• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL

A. Analisis Tingkat Risiko Postur Kerja Pada Pekerja Kayu

2. Memotong Kayu

Pada tahapan memotong kayu ini peneliti mengamati dua sampel, pengamatan dua sampel dikarenakan adanya sampel yang diluar tinggi rata - rata (outlier), sehingga pengamatan sampel diambil dari kedua group, sampel outlier dan sampel rata – rata pekerja. Di bawah ini akan jelaskan penilaian pada kedua sampel tersebut, sebagai berikut :

a. Sampel I

Tahapan memotong kayu dilakukan secara manual dengan menggunakan alat gergaji yang dilakukan oleh salah satu pekerja kayu. Gerakan yang dilakukan adalah dengan memotong kayu sesuai dengan bentuk yang akan digunakan untuk membuat bekisting.

90

Gambar 5.2 Tahapan Memotong Kayu Sampel I (Outlier)

Di bawah ini akan dijabarkan penilaian risiko ergonomi tahapan memotong kayu berdasarkan metode REBA, OWAS dan QEC, sebagai berikut :

1) Metode Penilaian Risiko REBA

Pada tahapan memotong posisi punggung pada saat bekerja tidak lurus dan membentuk sudut fleksi lebih dari 20o dan kurang dari 60o yaitu 31o, sehingga mendapatkan skor 3. Posisi leher pekerja pada saat bekerja yaitu ekstensi sebesar 28o sehingga mendapat skor 2. Kaki pekerja pada saat bekerja tertopang dengan baik namun memiliki sudut fleksi >60o

91

sehingga mendapatkan skor 3. Setelah itu skor yang didapatkan di masukkan ke dalam tabel A dan didapatkan skor 6 untuk postur tubuh A. kemudian skor postur tubuh A akan dijumlahkan dengan skor beban yang akan menjadi skor akhir group A. berat beban yang digunakan oleh pekerja masih di bawah 5Kg yaitu 2,4 Kg sehingga mendapatkan skor 0. Setelah dijumlahkan dengan skor A maka skor akhir group A yaitu 6.

Posisi lengan atas pekerja mengalami fleksi 27o dari garis normal tubuh manusia, sehingga mendapatkan skor 2. Lengan bawah pekerja mengalami fleksi membentuk sudut >100o, sehingga lengan mendapatkan skor 2. Pergelangan pekerja mengalami fleksi namun tidak melebihi 15o, sehingga mendapatkan skor 1.

Hasil skor dari group B yaitu mendapatkan skor 2. Hasil tersebut akan dijumlahkan dengan skor pegangan. Pegangan pada objek benda tidak memiliki pegangan yang pas namun bisa diterima, sehingga mendapatkan skor 1. Setelah dijumlahkan maka skor yang didapatkan yaitu 3.

Pada tahapan ini pekerja kayu melakukan aktivitas menahan tubuh statis lebih dari 1 menit dan

92

adanya gerakan repetitif yang diulang lebih dari 18 kali gerakan per menit, sehingga untuk skor aktivitas mendapatkan skor 1. Setelah itu, jika dikombinasikan skor A dan skor B pada tabel C, maka akan didapatkan skor 6. Setelah hasil skor C didapatkan maka akan dijumlah kan dengan skor aktivitas. Maka total skor yang didapatkan yaitu 8. Di bawah ini akan dijabarkan hasil penilaian dalam bentuk tabel, yaitu tabel 5.6 sebagai berikut :

Tabel 5.6 Hasil Nilai Skoring Proses Tahapan Memotong Kayu Pada Pekerja Kayu (Sampel I) Berdasarkan

Metode REBA Tahun 2015

2) Metode Penilaian Risiko OWAS

Pada saat melakukan tahapan pemotongan kayu ini, posisi punggung pada saat bekerja tidak lurus dan membentuk sudut fleksi lebih dari 20o dan

No. Variabel Skor Keterangan

1 Punggung 3 Fleksi 31o

2 Leher 2 Ekstensi 28o

3 Kaki 3 Fleksi >60o

4 Beban 0 Berat < 5Kg

5 Lengan atas 2 Fleksi 27o

6 Lengan bawah 2 Fleksi >100o 7 Pergelangan tangan 1 Fleksi < 15o

8 Pegangan 1 Tidak pas namun bisa

diterima 9 Jenis aktivitas 2 Statis dan repetitif

93

kurang dari 60o yaitu 31o, sehingga mendapatkan skor 2. Posisi tangan pekerja kedua tangannya berada di bawah bahu pekerja sehingga pekerja mendapatkan skor 1. Posisi kaki pekerja tidak tertopang secara baik, yaitu pekerja jongkok dengan kedua kaki yang membentuk sudut <150o sehingga mendapatkan skor 4. Terakhir beban yang ditangani oleh pekerja masih < 10 Kg, sehingga mendapatkan skor 1.

Setelah semua mendapatkan skor, skor – skor tersebut akan dinilai berdasarkan tabel kombinasi posisi postur kerja dan tabel tingkat risiko dan tindakan perbaikan. Berdasarkan skor postur dan dilihat pada tabel kombinasi posisi postur, tahapan ini memiliki nilai 3. Di bawah ini akan dijabarkan hasil penilaian dalam bentuk tabel, yaitu tabel 5.7 sebagai berikut :

Tabel 5.7 Hasil Nilai Skoring Proses Tahapan Memotong Kayu (Sampel I) Pada Pekerja Kayu Berdasarkan

Metode OWAS Tahun 2015

No. Variabel Skor Keterangan

1 Punggung 2 Fleksi 31o

2 Lengan 1 Kedua lengan di

bawah bahu

3 Kaki 4

Berjongkok dengan kedua kaki yang membentuk sudut

<150o

4 Beban 1 Berat < 10 Kg

94

3) Metode Penilaian Risiko QEC

Dari hasil pembagian kuesioner dan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, didapatkan hasil kuesioner yang dijelaskan dalam bentuk tabel 5.8 di bawah ini.

Tabel 5.8 Hasil Kuesioner Tahapan Memotong Kayu (Sampel I) Pada Pekerja Kayu Berdasarkan Metode

QEC Tahun 2015

No. Variabel Kode

jawaban

Keterangan

1 Punggung A3 Terlalu membungkuk

Pergerakan B2 Statis

2 Lengan C2 Berada di dada

Pergerakan D2 Sering

3

Pergelangan E2 Pergelangan tertekuk Repetitif F2 11 kali sampai 20 kali

permenit

4 Leher G3 Ya, terus menerus

5 Beban H2 Cukup (6 Kg – 10 Kg) 6 Kecepatan bekerja I2 (2 – 4 jam) 7 Tingkat kekuatan J2 Sedang 8 Penglihatan K2 Tinggi 9 Mengemudi L1 < 1 jam 10 Getaran M1 < 1 jam

11 Kesulitan N2 Ada, terkadang

12 Stress O2 Cukup stress

Berdasarkan data tabel diatas, dapat di ketahui bahwa data tersebut akan dianalisis dan diberikan skoring. Hasil analisis dan skoring data tersebut yaitu punggung mendapatkan skor sebesar 28, lengan

95

mendapat skor sebesar 30, pergelangan tangan mendapatkan skor sebesar 30, leher mendapat skor sebesar 14, mengemudi mendapatkan skor 1, getaran mendapatkan skor 1, kecepatan bekerja 4, dan stress mendapatkan skor 4. Lalu semua skor ditambahkan dan dibagi dengan skor maksimal yang dapat didapatkan serta dikali dengan 100% untuk mendapatkan total exposure level, sehingga total exposure level yang didapatkan yaitu 69%. Di bawah ini akan dijabarkan hasil penilaian dalam bentuk tabel, yaitu tabel 5.9 sebagai berikut :

Tabel 5.9 Hasil Nilai Skoring Proses Tahapan Memotong Kayu Pada Pekerja Kayu (Sampel I) Berdasarkan

Metode QEC Tahun 2015

No. Variabel Skor Keterangan

1 Punggung 28 Terlalu membungkuk

2 Lengan 30 Berada di dada

3 Pergelangan tangan 30 Tertekuk

4 Leher 14 Tertekuk (terus menerus)

5 Mengemudi 1 < 1 jam

6 Getaran 1 < 1 jam

7 Kecepatan bekerja 4 (2 – 4 jam)

8 Stress 4 Cukup stress

Skor akhir QEC 68%

Perlu Penelitian lebih lanjut dan tindakan

96

Pada aktivitas ini dilakukan penilaian analisis tingkat risiko ergonomi dengan menggunakan metode REBA, OWAS dan QEC. Di bawah ini akan dijelaskan mengenai hasil penilaian dari ketiga metode tersebut pada sampel I dalam bentuk tabel 5.10, sebagai berikut :

Tabel 5.10 Analisis Tingkat Risiko Ergonomi Pada Aktivitas Memotong Kayu (Sampel I) Berdasarkan Tiga Metode Tahun 2015

Metode Skor Tingkat risiko Tindakan Perbaikan

REBA 8 Tinggi Perlu segera

OWAS 3 Distincly

Harmful

Tindakan korektif diperlukan segera

QEC 68% - perlu penelitian lebih lanjut dan tindakan perbaikan Berdasarkan tabel diatas, ketiga hasil perhitungan tersebut jika dilihat hasilnya menunjukkan tingkat risiko yang sama, yaitu aktivitas memotong kayu mempunyai level risiko ergonomi yang tinggi dengan perlu segera dilakukan tindakan perbaikan.

b. Sampel II

Tahapan memotong kayu dilakukan secara manual dengan menggunakan alat gergaji yang dilakukan oleh salah satu pekerja kayu. Gerakan yang dilakukan adalah dengan memotong kayu sesuai dengan bentuk yang akan digunakan untuk membuat bekisting.

97

Gambar 5.3 Tahapan Memotong Kayu Sampel II

Di bawah ini akan dijabarkan penilaian risiko ergonomi tahapan memotong kayu berdasarkan metode REBA, OWAS dan QEC, sebagai berikut :

1) Metode Penilaian Risiko REBA

Pada tahapan memotong posisi punggung pada saat bekerja tidak lurus dan membentuk sudut fleksi sebesar 32o, sehingga mendapatkan skor 3. Posisi leher pekerja pada saat bekerja yaitu fleksi sebesar 25o sehingga mendapat skor 2. Kaki pekerja pada saat bekerja tertopang dengan baik namun memiliki sudut fleksi >60o sehingga mendapatkan skor 3. Setelah itu

98

skor yang didapatkan di masukkan ke dalam tabel A dan didapatkan skor 6 untuk postur tubuh A. kemudian skor postur tubuh A akan dijumlahkan dengan skor beban yang akan menjadi skor akhir group A. berat beban yang digunakan oleh pekerja masih di bawah 5Kg yaitu 2,4 Kg sehingga mendapatkan skor 0. Setelah dijumlahkan dengan skor A maka skor akhir group A yaitu 6.

Posisi lengan atas pekerja mengalami fleksi 32o dari garis normal tubuh manusia, sehingga mendapatkan skor 2. Lengan bawah pekerja mengalami fleksi membentuk sudut 40o, sehingga lengan mendapatkan skor 2. Pergelangan pekerja mengalami fleksi namun tidak melebihi 61o, sehingga mendapatkan skor 2.

Hasil skor dari group B yaitu mendapatkan skor 3. Hasil tersebut akan dijumlahkan dengan skor pegangan. Pegangan pada objek benda tidak memiliki pegangan yang pas namun bisa diterima, sehingga mendapatkan skor 1. Setelah dijumlahkan maka skor yang didapatkan yaitu 4.

Pada tahapan ini pekerja kayu melakukan aktivitas menahan tubuh statis lebih dari 1 menit dan adanya gerakan repetitif yang diulang lebih dari 4 kali

99

per menit, sehingga untuk skor aktivitas mendapatkan skor 1. Setelah itu, jika dikombinasikan skor A dan skor B pada tabel C, maka akan didapatkan skor 7. Setelah hasil skor C didapatkan maka akan dijumlah kan dengan skor aktivitas. Maka total skor yang didapatkan yaitu 9. Di bawah ini akan dijabarkan hasil penilaian dalam bentuk tabel, yaitu tabel 5.11 sebagai berikut :

Tabel 5.11 Hasil Nilai Skoring Tahapan Memotong Kayu Pada Pekerja Kayu (Sampel II) Berdasarkan

Metode REBA Tahun 2015

2) Metode Penilaian Risiko OWAS

Pada saat melakukan tahapan pemotongan kayu ini, posisi punggung pada saat bekerja tidak lurus dan membentuk sudut fleksi lebih dari 20o dan

No. Variabel Skor Keterangan

1 Punggung 3 Fleksi 32o

2 Leher 2 Fleksi 25o

3 Kaki 3 Fleksi >60o

4 Beban 0 < 5 Kg

5 Lengan atas 2 Fleksi 32o

6 Lengan bawah 2 Fleksi 40o

7 Pergelangan tangan 2 Fleksi >15o

8 Pegangan 1 Tidak pas namun bisa

diterima 9 Jenis aktivitas 2 Statis dan repetitif

100

kurang dari 60o yaitu 32o, sehingga mendapatkan skor 2. Posisi tangan pekerja kedua tangannya berada di bawah bahu pekerja sehingga pekerja mendapatkan skor 1. Posisi kaki pekerja tidak tertopang secara baik, yaitu pekerja jongkok dengan kedua kaki yang membentuk sudut <150o sehingga mendapatkan skor 4. Terakhir beban yang ditangani oleh pekerja masih < 10 Kg, sehingga mendapatkan skor 1.

Setelah semua mendapatkan skor, skor – skor tersebut akan dinilai berdasarkan tabel kombinasi posisi postur kerja dan tabel tingkat risiko dan tindakan perbaikan. Berdasarkan skor postur dan dilihat pada tabel kombinasi posisi postur, tahapan ini memiliki nilai 3. Di bawah ini akan dijabarkan hasil penilaian dalam bentuk tabel, yaitu tabel 5.12 sebagai berikut :

Tabel 5.12 Hasil Nilai Skoring Proses Tahapan Memotong Kayu Pada Pekerja Kayu (Sampel II) Berdasarkan Metode

OWAS Tahun 2015

No. Variabel Skor Keterangan

1 Punggung 2 Fleksi 32o

2 Lengan 1 Kedua lengan di bawah

bahu

3 Kaki 4

Berjongkok dengan kedua kaki yang membentuk

sudut <150o

4 Beban 1 Berat < 10 Kg

101

3) Metode Penilaian Risiko QEC

Dari hasil pembagian kuesioner dan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, didapatkan hasil kuesioner yang dijelaskan dalam bentuk tabel 5.13 di bawah ini.

Tabel 5.13 Hasil Kuesioner Tahapan Memotong Kayu Pada Pekerja Kayu (Sampel II) Berdasarkan Metode

QEC Tahun 2015 No. Variabel Kode

jawaban

Keterangan

1 Punggung A2 Agak membungkuk

Pergerakan B2 Statis

2 Lengan C2 Berada di dada

Pergerakan D1 Jarang

3 Pergelangan E2 Pergelangan tertekuk Repetitif F3 > 20 kali permenit

4 Leher G3 Ya, terus menerus

5 Beban H2 Cukup (6 Kg – 10 Kg) 6 Kecepatan bekerja I2 (2 – 4 jam) 7 Tingkat kekuatan J2 Sedang 8 Penglihatan K2 Tinggi 9 Mengemudi L1 < 1 jam 10 Getaran M1 < 1 jam

11 Kesulitan N2 Ada, terkadang

12 Stress O2 Cukup stress

Berdasarkan data tabel diatas, dapat di ketahui bahwa data tersebut akan dianalisis dan diberikan skoring. Hasil analisis dan skoring data tersebut yaitu punggung mendapatkan skor sebesar 24, lengan mendapat skor sebesar 30, pergelangan tangan mendapatkan skor sebesar 34, leher mendapat skor sebesar 14, mengemudi mendapatkan skor 1, getaran

102

mendapatkan skor 4, kecepatan bekerja 4, dan stress mendapatkan skor 4. Lalu semua skor ditambahkan dan dibagi dengan skor maksimal yang dapat didapatkan serta dikali dengan 100% untuk mendapatkan total exposure level, sehingga total exposure level yang didapatkan yaitu 68 %. Di bawah ini akan dijabarkan hasil penilaian dalam bentuk tabel, yaitu tabel 5.14 sebagai berikut :

Tabel 5.14 Hasil Nilai Skoring Proses Tahapan Memotong Kayu Pada Pekerja Kayu (Sampel II) Berdasarkan Metode

QEC Tahun 2015

No. Variabel Skor keterangan

1 Punggung 24 Agak membungkuk

2 Lengan 30 Berada di dada

3 Pergelangan tangan

34 Tertekuk

4 Leher 14 Tertekuk (terus menerus)

5 Mengemudi 1 < 1 jam

6 Getaran 4 < 1 jam

7 Kecepatan bekerja 4 (2 – 4 jam)

8 Stress 4 Cukup stress

Skor akhir QEC 68%

Perlu Penelitian lebih lanjut dan tindakan

perbaikan

Pada aktivitas ini dilakukan penilaian analisis tingkat risiko ergonomi dengan menggunakan metode REBA, OWAS dan QEC. Di bawah ini akan dijelaskan kembali mengenai hasil penilaian dari ketiga metode pada sampel II dalam bentuk tabel 5.15, sebagai berikut :

103

Tabel 5.15 Analisis Tingkat Risiko Ergonomi Pada Aktivitas Memotong Kayu (Sampel II) Berdasarkan Tiga

Metode Tahun 2015

Metode Skor Tingkat risiko Tindakan Perbaikan

REBA 9 Tinggi Perlu segera

OWAS 3 Distincly

Harmful

Tindakan korektif diperlukan segera

QEC 68 % -

Perlu penelitian lebih lanjut dan tindakan

perbaikan

Berdasarkan tabel diatas, ketiga hasil perhitungan tersebut jika dilihat hasilnya menunjukkan tingkat risiko yang sama, yaitu aktivitas memotong kayu (sampel II) mempunyai level risiko ergonomi yang tinggi dengan perlu segera dilakukan tindakan perbaikan.