ANALISA PELAKSANAAN JAMINAN PENSIUN INDONESIA
D. Program jaminan pensiun BPJS Ketenagakerjaan
2. Skema Jaminan Pensiun
Berbicara mengenai skema jaminan pensiun yang berlandaskan atas dasar manfaat pasti, ternyata banyak orang belum mengetahui perbedaan dari manfaat pasti dan iuran pasti itu sendiri. Manfaat pasti sendiri merupakan rumus manfaat pensiun sudah ditetapkan dalam Peraturan Dana Pensiun, sedangkan besar iuran pensiun ditetapkan berdasarkan perhitungan aktuaria, kecuali iuran peserta yang ditetapkan dalam Peraturan Dana Pensiun atau Besar iuran adalah perkiraan kebutuhan dana yang harus disisihkan sekarang untuk merealisasikan pembayaran manfaat pensiun.
Sedangkan iuran pasti adalah Besar iuran baik dari Pemberi Kerja maupun peserta ditetapkan dalam Peraturan Dana Pensiun. Manfaat pensiun tergantung akumulasi iuran dan hasil pengembangannya. Hal ini dilihat dari survey yang kami lakukan dengan hasil ;
Skema manfaat pasti dan iuran pasti mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kelebihan dan Kekurangan itu adalah ;
Program Pensiun Manfaat Pasti (defined benefit)
Kelebihan Kekurangan
Besar manfaat pensiun mudah dihitung
Lebih memberikan kepastian kepada
Beban biaya mudah berfluktuasi
Nilai hak peserta sebelum pensiun 2% 14%
55%
13%
7% 9%
Perusahaan menggunakan skema jaminan pensiun manfaat pasti
Program Jaminan Pensiun
STS TS S SS SSS abstain
Figure 3
Strategic Studies Yang Dilakukan Oleh ATC Pusat Studi Apindo-DPN APINDO 2015 147 peserta
Lebih mudah memberikan penghargaan untuk masa kerja lalu
penghargaan untuk masa kerja lampau
Negara berkembang dan negara maju saat ini telah menggunakan skema jaminan pensiun berlandaskan iuran pasti, sedangkan Indonesia memilih menggunakan skema manfaat pasti. Skema manfaat pasti berlandaskan atas spirit dimana setiap pekerja pada masa tuanya nanti akan mendapatkan manfaat yang sama, hal ini berlandaskan atas asas gotong royong. Simulasi dalam skema manfaat pensiun ini pun dihitung berdasarkan dari rata-rata presentase manfaat yang dibebankan pada upah mereka. Sedangkan pada skema iuran pasti, beberapa pekerja yang hanya dibayar dengan upah kecil, manfaat pada masa tuanya nanti akan kecil, berbeda dengan pekerja dengan upah besar yang akan mendapatkan manfaat yang juga akan besar. Kelebihan yang ada dalam skema manfaat pasti memang terbaik akan tetapi apabila kita kaji dengan baik dengan penggunaan skema manfaat pasti akan banyak timbul problem didalamnya terutama adanya kemungkinan defisit yang sangat besar sebanyak 70% dari upah minimum yang harus dikeluarkan. Dampak tersebut juga akan berimbas pada upah minimum, Indonesia termasuk negara yang terus mengalami kenaikan upah setiap tahunnya, tuntutan dari buruh yang terus menerus merasa upah minimum belum terlalu tinggi, membuat Pengusaha sudah kewalahan, dengan pengaturan jaminan pensiun yang minimal adalah 70% dari upah minimum
Strategic Studies Yang Dilakukan Oleh ATC Pusat Studi Apindo-DPN APINDO 2015 148 akan menjadi celah bagi para pekerja untuk menuntut kenaikan upah yang lebih tinggi setiap tahunnya. Dengan adanya kenaikan upah yang sangat tinggi, maka jaminan pensiun yang akan didapatkannya akan semakin besar. Mengacu pada Negara Filiphina, cadangan jaminan pensiunnya akan diperkirakan habis di tahun 2015 ini. Efek ini diakibatkan karena kenaikan jumlah pensiun yang meningkat dua kali lipat sehingga menyebabkan nilai jaminan Pemerinah menjadi turun dratis.
Analisa mengenai pendanaan dan skema jaminan pensiun harus dimulai dengan memproyeksikan seluruh populasi dan angkatan kerja. Analisis ini setidaknya harus dilakukan untuk rentang waktu selama 75 tahun karena karakteristik demografi penduduk Indonesia sendiri akan berubah secara signifikan selama rentang waktu tersebut. Populasi akan menua sehingga proporsi penduduk usia tua dibanding penduduk usia produktif dan anak-anak akan semakin tinggi. Iuran yang dibayarkan oleh para pekerja juga digunakan untuk membiayai manfaat jaminan pensiun bagi penduduk usia tua, dengan demikian maka proporsi jumlah penduduk usia tua terhadap pekerja akan memiliki dampak yang signifikan terhadap pendanaan program Jaminan Pensiun. Usia pensiun adalah variable kunci dalam setiap rancangan skema pensiun. Usia pensiun juga menentukan rentang waktu pembayaran iuran program pensiun oleh pekerja dan rentang waktu untuk penerima manfaat pensiun. Penetapan usia pensiun pun haruslah dengan analisa yang matang.
3. Kepesertaan
factor penting dalam program jaminan pensiun adalah pengaturan mengenai kepesertaan, siapa yang akan menjadi peserta dan berapa usia maksimum dalam kepesertaan. Penetapan usia peserta dana pensiun ini merupakan kunci dari pengendalian biaya dan tingkat iuran yang diperlukan agar program ini dapat berlangsung jangka panjang. Tahun pertama program berjalan ini, usia pensiun ditetapkan di usia 56 tahun yang kemudian akan dilakukan penambahan secara periodic setiap tiga tahun sekali, sehingga di tahun 2042 usia pensiun akan mencapai usia 65 tahun. Penetapan usia pensiun ini juga apakah akan berlaku surut atau kepesertaan yang belum secara pasti menetapkan usia pensiun yang akan menjadi
Strategic Studies Yang Dilakukan Oleh ATC Pusat Studi Apindo-DPN APINDO 2015 149 13%
43%
34%
4% 5% 1%
Perusahaan setuju, karyawan yang masuk per 1 Juli 2015 sebagai
peserta jaminan pensiun
STS TS S SS SSS abstain
acuan dan perlindungan bagi para pekerja, membuat Perusahaan sebagai pemberi kerja enggan mendaftarkan pekerjanya per 1 juli 2015 ini kedalam sistem program jaminan pensiun ini. Penolakan ini bukan tidak berdasar, belum adanya sosialisasi mengenai jaminan pensiun ini membuat beberapa perusahaan masih bingung dalam penentuan usia pensiun bagi para pekerjanya.
Kebingungan ini serta merta membuat Perusahaan belum mensosialisasikan dengan baik mengenai program ini kepada para pekerjanya.
4. Harmonisasi
Harmonisasi dengan program yang telah ada harus dilakukan untuk menghindari duplikasi manfaat dan untuk mengontrol biaya. Program-program yang telah ada untuk sektor formal dan PNS perlu disesuaikan pada saat program SJSN dimulai.
Penyesuaian juga harus dilakukan terhadap program pesangon berdasarkan Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan program Jaminan Hari Tua. Disadari atau tidak, mengubah suatu Undang-undang tidaklah mudah, harus ada upaya lebih untuk mengakomodasikan harmonisasi antara JP, Pesangon dan JHT dalam Rancangan Peraturan Pemerintah. Namun, perlu dipertimbangkan lagi apakah pengaturan dalam RPP yang tingkatnya lebih bawah dari undang-undang, memiliki dasar hukum yang kuat ?
Kita anggap bahwa saat ini program-program ini akan berjalan, ada tidaknya jaminan pensiun, perusahaan tetap berkewajiban membayar pesangon bagi pekerjanya, yang akan terjadi adalah beban employe cost disuatu perusahaan akan
Figure 4
Strategic Studies Yang Dilakukan Oleh ATC Pusat Studi Apindo-DPN APINDO 2015 150 meningkat dratis, sehingga dengan pemikiran seperti itu suatu Perusahaan harus melakukan penyesuaian-penyesuaian agar total beban yang dikeluarkan tidak bertambah secara berlebihan dengan adanya tambahan iuran Jaminan Pensiun ini.
Dari hasil survey yang kami lakukan, perusahaan menuntut dengan diberlakukannya program jaminan pensiun ini seharusnya JHT dan Pesangon dapat dihapuskan, karena menurut mereka dua hal ini merupakan item yang sama. Perusahaan menganggap uang pesangon merupakan tabungan untuk para pekerjanya. Apabila perhitungan Jaminan Pensiun diperhitungkan dengan masa iur selama 15 tahun, maka JP akan tidak ada bedanya dengan JHT.
Figure 5
Perbedaan atau persamaan yang terdapat antara Jaminan Pensiun, Jaminan Hari Tua dan Pesangon membutuhkan diskusi lebih lanjut dan harus segera diputuskan.
Dalam hal pembebanan iuran pun, harmonisasi perlu dilakukan mengingat adanya kemungkinan overlap dan pembebanan biaya double bagi perusahaan yang telah memiliki jaminan pensiun sendiri. Apindo Training Center dengan perundingan beberpa tim ahli, mengajukan suatu win-win solution dengan tujuan agar program ini tetap terlaksana dengan baik dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
Solusi tersebut berupa pembagian besaran iuran bagi Perusahaan yang sudah mempunyai dana pensiun sendiri dan bagi Perusahaan yang belum memiliki dana
15%
26%
38%
9% 8% 4%
Perusahaan setuju Program Jaminan Pensiun menggantikan
JHT dan Pesangon
STS TS S SS SSS abstain
Strategic Studies Yang Dilakukan Oleh ATC Pusat Studi Apindo-DPN APINDO 2015 151 pensiun sama sekali, maka diwajibkan turut serta dalam program jaminan pensiun ini.
5. Pentahapan
pentahapan atas implementasi jaminan pensiun bagi perusahaan yang akan menjadi peserta jaminan pensiun ini akan mulai dilakukan per 1 juli 2015. Pentahapan kepesertaan ini akan dimulai pada Perusahaan yang bergerak di sektor formal, kemudian akan diikuti oleh perusahaan yang bergerak di sektor informal.
Pentahapan dilakukan hingga tahun 2019. Beberapa perusahaan besar menyetujui jika pentahapan ini dilakukan pada tahun 2019 dengan alasan bahwa program ini masih belum jelas dan akan membawa dampak resiko yang cukup besar terhadap beban cost Perusahaan mereka.
Pemerintah cenderung mendahulukan pentahapan bagi sektor formal, dikarenakan pentahapan pada sektor informal membutuhkan waktu yang sangat panjang.