• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGAMATAN MUSUH ALAMI DAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN

KERAGAAN PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI PADA IMPLEMENTASI

PENGAMATAN MUSUH ALAMI DAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN

Pengamatan terhadap musuh alami dilakukan pada tiga (3) titik pengamatan dan hasilnya dapat dilihat pada Gambar 1.

Populasi musuh alami menunjukkan grafik meningkat sejak umur tanaman 3 minggu setelah tanam (MST), meningkat tajam pada umur padi 7 MST dan cenderung menurun setelah umur tanaman padi 11 MST. Musuh alami dominan yang ditemui adalah kumbang Coccinella, Paederus Sp, dan Ophionea SP.

Populasi musuh alami terbanyak adalah Paederus Sp. Populasi musuh alami di titik pengamatan I menunjukkan grafik populasi meningkat mengikuti kurva sigmoid, sedangkan di titik pengamatan , populasi sejak awal relatif tinggi, mencapai puncaknya pada umur tanaman padi 8 MST, dan selanjutnya

Keragaan pertumbuhan dan produksi… (Hartoyo B., J. Triastono, A. Supriyo) |39

menurun populasinya. Grafik populasi musuh alami di titik pengamatan III hampir sama dengan titik pengamatan I.

Gambar 1. Hasil pengamatan musuh alami di area pertanaman padi Jarwo super

Hama penggerek batang mulai nampak sejak tanaman padi umur 3 MST, tetapi masih dibawah ambang ekonomi, yaitu 1 ekor ngengat per tanaman. Puncak serangan tanaman padi pada umur 5 MST terutama di titik pengamatan II dengan intensitas serangan mencapai 4.75% (Gambar 2). Secara keseluruhan, intensitas serangan hama penggerek batang masih dibawah ambang ekonomi.

Gambar 2. Intensitas serangan hama penggerek batang di area pertanaman padi Jarwo super

Titik pengamatan I Titik Pengamatan II Titik Pengamatan III

0

Titik pengamatan I Titik Pengamatan II Titik Pengamatan III

Hama wereng batang coklat (WBC) juga ditemui di pertanaman padi. Populasi tertinggi sebanyak 4-5 ekor per 10 rumpun pada saat tanaman padi berumur 3 dan 11 MST di titik pengamatan II , sedangkan di titik pengamatan I dan III populasi WBC berkisar 1-2 ekor per 10 rumpun tanaman sampel (Gambar 3).

Gambar 3. Intensitas serangan hama wereng batang coklat di area pertanaman padi Jarwo super

Serangan Penyakit BLB mencapai intensitas 6-7% di titik pengamatan III pada umur tanaman padi 5 MST. Di titik pengamatan II, intensitas serangan mencapai 4% pada umur 6 MST. (Gambar 4).

Gambar 4. Intensitas serangan penyakit BLB di area pertanaman padi Jarwo super

Titik pengamatan I Titik Pengamatan II Titik Pengamatan III

0

Titik pengamatan I Titik Pengamatan II Titik Pengamatan III

Keragaan pertumbuhan dan produksi… (Hartoyo B., J. Triastono, A. Supriyo) |41

Serangan Penyakit blas di lokasi kegiatan relatif tidak terjadi, kecuali saat tanaman padi umur 7 MST di titik pengamatan II dengan intensitas 1-2%. Sementara itu, serangan di titik pengamatan I dan III relatif aman (Gambar 5).

Gambar 5. Intensitas serangan penyakit Blas di area pertanaman padi Jarwo super

Pengendalian OPT secara terpadu selama kegiatan dilakukan dengan memadukan berbagai komponen antara lain berupa pemberian pupuk berimbang, penyiangan rutin dengan gasrok serta sanitasi lingkungan, aplikasi pestisida nabati (bio-protektor), pemasangan Light trap, pemasangan perangkap untuk walang sangit, pemasangan Feromon (Fero-PBPK), aplikasi pestisida hayati, PGPR, dan Coryne bacterium diduga mampu menekan populasi hama dan penyebab penyakit. Aplikasi pestisida kimia juga dilakukan pada lokasi tertentu yang tingkat serangan OPT sudah melewati ambang batas kendali.

PENUTUP

Penerapan inovasi teknologi jarwo super meningkatkan performa komponen pertumbuhan vegetatif padi secara nyata dibandingkan dengan teknologi eksisting/petani. Teknologi

0

Titik pengamatan I Titik Pengamatan II Titik Pengamatan III

Jarwo Super merupakan teknologi berbasis jajar legowo 2:1 yang sudah disempurnakan, pengkayaan komponen teknologi Jarwo Super diantaranya aplikasi pupuk hayati, biodekomposer (M-dec) untuk dekomposisi jerami insitu dan pemanfaatan pestisida nabati bio-protektor. Ketiga varietas unggul baru (VUB) yang dikaji baik Inpari 30, Inpari 32 maupun Inpari 33 ternyata lebih unggul dibandingkan Situ Bagendit. Tanggap VUB padi melalui penerapan teknologi jarwo super meningkatkan produktvitas secara nyata diatas teknologi eksisting/kontrol. Hasil padi Inpari 30 (11,10 ton GKP/ha), Inpari 32 (11,33 ton GKP/ha) dan Inpari 33 (10,69 ton GKP/ha) meningkat dengan kenaikan 55,70%; 59,00%

dan 45,50% di atas teknologi eksisting (hasil 7,125 ton GKP/ha).

Penerapan teknologi Jarwo Super mampu meningkatkan provitas padi 30-40% lebih tinggi dibandingkan jarwo 2:1.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah B. (2004) ‘Pengenalan VUTB Fatmawati dan VUB lainnya’, Makalah disampaikan pada pelatihan pengembangan Varietas Unggul Tipe Baru (VUTB) Fatmawati dan VUB lainnya 31 Maret – 3 April 2004. Sukamandi : Balai Penelitian Tanaman Padi.

Abdulrachman, S., M. J. Mejaya, N. Agustiani, I. Gunawan, P.

Sasmita, A. Guswara (2013) Sistem Tanam Legowo. Jakarta:

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Abdulrachman, S., N.Agustini, I.Gunawan, M.J. Mejaya (2012) Sistem tanam legowo. Sukamandi: Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Abdulrachman, S., N. Agustiani, L.M. Zarwazi, dan I. Syarifah (2011) ‘Peningkatan efisiensi penggunaan air pada padi sawah (>20%) melalui sistem aerobik’. Laporan Hasil Penelitian.

Sukamandi : Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

Keragaan pertumbuhan dan produksi… (Hartoyo B., J. Triastono, A. Supriyo) |43

Badan Penelitian dan Pengemabangan Pertanian, (2016) Petunjuk Teknis budidaya padi jajar legowo super. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Aribawa, IB (2012) ‘Pengaruh sistem tanam terhadap peningkatan produktivitas padi di lahan sawah dataran tinggi beriklim basah’ Prosiding Seminar Nasional Kedaulatan Pangan dan Energi 2012. Madura : Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo.

Aryanto, A., Triadiati, Sugiyanta (2015) ‘Pertumbuhan dan produksi padi sawah dan gogo dengan pemberian pupuk hayati berbasis bakteri pemacu tumbuh di tanah masam.

jurnal ilmu pertanian indonesia 20 (3), PP. 229-235.

Badan Pusat Statistik (2015) ‘Statistik Indonesia 2015’. Jakarta.

Departemen Pertanian (2007) ‘Pedoman umum produksi benih padi’.

Jakarta : Badan Litbang Pertanian.

Fagi, A.M., B. Abdullah, dan S. Kartaatmadja (2001) ‘Peranan padi Indonesia dalam pengembangan padi unggul’, Prosiding Budaya Padi. Surakarta : Yayasan Padi Indonesia (YAPADI).

Guswara, A. Dan M.Y. Samaullah (2009) ‘Penampilan beberapa varietas unggul baru pada sistem pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu di lahan sawah irigasi’. Prosiding Seminar Nasional Padi 2008 Inovasi Teknologi Padi Mengantisipasi Perubahan Iklim Global Mendukung Ketahanan Pangan. Balai Besar PenelitianTanaman Padi. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. pp. 629 – 637.

Hasanuddin, A. (2005) ‘Peranan proses sosialisasi terhadap adopsi varietas unggul padi tipe baru dan pengelolaannya’, Lokakarya Pemuliaan Partisipatif dan Pengembangan Varietas Unggul Tipe Baru (VUTB). Sukamandi : Balai Penelitian Tanaman Padi.

Hikmah Z.M., dan Gagad R. Pratiwi (2016) ‘Sistem tanam padi yang optimal untuk produksi padi maksimal’, Prosiding Seminar Nasional tahun 2015. Temu Teknologi Padi. Eds Sarlan A.et al., Sukamandi : Balai Besar Penelitian Tanama Padi.

Jamil, A. (2016) Petunjuk Teknis Budidaya Padi Jajar Legowo Super.

Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Kementerian Pertanian.

Kropff, M.J. and L.A.P. Lotz (1992) ‘Systems Approaches to Quantity Crop-Weed. Interaction and Their Application. In Weed Management. In P.S. Teng and F. Penning de Vries (Ed.), Systems Approaches for Agricultural Development. London:

Elsevier Applied Science, 40: pp. 265-282.

Las, I., Widiarta, I.N., Suprihatno, B. (2004) ‘Perkembangan varietas dalam perpadian nasional’, Dalam: Makarim, A.K., editor. Inovasi Pertanian Tanaman Pangan. Bogor : Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. hlm 1-25.

Makarim, A.K., I. Las, A.M. Djulin dan Sutoro (2009) ‘Penentuan takaran pupuk untuk tanaman padi berdasarkan analisis sistem dan model simulasi’, Agronomika I(1) pp. 32-39.

Makarim, A.K., D. Pasaribu, Z. Zaini dan I. Las. (2005) ‘Analisis dan sintesis pengembangan model pengelolaan tanaman terpadu padi sawah’. Sukamandi : Balai Penelitian Tanaman Padi. p 18 Marschner,H. (1997) ‘Mineral Nutrition of High Plants’. London :

Academic Press Limited.

Mujisihono, R. dan T. Santosa (2001) Sistem Budidaya Teknologi Tanam Benih Langsung (TABELA) dan Tanam Jajar Legowo (TAJARWO). Makalah Seminar Perekayasaan Sistem Produksi Komoditas Padi dan Palawija. Yogyakarta : Diperta Provinsi D.I.

Yogyakarta.

Keragaan pertumbuhan dan produksi… (Hartoyo B., J. Triastono, A. Supriyo) |45

Oladele, S., M. Awodun (2014) ‘Response of lowland rice to biofertilizesr inoculation and their effects on growth and yield in Southwestern Nigeria’, Journal of Agriculture and Environmental Sciences. 3(2) pp. 371-390

Permadi, N., Sunandar, B., Nurnayetti (2013) ‘Peningkatan Produktivitas Padi melalui Inovasi Teknologi Spesifik Lokasi untuk Mencapai Swasembada Beras’. Prosiding Seminar Nasional Akselerasi Pemanfaatan Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi mendukung Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani Nelayan. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. pp. 140-145.

Saraswati, R. (2007) ‘Peran pupuk hayati dalam meningkatkan efisiensi pemupukan menunjang keberlanjutan produktivitas tanah’. Jurnal Sumberdaya Lahan. 1(4) pp. 51-56

Saraswati, R. (2013) ‘Teknologi pupuk hayati untuk efisiensi pemupukan dan keberlanjutan sistem produksi pertanian.

Dalam: I.G.P. Wigena et al. (Eds). Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pemupukan dan Pemulihan Lahan Terdegradasi. Bogor : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.

Simarmata, T., B. Joy, N Danapriatna (2013) ‘Peranan penelitian dan pengembangan pertanian pada industri pupuk hayati (Biofertilizer). Dalam: I.G.P. Wigena et al., (Eds). Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pemupukan dan Pemulihan Lahan Terdegradasi. Bogor : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.

Suprihatno, B., A.A. Daradjat, Satoto, Suwarno, E.Lubis, Baehaki, Sudir, S.D.Indrasari, I P.Wardana, M.J.Mejaya (2011) Deskripsi Varietas Padi. Sukamandi : Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. p. 118 .

Sembiring, H. (2017) ‘Sasaran produksi tanaman pangan dan strategi operasional’, Prosiding seminar nasional Padi 2016“

Terobosan Inovasi Teknologi Padi Adaptif Perubahan Iklim Mendukung Kedaulatan Pangan. Sukamandi : Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

Suhendrata, T dan S. Budyanto (2012) ‘Peningkatan produktivitas padi gogo dan pendapatan petani lahan kering melalui perubahan penerapan sistem tanam di Kabupaten Banjarnegara’, Seminar nasional kedaulatan pangan dan energi.

Madura : Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura.

Suratmini, P dan I.B.G. Suryawan (2016) ‘Pengaruh system tanam terhadap pertumbuhan dan produksi Inpari 20 dan Inpari 24 di Subak Gantalan II, Karangasem Bali’, Prosiding seminar nasional Padi 2016“ Terobosan Inovasi Teknologi Padi Adaptif Perubahan Iklim Mendukung Kedaulatan Pangan. Sukamandi : Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

Vaughan, D.A., Lu, B.R. and Tomooka, N. (2008) ‘The evolving story of rice evolution’. Plant Science 174 (4) pp. 394–408.

Yuniar dan Jamil, A. (2012) ‘Pengaruh Sistem Tanam dan Macam Bahan Organik terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Sawah di Daerah Kuala Cinaku Kabupaten Indragiri Hulu Riau.

Dalam Sarlan Abdulrachman et al. (Eds). Buku 3 : Hlm. 999-1008. Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian Padi 2011 : Inovasi Teknologi Padi Mengantisipasi Cekaman Lingkungan Biotik dan Abiotik. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.