KAJIAN PRAGMATIK SIBER TUTURAN SINDIRAN PADA KOLOM KOMENTAR LINE TODAY PERIODE MARET – JULI 2020
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Disusun oleh:
Mateus Ryan Marga Ripten 171224026
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA 2021
i
KAJIAN PRAGMATIK SIBER TUTURAN SINDIRAN PADA KOLOM KOMENTAR LINE TODAY PERIODE MARET – JULI 2020
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Disusun oleh:
Mateus Ryan Marga Ripten 171224026
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA 2021
ii SKRIPSI
KAJIAN PRAGMATIK SIBER TUTURAN SINDIRAN PADA KOLOM KOMENTAR LINE TODAY PERIODE MARET – JULI 2020
Oleh:
Mateus Ryan Marga Ripten NIM: 171224026
Telah disetujui oleh
Dosen Pembimbing
Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum. 11 Juni 2021
iii SKRIPSI
KAJIAN PRAGMATIK SIBER TUTURAN SINDIRAN PADA KOLOM KOMENTAR LINE TODAY PERIODE MARET – JULI 2020
Dipersiapkan dan ditulis oleh Mateus Ryan Marga Ripten
NIM: 171224026
Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal 22 Juli 2021
dan dinyatakan telah memenuhi syarat
Susunan Panitia Penguji
Nama Lengkap Tanda Tangan
Ketua :
Rishe Purnama Dewi, S.Pd.,
M.Hum ……….
Sekretaris : Danang Satria Nugraha, S.S., M.A. ……….
Anggota 1 : Prof. Pranowo, M.Pd. ……….
Anggota 2 : Danang Satria Nugraha, S.S., M.A. ……….
Anggota 3 : Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum. ……….
Yogyakarta, 22 Juli 2021
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma
Dekan,
Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si.
iv
HALAMAN PERSEMBAHAN
Atas berkat, rahmat, dan penyertaan Tuhan Yesus, saya dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Saya mempersembahkan tugas akhir ini untuk:
1. Tuhan Yesus yang tidak pernah berhenti memberikan berkat-Nya pada saya.
2. Kedua orang tua saya, Bapak Heri Sukariyanta dan Ibu Naryanti yang selalu menyemangati, membimbing, mendoakan saya, dan membantu saya selama proses belajar dan penyelesaian tugas akhir ini.
3. Paskalia Wulandari, teman istimewa yang sudah menemani saya dan memberi semangat kuliah serta yang selalu memberikan dukungan dan dorongan untuk segera menyelesaikan tugas akhir ini.
4. Keluarga besar saya di Yogyakarta dan di Lubuklinggau, Sumatera Selatan yang sudah selalu mendoakan dan memberikan dukungan untuk segera menyelesaikan pendidikan.
5. Kaprodi PBSI, Ibu Rishe Purna Dewi, S.Pd., M.Hum., yang selalu memberi motivasi dan semangat bagi saya.
6. Dosen pembimbing saya, Bapak Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum., yang selalu memberikan terobosan-terobosan baru, membimbing, dan membantu saya dalam penyelesaian tugas akhir.
7. Dosen pembimbing akademik, Bapak Drs. Petrus Hariyanto, M.Pd., dan Ibu Septina Krismawati, S.S., M.A., yang selalu memberikan motivasi dan saran kepada saya selama berkuliah di PBSI.
8. Para dosen dan teman-teman di PBSI yang selalu mendorong saya menjadi lebih baik.
v
HALAMAN MOTO
“Anda mungkin bisa menunda, tapi waktu tidak akan menunggu.”
(Benjamin Franklin)
“Orang bijak akan mendengar , dan akan meningkatkan pembelajaran; dan orang yang berpengalaman harus mendapatkan nasihat yang bijak.”
(Amsal 1:5)
“Dan apapun yang kamu lakukan, baik dalam kata atau perbuatan, lakukan semuanya dalam nama Tuhan Yesus, bersyukur kepada Allah Bapa melalui dia.”
(Kolose 3:17)
vi
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan kesungguhan bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya sebuah karya ilmiah.
Yogyakarta, 22 Juli 2021 Penulis
Mateus Ryan Marga Ripten
vii
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswi Universitas Sanata Dharma Nama : Mateus Ryan Marga Ripten
NIM : 171224026
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma, skripsi saya yang berjudul
KAJIAN PRAGMATIK SIBER TUTURAN SINDIRAN PADA KOLOM KOMENTAR LINE TODAY PERIODE MARET – JULI 2020
Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminja izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 22 Juli 2021 Yang menyatakan
Mateus Ryan Marga Ripten
viii ABSTRAK
(Ripten Marga, Mateus Ryan). 2021. Kajian Pragmatik Siber Tuturan Sindiran Pada Kolom Komentar Line Today Periode Maret – Juli 2020. Skripsi.
Yogyakarta: PBSI, FKIP, USD.
Penelitian ini memaparkan mengenai tuturan sindiran yang ditujukan pada seseorang, publik figur, took pemerintahan, maupun lembaga pemerintahan.
Tuturan sindiran tersebut disampaikan oleh orang-orang yang merasa kurang puas, atau tidak setuju dengan kebijakan atau sikap yang ditujukan oleh pemberitaan yang ada pada aplikasi Line Today. Tuturan sindiran tersebut diperoleh pada periode Maret-Juli 2020. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan bentuk tuturan sindiran pada kolom komentar Line Today periode Maret-Juli 2020 dan (2) mendeskripsikan makna tuturan sindiran pada kolom komentar Line Today periode Maret-Juli 2020.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini yaitu aplikasi Line dan data penelitian berupa unggahan artikel berita dan komentar tuturan sindiran. Peneliti menggunakan teknik simak bebas libat cakap dan pencatatan. Peneliti mengumpulkan, mengidentifikasi, dan mengelompokkan data-data tuturan sindiran. Kemudian peneliti menganalisis data-data tersebut menggunakan kajian pragmatik siber, bentuk tuturan sindiran, dan makna tuturan sindiran.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti mendapatkan data berupa bentuk dan makna tuturan sindiran. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan tiga (3) bentuk tuturan sindiran. Bentuk-bentuk tuturan sindiran meliputi: 1) data berupa frasa adjektiva; (2) data berupa klausa yang terbagi menjadi dua bentuk yaitu klausa pasif dan klausa aktif; dan (3) data berupa kalimat yang terbagi menjadi dua bentuk yaitu kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Selain itu, peneliti juga menemukan tujuh (7) makna tuturan sindiran.
Makna tuturan sindiran yang ditemukan yaitu (1) mencaci maki; (2) pencemaran nama baik; (3) provokasi; (4) meremehkan; (5) perbuatan tidak menyenangkan;
(6) menista; dan (7) menghina.
Kata Kunci: pragmatik siber, konteks virtual, tuturan sindiran, bentuk tuturan sindiran, makna tuturan sindiran.
ix ABSTRACT
Ripten Marga, Mateus Ryan. 2021. Cyberpragmatics Study of Satire Speech in the comment column Line Today Beetween Maret-Juli 2020. Thesis.
Yogyakarta: PBSI, FKIP. USD.
This research describes satire speech aimed at a person, public figures, government shops, and government agencies. The satire is conveyed by people who are not satisfied, or do not agree with the policies or attitudes addressed by the news on the Line Today application. The satire was obtained in the period March-July 2020. The objectives of this study were (1) to describe the form of satire in the Line Today comment column for the March-July 2020 period and (2) to describe the meaning of the satire speech in the Line Today comment column for the March-July 2020 period. .
This research is a qualitative descriptive study. The data source of this research is the Line application and research data in the form of news articles uploads and satirical speech comments. Researchers used the free-to-participate, competent listening technique and note-taking. Researchers collect, identify, and classify satire speech data. Then the researchers analyzed these data using cyber pragmatic studies, the form of satire speech, and the meaning of satire speech.
Based on the research that has been done, researchers get data in the form and meaning of satire speech. In this study, the researcher found three (3) forms of satire speech. The forms of satire include: 1) data in the form of adjective phrases; (2) data in the form of clauses which are divided into two forms, namely passive clauses and active clauses; and (3) data in the form of sentences which are divided into two forms, namely single sentences and compound sentences. In addition, the researcher also found seven (7) meanings of satire speech. The meaning of the satire utterances found are (1) cursing; (2) defamation; (3) provocation; (4) belittling; (5) unpleasant actions; (6) insulting; and (7) affront.
Keywords: cyber pragmatics, virtual context, satire speech, satire speech types, meaning of satire.
x
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya haturkan pada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaiakan tugas akhir saya yang berjudul Kajian Pragmatik Siber Tuturan Sindiran Pada Kolom Komentar Line Today Periode Maret – Juli 2020. Penulisan tugas akhir ini saya susun untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar sarjana pendidikan di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Saya menyadari bahwa penyusunan tugas akhir ini selalu mendapat dukungan, bimbingan, bantuan, dorongan, semangat, doa, dan kerja sama dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
2. Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
3. Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum., selaaku dosen pembimbing yang selalu memberikan bimbingan, bantuan, nasihat, arahan, dan motivasi kepada peneliti.
4. Prof. Pranowo, M.Pd., yang telah bersedia menjadi triangulator data penelitian tugas akhir ini.
5. Segenap dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah membimbing dan memberikan ilmunya pada peneliti.
6. Theresia Rusmiyati, selaku karyawati secretariat PBSI yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi.
7. Perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang telah membantu peneliti dalam penyediaan referensi.
8. Kedua orang tua saya, Bapak Heri Sukariyanta dan Ibu Naryanti yang selalu menyemangati, membimbing, mendoakan saya, dan membantu saya selama proses belajar dan penyelesaian tugas akhir ini.
9. Keluarga besar saya di Yogyakarta dan di Lubuklinggau, Sumatera Selatan yang sudah selalu mendoakan dan memberikan dukungan untuk segera menyelesaikan pendidikan.
10. Teman-teman seperjuangan, Jasmine Belinda, Agatha Erma, Fransisca Meivin, dan Paskalia Wulandari, yang selalu berbagi informasi dan ilmunya pada peneliti.
11. Teman-teman seperjuangan di kelas A PBSI 2017 yang selalu menyemangati peneliti untuk menjadi lebih baik.
12. Semua orang yang tidak bisa peneliti sebutkan satu per satu, terima kasih atas senyum dan semangat kalian.
xi
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari yang diharapkan.
Akan tetapi, penulis berharap tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Yogyakarta, 22 Juli 2021
Mateus Ryan Marga Ripten
xii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
HALAMAN MOTO ... v
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK AKADEMIS ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR BAGAN ... xv
DAFTAR TABEL ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1.Latar Belakang Masalah ... 1
1.2.Identifikasi Masalah ... 3
1.3.Rumusan Masalah ... 4
1.4.Tujuan Penelitian ... 4
1.5.Manfaat Penelitian ... 5
1.6.Batasan Istilah ... 5
1.7.Sistematika Penyajian………...7
BAB II LANDASAN TEORI ... 9
2.1 Penelitian Terdahulu ... 9
2.2 Landasan Teori ... 11
2.2.1 Pragmatik ... 11
2.2.2 Pragmatik Siber ... 12
2.2.3 Konteks ... 13
2.2.4 Konteks Virtual ... 14
2.2.5 Tuturan Sindiran ... 15
2.2.6 Media Sosial ... 18
2.2.7 Bentuk Lokutif Tuturan Sindiran………...18
2.2.7.1 Kata ... 19
2.2.7.2 Frasa ... 20
2.2.7.3 Klausa ... 21
xiii
2.2.7.4 Kalimat ... 22
2.2.8 Makna Tuturan Sindiran ... 24
2.2.8.1 Penghinaan ... 24
2.2.8.2 Pencemaran Nama Baik... 25
2.2.8.3 Penistaan ... 25
2.2.8.4 Perbuatan Tidak Menyenangkan ... 25
2.2.8.5 Memprovokasi ... 26
2.2.8.6 Menyebarkan Berita Bohong ... 26
2.2.8.7 Meremehkan ... 27
2.2.8.8 Mencaci Maki ... 28
2.3 Kerangka Berpikir ... 28
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 30
3.1 Jenis Penelitian ... 30
3.2 Metode Penelitian... 31
3.3 Objek Penelitian ... 31
3.4 Data Penelitian ... 31
3.5 Instrumen Pengumpulan Data ... 32
3.6 Sumber Data Substansif ... 32
3.7 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ... 32
3.8 Teknik Analisis Data……….33
3.9 Triangulasi Data………34
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 36
4.1 Deskripsi Data ... 36
4.2 Hasil Penelitian ... 37
4.2.1 Bentuk Lokutif Tuturan Sindiran ... 37
4.2.1.1 Bentuk Lokutif Frasa ... 38
4.2.1.2 Bentuk Lokutif Klausa ... 40
4.2.1.3 Bentuk Lokutif Kalimat ... 42
4.2.2 Makna Tuturan Sindiran ... 44
4.2.2.1 Pencemaran Nama Baik ... 45
4.2.2.2 Menghina ... 47
4.2.2.3 Perbuatan Tidak Menyenangkan ... 49
4.2.2.4 Provokasi ... 51
4.2.2.5 Mencaci maki... 53
4.2.2.6 Meremehkan ... 55
4.2.2.7 Menista ... 57
4.3 Pembahasan………....59
xiv
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 66
5.1 Kesimpulan ... 66
5.2 Saran ... 66
DAFTAR PUSTAKA ... 68
LAMPIRAN ... 70
BIOGRAFI PENULIS ... 100
xv
DAFTAR BAGAN
Bagan 2.1 Kerangka Berpikir ... 27
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Permohonan Triangulator... 70 Lampiran 2 Triangulasi Data ... 71
1 BAB I PENDAHULUAN
Pada bab pendahuluan ini, peneliti akan memaparkan: a) latar belakang, b) identifikasi masalah, c) rumusan masalah, d) tujuan penelitian, e) manfaat, f) batasan istilah. Pemaparan secara lengkap akan disampaikan sebagai berikut:
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi semakin canggih, cepat, dan mudah diakses oleh semua orang, sehingga di zaman sekarang teknologi informasi menjadi gaya hidup bagi masyarakat Indonesia. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi ditandai dengan munculnya berbagai situs media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, dan Line. Di zaman melek teknologi seperti sekarang ini, media sosial menjadi kebutuhan penting bagi setiap orang.
Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ternyata memberikan dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif yang kita rasakan dengan adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yaitu sebagai berikut: menghubungkan orang di penjuru dunia agar mudah berkomunikasi dengan orang lain tanpa ada keterbatasan jarak dan waktu, penyebaran informasi yang cepat, munculnya situs media massa yang memudahkan kita dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain, mempermudah dalam berbagi file, dan memajukan dunia pendidikan. Di balik dampak positif tersebut ternyata perkembangan teknologi dan komunikasi juga memberikan dampak negatif . Hal tersebut tampak muncul berbagai jenis kejahatan di media sosial, seperti: cyber crime, cyberbulling, hoax, sindiran- sindiran, dan konten pornografi yang meresahkan masyarakat. Pada penelitian ini perbuatan kejahatan yang akan dibahas adalah tuturan sindiran (Satire Speech).
Tuturan sindiran perlu mendapatkan perhatian serius di zaman sekarang ini, perlu adanya pencegahan agar tidak semakin banyak kasus tuturan sindiran di media sosial atau internet. Sindiran adalah suatu acuan yang ingin mengatakan
sesuatu dengan makna atau maksud yang berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya (Keraf, 2007). Menurut (2007) berpendapat bahasa sindiran merupakan satu bentuk acuan yang mempunyai tujuan tertentu dan mengandung makna yang tersirat atau maksud yang berlawanan daripada perkara yang diujarkan oleh seseorang. Ujaran yang mengandung sindiran ini dinyatakan juga secara tidak tepat, berselindung dan dikias dengan perkara lain tetapi ditujukan secara tepat terhadap seseorang.
Kamus Dewan Edisi Keempat (2005, hlm. 1499), memberi maksud sindiran sebagai “perkataan dan lain-lain yang digunakan untuk mengatai (mengeji, mengejek, mencela) orang tidak dengan terus terang, kiasan.” Para pelaku tuturan sindiran terkadang tidak menyadari jika tulisan atau postingannya berisikan sindiran-sindiran yang kasar, mengandung SARA, dan konten pornografi. Line menjadi media sosial yang dipilih oleh peneliti dalam menemukan tuturan sindiran di kolom komentar pada berita-berita yang ada di Line Today yang ternyata banyak berisikan sindiran-sindiran halus maupun kasar.
Bahasa sebagai lambang bunyi yang arbitrer dipergunakan oleh masyarakat untuk berhubungan dan bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri (Kridalaksana, 2001: 21). Bahasa sebagai alat komunikasi mempunyai peran penting dalam interaksi manusia. Bahasa dapat digunakan manusia untuk menyampaikan gagasan, keinginan, perasaan, ide, dan pengalamannya kepada orang lain. Tanpa bahasa manusia tidak dapat melakukan komunikasi dan interaksi baik antar individu maupun kelompok. Dengan demikian, manusia tidak dapat terlepas dari bahasa, karena pentingnya fungsi bahasa dalam kehidupan.
Menurut Chaer (2010: 1), bahasa juga digunakan oleh penutur untuk mengidentifikasi diri, berkomunikasi, dan bekerja sama.
Fungsi bahasa di atas menjelaskan bahwa bahasa sebagai alat komunikasi, digunakan oleh manusia untuk berinteraksi antar sesama dalam masyarakat karena manusia hidup dalam masyarakat, sehingga bahasa juga tumbuh dalam masyarakat. Jadi, bahasa dan masyarakat sangat erat hubungannya. Dalam berinteraksi antar sesama dalam masyarakat, terkadang informasi yang dituturkan oleh penutur dan lawan tuturnya memiliki maksud yang tersirat. Oleh karena itu,
setiap manusia harus dapat memahami maksud dan makna tuturan yang disampaikan oleh lawan tuturnya agar informasi yang diberikan dapat tersampaikan dengan baik. Hal seperti ini dapat dipelajari dengan ilmu pragmatik yang di dalamnya membahas implikatur.
Implikatur merupakan salah satu aspek kajian yang paling penting dalam studi kebahasaan yang berbau pragmatik (Wijana dan Rohmadi, 2011:120). Yule (2006:62) mengemukakan bahwa implikatur adalah contoh utama dari banyaknya informasi yang disampaikan daripada yang dikatakan. Djajasudarma (2012:77) implikatur adalah makna tambahan yang tersirat, yang harus dipertahankan bila prinsip kerja sama dapat dilaksanakan. Berdasarkan beberapa paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa implikatur adalah penafsiran yang tidak langsung atau dengan kata lain makna tuturan yang sering disembunyikan agar hal yang diimplikasikan tidak nampak terlalu mencolok.
Berdasarkan penjelasan mengenai implikatur di atas, peneliti akan melakukan penelitian tentang implikatur sindiran yang ada dalam kolom komentar LINE Today. LINE Today merupakan fitur yang berfungsi memberikan kabar atau berita terbaru yang sedang hangat dibicarakan dalam dunia maya. Line Today merupakan salah satu fitur yang tergabung dalam kampanye Line for Work Life dengan tujuan untuk memberikan akses ke informasi dan kemudahan dalam bekerja dan berkomunikasi. Galuh Chandrakirana selaku Head of Marketing LINE Indonesia mengatakan bahwa LINE Today menghadirkan konten-konten berita dari sumber terpercaya sehingga pengguna LINE bisa tetap up to date dengan berbagai macam hal (Wardani, 2016).
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang, peneliti mengidentifikasi masalah yang muncul.
Permasalahan tersebut timbul dari munculnta sindiran-sindiran yang dikemukakan langsung maupun secara tersirat melalui komentar-komentar di kolom Line Today.
Jenis-Jenis sindiran dalam kolom komentar LINE Today dikaji dalam penelitian ini. Adapun alasan pemilihan jenis-jenis sindiran didasarkan pada seringnya penutur menggunakan sindiran dalam kolom komentar LINE Today. Jenis-jenis
sindiran tersebut menyesuaikan kondisi politik dan fenomena yang sedang menjadi topik hangat di masyarakat. Tentunya hal itu membuat sindiran-sindiran tersebut menjadi bervariasi sehingga menarik untuk dikaji maksud dibalik sindiran tersebut. Selama ini sindiran jarang dikaji untuk sebuah penelitian. Hal ini disebabkan sebuah sindiran merupakan tuturan yang tidak langsung, antara apa yang diujarkan belum tentu sesuai dengan maksud tuturan. Relevan dengan hal tersebut, tentu saja kondisi ini memungkinkan menjadi suatu kajian yang menarik untuk sebuah penelitian.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:
(a) Apa sajakah bentuk tindak tutur lokutif sindiran pada kolom komentar LINE Today periode Maret – Juli 2020?
(b) Apa sajakah makna pragmatik sindiran pada kolom komentar LINE Today periode Maret – Juli 2020?
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah penelitian di atas, peneliti merumuskan tujuan sebagai berikut:
(a) Mendeskripsikan bentuk tindak tutur ilokutif pada kolom komentar LINE Today periode Maret – Juli 2020.
(b) Mendeskripsikan makna pragmatik tuturan sindiran pada kolom komentar LINE Today periode Maret – Juli 2020.
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian mengenai tuturan sindiran pada kolom komentar LINE Today periode Maret – Juli 2020 diharapkan dapat memberikan manfaat untuk berbagai pihak. Ada dua manfaat yaitu manfaat teoretis dan manfaat praktis.
Berikut adalah pemaparan dari kedua manfaat tersebut:
(a) Manfaat Teoretis
Secara teoritis, penelitian ini bertujuan untuk memberikan sumbangan sekaligus menambah khazanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam kaitannya dengan kajian pragmatik siber sindiran-sindiran di media sosial, lebih khusus lagi mengenai kajian pragmatik siber sindiran-sindiran pada LINE Today periode maret – juli 2020. Selain itu, diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sumber informasi bagi para peneliti-peneliti selanjutnya dengan tema sejenis.
(b) Manfaat Praktis
Penelitian ini dapat digunakan dalam bidang komunikasi bahasa.
Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan masukan sebagai salah satu bentuk pemecahan masalah yang muncul dalam kehidupan sosial, khususnya masalah tindak tutur pada media sosial.
1.6 Batasan Istilah
Dalam penelitian ini menggunakan beberapa istilah. Agar tidak terjadi salah tafsiran. Istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini ialah Pragmatik, Pragmatik Siber, Konteks, Konteks Virtual, Tuturan Sindiran, Bentuk Tuturan Sindiran, Makna Tuturan Sindiran, Line.
(a) Pragmatik
Menurut Yule (2015: 18) Pragmatik adalah kajian makna “yang tidak terlihat”, atau bagaimana kita mengetahui apa yang dimaksud bahkan ketika makna tersebut sebenarnya tidak dikatakan atau ditulis.
(b) Pragmatik Siber
Yus (2001: 13) dalam bukunya berpendapat bahwa “Its main interest is the analysis of how information is produced and interpreted within the Internet environment.” Pragmatik siber adalah salah satu cabang ilmu pragmatik yang menganalisis informasi yang dihasilkan dan diinterpretasikan dalam dunia internet. Perbedaan pragmatik dan pragmatik siber terletak pada pemerolehan data dan sumber data. Data dan sumber data pragmatik siber harus diambil dari internet atau dunia maya,
sedangkan data dan sumber data pragmatik diperoleh di luar dunia maya atau internet.
(c) Konteks
Rahardi (2017: 184) menyatakan bahwa “konteks adalah hal-hal yang harus dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur yang sifatnya di luar kebahasaan maupun intrakebahasaan.” Konteks dalam pragmatik dan pragmatik siber berbeda. Perbedaannya terletak pada aspek-aspek di dalam elemen tersebut.
(d) Konteks Virtual
Menurut (Rahardi, 2015) konteks eksternal virtual adalah konteks yang jati diri elemen-elemennya merupakan pergeseran dari elemen- elemen konteks dalam pragmatik umum.
(e) Tuturan Sindiran
Menurut KBBI sindiran adalah perkataan (gambar dan sebagainya) yang bermaksud menyindir orang;celaan (ejekan dan sebagainya) yang tidak langsung. Peneliti berkesimpulan bahwa sindiran ialah suatu ujaran yang ditujukan untuk menyinggung hal, orang, kejadian dan lainnya tanpa harus menyebutkan hal atau sesuatu yang disinggungnya yang maksudnya terdapat dalam interpretasi orang yang mendengarnya.
(f) Bentuk Tuturan Sindiran
Tuturan dapat berbentuk kata, frasa, klausa, dan kalimat. Kata adalah morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk bebas (Kridalaksana, 2008: 110). Menurut Kridalaksana (1993: 59), frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif. Menurut Ramlan (2001: 79) klausa adalah satuan gramatikal yang terdiri dari subjek dan predikat, disertai objek, pelengkap dan keterangan atau tidak. Kalimat adalah satuan bahasa yang relatif. berdiri sendiri, mempunyai intonasi final, dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa (Kridalaksana, 2011: 103).
(g) Makna Tuturan Sindiran
Untuk mengolongkan makna tuturan sindiran peneliti menyamai persepsi tentang makna tuturan kebencian menurut Syafyahya (2018:19), ada tujuh makna tuturan kebencian, yaitu: (1) penghinaan, (2) pencemaran nama baik, (3) penistaan, (4) perbuatan tidak menyenangkan, (5) memprovokasi, (6) menghasut, (7) menyebarkan berita bohong. Masing- masing makna memiliki indikasi yang berbeda-beda. Indikasi inilah yang membedakan makna tiap tuturan.
(h) Media Sosial Line
LINE merupakan aplikasi pesan instan yang memungkinkan penggunanya untuk saling berkomunikasi melalui jaringan internet.
Pengguna LINE dapat saling berkomunikasi dengan mengirim pesan, teks, gambar, foto, video, audio, dan lainnya. LINE juga memiliki beberapa fitur aplikasi seperti: Watch Now, LINE Webtoon, dan LINE Today. LINE Today merupakan portal berita yang berisikan informasi menarik seputar dunia artis, hiburan, games, otomotif, musik, teknologi, dan lainnya. LINE Today juga merupakan bagian dari LINE Corporation yang mana telah bekerja sama dengan media di Indonesia seperti: Kompas, Liputan6, Medcom, Kumparan, dan lainnya.
1.7 Sistematika Penyajian
Penelitian ini dijabarkan dalam lima bab yang diuraikan secara sistematis sebagai berikut.
Bab I berisi tentang pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang penelitian, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan istilah serta sistematika penelitian. Bagian rumusan masalah berisikan permasalahan yang akan dipecahkan dalam penelitian yang berupa kalimat Tanya. Bagian tujuan penelitian berisikan tujuan-tujuan yang akan dicapai oleh peneliti sesuai dengan rumusan masalah yang telah dibuat.
Manfaat penelitian berisikan manfaat teoretis dan praktis. Batasan istilah
dicantumkan untuk membatasi istilah dalam penelitian agar tidak salah tafsiran.
Bab II tentang kajian teori yang menguraikan beberapa hal, sebagai berikut: penelitian terdahulu yang relevan dan landasan teori. Pada bagian akhir dari bab II ini akan dicantumkan kerangka berpikir yang berisikan rancangan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti.
Pada bab III akan dijelaskan tentang metodologi penelitian yang menjabarkan jenis penelitian, metode penelitian, objek penelitian, data penelitian, instrumen pengumpulan data, sumber data substansif, metode dan teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan triangulasi data. Jenis penelitian adalah pengelompokkan penelitian berdasarkan data yang didapat.
Sumber data merupakan subjek data penelitian. Data merupakan bahan yang akan diteliti oleh peneliti. Metode dan teknik pengumpulan data berisikan metode serta teknik yang digunakan peneliti. Bagian instrumen pengumpulan data penelitian berisikan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data.
Metode dan teknik analisis data berisikan tahapan yang dilakukan oleh peneliti dalam menganalisis data. Triangulasi data berisikan teknik pemeriksaan data yang digunakan dalam penelitian.
Bab IV berisi hasil penelitian dan pembahasan berdasarkan data yang telah diperoleh, pertama-tama disajikan deskripsi data, kemudian hasil pembahasan dari analisis data seseuai dengan rumusan masalah yang telah ditentukan.
Hasil penelitian tersebut dibahas sesuai dengan teori yang digunakan oleh peneliti yang terdapat pada kajian teori.
Bab V merupakan bab terakhir dalam penelitian. Pada bab V berisi mengenai kesimpulan dan saran. Bagian kesimpulan berisikan penjabaran pokok-pokok pikiran yang telah dianalisis. Bagian saran berisikan himbauan atau masukan kepada peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian dengan permasalahan yang serupa.
9 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Pada bab II, peneliti membagi bab II menjadi beberapa subbab. Subbab- subbab tersebut adalah penelitian terdahulu, landasarn teori, dan kerangka berpikir.
Berikut adalah penjabarannya.
2.1 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu berfungsi sebagai gambaran dan panduan peneliti untuk mengembangkan Peneliti menemukan beberapa penelitian dengan topik yang relevan dengan judul penelitiannya, diantaranya penelitian yang berjudul
“Strategi Kesantunan untuk Menghindari dan Menyelesaikan Konflik Siber Antara Pengguna Internet Di Indonesia: Kajian Cyberpragmatik” dan ”Tindak Tutur Bahasa indonesia Dalam Unggahan Media Sosial Instagram @LIPUTAN6 (Kajian Pragmatik)”.
Dalam penelitian ini, peneliti menemukan beberapa penelitian yang berkaitan dengan topik yang diambil, diantaranya adalah penelitian dari mahasiswi Institut Teknologi Bandung Nia Kurniasih, sutiadi Rahmansyah, Iis Kurnia yang berjudul “Strategi Kesantunan untuk Menghindari dan Menyelesaikan Konflik Siber Antara Pengguna Internet Di Indonesia: Kajian Cyberpragmatik”, hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Sejalan dengan cepatnya pertumbuhan teknologi informasi dan komunikasi, masalah hukum, sosial, dan budaya dan yang berkaitan dengan penggunaan Internet dan media sosial menjadi masalah baru akhir-akhir. Penelitian ini membahas konflik yang terjadi di dunia siber di Indonesia terkait dengan bahasa yang digunakan pada komunikasi berbasis internet. Sebelum pemilihan presiden Indonesia tahun 2019, media sosial Indonesia dan komunikasi berbasis internet lainnya, yaitu Facebook, telah menjadi sarana terjadinya konflik antara para pendukung kandidat presiden atau pendukung partai politik yang memposting status dan komentar yang sering kali juga bersifat provokatif dan berpotensi memprovokasi. Tidak hanya ketidaksetujuan secara verbal tetapi juga tindakan
berupa pelecehan dan olokan yang terkait dengan etnis, kelompok, dan agama.
Tujuan dari penelitian ini adalah melihat secara mendalam masalah yang disebut di atas.
Penelitian kedua berjudul ”Tindak Tutur Bahasa indonesia Dalam Unggahan Media Sosial Instagram @LIPUTAN6 (Kajian Pragmatik)” karya Nuramila mahasiswi Universitas Negeri Makassar hasil penelitian menunjukkan:
Pertama, jenis tindak tutur yang ditemukan, yaitu tindak tutur lokusi, tindak tutur ilokusi, dan tindak tutur perlokusi. Kedua, pada jenis tindak tutur lokusi terdiri atas bentuk pernyataan, bentuk perintah, dan bentuk pertanyaan. Pada jenis tindak tutur ilokusi terdiri atas (a) bentuk asertif, (b) bentuk direktif, dan (c) bentuk ekspresif. Pada jenis tindak tutur perlokusi terdiri atas bentuk mendorong, menjengkelkan, menyenangkan, membuat mitra tutur melakukan sesuatu, mengilhami, mengesankan, membuat mitra tutur berpikir tentang, melegakan, dan menarik perhatian. Ketiga, wujud tindak tutur yaitu berbentuk tulisan dengan maksud tuturan, yakni untuk memengaruhi, mengajak, melakukan sesuatu, memberitahukan/menerangkan sesuatu hal, mengharapkan perhatian, menstimulus, melarang, memuji, mengkritik, mengapresiasi, dan sebagai bentuk penyaluran keluh kesah.
Penelitian ketiga diambil dari Yus (2016:7-26) dalam buku yang berjudul Yearbook of Corpus Linguistics and Pragmatics 2016: Global Implications for Society and Education in the Networked Age. Yus menuliskan artikel yang berjudul Towards a Cyberpragmatics of Mobile Instant Messaging. Ia menuliskan mengenai pragmatik siber di dalam pesan singkat bermedia internet. Ia menggunakan data dari Whatsapp, Wechat, Snapchat, dan lain-lain. Ia menggunakan pragmatik siber untuk mengetahui cara pengguna memahami pesan yang dikirimkan melalui pesan internet. Penelitian yang dilakukan Yus memiliki persamaan dengan penelitian ini yaitu penggunaan teori pragmatik siber.
Penelitian Yus dan penelitian ini juga menggunakan penelitian kualitatif.
Dari ketiga penelitian tersebut peneliti menggunakan penelitian Fransisco Yus untuk menjadi pedoman penelitian. Hal ini berdasarkan kesamaan metodologi dan teori yang digunakan. Yang berbeda hanyalah objek penelitiannya. Dalam
dunia siber pragmatik dalam media sosial masih sangat banyak masalah-masalah yang terjadi sebagai contoh dalam bertindak tutur. Dalam media sosial sendiri seringkali ditemukan tindak tutur yang mengandung sindiran atau olokan yang tertuju kepada penerima pesan dalam media sosial. Untuk itu penelitian ini dibuat supaya sindiran atau olokan dalam media sosial khususnya dalam kolom Line Today dapat diketahui bentuk dan maknanya.
2.2 Landasan Teori
Penelitian ini memiliki beberapa teori. Teori tersebut berkaitan dengan pragmatik, pragmatik siber, konteks, konteks virtual, tuturan sindiran, bentuk tuturan sindiran, dan makna pragmatik dari tuturan sindiran.
2.2.1 Pragmatik
Pragmatik adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dan pemakai bentuk-bentuk linguistik. Manfaat belajar bahasa melalui pragmatik adalah bahwa seseorang dapat bertutur kata tentang makna yang dimaksudkan orang, asumsi mereka, maksud atau tujuan mereka dan jenis-jenis tindakan yang mereka perlihatkan ketika mereka sedang berbicara. Dalam sebuah komunikasi atau percakapan, penutur dan mitra tutur tidak dapat meluputkan konteks situasi tuturan. Mitra tutur tidak hanya memahami konteks tuturan tersebut.
Menurut Rahardi (2007:124) pragmatik adalah ilmu yang mempelajari makna. Pragmatik memiliki kesamaan dengan semantik yaitu ilmu yang membahas makna. Perbedaannya adalah semantik berfokus pada makna sebenarnya dan tidak terikat konteks. Pragmatik adalah ilmu yang mempelajari makna yang tidak diungkapkan penutur secara langsung. Rahardi mengungkapkan pengertian pragmatik secara singkat namun jelas. Pragmatik adalah ilmu yang mempelajari makna dan terikat dengan konteks.
Rohmadi (2010: 4) mempunyai pendapat bahwa pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari stuktur bahasa secara eksternal, yaitu bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan di dalam komunikasi. Singkatnya dapat
disimpulkan bahwa pragmatik mempelajari tentang makna yang dipengaruhi oleh hal-hal yang terjadi di luar bahasa atau komunikasi. Selain itu, pragmatik juga bisa dikatakan sebagai kajian makna “yang tidak terlihat”, atau bagaimana kita mengetahui apa yang dimaksud bahkan ketika makna tersebut sebenarnya tidak dikatakan atau ditulis (Yule, 2015:188). Pragmatik juga tidak lepas dari konteks.
Konteks dalam pragmatik berarti semua latar belajar (background knowledge) yang dimiliki oleh si penutur dan lawan tutur untuk menafsirkan makna dan tuturan (Wijana, 1996:11). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mengamati pemakaian bahasa dalam situasi yang konkret dan mengkaji sebuah makna sesuai dengan konteks penggunaan.
2.2.2 Pragmatik Siber
Pragmatik siber adalah cara individu untuk menganalisis pertukaran bahasa secara komunikatif yang terjadi di antara pengguna Internet menggunakan berbagai media siber yang tersedia. “Pengguna pengirim” memperkirakan bahwa lawan bicara mereka akan menarik kesimpulan yang relevan dengan mengakses informasi kontekstual yang diperlukan. Dengan cara yang sama, "pengguna penerima" akan mencari relevansi dalam ucapan, gambar, atau video yang mereka proses. Akibatnya, konteks memainkan peran utama dalam produksi dan interpretasi informasi di Internet, dengan cara yang sama seperti dalam interaksi tatap muka (Fransico Yus 2011:14-15).
Locher mengatakan bahwa pragmatik siber disebut juga sebagai internet pragmatik (Rahardi, 2020:13). Istilah tersebut muncul karena tuturan-tuturan tersebut ditemukan pada internet, khususnya di sosial media. Sosial media digunakan oleh masyarakat untuk menjalani untuk menjalin komunikasi. Tuturan- tuturannya diinterpretasikan dengan menggunakan konteks virtual. Pragmatik siber menganalisis pertukaran informasi komunikatif yang terdapat di berbagai media siber. Persamaan antara pragmatik dan pragmatik siber adalah makna yang dianalisis. Kedua bidang tersebut sama-sama menganalisis makna yang sesuai dengan konteks. Perbedaannya adalah sarana yang digunakan. Pragmatik menitiberatkan tuturan secara lisan dan tulis tanpa perantara media internet,
sedangkan pragmatik siber menitiberatkan tuturan yang terdapat pada media sosial atau media siber.
Rahardi (2020:152) mengungkapkan bahwa pragmatik siber adalah bidang transdisipliner. Hal ini dikarenakan pragmatik siber memiliki cakupan dimensi atau bidang-bidang lainnya. Jika dianalisis lebih jauh, pragmatik siber menganalisis penggunaan bahasa dan diikuti dengan konteks dalam internet.
Berdasarkan pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pragmatil siber adalah ilmu yang mengkaji makna tuturan dalam internet. Makna tuturan tersebut diinterpretasi dengan menggunakan konteks-konteks yang terdapat pada internet.
2.2.3 Konteks
Konteks dalam pragmatik sendiri menurut Leech (1983) menjelaskan bahwa konteks merupakan salah satu komponen dalam situasi tutur. Konteks diartikan sebagai aspek-aspek yang berkaitan dengan lingkungan fisik dan sosial sebuah tuturan. Dalam definisi ini ditambahkan juga bahwa konteks yaitu sebagai suatu pengetahuan latar belakang yang secara bersama dimiliki oleh penutur dan petutur, dan konteks ini akan membantu petutur menafsirkan atau memahami maksud penutur. Analisis pragmatik sangat bergantung pada konteks. Dengan konteks, penutur dapat menafsirkan tuturan penutur dalam sebuah situasi tutur. Rahardi (2017: 184) menyatakan bahwa “konteks adalah hal-hal yang harus dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur yang sifatnya di luar kebahasaan maupun intrakebahasaan. Konteks dalam pragmatik dan pragmatik siber berbeda.
Perbedaannya terletak pada aspek-aspek di dalam elemen tersebut.
Komunikasi dengan menggunakan bahasa tidak akan sempurna jika tidak melibatkan konteks sebagai elemen ekstra lingual yang tidak boleh diabaikan dalam sebuah pertuturan. Konteks menjadi sangat penting hubungannya dengan pragmatik, karena komunikasi yang melibatkan konteks dapat menjadikan komunikasi itu lebih komunikatif, efektif, dan efisien. Dalam pragmatik siber konteks yang akan dianalisis individu adalah pertukaran bahasa secara
komunikatif yang terjadi di antara pengguna internet menggunakan berbagai media cyber yang tersedia. “Pengguna pengirim” memperkirakan bahwa lawan bicara mereka akan menarik kesimpulan yang relevan dengan mengakses informasi kontekstual yang diperlukan. Dengan cara yang sama, "pengguna penerima" akan mencari relevansi dalam ucapan, gambar, atau video yang mereka proses. Akibatnya, konteks memainkan peran utama dalam produksi dan interpretasi informasi di internet, dengan cara yang sama seperti dalam interaksi tatap muka (Fransico Yus 2011:14-15).
Peneliti menyimpulkan bahwa konteks dalam pragmatik cyber adalah komponen dalam berkomunikasi antara penutur dan mitra tutur yang terjadi dalam media cyber di internet.
2.2.4 Konteks Virtual
Menurut (Rahardi, 2015) konteks eksternal virtual adalah konteks yang jati diri elemen-elemennya merupakan pergeseran dari elemen-elemen konteks dalam pragmatik umum. Yus (2011:23) menyebutkan bahwa dalam konteks pragmatik siber, konteks tersebut dikenal dengan konteks virtual. Yang membedakan adalah aspek-aspek dalam konteks pragmatik biasa. Pada konteks pragmatik, seseorang harus memperhatikan gender, umur, dan sebagainya. Tetapi, konteks virtual tidak lagi memandang gender, umur, dan kebangsaan. Hal ini disebabkan oleh munculnya globalisasi. Globalisasi mengaburkan atau menutupi realita. Oleh sebab itu, sering kali di media sosial, seorang pria menggunakan akun dengan nama perempuan. Sebaliknya, seorang perempuan menggunakan akun dengan nama pria. Tidak hanya terkait nama, umur pun sering dipalsukan oleh pengguna internet.
Pada era digital, seseorang dapat dengan mudah mengganti identitasnya.
Lawan bicara belum tentu dapat mengetahui identitas asli dari pembuat akun (Yus, 2011:23). Hal tersebut akhirnya mengaburkan fakta dan membuat identitas menjadi tidak penting. Akhirnya, pengguna media sosial merasa bebas untuk mengganti identitas tanpa harus takut ketahuan identitas aslinya. Dalam konteks
virtual, saluran yang digunakan adalah teknologi dan internet. Menurut (Rahardi, 2019:77) penutur tidak perlu berteriak untuk menyampaikan maksudnya. Saat ini, penutur dapat menggunakan gawainya untuk mengirim teks berupa SMS atau bisa menelpon mitra tutur untuk menyampaikan maksudnya. Penutur juga dapat menggunakan aplikasi yang terhubung denga internet, misalnya Whatsapp, surel, Line, Twitter, dan sebagainya.
Berdasarkan pemaparan beberapa teori peneliti menyimpulkan bahwa konteks virtual adalah latar belakang pengetahuan yang terjadi pada dunia maya dan harus dipahami oleh dua belah pihak. Pemahaman tersebut akan membawa penutur dan mitra tutur kepada penyampaian pesan. Dalam konteks virtual, penutur dan mitra tutur perlu memiliki latar belakang yang sama. Apabila tidak memiliki kesepahaman, tuturan pada dunia maya akan terhenti dan berubah makna.
2.2.5 Tuturan Sindiran
Tuturan merupakan kata nomina (kata benda) yang kata dasarnya berasal dari kata tutur yang memiliki arti sesuatu yang dituturkan; ucapan; ujaran (cerita) dan sebagainya (KBBI, 2005:1231). Penuturan adalah seluruh komponen bahasa dan nonbahasa yang meliputi perbuatan bahasa yang utuh, yang menyangkut peserta di dalam percakapan bentuk penyampaian amanat, topik, dan konteks amanat itu (Kushartanti, 2005:109).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata menyindir adalah mengkritik (mencela, mengejek dan sebagainya) seseorang secara tidak langsung atau tidak terus terang. Menyindir berasal dari kata sindir. Menyindir memiliki arti dalam kelas verba atau kata kerja sehingga menyindir dapat menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya.
Peranan dan fungsi bahasa bergantung kepada situasi dan kondisi, bergantung pada konteks. Wijana (1996) dengan tegas menyatakan bahwa konteks yang semacam itu dapat disebut juga konteks situasi pertuturan. Konteks situasi
penuturan menurut Geoffrey N. Leech sebagaimana dikutip oleh Wijana (1996), dapat mencakup aspek-aspek luar kebahasaan seperti berikut ini:
(1) Penutur dan lawan tutur
Dalam beberapa literature pragmatik, khususnya di buku Searle (1983), lazim penutur dan lawan tutur atau mitra tutur itu dilambangkan dengan huruf capital S (speaker) yang berarti pembicara atau penutur, dan huruf capital H (hearer) yang dapat diartikan sebagai pendengar, mitra tutur, lawan tutur. Digunakan lambing S dan H tidak dengan sendirinya membatasi cakupan pragmatik semata-mata hanya pada ragam bahasa lisan saja melainkan juga dapat mencakup ragam bahasa tulis.
Aspek-aspek yang mesti dicermati pada diri penutur maupun mitra tutur diantaranya jenis kelamin, umur, daerah asal, latar belakang keluarga, serta latar belakang sosial budaya lainnya yang dimungkinkan akan menjadi penentu hadirnya makna sebuah tuturan. Bertutur dengan memperhatikan aspek-aspek pelibat tutur yang demikian itu akan menjamin proses bertutur daripada tidak sama sekali memperhatikannya.
(2) Konteks tuturan
Konteks tuturan dapat mencakup aspek-aspek tuturan yang relevan, baik secara fisik maupun nonfisik. Konteks tuturan dapat pula diartikan sebagai semua latar belakang pengetahuan yang diasumsikan sama-sama dimiliki penutur dan mitra penutur atas apa yang dimaksudkan penutur itu di dalam proses bertutur.
Maka berkenaan dengan hal itu, Geoffrey N. Leech (1983) telah menyatakan pandangannya sebagai berikut: “ I shall consider context to be any background knowledge assumed to be shared by S and H and which contributes to H’s interpretation of what S means by a given utterance.” Artinya “Saya akan menganggap konteks sebagai pengetahuan latar belakang apa pun yang dianggap dimiliki oleh S dan H dan yang berkontribusi pada interpretasi H tentang apa yang dimaksud S dengan ucapan tertentu.”
(3) Tujuan tuturan
Tujuan tuturan berkaitan erat dengan bentuk-bentuk tuturan yang digunakan seseorang. Dikatakan demikian karena pada dasarnya tuturan itu terwujud karenaa dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tutur yang jelas dan tertentu sifatnya.
Secara pragmatik, satu bentuk tuturan akan dimungkinkan memiliki maksud dan tujuan bermacam-macam. Demikian sebaliknya, satu maksud atau tujuan tutur akan dapat diwujudkan dengan bentuk tuturan yang berbeda-beda. Berkenaan dengan istilah ujaran tuturan ini, Leech (1983) memiliki preferensi untuk menggunakan istilah tujuan tutur, bukan istilah maksud tutur. Di dalam pemikirannya, tujuan tutur lebih netral dan lebih umum sifatnya, tidak berkait dengan kemauan atau motivasi tertentu yang seringkali dicuatkan secara sadar oleh penuturnya.
(4) Tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas
Tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas merupakan bidang yang ditangani pragmatik. Karena pragmatik mempelajari tindak verbal yang terdapat dalam situasi tertentu, dapat dikatakan bahwa yang dibicarakan dalam pragmatik itu bersifat konkret karena jelas keberadaan siapa peserta tuturnya, dimana tempat tuturnya, kapan waktu tuturnya, dan seperti apa konteks situasi tuturnya secara keseluruhan.
(5) Tuturan sebagai produk tindak verbal
Tuturan dapat dipandang sebagai sebuah produk tindak verbal. Dapat dikatakan demikian karena pada dasarnya tuturan yang ada di dalam sebuah pertuturan itu adalah hasil tindak verbal para peserta tutur dengan segala pertimbangan konteks yang melingkupi dan mewadahinya.
Tuturan dapat dipandang sebagai produk dari tindak verbal di dalam aktivitas bertutur sapa. Sebenarnya tuturan atau ujaran itu tidak dapat dipersamakan begitu saja dengan sosok kalimat. Sosok kalimat pada hakikatnya adalah entitas produk structural atau produk gramatikal, sedangkan tuturan atau ujaran itu merupakan hasil atau produk dari tindakan verbal yang hadir dari dalam sebuah proses pertuturan. Dengan perkataan lain, sebuah tuturan sebenarnya dapat mengandung dua macam perwujudan, pertama adalah sebagai wujud dari tindak tutur, yang kedua adalah wujud dari sebuah produk tindak tutur itu sendiri. Perwujudan yang disebutkan kedua itulah yang banyak dikaji dalam ilmu bahasa pragmatik, bahkan objek kebahasaan itulah yang menjadi titik focus dari kajian dan penelitian ilmu bahasa pragmatik yang berkembang hingga saat ini (Wijana, 1996:10-11).
Peneliti menyimpulkan bahwa tuturan sindiran merupakan ungkapan atau ujaran baik secara langsung maupun tidak langsung yang mengandung unsur mengkritik (mencela, mengejek dan sebagainya) seseorang secara tidak langsung atau tidak terus terang.
2.2.6 Media Sosial
Media sosial merupakan sarana bagi konsumen untuk berbagi informasi teks, gambar,video, dan audio dengan satu sama lain dan dengan perusahaan dan sebaliknya, Kotler dan Keller (2012). Media sosial adalah sarana bagi semua orang untuk saling bertukar informasi. Pada era yang semakin canggih seperti ini, media sosial dapat mempermudah penggunanya dalam melakukan segala hal.
Varinder Taprial dan Priya Kanwar (2012) media sosial adalah media yang memungkinkan seseorang untuk bersosialisasi dan berinteraksi secara online dengan berbagi isi, berita, foto dan lain-lain dengan orang lain.
2.2.7 Bentuk Lokutif Tuturan Sindiran
Tindak tutur atau tindak ujar (speech act) merupakan entitas yang bersifat sentral dalam pragmatik sehingga bersifat pokok di dalam pragmatik. Tindak tutur merupakan dasar bagi analisis topik-topik pragmatik lain seperti praanggapan, prinsip kerja sama, dan prinsip kesantunan. Tindak tutur memiliki bentuk yang bervariasi untuk menyatakan suatu tujuan.
Austin (1962) menyebutkan bahwa pada dasarnya pada saat seseorang mengatakan sesuatu, dia juga melakukan sesuatu. Pernyataan tersebut kemudian mendasari lahirnya teori tindak tutur. Tindak tutur menurut Yule (2006:82-84) adalah tindakan-tindakan yang ditampilkan lewat tuturan biasanya disebut tindak tutur. Jadi, peneliti menyimpulkan bahwa tindak tutur merupakan suatu ujaran yang mengandung tindakan sebagai suatu tuturan dalam berkomunikasi. Tindakan yang ditampilkan dengan menghasilkan suatu tuturan akan mengandung tiga tindakan yang saling berhubungan.
Menurut Austin, setiap kali penutur berujar, dia melakukan tiga tindakan secara bersamaan, yaitu (a) tindak lokusi (locutionary acts), tindak ilokusi
(ilocutionary acts) dan tindak perlokusi (perlocutionary acts). Menurut Austin (1962), andai si penutur berniat mengutarakan sesuatu yang pasti secara langsung, tanpa keharusan bagi si penutur untuk melaksanakan isi tuturannya, niatannya disebut tindak tutur lokusi. Bila si penutur berniat mengutarakan sesuatu secara langsung, dengan menggunakan suatu daya yang khas, yang membuat penutur bertindak sesuai dengan apa yang dituturkannya, niatannya disebut tindak tutur ilokusi. Dalam pernyataan lain, tindak ilokusi adalah tindak dalam menyatakan sesuatu (performatif) yang berlawanan dengan tindak menyatakan sesuatu (konstantif). Sementara itu, jika si penutur berniat menimbulkan respon atau efek tertentu kepada mitra tuturnya, niatannya disebut tindak tutur perlokusi. Bila tindak lokusi dan ilokusi lebih menekankan pada peranan tindakan si penutur, tindak perlokusi justru lebih menekankan pada bagaimana respon si mitra tutur.
Hal yang disebutkan terakhir ini, menurut Austin, berkaitan dengan fungsi bahasa sebagai pengaruh pikiran dan perasaan manusia. Kendati demikian, ketiga tindak tutur tersebut merupakan satu kesatuan yang koheren di dalam keseluruhan proses tindak pengungkapan bahasa sehingga seharusnya mencerminkan prinsip adanya satu kata dan tindakan atau perbuatan.
Tuturan sindiran adalah ujaran atau ungkapan baik secara langsung maupun tidak langsung yang mengandung unsur mengkritik (mencela, mengejek dan sebagainya) seseorang secara tidak langsung atau tidak terus terang. Tuturan tersebut dapat berbentuk macam-macam. Ada yang berbentuk kata, frasa, klausa, dan kalimat.
2.2.7.1 Kata
Kata adalah morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk bebas (Kridalaksana, 2008: 110). Sedangkan, menurut Ramlan (1980:10) kata adalah dua macam satuan, yaitu satuan fonologis dan satuan gramatis. Yang dimaksud stuan fonologis adalah gabungan dari suku kata yang berasal dari satu atau beberapa fonem.
Gabungan suku kata tersebut akhirnya membentuk makna pada kata. Ada morfem terikat dan morfem bebas. Secara umum, kata adalah bentuk bebas yang paling
kecil (Ramlan, 1980:12). Contoh kata dalam tuturan sindiran adalah sebagai berikut.
Generasi lemah! Di kasi tantangan banyak ngeluh.
Tuturan sindiran terlihat pada kata lemah yang berarti tidak kuat. Contoh kata sindiran yang lain adalah ngeluh. Ngeluh yang memiliki kata asal keluh yang artinya susah atau kesusahan.
2.2.7.2 Frasa
Menurut Kridalaksana (1993: 59), frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif. Ramlan (1980:137), frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi. Frasa terbentuk dari unsur-unsurnya. Unsur yang dimaksud adalah kata. Frasa bisa saja berisi dua kata, tiga kata, atau bahkan empat kata. Frasa bisa menduduki salah satu fungsi atau beberapa fungsi dalam klausa. Tentunya dengan frasa yang berbeda.
Peneliti menyimpulkan bahwa frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif. Nonpredikatif artinya frasa hanya menduduki salah satu fungsi dalam kalimat. Yang dimaksud dengan frasa menduduki salah satu fungsi adalah frasa hanya menduduki fungsi subjek, fungsi predikat, fungsi objek, fungsi keterangan, atau fungsi pelengkap saja. Frasa tidak melebihi batas fungsi.
Dalam tuturan sindiran, sering juga ditemukan frasa-frasa yang mengandung unsur sindiran. Contohnya adalah habib abal-abal dan lebay banget. Kedua contoh ini digolongkan sebagai frasa karena bersifat bersifat nonpredikatif. Habib abal- abal menjelaskan bahwa ada tokoh agama tetapi tidak bermutu. Abal-abal memiliki makna tidak bermutu. Lebay banget memiliki arti terlalu berlebihan.
Menurut Ramlan (1987:155) frasa dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu frasa endosentrik dan frasa eksosentrik. Keduanya dibedakan berdasarkan distribusi kata. Frasa endosentrik adalah frasa yang memiliki distribusi sama dengan unsurnya, baik dengan salah satu unsur maupun semua unsur. Frasa endosentrik dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu endosentrik koordinatif adalah frasa endosentrik yang memiliki unsur-unsur setara, endosentrik atributif
adalah frasa endosentrik yang unsur-unsurnya tidak memiliki kesetaraan, dan endosentrik apositif adalah frasa endosentrik yang salah satu unsurnya dapat menggantikan unsur lain. Kemudian, frasa eksosentrik adalah frasa yang tidak memiliki distribusi yang sama dengan semua unsurnya. Selain berdasarkan distribusi kata, Ramlan juga membedakan frasa atas jenis kata yang menduduki frasa tersebut. Ramlan mengelompokkan frasa menjadi lima, yaitu (a) frasa nominal, (b) frasa verbal (c) frasa bilangan, (d) frasa keterangan, dan (e) frasa depan.
Sejalan dengan pendapat Zaenal Arifin (2008:20) frasa endosentris adalah frasa yang seluruhnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan perilaku salah satu komponennya. Sedangkan, frasa eksosentris adalah frasa yang sebagian atau seluruhnya tidak memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan semua komponennya. Peneliti menyimpulkan bahwa frasa endosentris adalah frasa yang memiliki komponen yang sama dengan unsur sintaksisnya. Dan frasa eksosentris adalah frasa yang tidak memiliki distribusi yang sama dengan komponen sintaksis yang sama.
2.2.7.3 Klausa
Menurut Ramlan (2001: 79) klausa adalah satuan gramatikal yang terdiri dari subjek dan predikat, disertai objek, pelengkap dan keterangan atau tidak. Klausa paling sedikit terdiri atas subjek dan predikat. Yang membedakan klausa dan kalimat adalah penggunaan intonasi akhir dan huruf kapital. Klausa tidak memiliki intonasi akhir dan huruf kapital, sedangkan kalimat harus diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan intonasi akhir.
Klausa adalah gabungan frasa dan sudah memiliki predikat (Keraf, 1984:138).
Klausa tersebut bisa menjadi kalimat apabila memiliki intonasi akhir dna ditandai dengan pemberian tanda baca. Klausa tidak diakhiri dengan tanda baca dan tidak diawali dengan huruf kapital. Oleh sebab itu, klausa sering disebut cikal bakal kalimat. Peneliti menyimpulkan bahwa klausa adalah gabungan frasa yang sudah memiliki unsur-unsur kalimat, tetapi tidak menggunakan huruf capital di awal dan tidak menggunakan intonasi akhir.
Ada tuturan sindiran yang ditemukan berbentuk klausa. Contoh tuturan sindiran berbentuk klausa:
agamis ga menjamin ya ternyata
Contoh tersebut digolongkan sebagai klausa karena contoh tersebut memiliki fungsi S dan P. Akan tetapi, contoh tersebut tidak memiliki huruf kapital di awal kalimat dan tidak menggunakan intonasi akhir. Oleh karena itu, contoh tersebut digolongkan menjadi klausa.
Ramlan (2005:123-134) mengelompokkan jenis klausa menjadi tiga, yaitu berdasarkan:
(a) struktur intern
Klausa lengkap adalah klausa yang subjeknya terletak di depan predikat maupun dibelakang predikat.
Klausa tak lengkap adalah klausa yang tidak memiliki unsur S, tetapi memiliki unsur P yang diikuti O dan K.
(b) ada tidaknya kata negatif
Klausa positif adalah klausa yang tidak memiliki kata negatif.
Klausa negatif adalah klausa yang memiliki kata-kata negatif yang secara gramatikal menegatifkan P. Kata-kata negatif tersebut seperti: tidak, tak, tiada, bukan, belum, dan jangan.
(c) berdasarkan jenis kata yang menduduki P.
Klausa Nominal adalah klausa yang P-nya terdiri dari kata atau frasa golongan N.
Klausa Verbal adalah klausa yang P-nya terdiri dari kata atau frasa golongan V.
2.2.7.4 Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa yang relatif. berdiri sendiri, mempunyai intonasi final, dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa (Kridalaksana, 2011:
103). Sedangkan Ramlan (1983:22) kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik. Kalimat dibatas oleh intonasi akhir. Intonasi akhir adalah tanda baca apabila dalam bahasa tulis,
dan berupa nada naik atau turun apabila dalam bahasa lisan. Kalimat bisa saja hanya terdiri atas satu kata. Asalkan ia memenuhi syarat intonasi dan huruf kapital, ia bisa disebut sebagai kalimat.
Dengan demikian, peneliti menyimpulkan bahwa kalimat adalah gabungan kata dan/atau frasa yang menduduki unsur-unsur kalimat. Gabungan tersebut diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan intonasi akhir. Saat ini, dalam media sosial juga sering terdapat tuturan sindiran yang berbentuk kalimat. Contoh tuturan sindiran dalam bentuk kalimat:
Manusia ga bersyukur!
Berdasarkan contoh tersebut, tuturan sindiran yang dituliskan berbentuk kalimat.
Hal ini dapat dilihat adanya unsur S dan P. Contoh tersebut diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan intonasi akhir. Intonasi akhir dalam tulisan tersebut berupa tanda seru. Dengan demikian contoh tersebut memenuhi syarat untuk digolongkan sebagai kalimat. Suhardi (2016:73-76) dari segi bentuk kalimat dibagi menjadi dua, yaitu, kalimat tunggal dan kalimat majemuk.
(a) Kalimat Tunggal adalah kalimat yang bila dilihat dari segi jumlah predikat hanya memiliki satu predikat atau boleh juga disebut kalimat yang terdiri atas satu klausa.
(b) Kalimat Majemuk adalah kalimat yang memiliki beberapa predikat atau dibangun atas beberapa klausa. Berdasarkan bentuk klausa yang membangunnya, kalimat majemuk dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu (1) kalimat majemuk setara, (2) kalimat majemuk bertingkat, (3) kalimat majemuk campuran, dan (4) kalimat majemuk rapatan:
Kalimat majemuk setara
Adalah kalimat yang dibangun atas dua kalimat tunggal. Kedua kalimat tersebut memiliki predikat yang kedudukannya sejajar (setara) di dalam kalimat. Biasanya kalimat majemuk setara menggunakan kata hubung: dan, tetapi, atau.
Kalimat majemuk bertingkat
Adalah kalimat yang dibangun atas dua kalimat tunggal. Kedua kalimat tunggal tersebut memiliki kedudukan yang berbeda. Biasanya dibangun atas
dua, yaitu anak kalimat dan induk kalimat. Letak anak kalimat dapat berada setelah induk kalimat atau boleh juga mendahului induk kalimat.
Kalimat majemuk campuran
Adalah kalimat yang dibangun atas campuran beberapa kalimat majemuk (setara dan bertingkat).
Kalimat majemuk rapatan
Adalah kalimat majemuk yang salah satu unsurnya hilang (merapat).
2.2.8 Makna Tuturan Sindiran
Internet memiliki media-media yang dapat terhubung antar satu orang dengan orang lainnya. Media tersebut dinamakan media sosial. Salah satu media sosial adalah Line. Saat ini banyak sekali pengguna Line yang meninggalkan komentar-komentar sindiran. Terkadang komentar-komentar tersebut mengandung unsur kebencian. Ada tujuh bentuk komentar yang bisa disebut tuturan sindiran yang mengandung unsur kebencian (Syafyahya, 2018:9), yaitu:
2.2.8.1 Penghinaan
Penghinaan berarti proses, cara, perbuatan menghina; menistakan (KBBI V Departemen Pendidikan Nasional, 2016). Penghinaan memiliki kata dasar hina.
Hina dalam KBBI V (Departemen Pendidikan Nasional, 2016) memiliki makna rendah kedudukannya (pangkat, martabat), keji, tercela, tidak baik (tentang perbuatan, kelakuan). Secara umum, penghinaan berarti melontarkan kata-kata yang merendahkan dan mencela orang lain. Makna mencemooh juga termasuk dalam penghinaan karena cemohaan tersebut akan merendahkan seseorang.
Contoh penghinaan:
Karena org Indonesia tolol2!
Kalimat tersebut dapat diartikan sebagai penghinaan karena telah merendahkan seseorang. Kata tolol adalah bentuk tidak sopan yang memiliki arti sangat bodoh. Apabila kata tolol diucapkan muncullah penghinaan untuk orang lain. Makna dari kalimat tersebut adalah menghina orang-orang yang ada di Indonesia sangat bodoh.
2.2.8.2 Pencemaran Nama Baik
Pencemaraan berarti proses, cara, perbuatan mencemari, atau mencemarkan, pengotoran (KBBI V Departemen Pendidikan Nasional, 2016). Pencemaraan nama baik artinya mengotori atau menodai nama baik seseorang. Nama baik disini artinya kehormatan atau pribadi seseorang. Apabila nama baik orang tersebut tercemar, masyarakat akan mengecap orang tersebut tidak baik. Contoh kalimat:
oy Suryo bs ape? Cot bacot.
Kalimat tersebut bermakna mencemarkan nama seseorang. Hal ini terlihat dari kata bacot. Bacot bermakna besar mulut (banyak bicara), tidak dipercaya orang. Kalimat tersebut digolongkan sebagai pencemaran nama baik karena kalimat tersebut telah memberi label kepada Roy Suryo sebagai orang yang banyak bicara tetapi pembicaraannya tidak bermutu.
2.2.8.3 Penistaan
Penistaan berasal dari kata nista. Dalam KBBI V (Departemen Pendidikan Nasional, 2016), nista adalah hina, rendah, tidak enak didengar, aib, cela noda.
Oleh karena itu, penistaan adalah perbuatan yang menodai atau membuat aib bagi seseorang. Tidak hanya seseorang yang dinistakan bisa saja sekelompok orang dan lembaga. Contoh kalimat:
Orang Indonesia keras kepala susah diatur.
Kalimat tersebut mengindikasikan adanya penistaan yang dilakukan oleh seseorang yang berkomentar tentang aib orang Indonesia yang keras kepala dan susah diatur sehingga dapat disimpulkan bahwa kalimat tersebut memiliki makna penistaan.
2.2.8.4 Perbuatan Tidak Menyenangkan
Perbuatan tidak menyenangkan adalah tindakan yang menganggu seseorang dan menimbulkan rasa tidak nyaman. Menurut Syafyahya (2018:14), sebuah ujaran bisa dikatakan sebagai perbuatan tidak menyenangkan apabila seseorang,
lembaga, kelompok orang menganggu atau melakukan perbuatan tidak menyenangkan ke pihak lainnya. Contoh kalimat:
Youtuber paling idiot seIndonesia.
Kalimat tersebut mengandung makna perbuatan tidak menyenangkan. Hal ini dikarenakan seseorang yang berkomentar memberi stigma idiot kepada salah satu publik figur di Indonesia. Idiot memiliki arti tingkat kecerdasaan yang sangat rendah; daya pikir lemah. Dari kalimat tersebut dapat diartikan bahwa youtuber tersebut dinilai memiliki tingkat kecerdasaan yang rendah oleh orang yang berkomentar. Bagi orang lain, hal ini tidak dapat dimaafkan karena orang tersebut telah menganggu orang lain dan menimbulkan perasaan tidak menyenangkan.
2.2.8.5 Memprovokasi atau Menghasut
Memprovokasi adalah bentuk kata kerja dari provokasi. Provokasi adalah perbuatan untuk membangkitkan amarah, tindakan menghasut, penghasutan, pancingan (KBBI V Departemen Pendidikan Nasional, 2016). Menghasut adalah membangkitkan hati orang supaya marah, menggalakkan. Provokasi dan menghasut sebenarnya sama saja maknanya. Kedua kata tersebut memiliki makna membangkitkan kemarahan seseorang. Akibat dari provokasi dan hasutan adalah rasa amarah dan akhirnya melawan atau memberontak. Contoh kalimat:
Anang dan Raul gelut sana, biar ramai, biar gaduh.
Kalimat tersebut mengandung makna provokasi. Makna tersebut terlihat dari frasa gelut sana. Tujuan akhir dari provokator tersebut adalah Anang dan Raul berkelahi agar suasana menjadi ramai dan gaduh. Kalimat tersebut dapat memicu pemberontakan dari masing-masing kubu. Menghasut adalah efek yang ditimbulkan dari provokasi. Hasutan ini yang menimbulkan rencana atau tindakan lebih lanjut dari provokasi. Hasutan dan provokasi inilah yang menjadi awal dari tindakan-tindakan yang berujung kekerasan, diskriminasi, dan lain-lain.
2.2.8.6 Menyebarkan Berita Bohong
Berita bohong (hoax) merupakan tindakan menyebarkan berita-berita yang tidak sebenarnya. Berita tersebut tidak sesuai realita dan berbeda dengan fakta