• Tidak ada hasil yang ditemukan

DELAPAN BIOGRAFI PEREMPUAN PENGUSAHA KULINER DI BALI

5.2 Analisis biografi

5.2.3 Mempertahankan eksistensi warung

Perempuan pengusaha kuliner juga menunjukkan bahwa eksistensi warung dalam perkembangan kuliner Bali sangat diperlukan terutama perubahan fungsi yang mempengaruhi keberadaanya di jaman modern sekarang ini. Spang dalam (Guy,2005) telah melakukan sebuah penelitian mengenai perubahan fungsi restoran dimasa lalu sampai sekarang untuk lebih memahami keberadaan restoran di Paris sebagai kategori fine dining yang didefinisikan sebagai restoran dengan pelayanan berkualitas dan sangat formal.

Dari wawancara dengan para food blogger dan jurnalis yang telah mengunjungi berbagai warung, restorandan rumah makan di Bali warung adalah sebagai berikut dalam tabel 5.1.

Tabel 5.1 Definisi Warung

No Nama Definisi Warung

1 Bayu Yunantias Asmus Warung adalah tempat makan yang sifatnya informal dan casual, warung itu adalah melting poin tempat berkumpul terdapat fungsi sosial dan fungsi makanan (Wawancara 4 Januari 2016).

2 Dinda Paramaningtias Sudibya

Warung itu memberi pengaruh yang sangat unik, di warung itu pengunjung merasa akrab, tempat berkumpul sangat berbeda dengan restoran (Wawancara 3 Januari 2016).

3 Vina Angelina Hadiwidjaja Putri

Warung, lebih terdengar seperti sederhana, murah, merakyat. Terkadang terkesan kurang nyaman, namun sekarang sudah banyak tempat makan bertitle warung yang membuat tempat makannya terlihat nyaman dan menarik untuk dikunjungi (Wawancara 29 Desember 2016).

4 I Gede Eka Sutrisno Warung, kata yang lebih tradisional dari restoran, scopenya lebih kecil dari restoran dan menjual makanan yang tidak fancy (tradisional), dengan skill pengelolaan yang simple (Wawancara 2 Januari 2016). 5 Tria Nuragustina Warung memiliki pengertian rumah makan sederhana,

bisa berupa kedai, tenda kaki lima, yang

mengisyaratkan sajian lokal dalam suasana merakyat (Wawancara 27 Januari 2016).

Sumber: hasil wawancara 2015-2016

Definisi-definisi diatas mengungkapkan warung adalah rumah makan sederhana yang memiliki cirikhas lokal, tradisional, sederhana dan tempat berkumpul untuk bersosialisasi. Penggunaan kata warung memang sangat mempengaruhi persepsi terhadap kondisi dan situasi warung-warung yang dipahami melalui pengertian diatas sedangkan kenyataannya warung-warung tersebut telah mengalami perubahan melalui inovasi dari para pemiliknya.

Warung Murni bahkan tetap menampilkan lukisan warung yang dibukanya sejak tahun 1974 agar semua pengunjung mengetahui bahwa awal Murni‟s warung hanyalah sebuah warung sederhana. Menurut Bu Made Masih dan Bu Nila Sari, tetap menamai usahanya warung karena merasa selalu terhubung dengan masa lalu dan merupakan bagian dari tradisi masyarakat Bali secara khusus beristirahat, berinteraksi dan menikmati makanan dan minuman diwarung. Made Masih menyatakan

Jika dulu orang di Jakarta bertanya tentang bisnis apa yang saya punya, saya memberitahukan mereka bahwa saya punya sebuah warung. Mereka bilang “Maksud Anda sebuah Restoran”, “Tidak” Saya bilang “Saya punya sebuah warung.” Pada saat itu, warung bukanlah Restoran, kata warung belum memiliki brand. Sekarang kata warung ada dimana-mana Telkomsel punya “wartel” – warung telekomunikasi Warung Made membantu untuk memberikan brand nama warung tersebut. Warung Made Kuta sekarang terkenal dengan turis asing dan turis lokal. Kami tidak pernah mencoba untuk memberikan brand pada bisnis kami. Itu terjadi begitu saja. (Made Masih,2 Oktober 2015).

Ungkapan Made Masih diatas memang menekankan bahwa warung memiliki nilai dimasa lampau, walaupun usahanya telah berkembang layaknya restoran ia ingin tetap menyuguhkan suasana warung yang sesungguhnya. Hal ini digambarkan dalam Teori Eric Hobsbawn invented tradition sebagai sebuah proses yang terkait dengan masa lalu yang secara berkelanjutan mengalami perubahan dalam bentuk inovasi-inovasi yang memotivasi terjadinya perkembangan warung serta kegiatan yang menjadi aktivitas utamanya. Invented dapat digambarkan sebagai bentuk kepercayaan yang tertanam dari masa lalu akan tetapi masih dapat dirasakan sampai sekarang sebagai sesuatu yang nyata.

Berdasarkan hasil pengamatan pada lukisan yang diberi judul “The Original Murni‟s Warung Circa Mid 1970‟s showing the old bridge in the foreground” ini

lebih dalam dapat membangkitkan imajinasi bahwa sebelumnya Warung Murni yang berada tepat disebelah Jembatan Campuhan Ubud hanyalah sebuah warung yang sederhana dan menampilkan aktivitas di Warung Murni. Pada tahun 1992 warung direnovasi besar besaran tapi tetap mempertahankan cirinya sebagai warung makan dengan nuansa tradisional bukan dengan nuansa modern.

Warung Made di Seminyak juga demikian melakukan hal yang sama, warung yang semula sangat sederhana juga mengalami inovasi namun tetap membangkitkan pengalaman dimasa lampau dengan foto-foto yang dipajang oleh Bu Made. Penataan meja makan dan kursi panjang yang identik dengan warung semakin mengentalkan suasana warung yang selalu ramai pengunjung. Begitu pula di warung Mak Beng juga terdapat lukisan yang mengilustrasikan situasi warung pada masa lalu. Warung Bodag Meliah mempertahankan kesan informal dengan menciptakan situasi yang nyaman dan sederhana bagi wisatawan yang berkunjung.

Perubahan merupakan hal yang dinamis, begitu juga warung-warung yang menjadi objek penelitian ada yang masih mempertahankan tampilan warungnya sejak pertama dibuka pertama kali dan kebanyakan sudah mengalami perubahan karena perkembangan jaman. Para perempuan pengusaha kuliner menegaskan nama warung sesungguhnya sudah melekat bagi orang Bali, perkembangan jaman telah mengubahnya seperti sekarang warung-warung telah berinovasi menyesuaikan kebutuhan konsumernya. Beberapa dari mereka juga mengungkapkan bahwa mengurus ijin dan pajak warung tidak sesulit mengurus restoran. Berbicara mengenai warung ternyata ada fenomena yang dicermati

dilapangan khususnya dari para wisatawan nusantara, kebanyakan dari mereka memilih bersantap di warung karena restoran terkesan mahal dan formal sedangkan wisatawan mancanegara kurang memahami definisi warung.

Bagi masyarakat Bali khususnya warung merupakan tempat bersosialisasi. Tampak jelas keberadaan warung memang sangat identik dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bali pada khususnya. Bila bersantap ke restoran menunjukkan status sosial seseorang sedangkan ke warung adalah tempat bersosialisasi karena kesan informal sehingga orang-orang yang berkunjung lebih santai dan berpenampilan casual.