• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mendengarkan secara aktif

PETANI PENYULUHAN

STRATEGI PENDEKATAN MEMBANGUN TRUST

5. Mendengarkan secara aktif

Keterampilan komunikasi interpersonal yang dipandang sulit untuk dilakukan adalah kemampuan untuk mau mendengarkan orang lain secara aktif. Ketika kita berkomunikasi dengan petani, kita cenderung untuk lebih mengedepankan apa yang ada di kepala kita dan mengesampingkan sudut pandang mereka.

Kurangnya keterampilan mendengarkan secara aktif dapat merusak kepercayaan atau rasa percaya yang tengah dibangun.

Menyadari hal tersebut maka BPTP Balitbangtan menggunakan beberapa teknik curah pendapat sebagai metode menggali permasalahan dan pengalaman petani dalam usahataninya karena dengan pertanyaan terbuka yang bisa mendengarkan merupakan cara termudah dan tercepat untuk membangun kepercayaan dengan petani.

Terkadang ada sebagian keinginan petani yang belum bisa terpenuhi karena keterbatasan anggaran yang kita miliki. Seperti

Membangun Trust Petani terhadap Inovasi…. (Hariyanto W) |137

sistim jajar legowo 2:1, sistim ini mengakibatkan tambahan waktu bagi regu tanam untuk menyelesaikannya yang berakibat kepada penambahan biaya tanam, karena mereka belum terbiasa mengerjakannya, mereka terbiasa dengan sistim tanam tegel.

Tambahan biaya inilah yang dituntut oleh petani. Biaya lainnya yang belum bisa dipenuhi adalah kompensasi biaya apabila terjadi kegagalan dalam usaha budidayanya, karena sistim budidaya yang kita anjurkan belum pernah mereka lakukan selama ini.

Sasaran akhir dari transfer teknologi adalah petani sebagai pengguna inovasi teknologi. Untuk itu petani harus memiliki kepercayaan yang tinggi bahwa inovasi teknologi yang dipilihnya mampu memberikan manfaat yang terbaik baginya.

Tidak berlebihan apabila petani sangat hati-hati dalam memilih inovasi teknologi yang belum diketahui dan dilakukannya sendiri.

Salah satu faktor untuk membangun hubungan kepercayaan antara agen inovasi dan petani adalah kredibilitas sumber (Rushendi, 2016). Menurut Effendy (2011), kredibilitas sumber merupakan paduan antara otoritas dan sifat yang dimiliki oleh komunikator dalam hal ini agen inovasi ketika menyampaikan suatu pesan tertentu, baik secara lisan maupun tertulis, agar sasaran (petani) menaruh kepercayaan kepadanya. Dalam konsep hubungan dan keterlibatan antara petani dan agen inovasi (peneliti/penyuluh), terdapat tiga attribut pendekatan untuk mengetahui perasaan pengguna teknologi (petani) terhadap janji dan integritas yang ditawarkan oleh penghasil/sumber teknologi , yaitu (1) Harmony adalah memelihara hubungan baik dari lembaga penghasil teknologi kepada petani melalui program tertentu; (2) Acceptance, petani pengguna teknologi mengetahui adanya program tertentu yang diberikan oleh pemerintah serta memahami keuntungan yang diperolehnya; (3) participation

simplicity, kemudahan prosedur yang dirasakan oleh petani bila menggunakan inovasi teknologi yang ditawarkan pemerintah.

Respon petani terhadap inovasi tercermin dari sikap yang kemungkinan besar terkait dengan perilaku mereka. Perilaku petani terkait dengan upaya untuk mencoba sendiri sebuah inovasi atau mengumpulkan informasi dari sumber-sumber terpercaya daripada hanya sekedar mendengarkan pembahasan dari nara sumber, walaupun pembahasannya sangat menarik.

Namun demikian, sikap tidak selalu mempengaruhi perilaku, tetapi perilaku dapat mempengaruhi sikap.

Sebagai contoh, petani yang menggunakan sebuah produk baru pertanian, seperti benih, pupuk, pestisida atau lainnya yang kebetulan dilihat di toko/kios tani atau yang ditawarkan oleh seorang kawan/salesman. Hasil coba-coba ini akan lebih mempengaruhi sikap mereka terhadap produk tersebut daripada iklan. Sebuah model perubahan perilaku yang ditawarkan oleh Ajzen dan Fishbein (tahun dalam Ban, 1999) bisa digunakan oleh agen penyuluhan untuk membujuk petani agar berperilaku tertentu dan berusaha membantu petani membuat keputusannya sendiri. Model perubahan perilaku melalui sikap dapat dilihat dalam Gambar 4.

Membangun Trust Petani terhadap Inovasi…. (Hariyanto W) |139

Gambar 4. Model Perubahan Perilaku Melalui Sikap

Seorang komunikator atau agen penyuluhan harus mampu membangkitkan perhatian petani dengan cara mengemas dan menampilkan pesan sedemikian rupa agar petani dapat menyeleksi sejumlah pesan yang disampaikan. Untuk itu, pembuatan pesan perlu diperhatikan. Beberapa media memiliki karakteristik tertentu, misalnya untuk media cetak usaha, menarik perhatian pembaca dilakukan dengan membiarkan ruang tertentu kosong atau mengubah ukuran huruf. Seorang komunikator hanya akan mengarahkan pesannya ke bagian-bagian yang perlu atau melakukan pengulangan dan mengurangi informasi yang tidak diperlukan. Gaya redundancy (pengulangan pesan) merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan untuk merangsang pesan.

Bagi peneliti dan penyuluh, peran sebagai komunikator adalah bagaimana menemukan elemen-elemen kekuatan tersebut dan memotivasi melalui media dan metoda penyuluhan sesuai dengan kognisi petani, serta kondisi sosial dan budaya setempat.

Elemen kekuatan tersebut merupakan peran positif dalam melaksanakan tahapan inovasi yang telah diberikan oleh

komunikator. Peran positif petani diantaranya adalah kepercayaan diri yang dipengaruhi oleh keberhasilan yang telah diterapkan oleh petani sekitarnya, pengalaman yang telah didapat dalam membudidayakan padi, serta ide-ide yang inovatif meliputi inovasi kepercayaan, inovasi pola pikir, dan inovasi keyakinan (Imelda et al., 2016). Kepercayaan merupakan kemauan seseorang untuk bertumpu pada orang lain dimana kita memiliki keyakinan padanya. Menurut Moorman (1993), ketika seseorang mengambil suatu keputusan, dia akan cenderung memilih keputusan berdasarkan pilihan dari orang-orang yang lebih dapat dipercaya daripada yang kurang dipercayai.

Cara mempengaruhi pengetahuan dan sikap petani secara terbuka, menurut van den Ban (1999), dapat diterapkan jika: (1) petani tidak dapat memecahkan masalahnya sendiri karena keterbatasan pengetahuan; (2) pihak penyuluh atau komunikator bersedia menolong petani untuk mengumpulkan informasi yang lebih akurat dalam rangka perubahan sikap; (3) pihak penyuluh atau komunikator memiliki pengetahuan atau memahami cara memperolehnya; (4) pihak penyuluh atau komunikator mempergunakan metode mengajar untuk mengalihkan pengetahuan atau memengaruhi sikap petani; dan (5) petani mempercayai keahlian dan motivasi narasumber, serta siap untuk bekerjasama dalam mengubah pandangan atau sikapnya.

Perubahan sikap dalam jangka panjang dapat dicapai dengan menggunakan metode ini. Dengan demikian, kepercayaan petani terhadap diri sendiri dan kemampuannya untuk memecahkan masalah yang sama di masa depan akan semakin meningkat.

Petani harus dibantu untuk menyeimbangkan antara keuntungan dan kerugian dari inovasi yang diperkenalkan.

Penyuluh sebaiknya tidak menutupi kekurangan/ kerugian inovasi, walaupun hal tersebut merupakan cara yang paling efektif. Bagaimanapun, petani akan menemukan sendiri kerugian tersebut, baik dari pengalaman sendiri maupun dari

sumber-Membangun Trust Petani terhadap Inovasi…. (Hariyanto W) |141

sumber lain yang ada dalam sistem pengetahuan dan informasi mereka. Untuk itu, peranan diskusi kelompok sangatlah penting untuk membangun konsensus atau keputusan secara aklamasi.

Diskusi kelompok juga membantu petani mengidentifikasi dan menemukan pemecahan masalah yang dihadapinya.

Sesungguhnya, banyak petani yang memiliki kemampuan untuk memutuskan sendiri informasi baru tentang inovasi usahataninya, serta keuntungan dan kerugian dari penerapan inovasi teknologi tersebut.

Apabila perubahan yang dianjurkan oleh penyuluh didukung oleh masyarakat dalam lingkungan sosial petani, kemungkinan besar petani akan mengubah intensi/niat mereka. Sekali lagi peranan diskusi kelompok dalam merubah perilaku petani tentang inovasi teknologi yang dianjurkan oleh penyuluh memiliki peranan penting, karena memberikan kesempatan untuk mempengaruhi perilaku pesertanya. Pada kelompok diskusi, agen penyuluhan merupakan bagian dari anggota kelompok yang turut memecahkan masalah.

Pada kondisi tertentu, teknologi introduksi yang sebelumnya menunjukkan keunggulan di suatu daerah, justru menunjukkan keragaan yang lebih rendah daripada teknologi eksisting yang biasa diterapkan oleh petani. Pada beberapa kasus, kegagalan tersebut menyebabkan petani menjadi apatis dan turun kepercayaannya kepada penyuluh. Akibatnya petani menolak untuk menerapkan inovasi teknologi baru yang diperkenalkan oleh penhyuluh. Untuk itu perlu upaya khusus untuk mengembalikan keyakinan petani (trust) bahwa ada suatu inovasi teknologi yang lebih unggul dibandingkan teknologi eksisting.

Salah satu cara yang biasa dilakukan oleh agen (peneliti/penyuluh) adalah menanggung seluruh input produksi kecuali lahan dan tenaga kerja agar petani mau melaksanakan

suatu demfarm. Pendekatan tersebut menjadi salah satu metode yang ampuh untuk menyakinkan petani akan keunggulan inovasi teknologi budidaya padi. Karena tidak mudah mengembalikan kepercayaan petani, maka dibutuhkan pendampingan yang intensif dan terus menerus. Pendampingan diperlukan terutama pada titik-titik kritis/penting di mana suatu komponen teknolgi harus sepenuhnya dimengerti dan dipahami oleh petani. Selama proses pendampingan, petani didorong untuk mengenali karakter teknologi, khususnya yang terkait dengan keuntungan relatif, kompatibilitas/keselarasan, kompleksitas, dapat dicoba, dan bisa diamati (Van den Ban dan Hawkins, 1999). Beberapa studi telah menganalisis bahwa ada hubungan antara ciri-ciri suatu inovasi dan tingkat adopsi. Lima karakter penting inovasi teknologi tersebut akan menentukan apakah petani mengadopsi atau tidak mengadopsi suatu inovasi.