BAB 4 ANALISIS PROSES AUDIT BEBAN AKRUAL PT SDN
4.2. Audit Lapangan
4.2.4. Mencari Liabilitas yang Tidak Tercatat
Setelah melakukan proses audit untuk mengetahui tingkat keakuratan pencatatan perusahaan, KAP melakukan proses audit untuk mengetahui liabilitas yang tidak tercatat. Ada dua jenis pendekaran pencarian liabilitas yang tidak tercatat, yaitu dari daftar liabilitas yang sudah dibayar dan dari daftar liabilitas yang belum dibayar. Secara keseuluruhan, proses audit ini, atau yang biasa dinamakan Search for Unrecorded Liabilities (SURL), bertujuan untuk menguji asersi perusahaan atas completeness, accuracy, cutoff, right and obligation, dan valuation. memperoleh bukti pembayaran perusahaan, (2) menganalisis apakah beban akrual yang terkait dengan pembayaran tersebut sudah dicatat pada periode yang benar, (3) memperoleh listing invoice yang belum terbayar di akhir periode, dan (4) memverifikasi apakah invoice yang belum terbayar sudah dicatat pada periode yang sesuai. Keempat prosedur tersebut akan dijelaskan di bawah.
Dalam melakukan pemeriksaan terhadap utang yang sudah dibayar, KAP akan meminta bank statement perusahaan dari tanggal 1 Januari 2014 sampai
tangal 5 Maret 2014 (tanggal penerbitan laporan audit). Perusahaan memiliki empat rekening, yaitu Bank PMT IDR, Bank PMT USD, Bank PMT AUD, dan Bank MRD IDR. Total kas keluar selama periode tersebut pada semua bank adalah Rp 56.559.568.552.
Setelah mendapat bank statement tersebut, KAP akan memilih sampel.
Dalam proses ini, terlebih dulu KAP melakukan pemilihan sampel melalui metode targeted testing. Berdasarkan metode ini, KAP akan mengambil kas keluar yang berjumlah di atas SUM. Dari kriteria tersebut, KAP memperoleh empat belas transaksi yang berjumlah Rp 31.824.205.950.
Dari pengambilan sampel berdasarkan metode targeted testing, diketahui bahwa KAP tidak melakukan pengujian pada beberapa kas keluar yang berjumlah Rp 24.735.362.602. Jumlah ini masih ada di atas PM perusahaan. Oleh karena itu, KAP akan melangambil sampel melalui metode non statistical test.
Melalui metode non statistical test, KAP memperoleh lima buah sampel yang apabila ditranslasikan ke dalam rupiah akan berjumlah Rp 3.143.396.218.
Setelah mengambil sampel audit, KAP akan mulai melakukan pemeriksaan terhadap kas keluar tersebut. Ada beberapa hal yang diperiksa oleh KAP, yaitu (1) transaksi yang berkaitan (diketahui dari PO yang tertulis pada setiap kas keluar pada bank statement), (2) mengidentifikasi perbedaan antara listing perusahaan dengan kas keluar, dan (3) melakukan pengecekkan apakah kas keluar tersebut dicatat pada akun dan periode yang benar.
Setelah melakukan pengecekkan tersebut, KAP mengidentifikasi beberapa kesalahan penyajian sebagai berikut.
a. Berdasarkan bank statement Bank PMT USD, KAP mengetahui bahwa perusahaan tidak melakukan pembukuan atas transaksinya dengan PT PSI MRD. Transaksi ini berjumlah Rp 4.929.831.298 (di atas SUM). Oleh karena itu, KAP mengajukan jurnal koreksi kepada perusahaan atas transaksi ini. Berikut ada jurnal koreksi yang diajukan.
Dr. Development assets–drilling expense 4.929.831.298
Cr. Beban Akrual USD 404.450 Cr. Beban Akrual USD exchange 4.929.426.848
b. Berdasarkan bank statement Bank PMT USD, KAP juga menemukan ada kesalahan penyajian pada transaksi perusahaan yang berjumlah Rp 1.990.488.078 dengan PT GSI. Pada transaksi ini, invoice sudah diterima pada tanggal 25 November 2013 dan seharusnya perusahaan membukukan transaksi ini pada utang, dan bukan pada beban akrual. Karena kesalahan penyajian berjumlah di atas SUM, KAP mengajukan jurnal koreksi sebagai berikut.
Dr. Beban akrual USD 163.302 Dr. Beban akrual USD exchange 1.990.324.776
Cr. Utang USD 163.302 Cr. Utang USD exchange 1.990.324.776
c. Berdasarkan bank statement Bank PMT AUD, KAP menemukan ada kesalahan penyajian pada transaksi perusahaan dengan PT USI yang apabila ditranslasikan ke dalam rupiah akan berjumlah Rp 452.209.942.
Invoice atas transaksi ini sudah diterima perusahaan pada tanggal 20 November 2013 sehingga perusahaan seharusnya membukukan transaksi ini ke dalam akun utang. Jumlah transaksi tersebut ada di bawah SUM sehingga bisa dikatakan tidak material, namun perusahaan mengajukan pembetulan atas transaksi ini. Berikut adalah jurnal yang dimasukkan oleh perusahaan.
Dr. Beban akrual AUD 41.580 Dr. Beban akrual AUD exchange 452.168.362
Cr. Utang AUD 41.580 Cr. Utang AUD exchange 452.168.362
d. Berdasarkan bank statement Bank PMT IDR, KAP menemukan ada kesalahan penyajian pada transaksi perusahaan dengan PT GSS yang berjumlah Rp 534.777.184. Invoice atas transaksi ini sudah diterima
perusahaan pada tanggal 23 Oktober 2013 dan seharusnya dibukukan pada utang. Oleh karena itu, KAP mengajukan koreksi sebagai berikut.
Dr. Beban akrual IDR 534.777.184
Cr. Utang IDR 534.777.184
e. Berdasarkan bank statement Bank PMT AUD, KAP menemukan perusahaan tidak mencatat transaksi perusahaan dengan PT WMA yang apabila dirupiahkan akan berjumlah Rp 1.108.177.392. Perusahaan sudah menerima invoice atas transaksi ini pada tanggal 9 Oktober 2013. Karena bernilai di atas SUM, KAP mengajukan koreksi sebagai berikut
Dr. Construction in Progress 1.108.177.392
Cr. Utang AUD 101.892 Cr. Utang AUD exchange 1.108.075.500
Selanjutnya, untuk mengetahui utang apa saja yang belum dibayar perusahaan, KAP meminta listing invoice yang diterima oleh perusahaan pada antara tanggal 1 Januari 2014 sampai 25 Maret 2014. Untuk memastikan bahwa listing tersebut benar, KAP juga meminta log book dari resepsionis perusahaan.
Log book tersebut berisi dokumentasi invoice yang sudah diterima perusahaan.
Setelah melakukan pengecekkan, KAP mengetahui bahwa jumlah utang yang belum dibayar perusahaan menurut kedua dokumen ini berjumlah Rp 65.181.494.856.
Setelah mengetahui utang apa saja yang belum dibayar perusahaan dan jumlahnya, KAP akan mengambil sampel dari populasi tersebut. Metode pengambilan sampel sama dengan proses sebelumnya, yaitu dengan metode targeted testing dan non statistical testing. Melalui metode targeted testing, KAP memutuskan untuk mengambil sampel sebanyak tiga belas buah dan melalui metode non statistical testing, KAP memutuskan untuk mengambil enam buah sampel.
Setelah memperoleh sampel, KAP mulai melakukan proses vouching dengan memperhatikan dua hal yaitu ketepatan angka yang dicatat dan ketepatan
pengakuan invoice tersebut (dalam beban akrual atau utang). Temuan dari proses ini adalah sebagai berikut.
a. Terdapat kesalahan penyajian pada transaksi perusahaan dengan PT SSI.
Jumlah kesalahan tersebut adalah US$ 803.216 atau Rp 9.790.402.750.
KAP menemukan bahwa perusahaan membukukan transaksi ini pada akun utang, padahal seharusnya transaksi dibukukan pada akun beban akrual karena invoice baru diterima perusahaan pada tanggal 15 Januari 2014.
Karena jumlah transaksi di atas SUM, KAP mengajukan koreksi sebagai berikut.
Dr. Utang USD 803.216 Dr. Utang USD exchange 9.789.599.534
Cr. Beban akrual USD 803.216 Cr. Beban akrual USD exchange 9.789.599.534
b. Perusahaan tidak mencatat transaksinya dengan PT GSI yang berjumlah US$ 118.906 atau Rp 1.449.348.404. Karena berjumlah di atas SUM, KAP mengajukan koreksi atas transaksi ini.
Dr. Development assets – office costs 1.449.348.402
Cr. Beban akrual USD 118.906 Cr. Beban akrual USD exchange 1.449.229.496 4.2.5. Mengidentifikasi Kontigensi dan/atau Komitmen
Dalam proses ini, KAP akan menguji asersi perusahaan terhadap completeness, accuracy, existence/occurrence, rights & obligation, presentation
& disclosure, dan valuation. Proses ini dilakukan terpisah dengan prosedur lain karena sifat pengeluaran yang merupakan pengeluaran untuk keperluan hukum perusahaan berbeda dengan pengeluaran lain yang ditujukan untuk menunjang proyek HIJ. Tujuan dari proses ini adalah untuk mengetahui posisi hukum perusahaan, yaitu apakah perusahaan sedang terkena permasalahan hukum atau tidak.
Langkah awal yang dilakukan KAP untuk melakukan proses ini adalah melakukan analisis beban hukum perusahaan selama tahun 2013. Analisis ini dilakukan dengan proses vouching pada sampel beban hukum perusahaan. Ada beberapa hal yang diperiksa dalam proses vouching tersebut, yaitu (1) nama vendor, (2) jasa yang diberikan vendor, dan (3) jumlah biaya transaksi tersebut.
Dari proses vouching tersebut, KAP mengetahui bahwa tidak ada kesalahan yang material dari pencatatan beban tersebut. Kemudian, dari proses vouching, KAP mengetahui bahwa beban hukum perusahaan terkait dengan aktivitas (1) review perjanjian perusahaan dan pemberian saran hukum kepada perusahaan, (2) pembuatan dan finalisasi akta notaris, (3) pendaftaran merk dan paten perusahaan pada Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual, dan (4) diskusi dengan perusahaan.
Kemudian, proses analisis kondisi hukum perusahaan dilakukan dengan menganalisis rincian analisis perusahaan terhadap kontingensi dan komitmen perusahaan. Namun, proses ini tidak dapat dilakukan oleh KAP karena perusahaan tidak memiliki rincian tersebut. Perusahaan hanya melakukan konfirmasi kepada KAP bahwa tidak ada kasus hukum yang terjadi selama tahun 2013 dan masa mendatang (foreseeable future).
Untuk memastikan kebenaran konfirmasi tersebut, KAP menganalisis perjanjian dan kontrak yang terjadi selama tahun 2013 serta menganalisis management report perusahaan yang diterbitkan setiap bulan. KAP juga melakukan konfirmasi kepada konsultan hukum perusahaan terkait isu hukum perusahaan.
Berdasarkan proses di atas, KAP menyimpulkan bahwa perusahaan tidak sedang menghadapi kasus hukum.
4.2.6. Diskusi dengan Perusahaan terkait Koreksi yang Diajukan KAP
Setiap kali KAP menemukan adanya kesalahan yang material, KAP langsung melakukan konfirmasi dan diskusi dengan accounting supervisor perusahaan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi. Kemudian, KAP akan mengumpulkan jurnal-jurnal koreksi yang ada pada perusahaan dan mengusulkan untuk mengadakan pertemuan dengan pihak perusahaan untuk membahas koreksi ini. Pertemuan tersebut dihadiri oleh assessment manager,
senior associate, dan pihak perusahaan. Berdasarkan pertemuan tersebut, perusahaan setuju untuk melakukan semua koreksi yang diajukan oleh KAP.
4.2.7. Memverifikasi Informasi untuk Pengungkapan
Tahap akhir dalam audit lapangan ini adalah memverifikasi informasi untuk pengungkapan. Proses ini bertujuan untuk menguji asersi perusahaan terhadap presentation and disclosure. Pada proses ini, KAP memastikan apakah perusahaan sudah menyajikan dan mengklasifikasikan laporannya sesuai dengan kerangka pelaporan akuntansi yang berlaku dan menentukan pengungkapan apa saja yang berhubungan dengan akun akrual ini.
KAP menyimpulkan bahwa penyajian dan klasifikasi perusahaan terkait akun ini sudah sesuai dengan kerangka pelaporan akuntansi yang berlaku dan informasi-informasi yang diungkapkan terkait akun akrual juga sudah diungkapkan dengan sesuai.
4.3.Proses Penyelesaian Audit
Proses terakhir yang dilakukan oleh KAP dalam pengerjaan audit laporan keuangan tahunan ini adalah penyelesaian audit. Dalam fase ini, ada lima hal yang dilakukan oleh KAP, yaitu:
a. Memperbaharui penilaian awal
Dalam aktivitas ini, KAP akan menganalisis ulang penilaian awal yang sudah dilakukan pada tahap perencanaan audit, yaitu penilaian terkait (1) kemampuan perusahaan untuk going concern, (2) penilaian risiko terkait fraud, (3) kepatuhan perusahaan terhadap peraturan yang berlaku, (4) transaksi dengan pihak berelasi, (5) estimasi akuntansi, (6) tingkat materialitas.
Berdasarkan hasil audit lapangan, disimpulkan bahwa penilaian atas keenam poin tersebut tidak berubah dari penilaian yang dilakukan pada proses perencanaan audit.
b. Menganalisis subsequent events
Prosedur analisis ini tidak dilakukan oleh KAP karena tidak ada hal yang membuat KAP melakukan perubahan pada laporan audit. Selain itu, perusahaan juga tidak melakukan adjustment di luar adjustment yang diajukan oleh KAP pada laporan keuangannya setelah tanggal pelaporan keuangan.
c. Melakukan prosedur penyelesaian lain
Dalam tahap ini, KAP akan melakukan analisis aspek litigasi perusahaan dan menyiapkan rangkuman defisiensi pengendalian internal. Selain itu, pada proses ini, KAP akan menyiapkan laporan audit. Dalam menjalankan proses ini, KAP akan mendapat draft laporan keuangan dari perusahaan. Pada draft tersebut, juga disertakan representation letter yang menyatakan bahwa perusahaan (manajemen) mengakui apa saja yang menjadi tanggung jawabnya atas laporan keuangan yang disusun.
Kemudian, tim audit akan melakukan pemeriksaan draft tersebut terhadap (1) kebenaran catatan atas laporan keuangan perusahaan dengan PSAK yang ada, (2) kesesuaian referensi akun-akun pada catatan atas laporan keuangan, dan (3) keakuratan jumlah yang tertulis pada laporan keuangan melalui recalculation, footing, dan cross-footing. Laporan keuangan yang sudah lengkap akan diberikan kepada signing partner untuk proses final review dan penandatanganan laporan keuangan yang sudah diaudit. Laporan audit tersebut tertanggal 28 Maret 2014. Hasil dari pengerjaan audit juga akan dikomunikasikan dengan pihak perusahaan.
d. Melakukan prosedur penyelesaian multilokasi
Sebagai component auditor yang hanya mengaudit laporan keuangan anak perusahaan, KAP harus melakukan komunikasi dengan group engagement team yang akan mengaudit XYZ plc. Ada tiga hal yang dikomunikasikan oleh KAP, yaitu (1) risiko signifikan yang teridentifikasi, (2) rangkuman kesalahan penyajian yang teridentifikasi,
dan (3) permasalahan akuntansi, pelaporan keuangan, pajak, dan audit yang teridentifikasi.
e. Sign off
Semua proses pengerjaan audit, mulai dari jenis perikatan sampai prosedur multilokasi akan diperiksa oleh engagement leader dan team manager. Hasil pemeriksaan tersebut menunjukkan bahwa prosedur audit yang dilakukan oleh KAP sudah sesuai dengan regulasi audit yang berlaku.
5.1. Kesimpulan
KAP TAK melakukan proses audit atas laporan keuangan yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013 pada PT SDN beserta induk dan anak perusahaannya.
Sebelumnya, KAP sudah melakukan audit laporan keuangan interim pada pertengahan tahun 2013. Dalam perikatan ini, proses audit lapangan dimulai pada tanggal 17 Februari 2014.
Proses audit yang dilakukan oleh KAP dimulai dengan tahap perencanaan dan prosedur awal, identifikasi risiko dan pengembangan strategi, audit lapangan, dan penyelesaian audit. Ada tiga perbedaan utama dalam prosedur audit yang dilakukan oleh KAP, yaitu:
a. Pada prosedur analitis dilakukan hanya pada pembuatan fluktuasi pada lead schedule. Selain itu, prosedur ini dilakukan tanpa membandingkan perubahan jumlah pada perusahaan lain dalam satu industri.
b. KAP tidak melakukan test of control
c. Ada aktivitas tambahan dalam penyelesaian audit, yaitu komunikasi dengan group auditor.
Selama melakukan proses audit lapangan, KAP menemukan adanya transaksi yang mencurigakan dalam akun beban akrual. Untuk mengetahui kebenaran transaksi tersebut, KAP melakukan analisis terhadap vendor perusahaan dan melakukan diskusi dengan pihak perusahaan. Setelah melakukan kedua proses tersebut, disimpulkan bahwa transaksi yang dicurigai tersebut tidak memiliki risiko fraud.
Secara keseluruhan, pelaporan akun beban akrual pada laporan keuangan perusahaan sudah mematuhi regulasi akuntansi yang diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Namun, KAP menemukan beberapa kesalahan
penyajian yang berjumlah material. Untuk memperbaiki kesalahan tersebut, KAP meminta perusahaan untuk melakukan jurnal penyesuaian.
5.2. Saran
Berdasarkan hasil analisis dan kesimpulan, penulis memberikan saran kepada PT SDN dan KAP TAK. Berikut ini adalah saran untuk kedua pihak tersebut.
5.2.1. Saran untuk PT SDN
Penulis memberikan dua saran kepada PT SDN sebagai berikut:
a. Melalui proses audit lapangan, ditemukan bahwa perusahaan melakukan beberapa transaksi dengan pihak ketiga walaupun kontrak antara kedua belah pihak tersebut masih belum disetujui. Untuk itu, harus ada sistem pengendalian yang kuat terhadap transaksi tersebut. Salah satu cara untuk meningkatkan pengendalian adalah memperkuat tata kelola perusahaan melalui pembentukan auditor internal.
b. Perusahaan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyediakan dokumen-dokumen sampel yang diminta oleh KAP. Selain itu, terkadang ada dokumen yang tidak lengkap dan informasi yang diberikan perusahaan kurang memadai. Hal ini akan menyebabkan pengerjaan audit tertunda dan pada akhirnya perusahaan berisiko mengeluarkan biaya audit yang lebih banyak. Untuk itu, penulis menyarankan agar perusahaan selalu sigap untuk menyediakan dokumen tersebut dan selalu menyediakan informasi dengan lengkap.
5.2.2. Saran untuk KAP TAK
Untuk KAP TAK, penulis memberikan tiga saran, yaitu:
a. KAP TAK sangat percaya dengan informasi yang diberikan oleh induk perusahaan, yaitu XYZ plc. Hal ini sangat terlihat pada saat melakukan analisis kinerja keuangan perusahaan. Kinerja keuangan perusahaan sudah terlihat sangat buruk pada laporan bulanan perusahaan dan sudah tergambar adanya isu keberlanjutan. Namun, akibat adanya informasi dari
XYZ plc yang mau memberikan dana kepada perusahaan, KAP tidak mempermasalahkan isu tersebut. Padahal, masih ada kemungkinan bahwa perusahaan XYZ tidak akan memberikan dana tersebut. Oleh karena itu, penulis menyarankan agar KAP TAK juga mendapatkan bukti audit lain, seperti laporan rencana manajemen XYZ plc, untuk memastikan kebenaran informasi dari XYZ plc.
b. Selama menjalankan program magang, penulis ditempatkan pada klien yang berbeda-beda namun hanya untuk waktu yang singkat. Walaupun di satu sisi peserta magang dapat merasakan audit pada klien yang bermacam-macam dan bertemu banyak orang baru, penempatan pada klien yang banyak ini menyebabkan peserta magang tidak sempat memahami secara dalam proses audit yang dilakukan oleh KAP dan peserta magang harus beradaptasi kembali pada tim yang baru. Untuk itu, penulis menganjurkan pada KAP TAK untuk hanya menunjuk peserta magang pada tim audit dari awal perikatan, sampai periode magang selesai.
Arens,Alvin A, Randal J. Elder, Mark S. Beasley, Amir Abaldi Jusuf. (2009).
Auditing and Assurance Services an Integrated Approach-An Indonesian Adaptation. New Jersey: Pearson Education.
Department of Treasury and Finance. (2006). Treasurer’s Direction Section A 3.2 – Accounts Payable and Accrued Expenses. Northern Teritory Government:
Department of Treasury and Finance.
Haber, Jeffry R.(2004). Accounting Demystified. New York: AMACOM.
IFRS Foundation. (2012). International Accounting Standard No.37 – Provisions, Contingent Liabilities and Contingent Assets.
Ikatan Akuntan Indonesia (2011). Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.1 – Penyajian Laporan Keuangan. Jakarta: IAI.
Ikatan Akuntan Indonesia (2011). Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.33 – Aktivitas Pengupasan Tanah dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Pertambangan Umum. Jakarta: IAI.
Ikatan Akuntan Indonesia (2011). Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.64 – Aktivitas Eksplorasi dan Evaluasi pada PErtambangan Sumber Daya Mineral. Jakarta: IAI.
Undang-undang No.4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara
U.S. Geological Survey. (2013). Mineral Commodity Summaries. Virginia: U.S.
Geological Survey.
Warren, Reeve, et al. (2008). Principles of Accounting-Indonesia Adaptation. South-Wester Publishing.
LAMPIRAN 1 LEAD SCHEDULE BEBAN AKRUAL PT SDN
LAMPIRAN 2 TARGETED TESTING TEMPLATE
LAMPIRAN 3 NON STATISTICAL TESTING TEMPLATE
LAMPIRAN 4 CONTOH TABEL VOUCHING BEBAN AKRUAL BERDASARKAN LISTING
LAMPIRAN 4 (LANJUTAN) CONTOH TABEL VOUCHING BEBAN AKRUAL BERDASARKAN LISTING
LAMPIRAN 5 CONTOH TABEL VOUCHING BEBAN AKRUAL BERDASARKAN LISTING SETELAH TANGGAL PELAPORAN LAPORAN KEUANGAN
LAMPIRAN 5 (LANJUTAN) CONTOH TABEL VOUCHING BEBAN AKRUAL BERDASARKAN LISTING SETELAH TANGGAL PELAPORAN KEUANGAN
LAMPIRAN 6 CONTOH TABEL VOUCHING BEBAN AKRUAL BERDASARKAN BANK STATEMENT
LAMPIRAN 6 (LANJUTAN) CONTOH TABEL VOUCHING BEBAN AKRUAL BERDASARKAN BANK STATEMENT
LAMPIRAN 6 (LANJUTAN) CONTOH TABEL VOUCHING BEBAN AKRUAL BERDASARKAN BANK STATEMENT