NO NAMA JABATAN
B. Meningkatkan kompetensi paedagogik
Dalam pengajaran atau proses belajar mengajar guru memegang peran sebagai sutradara atau aktor. Artinya gurulah yang brertugas dan 22 23 24 25 26 27 28 29 Sahari Rusmah Majid Yusran Juriani Dedi Hidayat, S.S, S.Pd., M.Pd. Tajuddin, A.Md.Kom. Riswan Majid, S.Pd. Muh. Khadafi, S.Pd.I
Guru Guru/ Perpustakaan Guru Guru Guru Guru Guru Guru
bertanggung jawab merencanakan dan melaksanakan pengajaran di sekolah. Untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab tersebut, guru dituntut untuk mempunyai kemampuan professional dalam mengelolah kelas.
Tabel. 6
Daftar distribusi frekuensi tanggapan responden dalam hal kompetensi paedagogik guru PAI tercermin pada saat proses pembelajaran sehingga
menumbuhkan hasrat belajar
Sumber data: angket No. 01
Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa kompetensi paedagogik guru PAI tercermin pada saat proses pembelajaran sehingga menumbuhkan hasrat belajar menempati posisi teratas yakni 12 responden atau 60%. Ada 8 responden atau 40% menempati urutan kedua dan 0% yang berpendapat tidak.
Kompetensi paedagogik yang dimiliki oleh guru PAI akan mendorong guru tersebut memberikan metode pengajaran yang bervariasi. Metode pengajaran yang disajikan akan membuat siswa menjadi lebih antusias, bergairah dan menikmati pelajaran yang diberikan oleh guru. No Alternatif Jawaban F % 1 Ya 12 60 % 2 Kadang- kadang 8 40 % 3 Tidak - Jumlah (N) 20 100%
Tabel.7
Daftar distribusi frekuensi tanggapan responden dalam hal kompetensi paedagogik guru PAI berperan penting dalam memenuhi kebutuhan
belajar
Sumber data: angket No. 02
Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa kompetensi paedagogik guru PAI berperan penting dalam memenuhi kebutuhan belajar siswa hal ini terbukti dengan responden yang menjawab ya ada 16 orang atau 80%, dan yang menjawab kadang-kadang 4 responden atau 20% dan 0 yang menjawab tidak.
Kompetensi paedagogik yang dimiliki guru PAI berperan penting dalam proses pembelajaran, karena dengan kompetensi yang dimiliki mempengaruhi pemilihan metode yang digunakan di kelas.
Selain itu, peneliti juga melakukan wawancara dengan guru-guru Mts Aisyiah Sungguminasa. Wawancara yang dilakukan dengan Ibu Hj.Jasnawati selaku guru di Mts Aisyiah Sungguminasa, beliau menjelaskan bahwasanya :
Seorang guru sepantasnya berusaha untuk profesional, berusaha meningkatkan kompetensi paedagogik yang dimilikinya, jangan hanya terbatas pada RPP yang dipegang. Guru juga harus pandai-pandai memilih metode yang akan digunakan dalam kelas dan jangan hanya terpatok pada metode ceramah saja. Jadi apabila guru mampu mengelola kelas dengan baik maka siswapun akan menerima pelajaran dengan baik. ( wawancara 28 Juli 2015)
No Alternatif Jawaban F % 1 Ya 16 80% 2 Kadang- kadang 4 20% 3 Tidak - Jumlah (N) 20 100%
Hal senada diungkapkan Ibu Yulida selaku guru di Mts Aisyiah Sungguminasa:
Seorang guru harus bekerjasama dengan siswa dalam proses belajar. Guru harus mempunyai berbagai macam metode pada saat pelaajaran berlangsung. Muridpun harus senantiasa memperhatikan penjelasan yang diberikan guru. Oleh karena itu, guru harus pandai-pandai mengelola kelas agar siswa tidak cepat bosan dan bisa cepat menangkap materi yang diberikan. (wawancara 28 Juli 2015)
Dari hasil wawancara di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwasanya seorang guru mutlak harus mempunyai kompetensi paedagogik sehingga mampu mengelola kelas dengan baik.
Untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Berkontribusi dalam pengembangan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diajarkan.
2. Mengembangkan silabus mata pelajaran berdasarkan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD).
3. Merencanakan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berdasarkan silabus yang telah dikembangkan.
4. Merancang manajemen pembelajaran dan manajemen kelas.
5. Melaksanakan pembelajaran yang pro-perubahan (aktif, kreatif, inovatif, eksperimentatif, efektif, dan menyenangkan).
7. Membimbing peserta didik dalam berbagai aspek, misalnya ; pelajaran, kepribadian, bakat, minat, dan karir.
8. Mengembangkan profesionalisme diri sebagai guru. Dari pandangan tersebut dapat ditegaskan kompetensi pedagogik merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik meliputi: a. Pemahaman wawasan guru akan landasan dan filsafat pendidikan.
Guru memahami potensi dan keberagaman peserta didik sehingga dapat didesain strategi pelayanan belajar sesuai keunikan masing-masing peserta didik.
b. Guru mampu mengembangkan kurikulum atau silabus baik dalam bentuk dokumen maupun implementasi dalam bentuk pengalaman belajar.
c. Guru mampu menyusun rencana dan strategi pembelajaran berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
d. Mampu melaksanakan evaluasi hasil belajar dengan memenuhi prosedur dan standar yang dipersyaratkan.
e. Mampu melaksanakan pembelajaran yang mendidik dengan suasana dialogis dan interaktif, sehingga pembelajaran menjadi aktif, kreatif, inovatif, eksperimentatif, efektif, dan menyenangkan. f. Mampu mengembangkan bakat dan minat peserta didik melalui
kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki nya.
Dengan demikian, tampak bahwa kompetensi pedagogik bagi guru bukanlah hal yang sederhana, karena kualitas guru haruslah di atas rata-rata. Kualitas ini dapat dilihat dari aspek intelektual , meliputi aspek :
1) Logika sebagai pengembangan kognitif mencakup kemampuan intelektual mengenal lingkungan terdiri atas 6 macam yang disusun secara hierarkis dari yang sederhana sampai yang kompleks, yaitu pengetahuan( kemampuan mengingat kembali hal-hal yang telah dipelajari), pemahaman ( kemampuan menangkap makna/arti suatu hal), penerapan ( kemampuan mempergunakan hal-hal yang telah dipelajari untuk menghadapi situasi-situasi baru dan nyata), analisis (kemampuan menjabarkan sesuatu menjadi bagian-bagian sehingga struktur organisasinya dapat dipahami), sintesis (kemampuan memadukan bagian-bagian menjadi satu keseluruhan yang berarti), dan penilaian ( kemampuan memberikan harga sesuatu hal berdasarkan kriteria intern, kelompok, ekstern, atau yang telah ditetapkan terlebih dahulu).Etika sebagai pengembangan afek
2) Kemampuan emosional dalam mengalami dan menghayati sesuatu hal, meliputi 5 macam kemampuan emosional disusun secara hierarkis, yaitu :
(a) Kesadaran ( kemampuan untuk ingin memperhatikan sesuatu hal)
(b) Partisipasi ( kemampuan untuk turut serta atau terlibat dalam suatu hal)
(c) Penghayatan nilai (kemampuan untuk menerima nilai dan terikat padanya)
(d) Pengorganisasian nilai (kemampuan untuk memiliki system nilai dalam dirinya)
(e) Karakterisasi diri (kemampuan untuk memiliki pola hidup dimana system nilai yang terbentuk dalam dirinya mampu mengawasi tingkah lakunya)
(f) Estetika sebagai pengembangan psikomotorik yaitu kemampuan motorik menggiatkan dan mengkoordinasikan gerakan, yaitu terdiri dari : Gerakan refleks ( kemampuan melakukan tindakan-tindakan yang terjadi secara tidak sengaja menjawab sesuatu perangsang). Gerakan dasar (kemampuan melakukan pola-pola gerakan bersifat pembawaan, terbentuk dari kombinasi gerakan-gerakan refleks). Kemampuan perseptual (kemampuan menterjemahkan perangsang yang diterima melalui alat indera menjadi gerakan-gerakan yang tepat). Kemampuan jasmani ( kemampuan dan gerakan-gerakan dasar merupakan inti memperkembangkan gerakan-gerakan
terlatih). Gerakan terlatih ( kemampuan melakukan gerakan-gerakan canggih dan rumit dengan tingkat efisiensi tertentu) . Komunikasi nonkondusif ( kemampuan melakukan komunikasi dengan isyarat gerakan badan ) Untuk menghadapi tantangan tersebut, guru perlu berpikir secaran antisipatif dan proaktif. Guru secara terus menerus belajar sebagai upaya melakukan pembaharuan atas ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Caranya sering melakukan penelitian baik melalui kajian pustaka, maupun melakukan penelitian seperti penelitian tindakan kelas.