4.5. Analisis dan Interpretasi Data
4.5.1. Analisis Tahapan Program CSR Coke Farm Jawa Timur
4.5.1.1. Mengidentifikasi problem (atau peluang) Program CSR Coke Farm Jawa Timur
Dalam langkah pertama ini mencakup penyelidikan dan memantau pengetahuan, opini, sikap, dan perilaku pihak-pihak terkait dengan dipengaruhi oleh, tindakan dan kebijakan organisasi. Pada dasarnya ini adalah fungsi inteligen organisasi. Fungsi ini menyediakan dasar untuk semua langkah dalam proses pemecahan problem dengan menentukan “Apa yang sedang terjadi saat ini?” (Cutlip, 2006, p. 320).
Dalam proses ini, Corporate Affairs CCAI Jawa Timur tidak melakukan riset untuk merancang program Coke Farm ini sendiri melainkan program ini merupakan pilot project dari tim Corporate Affairs National Office yang juga harus dijalankan dan dikembangkan di Coca-Cola Amatil Jawa Timur. Tanggung jawab untuk mengembangkan desain program Coke Farm ini juga didasarkan pada adanya keberhasilan program Coke Farm di daerah pertama yaitu Bandung, Jawa Barat. Tanggung jawab yang diberikan oleh National Office CCAI bagi Corporate Affairs untuk mengembangkan dan mengimplementasikan program Corporate Social Responsibility Coke Farm di Jawa Timur.
Berdasarkan wawancara dengan Retno Koesdijarto :
“Kalau untuk program ini sendiri, kebetulan program ini memang program kembangan dari National Office ya, dan program ini memang ingin dikembangkan ditempat-tempat dimana Coca-Cola beroperasi jadi memang program ini bukan dirancang langsung oleh kita disini, tapi diberikan tanggung jawab untuk menjalankan program ini di sekitar daerah pabrik. Ide dan desain program ini sendiri kan memang bermula dari keberhasilan Coke Farm yang dibuat di Bandung ya”. (Wawancara dengan Retno Koesdijarto, Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, 30 April 2012).
Pernyataan Retno ini menjadi pendukung dimana program Coke Farm ini harus dijalankan di Jawa Timur, berdasar pada adanya tanggung jawab yang diberikan oleh CCAI National Office. Sesuai dengan Strategi SO atau Strength Opportunity, yaitu strategi yang didasarkan pada kekuatan organisasi untuk
mengambil keuntungan dari lingkungan eksternal. Strategi ini biasanya dilakukan oleh perusahaan yang memiliki kekuatan dan sanggup mengambil keuntungan dari adanya peluang di lingkungan eksternal perusahaan (Cutlip, 2009, p.331). Peneliti dalam hal ini melihat bahwa konsep dari program ini sendiri masih didasarkan pada kekuatan organisasi, dimana organisasi CCAI ingin sekali mengembangkan desain program Coke Farm ini ke beberapa daerah yang salah satunya adalah Jawa Timur.
Dalam tahapan ini, Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dalam rangka mennjalankan desain program Coke Farm di Jawa Timur maka dilakukan riset mengenai lingkungan yang akan menjadi tempat untuk mengembangkan Coke Farm, hal ini dilakukan dengan turun ke lapangan untuk mencari lokasi. Sesuai dengan yang diungkapkan Retno Koesdijarto sebagai berikut :
“ Dalam hal ini kita melakukan riset yang dalam mencari lokasi, dan cukup sulit. Ya saya sudah melakukan pencarian kebeberapa lokasi. Pertama itu mencari di daerah sekitar pabrik ya di Desa Tamanan karena lokasinya memang tidak jauh dari area pabrik. Dan masuk ring 1 CSR kita ya. Hanya saja ketika kita berkomunikasi dengan pihak desa, pihak desa tidak begitu bisa menerima dengan pembuatan program ini, tapi lebih memilih diberikan dana pengembangannya saja. Sehingga saya putuskan untuk mencari daerah lain lagi”.(Wawancara dengan Retno Koesdijarto, Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, 30 April 2012)
Berdasarkan pernyataan Retno ini, dapat disimpulkan pada awalnya Corporate Affairs CCAI Jawa Timur telah turun ke lapangan untuk melihat respon masyarakat di sekitar pabrik yaitu masyarakat Desa Tamanan terhadap desain program Coke Farm. Adanya kenyataan serta perbedaan pemahaman antara Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dengan masyarakat Desa Tamanan tidak memungkinkan program Coke Farm dapat dikembangkan di daerah tersebut. Rahmatullah menyebutkan assessment merupakan tahap pertama dalam pelaksanaan program Corporate Social Resposibility. Dalam proses assessment, masyarakat dilibatkan secara aktif agar mereka dapat merasakan bahwa permasalahan yang sedang dibicarakan benar-benar pemasalahan yang keluar dari
pandangan mereka sendiri. Proses assessment dilakukan dengan mengidentifikasi masalah, kebutuhan yang diekspresikan dan juga sumber daya yang dimiliki komunitas sasaran. (Rahmatullah 2009, 71). Dalam proses ini, dapat dikatakan proses assessment sempat dilakukan pihak Corporate Affairs CCAI Jawa Timur pada saat mereka melakukan analisis terhadap masyarakat di Tamanan yang merupakan masyarakat sekitar pabrik. Peneliti melihat dalam hal ini, Corporate Affairs CCAI Jawa Timur pada awalnya telah melakukan proses need assessment untuk menilai kebutuhan dari masayarakat Desa Tamanan. Hanya saja adanya perbedaan dalam memandang program ini yang mengakibatkan program ini tidak dapat diimplementasikan di wilayah tersebut. Dalam hal ini, langkah yang tepat dalam melakukan assessment telah dilakukan oleh Corporate Affairs CCAI Jawa Timur namun kenyataannya program itu tidak bisa diimplementasikan di wilayah Tamanan. Hal ini juga diperkuat dengan apa yang dituturkan oleh Oni Dwi Arianto sebagai berikut :
“Kita awalnya pengen lokasinya di sekitar pabrik, kita udah pernah ninjau ke tamanan, suatu dusun, kita juga sudah berkomunikasi kesana ya, cuma sebagian besar warga disana belum bisa menerima program itu ya karena mereka belum siap menerima seperti itu, bagi mereka sih pengennya langsung uang cash dikasih cash money. Jadi untuk berproses dalam program itu sih, bagi mereka masih terlalu lama sehingga akhirnya, kita memutuskan untuk mencari tempat lain”. (Wawancara dengan Oni Dwi Arianto, 23 April 2012).
Berangkat dari kenyataan ini maka Corporate Affairs CCAI Jawa Timur melakukan pencarian lokasi lain untuk mengembangkan desain program Coke Farm. Pencarian lokasi sendiri memakan waktu kurang lebih selama dua bulan dan Corporate Affairs CCAI Jawa Timur menemukan salah satu lahan tidak produktif di wilayah Desa Kertosari. Adanya temuan lahan tidak produktif di Desa Kertosari ini akhirnya diputuskan menjadi lahan yang akan digunakan Corporate Affairs CCAI Jawa Timur untuk mengembangkan program ini. Dalam proses pencarian lokasi hingga Desa Kertosari dipilih sebagai wilayah untuk mengimplementasikan program Coke Farm. Pihak Corporate Affairs CCAI Jawa
Timur sempat melakukan koordinasi dengan beberapa pihak yang dikenal salah satunya dengan Satu Daun serta Dinas Pertanian terkait lahan-lahan tidak produktif yang dapat dikembangkan.
“kita memutuskan untuk di Kertosari itu. Karena memang kita mencari, kita berkoordinasi dengan satu Daun, kita berkoordinasi juga dengan dinas Pertanian. Dan akhirnya kita ketemu lahan desa Kertosari yang siap digunakan untuk Coke Farm dan kita memutuskan untuk di Kertosari itu.”. (Wawancara dengan Oni Dwi Arianto, 23 April 2012)
.
Dalam pencarian lokasi hingga pemilihan sendiri, terlihat bahwa proses pemilihan lokasi mengembangkan Coke Farm tidak di dasari dengan melakukan penilaian kebutuhan masyarakat setempat terkait program tersebut. Corporate Affairs CCAI Jawa Timur mendasarkan pemilihan tidak dari melihat kebutuhan masyarakat tetapi dari hasil koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Yayasan Satu mengenai adanya lahan kosong lahan tidak produktif di Kertosari yang siap digunakan untuk menjadi saran mengembangkan program tersebut. Peneliti melihat proses assessment yang dilakukan Corporate Affairs CCAI Jawa Timur tidak berdasar pada melihat kebutuhan masyarakat tetapi lebih kepada melihat sumber daya yang dimiliki komunitas sasaran.
Melihat sumber daya yang dimiliki komunitas sasaran ini disimpulkan dari perhatian yang dilakukan lebih kepada pencarian lokasi lahan tidak produktif untuk dapat dikembangkan serta koordinasi yang dilakukan pada Dinas Pertanian serta Yayasan Satu Daun. Proses assessment secara utuh dimana mengidentifikasi masalah, menilai kebutuhan masyarakat yang pada awalnya telah dilakukan pada wilayah Tamanan tidak kembali dilakukan pada saat memilih Desa Kertosari sebagai tempat untuk mengembangkan program Coke Farm. Seharusnya assessment penting dilakukan oleh Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dengan turun langsung kepada masyarakat Desa Kertosari dan melakukan komunikasi dengan pihak desa terkait permasalahan dan apa yang mereka butuhkan tapi hal ini belum dilakukan karena koordinasi dengan pihak Desa sedari awal tidak dilakukan.
Hal ini diperkuat dengan pernyataan Oni Dwi Arianto sebagai berikut : “Waktu memilih lokasi Kertosari sendiri memang didasarkan pada adanya lahan kosong yang dapat dimanfaatkan untuk program ini, untuk berkomunikasi terkait pengembangan program kita serahkan pada pihak Satu Daun untuk melakukan hal tersebut”. (Wawancara dengan Oni Dwi Arianto, 23 April 2012).
Hal ini memperkuat bahwa proses need assessment yang pada awalnya sempat dilakukan di daerah yang terdahulu tidak lagi dilakukan secara tepat untuk wilayah Kertosari dimana program ini diimplementasikan. Peneliti menemukan bahwa Corporate Affairs CCAI Jawa Timur lebih berfokus pada pencarian lahan kosong untuk implementasi dari program ini sendiri. Belum dilakukannya proses need assessment ini secara tepat juga ikut dipengaruhi dari adanya deadline untuk segera mengimplementasikan program Coke Farm sehingga membuat proses assessment menjadi kurang tepat dan terkesan terburu-buru.
Sesuai dengan pernyataan Oni Dwi Arianto sebagai berikut :
“Dari internal itu kita harus menjalankan program ya. Artinya ada keterbatasan juga dari internal kita harus segera menjalankan program itu. Karena tidak mungkin berkutat pada mencari lahan dan akhirnya program ini tidak berjalan dan setiap program pastinya ada deadline ya. Setiap kegiatan kita ada deadline yang memang harus segera dilaksanakan”. (Wawancara dengan Oni Dwi Arianto, 23 April 2012).
Pernyataan Oni Dwi Arianto menunjukan adanya tanggung jawab secara internal untuk segera mengembangkan program Coke Farm serta adanya deadline waktu juga yang perlu dipertimbangkan hal ini. Kenyataan ini juga dijadikan salah satu pertimbangan untuk segera melaksanakan program dan pencarian lokasi dilakukan secara cepat karena tidak mungkin hanya berkutat pada mencari lahan dan sebagainya.. Hal ini menunjukan bahwa adanya keharusan menjalankan program menjadi prioritas dikarenakan ada deadline waktu terkait program itu sendiri.
Disamping tanggung jawab untuk menjalankan program, pihak Corporate Affairs CCAI Jawa Timur sendiri menyadari bahwa dalam tidak adanya kemampuan dalam bidang pertanian akan berpengaruh pada pelaksanaan program ini. Hal ini mengingat program ini merupakan program pertanian, sehingga aktivitas di dalam program ini akan berkisar mengenai pertanian, pembibitan dan penanaman. Selain itu, pihak Corporate Affairs juga menyadari bahwa ada keterbatasan secara internal dimana Corporate Affairs hanya terdiri dari dua orang yaitu seorang manajer dan staff. Menyadari hal ini maka membangun kemitraan dengan Lembaga Swadaya Masyarakat dilakukan sebagai keharusan untuk terlibat dalam membantu pengelolaan program. Rahmatullah (2011), mengemukakan kemitraan adalah kerjasama yang dilakukan perusahaan dengan pihak lain yang dipercaya untuk melaksanakan program Corporate Social Resposibility perusahaan. Hal ini terjadi dikarenakan keterbatasan perusahaan baik dalam aspek dana, Sumber Daya Manusia (SDM), keterampilan ataupun akses memilih menggandeng mitra dalam melaksanakan program CSR (p. 87-88). Peneliti melihat bahwa dalam kenyataannya pihak Corporate Affairs CCAI Jawa Timur sendiri memiliki terbatas dari Sumber Daya Manusia yang ada serta keterampilan dalam bidang pertanian dan holtikultura sehingga bermitra dengan LSM menjadi keharusan bagi Corporate Affairs CCAI Jawa Timur. Retno Koesdijarto selaku Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur menyadari kemampuan dalam mengelola program Coke Farm tentunya membutuhkan bantuan mitra untuk berkolaborasi yaitu Lembaga Swadaya Masyarakat.
Ini dipertegas dengan pernyataan Retno sebagai berikut :
“Dalam hal ini, saya sendiri kan tidak punya kemampuan dalam pertanian ya, sehingga kan ga mungkin saya mengajarkan seperti apa pertanian, nanam sayur. Menyadari hal itu maka saya tentunya harus menjalin mitra dengan LSM dalam hal itu. Hal tersebut juga memudahkan saya, karena kamu kan tau sendiri Lin kerjaan saya kayak apa dan tidak hanya ngurusi Coke Farm saja. Disini saya juga cuma berdua sama Mas Oni sedangkan banyak tugas lainnya yang kita juga harus jalankan satu-satu. Kamu tau sendiri kan Lin, kayak misalnya audit di pabrik, ada meeting, ada kunjungan
ke plant”. (Wawancara dengan Retno Koesdijarto, Manajer Corporate AffairsCCAI Jawa Timur, 30 April 2012).
Bermitra dengan LSM dalam membantu pelaksanaan program tersebut di dasari oleh keterbatasan kemampuan dan keterampilan dalam bidang pertanian serta terbatasnya sumber daya manusia. Strategi WO berusaha meminimalkan kelemahan organisasi untuk mengambil keuntungan dari luar (Cutlip, 2009,p. 331). Dalam hal ini, peneliti melihat minimnya pengetahuan pertanian serta terbatasnya sumber daya manusia mendorong Corporate Affairs CCAI Jawa Timur untuk meminimalisir hal tersebut melalui bermitra dengan LSM.
Peneliti melihat dalam tahapan mengidentifikasi problem ini sendiri Corporate Affairs CCAI Jawa Timur memang berangkat dari tanggung jawab untuk mengembangkan desain program Coke Farm di Jawa Timur. Disini, untuk proses riset dan membuat desain program tersebut Corporate Affairs CCAI Jawa Timur tidak terlibat. Dalam menerapkan desain program Coke Farm ini, peneliti melihat Corporate Affairs CCAI Jawa Timur belum melakukan prosess assessment yang tepat dengan pihak masyarakat Desa Kertosari, karena lebih berfokus pada pencarian lahan untuk pengembangkan program. Seharusnya Corporate Affairs CCAI Jawa Timur perlu melakukan assessment untuk menilai kebutuhan dan tanggapan masyarakat setempat terkait program tersebut. Peneliti melihat proses ini belum sepenuhnya terjadi dikarenakan keterbatasan kemampuan juga dalam bidang pertanian, sehingga Corporate Affairs CCAI Jawa Timur tidak terlalu memahami mengenai konsep program. Terbatasnya sumber daya manusia dalam Corporate Affairs CCAI Jawa Timur serta adanya deadline, dilihat peneliti sebagai hal-hal yang cukup berpengaruh pada saat proses mengidentifikasi problem. Peneliti melihat belum dilakukannya proses assessment secara tepat ikut dipengaruhi adanya dorongan dari deadline program yang harus segera dijalankan tanpa memprediksikan kondisi kedepannya seperti apa.
4.5.1.2. Perencanaan dan Pemograman Program Corporate Social