• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.1 Analisis Tokoh

3.1.1.2 PENUH PERHATIAN TERHADAP ORANG LAIN

Selain setia, Félicité juga memiliki kedekatan yang dalam dengan

kedua anak majikannya, ia pun mencurahkan perhatiannya kepada mereka. Ia

sangat menyayangi mereka dan selalu merasa bahagia ketika bermain dengan

mereka. Hal tersebut terlihat dari kutipan di bawah ini :

Paul et virginie, l‟un âgé de sept ans, l‟autre de quatre à peine, lui semblaient formés d‟une matière précieuse ; elle les portait sur son dos comme un cheval, et Mme Aubain lui défendit de les baiser à chaque minute, ce qui la mortifia. (hlm. 28)

Paul dan Virginie, yang satu berumur 7 tahun, dan yang lain belum berumur 4 tahun, baginya adalah barang berharga; dia menggendonnya di punggung seperti kuda dan Madame Aubain melarang Félicité yang setiap saat menciumi anak-anaknya, hal tersebut menyinggung perasaan Félicité.

Félicité menjaga dan merawat mereka dengan penuh perhatian. Ia mau

melakukan apapun asalkan dapat membuat kedua anak majikannya itu

bahagia. Seperti ditunjukkan dengan kata-kata „une matière précieuse‟ sesuatu

yang sangat berharga ; „portait sur son dos‟ menggendongnya di punggung.

Dès lors, Félicité pensa exclusivement à son neveu. (hlm. 55)

Sejak saat itu, Félicité mimikirkan keponakannya secara khusus.

Kesedihan yang mendalam terutama setelah kematian Victor membuat

Félicité lebih memperhatikan orang lain yang membutuhkan pertolongan dan

perhatian. Ia tulus membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.

La bonté de son coeur se développa. (hlm. 68)

Kebaikan hatinya semakin berkembang.

Kutipan di atas menunjukan bahwa sakit hati, rasa kehilangan, dan

kesedihan yang telah ia alami, membuatnya semakin menerima keadaan. Ia

tidak takut untuk memberikan perhatiannya kepada orang lain, meskipun ia

kemudian hari. Seperti ketika suatu hari datang rombongan tentara Polandia

ke Pont-L‟Évêque. Félicité kemudian membantu merawat tentara yang

terserang wabah kolera.

Elle soigna des cholériques. Elle protégeait les Polonais; (hlm. 68)

Ia merawat orang-orang yang terkena wabah kolera, ia menjaga para tentara Polandia.

Pada masa itu, wabah kolera adalah salah satu penyakit yang

mematikan dan sifatnya menular sehingga memakan banyak korban. Félicité

yang memang suka menolong orang lain, mau mengorbankan waktunya demi

membantu proses penyembuhan tentara-tentara tersebut. Tidak hanya itu,

setelah kepergian tentara-tentara Polandia yang terkena kolera, Félicité

kembali mencurahkan perhatiannya kepada seorang lelaki tua yang sudah

tidak berdaya. Ia adalah le père Colmiche yang tinggal tidak jauh dari rumah

Félicité. Keadaan le père Colmiche semakin memprihatinkan karena ia

terkena tumor di lengannya.

et au bras une tumeur plus grosse que sa tête. Elle lui procura du linge, tâcha de nettoyer son bouge, rêvait à l'établir dans le fournil, sans qu'il gênât Madame. Quand le cancer eut crevé, elle le pansa tous les jours, quelquefois lui apportait de la galette, le plaçait au soleil sur une botte de paille; et le pauvre vieux, en bavant et en tremblant, la remerciait de sa voix éteinte, (hlm. 69)

Dan di lengannya, ada sebuah tumor yang lebih besar dari kepalanya. Ia berusaha memberinya pakaian dalam, berusaha membersihkan gubuknya yang kotor, bermimpi mendirikannya di dapur tanpa mengganggu Madame. Ketika kankernya pecah, ia membalutnya setiap hari, kadang-kadang ia membawakannya kue galette, menaruhnya di atas seikat jerami, di bawah sinar matahari, dan sang kakek tua, meneteskan air liur dan gemetaran, berterima kasih dengan suaranya yang sangat pelan.

Félicité membantunya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah yang

sulit dilakukan oleh le père Colmiche. Félicité pun tidak lupa membawakan

makanan untuknya. Ketulusan yang ditunjukkan Félicité selama merawat le

sepenuh hati, sehingga ia pun takut ditinggalkan Félicité. Ketika pada

akhirnya le père Colmiche meninggal dunia, Félicité lah yang mengurusi

proses pemberkatan dan pemakamannya.

3.1.1.3 RELIGIUS

Sifat religius Félicité sudah ditunjukkan sejak awal penceritaan karya

ini. Setiap harinya, ia berusaha bangun pagi agar dapat pergi ke gereja terlebih

dahulu sebelum memulai aktivitas pekerjaannya. Ditambah lagi, setelah

selesai melakukan tugasnya sebagai pelayan, Félicité selalu tidur dengan

menggenggam rosario.

Elle se levait dès l‟aube, pour ne pas manquer la messe, et travaillait jusqu‟au soir sans interruption ; puis, le dîner étant fini, la vaisselle en ordre et la porte bien close, elle enfouissait la bûche sous les cendres et s‟endormait devant l‟âtre, son rosaire à la main.

Ia bangun sejak fajar menyingsing, agar tidak melewatkan waktu misa, dan ia bekerja hingga malam tanpa berhenti; kemudian saat waktu makan malam selesai, pecah-belah dan pintu sudah tertutup rapat, ia membenamkan log di dalam abu dan tertidur di depan perapian dengan rosario di tangan.

Selain itu, sifat religiusnya juga terlihat ketika ia mengantarkan

Virginie ke gereja untuk mengikuti katekisasi. Di sana, Félicité seperti

berimajinasi melihat hal-hal absurd seperti surga, ia pun juga berimajinasi

melihat kembali orang-orang yang telah meninggal dunia. Pada saat itu,

Félicité sangat mengagumi yang Maha Tinggi dan takut akan kemarahannya.

Sisi religius Félicité semakin terlihat ketika ia menangis mendengarkan la

Passion. Meskipun hidup yang dimilikinya penuh dengan masalah yang harus dihadapi, Félicité tetap beriman kepada Tuhan.

Le prêtre fit d'abord un abrégé de l'Histoire−Sainte. Elle croyait voir le paradis, le déluge, la tour de Babel, des villes tout en flammes, des peuples qui mouraient, des idoles renversées; et elle garda de cet éblouissement le respect du Très−Haut et la crainte de sa colère. Puis, elle pleura en écoutant la Passion.

Sang pendeta terlebih dulu membacakan ikhtisar mengenai Kisah Suci. Félicité percaya ia melihat surga, air bah, menara Babel, desa-desa yang terbakar, orang-orang yang

terhadap Yang Maha Kuasa dan ketakutan akan amarah-Nya. Ia kemudian menangis ketika mendengar Penderitaan Yesus Kristus.

3.1.1.4 LUGU

Kedatangan Félicité ke Pont-L‟Évêque merupakan pengalaman yang

baru baginya. Ia yang dulunya tinggal di desa terpencil, kemudian menjadi

bagian dari sebuah keluarga bourgeois. Bukan hanya karena ia berasal dari

desa terpencil, Félicité memang memiliki kepribadian polos dan lugu.

Keluguan Félicité terlihat pada kesehariannya ketika menemani kedua

anak Madame Aubain. Sebagai gadis yang dibesarkan di keluarga sangat

sederhana, Félicité tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali baik

pendidikan formal ataupun pendidikan di gereja. Hal tersebut terlihat ketika ia

sangat memperhatikan penjelasan Paul mengenai buku geografi bergambar

yang diberikan oleh Monsieur Bourais.

Paul donna l‟explication de ces gravures à Félicité. Ce fut même toute son éducation littéraire. (hlm. 32)

Paul memberikan penjelasan mengenai gambar-gambar kepada Félicité. Hal tersebut menjadi pembelajaran pertama bagi Félicité.

Félicité untuk pertama kalinya diperkenalkan dengan buku dan diberi

penjelasan tentang isi buku tersebut. Hal ini merupakan sesuatu yang baru

bagi Félicité, karena sebelumnya ia sama sekali belum pernah mendapat

pembelajaran tentang ilmu pengetahuan sama sekali. Hal tersebut terlihat dari

kutipan „toute son éducation littéraire‟ satu-satunya pembelajaran yang

pernah didapatnya.

Begitu pula ketika sedang menemani Virginie mengikuti katekisasi,

melihat-lihat ornamen dekorasi gereja yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Tidak hanya itu, ia juga seringkali berimajinasi tentang masa kecilnya.

Quant aux dogmes, elle n‟y comprenait rien, (hlm. 48)

Quand ce fut le tour de Virginie, Félicité se pencha pour la voir ; et, avec l‟imagination que donnent les vraies tendresses, il lui sembla qu‟elle était elle-même cette enfant ; sa figure devenait la sienne, sa robe l‟habillait, son coeur lui battait dans la poitrine ; au moment d‟ouvrir la bouche, en fermant les paupières, elle manqua s‟évanouir. (hlm. 49)

Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan dalam khotbah.

Ketika tiba giliran Virginie, Félicité memajukan badan untuk melihatnya. Dengan segala kasih sayang tulus yang dimiliknya, ia berimajinasi bahwa ia-lah Virginie; parasnya menjadi miliknya, ia mengenakan gaunnya, jantungnya yang berdebar. Ketika ia membuka mulut, dengan kelopak matanya tertutup, ia hampir saja tak sadarkan diri. (hal. 49)

Dari kutipan di atas, terlihat bahwa Félicité memang sangat lemah

dalam pengetahuan agama, terlihat dari kalimat „elle n‟y comprenait rien‟ ia

sama sekali tidak mengerti apapun tentang khotbah sedang disampaikan oleh

pastur. Selain itu, keluguannya juga terlihat ketika ia membayangkan menjadi

Virginie yang sedang berjalan di altar. Hal tersebut ditunjukkan dengan

kutipan „le tour de Virginie‟ giliran Virginie ; „qu‟elle était elle-même cette enfant‟ bahwa anak kecil tersebut adalah dirinya, yang semakin menekankan bahwa ia tidak pernah mengalami kegiatan-kegiatan seperti itu di kampung

halamannya dulu. Baru ketika sudah dewasa ia merasa ingin mengikuti

kegiatan-kegiatan gereja seperti ini.