BAB V: Penutup yang meliputi kesimpulan dan saran
SEKOLAH DASAR ISLAM TERPADU AMALIA CIBINONG, BOGOR
B. Pertanyaan 1. Tujuan
3. Mengenali sasaran khalayak
a. Bagaimana Guru mengetahui kerangka referensi terhadap siswa khususnya dalam tahfidzul Quran dan sholat?
Guru mengetahui kerangka referensi muridnya dengan pendekatan antarpersonal dan harus mengetahui bagaimana keadaan siswa dari mulai yang IQ nya tinggi sampai yang terendah, jadi untuk mencapai itu semua Guru harus menggandeng dan berkomunikasi langsung (face to face) terhadap siswa. Dalam halnya melakukan penertiban dalam mekanisme perekrutan calon siswa didik dengan melakukan tes psikologi atau test IQ. Dan dengan melakukan kegiatan keagamaan, seperti tilawatil Qur’ann perhari dan halaqoh tarbiyah, tahfidzul Quran dengan metode one day one ayat, siswa mampu menghapal Quran 2-4 juz ketika lulus (kelas 6), menerapkan, mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam keseharian seperti sholat wajib berjama’ah dan sholat dhuha, mengajarkan keterampilan membaca, berbicara, menulis dan menyimak. Guru akan mengetahui bagaimana keadaan siswa tersebut. Biasanya di sini ada juga yang mempunyai mental yang berkebutuhan
kepada mereka, misalnya ketika anda ingin mengajak saya ke suatu tempat, setidaknya saya harus paham anda ajak saya ke mana, tujuan dan untuk apa, jadi kita berikan dulu pemahaman kepada mereka, sebenarnya hafalan dan sholat itu seperti apa sih? Manfaat hafalan dan sholat itu apa sih?trus juga kita juga memberikan bagaimana cara supaya kita lebih cepat menghafal. Jadi kita bangun dulu pemahaman kepada mereka tentang hafalan Qur’an dan sholat. Ketika mereka sudah paham, pasti siswa akan tertarik untuk mengikutinya. Karena siswa akan berpikir, waaah.. ternyata hafalan Quran dan sholat itu banyak manfaatnya loh, mendapatkan pahala, dan membawa kita ke syurga.
b. Bagaimana bapak atau ibu mengetahui situasi dan kondisi siswa?
Biasanya kalo memang kondisi anak-anaknya sendiri yang sadar, ya pastinya siswanya tidak masuk kelas. Kalau memang sudah berada di sekolah, biasanya temannya yang memberitahu kepada gurunya. Guru tidak bisa selalu menerapkan komunikasi secara satu arah di kelas, karena karakter dari setiap orang itu berbeda. Disini peran komunikasi sangat mutlak diperlukan oleh para guru karena dengan hal ini guru jadi lebih tahu apa yang menjadi kendala bagi murid dan juga bisa mengetahui murid mana saja yang memiliki kekurangan tersebut, sehingga nantinya guru bisa memberikan fokus yang lebih banyak ketika murid tersebut bermasalah saat ujian harian dan sejenisnya.
4. Pesan
a. Bagaimana cara Guru dalam berinteraksi dengan siswa khususnya dalam tahfidzul Quran dan sholat?
Yaaah.. awalnya kita menjelaskan apa itu manfaat dari tahfidzul Quran dan sholat, apa kerugiannya kalau tidak membaca Al-Quran
di depan kelas dan bagaimana cara berbicara face to face dengan murid yang bertanya atau kurang mengerti yang pastinya setiap guru memiliki cara yang berbeda-beda. Dalam pendidikan sendiri dikenal istilah rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memiliki pengertian bahwa rencana tersebut harus menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan telah dijabarkan dalam silabus. RPP tersebut juga harus memuat tujuan yang ingin dicapai apa, langkah-langkah praktiknya seperti apa, proses penyampaiannya seperti apa (terutama gaya bicara guru saat mengajar) yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta paling penting dapat membuat murid paham dengan apa yang disampaikan guru. Cara penyampaian pesan yang dilakukan oleh guru merupakan bagian paling penting yang menjadi sukses atau tidaknya seorang guru ketika mengajar di kelas. Karena itulah seorang guru juga harus mampu untuk membuat sebuah rencana komunikasi yang baik yang tentunya sejalan dengan RPP yang ia rancang.
b. Pesan apa saja yang disampaikan Guru dalam menanamkan nilai Agama pada tahfidz dan sholat?
Pastinya yang bermanfaat, menjelaskan terlebih dahulu manfaat dan kerugiannya. Menarik perhatian siswa, mungkin dengan menggunakan media agar siswa tertarik.
c. Apakah dalam penyampaian pesan, Guru menggunakan media lain?
Tidak jauh beda dengan yang pelajaran umum, sama halnya dengan pengulangan setiap harinya, dengan metode one day one ayat,, yaa tapi tergantung dengan siswanya jika mampu ya dilanjut, atau tergantung dengan ayat panjang atau pendeknya. Begitunya juga dengan sholat, selalu dipraktekkan tiap harinya, kalau yang kelas satu ada pengulangan bacaan hafalan sholat.
Kebanyakan untuk pertanyaan dari murid mengenai permasalahan materi pelajaran, guru akan menyampaikan kembali bagian materi pelajaran yang murid tanyakan karena tidak mengerti tersebut secara informative/penerangan. Dimana letak kesulitannya dan apa yang ada dalam pikiran murid jika misalnya murid tersebut kurang begitu setuju dengan materi yang baru saja ia dapatkan. Selain mengenai pesan pendidikan atau materi pelajaran, sering juga ketika pelajaran akan dimulai guru kadang memberikan curhatan pribadi mengenai dirinya atau mencoba mengobrol santai sejenak dengan satu atau dua orang murid, sebelum mengajar beliau sering mencoba mengobrol santai sejenak dengan murid sebelum memasuki materi. Obrolan yang sering terjadi bisa tentang kejadian yang baru saja dialami atau tentang materi sebelumnya yang masih belum dimengerti
b. Apakah Guru dalam mengajarkan siswa dengan cara keras?
Ooohh di sini sudah diharamkan untuk tidak diperbolehkan memakai cara kasar seperti memukul. Jikalau memang ada siswa yang melanggar peraturan pertama diberi nasehat jika mengulanginya ada hukuman membaca istighfar di depan kelas atau menulis kalimat istighfar sebanyak-banyaknya, tergantung guru.
c. Apakah metodenya sudah dikatakan berhasil?
Alhamdillah sudah, karena di sini sudah ada beberapa siswa yang meraih prestasi tahfidz.
Media dalam tahfid di sini mrnggunakan audio yaitu radio atau kaset suara Qori M.Thoha. Al-Quran, kemudian kalau sholat, dalam bentuk media konvensional seperti mushollah sudah pasti, peralatan sholat. Ataupun juga dengan media audio visual seperti cerita nabi, keajaiban dalam sholat manfaatnya dan masih banyak lagi.
b. Apakah media dapat memotivasi para siswa dalam belajar?
Ya, pastinya karena media itu membuat siswa tidak merasa jenuh. murid sekolah era saat ini tidak selalu terfokus pada buku, tetapi bisa juga menggunakan media seperti televisi atau internet. Karena itu materi pelajaran bisa didapat dari banyak sumber dan menjadi keharusan bagi seorang guru untuk bisa tahu hal-hal terbaru dan nantinya bisa disampaikan kepada murid yang belum tahu melalui diskusi dikelas baik secara personal guru ke murid atau murid yang menerangkan kepada seisi kelas termasuk kepada guru. Diharapkan dengan proses komunikasi ini bisa menjadi masuknya beragam pengetahuan dan pengalaman baru kepada para murid. Bahwa seorang guru harus menjadi fasilitator yang baik dengan cara memperhatikan dan memberikan solusi jika ada satu atau dua muridnya yang sedang bermasalah.
c. Apakah media tersebut dapat dikatakan berhasil?
Alhamdulillah sudah.
Interviewer Interviewee
Nama : Siti Djaroten S.Pd.i Jabatan : Guru
Menerangkan dengan sebenar-benarnya bahwa mahasiswa dibawah ini: Nama : Shofwatunnida
NIM : 109051000237
Jurusan : Komunikasi Penyiaran Islam Program : S1
Telah melakukan wawancara untuk kelengkapan data skripsi yang berjudul “Strategi Komunikasi Guru Tergadap Murid Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Agama di SDIT Amalia, Cibinong, Bogor” sebagai salah satu syarat menyelesaikan tugas akhir perkuliahan.
Demikianlah surat ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
Jakarta, 20 Oktober 2013
A. Identitas Responden
Nama : Siti Djaroten
Tempat/Tanggal Lahir : Tanjung Pinang, 30 April 1974 Pendidikan Terakhir : s-1 Tarbiyah
Jabatan : Guru Agama dan Wali kelas
Tempat dan waktu dilakukan wawancara
Tempat : SDIT Amalia jalan Kp. Kandang Pakansari RT 002/06 NO : 14 Cibinong, Bogor
Hari/ tanggal : Kamis, 11 April 2013 Waktu : 09.00 WIB - selesai
B. Pertanyaan 1. Tujuan
a. Apakah tujuan dari menanamkan nilai-nilai Agama?
Agar anak-anak membentuk akhlak-akhlak yang berakhlakul karimah, mengerti lebih mendalam tentang Agama, mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk sejak dini.
b. Apakah tujuan strategi komunikasi Guru yang diterapkan di SDIT Amalia, Cibinong, Bogor dalam menanamkan nilai-nilai Agama?
Tujuan strategi komunikasi di sini adalah agar para siswa memahami hukum-hukum Agama dalam Islam. Dan tentunya membentuk akhlakul karimah.
c. Apakah tujuan strategi komunikasi sudah berjalan sesuai apa yang sudah diharapkan?
Mempunyai kurikulum sendiri, dalam artian menyeimbangkan kurikulum DIKBUD dan kurikulum DEPAG berbasis Al-Quran
b. Apakah Bapak atau Ibu mengetahui dengan baik rencana yang telah disusun oleh sekolah ini?
Pastinya, dalam menilai rencana komunikasi dan rencana pendidikan yang guru buat apakah sudah sudah berhasil atau tidak, para guru di SDIT Amalia, Cibinong, Bogor harus melakukan evaluasi yang dikenal dengan penelitian tindakan kelas (PTK) yang merupakan sebuah penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran.
Guru melakukan hal ini biasanya secara individual dengan menilai kinerja materi yang telah ia sampaikan dengan situasi dan kondisi yang sudah ada di kelas selama ia mengajar. Evaluasi PTK ini dilakukan secara fleksibel, bisa di awal, tengah atau akhir semester tergantung kebutuhan dengan harapan agar hal-hal positif yang telah didapatkan dari rencana pengajaran (termasuk RPP dan rencana komunikasi) bisa dilanjutkan atau ditingkatkan, sementara untuk hal-hal negatif yang didapatkan selama mengajar dalam satu semester untuk semester berikutnya ditiadakan atau diperbaiki agar tidak terjadi lagi. Salah satu bentuk PTK yang sering dilakukan oleh guru di SDIT Amalia, Cibinong, Bogor adalah evaluasi gaya berkomunikasi dan tugas-tugas yang diberikan kepada murid. Misalnya di satu semester guru merencanakan mengajar dengan sistem klasikal ceramah berbasis buku penuh dengan tugas kelompok, namun ternyata di akhir semester didapatkan bahwa
diarahkan pada konteks antar personal murid dan tugas kelompok tersebut diganti menjadi tugas individual.
Secara keseluruhan, rencana komunikasi maupun RPP yang dibuat oleh guru SDIT Amalia,Cibinong, Bogor untuk dipergunakan di kelas ketika ia mengajar sudah berjalan cukup baik, walaupun masih ada beberapa orang guru yang belum maksimal dalam mengsinergikan kedua rencana tersebut terutama ketika materi yang ia sampaikan walaupun sudah sesuai dengan RPP tetapi masih sukar dimengerti murid karena cara dan gaya komunikasinya kurang komunikatif
c. Bagaimana rencana yang sudah dilakukan sebelumnya?
Rencana yang dilakukan sebelumnya berjalan dengan baik dan lancar, dan apabila ada rencana yang belum terselesaikan, diajaran baru pasti dilaksanakn, tetapi Alhamdulillah di sini jarang sekali tidak terlaksana.
3. Mengenali sasaran khalayak
a. Bagaimana Guru mengetahui kerangka referensi terhadap siswa khususnya dalam tahfidzul Quran dan sholat?
Guru dalam mengenal siswanya, biasanya dengan bercakap langsung dengan yang bersangkutan, face to face, dan Guru memang sudah mengetahui kemampuan siswanya sebelum memasuki kelas, dilihat dati tes IQ dan prestasinya. Ada bermacam-macam kemampuan siswa, ada yang cepat ada yang lambat dalam menghafal, dan iti diketahui ketika, di akhir kelas biasanya siswa di tes hafalan yang tadi di hafal, naah dari situlah kita mengatahui kemampuan siswa.
b. Bagaimana bapak atau ibu mengetahui situasi dan kondisi siswa?
sudah ditetapkan, kalau memang ada siswa yang kurang sehat dan benar-benar tidak bisa mengikutinya, siswa tidak boleh ikut karena proses berpikir hanya berjalan dengan normal bila ditopang oleh tubuh yang normal pula di mana panca indera berfungsi pula secara normal dan wajar, dan pasti kami akan menyuruh untuk beristirahat ataupun memang langsung dipulangkan. Siswa di sini pada semangat untuk mengahafal karena kami mengajarkannya, bagaimana siswa tidak bête. Kemudian kalo miasalkan waktu sholat, hujan turun biasanya kami sholat di dalam kelas saja.
4. Pesan
a. Bagaimana cara Guru dalam berinteraksi dengan siswa khususnya dalam tahfidzul Quran dan sholat?
Dalam ranah pelajaran umum dulu ya misalkan, Dalam mengajar sendiri, bentuk pesan komunikasi ini sangat terkait dengan kegiatan komunikasi yang terjadi dan dilakukan oleh guru yang bersangkutan dalam mata pelajaran tertentu. Misalnya guru matematika memiliki bentuk penyampaian materi yang berbeda dengan guru pendidikan kewarganegaraan. Jika guru matematika lebih mengarahkan pesan yang ia sampaikan kepada sistematika berhitung, maka guru PKN mayoritas menyampaikan isi materi pesannya tentang kehidupan berbangsa dan bernegara (nasionalisme). Disini pula kemampuan guru dalam mengemas pesan supaya mudah dimengerti dan dipahami murid menjadi sangat penting. Ketika guru mengajar di kelas, ia secara tidak langsung memiliki dua peran untuk menyampaikan pesan. Peran yang pertama adalah ia menyampaikan pesan secara umum kepada seisi kelas, dan peran yang kedua ia menyampaikan pesan antar
Guru paasti berbeda cara penyampaian pesannya.
b. Pesan apa saja yang disampaikan Guru dalam menanamkan nilai Agama pada tahfidz dan sholat?
Pesan yang disampaikan pastinya yang bersifat postif, tetapi kita di sini menjelaskan apa manfaat kelebihan dan kekurangan dari menghafal atau sholat tersebut.
c. Apakah dalam penyampaian pesan, Guru menggunakan media lain?
Ya tentunya, karena media merupakan alat bagaimana caranya siswa tidak jenuh, dan biasanya siswa lebih menarik perhatian lebih semangat pula dalam belajar, itulah kegunaan media agar siswa tidak bête dalam belajar.
5. Metode
a. Metode apa yang digunakan Guru dalam mengajarkan tahfidz dan sholat?
Metode yang digunakan di sini adalah dengan one day one ayat yaitu cara menghafal yang sangat ringan dan menyenangkan, menghafal tanpa beban. Kemudian pengulangan di akhir pelajaran atau di awal agar para siswa tidak cepat hilang. Dan dengan cara memberikan penerangan kepada siswa, maksudnya sebelumnya dijelaskan manfaat dan akibat jika kita tidak bisa membaca AL-Quran dan tidak sholat.
b. Apakah Guru dalam mengajarkan siswa dengan cara keras?
Tidak, siswa di sini yang tidak mematuhi peraturan, dihukum dengan menyebut istighfar atau menulis kalimat istighfar sebanyak-banyaknya, tergantung dari Guru tersebut yang memberikan, tetpai Guru di sini tidak memberikan hukuman
Alhamdulillah sudah.
6. Media
a. Media apa sajakah yang digunakan dalam tahfidzul Quran dan sholat?
Media yang digunakan dalam tahfidz yaitu kita menggunakan radio atau kaset Al-Quran, kalau sholat ya peralatan sholat itu kan juga termasuk media, mushollah pastinya. Dan biasanya kita juga ada audio visual menonton yang Islami tentang sejarah nabi, amalan sholat dan masih banyak lagi.
b. Apakah media dapat memotivasi para siswa dalam belajar?
Iya pasti media memotivasi dalam belajar.
c. Apakah media tersebut dapat dikatakan berhasil?
Ya, Alhamdulillah
Nama : Laila Romlah, S.Pd.I Jabatan : Guru
Menerangkan dengan sebenar-benarnya bahwa mahasiswa dibawah ini: Nama : Shofwatunnida
NIM : 109051000237
Jurusan : Komunikasi Penyiaran Islam Program : S1
Telah melakukan wawancara untuk kelengkapan data skripsi yang berjudul “Strategi Komunikasi Guru Terhadap Murid Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Agama di SDIT Amalia, Cibinong, Bogor” sebagai salah satu syarat menyelesaikan tugas akhir perkuliahan.
Demikianlah surat ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
Jakarta, 20 Oktober 2013
A. Identitas Responden
Nama : Laila Romlah
Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 26 Mei 1985 Pendidikan Terakhir : s-1 Tarbiyah, PAI
Jabatan : Guru Agama dan Tahfidzul Quran
Tempat dan waktu dilakukan wawancara
Tempat : SDIT Amalia jalan Kp. Kandang Pakansari RT 002/06 NO : 14 Cibinong, Bogor
Hari/ tanggal : Kamis, 11 April 2013 Waktu : 09.00 WIB - selesai
B. Pertanyaan 1. Tujuan
a. Apakah tujuan dari menanamkan nilai-nilai Agama?
Untuk membentuk akhlak yang baik.
b. Apakah tujuan strategi komunikasi Guru yang diterapkan di SDIT Amalia, Cibinong, Bogor dalam menanamkan nilai-nilai Agama?
Pada intinya, tujuan yang ingin dicapai oleh setiap guru saat melakukan komunikasi dengan muridnya di SDIT Amalia, Cibinong, Bogor adalah guru ingin menjadi komunikator, fasilitator sekaligus motivator kepada setiap murid yang baik agar materi pelajaran bisa tersampaikan dengan baik tanpa ada masalah yang mungkin datang baik itu dari faktor guru atau faktor muridnya.
2. Rencana
a. Apakah sekolah ini mempunyai rencana pengembangan dalam tahfidzul Quran dan praktek sholat?
Pasti, setiap sekolah yah di setiap manapun pasti mempunyai rencana yang paling hebat dari tahun ke tahun. Begitu pula di sini.
b. Apakah Bapak atau Ibu mengetahui dengan baik rencana yang telah disusun oleh sekolah ini?
Ya, guru semua tahun rencana apa yang di laksanakan, karena tiap bulannya ada evaluasi dan pastinya membicarakan rencana-rencana selanjutnya.
c. Bagaimana rencana yang sudah dilakukan sebelumnya?
Alhamdulillah,berjalan dengan baik.
3. Mengenali sasaran khalayak
a. Bagaimana Guru mengetahui kerangka referensi terhadap siswa khususnya dalam tahfidzul Quran dan sholat?
Guru mengetahuinya dengan cara intrapersonal, tes satu-satu di awal pelajaran atau di akhir.
b. Bagaimana bapak atau ibu mengetahui situasi dan kondisi siswa?
Kalau anak sudah mulai ricuh, berarti anak sudah mulai bête, naah di sini kita selingi dengan cerita, agar mereka semangat lagi.
4. Pesan
a. Bagaimana cara Guru dalam berinteraksi dengan siswa khususnya dalam tahfidzul Quran dan sholat?
Langsung praktekkan, biar siswa mengetahui iniloh yang namanya hafalan Quran, iniloh manfaatnya sholat iniloh akibatnya kalau kita engga sholat. Intinya guru memberitahu manfaat atau kerugiannnya.
Menanamkan Nilai-Nilai Agama di SDIT Amalia, Cibinong, Bogor bersifat konsisten, bagaimana cara mengingatkan siswa secara terus menerus, dipraktekan setiap hari, misal ketika makan kita harus mempraktekan adab makan “dek, ayoo kita gunakan adab makan, tidak boleh berbicara, tidak boleh makan sambil berdiri ataupun lari-lari, dalam arti pesan yang disampaikan guru dipraktekkan langsung kepada siswa setiap harinya agar terbiasa di lingkungan sekitarnya begitu juga dengan penyampaian pesan yang lainnya.
Pada sholat dhuha memberikan motivasi kita untuk belajar yang baik. Tetapi Penanaman pesan lebih di pagi hari, berbaris itu di sana bernyanyi tentang sopan moral, lagu-lagu nasyid, lagu lagu sayang teman, lagu lagu suatu perbuatan baik, lagu lagu kosa kata bahasa, dan dibalik itu juga kita mengulang pelajaran. Pesan yang disampaikan ketika guru mengajar di dalam kelas tentu saja adalah pesan pendidikan atau materi ajar. Materi ajar ini bisa disampaikan oleh guru melalui tatap muka dan berceramah essay, atau menggunakan media pembelajaran atau alat bantu mengajar seperti televisi, radio/tape recorder, infokus, bercerita melalui boneka dan masih banyak lagi jenisnya.
Untuk penyampaian pesan pada materi tahfizdul Quran, para santri diwajibkan untuk menghafal satu hari satu ayat itupun tergantung dari panjang atau pendeknya surat tersebut dan disesuaikan terhadap kemampuaan santri. Para santri tidak hanya mengahafal AL-Quran saja, tetapi santri diajarkan untuk mengenal huruf hijaiyah, mengerti arti tafsir atau makna dari surat tersebut dan pastinya kami mengajarkan Tajwid kepada santri agar santri bisa
tertib dan sempurna, kemudian santri masuk ke Masjid tanpa suara dan langsung memakai perlengkapan sholat, santri di sinipun dibiasakan untuk sholat sunnah 2 rokaat sambil menunggu yang lainnya menanti waktu sholat sambil berdzikir, tertib dan tidak bermain dalam bentuk apapun.
c. Apakah dalam penyampaian pesan, Guru menggunakan media lain?
Iya, agar siswa tidak jenuh.
5. Metode
a. Metode apa yang digunakan Guru dalam mengajarkan tahfidz dan sholat?
Sebelum kita memulai pelajaran, kita menerangkan dulu manfaat dari yang kita ajarkan, Untuk penyampaian pesan pada materi tahfizdul Quran, para santri diwajibkan untuk menghafal satu hari satu ayat itupun tergantung dari panjang atau pendeknya surat tersebut dan disesuaikan terhadap kemampuaan santri. Para santri tidak hanya mengahafal AL-Quran saja, tetapi santri diajarkan untuk mengenal huruf hijaiyah, mengerti arti tafsir atau makna dari surat tersebut dan pastinya kami mengajarkan Tajwid kepada santri agar santri bisa lebih mengeti mengenal dan memahami isi AL-Quran bukan hanya untuk dihafal saja. Metode dengan cara mendidik, mendidik di sini adalah Guru harus mempraktekkan dalam sehari-hari dan mencotohkan kepada siswa, misalnya makan dengan duduk, berbicara sopan, berpakaian sopan, bahkan ketika memang sudah waktunya sholat di sini Guru semua juga mencotohkannya, begitu juga dengan hafalan Quran, Guru Tahfidzpun harus konsisten pula dengan apa yang diajarkan, maksudnya Guru itu harus hafal surat tersebut pastinya.
ringan, seperti membaca istighfar.
c. Apakah metodenya sudah dikatakan berhasil?
Alhamdulillah, sudah.
6. Media
a. Media apa sajakah yang digunakan dalam tahfidzul Quran dan sholat?
Kalau tahfidz menggunakan Radio atau kaset pastinya Al-Quran, sholat hanya peralatan sholat aja, atau kita biasanya nonton vcd yang mengenai sholat. di sini belajar tidak hanya dengan buku, tetapi kita di sini menggunakan tv, dalam pelajaran Agama ataupun Umum, tetapi pastinya kita memperlihatkan kepada siswa tentunya yang edukatif dan bermanfaat, ketika ada pelajaran Agama yang memungkinkan untuk menonton film film Islam, seperti halnya