• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum PT. Coca-Cola Amatil Jawa Timur 4.1.1. Profil PT. Coca-Cola Amatil Jawa Timur

Nama Perusahaan : PT. Coca-Cola Amatil Jawa Timur Alamat : Jln. Rungkut Industri I No 27 Surabaya Telepon : (031-8439797, 8472401)

Fax : (031-8472412)

Website : www.cocacolaamatil.co.id

Coca-Cola Amatil Indonesia, merupakan perusahaan minuman ringan terkemuka di Indonesia yang memproduksi dan mendistribusikan produk-produk berlisensi dari The Coca-Cola Company. Dalam bisnisnya, CCAI berusaha memberikan layanan terbaik kepada seluruh pelanggan dan konsumen. Semua produk yang dijual dan didistribusikan oleh CCAI diproduksi langsung di Indonesia. Produk CCAI berasal dari bahan baku pilihan berkualitas tinggi dan diproses melalui beberapa tahap yakni: penyiapan bahan, pencampuran, pencucian, pengisian dan penutupan, pengkodean, pemeriksaan, pengemasan, dan pengangkutan.

Saat ini ada delapan pabrik pembotolan CCAI yang tersebar di seluruh Indonesia, yaitu di Cibitung-Bekasi, Medan, Padang, Lampung, Bandung, Semarang, Surabaya dan Denpasar. Semua pabrik CCAI diwajibkan untuk mematuhi dan bahkan kerap kali melampaui standarisasi internasional dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pabrik CCAI juga teratur melaksanakan audit di bidang pengawasan mutu, lingkungan, kesehatan dan keselamatan kerja. Selama ini pabrik-pabrik CCAI di Indonesia telah menerima berbagai penghargaan dari The Coca-Cola Company atas pencapaian standar yang melampaui pabrik-pabrik sejenis di dunia.

(2)

4.1.2. Sejarah PT. Coca-Cola Amatil Indonesia

Minuman ringan (Soft Drink) Coca-Cola diciptakan oleh Dr. John S. Pemberton, seorang ahli farmasi dan ahli minuman dari Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, pada bulan Mei 1886. Ia mencampurkan suatu ramuan khusus dengan gula murni menjadi sirup yang beraroma segar dan berwarna karamel, kemudian diaduk bersama air murni. Minuman ini kemudian dikenal dengan nama Coca-Cola. Pada awalnya penjualan minuman ini dilakukan dengan menempatkan minuman ringan (Soft Drink) tersebut di dalam guci besar yang diletakkan ditempat-tempat strategis.

The Coca-Cola Company didirikan tahun 1892 oleh Asa G. Chandler di Atlanta, yang juga mempatenkan merek dagang Coca-Cola. Perusahaan ini merupakan induk dari semua perusahaan pembotolan yang memiliki merek dagang Coca-Cola diseluruh Negara didunia dengan menyediakan bahan baku konsentratnya. Mulai tahun 1893, The Coca-Cola Company membangun pabrik sirupnya diluar Atlanta.

Presiden The Coca-Cola Company (1919-1955), Robert W. Woudruff, merupakan orang yang pertama kali mencetuskan gagasan agar minuman Coca-Cola tersebut dapat dinikmati tidak hanya oleh orang Amerika saja, tetapi juga untuk dikonsumsi oleh seluruh bangsa di dunia. Untuk merealisasikan gagasan tersebut, maka pada tahun 1929 didirikan The Coca-Cola Export Cooperation, yaitu perusahaan yang menangani proses penjualan minuman keseluruh pelosok negeri di dunia dengan cirri mutu, rasa, dan kesegaran yang sama.

Di Indonesia, Coca-Cola mulai dikenal pada tahun 1927 melalui De Nederland Indische Mineral Water Fabrieck yang membotolkannya untuk pertama kali di Batavia. Selanjutnya perusahaan tersebut diambil alih oleh pedagang Indonesia dan berubah nama menjadi The Indonesian Bottles Ltd. N. V. (IBL) yang berstatus perusahaan nasional.

Pada tahun 1971, dengan pertambahan usaha dan modal, IBL berubah menjadi namabaru PT Djaya Bevarages Bottling Company (PT. DBBC) yang merupakan pabrik pembotolan modern pertama di Indonesia. Adanya penambahan modal tersebut meningkatkan kapasitas pabrik yang diikuti pula

(3)

dengan penambahan macam produk yang dihasilkan dalam berbagai ukuran kemasan.

Pada tahun 1993 seluruh saham PT. DBBC diambil alih oleh Coca-Cola Amatil Ltd, suatu grup perusahaan pembotolan Coca-Cola dikawasan Asia Pasifik dan Eropa Timur yang bermarkas di Sydney, Australia. Adanya perpindahan saham tersebut mengakibatkan nama PT. DBBC berubah menjadi PT. CCAI (PT. CCAI). Tahun 2000, seluruh pabrik pembotolan minuman merek dagang Coca-Cola yang ada di Indonesia resmi bergabung menjadi satu dibawah PT. CCAI.

PT. CCAI dibagi menjadi dua, yaitu PT. CCAI Bottling (PT. CCAIB) dan PT. CCAI Distribution (PT. CCAID).PT. CCAIB bertugas untuk memproduksi minuman ringan (Soft Drink), sedangkan PT. CCAID yang bertugas untuk memasarkan dan mempromosikan minuman ringan (Soft Drink) yang dihasilkan PT. CCAIB. Untuk meningkatkan volume penjualan keseluruh wilayah Indonesia, maka PT. CCAI mengoperasikan pabrik pembotolan di 10 kota besar Indonesia, yaitu Medan, Padang, Lampung, Jakarta, Bandung, Semarang, Pandaan, Bali, Makassar, dan BanjarBaru.

Pada tahun 2002, PT. CCAIB berubah nama menjadi PT. Coca-Cola Bottling Indonesia (PT. CCBI) dan PT. CCAID menjadi PT. Coca-Cola Distribution Indonesia (PT. CCDI). Seluruh pabrik pembotolan Coca-Cola di Indonesia berada dibawah manajemen PT. Coca-Cola Indonesia (PT. CCI). PT. Coca-Cola Indonesia ini merupakan perwakilan dari The Coca-Cola Company yang menyuplai bahan baku konsentrat keseluruh pabrik pembotolan Coca-Cola di Indonesia dan menetapkan seluruh standar bahan baku yang digunakan oleh pabrik.

(4)

4.1.3. Visi Misi Coca-Cola Amatil secara Global Visi Coca-Cola Amatil secara Global

- People: Be a great place to work where people are inspired to be the best

they can be. (Menjadi tempat yang baik untuk bekerja dimana setiap orang dapat terinspirasi untuk menjadi yang terbaik semampu mereka)

- Portfolio: Bring to the world a portfolio of quality beverage brands that

anticipate and satisfy people's desires and needs (Membawa kepada dunia sebuah portfolio mengenai kualitas dari merek minuman ringan yang mana mengantisipasi dan memuaskan hasrat dan kebutuhan orang).

- Partners: Nurture a winning network of customers and suppliers, together

we create mutual, enduring value.(Pemelihataan jaringan hubungan antara pelanggan dan supplier, bersama membuat nilai yang abadi).

- Planet: Be a responsible citizen that makes a difference by helping build

and support sustainable communities. (Menjadi warga negara yang bertanggung jawab membuat perubahan dengan membantu membangun dan mendukung keberlanjutan komunitas)

- Profit: Maximize long-term return to shareowners while being mindful of

our overall responsibilities.(Memaksimalkan pengembalian jangka panjang kepada pemegang saham dengan memperhatikan tanggung jawab keseluruhan)

- Productivity: Be a highly effective, lean and fast-moving organization.

(Menjadi sebuah organisasi yang efektif dan bergerak cepat). Misi Coca-Cola Amatil secara Global

- To refresh the world.

(Untuk memperbaharui dunia)

- To inspire moments of optimism and happiness.

(Untuk menginspirasi moment optimis dan kebahagiaan) - To create value and make a difference.

(5)

4.1.4. Struktur Organisasi PT. Coca-Cola Amatil Indonesia

Bagan 4.1. Struktur Organisasi Coca-Cola Amatil Surabaya Sumber : PT. Coca-Cola Amatil Surabaya (2012)

4.1.5. Logo PT. Coca-Cola Amatil Indonesia

Gambar 4.1. Logo PT. Coca-Cola Amatil Indonesia Sumber : PT. Coca-Cola Amatil Surabaya (2012) Executive Assistant Techical Operations General Manager Finance Human Resource Bussiness Service

General Sales Corporate Affairs

QMS,EMS, & OHS

(6)

4.1.6. Pilar Kunci Corporate Social Responsibility PT. CCAI

Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) yakin bahwa kesuksesan yang diperoleh oleh perusahaan merupakan hasil dari cara perusahaan mengintegrasikan prinsip-prinsip sosial dan lingkungan ke dalam setiap kegiatan bisnis. Oleh karenanya, CCAI berkomitmen untuk menerapkan berbagai program Corporate Social Responsibility & Sustainability (CSR&S) yang bertujuan untuk membantu masyarakat serta melestarikan lingkungan hidup.

CCAI memiliki 4 pilar kunci sebagai parameter dalam menjalankan berbagai program CSR & Sustainability. Keempat pilar tersebut antara lain melindungi dan melestarikan lingkungan hidup (environment), menyediakan berbagai variasi pilihan kepada pelanggan (market place), mempertahankan budaya dan nilai-nilai positif dalam perusahaan (work place), serta berkontribusi dalam perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat (community) di area perusahaan beroperasi.

Keempat pilar tersebut dideskripsikan sebagai berikut : a. Environment

Untuk menjalankan bisnis yang sekaligus dapat melindungi serta melestarikan lingkungan, dan untuk mengintegrasikan prinsip kepedulian lingkungan dan pengembangan berkelanjutan kedalam setiap keputusan bisnis yang diambil.

b. Marketplace

Untuk menyediakan produk dan jasa yang memenuhi permintaan konsumen. Dalam menjalankannya, perusahaan memberikan kesempatan bisnis yang menjanjikan serta menguntungkan bagi para customer/ pelanggan, suppliers, distributor, dan masyarakat sekitar

c. Workplace

Untuk menciptakan lingkungan kerja yang terbuka dan inklusif dimana para karyawan yang memiliki motivasi tinggi, produktif serta mempunyai komitmen tinggi terhadap perusahaan dapat memberikan kinerja terbaiknya. d. Community

Untuk menginvestasikan waktu, keahlian dan sumber daya untuk menyediakan kesempatan mengembangkan ekonomi, meningkatkan kualitas

(7)

hidup, dan menunjukkan kepedulian terhadap sesama melalui kegiatan-kegiatan sosial.

4.1.7. Program Corporate Social Responsibility PT. CCAI Jawa Timur CCAI sendiri memiliki berbagai program Corporate Social Responsibility. Program-program yang dijalankan juga didasarkan pada pilar kunci perusahaan dalam melaksanakan program Corporate Social Responsibility yakni, environmental, marketplace, community, dan workplace. Berikut ini adalah beberapa program Corporate Social Responsibility yang dijalankan secara nasional oleh PT. Coca-Cola Amatil serta PT. Coca-Cola Amatil Jawa Timur : a. Eco Uniform

Gambar 4.2. Penggunaan Eco Uniform oleh karyawan Sumber : PT. Coca-Cola Amatil Surabaya (2012)

Sejak 2001, CCAI menjalankan Eco Uniform yang ditujukan kepada mayoritas staff perusahaan. Bekerja sama dengan Quiksilver Indonesia yang merupakan eco-friendly supplier yang bersertifikat guna memproduksi seragam ramah lingkungan ini (Eco Uniform). CCAI bekerja sama dengan Quiksilver guna menghasilkan dan memproduksi Eco Uniform yang terbuat dari 50% PET Recycle Waste dan 50% Organic Cotton. Program ini juga berlandaskan pilar lingkungan guna melindungi dan melestarikan lingkungan. CCAI berkomitmen untuk

(8)

melestarikan lingkungan dengan berkontribusi dalam mengurangi sampah plastik, khususnya sampah yang berasal dari sisa makanan dan minuman

b. Coke Tour

Gambar 4.3. Pelaksanaan Coke Tour di Plant Coca-Cola Sumber : PT. Coca-Cola Amatil Surabaya (2012)

Di Indonesia, CCAI bertanggung jawab atas proses produksi, penjualan, dan distribusi berbagai macam produk seperti Coca-Cola, Coca-Cola Zero, Sprite, Sprite Zero, Fanta, Ades, Minute Maid dan Powerade Isotonik. Coca-Cola Plant Tour bertujuan untuk memberikan kesempatan pada grup yang tertarik untuk mempelajari pabrik kelas dunia yang dimiliki Coca-Cola Amatil Indonesia, dan merasakan dunia Coca-Cola. CCAI memiliki 8 fasilitas produksi yang terbuka untuk kunjungan publik. Pabrik . CCAI sendiri terletak di Jakarta, Cibitung-Bekasi, Surabaya, Semarang, Medan, Padang, Samarinda, dan Bali. Melalui Coke Tour, pengunjung bisa melihat dekat bagaimana. CCAI membuat minuman paling terkenal di dunia.

(9)

c. Eco Mobile

Gambar 4.4. Proses Sosialisasi Eco Mobile ke sekolah dasar Sumber : PT. Coca-Cola Amatil Surabaya (2012)

Aktivitas Eco Mobile termasuk menonton video dokumenter, storytelling, demonstrasi pengelolaan limbah, dan permainan seru. CCAI percaya bahwa melalui program Eco Mobile kami bisa meningkatkan kemampuan baca tulis di area-area terpencil, sembari menyediakan sarana belajar yang informal. Eco Mobile juga berkomitmen untuk menyediakan akses informasi bagi masyarakat kurang mampu. CCAI (CCAI) terus berupaya untuk mempromosikan aktivitas yang mencerminkan gaya hidup aktif dan sehat melalui kegiatan olahraga. CCAI yakin bahwa dengan bimbingan yang tepat, anak berbakat akan dapat meraih impiannya.

d. Coke Kicks

Permainan sepakbola sangat digemari oleh masyarakat Indonesia terutama anak-anak. Berangkat dari hal ini, maka CCAI ingin memberikan pelatihan/pendidikan untuk mengasah ketrampilan bermain sepak bola kepada generasi muda Indonesia guna memajukan dunia persepakbolaan Indonesia. Sejak 2011, CCAI telah memulai program "Coke Kicks-Grass Root Soccer Development Program" yang didesain untuk membantu anak-anak muda Indonesia dalam mewujudkan mimpi mereka melalui aktivitas gaya hidup yang aktif dan sehat melalui pelatihan yang diberikan oleh pelatih sepakbola professional.

(10)

Gambar 4.5. Sosialisasi Coke Kicks untuk peserta Sumber : PT. Coca-Cola Amatil Surabaya (2012)

4.1.8. Gambaran Umum Program Corporate Social Responsibility Coke

Farm

CCAI menggagas program Coke Farm sebagai wujud dukungan CCAI untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan masyarakat sekitar fasilitas pabrik sebagai petani dengan mengubah area hijau menjadi area agrikultur yang produktif. CCAI memberikan pendampingan, mempersiapkan materil serta teknologi, memberikan pelatihan pembibitan dan agrikultur bekerjasama dengan para ahli dari berbagai universitas (MIX Marketing, 2011, p.58).

Asal mula dikembangkan Program Coke Farm sendiri dimulai dari keberhasilan program Coke Farm Jawa Barat. Program ini sendiri mulai digelar oleh Corporate Affairs CCAI Jawa Timur Amatil Jawa Barat sejak akhir tahun 2009. Seluruh manfaat dari panen Coke Farm akan dinikmati oleh seluruh petani. Coke Farm juga digunakan untuk membantu menurunkan jejak karbon yang diproduksi perusahaan dan mendukung program OBIT (One Billion Indonesian Trees) per tahun yang diselenggarakan oleh pemerintah. Saat ini, Coke Farm telah diterapkan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur serta Medan. Di dalam program Coke Farm sendiri, Coca-Cola menanam aneka tanaman organik seperti cabai, tomat, sayuran organik dan beberapa jenis varian tanaman holtikultura pada bekas wadah bekas botol plastik (PET). Selain itu, Coke Farm juga menanami

(11)

beragam pohon penghijauan antara lain Trembesi, Mahoni, Jati, dan lainnya. Pohon penghijauan ini sendiri dikembangkan melalui pembibitan.

Coke Farm Jawa Timur sendiri mulai dikembangkan sejak awal tahun 2011. Dalam hal ini, konsep Coke Farm Jawa Timur sendiri agak berbeda dengan Coke Farm Jawa Barat yang dimana, program Coke Farm dikembangkan di sekitar area pabrik. Dalam keberadaannya, Coke Farm Jawa Timur sendiri dijalankan pada lahan tidak produktif di salah satu desa di daerah Pasuruan yaitu Desa Kertosari. Coke Farm Jawa Timur sendiri dikelola oleh Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dengan salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat yang berasal dari daerah setempat yaitu Yayasan Satu Daun. Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dalam hal ini bekerjasama dengan Yayasan Satu Daun untuk memfasilitasi serta membina dan memberikan pengetahuan mengenai teknologi pertanian kepada petani-petani yang terlibat dalam program tersebut.

Program Coke Farm di Desa Kertosari ini dikembangkan di areal seluas 1,9 hektar, yang semula merupakan lahan nonproduktif direkayasa dengan teknologi pertanian dan lahan tersebut dapat ditanami dengan hortikultura serta tanaman keras. Dalam program Coke Farm di Desa Kertosari, beberapa petani dipilih untuk terlibat pada program awal dan telah diberikan pelatihan oleh Yayasan Satu Daun. Dalam program ini sendiri, petani telah belajar mengenai bertani dengan keanekaragaman tanaman sayuran organik/budidaya tanaman holtikultura, teknik pembuatan kompos dan pembibitan pohon. Yayasan Satu Daun bertindak sebagai salah satu LSM yang turut berkontribusi dalam program ini, dengan memberikan pelatihan kepada para petani dalam penggunaan teknologi, sosialiasi mengenai jenis-jenis tanaman yang dapat ditanam, melakukan koordinasi dengan Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dalam penyediaan alat dan bahan baku di lapangan, serta secara terpadu melakukan pengawasan atas program ini di lapangan.

(12)

4.2. Gambaran Umum Yayasan Satu Daun 4.2.1. Profil Yayasan Satu Daun

Gambar 4.6. Pengurus Yayasan Satu Daun Sumber : Yayasan Satu Daun (2012)

Nama : Yayasan Satu Daun

Sekretariat : Perumahan Oma Indah Kapok Claster Raflesia Blok D1 / 04 Suwayuwo, Sukorejo, Pasuruan. Keterangan : Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI

Nomor AHU-4736.AH.01.04. Tahun 2009 Contact Person : Fathur 082141517139

Sareh 081334130608

4.2.2. Sejarah dan Performance Satu Daun

Yayasan Satu Daun adalah lembaga nirlaba yang berkedudukan di Pasuruan dan berkantor di desa Kertosari. Yayasan satu Daun bergerak di bidang konservasi, pendidikan, dan ekonomi. Sejak tahun 2009 Yayasan Satu Daun melakukan kegiatan untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk mencapai kualitas sumberdaya alam yang lebih baik melalui konservasi dengan membangun ekonomi masyarakat serta mengkampanyekan melalui pendidikan. Yayasan Satu Daun juga bekerja sama dengan DANONE melakukan konservasi

(13)

hutan mangrove di Nguling serta menciptakan gagasan kampung wisata mangrove berjalan sampai sekarang. Dalam tahun yang sama Yayasan Satu Daun juga bekerja sama dengan ICRAF Bogor mengadakan penelitian budidaya tanaman sengon hutan rakyat di Kabupaten Pasuruan.

Dalam tahun 2011 hingga saat ini, Yayasan Satu Daun sendiri masih bekerja sama dengan DANONE mengadakan program Sekolah Sahabat Mata Air dengan peserta sekolah menengah di Pasuruan (kota dan Kabupaten) serta satu sekolah di Probolinggo. Pada tahun yang sama mengadakan kegiatan konservasi di kawasan hutan gunung Arjuna dengan menjalin kerjasama dengan kelompok tani Arjuna Lestari untuk perbaikan sumber mata air di desa Dayurejo, mengadakan pengkayaan tanaman hutan Perhutani bersama dengan LMDH Ngudi Lestari desa Jatiarjo.

Pada tahun 2011 menjalin kerjasama dengan PT CCAI mengadakan upaya diversifikasi produk pertanian untuk mengantisipasi perubahan iklim di desa Kertosari dengan pemanfaatan limbah teh sebagai pupuk organik. Yayasan Satu Daun juga bekerja dama dengan ICRAF Bogor mengadakan penelitian Pembangunan Daerah Berbasis Rendah Emisi di Kabupaten Pasuruan. Yayasan Satu Daun mengembangkan model desa wisata pendidikan di desa Kertosari Kecamatan Purwosari Pasuruan.

4.2.3. Logo Satu Daun

Gambar 4.7. Logo Yayasan Satu Daun Sumber : Yayasan Satu Daun (2012)

(14)

4.3. Profil Informan

Dalam memperoleh data terkait tahapan proses Public Relations dalam program CSR Coke Farm Jawa Timur, peneliti melakukan wawancara mendalam dengan beberapa orang yang terkait langsung dengan program tersebut. Peneliti dalam hal ini, memilih orang-orang yang terkait secara langsung dengan program tersebut untuk memfokuskan terhadap evaluasi tahapan proses Public Relations dalam program tersebut. Informan yang dipilih peneliti dalam penelitian ini adalah Retno M. Koesdijarto selaku Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, Oni Dwi Arianto selaku Corporate Affairs Officer CCAI Jawa Timur, Fathur Rahman selaku pihak LSM Satu Daun, serta satu orang petani yang terlibat dalam prgram Coke Farm secara langsung yaitu Hadi.

4.3.1. Retno M. Koesdijarto

Jabatan : Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur Umur : 43 tahun

Status : Menikah

Retno M. Koesdijarto merupakan Manajer Corporate AffairsCCAI Jawa Timur sejak tahun 1999. Perjalanan karirnya dapat dibilang telah cukup lama. Dalam kesehariannya sebagai seorang Manajer Corporate Affairs, Retno memiliki tugas dan tanggung jawab dalam menjalin komunikasi dengan media massa. Retno juga sering dilibatkan dalam aktivitas Audit dalam Pabrik Coca-Cola Amatil Jawa Timur. Kesibukan dalam menjalankan beberapa program Corporate Social Responsibility. Retno sendiri merupakan lulusan jurusan Sastra Inggris dari Universitas Negeri Surabaya. Keterlibatan Retno dalam program Coke Farm juga cukup banyak dimulai dari melakukan pencarian lokasi, sendiri memiliki peranan penting dalam membuat perencanaan dari Coke Farm itu sendiri dimulai dari melakukan riset terlebih dahulu, memilih LSM, membuat MOU dan memantau pelaksanaannya.

4.3.2. Oni Dwi Arianto

Jabatan : Corporate Affairs Officer East Java Umur : 29 tahun

(15)

Dwi Oni Arianto adalah salah satu tim Corporate AffairsCoca-Cola Amatil East Java. Pak Oni dalam hal ini telah bekerja di Coca-Cola sejak tahun 2011. Dalam tugasnya, Oni memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan program Coke Farm yang dilaksanakan di Desa Kertosari. Oni ikut berperan dalam memantau dan berkoordinasi dengan pihak LSM terkait implementasi program Coke Farm secara teknis. Seiring berjalannya program, Oni merasa kinerja LSM masih kurang maksimal yang diukur dari indikator-indikator yang dibuat dalam perjanjian dengan LSM. Oni mendapati bahwa ada beberapa indikator yang tidak tercapai dalam pelaksanaan program tersebut di lapangan. Dalam proses penilaian terhadap program, Oni lebih banyak berperan dalam mengecek dan berkomunikasi dengan pihak Coca-Cola.

4.3.3. Nama : Fathur Rahman

Jabatan : Koordinator LSM Satu Daun / Koordinator Pelaksanaan Coke Farm Umur : 35 tahun

Status : Menikah

Fathur Rahman adalah kepala LSM Satu Daun yang bekerjasama dengan Coca-Cola dalam pelaksanaan program Coke Farm. Dalam hal ini, Fathur Rahman bersama Sareh, terlibat dalam program Coke Farm dan mengelola implementasinya secara langsung. Dalam implementasinya sendiri, mereka berperan dalam mengajari petani dalam menanam sayur-sayuran, membuat bibit. kompos dan hal-hal lainnya terkait pertanian. Dalam hal ini Pak Fathur juga yang membuat laporan-laporan mingguan baik bulanan dan diberikan kepada Coca-Cola selama implementasi berlangsung. Dari hasil wawancara yang dilakukan, Fathur sendiri terlihat tidak puas dengan hal yang diusung Coca-Cola dan dianggap program ini tidak memiliki korelasi secara langsung perusahaan. Fathur banyak menuturkan tentang lemahnya komitmen manajemen perusahaan dalam pengelolaan program ini. Fathur juga banyak menyoroti Coca-Cola dari segi support terhadap program serta pengolahan limbah yang disepakati di awal tetapi tidak tercapai dalam implementasi program.

(16)

4.3.4. Hadi

Pekerjaan : Petani yang terlibat dalam program Coke Farm Umur : 31 tahun

Status : Menikah

Hadi merupakan salah seorang petani yang berasal dari Gabungan Kelompok Tani Desa Kertosari. Berbekal lulusan Sekolah Menengah Atas, Hadi pernah bekerja menjadi karyawan swasta di salah satu pabrik di daerah Gempol. Dalam perjalanannya sendiri, Hadi kemudian beralih profesi menjadi petani. Sembari merintis perjalanan dan kemampuannya sebagai petani, Hadi direkrut oleh Yayasan Satu Daun melalui Gabungan Kelompok Tani Desa Kertosari untuk terlibat dalam program Coke Farm yang dikembangkan Coca-Cola.

Melalui program Coke Farm ini, Hadi merasakan banyak manfaat yang bisa didapatkan karena dapat mempelajari tentang teknologi pertanian serta budidaya tanaman holtikultura. Hadi mengaku bersama seorang petani lainnya Bu Sitik, mereka mengelola dan menggarap lahan Coke Farm dibawah arahan dan pendampingan oleh Yayasan Satu Daun. Hingga program ini dibekukan dan petani tidak lagi diberikan gaji atau support oleh Coca-Cola, Hadi masih tetap membantu pengelolaan lahan itu karena merasa sangat sayang apabila Coke Farm dibiarkan terbengkalai dan tidak dikelola kembali.

4.4. Temuan Data

Program Corporate Social Responsibility Coke Farm merupakan salah program rintisan Coca-Cola Amatil yang dikembangkan di beberapa daerah dimana Coca-Cola beroperasi. Program ini sendiri merupakan salah satu program Coca-Cola Amatil Indonesia yang bersandar pada pilar environmental dan community. Program ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada lingkungan serta dapat meningkatkan kemampuan komunitas petani baik secara financial baik secara pengetahuan dalam bidang pertanian. Seiring dengan adanya pengembangan ke beberapa daerah dimana Coca-Cola Amatil Indonesia beroperasi, maka Jawa Timur menjadi salah satu daerah yang juga ditugaskan untuk menjadi tempat program Coke Farm dikembangkan oleh Coca-Cola setelah program ini terlebih dahulu dikembangkan di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

(17)

Dengan dikembangkannya program ini ke wilayah Jawa Timur maka Corporate Affairs CCAI Jawa Timur selaku penanggung jawab dan pelaksanan setiap program Corporate Social Responsibility CCAI juga mendapatkan tanggung jawab untuk menjalankan program Coke Farm ini. Dengan demikian, program ini memang merupakan program rintisan atau pilot project yang hendak diusung Coca-Cola Amatil secara Nasional sehingga ketika program ini sendiri bukan merupakan ide atau hasil riset dari pihak Corporate Affairs CCAI Jawa Timur. Ide mengenai pembuatan desain program ini sendiri berangkat dari desain dari National Office yang berangkat dari desain program Coke Farm yang telah diimplementasikan di Jawa Barat mengenai program garis besar program ini sendiri. Berdasarkan wawancara dengan Retno Koesdijarto :

“Kalau untuk program ini sendiri, kebetulan program ini memang program kembangan dari National Office ya, dan program ini memang ingin dikembangkan ditempat-tempat dimana Coca-Cola beroperasi jadi memang program ini bukan dirancang langsung oleh kita disini, tapi diberikan tanggung jawab untuk menjalankan program ini di sekitar daerah pabrik. Ide dan desain program ini sendiri kan memang bermula dari keberhasilan Coke Farm yang dibuat di Bandung ya”. (Wawancara dengan Retno Koesdijarto, Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, 30 April 2012)

Berangkat dari kondisi bahwa adanya program rintisan yang harus dikembangkan, Corporate Affairs CCAI Jawa Timur maka yang dilakukan adalah melakukan riset mengenai lingkungan yang akan menjadi tempat untuk mengembangkan Coke Farm. Pada awalnya, program ini sendiri bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani di sekitar pabrik, maka Corporate Affairs CCAI Jawa Timur melakukan riset ke daerah di sekitar pabrik yaitu di Desa Tamanan. Desa Tamanan masuk dalam wilayan Ring I dari CSR CCAI Jawa Timur karena lokasinya yang berdekatan dengan lokasi pabrik. Riset ini sendiri dilakukan untuk meninjau kondisi daerah tersebut apakah memungkinkan untuk diimplementasikan desain program tersebut. Setelah melakukan riset serta berkomunikasi dengan pihak Desa Tamanan, ditemukan bahwa Coke Farm tidak

(18)

memungkinkan untuk diimplementasikan disana dikarenakan adanya ketidaksepahaman masyarakat Desa Tamanan konsep program. Masyarakat desa Tamanan merasa tidak siap untuk diberikan program seperti itu tetapi lebih memilih untuk diberikan dana dalam bentuk sumbangan. Kenyataan ini tentu tidak sejalan dengan Corporate Affairs CCAI Jawa Timur yang hendak mengimplementasikan desain program Coke Farm di Jawa Timur. Menyadari kondisi ini maka dilakukan pencarian lokasi lain yang dilakukan selama dua bulan untuk mencari lokasi lahan tidak produktif untuk implementasi dari program tersebut. Setelah melakukan pencarian kebeberapa tempat maka ditemukan salah satu lahan kosong di daerah Desa Kertosari. Sesuai dengan pernyataan Retno

“ Dalam hal ini kita melakukan riset yang dalam mencari lokasi, dan cukup sulit. Ya saya sudah melakukan pencarian kebeberapa lokasi. Pertama itu mencari di daerah sekitar pabrik ya di Desa Tamanan karena lokasinya memang tidak jauh dari area pabrik. Dan masuk ring 1 CSR kita ya. Hanya saja ketika kita berkomunikasi dengan pihak desa, pihak desa tidak begitu bisa menerima dengan pembuatan program ini, tapi lebih memilih diberikan dana pengembangannya saja. Sehingga saya putuskan untuk mencari daerah lain lagi”. (Wawancara dengan Retno Koesdijarto, Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, 30 April 2012)

Corporate Affairs CCAI Jawa Timur yang telah melakukan pencarian dan kemudian menemukan lahan kosong di daerah Kertosari ini pun menjatuhkan pilihan pada lokasi ini. akhirnya memilih lahan tersebut karena disamping itu, adanya tanggung jawab dari National Office untuk segera mengimplementasikan program tersebut. Dalam hal ini, pencarian lokasi dapat dikatakan sendiri terkejar oleh tanggung jawab dijalankannya program sehingga ketika menemukan lokasi yang sudah memenuhi kriteria maka lahan itu kemudian dipilih Dalam hal ini yang diutamakan dalam hal ini sendiri adalah adanya lokasi yang dapat digunakan untuk mengembangkan program Coke Farm.

Setelah adanya pencarian dan pemilihan lokasi ini, Corporate Affairs CCAI Jawa Timur juga merasakan bahwa program ini tidak dapat dikelola secara mandiri oleh mereka dikarenakan adanya keterbatasan pengetahuan dalam bidang

(19)

pertanian dan juga sumber daya manusia dalam Corporate Affairs CCAI Jawa Timur sendiri hanya terdiri dari dua orang sehingga tidak mungkin program ini dijalankan tanpa bantuan dari pihak lain. Memahami keterbatasan ini maka Corporate Affairs CCAI Jawa Timur memutuskan untuk menjalin kerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat. Hal ini dianggap menjadi salah satu cara yang tepat untuk membantu pengelolaan program Coke Farm sendiri. Karena tidak memungkinkan kondisinya apabila Corporate Affairs CCAI Jawa Timur yang menjalankan program sedangkan sumber daya manusia terbatas dan mereka tidak memiliki kemampuan dalam bidang pertanian.

Adanya kondisi untuk bermitra dengan Lembaga Swadaya Masayarakat dalam mengelola program ini sendiri kemudian membuat Corporate Affairs CCAI Jawa Timur mengambil langkah untuk mengumpulkan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat yang berasal dari daerah Pasuruan yaitu LSM Kaliandara, Yayasan Satu Daun, serta beberapa LSM lainnya. Dalam proses ini, pihak Corporate Affairs CCAI Jawa Timur kemudian memilih Yayasan Satu Daun untuk diajak bermitra. Alasan pemilihannya sendiri lebih berdasar pada Yayasan Satu Daun memiliki kedekatan dengan masyakarat Desa Kertosari serta berasal dari daerah setempat. Corporate Affairs CCAI Jawa Timur menuturkan dalam hal ini performance ataupun kemampuan tidak menjadi prioritas utama dalam hal ini tapi lebih didasarkan pada adanya faktor kedekatan antara Yayasan Satu Daun dengan Desa Kertosari sendiri. Sesuai dengan yang dikemukakan Retno :

“Ya dipilih Satu daun karena mereka mampu ya mengkomunikasikan tentang program ini kepada Desa Kertosari karena faktor kedekatan tersebut. Ya mereka juga punya akses yang baik dengan pemerintah desa Kertosari jadi hal tersebut juga tentunya akan lebih memudahkan kita” (Wawancara dengan Retno Koesdijarto, Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, 30 April 2012)

Yayasan Satu Daun dipilih dengan alasan adanya faktor kedekatan antara LSM tersebut dengan masyarakat desa Kertosari. Hal ini akan lebih memudahkan Coca-Cola dalam mengimplementasikan program ini serta LSM dianggap capable untuk berkomunikasi dengan masyarakat desa khususnya para petani terkait

(20)

program tersebut. Peneliti disini melihat bahwa pemilihan LSM dilakukan lebih didasarkan pada upaya untuk memudahkan Corporate Affairs CCAI Jawa Timur untuk mengimplementasikan program ini di Desa Kertosari. Sesuai dengan penuturan Corporate Affairs CCAI Jawa Timur bahwa memilih satu Daun sendiri memang didasarkan faktor kedekatan antara LSM dengan masyarakat sekitar sehingga LSM lebih memahami kultur masyarakat setempat. Corporate Affairs CCAI Jawa Timur menyerahkan sepenuhnya kepada pihak LSM dan tidak menyelami secara langsung kultur dari masyarakat setempat tetapi bergantung pada keberadaan LSM sebagai mediator antara perusahaan dan masyarakat Desa Kertosari.

“Setelah itu, ya dipilih Satu daun karena mereka mampu ya mengkomunikasikan tentang program ini kepada Desa Kertosari karena faktor kedekatan tersebut. Ya mereka juga punya akses yang baik dengan pemerintah desa Kertosari jadi hal tersebut juga tentunya akan lebih memudahkan kita”. (Wawancara dengan Retno Koesdijarto, Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, 30 April 2012)

Dengan dipilihnya LSM Yayasan Satu Daun sebagai mitra dalam program ini, maka Corporate Affairs CCAI Jawa Timur memberikan penjelasan mengenai desain program Coke Farm ini di daerah-daerah sebelumnya seperti apa. Dengan memberikan penjelasan dan gambaran mengenai program diharapkan informasi yang disampaikan kepada LSM bisa menjadi gambaran serta memberikan pemahaman mengenai program Coke Farm. Dalam penyampaian mengenai konsep dan desain program, Yayasan Satu Daun menyatakan kesanggupan dalam menjalankan program tetapi tidak dapat persis sama dengan Coke Farm yang ada di tempat lain.

Yayasan Satu Daun sendiri mengungkapkan bahwa program Coke Farm yang hendak dijalankan di Desa Kertosari akan direduksi sedikit dari desain aslinya dikarenakan Coke Farm di daerah lain sendiri berada dalam lokasi pabrik dan dikelola oleh karyawan pabrik. Untuk menjalankan sesuatu yang sama persis dengan Coke Farm di wilayah Kertosari sendiri berbeda. LSM juga menyebutkan bahwa dalam berkomunikasi mengenai konsep Coke Farm sendiri memang terjadi

(21)

sedikit perbedaan pandangan antara Corporate AffairsCCAI Jawa Timur dengan pihak LSM. Perbedaan pandangan itu mengarah pada tujuan program yang berbeda. Coca-Cola muncul dengan tujuan mewujudkan kontribusi pada lingkungan sertra mengarah kepada kuantitas produk serta peningkatan pendapatan petani. Disisi lain pihak LSM, ingin mengembangkan program ini juga sebagai media pembelajaran bagi petani-petani Kertosari lainnya yang tidak terlibat dalam program ini. Sesuai dengan yang dikemukakan Fathur Rahman :

“Perbedaan pandangannya, kalau Coca-Cola waktu itu yang saya tangkap tujuan dari program ini lebih mengarah pada orientasi produk jadi ke arah kuantitas hasil Coke Farm yang ditanam yang digarap apa saja dan peningkatan petani meningkat. Berapa banyak yang ditanam. Sedangkan saya sendiri saya sendiri lebih berfokus pada pembelajaran. Jadi Coke Farm ini sebagai pembelajaran kepada bagi petani-petani yang lain ya yang mungkin juga ada di luar Coke Farm”. (Wawancara dengan Fathur, LSM Yayasan Satu Daun, 20 April 2012).

Setelah menemukan mitra dalam ikut menjalankan program ini maka hal lain yang dilakukan oleh Corporate Affairs CCAI Jawa Timur adalah membuat anggaran terkait program Coke Farm. Dalam pembuatan anggaran Corporate Affairs CCAI Jawa Timur mengkomunikasikan terlebih dahulu mengenai anggaran dana yang dibutuhkan kepada National Office. Pembuatan dana dan anggaran dilakukan secara sepihak oleh pihak Corporate Affairs CCAI Jawa Timur tanpa melibatkan Yayasan Satu Daun, sehingga Corporate Affairs CCAI Jawa Timur hanya memberikan budget sekian yang disesuaikan dengan perencanaan Coke Farm kedepan. Setelah dilakukan penganggaran untuk program, Corporate Affairs CCAI Jawa Timur membuatan Key Performance indikator juga dibuat oleh Corporate AffairsCCAI Jawa Timur dengan berkoordinasi dengan National Office. Key Performance Indikator itu berisikan penggarapan lahan, pembuatan irigasi, pembibitan, pembuatan kompos, pelatihan kepada petani,penanaman tanaman holtikultura membantu petani serta mendampingi, membantu petani dalam penjualan hasil panen. Dalam indikator

(22)

yang dibuat kurang lebih berisikan hal-hal teknis seperti apa saja yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak. Setelah semua proses tersebut dilakukan maka Yayasan Satu Daun terkait kontrak kerjasama dalam pelaksanaan program ini. Dalam kontrak kerjasama yang dibuat berisikan kesepakatan antara kedua pihak terkait pelaksanaan program tersebut serta key performance indikator yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak.

Adanya jalinan kerjasama dengan LSM Yayasan Satu Daun dalam proses ini maka ikut melibatkan Yayasan Satu Daun dalam proses perencanaan ini. Hal pertama yang dilakukan pihak LSM Yayasan Satu Daun adalah mengkomunikasikan penggunaaan lahan secara langsung dengan pihak Desa Kertosari. Setelah melakukan koordinasi dengan pihak Desa Kertosari terkait penggunaan lahan langkah berikutnya adalah pihak LSM melakukan pemilihan petani serta berkomunikasi dengan Gapoktan Desa Kertosari terkait akan dijalankannya program Coke Farm. Dalam hal ini Corporate AffairsCCAI Jawa Timur yaitu Retno menyerahkan hal ini sepenuhnya kepada LSM dalam hal pemilihan petani siapa saja yang akan diberdayakan dari Gapoktan Desa Kertosari. LSM dianggap lebih capable dalam memilih calon petani yang mampu ikut terlibat dalam mengelola program ini dilapangan. Untuk jumlah petani yang ditargetkan terlibat dalam program ini adalah secara langsung dalam program ini adalah tiga orang dimana dua adalah petani dan salah satunya pendampingnya berasal dari LSM.

“ Kalo mengenai pemilihan dan berkomunikasi dengan pihak Petani memang kita serahkan sama LSM, karena dalam hal ini yang mengerti petani yang kredibel ataupun tepat untuk dilibatkan itu yang lebih mengerti memang LSM, kita pokoknya tetap support, tapi untuk pemilihan dan mengkomunikasikan program ini pada awalnya ke Gapoktan memang Fathur ya”. (Wawancara dengan Retno Koesdijarto, Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, 30 April 2012).

Program Coke Farm sendiri dimulai sejak awal Januari 2011. Dalam implementasinya, Corporate Affairs CCAI Jawa Timur melakukan pemantauan terhadap program Coke Farm di Desa Kertosari. Pengawasan terhadap program

(23)

ini dilakukan oleh Corporate Affairs CCAI Jawa Timur melalui mengadakan kunjungan ke lapangan serta melakukan pengawasan melalui weekly dan monthly report. Melalui weekly dan monthly report ini akan diberikan rekomendasi-rekomendasi dan tanggapan terkait laporan tersebut. Selain itu, diadakan kunjungan lapangan oleh pihak Corporate Affairs CCAI Jawa Timur namun tidak dilakukan secara rutin dikarenakan kesibukan lainnya yang harus dilakukan. Jarak lokasi yang jauh juga menjadi kendala bagi Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dalam melakukan kunjungan secara langsung. Terkait dengan pengawasan melalui weekly dan monthly report, Yayasan Satu Daun mengungkapkan bahwa Corporate Affairs CCAI Jawa Timur terkadang tidak memberikan respons ataupun membalas laporan yang dikirimkan melalui e-mail. Dalam hal ini, Yayasan Satu Daun sendiri agak menyayangkan hal tersebut. Sesuai dengan pernyataan Fathur Rahman :

“ Cuma saya agak menyayangkan sih, terkadang itu saya kirim laporan ke Retno tapi ga dibales. Jadinya kan saya gatau laporannya nyampe ga diterima ga, apakah sudah dibaca. Mungkin memang sibuk, tapi sekedar say thanks atau jawab saya sudah terima kan gapapa, jadi saya tau sudah sampai, mungkin sekitar dua kali ya saya ga dibales dan saya udah pernah sampaikan kok sama yang bersangkutan”. (Wawancara dengan Fathur, LSM Yayasan Satu Daun, 2 Mei 2012).

Selama program berlangsung, komunikasi secara langsung dengan petani terkait program Coke Farm ini sendiri tidak dilakukan oleh Corporate Affairs CCAI Jawa Timur karena dipercayakan sepenuhnya untuk LSM. Menurut Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dalam hal ini, Yayasan Satu Daun disini berperan sebagai mediator antara pihaknya dengan petani sehingga tidak perlu berkomunikasi secara langsung dengan pihak petani.

Dalam implementasi program ini sendiri, Corporate Affairs CCAI Jawa Timur juga hendak menginformasikan mengenai program Coke Farm melalui Peresmian program Coke Farm di Desa Kertosari. Peresmian ini sendiri dilaksanakan pada tanggal 22 Juni 2011 bertempat di Desa Kertosari. Melalui peresmian ini, hadir Gapoktan Desa Kertosari, Bupati Pasuruan, Dinas Pertanian

(24)

serta perangkat desa, Media massa, serta Karang taruna dari daerah tersebut. Dalam peresmian program diperkenalkan mengenai tanaman apa saja yang ditanam, tujuan dari program ini sendiri dan selain itu dilakukan panen oleh Bupati untuk membuka kegiatan tersebut. Corporate Affairs berkoordinasi dengan LSM Satu Daun juga melakukan koordinasi terkait peresmian program tersebut. Yayasan Satu Daun juga mengungkapkan bahwa dalam hal ini pihaknya banyak berkontribusi dalam pelaksanaan peresmian program tersebut.

Dalam implementasi program di lapangan, aktivitas yang dilakukan Yayasan Satu Daun bersama petani antara lain adalah membuat sungkup, melakukan pendampingan pada petani terkait keterampilan pertanian. Selain itu aktvititas yang dilakukan antara lain adalah melakukan penanaman, pembibitan serta perawatan tanaman hijau atau tanaman holtikultura bersama petani. Pengolahan limbah teh sebagai kompos juga menjadi salah satu aktivitas yang seharusnya berjalan selama program namun tidak berlangsung secara optimal dikarenakan support dari Corporate AffairsCCAI Jawa Timur hanya satu truk selama program tersebut berlangsung. Hal ini tidak sesuai dengan perjanjian serta kesepakatan kedua belah pihak baik itu Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dan Yayasan Satu Daun di mana sejak awal pupuk sudah dijanjikan untuk mendukung berjalannya program Coke Farm. Corporate Affairs CCAI Jawa Timur sendiri mengakui bahwa hal tersebut terjadi dengan alasan limbah teh tidak dapat diproses keluar dari pabrik oleh Badan Lingkungan Hidup.

Yayasan Satu Daun telah menawarkan kepada Corporate Affairs CCAI Jawa Timur untuk dibantu dalam proses pengurusan izin limbah tetapi hal tersebut tidak direspon. Sama halnya dengan pemanfaatan limbah PET sebagai media penanaman yang telah disepakati sejak awal antara kedua belah tidak berlangsung secara berkelanjutan. Hal ini dikarenakan tidak adanya suplai sesuai kesepakatan awal dari Corporate AffairsCCAI Jawa Timur. Corporate Affairs CCAI Jawa Timur menuturkan bahwa tidak ada produksi botol PET di pabrik sebanyak yang dibutuhkan menjadi alasan tidak adanya support botol. Sesuai kesepakatan sendiri pembibitan yang menggunakan limbah PET ditargetkan oleh pihak Corporate Affairs CCAI Jawa Timur sebanyak 200.000 ribu sedangkan limbah PET yang diberikan hanya sebanyak 2300 limbah PET. Yayasan Satu Daun menilai hal

(25)

tersebut terjadi dikarenakan lemahnya komitmen manajemen terkait pemanfaatan limbah itu sendiri dimana pihak internal Coca-Cola menganggap limbah tersebut masih memiliki nilai ekonomis dan masih memberikan keuntungan dibanding dimanfaatkan untuk program Coke Farm.

Menjelang berakhirnya masa kontrak dengan Yayasan Satu Daun, Corporate Affairs CCAI Jawa Timur melakukan penilaian terkait Key Performance Indikator. Penilaian terhadap program ini sendiri dilakukan pada saat program itu sendiri hampir berakhir yaitu sekitar pertengahan bulan Desember 2011. Penilaian yang dilakukan melihat kembali pada Key Performance Indikator yang telah dibuat pada perencanaan program tersebut. Dari penilaian terhadap Key Performance Indikator dengan kondisi di lapangan saat ini adanya anggapan bahwa LSM belum kompeten dalam membantu pengelolaan program tersebut. Corporate Affairs CCAI Jawa Timur melihat bahwa tidak ada kontinuitas dari program Coke Farm itu di lapangan. Dari kondisi ini, maka Corporate Affairs CCAI Jawa Timur tidak lagi memberikan support dalam bentuk dana kepada program dan saat ini sendiri program tersebut sementara dibekukan karena masih dalam proses pertimbangan.

Proses pertimbangan disini adalah mengganti LSM atau tetap bekerjasama dengan Yayasan Satu Daun. Dalam hal ini, kemungkinan dalam mengganti Yayasan Satu Daun tidak memungkinkan karena faktor kedekatannya dengan Desa Kertosari, peminjaman lahan kosong, serta adanya kerjasama antara pihak Desa dengan Yayasan Satu Daun selama dua puluh lima tahun. Apabila Corporate Affairs CCAI Jawa Timur ingin tetap melanjutkan di Kertosari maka harus menjalin kerjasama kembali dengan Satu Daun. Sebaliknya, jika memang tidak hendak mengganti maka pihak Corporate Affairs CCAI Jawa Timur mempertimbangkan untuk memindahkan pengembangan Coke Farm ke tempat lain dimana harus melakukan penggarapan kembali.

“ada perjanjian antara satu daun dengan desa terkait yang tidak memungkinkan kita untuk mengganti LSM yang ada. Kalau dari dokumen yang ada memang tidak memungkinkan apabila kita mengganti LSM tersebut. Itulah yang membuat kita akhirnya kita agak tidak merasa cocok.

(26)

ya terlepas dari ada kerjasama dengan satu Daun tapi kan melalui dokumen itu kita seperti dipaksa untuk terus bekerjasama dengan Satu Daun. Itu kan menjadi sesuatu yang tidak baik karena dipaksa ya, karena setelah kita mengukur keberhasilannya. Jadi kalau mau tetap melaksanakan Coke Farm di Kertosari yah kita harus tetap dengan Satu Daun”. (Wawancara dengan Oni Dwi Arianto, 23 April 2012).

Dari pihak LSM sendiri menilai bahwa Corporate Affairs CCAI Jawa Timur terlalu terlambat dalam melakukan penilaian kepada program Coke Farm karena dilakukan menjelang akhir masa program Yayasan Satu Daun menilai banyaknya support yang tidak diberikan Corporate Affairs CCAI Jawa Timur juga ikut mempengaruhi proses di lapangan seperti pembuatan kompos dan pemanfaatan limbah PET. Hal ini mempengaruhi tidak tercapainya pembibitan hingga 200.000 bibit dan yang tercapai hanya 30.000 bibit karena yang PET yang disuplai hanya 2300 limbah PET. Corporate Affairs CCAI Jawa Timur sendiri tidak menyalahkan sepenuhnya tidak tercapainya pembibitan sejumlah yang ditentukan karena jumlah pembibitan dalam perjanjian itu juga dipengaruhi oleh CCAI National Office.

Yayasan Satu Daun sendiri menilai, bahwa sejak Juni 2011 kontrak telah berakhir sejak Juni 2011 dan pemberian support sudah tidak ada. Pihak Corporate Affairs CCAI Jawa Timur mengungkapkan hal yang sebaliknya bahwa program berakhir pada akhir Januari 2012 karena hingga saat itu masih diberikan bantuan kepada Yayasan Satu Daun namun tidak lagi dibuat dalam kontrak. Dari Yayasan Satu Daun membenarkan bahwa sempat diberikan penambahan seperti untuk kebutuhan bibit tanaman, penggarapan sungkur yang rusak serta biaya pengecatan rumah Gapoktan dan biaya penggalian yang belum bisa mencukupi seluruh tidak mencukupi seluruh proses tersebut di lapangan. Yayasan Satu Daun mengungkapkan bahwa setelah launching program Coke Farm dapat dikatakan Corporate Affairs CCAI Jawa Timur sudah tidak pernah melakukan pengontrolan terhadap program. Saat ini sendiri, program masih tetap dijalankan oleh Yayasan Satu Daun dengan dibantu Hadi yang memang merupakan petani dari awal Coke Farm berjalan hingga saat ini.

(27)

Dari hasil observasi peneliti di lapangan, peneliti menemukan bahwa walaupun program ini dibekukan dan memang tidak dibawah support Corporate Affairs CCAI Jawa Timur. Namun program ini masih tetap berjalan walaupun tidak seperti awal program diimplementasikan. Aktivitas program seperti penanaman beberapa jenis sayuran seperti sawi dan bayam yang kemudian didistribusikan di beberapa tempat salah satunya Taman Safari Pasuruan masih tetap dilakukan oleh Yayasan Satu Daun serta Petani. Hadi sebagai petani yang terlibat dalam program menuturkan bahwa program ini memiliki konsep yang baik sehingga melalui Coke Farm, dia serta petani lainnya dari Kertosari mendapatkan pembelajaran tentang tanaman hijau serta holtikultura. Seperti yang dituturkan Hadi berikut ini :

“yah, klo jujur ya maunya program ini jalan kayak dulu lagi, ya Coca-Cola ada support, jadi nanemnya isa macam-macam bisa variatif. Kalau sekarang ini ya cuma sawi sama bayam tok tiap bulan. Padahal Coke Farm ini, selain bisa ngarap saya ya bisa belajar-belajar kayak tanaman sayuran, tomat sambel, cabe itu nananmnya dalam jumlah besar gimana. ya tapi gimana ya maunya sih programnya disupport lagi, teman-teman petani sing laen tu ya banyak belajar lewat Coke Farm juga”. (Wawancara dengan Hadi, 2 Mei 2012)

Hadi selaku petani yang terlibat dalam program ini juga mengakui bahwa program Coke Farm sendiri konsep dari program yang baik bagi para petani. Dari program ini, banyak pengetahuan yang bisa didapatkan Hadi selama mengikuti program khususnya dalam bidang pertanian.

“Kalo petani-petani yang lain seneng dengan program ini, banyak yang sering Tanya-tanya mereka akan mendukung program ini jalan. Petani sekitar sangat mendukung. Kalo sendiri saya merasa eman gitu lo, saya ini program cukup bagus, cukup bagus pokoknya menurut saya tapi klo ga ada support dari luar kan ga bisa bagus, ga bisa maksimal”. (Wawancara dengan Hadi, 2 Mei 2012)

(28)

Sebagai petani yang terlibat dalam program ini, Hadi merasa program ini telah cukup baik dan dapat hasil yang didapatkan cukup untuk digunakan. Jika dihubungan dengan tujuan Coke Farm sendiri yaitu meningkatkan pendapatan masyarakat petani serta memberikan pengetahuan dalam bidang pertanian, Hadi mengakui bahwa untuk meningkatkan pendapatan memang tidak secara drastis, namun pendapatannya selama mengikuti Coke Farm dapat mencukupi kebutuhannya. Terkait memberikan pengetahuan dalam bidang pertanian, Hadi sendiri menuturkan bahwa dia mendapatkan banyak pembelajaran dalam bidang pertanian, baik dalam melakukan penanaman, perawatan, pembibitan, panen serta pembuatan kompos.

4.5. Analisis dan Interpretasi Data

Dalam melakukan analisis dan interpretasi data, peneliti sekaligus melakukan triangulasi. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teori. Triangulasi sumber adalah membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu adan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif (Moleong, 2010, p.330). Triangulasi sumber dalam penelitian ini dilakukan dengan membandingkan hasil wawancara antara, Retno Koesdijarto, Oni Dwi Arianto, dengan Fathur Rahman dan Hadi.

Triangulasi teori adalah mencari tema atau penjelasan pembanding dengan menyertakan usaha pencarian cara lainnya untuk mengorganisasikan data yang mungkin mengarahkan pada upaya penemuan penelitian lainnya (Moleong, 2010, p. 331-332). Dalam hal ini, peneliti akan melakukan triangulasi teori dengan membandingkan data dengan konsep-konsep yang berkaitan dengan Tahapan Proses Public Relations dan Corporate Social Responsibility. Dalam mengatur dan pelaksanaan program dan kegiatan PR, hal ini dapat mengacu pada empat tahapan proses Public Relations yang dimulai dari mendefinisikan problem (peluang), perencanaan dan pemrograman, mengambil tindakan dan berkomunikasi, serta mengevaluasi program (Cutlip, 2009, p.320). Peneliti membagi analisis proses Public Relations ini dalam empat tahap yaitu mendefinisikan problem (peluang), perencanaan dan pemrograman, mengambil

(29)

tindakan dan berkomunikasi, serta mengevaluasi program. Disamping itu, program Public Relations Coke Farm yang akan dianalisis dalam hal ini merupakan wujud tanggung jawab sosial perusahaan. Dalam analisis proses Public Relations, peneliti juga akan menambahkan beberapa konsep terkait Corporate Social Responsibility untuk memperdalam analisis.

4.5.1. Analisis Tahapan Program CSR Coke Farm Jawa Timur

Program Coke Farm ini sendiri dijalankan oleh Corporate Affairs CCAI Jawa Timur. Corporate Affairs dalam hal ini sama dengan Public Relations. Dalam penelitian ini, Corporate Affairs memiliki tugas dan tanggung jawab dalam melaksanakan program Coke Farm yang dimana sesuai dengan definisi Public Relations adalah seni dan ilmu sosial yang menganalisis kecenderungan, memperkirakan sebab akibat, memberikan saran kepada pimpinan perusahaan serta melaksanakan program tindakan terencana yang melayani baik kepentingan organisasi dan khalayaknya (Morrisan, 2008, p. 8). Program tindakan terencana yang dimaksudkan dalam hal ini adalah Program Coke Farm. Coke Farm sendiri merupakan wujud tanggung jawab sosial perusahaan yang merupakan sebuah program yang dijalankan Corporate Affairs CCAI.

Dalam ini, peneliti akan menganalisis Tahapan Proses Public Relations dalam Program Corporate Social Responsibility Coke Farm melalui beberapa tahapan yang dilakukan oleh Corporate Affairss, LSM, serta keterlibatan petani berdasarkan konsep Cutlip untuk menguraikan Tahapan Proses Public Relations. Tahapan-tahapan proses yang akan dianalisis dalam sub-bab ini adalah mendefinisikan problem (peluang), perencanaan dan pemrograman, mengambil tindakan dan berkomunikasi, serta mengevaluasi program. Analisis juga diperkuat dengan deskripsi hasil wawancara yang telah dilakukan terhadap Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, Lembaga Swadaya Masyarakat Yayasan Satu Daun, serta petani yang terlibat dalam program Coke Farm sebagai berikut.

(30)

4.5.1.1. Mengidentifikasi problem (atau peluang) Program CSR Coke Farm Jawa Timur

Dalam langkah pertama ini mencakup penyelidikan dan memantau pengetahuan, opini, sikap, dan perilaku pihak-pihak terkait dengan dipengaruhi oleh, tindakan dan kebijakan organisasi. Pada dasarnya ini adalah fungsi inteligen organisasi. Fungsi ini menyediakan dasar untuk semua langkah dalam proses pemecahan problem dengan menentukan “Apa yang sedang terjadi saat ini?” (Cutlip, 2006, p. 320).

Dalam proses ini, Corporate Affairs CCAI Jawa Timur tidak melakukan riset untuk merancang program Coke Farm ini sendiri melainkan program ini merupakan pilot project dari tim Corporate Affairs National Office yang juga harus dijalankan dan dikembangkan di Coca-Cola Amatil Jawa Timur. Tanggung jawab untuk mengembangkan desain program Coke Farm ini juga didasarkan pada adanya keberhasilan program Coke Farm di daerah pertama yaitu Bandung, Jawa Barat. Tanggung jawab yang diberikan oleh National Office CCAI bagi Corporate Affairs untuk mengembangkan dan mengimplementasikan program Corporate Social Responsibility Coke Farm di Jawa Timur.

Berdasarkan wawancara dengan Retno Koesdijarto :

“Kalau untuk program ini sendiri, kebetulan program ini memang program kembangan dari National Office ya, dan program ini memang ingin dikembangkan ditempat-tempat dimana Coca-Cola beroperasi jadi memang program ini bukan dirancang langsung oleh kita disini, tapi diberikan tanggung jawab untuk menjalankan program ini di sekitar daerah pabrik. Ide dan desain program ini sendiri kan memang bermula dari keberhasilan Coke Farm yang dibuat di Bandung ya”. (Wawancara dengan Retno Koesdijarto, Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, 30 April 2012).

Pernyataan Retno ini menjadi pendukung dimana program Coke Farm ini harus dijalankan di Jawa Timur, berdasar pada adanya tanggung jawab yang diberikan oleh CCAI National Office. Sesuai dengan Strategi SO atau Strength Opportunity, yaitu strategi yang didasarkan pada kekuatan organisasi untuk

(31)

mengambil keuntungan dari lingkungan eksternal. Strategi ini biasanya dilakukan oleh perusahaan yang memiliki kekuatan dan sanggup mengambil keuntungan dari adanya peluang di lingkungan eksternal perusahaan (Cutlip, 2009, p.331). Peneliti dalam hal ini melihat bahwa konsep dari program ini sendiri masih didasarkan pada kekuatan organisasi, dimana organisasi CCAI ingin sekali mengembangkan desain program Coke Farm ini ke beberapa daerah yang salah satunya adalah Jawa Timur.

Dalam tahapan ini, Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dalam rangka mennjalankan desain program Coke Farm di Jawa Timur maka dilakukan riset mengenai lingkungan yang akan menjadi tempat untuk mengembangkan Coke Farm, hal ini dilakukan dengan turun ke lapangan untuk mencari lokasi. Sesuai dengan yang diungkapkan Retno Koesdijarto sebagai berikut :

“ Dalam hal ini kita melakukan riset yang dalam mencari lokasi, dan cukup sulit. Ya saya sudah melakukan pencarian kebeberapa lokasi. Pertama itu mencari di daerah sekitar pabrik ya di Desa Tamanan karena lokasinya memang tidak jauh dari area pabrik. Dan masuk ring 1 CSR kita ya. Hanya saja ketika kita berkomunikasi dengan pihak desa, pihak desa tidak begitu bisa menerima dengan pembuatan program ini, tapi lebih memilih diberikan dana pengembangannya saja. Sehingga saya putuskan untuk mencari daerah lain lagi”.(Wawancara dengan Retno Koesdijarto, Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, 30 April 2012)

Berdasarkan pernyataan Retno ini, dapat disimpulkan pada awalnya Corporate Affairs CCAI Jawa Timur telah turun ke lapangan untuk melihat respon masyarakat di sekitar pabrik yaitu masyarakat Desa Tamanan terhadap desain program Coke Farm. Adanya kenyataan serta perbedaan pemahaman antara Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dengan masyarakat Desa Tamanan tidak memungkinkan program Coke Farm dapat dikembangkan di daerah tersebut. Rahmatullah menyebutkan assessment merupakan tahap pertama dalam pelaksanaan program Corporate Social Resposibility. Dalam proses assessment, masyarakat dilibatkan secara aktif agar mereka dapat merasakan bahwa permasalahan yang sedang dibicarakan benar-benar pemasalahan yang keluar dari

(32)

pandangan mereka sendiri. Proses assessment dilakukan dengan mengidentifikasi masalah, kebutuhan yang diekspresikan dan juga sumber daya yang dimiliki komunitas sasaran. (Rahmatullah 2009, 71). Dalam proses ini, dapat dikatakan proses assessment sempat dilakukan pihak Corporate Affairs CCAI Jawa Timur pada saat mereka melakukan analisis terhadap masyarakat di Tamanan yang merupakan masyarakat sekitar pabrik. Peneliti melihat dalam hal ini, Corporate Affairs CCAI Jawa Timur pada awalnya telah melakukan proses need assessment untuk menilai kebutuhan dari masayarakat Desa Tamanan. Hanya saja adanya perbedaan dalam memandang program ini yang mengakibatkan program ini tidak dapat diimplementasikan di wilayah tersebut. Dalam hal ini, langkah yang tepat dalam melakukan assessment telah dilakukan oleh Corporate Affairs CCAI Jawa Timur namun kenyataannya program itu tidak bisa diimplementasikan di wilayah Tamanan. Hal ini juga diperkuat dengan apa yang dituturkan oleh Oni Dwi Arianto sebagai berikut :

“Kita awalnya pengen lokasinya di sekitar pabrik, kita udah pernah ninjau ke tamanan, suatu dusun, kita juga sudah berkomunikasi kesana ya, cuma sebagian besar warga disana belum bisa menerima program itu ya karena mereka belum siap menerima seperti itu, bagi mereka sih pengennya langsung uang cash dikasih cash money. Jadi untuk berproses dalam program itu sih, bagi mereka masih terlalu lama sehingga akhirnya, kita memutuskan untuk mencari tempat lain”. (Wawancara dengan Oni Dwi Arianto, 23 April 2012).

Berangkat dari kenyataan ini maka Corporate Affairs CCAI Jawa Timur melakukan pencarian lokasi lain untuk mengembangkan desain program Coke Farm. Pencarian lokasi sendiri memakan waktu kurang lebih selama dua bulan dan Corporate Affairs CCAI Jawa Timur menemukan salah satu lahan tidak produktif di wilayah Desa Kertosari. Adanya temuan lahan tidak produktif di Desa Kertosari ini akhirnya diputuskan menjadi lahan yang akan digunakan Corporate Affairs CCAI Jawa Timur untuk mengembangkan program ini. Dalam proses pencarian lokasi hingga Desa Kertosari dipilih sebagai wilayah untuk mengimplementasikan program Coke Farm. Pihak Corporate Affairs CCAI Jawa

(33)

Timur sempat melakukan koordinasi dengan beberapa pihak yang dikenal salah satunya dengan Satu Daun serta Dinas Pertanian terkait lahan-lahan tidak produktif yang dapat dikembangkan.

“kita memutuskan untuk di Kertosari itu. Karena memang kita mencari, kita berkoordinasi dengan satu Daun, kita berkoordinasi juga dengan dinas Pertanian. Dan akhirnya kita ketemu lahan desa Kertosari yang siap digunakan untuk Coke Farm dan kita memutuskan untuk di Kertosari itu.”. (Wawancara dengan Oni Dwi Arianto, 23 April 2012)

.

Dalam pencarian lokasi hingga pemilihan sendiri, terlihat bahwa proses pemilihan lokasi mengembangkan Coke Farm tidak di dasari dengan melakukan penilaian kebutuhan masyarakat setempat terkait program tersebut. Corporate Affairs CCAI Jawa Timur mendasarkan pemilihan tidak dari melihat kebutuhan masyarakat tetapi dari hasil koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Yayasan Satu mengenai adanya lahan kosong lahan tidak produktif di Kertosari yang siap digunakan untuk menjadi saran mengembangkan program tersebut. Peneliti melihat proses assessment yang dilakukan Corporate Affairs CCAI Jawa Timur tidak berdasar pada melihat kebutuhan masyarakat tetapi lebih kepada melihat sumber daya yang dimiliki komunitas sasaran.

Melihat sumber daya yang dimiliki komunitas sasaran ini disimpulkan dari perhatian yang dilakukan lebih kepada pencarian lokasi lahan tidak produktif untuk dapat dikembangkan serta koordinasi yang dilakukan pada Dinas Pertanian serta Yayasan Satu Daun. Proses assessment secara utuh dimana mengidentifikasi masalah, menilai kebutuhan masyarakat yang pada awalnya telah dilakukan pada wilayah Tamanan tidak kembali dilakukan pada saat memilih Desa Kertosari sebagai tempat untuk mengembangkan program Coke Farm. Seharusnya assessment penting dilakukan oleh Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dengan turun langsung kepada masyarakat Desa Kertosari dan melakukan komunikasi dengan pihak desa terkait permasalahan dan apa yang mereka butuhkan tapi hal ini belum dilakukan karena koordinasi dengan pihak Desa sedari awal tidak dilakukan.

(34)

Hal ini diperkuat dengan pernyataan Oni Dwi Arianto sebagai berikut : “Waktu memilih lokasi Kertosari sendiri memang didasarkan pada adanya lahan kosong yang dapat dimanfaatkan untuk program ini, untuk berkomunikasi terkait pengembangan program kita serahkan pada pihak Satu Daun untuk melakukan hal tersebut”. (Wawancara dengan Oni Dwi Arianto, 23 April 2012).

Hal ini memperkuat bahwa proses need assessment yang pada awalnya sempat dilakukan di daerah yang terdahulu tidak lagi dilakukan secara tepat untuk wilayah Kertosari dimana program ini diimplementasikan. Peneliti menemukan bahwa Corporate Affairs CCAI Jawa Timur lebih berfokus pada pencarian lahan kosong untuk implementasi dari program ini sendiri. Belum dilakukannya proses need assessment ini secara tepat juga ikut dipengaruhi dari adanya deadline untuk segera mengimplementasikan program Coke Farm sehingga membuat proses assessment menjadi kurang tepat dan terkesan terburu-buru.

Sesuai dengan pernyataan Oni Dwi Arianto sebagai berikut :

“Dari internal itu kita harus menjalankan program ya. Artinya ada keterbatasan juga dari internal kita harus segera menjalankan program itu. Karena tidak mungkin berkutat pada mencari lahan dan akhirnya program ini tidak berjalan dan setiap program pastinya ada deadline ya. Setiap kegiatan kita ada deadline yang memang harus segera dilaksanakan”. (Wawancara dengan Oni Dwi Arianto, 23 April 2012).

Pernyataan Oni Dwi Arianto menunjukan adanya tanggung jawab secara internal untuk segera mengembangkan program Coke Farm serta adanya deadline waktu juga yang perlu dipertimbangkan hal ini. Kenyataan ini juga dijadikan salah satu pertimbangan untuk segera melaksanakan program dan pencarian lokasi dilakukan secara cepat karena tidak mungkin hanya berkutat pada mencari lahan dan sebagainya.. Hal ini menunjukan bahwa adanya keharusan menjalankan program menjadi prioritas dikarenakan ada deadline waktu terkait program itu sendiri.

(35)

Disamping tanggung jawab untuk menjalankan program, pihak Corporate Affairs CCAI Jawa Timur sendiri menyadari bahwa dalam tidak adanya kemampuan dalam bidang pertanian akan berpengaruh pada pelaksanaan program ini. Hal ini mengingat program ini merupakan program pertanian, sehingga aktivitas di dalam program ini akan berkisar mengenai pertanian, pembibitan dan penanaman. Selain itu, pihak Corporate Affairs juga menyadari bahwa ada keterbatasan secara internal dimana Corporate Affairs hanya terdiri dari dua orang yaitu seorang manajer dan staff. Menyadari hal ini maka membangun kemitraan dengan Lembaga Swadaya Masyarakat dilakukan sebagai keharusan untuk terlibat dalam membantu pengelolaan program. Rahmatullah (2011), mengemukakan kemitraan adalah kerjasama yang dilakukan perusahaan dengan pihak lain yang dipercaya untuk melaksanakan program Corporate Social Resposibility perusahaan. Hal ini terjadi dikarenakan keterbatasan perusahaan baik dalam aspek dana, Sumber Daya Manusia (SDM), keterampilan ataupun akses memilih menggandeng mitra dalam melaksanakan program CSR (p. 87-88). Peneliti melihat bahwa dalam kenyataannya pihak Corporate Affairs CCAI Jawa Timur sendiri memiliki terbatas dari Sumber Daya Manusia yang ada serta keterampilan dalam bidang pertanian dan holtikultura sehingga bermitra dengan LSM menjadi keharusan bagi Corporate Affairs CCAI Jawa Timur. Retno Koesdijarto selaku Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur menyadari kemampuan dalam mengelola program Coke Farm tentunya membutuhkan bantuan mitra untuk berkolaborasi yaitu Lembaga Swadaya Masyarakat.

Ini dipertegas dengan pernyataan Retno sebagai berikut :

“Dalam hal ini, saya sendiri kan tidak punya kemampuan dalam pertanian ya, sehingga kan ga mungkin saya mengajarkan seperti apa pertanian, nanam sayur. Menyadari hal itu maka saya tentunya harus menjalin mitra dengan LSM dalam hal itu. Hal tersebut juga memudahkan saya, karena kamu kan tau sendiri Lin kerjaan saya kayak apa dan tidak hanya ngurusi Coke Farm saja. Disini saya juga cuma berdua sama Mas Oni sedangkan banyak tugas lainnya yang kita juga harus jalankan satu-satu. Kamu tau sendiri kan Lin, kayak misalnya audit di pabrik, ada meeting, ada kunjungan

Gambar

Gambar 4.1. Logo PT. Coca-Cola Amatil Indonesia  Sumber : PT. Coca-Cola Amatil Surabaya (2012)
Gambar 4.2. Penggunaan Eco Uniform oleh karyawan  Sumber : PT. Coca-Cola Amatil Surabaya (2012)
Gambar 4.3. Pelaksanaan Coke Tour di Plant Coca-Cola  Sumber : PT. Coca-Cola Amatil Surabaya (2012)
Gambar 4.4. Proses Sosialisasi Eco Mobile ke sekolah dasar  Sumber : PT. Coca-Cola Amatil Surabaya (2012)
+7

Referensi

Dokumen terkait

nilai produksi pada sektor industri besar, sedang, dan kecil di Jawa Timur. Bagi

Hambatan kedua merupakan faktor access exclusion yang menjelaskan masalah keuangan inklusif sebagai akibat dari penilaian resiko-resiko yang mungkin muncul seperti ketentuan

Serapan CO2 Tanaman Padi di Lahan Sawah Jawa Timur Tahun 2010 Secara umum konsentrasi CO di wilayah.. Jawa Timur masih berada dibawah baku mutu, namun terjadi

Berdasarkan hasil wawancara, dua puluh lima perusahaan menyebutkan bahwa perkembangan industri di Jawa Timur dapat dikatakan meningkat, indikasinya adalah mayoritas

Identitas penilaian responden berikut ini disajikan tabel frekuensi tentang Penambahan Konsep Mai pada Konsep Trade Center Pasar Atum Menyebabkan Jumlah

Angkatan kerja dalam penelitian ini menunjukkan pengaruh yang negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Timur, dalam jangka panjang dan jangka pendek, hal ini menunjukkan

Pelanggan Corporate adalah perusahaan baik milik pemerintah maupun pihak swasta yang melakukan kerjasama dengan pihak PT Kantor Pos Solo dalam kegiatan bisnis baik

Terimakasih juga penulis sampaikan pada pihak-pihak di BPS Pusat, BPS DKI Jakarta, BPS Jawa Timur, BPS Jawa Barat dan BPS DI Yogyakarta yang telah memberikan ijin penelitian,