum Din (Religious Knowledge), al-Fikr al-Islamiy (Islamic Thought) dan Dirasat Islamiyyah (Islamic Studies) dalam sejarah intelektual-akademik budaya Islam dan melihat implikasi dan konsekuensinya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan secara luas ketika ketiganya berpisah dan berjalan sendiri-diri, atau berhubungan erat saling mengenal antar tradisi keilmuan dan apa akibatnya jika ketiganya saling bertentangan.
Hubungan tersebut akan penulis potret dari perspektif sejarah perkembangan studi agama-agama yang telah melewati 4 (empat) fase, yaitu, lokal, kanonikal, kritikal dan global. Dalam tulisan ini T Safir Iskandar Wijaya membatasi pemahaman ‘Ulum al-Diin sebagai representasi “tradisi lokal” keislaman yang berbasis pada “bahasa” dan “teks-teks” atau nash-nash keagamaan, al-Fikr al-Islamiy sebagai representasi pergumulan humanitas pemikiran keislaman yang berbasis pada “rasio-intelek”, sedangkan Dirasat Islamiyyah atau Islamic Studies sebagai kluster keilmuan baru yang berbasis pada paradigma keilmuan sosial kritis-komparatif lantaran melibatkan seluruh “pengalaman” (experiences) umat manusia di alam historis-empiris yang amat sangat beranekaragam. Menurut penglihatan penulis, para penggemar dan pecinta studi
keislaman sendiri[3] seringkali tidak dapat membedakan secara jelas dan gamblang (clear and distinct) antara ketiganya sehingga tidak dapat membentuk satu pandangan keagamaan (world view) Islam yang utuh, yang dapat mempertemukan dan mendialogkan secara positif-konstruktif antara yang “lokal” dan “global”, antara yang “partikular” dan “universal”, antara “distinctive values” dan “shared values”, antara yang biasa disebut “dzanni” dan “qath’iy” dalam pemikiran fikih Islam dalam hubungannnya dengan keberadaan pandangan hidup dan pandangan keagamaan tradisi dan budaya lain (others; al-akhar) di luar budaya Islam.
Akhirnya, dengan berfikir besar dapat dikatakan bahwa bagaimanapun ke depan Ar-Raniry mampu dibangun ke arah perguruan tinggi negeri yang bermutu dan bertaraf internasional atau universitas riset. Sebab, saat ini akumulusi energi di Ar-Raniry sedang tertuju pada pencapaian tujuan dimaksud. Apalagi Pemerintah Aceh dan stakeholder di Aceh menunggu ijtihad besar dan kiprah nyata alumni Ar-Raniry untuk berpartisipasi dalam pembangunan Aceh ke depan.
67
Verifikasi berkas kesediaan bakal calon Rektor IAIN Ar-Raniry Periode 2013-2017 sebagai salah satu tahapan penting baru saja selesai dilakukan oleh panitia, terutama dalam proses penjaringan atau seleksi calon. Pada tahapan ini, fenomena kurang partisipatif secara gamblang terlihat. Kontestan yang mengembalikan formulir pencalonan cukup rendah; dari 45 dosen yang memenuhi syarat, hanya 16 orang yang mengembalikan formulir pencalonan. Dari 16 orang tersebut, 13 orang menyatakan “tidak bersedia dicalonkan”. Sisanya, hanya 3 orang yang menyatakan bersedia mencalokan diri. Ketiga orang itupun, salah satunya adalah rektor sekarang ini, yaitu Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA. Sementara dua orang lagi dapat dikatakan masih satu “kaum” (meminjam istilah Dr. fachri Yacob, M.Ed) dengan beliau alias bukan “orang luar”. Keduanya yaitu Dr. Mujiburrahman, M.Ag dan Dr. Hj. Chairan M. Nur, M.Ag, masing-masing sedang