BAB II LANDASAN TEORI
H. Penetapan Merek
4. Mengelola Ekuitas Merek
Tanggapan pelanggan terhadap aktivitas pemasaran tergantung pada apa yang mereka ketahui tentang sebuah merek. Tindakan pemasaran jangka pendek, dengan mengubah pengetahuan merek, sangat memengaruhi peningkatan atau penurunan kesuksesan jangka panjang tindakan pemasaran di masa depan. Penguatan merek dilakukan dengan tindakan pemasaran yang secara konsisten menyampaikan arti satu merek dalam hal (Kotler dan Keller, 2012, hal. 258):
a. produk apa yang dipresentasikan oleh merek, apa manfaat inti yang diberikan, dan kebutuhan apa yang dipenuhi;
b. bagaimana merek membuat produk menjadi unggul, yang berarti asosiasi merek yang kuat, disukai, dan unik harus berada pada pikiran konsumen.
35 5. Merencanakan Strategi Penetapan Merek
Dalam memberi merek pada produk atau jasa perusahaan harus memilih nama merek mana yang akan digunakan. Empat strategi umum yang sering digunakan dalam pemberian nama menurut Keller (2003) yang dikutip oleh Tjiptono dan Chandra (2012, hal. 246), yaitu:
a. Corporate Brand (Company Brand), yaitu menggunakan nama perusahaan sebagai merek produk atau jasa;
b. Family Brand, yaitu nama merek yang digunakan di lebih dari satu kategori produk, tetapi tidak harus selalu merupakan nama perusahaan pemiliknya;
c. Individual Brand, yaitu merek yang dibatasi hanya untuk satu kategori produk, sehingga bisa digunakan untuk beberapa tipe produk berbeda dalam kategori yang sama;
d. Modifier, yaitu wahana untuk menandakan item spesifik atau tipe model atau versi/konfigurasi tertentu dari produk.
Komponen kunci dalam strategi penetapan merek yaitu perluasan merek dan portofolio. Dalam perluasan merek, nama merek yang sudah terbukti sukses digunakan untuk meluncurkan produk baru atau produk modifikasi dalam kategori produk baru. Ada dua keunggulan perluasan merek, yaitu meningkatkan peluang keberhasilan produk baru dan memberikan manfaat umpan balik. Sementara, di sisi lain perluasan merek juga memiliki kekurangan, yaitu perluasan tersebut dapat menyebabkan nama merek tidak terlalu teridentifikasi dengan produk manapun, konsumen dapat mempertanyakan integritas merek atau terjadi kebingungan merek karena mungkin perusahaan meluncurkan perluasan merek yang tidak tepat,
36 perluasan merek dapat melukai citra merek induk dalam prosesnya, dan yang terakhir perusahaan melewatkan peluang menciptakan merek baru dengan citra dan ekuitas sendiri.
Portofolio merek adalah kumpulan semua merek dan lini merek yang ditawarkan perusahaan tertentu untuk dijual dalam satu kategori atau segmen pasar tertentu. Prinsip dasar dalam merancang portofolio merek adalah memaksimalkan cakupan pasar. Dengan memperluas cakupan pasar tidak ada pelanggan potensial yang diabaikan.
6. Membentuk Positioning Merek
Positioning adalah tindakan merancang penawaran dan citra perusahaan agar
mendapatkan tempat khusus dalam pikiran pasar sasaran, yang bertujuan untuk menempatkan merek dalam pikiran konsumen untuk memaksimalkan manfaat potensial bagi perusahaan. Hasil dari positioning adalah terciptanya dengan sukses satu proposisi nilai yang terfokus pada pelanggan, yang menjadi satu alasan kuat mengapa pasar sasaran harus membeli produk bersangkutan (Kotler dan Keller, 2012, hal. 276).
Positioning menuntut adanya definisi dan komunikasi mengenai kemiripan
dan perbedaan antar merek. Dengan demikian, diperlukan kerangka referensi dengan cara mengidentifikasi pasar sasaran dan persaingan, serta mengidentifikasi asosiasi merek titik-paritas dan titik-perbedaan ideal.
Konsep positioning harus terhubung dengan nilai yang disyaratkan pembeli.
Ada beberapa fokus dari konsep positioning yaitu fungsional, simbolik, dan
37 pengalaman. Fungsional, berlaku untuk produk yang mengatasi masalah berkenaan dengan konsumsi untuk membangkitkan/menghasilkan kebutuhan konsumsi.
Simbolik, berkenaan dengan menghasilkan kebutuhan dalam diri pembeli untuk peningkatan diri, posisi peran/tugas/jabatan, keanggotaan kelompok/komunitas, atau identitas pribadi. Pengalaman, digunakan untuk posisi produk yang menyediakan kesenangan indra, keragaman, dan atau simulasi kognitif.
Keputusan manajemen mengenai cara memosisikan sebuah merek akan berguna untuk mempelajari positioning persaingan merek dengan menggunakan atribut yang penting untuk pembeli yang ada dan potensial dari persaingan merek.
Tujuannya adalah untuk mencoba menentukan pilihan posisi yang disukai para pembeli di setiap segmen pasar yang menarik dan kemudian membandingkan dengan posisi yang sebenarnya dari merek pesaing. Penelitian pasar penting di dalam mengidentifikasi posisi ideal pelanggan. Manajemen kemudian mencari posisi yang berbeda yang sesuai dengan kemampuan khusus perusahaan dengan posisi istimewa pembeli di dalam target ketertarikan.
Strategi positioning menempatkan komponen program bauran pemasaran ke dalam rangkaian tindakan terkoordinasi yang dirancang untuk menyampaikan nilai keunggulan bagi konsumen. Cravens dan Piercy (2013, hal. 177) menyatakan bahwa strategi bauran pemasaran tersebut terdiri dari strategi produk, strategi rantai nilai, strategi harga, strategi promosi, dan keunggulan kompetitif.
a. Strategi produk, yaitu strategi yang dilaksanakan oleh perusahaan yang berkaitan dengan produk yang dipasarkan dan juga berhubungan dengan hal-hal lain atau atribut lain yang melekat pada produk tersebut;
38 b. Strategi rantai nilai, kelompok organisasi secara vertikal lurus yang dapat menambah nilai pada barang atau jasa dalam pergerakan dari pemasok dasar ke produk jadi yang disalurkan pada pelanggan dan organisasi pemakai akhir;
c. Strategi harga, merupakan cara mengaitkan produk kita dengan aspirasi sasaran pasar, yang berarti pula harus mempelajari kebutuhan, keinginan, dan harapan konsumen;
d. Strategi promosi, merupakan perencanaan atau kegiatan dari suatu organisasi/perusahaan agar dapat mencapai sasaran sehingga tujuan yang diinginkan dapat terwujud;
e. Keunggulan kompetitif, merupakan kemampuan yang diperoleh melalui karakteristik dan sumber daya suatu perusahaan untuk memiliki kinerja yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan lain pada industri atau pasar yang sama.
Dalam melakukan positioning satu merek, perusahaan terkadang melakukan kesalahan. Empat kesalahan yang terjadi dalam melakukan positioning yaitu:
a. Under-positioning, pelanggan memiliki ide-ide yang samar tentang perusahaan dan tidak merasakan kekhasan apa-apa tentang hal itu;
b. Over-positioning, pelanggan memiliki pemahaman yang terlalu sempit tentang perusahaan, produk, atau merek;
c. Positioning yang membingungkan, frekuensi perubahan dan pesan yang bertentangan membingungkan pelanggan;
d. Positioning yang meragukan, klaim yang dibuat untuk produk atau merek tidak dianggap kredibel.
39 I. Bauran Pemasaran
Strategi pemasaran merupakan proses analisis, perencanaan, implementasi, dan pengendalian yang dirancang untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan. Tugas pemasar adalah merencanakan aktivitas-aktivitas pemasaran dan membentuk program pemasaran yang terintegrasi untuk menciptakan, mengomunikasikan, dan menghantarkan nilai kepada pelanggan. Aktivitas-aktivitas pemasaran tersebut diklasifikasikan sebagai sarana bauran pemasaran.
Bauran pemasaran ini biasa disebut dengan 4P, yaitu produk (Product), harga (Price), tempat (Place), dan promosi (Promotion) (Kotler dan Keller, 2012).
Produk (Product) merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar yang bersangkutan. Barang yang ditawarkan meliputi barang fisik, jasa, orang atau pribadi, tempat, organisasi, dan ide. Secara konseptual, produk merupakan pemahaman subjektif produsen atas sesuatu yang bisa ditawarkan sebagai usaha untuk mencapai tujuan organisasi
melalui pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen, sesuai dengan kompetensi dan kapasitas organisasi, serta daya beli pasar. Di dalam konsep produk, konsumen menyukai produk yang menawarkan kualitas, kinerja, atau fitur inovatif terbaik.
Harga (Price) merupakan unsur dari bauran pemasaran yang bersifat fleksibel. Hal tersebut karena harga dapat diubah dengan cepat. Harga merupakan bauran pemasaran yang memberikan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan.
Selain itu, secara tidak langsung harga juga memengaruhi biaya, karena kuantitas yang terjual berpengaruh pada biaya yang ditimbulkan dalam kaitannya dengan
40 efisiensi produksi. Harga seringkali digunakan sebagai indikator nilai jika harga tersebut dihubungkan dengan manfaat yang dirasakan atas satu barang atau jasa.
Reaksi konsumen terhadap alternatif harga, biaya produk, harga pesaing, serta faktor hukum dan etika lainnya meningkatkan fleksibilitas manajemen dalam penetapan harga.
Tempat (Place) dalam bauran pemasaran terkait dengan bagaimana barang atau jasa didistribusikan kepada konsumen. Proses distribusi merupakan aktivitas pemasaran yang mampu menciptakan nilai tambah produk melalui fungsi-fungsi pemasaran yang dapat mewujudkan kegunaan bentuk, tempat, waktu, dan kepemilikan. Proses distribusi juga mampu memperlancar arus saluran pemasaran secara fisik dan non-fisik. Dalam pelaksanaan aktivitas-aktivitas distribusi, perusahaan sering kali harus bekerja sama dengan berbagai perantara dan saluran distribusi untuk menawarkan produknya ke pasar. Pengambilan keputusan untuk menggunakan saluran distribusi menyangkut masalah jenis organisasi saluran yang akan digunakan, peningkatan manajemen saluran perusahaan, dan intensitas distribusi sesuai produk atau jasa. Pemilihan saluran distribusi memengaruhi penentuan posisi merek di benak konsumen.
Promosi (promotion) adalah satu bentuk komunikasi pemasaran, yaitu aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, memengaruhi/membujuk, dan/atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli, dan setia pada produk yang ditawarkan perusahaan. Pengembangan komunikasi pemasaran meliputi tahapan-tahapan yang saling terksait. Tahapan-tahapan-tahapan tersebut yaitu mengidentifikasi pasar
41 sasaran, menentukan tujuan komunikasi, merancang pesan, memilih saluran komunikasi, menyusun anggaran komunikasi total, menentukan bauran komunikasi, mengimplementasikan program komunikasi pemasaran, dan mengumpulkan umpan balik. Sementara, bauran komunikasi pemasaran sendiri terdiri dari lima komponen utama, yaitu personal selling, periklanan, promosi penjualan, public relations, dan direct & Online marketing.
42 BAB III
METODE PENELITIAN
Penyusunan rencana pemasaran mempunyai beberapa tujuan seperti yang sudah disampaikan pada bab satu mengenai tujuan penyusunan rencana pemasaran.
Tujuan dari penyusunan rencana pemasaran ini adalah untuk mengetahui informasi yang baik tentang pasar dan mengetahui atribut umum dari pelanggan, mengetahui pesaing yang sudah ada dan yang potensial, menciptakan proposisi nilai yang berfokus pada pelanggan, mengidentifikasi segmen pasar, untuk kemudian memutuskan segmen yang memberikan peluang terbesar, dan pada akhirnya menetapkan strategi pemasaran. Oleh sebab itu, harus dilakukan serangkaian penelitian untuk memperoleh data dan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar penyusunan rencana pemasaran.
A. Desain Penelitian
Penelitian bisnis atau riset bisnis, menurut Cooper dan Schindler (2006, hal.
4) adalah penyelidikan sistematis yang memberikan informasi untuk menuntun keputusan manajemen. Penyelidikan sistematis tersebut antara lain proses perencanaan, pemerolehan, penganalisaan, dan penyebaran informasi, serta wawasan data yang relevan kepada pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil pada gilirannya memaksimalkan kinerja bisnis.
Penelitian yang dilakukan dalam rangka penyusunan rencana pemasaran kali ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus.
43 Menurut Creswell (2012), seperti yang dikutip oleh Sugiono, penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dilakukan dengan cara mengeksplorasi secara mendalam terhadap program, kejadian, proses, dan aktivitas terhadap satu orang atau lebih. Studi kasus di sini digunakan oleh penulis untuk dapat mengetahui bagaimana proses bisnis yang dijalankan oleh PeMad secara mendalam. Lebih khusus, peneliti menggunakan pendekatan studi kasus untuk mengetahui bagaimana proses penerjemahan dilakukan, kontrol kualitas dijalankan, bagaimana layanan yang diberikan kepada pelanggan, dan bagaimana pengalaman pelanggan pengguna jasa penerjemahan.
Menurut Zikmund dan Babin (2011, hal. 229) pendekatan studi kasus biasanya diterapkan dalam bisnis. Alasan peneliti melakukan penelitian dengan pendekatan studi kasus ini adalah supaya peneliti dapat menggali lebih jauh apa yang menjadi keinginan dari calon pelanggan, tren penerjemahan seperti apa yang saat ini sedang berkembang di industri penerjemahan, dan bagaimana kondisi persaingan yang ada. Dengan menggunakan prinsip-prinsip yang ada dalam penciptaan blue ocean, peneliti melakukan analisis menggunakan kanvas strategi untuk mengetahui kondisi pasar saat ini. Selain itu, metode kanvas strategi juga dapat membantu peneliti untuk mengetahui bagaimana kinerja perusahaan di dalam kompetisi tersebut (Kim dan Mauborgne, 2005).
Selain dengan menggunakan kanvas strategi, peneliti juga menggunakan prinsip-prinsip analisis kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) atau SWOT di dalam melakukan penelusuran kondisi internal maupun eksternal perusahaan. Dari hasil penelusuran
44 serta rangkuman kondisi pasar dan perusahaan, peneliti akan melakukan analisis dengan menggunakan metode kerangka kerja empat langkah.
Kerangka kerja empat langkah ini digunakan dalam rangka penciptaan blue ocean. Peneliti merekonstruksi elemen-elemen nilai pembeli dalam membuat kurva
nilai baru dengan menggunakan kerangka kerja empat langkah yang telah dikembangkan oleh Kim dan Mauborgne. Berikut merupakan kerangka kerja empat langkah yang digunakan dalam rangka penciptaan blue ocean.
Gambar 3.1
Kerangka Kerja Empat Langkah (Kim dan Mauborgne, 2005, hal. 53)
Gambar 6 menunjukkan empat pertanyaan yang digunakan untuk menantang logika dan model bisnis di dalam industri. Peneliti harus mempertimbangkan penghilangan faktor-faktor yang sudah lama menjadi ajang persaingan. Karena terlena dengan pembandingan diri dengan pesaing, perusahaan justru tidak menanggapi atau tidak melihat adanya perubahan mendasar dengan apa yang
Hapuskan
45 dianggap sebagai nilai oleh pembeli. Hal tersebut menjelaskan pertanyaan pertama mengenai faktor apa saja yang harus dihapuskan dari faktor-faktor yang telah diterima begitu saja oleh industri.
Peneliti juga harus menentukan apakah jasa penerjemahan yang selama ini dirancang terlalu berlebihan untuk mengikuti irama kompetisi dan mengalahkan kompetisi tersebut. Terkadang, tanpa disadari, perusahaan berlebihan dalam memberikan pelayanan kepada konsumen. Struktur biaya yang telah dikeluarkan untuk memberikan layanan tersebut cukup tinggi, namun justru tidak menghasilkan apa pun. Hal itu menjelaskan pertanyaan kedua mengenai faktor apa saja yang harus dikurangi sehingga di bawah standar industri. Dengan kata lain perusahaan perlu melakukan efisiensi.
Selain melihat faktor-faktor apa saja yang perlu dihilangkan dan yang harus dikurangi di dalam kondisi persaingan, peneliti juga harus mencari faktor apa saja yang harus ditingkatkan sehingga berada di atas standar industri. Hal tersebut memaksa perusahaan untuk menguak dan menghilangkan berbagai kompromi yang dipaksakan kepada konsumen. Tentu saja berbagai kompromi yang dihilangkan dalam hal ini adalah kompromi yang terkait dengan kualitas dan nilai yang dihantar kepada konsumen.
Pertanyaan keempat mengarah pada pencarian dan penciptaan berbagai faktor yang belum pernah ditawarkan oleh industri. Pertanyaan tersebut membantu peneliti untuk menemukan nilai baru dan menciptakan permintaan baru. Selain menemukan nilai dan permintaan baru bagi pelanggan, peneliti juga dapat mengubah pemberian harga yang strategis.
46 Keempat pertanyaan tersebut di atas memberikan gambaran bagaimana efisiensi biaya harus dilakukan. Selain itu juga memberikan gambaran bagaimana nilai pembeli harus ditingkatkan dan bagaimana permintaan baru diciptakan.
Dengan begitu, peneliti dapat mengeksplorasi cara untuk menyusun kembali elemen-elemen nilai pembeli agar dapat memberikan pengalaman baru kepada pembeli. Namun, secara bersamaan tetap mempertahankan stuktur biaya pada level rendah.
B. Jenis dan Sumber Data
Dalam penelitian ini digunakan data primer dan data sekunder. Menurut Sekaran dan Bougie (2013, hal. 36) yang dimaksud dengan data primer adalah data yang dikumpulkan dari tempat terjadinya peristiwa yang sebenarnya. Data primer merujuk pada pengumpulan pertama kali melalui instrumen survei, wawancara, dan observasi. Data-data primer yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu kebutuhan jasa penerjemahan, jenis jasa penerjemahan, kualitas hasil penerjemahan yang diharapkan, kecepatan waktu pengerjaan, kepuasan karyawan, dan kepuasan pelanggan.
Sedangkan data sekunder adalah data yang sudah ada dan tidak perlu dikumpulkan oleh peneliti. Beberapa sumber data sekunder antara lain dari badan statistik, publikasi pemerintah, informasi yang tersedia baik yang dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan oleh satu lembaga, data yang tersedia dari peneliti sebelumnya, data Online, website perusahaan, dan internet pada umumnya.
Data tersebut digunakan untuk mendukung data primer yang telah diperoleh.
47 Data-data sekunder yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu ukuran pasar, ukuran pesaing, jenis layanan yang menjadi persaingan, jumlah pesaing layanan bahasa, jumlah perusahaan seperti perusahaan pertambangan, perhotelan, rumah sakit, dan manufaktur di Indonesia; jumlah agen penerjemahan di luar negeri, jumlah Dosen Muda di Indonesia; jumlah mahasiswa S2 dan S3 di Indonesia;
jumlah penerjemah lepas di Indonesia yang terdaftar dalam keanggotaan HPI, Translatorbase.com, translatorCafe.com, dan proz.com; dan jumlah Agen Penerjemahan di Indonesia (pesaing primer, sekunder, dan penghasil produk pengganti).
Data-data di atas, baik data primer maupun sekunder diperoleh dari berbagai sumber data. Sumber data untuk data primer diperoleh dari konsumen potensial, pelanggan, penerjemah lepas, dan Agen penerjemahan yang menjadi pesaing di Indonesia. Sedangkan sumber data untuk data sekunder diperoleh dari website, haisl penelitian DePalma dan kawan-kawan (2015) tentang tinjauan tahunan jasa penerjemahan, www.proz.com, www.translatorbase.com, www.translatorcafe.com, buku Directory of Mining Company, buku kumpulan organisasi internasional non pemerintah, daftar hotel di Yogyakarta, dan www.hpi.or.id. Data sekunder yang ada kemudian digabungkan dengan hasil survei dan wawancara untuk di analisis.
Tabel 3.1 Jenis dan Sumber Data
Tujuan Jenis Data Metode Pengumpulan
Data
Identifikasi Nara Sumber, Responden, Sumber Data
Lain
Alat Analisis
Mengetahui kebutuhan dan keinginan pelanggan
- Kebutuhan jasa terjemahan - Jenis jasa terjemahan
- Kualitas hasil terjemahan yang diharapkan
- Harga yang diharapkan - Kecepatan waktu pengerjaan
- Wawancara (telepon, perusahaan di antara pesaing
- Ukuran pesaing
- Jumlah layanan bahasa - Kepuasan karyawan - Kualitas hasil terjemahan - Kecepatan
- Harga
Intelejensi pesaing:
- Website pesaing - Pengguna jasa pesaing
- Karyawan /
Mengetahui kondisi pasar - Ukuran pasar
- Jenis layanan yang menjadi persaingan
- Sifat persaingan
- Observasi - Internet
- Pertumbuhan industri
pengguna jasa perusahaan pada segmen pasar yang telah dimiliki
- Kepuasan pelanggan - Kuesioner Pelanggan saat ini - IPA
49
Tujuan Jenis Data Metode
Pengumpulan
Mengetahui besarnya peluang - Jumlah perusahaan (tambang, manufaktur, perhotelan, rumah sakit) di Indonesia
- Jumlah agen terjemahan di luar negeri - Jumlah Universitas favorit di Yogyakarta
- Observasi - Directory of Language
- Daftar pesaing penerjemah lepas
- Daftar Hotel di Yogyakarta - Daftar Perguruan Tinggi di
Yogyakarta
- Deskriptif - Kanvas
Mengetahui besarnya ancaman
- Jumlah penerjemah lepas Indonesia yang terdaftar di Himpunan Penerjemah Indonesia, Translatorbase.com, translatorCafe.com, Proz.com
- Jumlah Agen penerjemahan di Indonesia - Jumlah Agen penerjemahan di Indonesia
yang menjadi pesaing primer.
- Jumlah Agen penerjemahan di Indonesia yang menjadi pesaing sekunder.
- Jumlah pesaing yang menjadi pesaing langsung namun menghasilkan produk pengganti
- Himpunan Penerjemah Indonesia
- Deskriptif
C. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Wawancara.
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data utama dalam metodologi kualitatif. Wawancara dapat dilakukan secara individu (wawancara mendalam individu) atau dalam kelompok. Pada penelitian kali ini wawancara dilakukan secara individu. Wawancara dilakukan melalui telepon dan secara langsung (face to face). Wawancara bertujuan untuk menggali informasi mengenai PéMad dan
proses penerjemahan yang ada di PéMad.
2. Survei.
Survei merupakan proses pengukuran yang digunakan untuk mengumpulkan informasi dalam sebuah wawancara yang terstruktur dengan baik – dengan atau tanpa pewawancara (Cooper dan Schindler, 2006, hal. 285). Dalam penelitian ini penulis menggunakan kuesioner dalam melakukan survei. Kuesioner disampaikan kepada responden melalui Survey Monkey, individu langsung, dan melalui email.
3. Observasi.
Observasi merupakan strategi yang berguna untuk mengumpulkan data mengenai tindakan dan perilaku banyak orang (Sekaran dan Bougie, 2013, hal.
102). Menurut Cooper dan Schindler, (2006, hal. 261) observasi melibatkan rentang penuh dari kegiatan pemantauan aktivitas dan kondisi perilaku maupun bukan perilaku. Pada penelitian ini penulis menggunakan observasi bukan perilaku untuk mengumpulkan data. Penulis melakukan analisis alur proses penerjemahan mulai
51 dari proyek terjemahan diterima sampai dengan hasil terjemahan dikirim kembali kepada pelanggan.
4. Competitor Intelligence.
Competitor Intelligence dilakukan dengan mencari informasi mengenai
pesaing. Pada penelitian kali ini informasi-informasi mengenai pesaing akan diperoleh dengan cara mencari informasi umum pesaing melalui informasi yang ada pada website pesaing, menggali informasi dari pelanggan, dan menggunakan produk pesaing.
D. Metode Analisis Data
Penelitian yang dilakukan akan menghasilkan dua jenis data yaitu data-data primer dan sekunder. Kedua jenis data yang berhasil dikumpulkan kemudian diolah menggunakan beberapa metode analisis data untuk menghasilkan strategi pemasaran yang tepat bagi PeMad. Berikut adalah langkah-langkah yang akan dilakukan oleh penulis dalam menganalisis data yang ada.
Data yang telah berhasil dikumpulkan akan dianalisis dengan menggunakan dua pendekatan yaitu analisis SWOT dan analisis Kanvas. Dengan melakukan analisis SWOT yaitu kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats), penulis dapat mengetahui kondisi-kondisi eksternal seperti ekonomi, sosial, budaya, demografi, lingkungan, politik, hukum, pemerintah, teknologi, dan tren persaingan serta kejadian yang berpengaruh secara signifikan terhadap perusahaan. Pengaruh atas situasi eksternal tersebut dapat berupa peluang namun juga dapat berupa ancaman bagi perusahaan ke depan (David, 2011, hal. 11). Selain mengetahui kondisi eksternal, dengan melakukan
52 analisis SWOT penulis juga akan mengetahui kondisi-kondisi internal perusahaan seperti manajemen, pemasaran, keuangan, operasional, produksi, pengembangan sumber daya, dan sistem informasi manajemen perusahaan. Kondisi-kondisi internal perusahaan tersebut akan mencerminkan kekuatan yang dimiliki oleh perusahaan guna mendapatkan peluang yang ada dan mengatasi atau menghindar dari ancaman serta ncerminkan kelemahan yang masih dimiliki perusahaan yang akan menjadi penghambat dalam rangka mengambil peluang (David, 2011, hal. 12).
Kanvas strategi digunakan untuk merangkum situasi saat ini dalam ruang pasar yang sudah dikenal, yaitu memahami di mana kompetisi saat ini sedang tercurah, memahami faktor-faktor apa yang sedang dijadikan ajang kompetisi dalam produk, jasa, dan pengiriman, serta memahami apa yang didapatkan konsumen dari penawaran kompetitif yang ada di pasar (Kim dan Mauborgne,
Kanvas strategi digunakan untuk merangkum situasi saat ini dalam ruang pasar yang sudah dikenal, yaitu memahami di mana kompetisi saat ini sedang tercurah, memahami faktor-faktor apa yang sedang dijadikan ajang kompetisi dalam produk, jasa, dan pengiriman, serta memahami apa yang didapatkan konsumen dari penawaran kompetitif yang ada di pasar (Kim dan Mauborgne,