• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perencanaan dan Pemograman Program Corporate Social Responsibility Coke Farm Jawa Timur

Dalam dokumen 4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN (Halaman 37-52)

4.5. Analisis dan Interpretasi Data

4.5.1. Analisis Tahapan Program CSR Coke Farm Jawa Timur

4.5.1.2. Perencanaan dan Pemograman Program Corporate Social Responsibility Coke Farm Jawa Timur

Konsep mengatakan bahwa informasi yang dikumpulkan dalam langkah pertama digunakan untuk membuat keputusan tentang program publik, strategi tujuan, tindakan dan komunikasi, taktik, dan sasaran. Langkah ini akan mempertimbangkan temuan dari langkah dalam membuat kebijakan dan program organisasi (Cutlip, 2009,p )

Dalam tahap perencanaan dan pemograman dari program ini sendiri telah melibatkan pihak Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, LSM Yayasan Satu Daun serta, petani yang terlibat dalam program. Peneliti sendiri melihat bahwa dalam perencanaan program ini sendiri berangkat dari adanya tanggung jawab dari CCAI National Office untuk mengembangkan desain program Coke Farm dimana salah satunya adalah Jawa Timur. Desain program ini sendiri pada dasarnya memang telah ada dan dibuat CCAI National Office yang pada awalnya dikembangkan terlebih dahulu ke CCAI Bandung, Jawa Barat, CCAI Semarang, Jawa Tengah dan selanjutnya di CCAI Surabaya, Jawa Timur.

Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dalam hal ini bertindak pihak yang berperan dalam perencanaan program juga membuat langkah-langkah perencanaan sebelum mengimplementasikan program ini lebih jauh. Berikut ini adalah perencanaan dan pemrograman yang dilakukan terkait dengan program Coke Farm yang dijalankan di Desa Kertosari Pasuruan :

a. Mengadakan pemilihan atas beberapa LSM untuk bekerjasama sebagai tim dalam Coke Farm,

b. Melakukan peninjauan area lahan Desa Kertosari yang telah dipilih

c. Membuat anggaran dana terkait program yang dikomunikasikan ke National Office

d. Membuat Key Performance Indikator guna kepentingan perjanjian dengan LSM

e. Menjalin kemitraan dengan Yayasan Satu Daun dengan membuat perjanjian kontrak kerjasama.

Untuk memberikan gambaran lebih luas mengenai perencanaan program ini maka peneliti akan mendeskripsikan hal-hal yang telah disebutkan di atas sebagai berikut :

a. Mengadakan pemilihan atas beberapa LSM untuk bekerjasama sebagai tim dalam Coke Farm

Dalam langkah ini, Corporate Affairs akan mengumpulkan beberapa LSM dan melakukan proses seleksi. Disini, pihak Corporate Affairs sendiri akan memberikan gambaran umum mengenai program Coke Farm. Dalam proses ini, beberapa LSM yang dipilih juga merupakan LSM Lokal yang berasal dari daerah Pasuruan. Sesuai dengan pernyataan Retno sebagai berikut :

“Ya waktu itu ada beberapa LSM lokal yah yang kita kumpulkan dan kita ajak untuk bertukar pikiran tentang program tersebut, waktu itu ada Kaliandara, apalagi ya saya agak lupa nah sama salah satunya Satu Daun. Ya kita mengkomunikasikan tentang bagaimana program Coke Farm kepada mereka, ya selain itu yah kita liat juga kemampuan mereka dari misalnya profil dan badan hukumnya”. (Wawancara dengan Retno Koesdijarto, Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, 30 April 2012)

Dalam hal ini, tentunya pihak Corporate Affairs mempertimbangkan aspek-aspek pemilihan terhadap LSM yang ada. Rahmatullah & Kurniati mengungkapkan bahwa tahapan pertama dalam melakukan kemitraan CSR adalah dengan menyeleksi mitra yang tepat. Aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan perusahaan dalam memilih dan menyeleksi mitra antara lain adalah kapabilitas mitra dalam melaksanakan program, keselarasaran visi dan misi, kemampuan menjangkau mitra, serta efisiensi dan benefit yang didapat (2011, p. 88). Berdasarkan teori yang ada, menyeleksi mitra dalam hal ini telah dilakukan oleh Corporate Affairs CCAI Jawa Timur. Sesuai dengan yang dikemukakan Retno, aspek-aspek yang dinilai pertama oleh Corporate Affairs CCAI Jawa Timur adalah kemampuan LSM. Kemampuan dalam hal ini sesuai dengan aspek yang diutarakan oleh Rahmatulah yaitu kapabilitas dalam melaksanakan program.

Dilain sisi, Corporate Affairs CCAI Jawa Timur juga mempertimbangkan aspek efisiensi dan benefit. Aspek efisiensi dan benefit yang dimaksudkan disini adalah penggunaan LSM Lokal tentunya akan memudahkan Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dalam mengimplementasikan program tersebut. Hal ini didasarkan pada LSM Lokal lebih mudah memahami kultur masyarakat di daerah dimana program hendak dikembangkan menjadi penting karena dalam hal ini Corporate Affairs CCAI Jawa Timur tentunya menginginkan bahwa di dalam pelaksanaan program nanti bisa berjalan dengan maksimal. Sesuai dengan yang dinyatakan oleh Oni Dwi Arianto :

“Kalau untuk pemilihan LSMnya itu sendiri kita mencoba mencari pertama yang disekitar situ. Alasannya kenapa kita memilih yang disekitar situ, karena kita ingin memberdayakan LSM Lokal yang kedua kita ingin LSM itu mengerti kultur masyarakat disitu, Jadi dengan dua asumsi itu dengan LSM Lokal itu dan dia mengerti kultur masyarakat setempat harapannya program bisa berjalan dengan maksimal”. (Wawancara dengan Oni Dwi Arianto, 23 April 2012).

Dalam proses menyeleksi mitra ini, akhirnya pihak Corporate Affairs CCAI Jawa Timur memilih Yayasan Satu Daun sebagai pihak yang akan diajak bekerjasama. Hal ini dikarenakan aspek efisiensi dan benefit yang telah disebutkan sebelumnya selain itu, kedekatan Yayasan Satu Daun akan memudahkan Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dalam mengkomunikasikan program serta penggunaaan lahan tidak produktif Desa Kertosari. Hal ini akan memudahkan Corporate Affairs CCAI Jawa Timur untuk program ini sendiri. Ini dipertegas dengan penyataan Retno :

“Setelah itu, ya dipilih Satu daun karena mereka mampu ya mengkomunikasikan tentang program ini kepada Desa Kertosari karena faktor kedekatan tersebut. Ya mereka juga punya akses yang baik dengan pemerintah desa Kertosari jadi hal tersebut juga tentunya akan lebih memudahkan kita”. (Wawancara dengan Retno Koesdijarto, Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, 30 April 2012)

Disamping akses yang baik serta faktor kedekatan antara Yayasan Satu Daun dengan pihak Desa Kertosari. Pemilihannya juga didasarkan oleh keberadaan Yayasan Satu Daun yang cukup dikenal untuk Wilayah Pasuruan juga turut mendukung pemilih Yayasan Satu Daun sebagai mitra dalam menjalankan program Coke Farm.

“ya satu daun ini salah satu LSM ini sudah cukup terkenal di daerah pasuruan. Dikenal oleh PEMDA juga sehingga kami berpendapat bahwa Satu Daun ini sudah layak untuk dipakai.” (Wawancara dengan Oni Dwi Arianto, 23 April 2012)

Menurut Cutlip dalam perencanaan dan pemograman, menetapkan akuntabilitas menjadi salah satu faktor yang penting. Menetapkan akuntabilitas adalah menentukan siapa yang akan mengawasi pencapaian sasaran dan langkah-langkah aksi (Cutlip, 2009, p.356). Dalam hal ini, Corporate Affairs CCAI Jawa Timur telah menetapkan akuntabilitas dengan menentukan LSM Yayasan Satu Daun yang sebagai partner kerja untuk membantu mengimplementasikan langkah aksi dalam program Coke Farm serta mengawasi pencapaian program itu sendiri. b. Mengkomunikasikan desain program Coke Farm kepada pihak LSM Satu

Daun.

Dengan adanya pemilihan mitra dalam program ini, maka Corporate Affairs CCAI Jawa Timur terlebih dahulu perlu melakukan pengenalan mengenai program kepada pihak LSM Yayasan Satu Daun. Corporate Affairs CCAI Jawa Timur kemudian mengkomunikasikan bentuk program ini yang terdahulu kepada pihak LSM seperti apa desain program ini. Dalam hal ini, dijelaskan mengenai target sasaran program serta tujuan dari program itu sendiri. Hal ini pada dasarnya bertujuan agar informasi yang disampaikan kepada LSM bisa menjadi gambaran serta memberikan pemahaman mengenai program Coke Farm. Sesuai dengan apa yang dikatakan Retno:

“Kita mempresentasikan kepada LSM yah program Coke Farm di tempat-tempat sebelumnya kayak di Bandung seperti apa. Kita jelaskan bahwa program ini ditargetkan kepada masyarakat petani. Melalui program ini

kita berharap bahwa dapat meningkatkan pendapatan petani setempat dan juga petani di daerah itu ada kepercayaan untuk tidak menanam sayuran. Ya melalui keberadaan Coke Farm kita harapkan masyarakat juga jadi bertambah pengetahuannya dalam bidang pertanian”. (Wawancara dengan Retno Koesdijarto, Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, 30 April 2012).

Dalam langkah ini, Corporate Affairs CCAI Jawa Timur sendiri sudah mengkomunikasikan desain program ini kepada pihak LSM untuk memberikan wawasan dan pengetahuan tentang seperti apa Coke Farm. Corporate Affairs CCAI Jawa Timur juga menyampaikan bahwa program ini memang ditargetkan untuk masyarakat petani yang ada. Pihak LSM memang membenarkan bahwa pada saat perencanaan program, Coca-Cola pernah menyampaikan desain program, tujuan program serta sasaran program itu seperti apa. Tetapi dalam hal ini pihak LSM juga menyatakan kesanggupan untuk melaksanakan program Coke Farm hanya saja program Coke Farm yang hendak dilaksanakan di Desa Kertosari tidak bisa sesuai dengan desain Coke Farm yang ada ditempat lain.

Sesuai dengan penyataan Fathur Rahman :

“Kalau waktu itu perencanaan, dia kasih gambaran mengenai Coke Farm, dia kasih contoh Coke Farm di daerah yang lain nah kemudian saya kasih yang mau saya reduksi tadi, saya bisa jalankan, tapi mungkin tidak seperti Coke Farm lainnya”. (Wawancara dengan Fathur, LSM Yayasan Satu Daun, 20 April 2012).

Hal ini menunjukan bahwa pihak LSM memang menyatakan kesanggupan dalam menjalankan program tersebut hanya saja tidak bisa sama dengan yang ada di tempat lain. Alasan yang dikemukakan Fathur bahwa program Coke Farm yang hendak dijalankan di Desa Kertosari ini perlu direduksi dikarenakan Coke Farm di daerah lain sendiri berada dalam lokasi pabrik dan dikelola oleh karyawan pabrik. Selain itu, luas Coke Farm di daerah lain tidak sebesar Coke Farm yang hendak digarap di Desa Kertosari. Hal ini menjadi alasan utama LSM mereduksi sedikit dari desain awal program ini. Pihak LSM sendiri sudah

mengkomunikasikan masalah ini kepada Corporate Affairs CCAI Jawa Timur. Ini dipertegas dengan pernyataan Fathur :

“Kalau Coke Farm di daerah pabrik yang lain lebih eksklusif karena berada di dalam daerah pabrik, dan menggunakan karyawan disitu untuk mengelola, kalau disini sangat beda. Disini saja luasnya hampir 2 hektar, sedangkan Coke Farm daerah lain kan kecil-kecil luasnya karena hanya di dalam pabrik. ga bisa seperti yang lain mungkin kalau Coke Farm yang lain bisa full terisi semua, waktu itu sih lahannya ada yang cuma beberapa ratus meter kan, kalau disini lahannya, tanah kita ini ada sekitar 20 ribu hektar. Saya waktu itu menawarkan, saya bisa jalankan dengan lebih besar, dengan Pastinya ya cost yang lebih besar”. (Wawancara dengan Fathur, LSM Yayasan Satu Daun, 20 April 2012).

Fathur sendiri menuturkan kalau dari awal program ini sendiri, memang ada sedikit perbedaan pandangan antara Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dengan pihak LSM. Perbedaan pandangan itu mengarah pada tujuan program yang berbeda. Coca-Cola muncul dengan tujuan mewujudkan kontribusi pada lingkungan sertra mengarah kepada kuantitas produk serta peningkatan pendapatan petani. Sedangkan pihak LSM, ingin mengembangkan program ini juga sebagai media pembelajaran bagi petani-petani lainnya yang tidak terlibat dalam program ini. Hal ini ditegaskan dengan pernyataan Fathur sebagai berikut :

“Perbedaan pandangannya, kalau Coca-Cola waktu itu yang saya tangkap tujuan dari program ini lebih mengarah pada orientasi produk jadi ke arah kuantitas hasil Coke Farm yang ditanam yang digarap apa saja dan peningkatan petani meningkat. Berapa banyak yang ditanam. Sedangkan saya sendiri saya sendiri lebih berfokus pada pembelajaran. Jadi Coke Farm ini sebagai pembelajaran kepada bagi petani-petani yang lain ya yang mungkin juga ada di luar Coke Farm”. (Wawancara dengan Fathur, LSM Yayasan Satu Daun, 20 April 2012).

Solihin (2009) mengungkapkan pengelolaan program yang baik hanya dapat terwujud bila terdapat kejelasan tujuan program, terdapat kesepakatan mengenai

strategi yang akan digunakan untuk mencapai tujuan program dari para pihak yang terlibat dalam pelaksanaan CSR (p.146). Realita mengenai adanya perbedaan pandangan antara Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dengan Yayasan Satu Daun sebagai mitra dalam mengimplementasikan program CSR ini tentunya tidak tepat apabila ditinjau dari apa yang diungkapkan Solihin mengenai pengelolaan yang baik. Peneliti melihat disini, kedua belah pihak belum menyamakan pandang mengenai program yang hendak dikembangkan. Sebagaimana sebuah program, tujuan dari program menjadi sebuah hal penting dalam perjalanan program itu sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh Cutlip (2009) bahwa tujuan adalah pernyataan ringkas yang menyebutkan keseluruhan hasil suatu program. Tujuan menyatakan apa yang hendak dicapai melalui suatu upaya terpadu (p.359).

Sesuai dengan hal ini, peneliti melihat bahwa ada indikasi perbedaan pandangan tentang program yang juga mempengaruhi cara berpikir masing-masing pihak terhadap program tersebut. Perbedaan ini tentunya akan mempengaruhi apa yang hendak dicapai dari dalam program Coke Farm ini sendiri. Disatu sisi, Corporate Affairs CCAI Jawa Timur ingin memberdayakan masyarakat petani serta meningkatkan pendapat serta pengetahuan masyarakat petani yang menjadi penerima program tetapi disisi lain LSM ingin menjadi program Coke Farm sebagai tempat pembelajaran untuk petani desa kertosari maupun masyarakat lain yang ingin belajar tentang pertanian. Seharusnya, kedua belah pihak baik itu Coca-Cola dan LSM mampu berkoordinasi hingga terjadinya persamaan pandangan yakni tujuan program itu sendiri. Peneliti disini melihat bahwa LSM seharusnya mengikuti Corporate Affairs CCAI Jawa Timur sebagai creator dari program ini sendiri. Melihat kondisi ini, alangkah baiknya Corporate Affairs CCAI Jawa Timur mempertimbangkan kembali kerjasama dengan Yayasan Satu Daun dan begitu sebaliknya dengan Yayasan Satu Daun mengingat adanya perbedaan pandangan. Namun,kenyataannya program ini tetap dijalankan. c. Membuat anggaran dana terkait program yang dikomunikasikan ke National

Office

Langkah berikutnya yang dipersiapkan oleh Corporate Affairs CCAI Jawa Timur adalah membuat rencana anggaran untuk program Coke Farm Jawa Timur

yang dalam hal ini juga dibuat oleh Retno Koesdijarto. Anggaran merupakan komponen perencanaan dalam rangka menyelesaikan aktivitas Public Relations (Lattimore, Baskin, Toth, & Heiman, 2010, p.138). Pembuatan anggaran dalam hal ini telah masuk dalam komponen perencanaan dalam implementasi program Coke Farm. Dalam perencanaan anggaran sendiri, Retno harus mengkomunikasikan jumlah anggaran yang dibutuhkan dengan National Office kemudian menunggu keputusan dari National Office terkait dana yang dibutuhkan. Eksekutif diatasnya mengevaluasi anggara dari departemen yang menjadi tanggung jawabnya, menegosiasikan dan menyesuaikan permintaan anggaran sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan (Cutlip, 2009, p. 380). National Office dalam hal ini merupakan eksekutif diatas Corporate Affairs CCAI Jawa Timur yang akan menyesuaikan permintaan anggaran terkait dengan program tersebut. Setelah jumlah dana tersebut disetujui maka akan dilakukan koordinasi dengan bagian Finance terkait dengan penggunaan dana tersebut. Sesuai dengan penyataan Retno berikut ini :

“Untuk rencana anggaran sendiri yah kita buat perencanaannya dulu, kita koordinasikan ke National Office ya, kita nunggu keputusan mengenai dana tersebut dan kemudian kita komunikasikan ke bagian Finance nanti kalau sudah deal dengan LSM bagian finance yang langsung transfer ke pihak LSM”. (Wawancara dengan Retno Koesdijarto, Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, 30 April 2012)

Oni Dwi Arianto membenarkan bahwa dalam pembuatan dana dan anggaran terkait program ini memang dilakukan secara sepihak oleh Coca-Cola, sehingga Coca-Cola hanya memberikan budget sekian yang disesuaikan dengan perencanaan Coke Farm kedepan kepada pihak LSM. Hal ini diungkapkan seperti berikut :

“Kalau untuk dana sih engga, memang kita buat secara sepihak kalau kita ada dana seperti ini kemudian secara general kita jelaskan”. (Wawancara dengan Oni Dwi Arianto, 23 April 2012)

Fathur Rahman dari Yayasan Satu Daun membenarkan hal tersebut bahwa memang dalam pembuatan dana, pihak Satu Daun memang tidak ikut dilibatkan ikut dilibatkan.

“ dalam pembuatan dana memang kita tidak dilibatkan ya, karena Corporate Affairs CCAI Jawa Timur langsung memberikan jumlah dana yang harus kita kelola memang” (Wawancara dengan Fathur, LSM Yayasan Satu Daun, 20 April 2012).

Pembuatan anggaran ini tentunya berhubungan dengan sumber daya yang diperlukan dalam program Coke Farm. Anggaran yang dimaksudkan dalam hal ini adalah menentukan dan mempergunakan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai sasaran (Cutlip, 2009, p.356). Pembuatan anggaran biaya dari program Coke Farm koordinasi hanya dilakukan secara internal dengan pihak National Office dan Yayasan Satu Daun tidak ikut terlibat di dalamnya. Peneliti melihat bahwa akan lebih baik pembuatan anggaran melibatkan Yayasan Satu Daun. Akan lebih baik jika dalam pembuatan anggaran Corporate Affairs CCAI Jawa Timur mengajak LSM untuk berdiskusi terlebih dahulu mengenai sumber daya apa saja yang dibutuhkan dalam program tersebut. Mendiskusikan sumber daya ini menjadi tolak ukur dalam penyusunan anggaran program Coke Farm ini sendiri, karena sebagai pelaksana di lapangan Yayasan Satu Daun lebih paham mengenai penentuan sumber daya serta penggunaannnya. Tetapi peneliti melihat dikembalikan lagi kepada kebijakan atau prosedur perusahaan mengenai pembuatan anggaran karena hal tersebut dapat digolongkan sebagai privasi perusahaan.

d. Membuat key performance indikator guna kepentingan perjanjian dengan LSM

Sebelum pelaksanaan program Coke Farm akan dijalankan, maka Corporate Affairs CCAI Jawa Timur lebih dahulu membuat key performance indikator yang merupakan perencanaaan yang dibuat secara tertulis. Indikator-indikator ini berisikan hal-hal yang harus dijalankan dan diimplementasikan selama program Coke Farm berjalan oleh LSM. Pembuatan indikator ini sendiri juga dipengaruhi oleh apa yang diinstruksikan dalam National Office.

Seperti yang dinyatakan oleh Retno :

“Dalam pembuatan KPI, sendiri kita memang berkoordinasi dengan National Office juga ya. KPI-KPI itu yang kamu pernah baca dalam surat perjanjian yang kapan hari saya pernah kasih liat ke kamu lin. Ya kurang lebih di dalamnya itu berisi tugas-tugas LSM yang nanti harus diimplementasikan selama program tersebut berjalan ya kurang lebih untuk sebagai pedoman bagi LSM dalam menjalankan tugasnya dilapangan” (Wawancara dengan Retno Koesdijarto, Manajer Corporate Affairs CCAI Jawa Timur, 30 April 2012).

Indikator-indikator yang dibuat oleh Corporate Affairs CCAI Jawa Timur kurang lebih berisikan tugas dan tanggung jawab LSM dalam mengimplementasikan program yang berkaitan dengan tanggung jawab untuk pembangunan dan pengembangan lahan, terkait dengan penanaman tumbuhan serta tanggung jawab dalam membimbing petani. Sasaran adalah jantung perencanaan. Sasaran berfokus pada penanggulangan masalah atau prioritas untuk mengembangkan peluang utama dalam perencanaan. Salah satu kriteria dalam pemilihan sasaran adalah sasaran harus terukur. (Lattimore, Baskin, Toth, & Heiman, 2010, p. 136). Dalam pembuatan indikator sendiri, sasaran dituangkan oleh Corporate Affairs dalam key performance indikator pembuatan delapan unit rumah hijau, pembuatan bibit tanaman hijau atau sayuran hijau sebanyak 200.000 bibit, kemudian melakukan pendampingan kepada dua orang petani serta melakukan pengomposan. Indikator tersebut merupakan sasaran yang bisa diukur dalam hal ini karena dapat dilihat faktanya di lapangan.

Sesuai dengan pernyataan, Oni Dwi Arianto dalam pernyataan berikut ini :

“Indikatornya sih, ada dalam pasal-pasal perjanjian ini ya kayak misalnya pemasangan pagar, membuat sungkup atau delapan unit rumah hijau, membuat unit kompos, membuat irigasi, pembuatan bibit pohon dan penanaman sebanyak 200.000 bibit, kemudian melibatkan dua petani dan seorang pendamping, membantu proses penjualan hasil panen kepada pihak lain”. (Wawancara dengan Oni Dwi Arianto, 23 April 2012)

Key Performance Indikator yang dibuat oleh Corporate Affairs CCAI Jawa Timur ini merupakan sasaran yang hendak dicapai dalam program. Sesuai dengan teori yang dikemukakan Cutlip bahwa sasaran berfungsi untuk menyediakan pedoman dan motivasi bagi pihak yang mengimplementasikan program (2009, p.360). Dalam hal ini Key Performance Indikator dibuat oleh pihak Corporate Affairs untuk menjadi pedoman bagi LSM untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam mengimplementasikan program Coke Farm.

e. Menjalin kemitraan dengan Yayasan Satu Daun dengan membuat perjanjian kontrak kerjasama.

Dalam proses menjalin kemitraan dengan LSM yang dalam hal ini adalah melakukan kerjasama dengan Yayasan Satu Daun. Oni Dwi Arianto menjelaskan bahwa dalam proses ini dilakukan penandatanganan kerjasama yang di dalamnya berisikan pasal-pasal atau kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh kedua belah pihak.

“Nah dari situ akhirnya kita deal, dan kita membuat perjanjian dengan Satu Daun. Ya seperti MOU pada umumnya,pihak pertama Coca-Cola,/pihak kedua satu Daun. Begitu juga didalamnya ada pasal-pasal yang Harus dipenuhi masing, yang mengenai dana, perencanaan kedepan, kewajiban masing-masing sudah ada disitu.” (Wawancara dengan Oni Dwi Arianto, 23 April 2012)

Merumuskan tujuan kemitraan dan membuat Memorandum Of Understandig (MoU). Dalam tahapan ini, MOU harus memuat kewajiban kedua belah pihak (Rahmatullah & Kurniati, 2011, p. 88). Konsep tersebut juga yang dilakukan oleh Corporate Affairs CCAI Jawa Timur dalam bermitra dengan Yayayan Satu Daun. Dalam melakukan kemitraan dengan LSM Yayasan Satu Daun, Coca-Cola telah membuat perjanjian kontrak kerjasama yang membuat MOU yang berisikan Key Performance Indicator terkait program Coke Farm. Menjalin kemitraan dengan melalui pembuatan kontrak kerjasama ini juga dibenarkan oleh pernyataan dari Fathur Rahman selaku LSM Yayasan Satu Daun

“iya memang dalam hal ini kita kumpul, trus sepakat dengan pasal-pasal serta tugas yang ada didalam surat perjanjian kontrak ya. Ya setelah itu

kemudian kita tanda tangani perjanjian itu jadi resmi bekerjasama dengan Coca-Cola”. (Wawancara dengan Fathur, LSM Yayasan Satu Daun, 2 Mei 2012).

LSM Yayasan Satu Daun dalam hal ini terlibat dalam perencanaan program Coke

Dalam dokumen 4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN (Halaman 37-52)