PENINGKATAN PRODUKSI PADI MELALUI JAJAR LEGOWO SUPER
(Paket, Komponen dan Adopsi Teknologi) Edisi 1: 2019
Hak cipta dilindungi undang-undang
© 2019 IAARD PRESS Katalog dalam terbitan
PENINGKATAN produksi padi melalui jajar legowo super:
paket, komponen dan adopsi teknologi / Editor, Agus Hermawan ... [dkk]. -- Jakarta : IAARD Press, 2019.
xi, 378 hlm.: ill.; 21 cm
ISBN: 978-602-344-274-4 633.18-154.32
1. Padi 2. Produksi 3. Jajar legowo super I. Hermawan, Agus
Penanggung jawab: Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah
Dewan redaksi
Ketua : Agus Hermawan
Anggota : Komalawati Harwanto R. Heru Praptana Redaksi Pelaksana : Anggi Sahru Romdon Cover : Anggi Sahru Romdon IAARD PRESS
Sekretariat Badan Litbang Pertanian
Jl. Ragunan No. 29 Pasar Minggu, Jakarta Selatan12540 Telp. (021)7806202 Fax. (021)7800644
Website: www.litbang.pertanian.go.id Email: [email protected] Anggota IKAPI No; 445/DKI/2012
KATA PENGANTAR
angan merupakan salah satu hak asasi manusia. Untuk itu, pangan yang cukup baik jumlah maupun ketersediaannya merupakan hal yang sangat penting bagi kestabilan ekonomi, sosial, dan politik suatu negara. Tidak sedikit negara yang kemudian mengalami krisis ekonomi, sosial, dan politik akibat tidak terpenuhinya kebutuhan pangan pokok. Di Indonesia, gangguan ketersediaan pangan yang memicu lonjakan harga dan diikuti dengan krisis politik dan pergantian kekuasaan, telah terjadi pada tahun 1965/1966 dengan bergantinya era orde lama ke orde baru dan pada tahun 1997/1998 berupa pergantian dari era orde baru ke era reformasi. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika pemenuhan kebutuhan pangan selalu menjadi prioritas tertinggi para pemimpin nasional.
Berbagai program dan kebijakan pemerintah melalui Kementerian Pertanian selalu ditujukan untuk mencapai swasembada pangan. Berbagai program digulirkan dari mulai intensifikasi hingga ekstensifikasi pertanian. Pada era Kabinet Kerja (tahun 2014-2019), di bawah Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla yang mengusung slogan Nawa Cita, Pemerintah kembali bertekad untuk meningkatkan produksi pangan dan mencapai swasembada pangan sebagai bagian dari menciptakan kemandirian dan kedaulatan bangsa.
Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi khususnya padi dilakukan melalui pengembangan komponen Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) menjadi komponen paket teknologi jajar legowo super. Berdasarkan substansi kegiatannya, jarwo super berupaya untuk meningkatkan produksi pangan dengan mengkombinasikan jarak tanam dan berbagai kombinasi komponen teknologi hasil inovasi Badan Litbang Pertanian seperti
P
vi | Kata Pengantar
benih padi varietas unggul, penggunaan rice transplanter dan combine harvester.
Buku yang berjudul “PENINGKATAN PRODUKSI PADI MELALUI JAJAR LEGOWO SUPER (PAKET, KOMPONEN, DAN ADOPSI TEKNOLOGI) ” disusun oleh para peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah. Buku ini diterbitkan sebagai bentuk dukungan para peneliti dari berbagai bidang ilmu terhadap program jajar legowo (jarwo) super yang telah diintroduksikan pada tahun 2016. Buku ini juga merupakan bagian dari kontribusi nyata dan tanggung jawab para peneliti terhadap masyarakat khususnya petani dan praktisi yang bergerak dalam bidang pertanian.
Buku dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama mengemukakan tentang berbagai paket teknologi jajar legowo super. Bab ini mengemukakan tentang pentingnya dukungan berbagai komponen teknologi inovasi Badan Litbang Kementerian Pertanian dalam satu paket teknologi jajar legowo super, seperti dukungan varietas unggul baru dan teknologi pendukung lainnya. Bab ini juga mengemukakan berbagai implementasi jarwo super di Kabupaten Boyolali dan Pemalang dan peluang keberhasilannya dalam meningkatkan produksi padi di Jawa Tengah.
Bagian kedua dari buku ini mengemukakan tentang proses diseminasi, respon, dan adopsi teknologi jarwo super di berbagai Kabupaten di Jawa Tengah seperti Kabupaten Tegal, Klaten, Sragen, dan Karanganyar. Diseminasi merupakan bagian dari tanggungjawab peneliti dan penyuluh kepada masyarakat. Untuk itu, diseminasi teknologi inovasi menjadi salah satu tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dari para peneliti dan penyuluh BPTP Jawa Tengah. Pembelajaran yang dapat diambil dari bagian kedua buku ini adalah pentingnya untuk membangun kepercayaan (trust) pada tahap awal diseminasi. Jika petani atau penerima manfaat sudah memiliki kepercayaan kepada peneliti dan penyuluh, para penerima manfaat akan memiliki persepsi yang baik terhadap
inovasi teknologi yang diintroduksikan. Persepsi yang baik akan mengarahkan petani pada respon yang baik dan diadopsinya paket teknologi jarwo super secara berkelanjutan.
Bagian ketiga menekankan pentingnya perhatian terhadap sifat spesifik lokasi suatu teknologi. Keberhasilan jarwo super dalam peningkatan produksi padi tidak selalu sama di setiap daerah.
Setiap implementasi jarwo super harus disesuaikan dengan karakteristik lokasi karena suatu teknologi akan efektif dapat meningkatkan produksi dan mengatasi permasalahan di lapangan apabila diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi spesifik lokasinya. Dengan demikian, kebutuhan teknologi pendukung jarwo super di setiap lokasi pun dapat berbeda-beda.
Pembelajaran yang dapat diambil dari bab ini adalah penelitian tentang komponen teknologi dan pendukung pengembangan jarwo super yang spesifik lokasi masih terbuka luas di masa mendatang dan menjadi peluang untuk pengembangan teknologi inovasi pertanian berikutnya.
Kami menyadari bahwa tidak semua teknologi dan informasi yang disampaikan dalam buku ini merupakan hal baru bagi sebagian kalangan. Walaupun demikian, diharapkan bahwa teknologi dan informasi yang ditulis dalam buku ini tetap dapat memberikan manfaat bagi masyarakat petani, penyuluh, akademisi, dan masyarakat luas lainnya. Tidak ada gading yang tak retak. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan buku ini.
Terakhir, kami sangat berterima kasih dan memberikan penghargaan yang tinggi dari semua pihak yang telah membantu sehingga Buku ini dapat sampai di tangan pembaca.
Jakarta, 26 November 2019 Tim Editor
viii | Kata Pengantar
DAFTAR ISI
Kata Pengantar v
Daftar Isi ix
Prolog 1
Peluang Teknologi Jajar Legowo Super sebagai Teknologi Unggulan Program Peningkatan Produksi Padi
(Agus Hermawan dan Harwanto) 3
Bab I. Paket Teknologi Jajar Legowo Super 23 Keragaan Pertumbuhan dan Produksi Padi pada
Implementasi Teknologi Jajar Legowo Super di Kabupaten Boyolali (Budi Hartoyo, J. Triastono dan
A. Supriyo) 29
Teknologi Pendukung untuk Pengembangan Jajar
Legowo Super (Tota Suhendrata) 47
Dukungan Varietas dalam Pengembangan Jajar
Legowo Super (Vina Aristya dan Anggi Sahru Romdon) 76 Keragaan Pertumbuhan Dan Produksi Padi Pada
Berbagai Cara Tanam (Budi Hartoyo, Ratih Kurnia
Jatuningtyas, dan Arif Susila) 96
Bab II. Proses Diseminasi, Respon Dan Adopsi Teknologi 119 Strategi Membangun Trust Petani Pada Inovasi
Teknologi Budidaya Padi Jajar Legowo Super
(Wahyudi Hariyanto) 124
Diseminasi Teknologi Jajar Legowo (Jarwo) Super di Kabupaten Tegal (Ekaningtyas Kushartani, Anggi Sahru
Romdon dan Tota Suhendrata) 155
x | Daftar Isi
Tingkat Persepsi Petani Terhadap Inovasi Jajar Legowo Super di Kabupaten Klaten
(Dedi Untung Nurhadi dan Sherly Sisca Piay) 175 Respon Petani, Potensi Adopsi dan Dampak Jarwo Super di Kabupaten Sragen (Cahyati Setiani, Munir Eti Wulanjari,
dan Teguh Prasetyo) 188
Respon Petani Terhadap Varietas Unggul Baru Padi
(Munir Eti Wulanjari dan Cahyati Setiani) 204 Adopsi Teknologi Sistem Tanam Jajar Legowo di
Kabupaten Karanganyar (Tota Suhendrata) 218 Bab III. Komponen Teknologi dan Peluang Pengembangan
Jarwo Super 249
Membangun Sistem Perbenihan Padi Berbasis Inovasi di Perdesaan (Teguh Prasetyo dan Cahyati Setiani) 253 Efikasi Insektisida Terhadap Hama Penggerek Batang
Padi (Scirphopaga Incertulas) (Hairil Anwar Dan S. Jauhari) 275 Uji Daya Hasil Galur Harapan Padi Genjah Aromatik di Kabupaten Sragen Jawa Tengah (Intan Gilang Cempaka,
Ratih Kurnia Jatuningtyas, Setyo Budiyanto, Endang Rohman) 290 Efektivitas Herbisida terhadap Pengendalian Gulma pada Tanaman Padi di Lahan Sawah Irigasi
(Sodiq Jauhari dan Hairil Anwar) 302 Integrasi Tanaman Padi dan Ternak Sapi Potong untuk
Meningkatkan Produksi dan Pendapatan Petani
(Subiharta dan Pita Sudrajad) 319
Potensi Lahan dan Ternak serta Dukungan Alat Mesin Pertanian dalam Peningkatan Produksi Padi di
Kabupaten Tegal (Elly Kurniyati dan Anggi Sahru Romdon) 338
Epilog 355 Jajar Legowo Super Sebagai Teknologi Unggulan
Program Peningkatan Produksi Padi
(Komalawati dan Agus Hermawan) 357
Indeks 369
Tentang Penulis 375
PROLOG
Peluang Teknologi Jajar Legowo Super sebagai Teknologi Unggulan… (Hermawan A dan Harwanto) |3
PELUANG TEKNOLOGI JAJAR LEGOWO SUPER SEBAGAI TEKNOLOGI UNGGULAN PROGRAM PENINGKATAN PRODUKSI PADI
Agus Hermawan dan Harwanto
adi merupakan komoditas pangan penting bagi Indonesia.
Beras sebagai produk utama padi, tidak hanya berperan sebagai bahan pangan pokok masyarakat (98 %), tetapi juga telah berperan lebih luas lagi. Sistem produksi padi/beras melibatkan 70 % tenaga kerja di perdesaan, menjadi sumber pendapatan bagi 30% masyarakat miskin, dan merupakan sumber protein dan energi utama (55 %) (Hermawan and Yuwono, 2012). Sedemikian pentingnya beras/padi sebagai kebutuhan pokok masyarakat Indonesia, menyebabkan padi berkembang menjadi komoditas politik.
Tidak berlebihan apabila setiap pemimpin nasional memberikan perhatian khusus dan memberikan prioritas sangat tinggi pada proses produksi padi/beras untuk menjamin kecukupan kebutuhan pangan masyarakat. Beragam program peningkatan produksi padi telah digulirkan oleh pemerintah, mulai dari Padi Sentra pada tahun 1958, program Bimas (Bimbingan Massal) sejak tahun 1965, dan yang terakhir adalah program Upaya Khusus Peningkatan Produksi padi, jagung, dan kedelai (UPSUS Pajale) yang dimulai pada tahun 2015.
PROGRAM UPSUS PADI
Pada prinsipnya, setiap program peningkatan produksi padi yang baru merupakan perbaikan dari program sebelumnya.
Program baru tersebut dilengkapi dengan sejumlah inovasi
P
teknologi yang bersifat teknis dan kelembagaan (hardware dan software technology) sebagai fasilitas yang diberikan oleh pemerintah kepada para pelaku utama dan pelaku usaha sistem produksi padi (Hermawan, 2018).
Pelaksanaan program UPSUS padi, yang diatur berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 03 tahun 2015, mencakup pengembangan jaringan irigasi, optimasi lahan, perluasan areal tanam (PAT), gerakan penerapan pengelolaan tanaman terpadu (GP-PTT), System of Rice Intensification (SRI), bantuan benih/bibit, alat dan mesin pertanian, pengendalian organisme pengganggu tanaman/OPT, subsidi benih, pupuk, premi asuransi pertanian, dan pengawalan/pendampingan petani. Hermawan (2016) selanjutnya mengklasifikasikan kegiatan UPSUS padi menjadi tiga, yaitu: (1) perluasan areal usahatani dan peningkatan skala usaha; (2) perbaikan teknologi untuk meningkatkan produktivitas usahatani padi; dan (3) pendampingan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan memperkecil senjang hasil.
Pendampingan hingga di tingkat petani/lapangan dilakukan oleh staf struktural dan fungsional dari seluruh jajaran Kementerian Pertanian untuk mendukung pelaksanaan program UPSUS. Kementerian Pertanian juga secara aktif bekerja sama dengan melibatkan TNI AD dan Perguruan Tinggi dalam melakukan pendampingan. Pengawalan dan pendampingan menjadi unsur penting dalam menggerakkan petani dalam UPSUS (Busyra, 2016). Pendamping dipandang sangat vital karena peran aktifnya sebagai komunikator, fasilitator, adviser, motivator, edukator, organisator dan dinamisator petani (Wahyudi, 2015). Analisis Wahyudi (2015) di Kota Padangsidimpuan menunjukkan bahwa tingkat partisipasi petani yang mendapat pendampingan pada kegiatan UPSUS lebih besar daripada petani yang tidak mendapatkan pendampingan.
Persepsi petani terhadap peran tenaga pendamping pada program UPSUS dari kalangan Perguruan Tinggi di Kabupaten
Peluang Teknologi Jajar Legowo Super sebagai Teknologi Unggulan… (Hermawan A dan Harwanto) |5
Nagan Raya, dilaporkan positif (Irmayanda, Azhar and Zakiah, 2011).
Terlepas dari beberapa permasalahan di lapangan terkait dengan pelaksanaan UPSUS, program UPSUS Pajale dilaporkan telah berhasil meningkatkan produksi padi dari 70,8 juta ton pada tahun 2014 menjadi 75,4 dan 81,4 juta ton pada tahun 2015 dan 2017. Menurut BPS, Indonesia juga surplus beras sebanyak 2,85 juta ton selama 2018. Berdasarkan hasil analisis Angka Tetap (ATAP) luas tanam, produktivitas, dan produksi padi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2010-2014 (sebelum pelaksanaan UPSUS) dan tahun tahun 2015-2017 (setelah pelaksanaan UPSUS), program UPSUS Pajale cukup efektif dalam meningkatkan luas tanam, produktivitas, dan produksi padi. Rata-rata luas panen, produktivitas, dan produksi padi antara sebelum dan segtelah UPSUS di Provinsi Jawa Tengah meningkat masing-masing sebesar 9,23 %; 5,18 %; dan 14,98 %.
Pelaksanaan program UPSUS bukan berarti berjalan tanpa kendala. Permasakahan yang ditemukan misalnya adalah waktu pendampingan terlalu pendek, bantuan alat mesin pertanian belum tepat guna, kualitas benih bantuan kurang baik, target luas tambah tanam terlalu tinggi serta PPL dan petani belum memahami teknologi (Nugroho et al., 2017). Hamyana dan Romadi (2017) mengemukakan terjadinya konflik sosial di antara masyarakat desa sebagai dampak dari bantuan alsintan dalam UPSUS.
URGENSI MERANCANG PROGRAM PASKA UPSUS PADI Pada tahun 2019, bertepatan dengan akhir masa kerja Kabinet Kerja, secara efektif program UPSUS sudah berjalan lebih dari empat tahun. Menjadi pertanyaan kapan program UPSUS ini perlu diakhiri dan segera dirancang dan dimulai kembali program peningkatan produksi padi yang baru. Untuk program
baru tersebut, apa teknologi unggulan yang prospektif untuk diterapkan secara massal.
Berdasarkan hasil analisis terhadap seluruh program peningkatan produksi padi di Indonesia (data deret waktu tahun 1961-2018), peluncuran suatu program secara nyata telah meningkatkan luas panen, produktivitas, dan produksi padi (Tabel 1). Akan tetapi setelah beberapa tahun program berjalan, laju peningkatan luas panen, produktivitas, dan produksi padi akan menurun (Hermawan, 2018). Laju penurunan tidak mengikuti model linier, tetapi terjadi lebih cepat dan mengikuti model inversi (Gambar 1).
Tabel 1. Perkembangan luas panen, produktivitas, dan produksi pada setiap program peningkatan produksi padi di Indonesia (data tahun 1961-2018)
Program Tahun
mulai
Luas Panen (000 ton)
Produktivitas (kw/ha)
Produksi (000 ton) Rata-
rata
Simpa ngan baku
Rata- rata
Simpa ngan baku
Rata- rata
Simpan gan baku Padi sentra 1958 6.962,8 236,5 17,6 0,3 12.250,0 580,2 Bimas (Bimbingan
Massal)
1965 7.511,3 182,0 17,7 0,1 13.300,0 360,6
Inmas (Intensifikasi Program Bimas Secara Massal)
1968 8.017,2 5,1 21,9 0,8 17.600,0 565,7
Bimas Gotong Royong
1969 8.422,5 296,2 26,5 2,1 22.390,0 2.419,1
INSUS (Intensifikasi Khusus)
1979 9.456,0 426,4 37,4 2,6 35.457,1 3.679,2
Supra Insus 1987 10.488,9 436,4 42,5 1,3 44.685,7 3.025,1 SUTPA (Sistem
Usahatani Berbasis Padi dengan Orientasi Agribisnis)
1994 11.233,3 472,6 43,7 0,4 49.133,3 2.302,9
INBIS (Intensifikasi Berwawasan Agribisnis)+ Gema
1997 11.620,0 342,1 43,3 1,0 50.380,0 1.112,2
Peluang Teknologi Jajar Legowo Super sebagai Teknologi Unggulan… (Hermawan A dan Harwanto) |7
Program Tahun
mulai
Luas Panen (000 ton)
Produktivitas (kw/ha)
Produksi (000 ton) Rata-
rata
Simpa ngan baku
Rata- rata
Simpa ngan baku
Rata- rata
Simpan gan baku Palagung (Gerakan
Mandiri Padi, Kedelai dan Jagung) + CF (Corporate Farming) PKP(Proyek Ketahanan Pangan) + P3T (Peningkatan Produktivitas Padi Terpadu)
2000 11.700,0 187,1 45,5 0,6 53.280,0 1.375,5
P2BN-PTT (Program Peningkatan Produksi Beras Nasional- Pengelolaan Tanaman Terpadu)
2007 12.760,0 536,7 49,2 1,3 62.840,0 3.964,0
Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL PTT)
2009 13.666,7 230,9 51,4 0,1 70.415,5 1.161,6
Upaya Khusus Padi, Jagung, Kedelai (UPSUS Pajale)
2015 15.240,6 836,4 52,4 0,8 79.734,6 3.258,7
Setelah peluncuran program dan program berjalan selama beberapa tahun, laju peningkatan luas panen, produktivitas, dan produksi padi menurun dengan cepat (Hermawan, 2018).
Beberapa tahun kemudian, laju peningkatannya akan cenderung stabil/stagnan. Bila dibandingkan antara penurunan laju peningkatan luas panen, produktivitas, dan produksi padi, laju peningkatan produksi padi masih lebih tinggi dibandingkan dengan laju perubahan produktivitas dan luas areal panen. Dapat dipahami karena produksi pada hakekatnya adalah hasil perkalian antara produktivitas dan luas panen.
Gambar 1. Laju peningkatan luas panen, produktivitas, dan produksi padi pasca peluncuran program
Berdasarkan hasil analisis di atas, laju peningkatan luas panen, produktivitas, dan produksi padi pada program UPSUS Pajale pada tahun 2019 sudah menurun. Oleh karena itu, sudah saatnya disusun dan disiapkan rancangan program peningkatan produksi padi sebagai pengganti program UPSUS Pajale.
Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian perlu menyiapkan teknologi unggulan yang siap untuk diterapkan pada program peningkatan produksi yang baru tersebut.
Teknologi untuk meningkatkan produktivitas sangat mendesak karena tingginya laju konversi lahan pertanian. Menurut Swastika et al. (2007), upaya untuk mengkompensasi konversi lahan melalui peningkatan indeks pertanaman dan peningkatan mutu intensifikasi merupakan kebijakan strategis.
JAJAR LEGOWO SUPER SEBAGAI INOVASI TEKNOLOGI PROSPEKTIF
Setiap program peningkatan produksi padi selalu dilengkapi dengan suatu inovasi. Inovasi dipahami sebagai sesuatu yang
Peluang Teknologi Jajar Legowo Super sebagai Teknologi Unggulan… (Hermawan A dan Harwanto) |9
baru oleh seseorang/individu pada satu kelompok masyarakat, walaupun bagi individu/kelompok di komunitas masyarakat lain sudah lama dikenal. Inovasi ini dapat berupa sebuah ide, praktek, atau obyek tertentu (Rogers, 1983).
Salah satu inovasi teknologi dari Badan Penelitian Pengembangan Pertanian yang telah dikembangkan dan diterapkan secara luas untuk meningkatkan mutu intensifikasi dalam rangka meningkatkan produksi padi adalah pengelolaan tanaman dan sumber daya terpadu (PTT) (Swastika et al., 2007).
PTT bersifat spesifik lokasi dan partisipatif, sangat berbeda dengan pendekatan dalam sistem intensifikasi seperti BIMAS, INMAS, INSUS sampai SUPRA-INSUS, yang bersifat paket dan cenderung diberlakukan secara umum di semua lokasi yang sarat dengan inisiasi petugas (top-down) (Sembiring and Abdulrachman, 2008).
Menurut sifatnya, komponen teknologi PTT dapat dikelompokkan menjadi komponen teknologi dasar (compulsory) yang dapat berlaku umum untuk wilayah yang luas, dan komponen teknologi pilihan yang lebih bersifat spesifik lokasi.
Komponen teknologi dasar meliputi: (1) penggunaan varietas modern (varietas unggul baru); (2) bibit bermutu dan sehat; (3) pemupukan yang efisien; dan (4) pengendalian hama secara terpadu/PHT. Komponen teknologi pilihan meliputi: (1) optimalisasi populasi dan cara tanam (misalnya legowo dan jarak bujur sangkar/tegel); (2) umur bibit; (3) penggunaan bahan organik/pupuk kandang/amelioran; (4) perbaikan aerasi tanah dengan irigasi berselang; (5) penggunaan pupuk cair, pupuk organik, pupuk biohayati, ZPT, dan pupuk mikro; dan (6) penanganan panen dan pascapanen. Dalam prakteknya, komponen teknologi pilihan dapat menjadi teknologi dasar (Sembiring and Abdulrachman, 2008) apabila menurut hasil PRA memang diperlukan.
Berdasarkan komponen teknologi penyusun PTT di atas, jajar legowo (jarwo) merupakan salah satu yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Jajar legowo merupakan cara pengaturan jarak tanam, yang memungkinkan sebagian besar rumpun tanaman menjadi tanaman pinggir. Tanaman pinggir mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak, sehingga hasil gabahnya lebih tinggi dan kualitasnya lebih baik. Pada legowo 2:1, setiap dua baris tanaman diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak barisan dan jarak tanam dalam barisan dipersempit menjadi setengahnya (Ikhwani et al., 2013).
Percobaan di Balai Besar Penelitian Padi pada varietas- varietas yang adaptif (misalnya Inpari 14, 15, 18 dan 19) menunjukkan bahwa pertanaman rapat dengan sistem tanam jarwo terbukti meningkatkan produksi padi lebih tinggi dibandingkan cara tegel (Ikhwani et al., 2013). Berbagai hasil penelitian di lapangan juga menunjukkan sistem jarwo mampu meningkatkan produksi padi, walaupun peningkatannya bervariasi. Jamil et al. (2015) melaporkan peningkatan produktivitas padi pada sistem jarwo juga terjadi di lokasi lainnya, khususnya di Provinsi Kalimantan Tengah, Jambi, Sulawesi Tenggara, dan Riau yang lebih dari 40%, sementara di Pulau Jawa peningkatannya berkisar 14-23%.
Teknologi sistem tanam jajar legowo selanjutnya diintegrasikan dengan teknologi lain menjadi PTT. Hasil pengkajian di delapan BPTP menunjukkan bahwa penerapan PTT meningkatkan produktivitas padi menjadi 5,1-8,5 t/ha yang lebih tinggi dibandingkan capaian petani (berkisar antara 3,7-8,1 t/ha) (Sembiring dan Abdulrachman, 2008).
Pendekatan PTT dan jajar legowo selanjutnya dikembangkan lebih lanjut oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) menjadi jajar legowo super (jarwo super). Jarwo super merupakan sistem pertanian ramah lingkungan yang menerapkan teknologi budidaya secara terpadu berbasiskan jarak tanam jajar legowo (Wihardjaka, 2018). Lebih lanjut menurut
Peluang Teknologi Jajar Legowo Super sebagai Teknologi Unggulan… (Hermawan A dan Harwanto) |11
Husnain, Nursyamsi dan Syakir (2016) jarwo super merupakan terobosan yang mengintegrasikan berbagai teknologi Balitbangtan untuk meningkatkan produktivitas padi. Widiarta (2016) dan Wijaya et al. (2016) menyatakan bahwa jarwo super merupakan inovasi teknologi budidaya padi terbaik saat ini dan direkomendasikan untuk meningkatkan produksi padi.
Paket teknologi jajar legowo super (jarwo super) terdiri dari sejumlah komponen teknologi, yaitu: (1) benih bermutu varietas unggul baru dengan potensi hasil tinggi; (2) biodekomposer pada saat pengolahan tanah; (3) pupuk hayati sebagai seed treatment dan pemupukan berimbang; (4) teknik pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT); dan (5) alat mesin pertanian terutama untuk tanam dan panen (Balitbangtan, 2016; Widiarta, 2016). Jamil dan Nyoman (2016) menyatakan pemupukan berimbang dalam jarwo super dilakukan berdasarkan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) dan pengendalian OPT menggunakan pestisida nabati dan pestisida anorganik berdasarkan ambang kendali. Sementara itu, Husnain et al. (2016) menekankan pentingnya pemanfaatan dekomposer M-Dec untuk mengelola limbah jerami agar dapat dimanfaatkan sebagai kompos serta pemanfaatan pupuk hayati dalam seed treatment (dengan Agrimeth) dan biopestisida untuk mengendalikan OPT.
Jarwo super pertama kali diperkenalkan di Indramayu pada tahun 2016 di lahan Demarea seluas 50 ha. Produktivitas jarwo super di Indramayu tersebut cukup tinggi, yaitu 12,4-14,7 ton GKP/ha (produktivitas padi petani 7,0 ton GKG/ha) (Balitbangtan, 2016). Menurut Balitbangtan (2016), apabila petani menerapkan teknologi jarwo super secara utuh, hasil minimalnya diyakini dapat mencapai 10 ton GKG/ha per musim. Pada tahun 2016, teknologi jajar legowo super dikembangkan ke 11 provinsi pada lahan seluas total 300 hektar (Republika Online, 2016) dan pada tahun 2017, jarwo super dikaji pada seluas 10 ribu hektar lahan di 10 provinsi di 40 kabupaten .
Tabel 2. Capaian produktivitas jarwo super di beberapa lokasi di Indonesia
Lokasi Waktu Produktivitas (ton/ha) Sumber Eksisting Jarwo super
Kabupaten Indramayu, Jawa Barat
2016 7,0 ton GKG/ha
12,4-14,7 ton GKP/ha
Balitbangtan (2016)
Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah
Juni - Oktober
2017
Rata-rata:
4,63 Potensi: 6,5
11,3 GKP (Inpari 36)
7,2 GKP (Inpari 30)
Irmadamayanti et al. (2019)
Kecamatan Buay Madang Timur Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan
Agustus- November
2016
6,1 (Ciherang
dan Ciliwung)
7,7 (Inpari 30, 32, dan
33)
Hutapea and Sasmita (2017)
Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur
Juni - November
2016
6,3 (Ciherang,
Way apo buru)
8,0 – 9,0 (Inpari 30, 32 dan 33)
Sudaryono (2017)
Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, NAD
7,5 (Legowo)
9,5 Akhir, Azhar and Usman (2018)
Boyolali, Jawa Tengah
2016 (7,13 ton GKP/ha)
10,69 - 11,33 ton GKP/ha
Hartoyo (2019)
Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah
MT-3 tahun 2016
6,57 ton/ha) 7,41 - 8,50 ton/ha
Tota (2019)
Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Papua
MT-3 tahun 2016
8,5 ton/ha GKP (Inpari
33)
(Sinar Tani, 2017)
Pada Tabel 2 ditampilkan capaian produktivitas jarwo super di beberapa lokasi. Secara umum, produktivitas jarwo super yang dicapai tidak setinggi di Indramayu. Hasil analisis Puslitbangtan (2018) terhadap pelaksanaan jarwo super di 10 provinsi (NAD, Sumut, Sumsel, Lampung, Jabar, Jateng, Jatim, Kalsel, Sulsel, dan NTB) menunjukkan bahwa produktivitas padi petani yang
Peluang Teknologi Jajar Legowo Super sebagai Teknologi Unggulan… (Hermawan A dan Harwanto) |13
menerapkan jarwo super dengan VUB (Inpari 30, Inpari 32, Inpari 33) pada lahan seluas 10.000 ha juga mencapai 7,0 t/ha.
Capaian produksi ini lebih tinggi dibandingkan petani non jarwo super yang mencapai 5,9 t/ha. Capaian produksi yang lebih rendah dibandingkan target jarwo super (10 t/ha) terkait dengan tidak diterapkannya paket teknologi jarwo super secara utuh, yaitu paket teknologi yang diterapkan tidak sesuai dengan anjuran (pupuk dan pestisida), tanam pindah dilakukan manual (transplanter tidak tersedia), paket teknologi JS tidak diterapkan secara penuh (Agrimeth, M-Dec, Bioprotector, dan pupuk kimia) (Puslitbangtan, 2018).
Berdasarkan keragaan dan produktivitas jarwo super, paket teknologi ini cukup prospektif digunakan sebagai komponen teknologi unggulan. Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan. Teknologi yang diterapkan pada jarwo super, menurut petunjuk teknisnya, merupakan satu paket teknologi yang utuh. Hal ini berbeda dengan teknologi PTT yang diterapkan pada program sebelumnya. Penerapan inovasi teknologi PTT relatif lebih mudah diterapkan dan tingkat fleksibilitasnya lebih tinggi karena ada komponen teknologi pilihan. Petani dapat menerapkan teknologi yang paling sesuai dengan sumberdaya yang tersedia atau dapat disesuaikan dengan preferensinya.
Pada tahap massalisasi inovasi teknologi jarwo super, penekanan sebaiknya lebih ditujukan pada substansi teknologi.
Inventarisasi komponen teknologi yang secara substantif tidak berbeda dengan komponen teknologi jarwo super juga diperlukan agar ada berbagai pilihan bagi petani, sesuai ketersediaan teknologi atau sarana prasarana produksi di lokasi pengembangan. Oleh karena itu, pengkajian terhadap komponen penyusun teknologi jarwo super di berbagai agroekologi sangat penting untuk dilakukan untuk mengetahui sejauhmana
perbedaan dan capaian produksi alternatif komponen teknologi tersebut di lapangan.
STRATEGI DIFUSI TEKNOLOGI DAN PERCEPATAN ADOPSI
Menurut Edward (1988), inovasi adalah invensi yang telah diekspoitasi sedemikan rupa sehingga sehingga memberikan manfaat atau keuntungan atau invensi yang telah dikomersialisasikan atau diaplikasikan secara massal. Pada kasus jarwo super, nilai inovasi paket teknologi ini tinggi apabila telah diterapkan secara massal oleh petani.
Berkaca pada pengalaman diseminasi inovasi PTT, bagian tersulit dari usaha memperkenalkan konsep PTT adalah mengembangkan metode agar berbagai pihak/ pemangku kepentingan dapat memahami manfaat intensifikasi padi menggunakan teknologi PTT ini (Sembiring and Abdulrachman, 2008). Metode sekolah lapang dianggap sebagai pendekatan terbaik bagi metode alih teknologi kepada petani dan mempercepat proses adopsi (Jamal, 2009; Nurasa dan Supriadi, 2012). Sekolah lapang menjadi metode pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman petani terhadap PTT. Selanjutnya, berdasarkan hasil penelitian Jamal (2009) di Kediri dan Blitar, menyatakan bahwa secara umum syarat yang harus dipenuhi atau faktor utama penentu keberhasilan penerapan PTT adalah terlaksananya sekolah lapang (SL) yang baik dan ketersediaan tenaga pendamping.
Pendekatan SL untuk mendorong penerapan PTT perlu terus dilaksanakan. SL PTT ini berdampak positif terhadap pendapatan usahatani (Bananiek dan Abidin, 2013; Adnyana dan Kariyasa, 2006) dan meningkatkan produktivitas padi (Adnyana dan Kariyasa, 2006; Supriadi et. al., 2014; Nurasa dan Supriadi, 2012). Supriadi et al. (2014) juga melaporkan bahwa peningkatan produktivitas sebagai dampak dari pelaksanaan SL-PTT padi
Peluang Teknologi Jajar Legowo Super sebagai Teknologi Unggulan… (Hermawan A dan Harwanto) |15
sawah irigasi nonhibrida mencapai 0,5-1,3 ton/ha dan padi hibrida sekitar 0,8-2,02 ton/ha. Sementara itu, Nurasa dan Supriadi (2012) melaporkan produktivitas padi pada SL-PTT lebih tinggi dibandingkan non SL, dengan kisaran 119-130 persen (tahun 2010) dan 117-133 persen (tahun 2011).
Di lapangan, tingkat adopsi PTT cukup baik, walaupun belum sepenuhnya dilakukan secara utuh (Adnyana dan Kariyasa, 2006;
Supriadi et al., 2014). Penyebabkan adalah adanya beberapa permasalahan teknis dan kondisi sosial ekonomi petani. Hasil penelitian Bananiek dan Abidin (2013) di Kabupaten Konawe juga menunjukkan bahwa faktor sosial ekonomi berpengaruh nyata terhadap adopsi teknologi PTT padi sawah. Faktor-faktor tersebut meliputi pendidikan formal, pengalaman berusahatani, luas lahan garapan, jumlah tenaga kerja keluarga, pendapatan usahatani dan dukungan pembiayaan. Untuk mengatasi permasalahan lapang, Nurasa dan Supriadi (2012) menyarankan agar pemerintah menjamin kelancaran akses modal, akses informasi teknologi maupun pasar, serta ketersediaan benih dan pupuk sesuai kebutuhan petani.
Berdasarkan pada beberapa hal tersebut, massalisasi penerapan jarwo super dalam suatu program peningkatan produksi padi dapat menggunakan metode sekolah lapang. Pada SL PTT, setiap unit SL PTT terdiri dari satu hektar lahan Laboratorium Lapang/LL dan 24 hektar lahan petani (SL).
Dengan dipandu oleh penyuluh pertanian lapangan/PPL sebagai pendamping, LL dikelola oleh kelompok tani sebagai media untuk belajar teknologi PTT padi secara bersama. Pendampingan dilakukan dalam bentuk pertemuan dan praktek di lapangan.
Petani selanjutnya menerapkan teknologi PTT yang diperolehnya di lahan masing-masing. Karena berbagai keterbatasan, dalam prakteknya LL dan SL berjalan hampir berbarengan. Akan lebih baik apabila LL dilaksanakan terlebih dahulu. Setelah petani
memahami substansi teknologi, baru kemudian menerapkannya di lahan masing-masing.
PENUTUP
Sistem produksi padi sejak beberapa tahun terakhir terdampak oleh terjadinya pemanasan global (Widiarta, 2016).
Kondisi ini mendorong mendesaknya pengembangan dan penerapan teknologi. Jarwo super dipandang cukup handal untuk diterapkan secara massal untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Paket teknologi jarwo super, yang mengintegrasikan berbagai komponen teknologi penyusun andalan dari Balitbangtan, terbukti mampu meningkatkan produksi padi secara nyata.
Untuk mengatasi belum siapnya ketersediaan beberapa komponen teknologi di lapangan, perlu pengkajian terhadap alternatif komponen teknologi penyusun jarwo super. Komponen teknologi menyangkut varietas unggul baru dengan potensi hasil tinggi spesifik lokasi, penggunaan biodekomposer, pupuk hayati sebagai seed treatment dan pemupukan berimbang, pengendalian OPT, dan penggunaan alsintan untuk tanam dan panen.
Teknologi penyusun alternatif tersebut akan memberikan kesempatan bagi petani untuk memilih teknologi yang paling sesuai dengan sumberdaya yang tersedia.
Pada tahap sosialisasi jarwo super, susbtansi teknologi penyusun jarwo super perlu mendapat penekanan lebih banyak.
Pemahaman petani terhadap substansi teknologi akan mendorong petani untuk berupaya semaksimal mungkin menerapkan teknologi jarwo super secara penuh. Untuk percepatan difusi dan adopsi teknologi jarwo super, metode sekolah lapang (SL), sebagaimana yang digunakan pada program SL PTT, dapat digunakan. Akan tetapi sebaiknya dalam pelaksanaannya ada jeda waktu antara LL dan SL. Dalam hal ini LL dilaksanakan terlebih dahulu, baru disusul dengan SL.
Peluang Teknologi Jajar Legowo Super sebagai Teknologi Unggulan… (Hermawan A dan Harwanto) |17
DAFTAR PUSTAKA
Adnyana, M. O. dan Kariyasa, K. (2006) ‘Dampak dan Persepsi Petani terhadap Penerapan Sistem Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Sawah’, Penelitian Pertanian Tanaman Pangan, 25(1), pp. 21–29.
Akhir, A. Y., Azhar dan Usman, M. (2018) ‘Analisis Perbandingan Produksi dan Pendapatan Usahatani Jajar Legowo dan Jajar Legowo Super Di Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar’, Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Unsyiah, 3(4), pp. 563–
576.
Balitbangtan (2016) Petunjuk Teknis Budidaya Padi Jajar Legowo Super. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.
Bananiek, S. dan Abidin, Z. (2013) ‘Faktor-Faktor Sosial Ekonomi yang Mempengaruhi Adopsi Teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Sawah di Sulawesi Tenggara’, Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, 16(2), pp. 111–121.
Busyra, R. G. (2016) ‘Dampak program Upaya Khusus (UPSUS) Padi Jagung Kedelai (PAJALE) pada komoditas padi terhadap perekonomian Kabupaten Tanjung Jabung Timur’, Jurnal Media Agribisnis (MeA), 1(1), pp. 12–27.
Edward, B. (1988) ‘Managing invention and innovation’, Research Technology Management, 31(1), pp. 11–29.
Hamyana dan Romadi, U. (2017) ‘Pembangunan dan konflik sosial (Studi etnografi implementasi program Upaya Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai di Kabupaten Bondowoso-Jawa Timur)’, Agriekonomika, 6(2), pp.
108–119. doi: 10.21107/agriekonomika.v6i2.1959.
Hermawan, A. (2016) ‘Tinjauan teori ekonomi program UPSUS padi, jagung, dan kedelai’, in Hermawan, A. et al. (eds) TEORI, STRATEGI, DAN IMPLEMENTASI PENDAMPINGAN PROGRAM PENINGKATAN PRODUKSI PANGAN. Jakarta:
IAARD PressJ, pp. 7–35.
Hermawan, A. (2018) ‘Peran Teknologi dalam Program Peningkatan Produksi Padi’, in Hermawan, A., Pramono, J., dan Ambarsari, I. (eds) Inovasi Teknologi Spesifik Lokasi untuk Meningkatkan Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai. Jakarta:
IAARD PRESS, pp. 49–85.
Husnain, Nursyamsi, D. dan Syakir, M. (2016) ‘Teknologi Pemupukan Mendukung Jarwo Super’, Jurnal Sumberdaya Lahan, 10(2), pp. 1–10.
Hutapea, Y. dan Sasmita, P. (2017) ‘Persepsi Petani dan Prospek Budidaya Padi Jajar Legowo Super di Oku Timur’, in Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Teknologi Pertanian. Lampung:
Politeknik Negeri Lampung, pp. 212–221.
Ikhwani et al. (2013) ‘Peningkatan Produktivitas Padi Melalui Penerapan Jarak Tanam Jajar Legowo’, IPTEK Tanaman Pangan, 8(2), pp. 72–79.
Irmadamayanti, A. et al. (2019) ‘Penampilan padi VUB Inpari 30 dan Inpari 36 pada pertanaman sistem jarwo super lahan irigasi di Kabupaten Sigi , Sulawesi Tengah’, PROS SEM NAS MASY BIODIV INDON, 5(2), pp. 267–270. doi:
10.13057/psnmbi/m050221.
Irmayanda, D., Azhar dan Zakiah (2011) ‘Persepsi petani terhadap peran tenaga pendamping mahasiswa / alumni persepsi petani terhadap peran tenaga pendamping mahasiswa/alumni pada program Upaya Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung, Kedelai pada program Upaya Khusus
Peluang Teknologi Jajar Legowo Super sebagai Teknologi Unggulan… (Hermawan A dan Harwanto) |19
Peningkatan Produksi Padi’, Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Unsyiah, 1(1), pp. 481–487.
Jamal, E. (2009) ‘Telaahan Penggunaan Pendekatan Sekolah Lapang Dalam Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi : Kasus di Kabupaten Blitar dan Kediri, Jawa Timur’, Analisis Kebijakan Pertanian, 7(4), pp. 337–349.
Jamil, A. et al. (2015) ‘Pembangunan Pertanian Berbasis Persawahan dalam Perspektif Ekoregion’, in Pasandaran, E. et al. (eds) PEMBANGUNAN PERTANIAN BERBASIS EKOREGION. Jakarta: IAARD Press, pp. 115–139.
Jamil, A. dan Nyoman, I. (2016) ‘Inovasi Teknologi Tanaman Pangan Mendukung Program Upsus Pajale’, in Muslimin et al.
(eds) Prosiding Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian, Banjarbaru, 20 Juli 2016. Bogor: Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, pp. 48–57.
Nugroho, A. D. et al. (2017) ‘Pelaksanaan program upaya khusus (UPSUS) swasembada pangan di Kabupaten Wonosobo Provinsi Jawa Tengah’, Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (Indonesian Journal of Community Engagement), 3(1), pp. 1–17.
doi: 10.22146/jpkm.27345.
Nurasa, T. dan Supriadi, H. (2012) ‘Program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) Padi: Kinerja dan Antisipasi Kebijakan Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan’, Analisis Kebijakan Pertanian, 10(4), pp. 313–329.
Puslitbangtan (2018) ‘Kelayakan Sosial Ekonomi Inovasi Padi Jarwo Super di 10 Provinsi’, Pusat Penelitian dan Pengembangan
Tanaman Pangan. Available at:
http://pangan.litbang.pertanian.go.id/berita-929-kelayakan- sosial-ekonomi-inovasi-padi-jarwo-super-di-10-provinsi.html.
Republika Online (2016) ‘Jajar Legowo Super Dikembangkan ke 11
Provinsi’, 18 April. Available at:
https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/04/1 8/o5tqwz219-jajar-legowo-super-dikembangkan-ke-11- provinsi.
Rogers, E. M. (1983) Diffusison of Innovations. 3 rd, Elements of Diffusion. 3 rd. The Free Press. doi: citeulike-article-id:126680.
Sembiring, H. dan Abdulrachman, S. (2008) ‘Potensi Penerapan dan Pengembangan PTT dalam Upaya Peningkatan Produksi Padi’, Iptek Tanaman Pangan, 3(2), pp. 145–155.
Sinar Tani (2017) ‘Jarwo Super Menyulap Merauke Jadi Lumbung
Pangan’. Available at:
https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/teknologi/4888- jarwo-super-menyulap-merauke-jadi-lumbung-pangan.
Sudaryono, T. (2017) ‘Dissemination on Rice ’ s New High Yielding Variety Through Demonstration Farming of Jajar Legowo Technology in East Java’, J-PAL, 8(2), pp. 98–104.
Supriadi, H., Rusastra, I. W. dan Ashari (2014) ‘Strategi Pengembangan Program SL-PTT Padi: Kasus di Lima Agroekosistem’, Analisis Kebijakan Pertanian, 13(1), pp. 1–17.
Swastika, D. K. . et al. (2007) ‘Analisis Kebijakan Peningkatan Produksi Padi melalui Efisiensi Pemanfaatan Lahan Sawah di Indonesia’, Analisis Kebijakan Pertanian, 5(1), pp. 36–52.
Wahyudi, D. (2015) ‘Urgensi pendampingan terhadap tingkat partisipasi petani dalam pelaksanaan program swasembada dan swasembada berkelanjutan di Kota Padangsidimpuan’, Agrica Ekstensia, 10(1), pp. 57–63.
Widiarta, I. N. (2016) ‘Teknologi Pengelolaan Tanaman Pangan dalam Beradaptasi Terhadap Perubahan Iklim pada Lahan Sawah’, Jurnal Sumberdaya Lahan, 10(2), pp. 91–102.
Peluang Teknologi Jajar Legowo Super sebagai Teknologi Unggulan… (Hermawan A dan Harwanto) |21
Wihardjaka, A. (2018) ‘Penerapan Model Pertanian Ramah Lingkungan sebagai Jaminan Perbaikan Kuantitas dan Kualitas Hasil Tanaman Pangan’, Pangan, 27(2), pp. 155 – 164.
Wijaya, I. G. M. A. S., Widyantara, I. W. and Dewi, I. A. L. (2016)
‘Efektivitas alokasi input usahatani padi dalam Program Upsus Pajale di Subak Gadungan Delod Desa, Desa Gadungan, Kabupaten Tabanan’, E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata, 5(3), pp. 527–537.
BAB I
PAKET TEKNOLOGI JAJAR LEGOWO
SUPER
Peningkatan Produksi Padi melalui Jajar Legowo Super (Paket, Komponen dan Adopsi Teknologi) |25
adi/beras merupakan salah satu komoditas pangan pokok masyarakat Indonesia. Komoditas padi/beras juga berperanan penting dalam menyerap sebagian besar tenaga kerja dan menjadi penggerak perekonomian di perdesaan. Karena perannya yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia, tidak mengherankan jika komoditas padi/beras selalu mendapat perhatian pemerintah dan bahkan menjadi salah satu komoditas politik. Pemerintah Indonesia dari tahun ke tahun selalu menetapkan kebijakan pencapaian swasembada pangan, khususnya padi/beras.
Indonesia menghadapi berbagai tantangan untuk mempertahankan swasembada beras, yaitu tingginya pertumbuhan populasi penduduk, konversi lahan, meningkatnya kompetisi antar usahatani, keterbatasan sumberdaya air, dan perubahan iklim global. Namun demikian peluang untuk meningkatkan produktivitas masih terbuka. Berdasarkan angka produktivitas pada tahun 2015, masih terdapat kesenjangan yang masih sangat lebar antara produktivitas riil di tingkat petani dan potensi hasilnya (ATAP BPS, Badan Pusat Statistik, 2015). Hasil panen antar provinsi juga masih bervariasi, mulai dari 2,28 hingga 6,21 ton GKG/ha.
Upaya untuk menghadapi berbagai tantangan dan mengurangi kesenjangan produktivitas padi hanya dapat diatasi melalui berbagai terobosan teknologi. Teknologi merupakan syarat mutlak dalam pembangunan pertanian (Mosher et al., 2003). Tanpa adanya perubahan teknologi, pembangunan pertanian dapat terhenti. Pembangunan pertanian yang terhenti menyebabkan peningkatan produksi tidak dapat diwujudkan, kesuburan tanah menurun dan kerusakan tanah akibat hama penyakit semakin meluas.
Inovasi teknologi dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas untuk mencapai tujuan
P
swasembada padi. Oleh karenanya untuk meningkatkan produksi dan produktivitas padi, teknik budidaya terus disempurnakan dari waktu ke waktu. Awalnya, pemerintah berupaya untuk meningkatkan produksi dan produktivitas padi/beras dengan pendekatan sistem intensifikasi yang bersifat paket dan cenderung seragam di semua lokasi tanpa memperhatikan karakteristik lokasi setempat. Berbagai upaya peningkatan produksi atau produktivitas padi/beras tersebut diantaranya seperti BIMAS, INMAS, INSUS hingga SUPRA- INSUS. Namun demikian, upaya ini dianggap masih belum cukup dalam memenuhi kebutuhan beras penduduk Indonesia.
Pemerintah kemudian mulai melihat kemungkinan untuk mengembangkan pertanian ke daerah lainnya yang selama ini dianggap tidak sesuai untuk pertanaman padi melalui program ekstensifikasi pertanian. Upaya ekstensifikasi tersebut mendorong Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian untuk dapat menghasilkan berbagai teknologi pertanian yang sesuai dengan karakteristik lokasi pertanaman atau spesifik lokasi. Teknologi tersebut antara lain: varietas unggul baru (VUB), sistem budidaya (termasuk perbaikan pola tanam dan sistem tanam jajar legowo), aplikasi pemupukan sesuai rekomendasi status hara lahan, pengendalian hama penyakit, serta alat mesin pertanian untuk menekan kehilangan hasil. Balitbangtan juga mengembangkan inovasi pengelolaan pertanaman terpadu (PTT) padi.
Berbagai inovasi teknologi tersebut kemudian diintroduksikan ke petani oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Ditjen TP) dalam bentuk Sekolah Lapang-Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) (Balitbangtan Kementerian Pertanian, 2016). Komponen teknologi penyusun PTT terus mengalami penyempurnaan hingga akhirnya dihasilkan paket teknologi jajar legowo super.
Jajar legowo super pertama kali diperkenalkan di Indramayu pada tahun 2016 di lahan Demarea seluas 50 ha, sedangkan di Provinsi Jawa Tengah diperkenalkan pada tahun 2016 melalui
Peningkatan Produksi Padi melalui Jajar Legowo Super (Paket, Komponen dan Adopsi Teknologi) |27
BPTP Jawa Tengah. Teknologi jajar legowo super merupakan teknologi budidaya terpadu padi sawah berbasis tanam jajar legowo 2:1 (Balitbangtan Kementerian Pertanian, 2016).
Fokus inovasi teknologi jajar legowo super yang berbasis pola tanam didasarkan pada pertimbangan bahwa jarak tanam menentukan populasi tanaman di lapangan. Jarak tanam dan orientasi tanaman di lapangan mempengaruhi enam proses penting, yaitu: (1) penangkapan radiasi surya oleh individu tanaman, terutama daun untuk fotosintesis, (2) efektivitas penyerapan hara oleh akar tanaman, (3) kebutuhan air tanaman, (4) sirkulasi udara terutama CO2 untuk fotosintesis dan O2 untuk hasil fotosintesis, (5) ketersediaan ruang yang menentukan populasi gulma, dan (6) iklim mikro (kelembaban dan suhu udara) di bawah kanopi, yang juga berpengaruh terhadap perkembangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Keenam faktor tersebut berpengaruh terhadap kualitas pertumbuhan individu rumpun tanaman padi (Makarim et al., 2005).
Sistem tanam jajar legowo dan jajar legowo super berbeda dalam hal teknologi yang diterapkannya. Teknologi Jajar Legowo Super dicirikan oleh penggunaan: (1) benih bermutu varietas unggul baru dengan potensi hasil tinggi, (2) biodekomposer yang diberikan bersamaan dengan pengolahan tanah (pembajakan ke dua), (3) pupuk hayati sebagai seed treatment dan pemupukan berimbang berdasarkan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS), (4) pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) menggunakan pestisida nabati dan pestisida anorganik berdasarkan ambang kendali, dan (5) alat mesin pertanian terutama untuk tanam (jarwo transplanter) dan panen (combine harvester) (Balitbangtan, 2016).
Penerapan teknologi pada sistem tanam jajar legowo tersebut menyebabkan sistem tanam jajar legowo menjadi unggul dalam beberapa hal. Pemberian biodekomposer pada saat pengolahan tanah ke dua mampu mempercepat pengomposan jerami.
Pemberian pupuk hayati sebagai seed treatment dapat
menghasilkan fitohormon (pemacu tumbuh tanaman), menambat nitrogen dan melarutkan fosfat yang sukar larut serta meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah. Peggunaan pestisida nabati yang efektif dapat mengendalikan hama tanaman padi seperti WBC, Keong Mas dan Walang Sangit.
Sementara itu, penggunaan alsintan diharapkan dapat membantu menghemat biaya tenaga kerja dan mengurangi kehilangan hasil panen (Balitbangtan, 2016).
Selain beberapa keunggulan pada sistem tanam jajar legowo super di atas, masih ada lagi beberapa keunggulan sistem tanam jajar legowo super. Hal ini dikaji secara mendalam pada bab ini.
Selain implementasi jajar legowo super di Kabupaten Boyolali dan Pemalang, bab ini membahas secara detil keunggulan dari setiap komponen teknologi jajar legowo super seperti dukungan varietas unggul yang baru dan jarak tanam. Bab ini juga membahas secara detil latar belakang pentingnya untuk menyatukan berbagai komponen teknologi inovasi badan litbang pertanian dalam satu paket teknologi jajar legowo super.
Keragaan pertumbuhan dan produksi… (Hartoyo B., J. Triastono, A. Supriyo) |29
KERAGAAN PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI PADA IMPLEMENTASI TEKNOLOGI JAJAR LEGOWO SUPER DI KABUPATEN BOYOLALI
Budi Hartoyo, Joko Triastono, Agus Supriyo
ertanian Indonesia dihadapkan pada tantangan peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan, serta perbaikan kesejahteran petani di tengah ancaman perubahan iklim global. Terobosan inovasi teknologi padi dibutuhkan untuk menghadapi tantangan tersebut. Kebutuhan beras sebagai bahan pangan utama semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Dengan laju pertambahan penduduk Indonesia sebesar 1,7% dan kebutuhan beras per kapita sebesar 134 kg, maka pada tahun 2025 Pemerintah harus menghasilkan padi sebanyak 78 juta ton GKG (Abdullah, 2004). Oleh karena itu, upaya peningkatan produksi beras melalui peningkatan produktivitas padi dan peningkatan pendapatan petani selalu dimasukkan dalam agenda kebijakan pemerintah di bidang pertanian.
Peluang peningkatan produktivitas masih terbuka.
Berdasarkan angka produktivitas tahun 2015 (ATAP BPS, Badan Pusat Statistik, 2015), senjang antara produktivitas riil di tingkat petani dibandingkan dengan potensi hasil masih sangat lebar.
Demikian juga senjang hasil padi secara nasional yang mencapai 5,34 ton GKG/ha, yang berasal dari perhitungan produktivitas padi di Pulau Jawa (6,06 ton/ha) dan luar Pulau Jawa (4,739 ton/ha). Selain itu masih terdapat variasi antar provinsi yang
P
berkisar 2,28-6,21 ton GKG/ha. Kesenjangan ini harus diisi dengan teknologi dan inovasi (Sembiring 2017).
Inovasi teknologi merupakan salah satu pilar penting dalam peningkatan produktivitas untuk mencapai tujuan swasembada padi. Saat ini, berbagai metode budidaya telah dikembangkan untuk meningkatkan produksi padi. Badan Litbang Pertanian juga telah menghasilkan berbagai inovasi teknologi produksi padi seperti: varietas berdaya hasil tinggi, sistem budidaya (termasuk perbaikan pola tanam), aplikasi pemupukan sesuai rekomendasi status hara lahan, pengendalian hama penyakit, serta alat mesin pertanian untuk menekan kehilangan hasil.
Seperti telah diketahui, varietas dan lingkungan tumbuh tanaman memegang peran penting untuk pencapaian hasil optimal. Sifat fisiologis dan morfologis spesifik suatu varietas akan memberikan pengaruh berbeda karena adanya pengaruh dari faktor lingkungan dan teknik budidaya. Selanjutnya produksi maksimum dari suatu varietas akan teraktualisasi bilamana berbagai aspek yang terkait dengan pengelolaan budidaya tersedia secara optimal. Dengan kata lain secara prinsip potensi hasil genetik suatu varietas padi atau hasil tertinggi/batas kemampuan suatu varietas padi dalam memproduksi gabah (produktivitas), akan dapat dicapai pada kondisi iklim “terbaik”
tanpa adanya faktor pembatas lingkungan tumbuh tanaman apapun (Kropff dan Lotz, 1992; Makarim et al., 2009).
Produksi padi, ditentukan oleh berbagai aspek, termasuk jarak tanam yang berimplikasi pada populasi tanaman di lapangan.
Jarak tanam dan orientasi tanaman di lapangan mempengaruhi enam proses penting, yaitu: (1) penangkapan radiasi surya oleh individu tanaman, terutama daun untuk fotosintesis, (2) efektivitas penyerapan hara oleh akar tanaman, (3) kebutuhan air tanaman, (4) sirkulasi udara terutama CO2 untuk fotosintesis dan O2 untuk hasil fotosintesis, (5) ketersediaan ruang yang menentukan populasi gulma, dan (6) iklim mikro (kelembaban dan suhu udara) di bawah kanopi, yang juga berpengaruh
Keragaan pertumbuhan dan produksi… (Hartoyo B., J. Triastono, A. Supriyo) |31
terhadap perkembangan organisme pengganggu tanaman (OPT).
Keenam faktor tersebut berpengaruh terhadap kualitas pertumbuhan individu rumpun tanaman padi (Makarim et al., 2005).
Berbagai hal di atas menjadi pertimbangan dalam pengembangan teknologi produksi padi. Teknologi produksi padi terkini yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian adalah teknologi jajar legowo super, yaitu teknologi yang memadukan penggunaan varietas unggul baru (VUB) berdaya hasil tinggi dengan sistem tanam Jajar Legowo 2:1, biodekomposer untuk mempercepat pengomposan jerami, pupuk hayati dan pemupukan berimbang, pestisida hayati, dan alat mesin pertanian (Badan Litbang Pertanian, 2016). Keragaan pertumbuhan dan produktivitas padi yang ditanam dengan menerapkan teknologi jajar legowo super di Desa Trayu dan Desa Tanjungsari, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, seluas 100 ha pada MT III tahun 2016, diuraikan di bawah ini.
PERTUMBUHAN VEGETATIF TANAMAN
Penerapan inovasi teknologi jarwo super pada lahan sawah irigasi meningkatkan pertumbuhan tanaman, terutama jumlah anakan produktif, secara nyata dibandingkan dengan teknologi eksisting/petani (Tabel 1). Jumlah anakan produktif per rumpun ketiga varietas unggul baru (VUB), baik Inpari 30, Inpari 32 maupun Inpari 33, mengalami peningkatan berturut-turut sebesar 25,7%; 37,0 % dan 31,0 % di atas teknologi petani/eksisting dengan varietas Situ Bagendit (jumlah anakan produktif 17,5 per rumpun). Hal ini disebabkan pada penerapan teknologi jarwo super terutama, pada fase persemaian dilakukan pemberian inokulan Agrimeth. Agrimeth merupakan pupuk hayati yang mengandung bakteri dan fungi multistrain yang dapat memperbaiki kualitas pertumbuhan bibit padi.
Pada penerapan teknologi jarwo super, pupuk hayati uang diberikan meningkatkan kualitas tanah. Saraswati (2007) menyatakan bahwa perbaikan kualitas tanah dapat dilakukan dengan pemanfaatan pupuk hayati. Pupuk hayati merupakan inokulan berbahan aktif organisme hidup atau laten dalam bentuk cair atau padat yang memiliki kemampuan untuk memobilisasi, memfasilitasi dan meningkatkan ketersediaan hara tidak tersedia menjadi bentuk tersedia melalui proses biologis (Simarmata et al., 2013). Pemanfaatan pupuk hayati yang sesuai dengan kondisi tanah juga telah meningkatkan efisiensi pemupukan anorganik, produktivitas tanah maupun tanaman, dan mengurangi bahaya pencemaran lingkungan serta merupakan alternatif yang murah untuk meningkatkan kesuburan tanah (Saraswati, 2013). Dari sisi tanaman, penggunaan pupuk hayati dapat mendukung pertumbuhan, perkembangan dan hasil padi sawah menjadi relatif lebih baik (Oladele dan Awodun, 2014; Aryanto et al., 2015).
Tabel 1. Keragaan VUB Padi melalui teknologi Jarwo super terhadap tinggi tanaman dan jumlah anakan produktif di Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, tahun 2016
Inovasi teknologi Varietas Tinggi tan saat panen (cm)*
Jml anakan produktif/rpn*
Teknologi Jarwo super
Inpari 30 92,50 ab 22,00 b
Inpari 32 92,00 a 24,00 c Inpari 33 99,75 bc 23,00 bc Teknologi eksisting*** Situbagendit 100,25 c 17,50 a
Nilai tengah 97,25 20,50
KK (%) 10,65 14,64
*) Rerata dari 10 petani tiap blok masing-masing petani diambil 10 tanaman contoh (ada blok)
**) angka sekolom yang diikuti dengan huruf yang sama, tidak berbeda menurut DMRT dengan taraf nyata 0,05
***) Tanam tegel, benih transpanting umur 27 hss, tidak ada seed treatment, jerami dibuang/dibakar tidak dimanfaatkan sebagai bahan organic, menggunakan dosis pupuk anorganik tinggi (Ponska : 300-350 kg/ha, Urea : 250-300 kg/ha, SP-36 : 100-150 kg/ha), Pengelolaan OPT dan gulma menggunakan bahan kimia sintesis.
Keragaan pertumbuhan dan produksi… (Hartoyo B., J. Triastono, A. Supriyo) |33
Aplikasi dekomposer M-Dec dapat meningkatkan proses dekomposisi sisa jerami padi musim tanam sebelumnya, sehingga terjadi perbaikan lingkungan rhizosfer dengan penambahan unsur hara melalui pemupukan menjadi lebih efektif diserap oleh tanah dan ketersediaan unsur hara terutama N, P dan K lebih meningkat. Hal ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh Marschner (1995) bahwa penggunaan “input”
berupa pupuk, khususnya fosfat yang tinggi dengan didukung oleh penambahan amelioran pupuk organik cenderung meningkatkan aktifitas jaringan (meristem) sel-sel muda terutama untuk pembentukan tunas.
Unsur P diperlukan terutama untuk meningkatkan aktivitas pembelahan meristem muda sehingga jumlah anakan yang terbentuk lebih banyak. Sementara itu, unsur kalium (K) diperlukan untuk transport hasil metabolisme ke bagian-bagian organ tanaman seperti tunas muda.
Hasil kajian menunjukkan bahwa tinggi tanaman saat panen berbeda antar varietas. Tinggi tanaman padi varietas Inpari 30 berbeda dengan Inpari 33. Demikian juga halnya dengan varietas eksisting yang digunakan oleh petani. Perbedaan ini diduga karena perbedaan sifat genetik dari masing-masing VUB padi.
Sesuai dengan pendapat Jamil et al. (2016), tinggi tanaman varietas Inpari 30 adalah 101 cm, sedangkan tinggi tanaman varietas Inpari 33 mencapai 93 cm, dan varietas Situbagendit antara 100 – 105 cm.
Anakan padi merupakan salah satu indikator pertumbuhan tanaman yang jumlahnya sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Jumlah anakan merupakan faktor genetis sehingga masing-masing varietas memiliki kemampuan membentuk anakan yang berbeda. Jumlah anakan padi pada fase vegetatif lebih dipengaruhi oleh sifat genetik tanaman dan tergantung pada sensitivitas dari varietas/galur harapan yang dibudidayakan terhadap lingkungan (Guswara dan Samaullah,
2009). Hasil penelitian Yuniar dan Jamil (2012) menunjukkan bahwa sistem tanam jajar legowo 2:1 memberikan tinggi tanaman dan jumlah anakan terbaik masing-masing adalah 96,65 cm dan 12,95 rumpun.
KERAGAAN HASIL PADI PADA PENERAPAN TEKNOLOGI JARWO SUPER
Varietas unggul merupakan teknologi yang dominan peranannya untuk meningkatkan produksi padi dunia (Las, 2004). Sumbangan peningkatan produktivitas varietas unggul baru terhadap produksi padi nasional cukup besar, yaitu sekitar 56% (Hasanuddin 2005; Deptan, 2007). Lebih lanjut menurut Fagi et al. (2001) interaksi antara varietas unggul baru, air irigasi, dan pemupukan berkontribusi sebesar 75% terhadap laju kenaikan produksi padi. Oleh karena itu varietas unggul merupakan salah satu teknologi inovatif yang handal untuk meningkatkan varietas padi, baik melalui peningkatan potensi atau daya hasil tanaman maupun melalui peningkatan ketahanan tanaman terhadap cekaman abiotik dan biotik (Suprihatno et al., 2011).
Berdasarkan hasil kajian, komponen hasil (jumlah gabah isi dan berat 1000 biji) dari VUB padi dengan penerapan teknologi jarwo super meningkat secara nyata dan di atas rata- rata teknologi eksisting/kontrol petani. Namun demikian, peningkatan komponen hasil tersebut berbeda antar varietas (Tabel 2). Peningkatan jumlah gabah per malai dari varietas Inpari 30, Inpari 32 dan Inpari 33 berturut-turut sebesar 6,30 %;
17,30 % dan 13,10 % diatas kontrol/teknologi eksisting (jumlah gabah 118,5 butir per malai). Sementara itu, jumlah gabah hampa per malai akibat penerapan teknologi Jarwo super berbeda antar varietas akan tetapi secara umum lebih rendah dibandingkan varietas Situbagendit dengan teknologi eksisting. Dalam hal ini padi Inpari 33 menghasilkan jumlah gabah hampa paling rendah yaitu 8,5 per malai dibandingkan dengan varietas padi Inpari 30
Keragaan pertumbuhan dan produksi… (Hartoyo B., J. Triastono, A. Supriyo) |35
dan Inpari 32. Sistem tanam jajar legowo 2:1 yang memberi kondisi barisan tanaman sebagai tanaman pinggir memberikan ruang yang lebih luas bagi cahaya matahari masuk pada rumpun tanaman akan memaksimalkan proses fotosintesis yang hasilnya digunakan dalam proses perkembangan generatif tanaman.
Terdapat ruang terbuka seluas 25-50% sehingga tanaman dapat menerima sinar matahari secara optimal (Abdulrachman et al., 2012). Sistem tanam jajar legowo 2:1 juga menekan kompetisi tanaman dalam mendapatkan unsur hara, kedua hal tersebut diduga menyebabkan perkembangan tanaman lebih optimal termasuk pengaruhnya terhadap pembentukan gabah isi pada malai yang lebih tinggi dan gabah hampa yang lebih sedikit dibandingkan sistem tanam tegel yang mana kompetisi tanaman dalam mendapatkan cahaya dan unsur hara lebih tinggi.
Tabel 2. Keragaan VUB Padi melalui teknologi Jarwo super terhadap komponen hasil padi di Banyudono, Kabupaten Boyolali MT III Th 2016
Inovasi teknologi Varietas Jml gabai isi/malai
Jml gabah hampa/malai
Berat 1000 biji (g) Teknologi Jarwo
super
Inpari 30 126,00 b 20,00 bc 27,10 a
Inpari 32 139,00 c 15,00 b 27,20 ab Inpari 33 134,00 bc 8,50 a 28,55 c Teknologi eksisting Situbagendit 118,50 a 21,00 c 27,45 b
Nilai tengah 124,25 16,25 27,62
KK (%) 16,80 19,45 12,36
*) Rerata dari 10 petani tiap blok masing-masing petani diambil 10 tanaman contoh (dari 3 blok)
**) angka sekolom yang diikuti dengan huruf yang sama, tidak berbeda menurut DMRT dengan taraf nyata 0,05
Penerapan teknologi jarwo super juga menghasilkan berat 1000 biji yang berbeda antar varietas. Varietas Inpari 33 memiliki ukuran biji yang paling besar sesuai dengan deskripsinya yaitu 28,6 g per 1000 biji (Jamil et al., 2016). Peningkatan ukuran biji (berat 1000 biji) melalui penerapan teknologi jarwo super untuk