• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENABUNG DI BANK SEBUAH KEBODOHAN

Dalam dokumen Kebun Emas (Halaman 32-36)

Sudah saya singgung sebelumnya, Emas itu zero inflation. Inflasinya nol. Artinya, sebetulnya kalau Emas itu naik, kita tidak pernah untung. Kalau Emas itu turun, kita juga tidak pernah rugi. Dia nol inflasinya.

Berikut ini contoh sederhana sekali, yaitu antara Emas dan deposito. Deposito memang memberikan bunga yang seringkali kita menganggap bunga itu sebagai sebuah keuntungan atau pendapatan. Padahal, untuk menutupi penurunan nilai pokok dari deposito itu sendiri itu bunga yang Anda dapat dari bank itu sebenarnya tidak mampu. Tidak akan cukup.

Tanpa disadari, sebetulnya daya beli kita itu berkurang. Contohnya, mari kita buktikan. Sebut saja pada tahun 2007, saya mempunyai uang Rp 1 miliar. Ada dua pilihan pemanfaatan uang tersebut, yaitu untuk membeli Emas atau mendepositokan uang di bank.

www.KebunEMAS.com Page 32 Untuk pilihan pertama, membeli Emas. Harga Emas yang saya ingat waktu itu sekitar Rp 200.000 per gram. Dengan uang Rp 1 miliar, maka pada tahun 2007 saya bisa membeli lima kilogram Emas. Mari kita beranjak ke pilihan kedua, mendepositokan uang di bank. Seandainya pada tahun 2007 saya depositokan uang tersebut di bank. Anggap saja bunga deposito itu 10% per tahun. Angka ini sebenarnya lebih besar dari pengenaan bunga kala itu.

Saat itu, berdasar data Bank Indonesia (BI), bunga deposito di atas 10% itu untuk simpanan berjangka dua tahun. Untuk deposito satu tahun, perbankan saat itu memberi bunga sebesar 8,41%. Permisalan ini sekadar untuk memudahkan perhitungan saja. Uang itu saya depositokan dan tidak saya ambil bunganya. Artinya, mekanisme bunga berbunga untuk deposito saya. Maka lima tahun kemudian, uang saya itu akan menjadi Rp 1,64 miliar. Tapi, duit yang berbiak ini belum memperhitungkan potongan pajak. Sekarang kita bandingkan kedua pilihan tadi. Lima tahun kemudian, pada tahun 2012, harga Emas sekitar Rp 550.000 per gram. Dengan harga Emas tersebut, uang Rp 1,64 miliar itu hanya bisa membeli tiga kilogram Emas. Sementara, Emas lima kilogram yang saya miliki lima tahun lalu, pada tahun 2012 bernilai Rp 2,75 miliar!

Secara faktual terlihat, uang Rp 1 miliar itu saya depositokan di tahun 2012 tidak mampu untuk membeli Emas sebanyak 5 kilogram! Jadi, kalau melihat angka tersebut, saya sudah kehilangan daya beli sekitar Rp 1 miliar dalam lima tahun. Untuk membeli lima kilogram Emas tahun 2012 saya butuh tambahan dana sekitar Rp 1 miliar. Jadi, menurut saya, sebuah kebodohan kalau kita masih menyimpan duit berlama-lama di bank!

Ilustrasi tadi salah satu contoh. Seperti saya katakan sebelumnya, sebetulnya, kalau harga Emas itu naik, kita itu tidak pernah untung. Kalau pun ada “keuntungan” dari sisi Rupiah, sejatinya, keuntungan itu bersifat semu. Tapi, ada satu hal yang nyata, daya beli kita

tetap sama.

Kemudian, saran lain, kalau Anda membeli Emas, belilah yang kecil-kecil. Misalnya, Anda ingin membeli Emas satu kilogram. Jangan membeli Emas satu batang seberat satu kilogram. Lebih baik, kita beli pecah Emas satu kilogram itu dengan batangan Emas yang kecil-kecil.

Paling enak menurut saya di angka 10 gram minimal atau Emas 25 gram. Maksimal beli Emas 100 gram. Ingat, jangan beli Emas satu batang yang seberat 1 kilogram. Kenapa?

www.KebunEMAS.com Page 33 Oke, sebelum saya jelaskan lebih lanjut, pasti ada pertanyaan begini: “Pak, kan, kalau beli Emas dengan gram-graman yang lebih kecil itu lebih mahal.” Saya jawab, Betul. Tapi, kita harus memikirkan lebih jauh sisi fleksibilitas dari kepemilikan Emas tersebut.

Dari Video Tutorial KebunEMAS

Begini konkretnya, kita lihat dari permisalan kejadian yang mungkin terjadi sehari-hari. Dengan alasan harga per gram yang lebih murah, Anda membeli Emas satu kilogram dalam satu batang Emas lantakan. Tiga tahun kemudian, Anda membutuhkan uang, misalnya Rp 100 juta. Padahal, saat itu, uang Rp 100 juta itu setara dengan Emas seberat 25 gram saja. Saya yakin Anda akan merasa sayang untuk memotong Emas yang 1 kilogram itu? Pasti Anda tak akan tega.

Lain halnya bila Anda membeli Emas 1 kilogram dalam satuan Emas lantakan seberat 25 gram atau 50 gram. Saat Anda memiliki pengeluaran senilai Emas 25 gram, maka Anda cukup mengeluarkan satu keping Emas saja. Di sini, Anda bisa merasakan manfaat Emas adalah uang tapi uang bukanlah Emas.

www.KebunEMAS.com Page 34 Dari sinilah sebenarnya penjelasan dari fatwa para pakar Emas sejak jaman dulu bahwa tingkat inflasi Emas itu nol bisa tergambar dengan gamblang. Maksudnya, ketika harga Emas naik, Anda sebetulnya tidak mendapat untung apapun. Begitu pula ketika harga Emas itu turun, Anda juga tidak perlu merasa rugi sepeser pun, sebetulnya.

Inilah yang membuat saya agak kurang sependapat dengan seminar-seminar investasi Emas yang bertujuan untuk mencari keuntungan. Sebab, sebenarnya Anda tidak pernah untung! Tapi, Anda bisa mendapat manfaat yang serupa, bahkan lebih, atas Emas sudah Anda miliki. Jadi, menurut saya, bahasa dalam berbicara investasi Emas itu adalah kemanfaatan investasi Emas, bukan keuntungan investasi Emas.

Penjelasan di atas kadangkala masih belum membuat orang mengerti. Saya masih sering mendengar pernyataan, “Pak, kan, harga Emas itu bisa naik dan turun dengan sangat tajam setiap hari. Tapi, secara jangka panjang, kurva harga Emas itu selalu naik. Artinya, dengan kenaikan tersebut, kita mendapat keuntungan dong.”

Lagi-lagi, saya menjawab, “Betul, harga Emas memang fluktuatif dan kurvanya secara jangka panjang naik.” Tapi, biasanya setelah kalimat itu selesai, saya skak mat mereka dengan jawaban ini, “Kenaikan harga yang terjadi memang bisa Anda sebut keuntungan. Tapi, itu karena Anda melihat harga Emas itu dari sudut pandang uang! Bila Anda melihat harga Emas itu dari sudut pandang Emas, kalau mau jujur, grafik harga Emas yang kita lihat itu bukan kenaikan tapi justru penurunan nilai uang.”

Mari kita sedikit kembali ke bahasan di Bab II. Kebetulan saya ada cerita lain seputar koin dinar Emas. Saya punya sahabat di Bandung. Dia seorang dosen statistik dan matematika. Dia pernah melakukan sebuah riset dan menceritakan hasilnya ke saya. “Rul, saya membuat hitungan matematika tentag dinar Emas. Harga satu koin dinar Emas, ya, satu koin dinar Emas, pada 50 tahun yang akan datang itu akan menjadi Rp 3 miliar –Rp 4 miliar.”

Perhitungan teman saya ini muncul bila melihat tren pergerakan harga Emas seperti sekarang ini. Yang membuat dia merasa agak bingung adalah, “Mungkin enggak, ya, Rul, harga seekor kambing itu nanti akan setara dengan harga sebuah mobil Ferrari saat ini?” Kalau Anda menjawab “mungkin”, berarti kita mulai sepaham. Menurut saya, mungkin-mungkin saja 50 tahun kemudian harga seekor kambing sama dengan harga mobil Ferrari saat ini. Dahulu, ketika harga satu dinar koin Emas itu sebesar Rp 7.000 dan sekarang di atas Rp 2 juta, kan, tidak ada yang menyangka. Artinya, mungkin-mungkin saja hal itu terjadi.

www.KebunEMAS.com Page 35

Dalam dokumen Kebun Emas (Halaman 32-36)

Dokumen terkait