Cukup Siapkah Kita?
B. Mengenal Perjalanan Dana Pensiun di Indonesia
Dana pensiun merupakan lembaga yang berasal dari sitem hukum Anglo Saxon. Ia berkembang di Indonesia seiring dengan berkembangnya bisnis dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pada saat itu timbul pemikiran untuk membentu
Strategic Studies Yang Dilakukan Oleh ATC Pusat Studi Apindo-DPN APINDO 2015 115 tabungan jangka panjang karyawan yang hasilnya akan dinikmati setelah pensiun.
Penyelenggaraannya dilakukan dalam suatu program, yaitu program pensiun.
Dana Pensiun, menurut sistem hukum Anglo Saxon, adalah dana yang sengaja dihimpun secara khusus dengan tujuan untuk memberikan manfaat kepada karyawan pada saat mereka mencapai usia pensiun, meninggal dunia atau cacat.44
Dana tersebut kemudian dikelola oleh suatu lembaga yang disebut trust, sedangkan pengelolanya disebut trustee. Namun konsep trust ini tidak dikenal dalam sistem hukum Indonesia. Maka bentuk ini kemudian diadaptasi sehingga menjadi dana pensiun sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun.
Sejak disahkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun, industri Dana Pensiun terus tumbuh dan menunjukkan perannya dalam perekonomian Indonesia. Indikator pertumbuhan industri Dana Pensiun dapat terlihat dari pertumbuhan aset, investasi, dan peserta yang terus bertambah.
Sepanjang 20 tahun ini, pemerintah terus berupaya untuk menumbuhkan industri dana pensiun, antara lain melalui penyusunan dan penyempurnaan berbagai pertumbuhan tersbeut, aset Dana Pensiun juga terus tumbuh dan berkembang.
Namun demikian, peningkatan jumlah aset Dana Pensiiun masih belum mencapai hasi yang signifikan bila dibandingkan dnegan GDP Indonesia. Hal ini terlihat dari presentase aset Dana Pensiun terhadap GDP yang rata-rata hanya sekitar 2% sejak tahun 1997 sampai dengan 2011.
Sebagai gambaran, di negara-negara maju seperti Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat aset Dana Penisun di tiga negara tersbeut memiliki proporsi yang sangat besar terhadap GDP, yaitu 88,68%; 64,66%; dan 72,67%. Namun tidak seperti di Indonesia, di negara-negara tersebut, Dana Pensiun sebagai suatu lembaga keuangan telah cukup lama berorientasi dan dikenal oleh warganya. Sementara itu di negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, proporsi aset Dana Penisun di kedua negara tersbeut terhadap GDPnya mencapai lebih dari 50%. Berbeda dengan Indonesia, di negara-negara tersbeut, program pensiiun merupakan program yang bersifat wajib dan harus diikuti oleh semua warganya.
44 A. Setiadi, Dana Pensiun Sebagai Badan Hukum, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1995, hlm.4.
Strategic Studies Yang Dilakukan Oleh ATC Pusat Studi Apindo-DPN APINDO 2015 116 Berdasarkan Undang-Undang No.11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun, dana pensiun adalah suatu badan hukum yang dibentuk untuk mengelola dan menjalankan program yang menjanjikan manfaat pensiun, definisi tersebuut terdapat dua unsur penting, yaitu:
1. Dana pensiun menurut undang-undang adalah suatu badan hukum.
2. Dana pensiun menjalankan program yang menjanjikan manfaat pensiun.
Terdapat 3 (tiga) jenis Dana Pensiun, yaitu:45 1. Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK)
Yaitu Dana Pensiun yang dibentuk oleh orang atau badan yang mempekerjakan karyawan, selaku sendiri, untuk menyelenggarakan Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP) atau Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP), bagi kepentingan sebagian atau seluruh karyawan sebagai peserta, dan yang menimbulkan kewajiban terhadap pemberi kerja. Hal ini terdapat dalam pasal 1 angka 2 Undang-Undang No.11 Tahun 1992.
2. Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK)
Pasal 1 angka 4 Undang-Undang No.11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun menjelaskan bahwa Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) adalah Dana Pensiun yang dibentuk oleh Bank atau Perusahaan Asuransi Jiwa untuk menyelenggarakan Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP) bagi perorangan, baik karyawan maupun pekerja mandiri yang terpisah dari Dana Pensiun Pemberi Kerja bagi karyawan bank atau perusahaan asuransi jiwa yang bersangkutan.
3. Dana Pensiun Berdasarkan Keuntungan (DPBK)
Pasal 1 angka 3 Undang-Undang No.11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun menjelaskan bahwa Dana Pensiun Berdasarkan Keuntungan (DPBK) adalah Dana Pensiun Pemberi Kerja yang menyelenggarakan Program Pensiun Iuran Pasti, dengan iuran hanya dari pemberi kerja yang didasarkan pada rumus yang dikaitkan dengan keuntungan pemberi kerja.
45 Iman Sjahputra Tunggal, Tanya Jawab Aspek Hukum Dana Pensiun di Indonesia, Jakarta: Harvarindo, 1999, hlm.5.
Strategic Studies Yang Dilakukan Oleh ATC Pusat Studi Apindo-DPN APINDO 2015 117 Dalam memilih program pensiun haruslah sesuai dengan kondisi dan kemampuan perusahaan dan calon peserta. Ada 2 (dua) bentuk program pensiun, yaitu:
1. Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP)
Pasal 1 angka 7 Undang-Undang No.11 Tahun 1992 mengatur bahwa dalam program ini manfata pensiun yang ditetapkan lebih dahulu dengan besarnya gaji.
Iuran tersebut dapat diubah-ubah berdasarkan perhitungan aktuaria dan hasil pengelolaan dananya. Namun demikian bagian iuran karyawan tetap diambil tetap, sedangkan iuran perusahaan saja yang berubah-ubah.
2. Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP)
Pasal 1 angka 8 Undang-Undang No. 11 Tahun 1992 mengatur bahwa dalam program ini kewajiban membayar iuran dari pemberi kerja ataupun peserta telah ditetapkan terlebih dahulu berdasarkan kemampuan masing-masing pihak. Hal ini mengandung pengertian bahwa bagaimanapun keadaan perusahaan, maka iuran harus tetap dibayarkan pada Dana Pensiun sebesar yang telah ditetapkan sebelumnya.
Berikut akan diuraikan perbedaan antara Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP) dan Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP) dari beberapa aspek, yaitu:46
Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP)
Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP)
Manfaat Pensiun
Ada kepastian besarnya manfaat pensiun yang akan diperoleh semenjak permulaan program.
Tidak ada kepastian manfaat pensiun yang akan diperoleh (tergantung akumulasi dana).
Strategic Studies Yang Dilakukan Oleh ATC Pusat Studi Apindo-DPN APINDO 2015 118 Tidak diperlukan dana awal dan
harus dihitung aktuaris.
Tidak diperlukan dana awal.
Investasi
Ada target manfaat. Lebih berani dalam berinvestasi.
Kegagalan Investasi
Resiko ada pada pemberi kerja. Resiko ada pada peserta.
Penyelenggara
Hanya dapat dilaksanakan oleh DPPK. sejumlah negara industri dirasakan sudah tidak menarik lagi bagi banyak negara, khususnya negara berkembang. Secara global, keberadaan program pensiiun manfaat pasti kini sudah bergeser dan digantikan dengan program pensiiun iuran pasti.
Pergeseran program pensiun ini tidak hanya terjadi di negara-negara Asia, tetapi juga terjadi di negara maju lainnya, seperti negara-negara di Eropa dan Amerika. Bahkan beberapa negara di kawasan Eropa Tengah dan Timur serta Asia telah terjadi
Strategic Studies Yang Dilakukan Oleh ATC Pusat Studi Apindo-DPN APINDO 2015 119 reformasi pensiun yang fundamental, seperti adanya program pensiun iuran pasti yang bersifat wajib dan diikuti oleh semua warga. Diperkirakan, tingkat pertumbuhan aset Dana Pensiiun di kawasan Eropa Tengah dan Timir tersebut mencapai 19% per tahun. Sedangkan di kawasan Asia, tingkat pertumbuhan tersebut diperkirakan mencapai 17% per tahun.
C. Program Baru Jaminan Pensiun dalam Tataran Sistem Jaminan Sosial Nasional