• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengambil tindakan dan berkomunikasi dalam program CSR Coke Farm Jawa Timur

Dalam dokumen 4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN (Halaman 52-70)

4.5. Analisis dan Interpretasi Data

4.5.1. Analisis Tahapan Program CSR Coke Farm Jawa Timur

4.5.1.3. Mengambil tindakan dan berkomunikasi dalam program CSR Coke Farm Jawa Timur

Langkah ketiga adalah mengimplementasikan program aksi dan komunikasi yang didesain untuk mencapai tujuan spesifik untuk masing-masing publik dalam rangka mencapai tujuan program. Pertanyaan dalam langkah ini adalah “Siapa yang harus melakukan dan menyampaikannya, dan kapan, dimana, dan bagaimana caranya?”.

Dalam proses ini, peneliti membaginya dalam mengambil tindakan dan berkomunikasi yang dilakukan oleh Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dan Yayasan Satu Daun. Peneliti akan membahas terlebih dahulu mengenai

mengimplementasikan program aksi dan komunikasi dari Corporate Affairs CCAI Jawa Timur.

Corporate Affairs CCAI Jawa Timur mengimplementasikan program aksi dan komunikasi Coke Farm, Dalam hal ini Corporate Affairs Jawa Timur melakukan tindakan komunikasi yang salah satunya adalah dengan melakukan pengawasan terhadap implementasi program di lapangan. Dalam melakukan pengawasan ini dilakukan dengan melakukan pemantauan terhadap monthly report maupun weekly report yang dikirimkan oleh pihak LSM via e-mail. Monthly report/weekly report yang ada berisikan progress aktivitas yang dilakukan oleh LSM serta petani di lapangan. Didalam laporan ini, berisikan foto-foto gambaran pelaksanaan tugas dilapangan disertai keterangan-keterangan.

Selain itu, Corporate Affairs CCAI Jawa Timur juga seringkali melakukan kontak untuk bertanya mengenai kondisi program di lapangan melalui telepon. Untuk peninjauan atau pengawasan langsung ke lapangan memang tidak dilakukan secara rutin. Pengawasan dengan langsung turun kelapangan memang dilakukan ketika kebetulan ada kegiatan yang berlangsung di sekitar Pasuruan dan dilakukan secara insidentil. Pengawasan pada dasarnya merupakan langkah untuk mengumpulkan fakta, yang dapat dilakukan melalui peninjauan, laporan lisan, serta laporan tertulis (Iriantara, 2007, p.139). Disini terlihat bahwa dari Corporate Affairs CCAI Jawa Timur sendiri sudah melakukan pengawasan melalui laporan tertulis yang dikirimkan secara rutin oleh pihak LSM setiap bulan dan setiap minggu.

Selain itu, dilakukan peninjauan ke lapangan selama program tersebut berjalan hanya saja peninjauan yang dilakukan tidak secara rutin dan bisa dikatakan frekuensi kunjungan yang dilakukan sedikit. Hal ini dikarenakan jarak antara kantor Rungkut dengan lokasi Coke Farm yang bertempat di Desa Kertosari ini cukup jauh. Sehingga untuk pengawasan secara rutin cukup sulit bagi pihak Corporate Affairs mengingat mereka mempunyai tugas dan tanggung jawab lain dikantor yang harus juga dijalankan. Melalui pengawasan lewat monthly/weekly report, telepon, serta turun kelapangan, Corporate Affairs dapat memantau secara rutin kegiatan-kegiatan ataupun aktivitas apa saja yang berlangsung di lapangan. Sesuai dengan pernyataan Retno :

“kalau untuk pengawasan sendiri ya kita pantai lewat monthly report sama weekly report ya, berdasarkan itu kita lihat aktivitas apa aja yang sudah dijalankan, biasanya juga kita kasih rekomendasi atau saran buat pihak LSM misalnya ada kekurangan apa, yah kita berkomunikasi lewat situ juga kadang juga saya kontak-kontakan sama mas Fathur lewat via phone ya sebisa mungkin memang ada komunikasi terkait program. Kalau untuk turun langsung ke lokasi Coke Farm mungkin ga secara rutin karena kamu tau sendiri kan Lin jarak antara kantor dan disana cukup jauh. Sedangkan saya juga ada tugas lain yang harus saya jalankan. Kalau mungkin lokasinya dekat dengan plant saya bisa minta tolong orang pabrik untuk pantai tapi lokasinya memang cukup jauh.”. (Wawancara dengan Retno Koesdijarto, Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, 30 April 2012)

Upaya komunikasi serta pengawasan yang dilakukan oleh Corporate AffairsCCAI Jawa Timur ini memang dibenarkan oleh pihak LSM. Sesuai dengan pernyataan Fathur Rahman sebagai berikut :

“biasanya sih saya berkomunikasi sama Retno itu via telepon ya, biasanya dia tanya-tanya kondisi dilapangan seperti apa, apa yang lagi kita tanam, kita kan juga buat laporan tertulis ya bulanan maupun mingguan dan

e-mail. Dalam laporan itu kita kasih laporan apa saja yang ditanam, sudah panen berapa kali kemudian aktivitas apa saja yang kita lakukan. Kalau mungkin turun kelapangan sendiri memang agak jarang ya, insidentil sih, klo kebetulan dia ada acara di plant yah dia sempatkan kesini”. (Wawancara dengan Fathur, LSM Yayasan Satu Daun, 2 Mei 2012). Dalam hal ini, berarti Corporate AffairsCCAI Jawa Timur tetap melakukan komunikasi serta pengawasan dengan pihak LSM untuk memantau implementasi program ini sendiri. Namun, LSM juga sendiri merasa pihak Corporate Affairs Jawa Timur terkadang kurang tanggap dengan laporan yang diberikan via e-mail. Ini diperkuat dengan pernyataan Fathur Rahman sebagai berikut :

“ Cuma saya agak menyayangkan sih, terkadang itu saya kirim laporan ke Retno tapi ga dibales. Jadinya kan saya gatau laporannya nyampe ga diterima ga, apakah sudah dibaca. Mungkin memang sibuk, tapi sekedar say thanks atau jawab saya sudah terima kan gapapa, jadi saya tau sudah sampai, mungkin sekitar dua kali ya saya ga dibales dan saya udah pernah sampaikan kok sama yang bersangkutan”. (Wawancara dengan Fathur, LSM Yayasan Satu Daun, 2 Mei 2012).

Berdasarkan pernyataan Fathur Rahman ini, dalam hal ini, upaya komunikasi secara dua arah yang dilakukan oleh kedua belah pihak memang mengalami gangguan. Peneliti melihat ini terjadi karena kurang tanggapnya Corporate AffairsCCAI Jawa Timur dalam merespon laporan yang diberikan. Pada dasarnya, komunikasi antara kedua belah pihak perlu terjalin secara intensif untuk dapat memberikan pencapaian yang lebih baik. Peneliti melihat Corporate AffairsCCAI Jawa Timur perlu mengoptimalkan strategi komunikasi secara dua arah sehingga dapat mengoptimalkan koordinasi antara kedua belah pihak.

Disamping itu, LSM juga menuturkan bahwa setelah diadakan peresmian program Coke Farm, Corporate Affairs CCAI Jawa Timur sendiri jarang melakukan peninjauan secara langsung ke lapangan. Hal ini tentunya membuat pihak LSM merasa bahwa Coca-Cola tidak memberikan perhatian secara

maksimal kepada program tersebut. Hal ini dipertegas dengan pernyataan Fathur sebagai berikut :

“kalau kunjungan langsung sendiri jarang memang mba, kalo dulu pas sebelum launching katakanlah sebulan sekali nyempetin datang ya, tapi setelah launching, ketemu sama bupati, sama gapoktan ya setelah itu udah jarang”. (Wawancara dengan Fathur, LSM Yayasan Satu Daun, 2 Mei 2012).

Rahmatullah & Kurniati mengungkapkan melakukan refleksi dengan masyarakat, kader lokal, maupun perusahaan secara periodik untuk menyempurnakan kegiatan sebagai aktivitas monitoring (2011, p. 80). Peneliti melihat selama program Coke Farm berjalan belum dilakukan refleksi antara masyarakat, kader lokal yaitu LSM, serta pihak Corporate Affairs CCAI Jawa Timur. Pada dasarnya komunikasi antara pihak-pihak tersebut dibutuhkan karena akan sangat mempengaruhi berlangsungnya program itu sendiri. Dari hasil wawancara dengan Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, peneliti mendapati bahwa komunikasi kepada pihak petani tidak dilakukan secara langsung melainkan berkomunikasi kepada petani melalui LSM. Hal ini dikarenakan untuk meninjau performance petani dan program dilapangan dapat dipantau dan dikomunikasikan dengan Yayasan Satu Daun. Hal ini dipertegas dengan pernyataan Retno :

“kalau berkomunikasi dengan para petani secara langsung sih engga ya, tapi kita melalui LSM, jadi dalam hal ini LSM menjadi mediator antara pihak kita sama petani”. (Wawancara dengan Retno Koesdijarto, Manajer Corporate AffairsCCAI Jawa Timur sendiri, 30 April 2012).

Pernyataan Retno ini memang sesuai dengan kenyataan di lapangan, sesuai yang diungkapkan petani, bahwa Corporate Affairs CCAI Jawa Timur memang sering melakukan pemantauan ke lapangan tapi untuk melakukan komunikasi secara intensif dengan pihak petani hal ini memang tidak dilakukan, sesuai dengan pernyataan Hadi sebagai berikut :

“ya memang pernah ya mantau langsung ke sini, biasanya sih banyak berkomunikasinya sama Mas Fathur, kalau sama saya paling ya cuma tanya-tanya lagi nanam apa, sudah panen belum, trus ada kendala apa, kalau ada hama gimana, ya sebentar tok sih ga lama, biasanya datangnya cuma bentar trus pergi lagi. Biasanya sih banyaknya ketemu sama mas Fathur ya sama saya sih jarang ngomong-ngomongan, paling ya itu tadi non, tanyanya apay yang lagi ditanam, sudah panen berapa kali, kalau ngomong soal program ini sendiri, sama saya langsung gapernah ya, tapi pernah ngomong pas di Gapoktan gitu tentang program ini, jadi kebanyak orang, kalau ngomong satu-satu ga pernah”. (Wawancara dengan Hadi, 02 Mei, 2012)

Ini menunjukan bahwa tidak adanya komunikasi secara langsung antarpihak Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dengan petani secara sering tetapi lebih banyak dilakukan melalui pihak LSM sebagai mediator. Disamping itu, Fathur juga mengungkapkan bahwa dalam mensosialisasikan program Corporate Affairs CCAI Jawa Timur memang hanya mensosialisasikan itu tidak secara individual tetapi hanya kepada Gapoktan secara umum. Hal ini dinyatakan oleh Fathur sebagai berikut :

“Kalo ke petani yang melaksanakan program secara individual sih engga, tapi pas pembukaan sempat kayak presentasi didepan gapoktan sih..Jadi ya mungkin itu, coca-cola hanya memandang program ini ya gitu saja. Kalo saya memandangnya sih ya itu semua terjadi karena ya sebenarnya mereka mungkin merasa ga ada keterkaitan dengan program itu sendiri”. (Wawancara dengan Fathur, LSM Yayasan Satu Daun, 20 April 2012).

Salah satu faktor yang menyebabkan jarangnya pihak Corporate Affairs CCAI Jawa Timur melakukan komunikasi ataupun kunjungan langsung ke lapangan juga disebabkan oleh terbatasaya sumber daya manusia dalam Corporate Affairs CCAI Jawa Timur. Yang dimaksudkan dalam hal ini adalah, pihak Corporate Affairs Coca-Cola Jawa Timur hanya terdiri dari dua orang, sedangkan ada tugas tanggung jawab lain yang harus dijalankan selain pengawasan terhadap program Coke Farm mengingat program Coke Farm tidak

menjadi satu-satunya program yang harus dijalankan. Sesuai dengan pernyataan Retno sebagai berikut :

“Ya kamu tahu sendiri Lin, kalau disini cuma ada saya sama mas Oni, sedangkan kamu tahu tugas kita kan banyak, ngurusi monthly report, kunjungan ke plant, ada audit kadang-kadang ya jadi untuk pengawasan yang bener-bener maksimal sampai turun ke lapangan tiap hari ya engga ya, karena di sana kan udah ada Mas Fathur juga untuk pengelolaan di lapangan”. (Wawancara dengan Retno Koesdijarto, Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, 30 April 2012).

Dalam hal ini, sumber daya manusia dari Corporate Affairs CCAI Jawa Timur sendiri dapat dikatakan kurang untuk mengelola tanggung jawab serta program di lapangan. Peneliti melihat bahwa kekurangan sumber daya manusia ini membuat Corporate Affairs CCAI Jawa Timur mengalami kesulitan dalam membagi waktu untuk kunjungan langsung kepada program secara intensif. Adanya tugas-tugas lainnya menyebabkan pengawasan langsung secara program kurang. Seharusnya disamping bermitra dengan Yayasan Satu Daun, Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dapat melakukan penambaha SDM untuk mengelola setiap program-program CSR secara terpadu.

Disamping melakukan pengawasan kepada program, Corporate Affairs CCAI Jawa Timur juga melakukan peresmian program Coke Farm pada 22 Juni 2011 sebagai strategi komunikasi dari mereka peresmian dari program ini dilaksanakan bertepatan dengan hari Lingkungan Hidup. Dalam hal ini, peresmian program ini juga bertujuan untuk memberi informasi kepada publik internal dan internal tentang program Coke Farm itu sendiri. Dengan diresmikan program ini sendiri diharapkan adanya dukungan dari setiap pihak untuk keberlangsungan program ini.

“Kita adakan launching program Coke Farm ya, launching ini sendiri memang kita lakukan dengan harapan ada dukungan dari setiap pihak untuk program ini. Untuk launchingnya itu kita buat tanggal 22 Juni 2011 ya bertepatan sama hari bumi juga kebetulan. Dalam launching itu ya yang

hadir ada pihak Bupati Pasuruan, pihak Desa, Gapoktan, media, karang taruna, bahkan karang tarunanya juga ikut memberikan suguhan tarian. Disitu ada acara potong pita untuk peresmian, kemudian ada panen bersama ya untuk sayuran-sayuran yang ditanam,yah melalui hal ini kita harapkan adanya dukungan untuk program ini sendiri dari pemerintah setempat”. (Wawancara dengan Retno Koesdijarto, Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, 30 April 2012)

Gambar 4.9 Peresmian Program Coke Farm 22 Juni 2011.

Yayasan Satu Daun sendiri menilai bahwa dalam persiapan peresmian ini sendiri banyak dilakukan oleh mereka. Seperti terpenuhinya jumlah tanaman dan persiapan secara teknis dilapangan. Pernyataan Fathur sendiri mengungkapkan bahwa peran Satu Daun sangat besar dalam mengundang bupati, karang taruna, serta Gapoktan serta menyukseskan kegiatan ini. Seperti pernyataan Fathur berikut ini :

“ya kalau untuk launching itu memang kita sudah persiapkan ya, kalau dari Coca-Cola minta lahannya harus terisi semua sama tanaman sayuran, udah ada pembibitan, ya memang kita penuhi ya. Kemudian untuk mengundang semua pihak kayak bupati, karang taruna itu ya kita yang undang ya. Coba kalau Cola-Cola yang undang, pasti bayar, kayak bupati gitu kalau datang ada ongkosnya, biaya transport dan akomodasi, jadi semuanya kita yang urus ya terkait launching, kayak Gapoktan juga kita yang kumpulkan”. (Wawancara dengan Fathur, LSM Yayasan Satu Daun, 2 Mei 2012).

Berikut ini merupakan aktivitas yang dijalankan oleh LSM Satu Daun dalam mengimplementasikan aktivitas program ini dilapangan. Berikut ini adalah aksi yang dilakukan oleh Yayasan Satu Daun dalam implementasi program Coke Farm bersama para petani :

a. Melakukan pembimbingan kepada petani

Dalam hal ini, pihak LSM melakukan pembimbingan terhadap para petani yang terlibat program, pembimbingan yang dimaksudkan disini adalah memberikan pengetahuan dalam penggunaan teknologi. mengenalkan kepada para petani mengenai sayuran-sayuran organik serta tanaman holtikultura. Hal ini dipertegas dengan pernyataan Fathur Rahman sebagai berikut :

“Jadi diprogram ini yayasan LSM kita itu bekerja sama dengan desa mengelola gapoktan. Jadi pengurusnya LSM lewat program ini ya kita ngajari ke petani-petani. Mungkin dulunya ga berani nanam sayur, lewat program ini yang kita coba ajari ke petani-petani untuk nanam sayur, jadi kita melakukan pendampingan ya kepada mereka kita berikan pengetahuan”. (Wawancara dengan Fathur, LSM Yayasan Satu Daun, 2 Mei 2012).

Gambar 4.10. Pendampingan kepada petani Coke Farm

Mengenai kenyataannya dilapangan, hal ini memang dilakukan oleh Yayasan Satu Daun dikarenakan petani yang terlibat dalam program mengaku bahwa selama program Yayasan Satu Daun senantiasa mendampingi mereka, serta memberi pengetahuan kepada mereka terkait pertanian kemudian bagaimana menanam sayuran organik, dan teknologi-teknologi yang digunakan.

Seperti yang diutarakan oleh Hadi :

“oh iya mbak, kalau selama ini sih Mas Fathur sama Mas Sareh selaku melakukan pendampingan kepada saya sih, diajari misale pake pupuk, trus diajarin teknik-teknik pertanian yang bener, misalnya penyiraman sayuran itu kapan aja, trus diajari banyak hal yang nanam-nanam yang sebelumnya saya ga pernah tanam ya. Misalnya kayak rosella gitu. Banyak sih mba, Mas Fathur selalu ngajarin saya, biasanya kalau saya bingung-bingung ttg hama ato apa gitu ya saya nanyanya ke mas Fathur, kalau misalnya mas Fathur ga tau dia biasanya langsung tanyakan ke Dinas pertanian. Jadi baik sekali lah”. (Wawancara dengan Hadi, Petani Coke Farm, 20 April 2012).

b. Membuat delapan sungkup atau unit rumah hijau

Gambar 4.11. Pembangunan Unit Rumah Hijau

Dalam program ini sendiri, pembangunan rumah hijau sebagai tempat atau area tanam merupakan salah satu aktivitas yang dilakukan selama program berlangsung. Selama implementasi program ini sendiri, telah dilakukan pembangunan sungkup serta perbaikan sungkup akibat kerusakan karena angin. Hal ini dipertegas dengan pernyataan Fathur Rahman sebagai berikut :

“ya kita ada melakukan pembangunan sungkup ya, sebelum program ini benar-benar dijalankan yah kita lakukan pembangunan sungkup sekitar November 2010, dalam pembangunan kita libatkan petani yang terlibat program serta ada beberapa orang yang ikut bantu karena, ga mampu kalau cuma beberapa orang, jadi ada melibatkan petani-petani yang lain dari desa. Kalau dalam implementasinya sendiri itu memang kita juga ada lakukan perbaikan sungkup ya, soalnya rusak karena angin besar, itu juga kita libatkan petani”. (Wawancara dengan Fathur, LSM Yayasan Satu Daun, 2 Mei 2012).

c. Melakukan penanaman tanaman penghijauan, menanaman dan merawat sayuran organik

Sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya, LSM Yayasan Satu Daun disini jug berperan dalam melakukan penanaman dan perawatan tanaman hijau serta sayuran organik bersama petani. Dalam hal ini, penanaman itu sendiri dimulai dari melakukan pembibitan, kemudian hasil pembibitan itu dikembangkan dan dipindahkan kedalam rumah hijau. Disamping itu, untuk pengelolaannya sendiri, penyiraman dan pemupukan menjadi hal yang tidak terlepas dalam keseharian aktivitas program Coke Farm sendiri.

Gambar 4.12. Proses Panen Tanaman Sawi

Dimulai dari pembibitan hingga panen dan distribusi penjualan hasil panen dikelola bersama petani. Sesuai dengan yang diungkapkan oleh Fathur :

“kalau untuk aktivitasnya sendiri yang kita lakukan itu yang penanaman bibit ya, dalam hal ini kita bagi menjadi dua karena ada tanaman hijau sama sayuran organik. Untuk tanaman hijau sendiri itu yang kita tanam dan rawat itu ada sengon, trembesi, sirsak, dan nangka ya. Nah untuk sayuran organik itu banyak macam sih, kita pernah nanam selada, kubis, kol, bayam, kangkung, cabe rawit pernah, timun, tomat-tomat kecil yang dibikin sambel itu juga, dalam hal ini petani yang menanam dan merawat yah tapi kami juga turun tangan untuk bantu, misalnya dalam pemumpukan, penyiraman, bersihkan rumput kami juga lakukan. Nanti dari hasil yang kita tanam itu kita lakukan pembibitan ya,. setelah itu kita juga lakukan panen, kalau untuk panen sendiri itu biasanya dalam sebulan itu ada beberapa kali panen, kalau untuk sayuran organik itu nanti hasil panennya akan kita jual ke distributor sayur atau kita suplai ke Taman Safari, kalau bibit tanaman hijau memang ada yang diambil oleh Coca-Cola juga terus ada yang kita distribusikan ke karang taruna juga”. (Wawancara dengan Fathur, LSM Yayasan Satu Daun, 2 Mei 2012).

d. Memanfaatkan limbah PET sebagai media penanaman tanaman

Dalam implementasinya, dalam penanaman tanaman hijau atau sayuran organik Corporate Affairs CCAI Jawa Timur memang menginstruksikan untuk penggunaan limbah mereka yaitu botol PET bekas minum untuk digunakan sebagai media tempat penanaman tetapi hal ini tidak berjalan lama dan akhirnya memakai poly bag sebagai media penanaman. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Fathur sebagai berikut :

“Oh untuk nanam tanamannya memang memakai limbah PET ya tapi itu cuma sebentar ga lama, karena botol PET yang disupply ke kami hanya 2300 sedangkan mereka menargetkan untuk dibuat 200.000 bibit ya akhirnya kami belikan itu loh kertas polybag yang hitam”. (Wawancara dengan Fathur, LSM Yayasan Satu Daun, 20 April 2012).

Peneliti dalam hal ini menemukan bahwa adanya tanggung jawab yang tidak dijalankan Corporate Affairs CCAI Jawa Timur yaitu mensupply botol PET sebagai media penanaman. Berdasarkan hal ini untuk memastikan kebenaran informasi tersebutr maka peneliti melakukan triangulasi kepada pihak petani. Dan hal ini juga dibenarkan oleh petani bahwa memang benar suplai dari botol PET cuma kurang lebih sekitar 2300 botol. Sesuai dengan yang dikemukakan Hadi sebagai berikut :

“Kalau botol pet memang kita pakenya cuma sebentar dan itu kan cuma untuk sekali pakai non, kita akhirnya ganti polybag karena yang disuplai cuma 2300 sedangkan kita kan udah beberapa kali panen ya”. (Wawancara dengan Hadi , 02 Mei 2012)

Disini, peneliti melihat bahwa sedari awal penggunaan limbah ini sendiri pada merupakan kesepakatan oleh kedua belah pihak pada awal perjanjian. Seharusnya kesepakatan yang dibuat direalisasikan dalam praktiknya di lapangan karena sesuai dengan perjanjian sendiri, kesepakatan yang dibuat adalah penggunaan limbah botol PET sebagai media pembibitan tanaman hijau maupun sayuran organik. LSM mengungkapkan bahwa sedari awal memang sudah disepakati antara Corporate Affairs CCAI Jawa Timur untuk penggunaan limbah botol PET dan ini juga termasuk dalam perjanjian yang dilakukan sebelum program diimplementasikan bahwa Corporate Affairs CCAI Jawa Timur akan mensupport botol PET untuk media tanam. Hal ini dipertegas dengan dengan pernyataan Fathur Rahman :

Ini kan harusnya dipake sebagai tempat bibitnya ya sesuai kesepaktan awal. Limbah-limbah yang tidak terpakai di Coca-Cola ini ya dipakai untuk pertanian. (Wawancara dengan Fathur, LSM Yayasan Satu Daun, 20 April 2012).

Namun dalam kenyataannya supplai yang diberikan hanya berlangsung sementara dan tidak berlangsung lama dan dalam kenyataannya ini supplai yang diberikan jauh dari apa yang sudah disepakati pada awalnya. Sesuai kesepakatan pada awalnya pembibitan yang ditarget oleh Corporate Affairs CCAI Jawa Timur

adalah 200.000 (dua ratus ribu) pembibitan. Dan dalam melakukan pembibitan, media yang digunakan sebagai tempat pembibitan adalah limbah PET produk Coca-Cola. Fathur mengakui bahwa supplai botol PET yang diberikan hanya sekitar 2300 botol saja.

Hal ini diperkuat dengan pernyataan Fathur sebagai berikut :

“ ketika saya meminta yang untuk bikin 200000 bibit pake ini, saya cuma

Dalam dokumen 4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN (Halaman 52-70)