A. Konsep Teoritis
3) Meningkatkan kinerja otak dan memacu otak
e. Dampak Positif dan Negatif Game Online Dampak Positif Game online:
21
5) Membantu bersosialisasi
Dampak positif yang bisa diterima dari permainan Game online adalah siswa akan merasa senang jika bisa bermain dengan temantemanya, hal tersebut bisa dilihat dari kebanyakan siswa secara bergantian sering mengunjungi rumah teman-temanya untuk bermain Game online bersama hal tersebut merupakan cara bersosialisasi yang baik. Biasanya, dalam bermain Game online siswa dan teman-temanya selalu berinteraksi, membahas tentang strategi yang bagus untuk mengalahkan musuh atau untuk berbagi kegembiraan bersama.22
Dampak Negatif Game Online:
1) Merusak mata dan menimbulkan kelelahan
Biasanya jarak normal yang harus dilakukan oleh kebanyak orang dari depan televisi adalah sekitar 1m lebih, sedangkan siswa akan merasa tidak puas saat mereka sedang bermain Game online dengan jarak yang sama, apalagi saat bermain Game online siswa sampai melakukanya dalam waktu yang tidak sebentar, hal tersebut juga menimbulkan efek-efek negatif lainya, tidak hanya dapat merusak penglihatan, tetapi juga dapat membuat siswa terlena karena keasyikan, apalagi ada perasaan tanggung dalam diri siswa saat sudah terlanjur bermain Game online. Dengan begitu, mereka melupakan waktu untuk mandi, makan bahkan sampai lupa untuk
22Aqila Smart, Anak Cacat Bukan Kiamat Metode Pembelajaran Dan Terapi Anak Berkebutuhan Khusus, (Yogyakarta, 2016), h. 45-48
mengerjakan tugas sekolahnya.
2) Membuat siswa malas belajar
Bermain adalah salah satu hal yang paling menyenangkan, terutama bagi siswa akan tetapi, jika siswa dibiarkan bermain Game online tanpa adanya batasan dan kesepakatan yang adil dari orang tua untuk membatasi kecanduan bermain Game online tentu saja hal tersebut akan menjadi bumerang bagi orang tua dan kehidupan siswa bila permaianan Game online dimainkan tanpa adanya kendali, tentu saja dalam hal ini siswa akan menjadi orang yang mulai malas untuk pergi ke sekolah dan belajar karena siswa kekurangan waktu dan berkonsentrasi penuh dalam belajar dengan baik.
3) Mengajarkan Kekerasan
Permainan Game online biasanya akan ada pilihan permaianan yang memiliki tingkat ketegangan yang tinggi seperti Game action dan sebagainya, yang bisa saja justru akan memberikan contoh dan dampak yang negatif pada diri siswa.
Siswa cenderung akan menirukan setiap kejadian dan tingkah laku dari aktor dalam Game online tersebut sehingga dapat membuat siswa akan melakukan kekerasan yang mungkin secara tidak sengaja dilakukan oleh siswa dan hal ini akan membuat pribadi yang keras.
23
4) Berpeluang mengajarkan judi
Biasanya saat “Nge-Game” tidak terlepas dari taruhan mulai dari taruhan yang kecil dan tidak menggunakan uang karena untuk mendapat “Sensasi” lain dari bermain Game online apa lagi, Game online tersebut merupakan salah satu Game online pertarungan antara si pemain Game online dan teman-temanya, mulai dari taruhan yang kecil tersebut jika dibiarkan terus-menerus tanpa adanya pengawasan dari orang tua akan berakibat buruk pada siswa karena hal tersebut bisa menjadi kebabablasan dengan perjudian besar.
2. Peran Guru Bimbingan Konseling a. Pengertian Bimbingan Konseling
Istilah bimbingan berasal dari bahasa Inggris “guidance”.
Dalam bukunya, K.K. Shrivastava menyatakan bahwa “guidance is the help given by one person to another in making choices and adjustments and in solving problems.23 Jadi bimbingan adalah pertolongan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dalam membuat pilihan, pengertian dan dalam memecahkan masalah. Dimana menurut Stoop dan Walquist bimbingan adalah proses yang terus menerus dalam membantu perkembangan individu untuk mencapai kemampuannya secara maksimum dalam mengarahkan manfaat yang sebesar-besarnya baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat.24
23 K.K. Shrivastava, Principles of Guidance and Counselling, (New Delhi: Kanishka Publisher, 2011), h. 15.
24 Hallen, Bimbingan dan Konseling Cet.I, (Jakarta:Ciputat Pers 2002), h. 4.
Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan. “bantuan”
disini tidak diartikan sebagai bantuan materiil (seperti uang, hadiah.
Sumbangan, dan lain-lain), melainkan bantuan yang sifatnya menunjang bagi pengembangan pribadi bagi individu yang dibimbing.
Bantuan ini diberikan kepada individu, baik perseorangan maupun kelompok. Menurut Crow & Crow menyatakan bahwa, “Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang baik lakilaki maupun perempuan yang memiliki pribadi baik dan pendidikan yang memadai, kepada seseourang (individu) dari setiap usia untuk menolongnya mengembangkan kegiatan-kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan arah pandangannya sendiri, membuat pilihan sendiri, dan memikul bebannya sendiri.”25
“Secara etimologis istilah konseling berasal dari bahasa Latin, yaitu “consilium” yang berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan “menerima” atau “memahami”. Sedangkan secara istilah konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan, dimana ia diberi bantuan peribadi dan langsung dalam pemecahan masalah itu. Konselor tidak memcahkan masalah untuk klien. Konseling harus ditunjuk pada perkembangan yang progresif dari individu untuk memcahkan masalah-masalahnya sendiri.”26
25 Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integritas), (Jakarta: Rajawali Pers, 2011)., 17.
26 Prayitno dan Erman Amti, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling (Jakarta: Rineka Cipta, 2018), h. 99-100
25
Pengertian konseling Wrenn konseling adalah relasi antar pribadi yang dinamis antara dua orang yang berusaha untuk memecahkan sebuah masalah dengan mempertimbangkannya secara bersama-sama, sehingga pada akhirnya orang lain lebih muda atau orang yang mempunyai kesulitan yang lebih banyak di antara keduanya dibantu oleh orang lain untuk memecahkan masalahnya berdasarkan penentuan diri sendiri.27 Sedangkan menurut Mortensen mengatakan bahwa “konseling merupakan proses hubungan antarpribadi di mana orang yang satu membantu yang lainnya untuk meningkatkan pemahaman dan kecakapan menemukan maslaah.”28
Sedangkan guru BK atau disebut juga guru bimbingnan dan konseling menurut W.S Winkel dan M.M Sri Hastuti adalah seorang tenaga profesional yang memperoleh pendidikan khusus di perguruan tinggi dan mencurahkan seluru waktunya pada layanan bimbingan (full-time guidance counselor). Tenaga ini memberikan layanan-layanan pada para siswa dan menjadi konsultan bagi staf sekolah dan orang tua.29 Selain disebut konselor, guru BK juga dapat disebut dengan koordinator bimbingan dan penyuluhan, yang memiliki kedudukan sebagai tenaga bimbingan ahli yang diserahi tugas menyusun program bimbingan serta mengkoordinasi seluruh kegiatan bimbingan dan konseling.30
27 Abu Ahmadi & Ahmad Rohani, Bimbingan dan Konseling di Sekolah, ( Jakarta: Pt Rineka Cipta, 2007), h.23.
28 Ibid., h.22.
29 W.S. Winkel dan M.M Sri Hastuti, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, (yogyakarta: Media Abadi, 2012), h. 184
30 Ibid., h. 180
Bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen dari pendidikan kita, mengingat bahwa bimbingan dan konseling merupakan suatu kegiatan bantuan dan tuntunan yang diberikan kepada individu pada umumnya dan siswa khususnya di sekolah.
Dengan demikian siswa dapat memelihara dan mengembangkan berbagai potensi yang positif dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan.31
Berdasarkan defenisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan konseling adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dalam membuat pilihan dan penyesuaian-penyesuaian serta dalam mengatasi atau memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehingga akhirnya yang dibimbing itu dapat memilih, menyesuaikan dan mengatasi atau memecahkan masalahnya sendiri.
b. Peran Guru Bimbingan Dan Konseling
American School Counselor Assosiation (ASCA) mengemukakan bahwa konseling adalah hubungan tatap muka yag bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien. Konselor mempergunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk membantu klien mengatasi masalah-masalahnya.32 Adapun macam-macam peran guru bimbingan dan konseling yaitu:
31 Muhammad Fathurrohman dan Sulistyorini, Meretas Pendidikan Berkualitas dalam Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Teras, 2012), 223.
32 Ahmad Juntika Nurihsan, Bimbingan Dan Konseling Dalam Berbagai Latar Kehidupan, (Bandung: PT. Revika Aditama, 2009), h. 10.
27
1) Motivator
Guru harus mampu meransang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menubuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (krativitas) sehingga terjadi dinamika didalam prosss belajar mengajar.
2) Director
Guru dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.
3) Inisiator
Guru sebagai pencetus ide dalam proses belajar mengajar.
4) Fasilitator
Guru akan memberikan fasilitas dan kemudahan dalam proses pembelajaran.
5) Mediator
Guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa.
6) Evaluator
Guru mempunyai otoritas untuk memilih prestasi anak didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak didik berhasil atau tidak.
7) Informator
Guru diharapkan sebagai pelaksana cara mengajar informative, laboraturium, studi lapangan, dan suber informasi kegiatan akademik maupun umum.
8) Organisator
Guru sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, jadwal pelajaran dan lain-lain.33
c. Tujuan Bimbingan Konseling
Tujuan pelayanan bimbingan konseling pada intinya ialah agar orang yang dilayani menjadi mampu mengatur kehidupannya sendiri, memiliki pandangannya sendiri dan tidak sekedar mengikuti pendapat orang lain, mengambil sikap sendiri dan berani menanggung sendiri akibat dan konsekuensi dari tindakan-tindakannya. Tujuan daripada bimbingan dan konseling yaitu terbagi pada dua bagian ialah tujuan umum dan tujuan khusus:34
1) Tujuan umum
Tujuan umum yaitu untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang dimilkinya (misalnya kemampuan dasar dan bakat-bakatnya), berbagai latar belakang yang ada (misalnya keluarga, status sosial ekonomi) serta sesuai dengan tuntunan positif lingkungannya. Dalam kaitan ini tujuannya yaitu membantukan individu itu menjadi insan yang berguna dalam kehidupannya. Karena insan seperti inilah adalah insan yang mandiri yang memiliki kemampuan untuk memahami diri sendiri
33 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), h. 23.
34 Mochamad Nursalim, Pengembangan Profesi Bimbingan Dan Konseling, (Jakarta:
Erlangga, 2015), h. 21-22
29
dan lingkungan dan ia juga menjadi insan yang mempunyai intelektual yang tinggi.
2) Tujuan khusus yaitu:
Tujuan khusus yaitu merupakan penjabaran tujuan umum tersebut yang dikaitkan langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu yang bersangkutan, sesuai dengan konfleksitas permasalahannya itu. Karena masalah individu itu mempunyai banyak sekali macam ragam jenis, intensitas, dan sangkut pautnya dan masing-masing bersifat unik.
d. Fungsi Bimbingan Konseling Fungsi bimbingan konseling adalah:
1) Fungsi pemahaman, yaitu fungsi BK yang akan menghasilkan pemahaman bagi peserta didik tentang diri dan lingkungannya 2) Fungsi pencegahan, yaitu fungsi BK dalam upaya mencegah
peserta didik agar tidak menemui permasalahan yang dapat mengganggu, menghambat atau menimbulkan kesulitan dalam proses perkembangan.
3) Fungsi pebaikan, yakni fungsi BK untuk menjaga agar perilaku peserta didik yang sudah menjadi baik jangan sampai rusak kembali
4) Fungsi pengembangan, yaitu fungsi BK dalam mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki peserta didik.
5) Fungsi penyaluran, merupakan fungsi BK dalam membantu peserta didik menemukan penyesuaian diri dan perkembangannya secara optimal.
6) Fungsi adaptasi, yaitu fungsi BK dalam membantu staf sekolah untuk mengadaptasikan program pengajaran dengan minat, kemampuan serta kebutuhan peserta didik. 35
e. Prinsip-Prinsip Bimbingan Konseling
Prinsip-prinsip dalam bimbingan dan konseling adalah seperangkat landasan praktis atau aturan main yang harus diikuti dalam pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Menurut Peters Farweell mencatat 18 prinsip khusus bimbingan dilingkungan sekolah yaitu sebagai berikut:
1) Bimbingan ditujukan bagi siswa.
2) Bimbingan membantu perkembangan siswa ke arah kematangan.
3) Bimbingan merupakan proses layanan bantuan kepada siswa yang berkelanjutan dan terintegrasi.
4) Bimbingan menekankan berkembangnya potensi siswa secara maksimum.
5) Guru merupakan co-fungsionaris dalam proses bimbingan.
6) Konselor merupakan co-fungsionaris utama dalam proses bimbingan.
35 Ibid., h. 22-24
31
7) Administrator merupakan co-fungsionaris yang mendukung kelancaran proses bimbingan.
8) Bimbingan bertangung jawab untuk mengembangkan kesadaran siswa akan lingkungan (dunia di luar dirinya ) dan mempelajarinya secara efektif.
9) Untuk mengimplementasikan berbagai konsep bimbingan diperlukan program bimbingan yang terorganisasi dengan melibatkan pihak administrator, guru, dan konselor.
10) Bimbingan perkembangan membant siswa untuk
mengenal, memahami, menerima, dan mengembangkan dirinya sendiri.
11) Bimbingan perkembangan beroriontasi kepada tujuan.
12) Bimbingan perkembangan menekankan kepada pengambilan keputusan.
13) Bimbingan perkembangan beroriontasimasa depan.
14) Bimbingan perkembanga melakukan penilaian secara periodic terhadap perkembangan siswa sebagai seorang pribadi yang utuh.
a) Bimbingan perkembangan cenderung membantu perkembangan siswa secara langsung.
b) Bimbingan perkembangan difokuskan kepada individu dalam kaitanya dengan perubahan kehidupan sosial budaya yang terjadi.
c) Bimbingan perkembangan difokuskan kepada pengembangan kekuatan pribadi.
d) Bimbingan perkembangan difokuskan kepada proses pemberian dukungan.36
f. Asas Bimbingan Konseling
Dalam setiap kegiatan yang dilakukan, seharusnya ada suatu asas atau dasar yang melandasi dilakukannya kegiatan tersebut.
Demikian pula halnya dalam kegiatan bimbingan dan konseling harus ada asas yang dijadikan dasar pertimbangan kegiatan terebut. Asas-asas bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut:
1) Asas kerahasiaan.
2) Asas kesukarelaan.
3) Asas keterbukaan.
4) Asas kekinian.
5) Asas kemandirian.
6) Asas kegiatan.
7) Asas kedinamisan.
8) Asas keterpaduan.
9) Asas keahlian.
10) Asas kenormatifan.
11) Asas alih tangan.
12) Asas tut wuri handayani.37
36 Syamsu Yusuf & Juntika Nurishan, Landasan Bimbingan & Koseling Cet.II, (Bandung: Pt. Rosdakarya, 2006), h.19.
33
g. Bidang Bimbingan Konseling
Dilihat dari masalah individu, ada empat jenis bimbingan yaitu:
1) Bimbingan akademik
Bimbingan akademik yaitu bimbingan-bimbingan yang dirahkan untuk membantu para individu dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah akademik. Yang tergolong masalah-masalah akademik yaitu pengenalan kurikulum, cara belajar, penyelesaian tugas-sumber dan latihan, penggunaan sumber belajar.
2) Bimbingan sosial-pribadi
Bimbingan sosial pribadi merupakan bimbingan untuk membantu para individu dalam memecahkan masalah-masalah social pribadi. Yang termasuk dalam masalah-masalah sosial pribadi adalah, hubungan dengan sesama teman, pemahaman sifat dan kemampuan diri.
3) Bimbingan karir
Bimbingan karir yaitu bimbingan untuk membantu individu dalam perencanaan, pengembangan, dan pemecahan masalah-masalah karir seperti: pemahaman terhadap jabatan dan tugas, pemahaman kondisi lingkungan, perencanaan dan pengembangan karir.
4) Bimbingan keluarga
37 Prayitno & Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling Cet.II, (Jakarta: Pt. Rineka Cipta, 2018), h. 114-120.
Bimbingan keluarga merupakan upaya pemberian bantuan kepada para individu sebagai pemimpin/anggota keluarga agar mereka mampu menciptakan keluarga yang utuh dan harmonis, memberdayakan diri secara produktif, dapat menciptakan dan menyesuaikan diri dengan norma keluarga, serta berperan/
berpartisifasi aktif dalam mencapai kehidupan keluarga yang bahagia 38
h. Langkah-langkah dalam Bimbingan Konseling Langkah-langkah konseling tersebut sebagai berikut:
1) Langkah 1: membangun hubungan
Membangun hubungan dijadikan langkah pertama dalam konseling karena, klien dan konselor harus saling mengenal dan menjalin kedekatan emosional sebelum sampai pada pemecahan masalah.
2) Langkah 2: identifikasi dan penilaian masalah
Apabila hubungan konseling telah terjalin dengan baik, maka langkah selajutnya adalah mulai mendiskusikan saran-saran spesifik dan tingkah laku seperti apa yang menjadi ukuran keberhasilan konseling.
3) Langkah 3: memfasilitasi perubahan konseling
Langkah ini yaitu konselor mulai memikirkan alternatif pendekatan dan stategi yang digunakan agar sesuai dengan masalah
38 Ibid., h.11-12
35
klien. Harus dipertimbangkan pula bagaimana konsekuensinya dari alternatif dan strategi tersebut jangan sampai bertentangan dengan nilai-nilai yang terdapat pada diri klien, karena akan menyebabkana klien menarik dirinya dan menolak terlibat dalam konseling.
4) Langkah 4: Evaluasi dan terminasi
Evaluasi terhadap hasil konseling akan dilakukan secara keseluruhan. Yang menjadi ukuran keberhasilan konseling akan tampak kepada tingkah laku klien yang berkembang ke arah yang lebih positif.39
i. Komponen Pelaksanaan Layanan Bimbingan Konseling
Komponen pelaksanaan layanan bimbingan dan kosneling terkait dengan keempat komponen program yang telah dijelaskan di atas. Komponen pelaksanaan bagi masing-masing komponen tersebut adalah sebagai berikut:
1) Komponen untuk Layanan Dasar Bimbingan