3.1 Analisis Tokoh
3.1.2 Madame Aubain
3.1.2.3 MEMENTINGKAN PENDIDIKAN
Dalam karya ini, Mme Aubain, sebagai seorang keturunan bourgeois,
sangat mementingkan pendidikan bagi anak-anaknya. Hal tersebut terlihat
pada bagian Virginie yang dikirim ke les Ursulines d‟Honfleur. Dengan
belajar di sana, diharapkan bahwa Virginie akan dapat meningkatkan kualitas
hidupnya dan dapat diterima di dunia modern.
Mme Aubain voulait faire de sa fille une personne accomplie; et, comme Guyot ne pouvait lui montrer ni l'anglais ni la musique, elle résolut de la mettre en pension chez les Ursulines d'Honfleur. (hlm. 50)
Madame Aubain ingin membuat putrinya berhasil; dan karena Guyot yang tidak dapat membuatnya menguasai bahasa Inggris maupun berminat untuk musik, kemudian Nyonya Aubain memutuskan untuk menempatkannya di asrama sekolah yang dikelola oleh para biarawati Ursulines d‟Honfleur.
Dari kutipan di atas, „voulait faire de sa flle une personne accomplie‟
Madame Aubain ingin agar putrinya menjadi seorang yang berpendidikan
sehingga dapat mencapai apa yang dicita-citakannya. Ia diajarkan bahasa
Inggris sebagai alat komunikasi dengan orang-orang asing, mempelajari
3.1.2.4 TERTUTUP
Kematian suami Madame Aubain meninggalkan kenangan yang sulit
untuk digantikan. Hal tersebut dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan
Monsieur Aubain yang yang masih lengkap dan tertata rapi. Dengan
menyimpan kenangan-kenangan tersebut, Madame Aubain seperti tidak ingin
membuka hatinya lagi untuk pria lain.
Le souvenir de “Monsieur”, planant sur tout ! (hlm. 27)
Kenangan akan “Monsieur Aubain” tertanam dimana-mana!
Hal tersebut dijelaskan dengan kata „planant‟ ditanam yang
menegaskan bahwa peninggalan-peninggalan Monsieur akan terus dijaga. Adapun kata „sur tout‟ di semua tempat menunjukkan bahwa setiap sudut
ruangan di rumah Madame Aubain akan selalu mengingatkannya kepada
suaminya. Hal inilah yang membuat Madame Aubain sulit untuk menerima
orang baru yang ingin mendekatinya.
Sikap tertutup ini semakin terlihat ketika ia kembali kehilangan orang
yang disayanginya, yaitu Virginie. Ia tidak terlalu suka membagi
kesedihannya kepada orang lain, sehingga lebih memilih untuk mengurung
diri di kamar.
Dari kata-kata pada kutipan di bawah ini, „plusieurs mois‟
berbulan-bulan menunjukkan bahwa Madame Aubain mengalami kesedihan yang
berlarut-larut. Ia menyendiri di kamarnya dengan keadaan yang
memprihatinkan yang terlihat dari kata „inerte‟ tidak bergerak, mematung,
menunjukkan bahwa ia sudah seperti orang yang depresi.
Dari uraian mengenai tokoh Madame Aubain, dapat disimpulkan
bahwa Madame Aubain adalah seorang janda yang ditinggal mati suaminya.
Ia adalah keturunan keluarga bourgeois, tetapi karena banyaknya hutang yang
ditinggalkan suaminya, ia kemudian menjual beberapa tanah miliknya dan
tinggal di Pont-L‟Évêque. Ia memilih tinggal di Pont-L‟Évêque karena biaya
hidup di sana relatif lebih murah. Perkawinan Madame Aubain dan suaminya
dikaruniai dua orang anak, yaitu Paul dan Virginie. Mereka bertiga hidup
bersama dengan menggantungkan hasil pertanian dan peternakan mereka.
Dari segi sifat, dapat dikatakan bahwa tokoh Madame Aubain
memiliki dua sisi sifat yang baik dan buruk. Salah satu sifat baiknya adalah ia
sangat mencintai keluarganya, baik suami, maupun anak-anaknya. Hal
tersebut terlihat dari kenangan-kenangan Monsieur Aubain yang masih
tersimpan rapi di setiap sudut ruangan. Ia selalu menyimpannya meskipun
peninggalan tersebut membuatnya terus-menurus ingat kepada almarhum
suaminya itu.
Kepada anak-anaknya Madame Aubain memberikan seluruh perhatian
dan kasih sayangnya kepada mereka. Ia merasakan kesedihan yang mendalam
ketika ditinggalkan oleh putrinya Virginie, hingga ia memutuskan untuk
mengurung diri di kamar selama berbulan-bulan. Begitu pula dengan Paul,
meskipun Paul sering kali merepotkannya dalam hal keuangan, Madame
Aubain dengan rela dan tanpa mengeluh tetap mau membayarkan
Aubain pun tetap berusaha baik kepada calon istri Paul tersebut meskipun ia
bertingkah sinis.
Di samping sifat baik tersebut di atas, Madame Aubain, selayaknya
manusia biasa, juga memiliki sikap buruk. Terutama jika dikaitkan dengan
tokoh Félicité. Sering kali dengan atau tanpa sengaja, Madame Aubain
menyakiti hati Félicité, tidak mengacuhkannya, atau memperlakukannya
dengan kasar. Tidak hanya itu, Madame Aubain juga sangat kikir dalam hal
keuangan. Hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana ia membayar gaji Félicité
yang pada masa itu terbilang sangat rendah, terutama dengan
pekerjaan-pekerjaan yang harus diselesaikan Félicité. Meskipun demikian Félicité tetap
setia padanya dan menghormatinya sebagai majikan.
3.1.3 Paul
Paul adalah anak pertama Madame Aubain, ia berusia tujuh tahun pada
awal penceritaan.
Paul et Virginie, l'un âgé de sept ans, l'autre de quatre à peine, lui semblaient formés d'une matière précieuse. (hlm. 27-28)
Paul dan Virginie, yang satu berumur 7 tahun, dan yang lain belum berumur 4 tahun, baginya adalah barang berharga
Dari segi sifat, Paul merupakan anak yang baik, dia tidak segan-segan
mengajarkan hal-hal baru kepada Félicité. Seperti ketika ia diberi hadiah buku
geografi bergambar oleh Monsieur Bourais. Paul dengan sabar menunjukkan
apa yang ada dalam buku tersebut kepada Félicité. Ketika masih kecil, ia
terbilang seorang anak laki-laki yang aktif. Ia juga gemar bermain di alam
lingkungan tempat tinggalnya yang masih asri di daerah pedesaan, kegemaran
Paul menjadi semakin terakomodasi.
Ketika remaja, Paul dikirim oleh ibunya untuk meneruskan pendidikan
ke Caen. Semua persiapan diserahkan kepada Monsieur Bourais, dari mulai
memilih sekolah hingga mengurus administrasi pendaftaran. Dengan bantuan
dari Monsieur Bourais tersebut, Madame Aubain tidak perlu mempersiapkan
apapun.
M. Bourais l‟éclaira sur le choix d‟un collège. Celui de Caen passait pour le meilleur. Paul y fut envoyé ; et fit bravement ses adieux, satisfait d‟aller vivre dans une maison où il aurait des camarades. (UCS, hlm. 43)
Mme Aubain se résigna à l‟éloignement de son fils, parce qu‟il était indispensable.
(UCS, hlm. 43)
Tuan Bourais memberinya pencerahan mengenai pemilihan perguruan tinggi. Caen dianggap sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik. Paul dikirimkan ke sana; dan dengan lapang dada mengucapkan perpisahan, dan senang karena akan tinggal di sebuah asrama tempat ia akan bertemu dengan banyak teman baru
Madame Aubain menerima dengan rela kepergian putranya itu, karena hal itu harus dilakukan.
Di Caen, Paul akan menghadapi kehidupan yang benar-benar baru
baginya. Namun ia tidak merasa ragu atau takut. Sesuai dengan kegemarannya
berpetualang dan bermain dengan alam, Paul menghadapi kehidupan barunya
sebagai sebuah petualangan baru. Ia yang belum pernah tinggal terpisah
dengan orang tuanya, sekarang harus hidup di sebuah asrama bersama teman
sekolahnya. Ia merasa nyaman dan puas dengan asrama baru yang juga
menjadi tempat ia bertemu dengan teman-teman baru. Hal tersebut dapat
dilihat dari kata „bravement‟ dengan berani ; „satisfait‟ puas ; „des camarades‟
Dengan lingkungan barunya itu, Paul mengalami perubahan sikap
yang cukup drastis. Hal itu mulai terlihat ketika ia pulang untuk menghabiskan
liburan musim panas. Ia tidak lagi seorang anak lelaki yang penuh semangat
dan perhatian, hal tersebut dapat dilihat dari kutipan di atas, yang ditunjukkan
dengan kata „capricieux‟ bertindak sesuka hati. Sikap ini membuat Félicité
merasa asing dengan Paul.
C‟était l‟époque des vacances. L‟arrivée des enfants la consola. Mais Paul devenait capricieux, et Virginie n‟avait plus l‟âge d‟être tutoyée, ce qui mettait une gêne, une barrière entre elles. (hlm.52)
Ini adalah masa liburan. Kedatangan anak-anak membuatnya senang. Tapi Paul sudah berubah menjadi seorang yang suka bertindak semaunya, dan Virginie bukan lagi seorang anak kecil, hal tersebut membuat hubungan mereka kaku, dan menghasilkan jarak antara mereka.
Sifat buruk Paul semakin terlihat melalui surat yang ia kirimkan
kepada Madame Aubain. Dalam surat tersebut ia meminta agar ibunya
membayarkan hutang-hutang miliknya. Selama di Caen, ia tidak memiliki
pekerjaan sama sekali, tetapi dia suka menghambur-hamburkan uangnya.
Il ne pouvait suivre aucune carrière, étant absorbé dans les estaminets. Elle lui payait ses dettes ; il en refaisait d‟autres ; (hlm. 66-67)
Ia tidak dapat mengerjakan apapun, tetapi ia malah menghabiskan uangnya untuk minum-minum dan merokok di kafe. Madame Aubain membayar hutang-hutangnya; tetapi Paul kemudian kembali berhutang kepada orang lain;
Kutipan di atas menunjukkan bahwa Paul semakin tidak dapat
dikendalikan sikapnya. Meskipun ia telah memiliki kesempatan untuk
mengenyam pendidikan yang baik, Paul tidak menggunakan kemampuannya
tersebut untuk mencari pekerjaan. Ia lebih sering menghabiskan waktunya
untuk hal-hal yang tidak penting. Seperti disebutkan dalam kutipan di atas,
uangnya habis untuk minum-minum dan merokok di kafe, „les esaminets‟ kafe
Madame Aubain tidak hanya sekali saja membayarkan hutang-hutang Paul,
hal itu ditekankan pada kata „refaisait‟ berhutang kembali.
Dari uraian mengenai tokoh Paul di atas menunjukkan bahwa Paul
adalah anak laki-laki keluarga Aubain. Dulunya ia tinggal bersama ibu dan
adiknya, tetapi kemudian dipindah ke Caen untuk menempuh pendidikan yang
lebih tinggi. Perpindahan tempat tinggal tersebut berpengaruh terhadap
kepribadian Paul yang berubah drastis menjadi lebih buruk dibanding
sebelumnya.
3.1.4 Virginie
Tokoh Virginie adalah anak kedua Madame Aubain. Usianya lebih
muda dari Paul. Itu adalah usia ketika ia pertama kali bertemu dengan Félicité.
Sebagaimana Paul, kakaknya, Virginie juga suka bermain di alam terbuka.
Tentunya permainan yang mereka lakukan berbeda satu sama lain. Jika Paul
suka melakukan petualangan dan melakukan hal-hal yang menantang.
Virginie lebih memilih permainan-permainan yang tidak terlalu menantang.
Virginie senang bermain dengan binatang dan tidak lupa memberi
mereka makanan, seperti ditunjukkan pada kutipan di atas, „donnait à manger aux lapin‟ memberi makan kelinci-kelinci. Selayaknya anak perempuan seumurannya, ia pun juga senang mengumpulkan buah-buah untuk dimakan
ataupun untuk keperluan lain, yang pada kutipan di atas ditunjukkan dengan „cueillir des bluets‟ memetik bunga bluets.
Virginie donnait à manger aux lapins, se précipitait pour cueillir des bleuets, et la rapidité de ses jambes découvrait ses petits pantalons brodés. (hlm. 33-34)
Virginie dan Félicité memiliki hubungan yang cukup dekat. Hampir
setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama. Hal inilah yang nantinya
membuat Félicité merasa kehilangan ketika harus berpisah dengan Virginie
yang meneruskan pendidikan di asrama Ursulines d‟Honfleur.
Kutipan di bawaj menunjukkan bagaimana keseharian Virginie sebelum ia pergi ke Ursulines d‟honfleur. Ia digambarkan sebagai seorang
anak yang manis, dan baik, yang terangkum dalam kata „sa gentille figure‟
wajahnya yang menawan. Selain itu, kalimat seperti „à peigner ses cheveux‟
menyisir rambutnya ; „la tenir par la main‟ menggandeng tangannya ;
menyiratkan bahwa Virginie adalah seorang anak yang penurut, ia tidak
merasa malu bila digandeng Félicité yang hanya seorang pelayan.
Elle s‟ennuyait de n‟avoir plus à peigner ses cheveux, à lui lacer ses bottines, à la border dans son lit, et de ne plus voir continuellement sa gentille figure, de ne plus la tenir par la main quand elles sortaient ensemble. (hlm. 51)
Ia merasa kehilangan karena sudah tidak dapat lagi menyisir rambutnya, menalikan sepatunya, menidurkannya di bawah selimut dan tidak lagi dapat melihat wajah menawannya, dan tidak lagi dapat menggandeng tangannya ketika mereka pergi bersama.
Lama-kelamaan, kondisi kesehatan Virginie mulai menurun. Ia
terserang radang paru-paru. Sejak keadaannya yang semakin kritis, ia tidak
lagi meneruskan pendidikannya di Ursulines d‟Honfleur. Waktunya banyak
dihabiskan untuk pengobatan dan istirahat di rumah bersama ibunya. Pernah
pula ketika penyakitnya kambuh, ia disarankan oleh Monsieur Poupart untuk
pergi ke Province agar dapat menghirup udara segar.
Virginie s‟affaiblissait. (hlm. 60)
Virginie menderita radang paru-paru; sudah tidak ada harapan untuk kondisinya.
La bonne soeur avec un air de componction dit qu‟ « elle venait de passer ». (hlm.
63)
Suster dengan muka prihatin berkata “ia baru saja meninggal”.
Dari hari ke hari, bukannya semakin membaik, penyakit Virginie
menjadi semakin parah. Hal tersebut jelas membuat Madame Aubain sangat
terpukul dan ketakutan akan kehilangan putrinya. Kata-kata pada kutipan di
atas menunjukkan kesehatan Virginie yang sangat mengkhawatirkan, „s‟affaiblissait‟ melemah; „désespéré‟ tidak ada harapan. Dari kata tersebut, dokter seperti sudah tahu bahwa memang sulit untuk menyelamatkan nyawa
Virginie, terutama pada masa itu peralatan dan fasilitas kedokteran masih
sangat minim. Pada akhirnya, nyawa Virginie tidak dapat diselamatkan lagi. Ia
meninggal di usianya yang masih sangat muda.
Analisis mengenai tokoh Virginie di atas menunjukkan bahwa ia
adalah seorang anak perempuan biasa yang lahir dari keluarga bourgeois.
Sewaktu kecil ia adalah seorang anak yang lincah, penurut, dan sangat dekat
dengan pelayannya. Dari segi fisik, dapat dikatakan bahwa ia adalah seorang
anak manis dengan wajah yang menawan. Hal tersebut dapat dilihat dari
bagaimana pendapat Félicité dalam mendeskripsikan Virginie.
Setelah beranjak remaja, Virginie mulai berubah. Hal tersebut wajar
adanya, terutama karena ia sempat melanjutkan pendidikannya di kota lain.
Perpisahan yang cukup panjang tersebut membuat hubungan antara Virginie
dengan orang-orang yang dulunya dekat dengannya kemudian menjadi agak
berjarak. Namun malang nasib Virginie karena ia meninggal di usianya yang
kronis. Setelah beberapa bulan dirawat, akhirnya Virginie meninggal dunia di
pelukan ibunya, Madame Aubain.
3.1.5 Loulou
Loulou adalah seekor burung beo yang dihadiahkan oleh Madame
Larsonnière kepada Madame Aubain. Namun karena Madame Aubain tidak
terlalu tertarik dengannya, ia lalu diberikan kepada Félicité. Bagi Félicité,
sosok Pérroquet adalah teman barunya untuk menghapus kesepiannya.
Il s'appelait Loulou. Son corps était vert, le bout de ses ailes rose, son front bleu, et sa gorge dorée. (hlm. 71)
Dia bernama Loulou, tubuhnya berwarna hijau, ujung sayapnya berwarna merah jambu, wajahnya berwarna biru, dan lehernya berwarna emas.
Setelah dirawat Félicité, burung itu kemudian dipanggil dengan
sebutan Loulou. Ia memiliki warna yang menarik, dengan perpaduan
warna-warna cerah seperti hijau, biru, dan merah jambu. Selain itu, ia juga
merupakan seekor burung yang sangat lincah. Seperti halnya burung-burung
beo lain, ia pun senang menirukan suara orang-orang di sekitarnya.
Terkadang kelincahannya berlebihan dan ia sering bertindak sesuka
hatinya. Ia bosan karena terus-menurus dikurung di sangkar. Oleh sebab itu,
ia melakukan hal-hal aneh seperti bermain dengan air mandinya sehingga
banyak yang tercecer, ataupun bermain dengan kotorannya. Ia sering
mengejek Monsieur Bourais dengan terus-menerus tertawa setiap kali
melihatnya datang.
Mais il avait la fatigante manie de mordre son bâton, s'arrachait les plumes, éparpillait ses ordures, répandait l'eau de sa baignoire. (hlm. 71)
Tapi ia memiliki kebiasaan menggigiti kayu sangkarnya, mencabuti bulunya, mencecerkan dengan kotorannya, serta mencecerkan air mandinya.
Dari uraian mengenai tokoh Loulou ini dapat dilihat beberapa
deskripsi mengenai fisik burung ini. Ia digambarkan memiliki warna-warna
yang cerah dan menarik. Sebelum akhirnya dirawat oleh Félicité, Loulou
terlebih dahulu dimiliki oleh Madame Aubain. Bagi Félicité, Loulou adalah
sosok yang bisa dijadikan teman setia. Meskipun tingkahnya yang lincah, serta
fisiknya yang indah, terdapat beberapa orang yang tidak terlalu menyukai
Loulou. Oleh sebab itu, Félicité memindahkan sangkar Loulou ke dapur.
Tokoh Loulou meskipun tidak terlalu banyak diceritakan dalam karya
ini, memiliki peran yang cukup besar dalam pergerakan cerita. Ia menjadi
salah satu teman Félicité untuk mengusir kesepiannya. Pembahasan lebih
mendalam mengenai Loulou akan dilakukakan pada sub-bab Hubungan Antar
Tokoh antara Félicité dan Pérroquet (Loulou).
3.1.6 Victor
Victor adalah salah satu keponakan Félicité, yang juga merupakan
anak dari Nastasie Barette. Ia masih tinggal bersama orang tuanya. Ayahnya
adalah seorang pelaut yang sering berlayar ke luar kota. Kemudian, Victor
diajak ayahnya untuk berlayar dan akhirnya ia pun menjadi seorang pelaut.
Au mois d‟août, son père l‟emmena au cabotage. (hlm. 52)
Pada bulan Agustus, ayahnya membawanya untuk mengikuti pelayaran jarak pendek. Victor mulai diperkenalkan dengan dunia pelayaran pada pertengahan
musim panas, yaitu bulan Agustus. Untuk pengenalan, ia pertama-tama diajak
untuk berlayar di perahu nelayan yang jarak tempuhnya dekat. Hal tersebut
Keputusan Victor untuk mengikuti ajakan ayahnya berlayar
menunjukkan bahwa ia adalah seorang anak yang penurut. Meskipun ia belum
tentu ingin menjadi seorang pelaut, ia tidak membatah keputusan ayahnya
tersebut. Sifat patuh dan penurut Victor juga terlihat ketika ia pergi
mengunjungi Félicité. Ia menurut untuk meminta barang-barang kebutuhan
keluarganya dari Félicité. Ditekankan pada kutipan di bawah dengan
kata-kata, „le chargeaient‟ menyuruhnya ; „tirer‟ meminta sesuatu ; „même de l‟argent‟ bahkan uang.
Ses parents le chargeaient toujours d‟en tirer quelque chose, soit un paquet de cassonade, du savon, de l‟eau-de-vie, parfois même de l‟argent. (hlm. 52)
Orangtuanya selalu membebaninya untuk meminta dibelikan berbagai hal, baik itu air gula, sabun, bahkan terkadang uang
Jika dari kutipan di atas ia terkesan seperti memanfaatkan Félicité,
sebenarnya ia adalah seorang anak yang murah hati. Tindakannya meminta
barang-barang setiap kali mengunjungi Félicité hanyalah atas paksaan dari
orang tuanya. Namun pada kenyataannya, ia tidak pernah lupa membawakan
oleh-oleh untuk Félicité. Seperti pada kutipan di bawah, ditekankan dengan
kata „chaque voyage‟ setiap kali bepergian ; „offrait un cadeau‟ membawakan
hadiah.
Victor alla successivement à Morlaix, à Dunkerque et à Brighton ; au retour de chaque voyage, il lui offrait un cadeau. (hlm. 52)
Victor terus-menerus berlayar ke berbagai tampat, ke Marloix, ke Dunkerque dan ke Brighton; setiap kali pulang berlayar, ia menawarkan oleh-oleh kepadanya.
Dibesarkan dalam lingkungan keluarga pelaut, Victor kurang dalam
Cara Victor memanggil Paul dengan „tutoyait‟ panggilan aku-kamu, dirasa
terlalu akrab dan kurang sopan menurut Madame Aubain. Pengungkapan
tersebut ditunjukkan dengan kalimat „n‟aimait pas les familiarités du neveu‟
tidak terlalu menyukai keakraban si keponakan. Tindakan Victor ini juga
dapat disebabkan karena tingkat pendidikannya yang rendah, sehingga tidak
tahu bagaimana bersikap yang lebih baik.
Cette faiblesse agaçait Madame Aubain, qui d‟ailleurs n‟aimait pas les familiarités du neveu,- car il tutoyait son fils- et comme Virginie toussait et que la saison n‟était plus bonne, elle revint à Pont-l‟Évêque. (hlm. 43)
Ketergantungan tersebut membuat Madame Aubain jengkel, yang mana ia juga tidak suka dengan keakraban si keponakan – karena ia memanggil aku-kamu dengan anaknya- dan karena Virginie kambuh dan karena musimnya tidak lagi baik, dia kembali lagi ke Pont-l‟Evêque.
Dari uraian mengenai tokoh Victor di atas menunjukkan bahwa Victor
adalah seorang anak muda yang masih polos, patuh kepada orang tua, serta
murah hati. Kepatuhan Victor kepada orang tuanya sangat terlihat pada dua
hal, yaitu ketika ia mau diajak ayahnya untuk menjadi seorang pelaut, serta
ketika ia disuruh orang tuanya untuk meminta barang-barang kebutuhan
rumah tangga setiap kali mengunjungi Félicité. Namun di balik itu, ternyata
Victor adalah seorang anak yang murah hati. Ia suka memberi sesuatu, begitu
pula kepada Félicité yang selalu dibawakan oleh-oleh setiap kali pulang
berlayar.
Di samping itu ada pula sifat buruk Victor, terutama menurut Madame
Aubain. Sebenarnya ini bukanlah sifat buruk, melainkan karena rendahnya
tingkat pendidikan serta lingkungan pelaut yang hidupnya keras sehingga
Victor dengan memanggil Paul dengan „tutoyait‟ aku-kamu, dirasa kurang pas
menurut Madame Aubain.
3.1.7 Théodore
Tokoh ini menjadi penting untuk diceritakan karena dapat dikatakan
bahwa Théodore kehadirannya di kehidupan Félicité membawa dampak yang
signifikan. Ia adalah seorang anak dari pemuka desa yang juga bertanggung
jawab mengurus pertanian di daerahnya. Dapat dikatakan bahwa ia hidup
dalam lingkungan dengan strata sosial yang cukup tinggi.
Strata sosial yang dimiliki ayahnya sedikit banyak berpengaruh
terhadap penampilan Théodore. Hal tersebut tergambar dari kata-kata pada
kutipan di bawah, yaitu „cossue‟ mewah ; „pipe‟ pipa rokok. Penampilan