Implementasi Sistem Jaminan Sosial di Berbagai Negara
D. Sistem Jaminan Sosial di China
Di China, menjadi miskin adalah sebuah aib. Kebudayaan China memiliki pandangan bahwa menjadi miskin adalah memalukan, berbeda dengan masyarakat pada kebudayaan lain yang tidak merasa malu dengan status miskinnya.
Kemiskinan di China terjadi akibat ketimpangan pertumbuhan ekonomi antara kawasan pesisir sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dengan kawasan pedalaman yang penduduknya merupakan petani miskin. China merupakan suatu negara yang masih berada dalam tahap awal pembangunan nasional. China secara serius mulai membangun Sistem Jaminan Sosial yang disebut National Social Security Fund (NSSF) untuk warganegaranya pada tahun 1997 dengan mengikuti pola lima pilar dari Bank Dunia, yaitu:
1. Non-contributory poverty alleviation 2. Government run basic pension (state) 3. Individual account pension (occupational) 4. Voluntary employee/individual saving (private)
Strategic Studies Yang Dilakukan Oleh ATC Pusat Studi Apindo-DPN APINDO 2015 78 5. Informal sources of support including housing and health care
Kita pantas belajar dari China karena China merupakan negara yang terbagi ke dalam 48 provinsi, NSSF baru mulai dibangun pada tahun 1997, dan penduduknya mencapai sekitar 1,3 miliar. Luan Jianzhang, Wakil Dirjen Badan Riset Departemen Internasional Komite Sentral Partai Komunis China menyatakan bahwa pada tahun 2012 tak kurang 128 juta dari sekitar 1,34 miliar penduduk China hidup di bawah garis kemiskinan (Setiawan 2012). Angka kemiskinan ini menurun dibandingkan pada tahun 2001 yang mencapai 212 juta. Selain itu, keadaan yang tidak menyenangkan menyebabkan adanya kesenjangan sosial yang cukup tinggi di China, untuk itu pada tahun 2002, untuk memotong kesenjangan sosial yang semakin tajam, dibuat serangkaian kebijakan mengangkat perekonomian pedesaan dan meniadakan pajak yang ditarik dari petani. Petani menjadi sasaran empuk pajak, pada tahun 2004 petani membayar pajak pertanian sebesar 2,8 miliar dollar AS kepada negara. Perolehan pajak tersebut digunakan oleh Pemerintah China untuk membangun industri di perkotaan. Selain itu, pemerintah juga menerapkan sistem jaminan sosial yang baru dan mengalami banyak perubahan.30
Dana NSSF berasal dari kontribusi peserta dan pemberi kerja serta subsidi pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sampai dengan tahun 2005 telah dilaksanakan di beberapa kota dan dua provinsi ternyata mampu mengcover 150 juta penduduk dengan nilai kepesertaan ekuivalen dengan Rp220 triliun atau Rp1,4 juta per kapita. Dapatlah dibayangkan bilamana 48 provinsi di China bergabung, tentu akan menghasilkan ketersediaan dana Jaminan Sosial yang luar biasa besar.
Kepesertaan sistem jaminan sosial di China meliputi tenga kerja yang menerima upah secara regular pada sektor formal yaitu pada program hari tua, sakit dan persalinan, kecelakaan, dan sementara tidak bekerja. Serta tenaga kerja usaha mandiri (TKUM) pada program hari tua dan kecelakaan. Sedangkan bantuan keluarga kepesertaannya secara universal. Sementara itu, di Indonesia program hari tua, sakit, dan kecelakaan kepesertaannya secara TKUR. Untuk bantuan keluarga sama seperti di China berlaku kepesertaan secara universal. Di China bentuk badan
30 Guidi, Chen dan Wu Chuntao, China Undercover: Rahasia di Balik Kemajuan China, Jakarta: Ufuk Press, 2007, hlm.45.
Strategic Studies Yang Dilakukan Oleh ATC Pusat Studi Apindo-DPN APINDO 2015 79 hukum BJPS pada dasarnya sama dengan Indonesia yaitu BJPS per kepesertaan seperti Lembaga Asuransi Sosial (LAS) dan Jamsostek. Namun demikian, bentuk BJPS di China adalah badan hukum publik yang semi otonom, berbeda dengan Jamsostek di Indonesia yang merupakan BUMN Persero.
Program sakit dan persalinan baik di Indonesia maupun di China kepesertaannya bersifat opsi. Sementara itu, program asuransi pengangguran di China berdasarkan UU tahun 1999 tentang jaminan sosial. Tujuan penyelenggaraan asuransi pengangguran di China adalah untuk mengantisipasi tingginya PHK sebelum usia pensiun sebagai konsekuensi penerapan ekonomi pasar sejak tahun 2000.31
Berikut iuran sistem Jaminan Sosial dari presentase upah di China berdasarkan data yang dikeluarkan oleh US Social Security Administration (2009):
Program Presentase Upah
Hari Tua, Cacat, dan Ahli Waris Perusahaan : 20,00 Tenaga Kerja : 8,00 Sakit dan Persalinan Perusahaan : 6,00
Tenaga Kerja : 2,00
Kecelakaan Perusahaan : 1,00
Sementara Tak Bekerja Perusahaan : 2,00 Tenaga Kerja : 1,00
Bantuan Keluarga APBN
Pada tahun 2011 Kementrian Sumber Tenaga dan Jaminan Sosial China dan Bank rakyat China bersama-sama menghidupkan penggunaan kartu jaminan sosial dengan fungsi moneter. Masyarakat dapat menikmati jaminan sosial dan layanan moneter seperti menabung, kartu kredit, transfer rekening, dan konsusmsi melalui kartu jaminan sosial. Program ini dalam rangka memudahkan rakyat, menguntungkan rakyat, dan mensejahterakan rakyat.
31 Perbandingan Pembangunan Sosial Indonesia dan China dari
https://ekazunilusi.wordpress.com/2013/02/27/my-sunsets/ , diakses pada tanggal 2 Maret 2015 pukul 20:16 WIB.
Strategic Studies Yang Dilakukan Oleh ATC Pusat Studi Apindo-DPN APINDO 2015 80 E. Sistem Jaminan Sosial di Norwegia
Bersama dengan negara-negara Skandinavia lainnya, Denmark dan Swedia, Norwegia adalah salah satu negara yang masih percaya pada mekanisme negara kesejahteraan (welfare state). Selama ini negara-negara tersebut selalu berada dalam peringkat atas HDI. Peringkat tinggi yang dicapai negara-negara Skandinavia tersebut sebenarnya tak terlalu mengherankan apabila dilihat dari aspek kemampuan ekonomi negara dan mapannya sistem pengelolaan jaminan sosial lewat model welfare state.
Dengan sistem ini maka dimaksudkan bahwa negara memiliki tujuan untuk memastikan bahwa seluruh warga negara mendapatkan keamanan ekonomi dan keamanan sosial (social and economic safety). Negara juga menjamin bahwa semua warga negara berhak mendapatkan kesempatan yang sama dalam pendidikan dan pelayanan kesehatan, tanpa memperhatikan kelas sosial atau pendapatan ekonominya (Ellingson, Mac Donald-2000).
Norwegia mulai menerapkan sistem kesejahteraan ini pada tahun 1909 dalam sektor kesehatan, dimana warga negara yang memiliki pendapatan rendah akan mendapatkan pelayanan kesehatan gratis ketika mereka sakit. Sistem ini dimapankan pada periode pasca Perang Dunia II di Norwegia, dan juga di berbagai negara Eropa, sebagai respon dari krisis kapitalisme pada tahun 1930-an. Pasar kapitalisme dianggap bermasalah dalam mewujudkan kesejahteraan, sehingga intervensi negara dalam ekonomi dianggap penting.
Semua warga negara Norwegia dan individu yang berkerja di Norwegia secara otomatis memenuhi syarat menjadi anggota Skema Asuransi Nasional, yang merupakan skema asuransi pemerintah yang memberikan dana pensiun (misalnya untuk usia lanjut, penyandang cacat) serta manfaat yang berhubungan dengan kecelakaan kerja, kecelakaan umum dan penyakit, kehamilan, kelahiran, orang tua tunggal dan pemakaman. Bersama dengan skema asuransi untuk uang saku keluarga
Strategic Studies Yang Dilakukan Oleh ATC Pusat Studi Apindo-DPN APINDO 2015 81 dan manfaat uang tunai bagi orang tua dengan anak kecil (kontantstøtte), Skema Asuransi Nasional terdiri dari skema asuransi umum yang paling penting di Norwegia.
Pada akhir tahun 1999, sekitar 1,1 juta orang mendapatkan dana dari asuransi nasional sebagai sumber pendapatan, termasuk sekitar 900.000 usia pensiun. Pada tahun 1999, total pengeluaran pensiun mencapai 162 juta NOK, atau sama dengan 13,6% GDP dan sekitar 34,3% anggaran nasional. Skema Asuransi Nasional didanai oleh biaya keanggotaan dari para pegawai, wiraswasta dan pihak terasuransi lainnya, kontribusi perusahaan dan dana pemerintah.
Layanan umum pertama kali muncul pada tahun 1700. Sebelumnya, keluarga, gereja atau individu bertanggung jawab merawat orang miskin, orang sakit atau para lanjut usia. Perluasan layanan sosial dan asuransi nasional berhubungan erat dengan proses industrialisasi. Industri membawa penyakit baru, memicu tingkat mobilitias yang lebih tinggi sehingga melemahkan ikatan keluarga. Dan pada saat yang bersamaan memberikan dasar ekonomi untuk reformasi sosial. Asuransi Kecelakaan Norwegia untuk Pekerja Pabrik tahun 1895 secara perlahan-lahan diperbaiki untuk mencakup profesi lainnya, diikuti dengan pengenalan tunjangan saat sakit, tunjangan hari tua (1936), tunjangan pengangguran (1939), tunjangan cacat tubuh (1960) dan tunjangan bagi janda dan orang tua tunggal wanita (1964).
Pada tahun 1967, tunjangan sosial yang diperkenalkan sebelum Perang Dunia II digabungkan dengan Skema Asuransi Nasional. Pembayaran dari skema tersebut ditentukan oleh jumlah poin pensiun yang diraih tiap individu.
Norwegia merupakan negara makmur dan salah satu terkaya di dunia.
Pada tahun 2003, untuk tiga tahun berturut-turut, Norwegia menduduki peringkat teratas kondisi kehidupan nasional menurut UNDP Human Development Index.
Rata-rata usia kehidupan di Norwegia adalah 78,7 tahun (2001). Secara umum masyarakat memiliki kondisi kesehatan yang sangat baik dengan angka kematian balita yang sangat rendah. Hampir seluruh masyarakat menyelesaikan pendidikan sekolah menengah dan memiliki kecakapan menulis serta membaca.
Strategic Studies Yang Dilakukan Oleh ATC Pusat Studi Apindo-DPN APINDO 2015 82 Angka kemiskinan relatif rendah dibanding dengan negara OECD lainnya dan kondisi kemiskinan yang sangat memprihatinkan tidak dijumpai di Norwegia.
Angka produksi domestik kotor (GDP) per kapita sangat tinggi dengan tingkat kesejahteraan yang merata. Disamping itu, kesetaraan jender juga diakui pada seluruh lapisan masyarakat. Untuk menjaga kesejahteraan masyarakatnya, Norwegia telah menerapkan layanan kesehatan umum yang didanai oleh pajak dan skema asuransi nasional, dan berlaku untuk semua warga negara dan penduduk.
Baik konsumsi publik dan pribadi meningkat tajam sejak tahun 1900, dan tingkat kesejahteraan pada beberapa dekade terakhir dikarenakan penemuan dan eksploitasi minyak lepas pantai dan gas alam di Laut Utara. Dibawah tekanan modernisasi dan urbanisasi yang meningkat, pola kehidupan tradisional yang stabil telah digantikan dengan mobilitas yang tinggi, dimana orang lebih banyak bergerak dan berganti pekerjaan.