• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Penelitian

4.2.2.2 Menghina

MH8/Kl

Pemda ny aj jual masker 300 rb bkn di ksi gratis. Dsr ajg.

Konteks tuturannya:

Tuturan sindiran tersebut terdapat pada portal berita yang diunggah oleh

@Kompas.com pada 14 Maret 2020. Berita tersebut berjudul “Coronavirus, Anies minta warga Jakarta tinggal di rumah termasuk karyawan.”

Tuturan di atas bermakna menghina karena tuturan tersebut ditujukan kepada pemerintah daerah Jakarta. Tuturan tersebut ditandai dengan kata ajg yang merupakan singkatan dari nama binatang anjing. Menurut (KBBI V, Departemen Pendidikan Nasional, 2016) Anjing sendiri adalah binatang yang biasanya

dipelihara untuk menjaga rumah. Binatang merupakan makhluk hidup yang tidak memiliki akal budi.

Peneliti memiliki anggapan kalau orang yang menyampaikan tuturan sindiran dalam kolom komentar tersebut tidak puas dengan kebijakan pemerintah daerah yang kurang memerhatikan rakyatnya. Orang yang berkomentar menilai bahwa pemerintah daerah Jakarta sudah menjual masker dengan harga tinggi dan tidak dibagikan secara gratis.

Secara keseluruhan jika dianalisis tuturan tersebut menghina pemerintah daerah Jakarta dengan melontarkan kata-kata tidak sopan yaitu anjing. Pemerintah daerah Jakarta dianggap seperti binatang anjing yang tidak memiliki akal budi karena sudah menjual masker seharga 300 ribu dan tidak membagikannya saja kepada masyarakat secara gratis.

Tuturan 4 MH10/Kal

Sekarang kita tahu, Pemimpin2 indonesia orang2 bodoh.

Konteks tuturannya:

Tuturan sindiran tersebut terdapat pada portal berita yang diunggah oleh

@Tempo.co pada 4 April 2020. Berita tersebut berjudul “Luhut Ungkap Kenapa Tak Ada Larangan Mudik Lebaran.”

KBBI V (Departemen Pendidikan Nasional, 2016) menyatakan bahwa menghina memiliki makna proses, cara, perbuatan menghina, dan menistakan.

Menghina berasal dari kata hina. Hina berarti rendah kedudukannya, keji, tercela, tidak baik. Menghina juga memiliki arti sebagai tuturan yang menyinggung perasaan orang atau lembaga. Selain itu, tuturan tersebut merendahkan martabat orang atau lembaga tersebut. Oleh karenanya, menghina adalah kata-kata yang bermakna merendahkan dan mencela orang lain.

Tuturan di atas dapat digolongkan sebagai hinaan. Jika dilihat sekilas, tidak ada yang salah dengan tuturan tersebut. Akan tetapi, jika dianalisis lebih mendalam, tuturan tersebut sudah merendahkan jabatan para pemimpin-pemimpin yang ada di Indonesia. Kata hinaan terletak pada kata bodoh. Bodoh sendiri dalam KBBI V (Departemen Pendidikan Nasional, 2016) berarti tidak lekas mengerti;

tidak memiliki pengetahuan. Oleh karenanya, makna tuturan tersebut merendahkan pengetahuan para pemimpin-pemimpin di Indonesia yang tidak mengerti keadaan rakyatnya.

Makna tuturan tersebut dilandasi oleh konteks tuturan. Konteks tersebut ditemukan pada portal berita @Tempo.co. Postingan tersebut berisi berita yang berjudul “Luhut Ungkap Kenapa Tak Ada Larangan Mudik Lebaran.” Luhut sendiri merupakan salah satu Mentri dalam Kabinet Presiden Joko Widodo. Luhut dan para pemimpin Indonesia yang memberi kebijakan larangan tentang mudik dianggap bodoh karena tidak memikirkan rakyatnya yang ingin berkumpul dengan keluarga.

Makna tuturan sindiran yang ketiga adalah perbuatan tidak menyenangkan.

Perbuatan tidak menyenangkan adalah tuturan yang menimbulkan rasa tidak nyaman bagi orang lain. Berikut contoh data dan penjelasan mengenai tuturan sindiran perbuatan tidak menyenangkan.

4.2.2.3 Perbuatan Tidak Menyenangkan Tuturan 5

PTM15/Fr ga nonton mati

Konteks tuturannya:

Tuturan sindiran tersebut terdapat pada portal berita yang diunggah oleh

@CNN Indonesia pada 13 Juli 2020. Berita tersebut berjudul “Kasus Covid-19 Meningkat, Waktu Operasi Bioskop Jakarta Ditunda.”

Perbuatan tidak menyenangkan adalah tindakan yang mengganggu dan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pihak lain. Tuturan dapat berindikasikan perbuatan tidak menyenangkan jika seseorang, sekelompok, atau lembaga mengganggu atau menimbulkan rasa tidak nyaman ke pihak lain. Jika tuturan tersebut diucapkan atau dituliskan kepada seseorang dan membuat pihak lain merasa tidak nyaman, pihak yang dirugikan dapat melaporkan tuturan tersebut dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan.

Tuturan di atas terindikasi sebagai tuturan sindiran yang bermakna perbuatan tidak menyenangkan karena membuat pihak lain merasa tidak nyaman.

Tuturan sindiran tersebut terlihat pada ga nonton mati. Kata mati termasuk kata kasar. Jika diartikan secara utuh tuturan tersebut menyinggung pihak bioskop yang nekat untuk membuka bioskop di tengah pandemi Covid-19. Tetapi, karena kasusnya meningkat niat tersebut diurungkan.

Makna tuturan tersebut diperkuat dengan konteks yang hampir sama untuk menyindir kebijakan dari pihak bioskop. Ada beberapa komentar yang senada dengan komentar tuturan sindiran di atas. Tuturan sindiran ini muncul karena banyak orang yang menilai belum saatnya tempat umum seperti bioskop untuk kembali beroperasi di tengah pandemi Covid-19.

Tuturan 6 PTM10/Kal

Ngasi gratis tapi tak ikhlas, kalau mau ngasi gratis itu ya disama ratakan saja semua ga ush dipilih

Konteks tuturannya:

Tuturan sindiran tersebut terdapat pada portal berita yang diunggah oleh

@Suara.com pada 1 April 2020. Berita tersebut berjudul “Listrik di Rumah Anda Digratiskan Jokowi? Begini Cara Mengeceknya.”

Perbuatan tidak menyenangkan adalah tindakan yang mengganggu dan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pihak lain. Tuturan dapat berindikasikan perbuatan tidak menyenangkan jika seseorang, sekelompok, atau lembaga mengganggu atau menimbulkan rasa tidak nyaman ke pihak lain. Jika tuturan tersebut diucapkan atau dituliskan kepada seseorang dan membuat pihak lain merasa tidak nyaman, pihak yang dirugikan dapat melaporkan tuturan tersebut dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan.

Tuturan di atas terindikasi sebagai tuturan sindiran yang bermakna perbuatan tidak menyenangkan karena membuat pihak lain merasa tidak nyaman.

Tuturan sindiran tersebut terlihat pada komentar ngasi gratis tapi tak ikhlas. Frasa tak ikhlas menjadi indikasi yang dapat memunculkan rasa tidak nyaman bagi

orang lain. Komentar tersebut dilatarbelakangi kurang puasnya seseorang dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan Presiden Jokowi yang mengratiskan listrik tetapi hanya beberapa orang saja yang dapat menikmati kebijakan tersebut sehingga menimbulkan kecemburuan sosial pada pihak lain yang tidak dapat menikmati listrik gratis oleh pemerintah.

Makna tuturan tersebut diperkuat dengan konteks yang hampir sama untuk menyindir kebijakan dari pemerintahan Presiden Jokowi. Ada beberapa komentar yang senada dengan komentar tuturan sindiran di atas. Tuturan sindiran ini muncul karena banyak orang yang menilai bahwa kebijakan pemberian listrik gratis bagi masyarakat belum semuanya rata.

Makna yang keempat adalah provokasi. Provokasi adalah kegiatan yang mengajak seseorang melakukan hal yang sama. Provokasi tersebut biasanya dapat membangkitkan kemarahan orang lain. Berikut adalah contoh dan penjelasan terkait tuturan sindiran bermakna provokasi.

4.2.2.4 Provokasi

Dokumen terkait